Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan industri di Indonesia sekarang ini berlangsung sangat pesat
seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses industrialisasi
masyarakat Indonesia makin cepat dengan berdirinya perusahaan dan tempat
kerja yang beraneka ragam. Perkembangan industri yang pesat ini diiringi pula
oleh adanya risiko bahaya yang lebih besar dan beraneka ragam karena adanya
alih teknologi dimana penggunaan mesin dan peralatan kerja yang semakin
kompleks untuk mendukung berjalannya proses produksi. Hal ini dapat
menimbulkan masalah kesehatan dan keselamatan kerja (Novianto, 2010).
Menurut Bank Dunia dalam Suherman (2006), Indonesia merupakan salah
satu negara penting dalam bidang pertambangan. Hal ini ditunjukkan oleh fakta
bahwa Indonesia sebagai negara produsen timah terbesar ke-2 di dunia, tembaga
terbesar k-4, nikel terbesar ke-5, emas terbesar ke-7, serta produksi batubara
terbesar ke-8 di dunia. Industri pertambangan di Tanah Air diperkirakan akan
tumbuh pesat dalam lima tahun kedepan dan menjadi sektor yang makin strategis
bagi Indonesia.
Secara geologis, wilayah Indonesia memiliki potensi endapan-endapaan
batubara yang sangat luas. Namun batubara yang bernilai ekonomis untuk
dikembangkan hanya terkonsentrasi pada cekungan-cekungan tersier tertentu di
Pulau Sumatera dan Kalimantan. Kandungan sumber daya batubara di Pulau
Sumatera dan Kalimantan memiliki jumlah yang sangat besar, dengan persentase
masing-masing sebesar 46,68% dan 52,67% dari jumlah sumber daya batubara di
Indonesia, sedangkan sisanya sebesar 0,65% terdapat di Pulau Jawa, Sulawesi
dan Papua (Suherman,dkk, 2006).
Perkembangan industri pertambangan harus didukung dengan peningkatan
perlindungan Kesehatan dan Keselamatan Kerja para pekerjanya. Hal ini didasari
oleh fakta bahwasanya industri pertambangan memiliki tingkat risiko kecelakaan

kerja yang cukup tinggi dan merupakan salah satu pekerjaan dengan risiko
tertinggi di dunia. Banyaknya kecelakaan yang terjadi di pertambangan, seperti
kebakaran, peledakan, pencemaran lingkungan, dan lainnya menyebabkan
industry pertambangan memiliki potensi bahaya tinggi terhadap kejadian
kecelakaan kerja. (Tebay, 2011)
Menurut Setywati (2007), salah satu penyebab utama kecelakaan kerja yang
disebabkan oleh manusia adalah kelelahan dan stres. Kelelahan kerja memberi
kontribusi 50% terhadap terjadinya kecelakaan kerja. Kelelahan bisa disebabkan
oleh sebab fisik ataupun tekanan mental. Salah satu penyebab kelelahan adalah
gangguan tidur yang antara lain dapat dipengaruhi oleh kekurangan waktu tidur
dan gangguan pada circadian rhytma akibat jel lag atau shift kerja.
Menurut perkiraan ILO, setiap tahun di seluruh dunia ada 2 juta orang
meninggal karena masalah-masalah akibat kerja. Setiap tahun ada 270 juta
pekerja yang mengalami kecelakaan akibat kerja dan 160 juta pekerja yang
terkena penyakit akibat kerja. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bahayabahaya akibat kerja sangat besar. ILO memperkirakan kerugian yang dialami
sebagai akibat kecelakaankecelakaan dan penyakit-penyakit akibat kerja setiap
tahun lebih dari US$ 1,25 triliun. (ILO, 2010)
Berdasarkan laporan tahunan Jamsostek, dari data statistik kecelakaan kerja
menunjukkan hingga akhir tahun 2012 telah terjadi 103.074 kasus kecelakaan
kerja di Indonesia, dimana 91,21% korban kecelakaan kembali sembuh; 3,8%
mengalami cacat fungsi; 2,61% mengalami cacat sebagian, dan sisanya
meninggal dunia (2.419 kasus) dan mengalami cacat total tetap (37 kasus),
dengan rata-rata terjadi 282 kasus kecelakaan kerja setiap harinya.
Statistik kecelakaan sektor Mineral dan Batubara di indonesia sejak tahun
2008 2013 menunjukkan kecelakaan yang menyebabkan kematian sejak tahun
2008-2013 sejumlah 19 jiwa (2008), 44 jiwa (2009), 15 jiwa (2010), 22 jiwa
(2011), 29 jiwa (2012), dan 45 jiwa (2013).
Kecelakaan kerja dapat kita hindari dengan mengetahui dan mengenal
berbagai potensi-potensi bahaya yang ada di lingkungan kerja. Berbagai

potensipotensi bahaya tersebut, kita eliminasi untuk menghilangkan risiko


kecelakaan yang akan terjadi. Apabila bahaya tersebut tidak bisa dihilangkan,
maka tindakan pengendalian harus diimplementasikan untuk meminimalkan
potensi bahaya sampai risikonya dapat diterima oleh pekerja.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kesehatan dan keselamatan kerja?
2. Apa yang dimaksud dengan tambang terbuka?
3. Apa saja penyebab terjadinya kecelakaan kerja pada tambang terbuka?
4. Apa saja penggolongan kecelakaan kerja pada tambang terbuka?
5. Bagaimana upaya pencegahan kecelakaan kerja pada tambang terbuka?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui definisi dari kesehatan dan keselamatan kerja.
2. Mengetahui definisi dari tambang terbuka.
3. Mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan kerja di tambang terbuka.
4. Mengetahui penggolongan kecelakaan kerja di tambang terbuka.
5. Mengetahui upaya pencegahan kecelakaan kerja di tambang terbuka.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan perhatian dan
perlindungan yang diberikan perusahaan kepada seluruh karyawannya. Sutrisno
(2010) menyatakan keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan
alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempat kerja, dan lingkungannya,
serta cara-cara karyawan dalam melakukan pekerjaannya.
3

Husni (2005) menyatakan bahwa kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu
kesehatan yang bertujuan agar tenaga kerja memperoleh keadaan kesehatan yang
sempurna baik fisik, mental, maupun sosialnya sehingga memungkinkan
karyawan dapat bekerja secara optimal.
2.2 Pengertian Tambang Terbuka
Penambangan dengan metoda tambang terbuka adalah suatu kegiatan
penggalian bahan galian seperti batubara, ore (bijih), batu dan sebagainya di mana
para pekerja berhubungan langsung dengan udara luar dan iklim.
Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open cut mining;
adalah metode penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit yang
ada pada suatu batuan yang berada atau dekat dengan permukaan.
2.3 Pelatihan Pekerja
Operator tambang harus memastikan bahwa tidak ada orang yang
dipekerjakan dalam pekerjaan di bidang apapun pada tambang terbuka kecuali
orang-orang yang telah menerima instruksi dan pelatihan yang diperlukan
sehingga dapat melakukan pekerjaan secara kompeten dan aman. Kemudian
catatan individu dari semua pelatihan tersebut harus ada, dan bila perlu diadakan
pelatihan ulang.
Seorang supervisor pelatihan harus ditunjuk oleh manajer untuk mengawasi
semua kegiatan pelatihan, untuk mempertahankan catatan dari peserta pelatihan
dan untuk melaporkan hal pelatihan yang dibutuhkan. Prosedur yang ditetapkan
untuk menjaga keselamatan pekerja juga harus diberikan kepada setiap karyawan
pada saat dimulainya maupun setelah bekerja.
Program pelatihan harus dikembangkan pada tiga pihak, termasuk konsultasi
dengan pemerintah, manajemen dan tenaga kerja, secara industri-lebar serta di
tingkat tempat kerja. Perwakilan pekerja, anggota pekerja komite keselamatan dan
kesehatan atau komite keselamatan dan kesehatan bersama, atau perwakilan
pekerja lainnya, harus diberikan waktu yang wajar selama jam kerja untuk
melakukan pelatihan yang sesuai dalam keselamatan dan kesehatan kerja.
2.4 Tugas Pekerja Tambang
1. Mengurus kesehatan dan keselamatan dirinya dan orang lain yang mungkin
terpengaruh oleh tindakan atau kelalaian
4

2. Mematuhi instruksi yang diberikan untuk keselamatan sendiri dan kesehatan


dan orang-orang dari orang lain
3. Menggunakan alat pengaman dan alat pelindung sesuai dengan petunjuk
yang diberikan
4. Melaporkan segera kepada atasan situasi apa pun yang ia dapat
memiliki alasan untuk percaya bisa menimbulkan bahaya
5. Melaporkan setiap kecelakaan atau cedera kesehatan yang timbul dalam
perjalanan atau sehubungan dengan pekerjaan
6. Bekerja sama dengan atasan atau orang lain berkaitan dengan tugas atau
persyaratan yang diberlakukan atas mereka atau di bawah salah satu hukum
yang relevan

2.5 Desain dan metode


1. Desain
Kedalaman penggalian tambang terbuka direncanakan melebihi 10 meter.
Sebelum dimulai penggalian, operator tambang harus menyiapkan :
1. Laporan desain
Laporan desain harus mencakup peta, ciri-ciri fisik, kontur tanah, struktur
geologi, dinding tanah, lokasi drainase, sifat batuan dan tanah, kondisi air
tanah, analisis stabilitas, dll.
2. Laporan operasi manual
Laporan operasi manual harus mencakup:
a. Spesifikasi untuk konfigurasi dinding akhir tambang, termasuk jari
kaki dan posisi puncak, merencanakan lereng permukaan, rata-rata
lereng dinding keseluruhan, lebar bangku, interval bangku dan setiap
konstruksi tanggul
b. Metode dan tingkat penggalian pada dinding akhir
c. Rincian prosedur peledakan untuk mempertahankan kontrol dari
dinding lubang
d. Spesifikasi untuk drainase dan sistem pengurasan air

e. Rincian termasuk lokasi, metode dan frekuensi dan pemeliharaan dari


setiap instrumentasi yang diperlukan untuk untuk memantau dinding
dan gerakan lapisan atau kondisi air tanah di wilayah tambang.
2. Metode penambangan
Metode penambangan yang digunakan untuk menjaga dinding, perbankan dan
stabilitas lereng di tempat-tempat orang bekerja atau bepergian dalam
melaksanakan

tugas-tugas

mereka

ditugaskan.

Kondisi

tanah

dapat

menciptakan bahaya bagi orang harus diturunkan didukung sebelum pekerjaan


lain atau wisata diizinkan di daerah yang terkena.
Sampai pekerjaan perbaikan selesai, daerah harus diposting dengan peringatan
terhadap entri, dan, ketika ditinggalkan, penghalang harus dipasang untuk
menghalangi masuknya tidak sah.
Dalam kasus di mana sebuah tambang terbuka sedang bekerja di sekitar setiap
pekerjaan bawah tanah, tidak ada wajah tambang terbuka harus maju atas
pekerjaan bawah tanah jika bahaya bisa disebabkan untuk orang di pekerjaan
bawah tanah atau di tambang terbuka kecuali pejabat yang berwenang
memiliki telah diberitahu sebelumnya dan persetujuan telah diperoleh untuk
metode kerja yang akan dilaksanakan
Peledakan tidak harus dilakukan di pekerjaan bawah tanah yang terletak
dalam 30 m vertikal di bawah bagian bawah atau 60 m horizontal dari dinding
setiap tambang terbuka di mana pekerjaan yang sedang dilakukan, kecuali
konsultasi telah terjadi antara manajemen dari kedua perusahaan untuk
merancang dan menerapkan tindakan pencegahan yang sesuai untuk
memastikan kerja yang aman.
2.6 Alat Pelindung Diri
Legislasi nasional harus menentukan perlengkapan pelindung pribadi dan
pakaian yang akan dikenakan saat kehadiran bahaya tidak dapat dihindari. Seperti
itu spesifikasi harus mencakup sebagai berikut:
1. Pakaian pelindung atau peralatan pelindung wajah atau kacamata saat
pengelasan
6

2. Pakaian pelindung untuk menutupi seluruh tubuh ketika menangani korosif


atau zat beracun atau bahan lain yang dapat menyebabkan cedera pada kulit
3. Sarung tangan pelindung saat menangani bahan atau melakukan pekerjaan
yang mungkin menyebabkan cedera pada tangan. Namun, sarung tangan tidak
harus dipakai dalam kasus di mana mereka akan menciptakan bahaya yang
4.
5.
6.
7.
8.
9.
2.7

lebih besar dengan menjadi terjerat dalam yang bergerak bagian dari peralatan
Helm pengaman di mana benda jatuh dapat menciptakan bahaya
Sepatu pelindung
Sabuk pengaman dan garis di mana ada bahaya jatuh
Jaket atau sabuk di mana ada bahaya jatuh ke dalam air
Peralatan perlindungan pendengaran atau air plug
Strip neon pada pakaian bila perlu

Kejadian Kecelakaan
Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak direncanakan, tidak
terkendali dan tidak dikehendaki yang disebabkan langsung oleh tindakan tidak
aman (unsafe act) dan kondisi tidak aman (unsafe condition) sehingga
menyebabkan terhentinya suatu kegiatan baik terhadap manusia maupun
terhadap alat. Hal ini sering disebut sebagai konsep 3U yaitu Unplanned,
Undesirable dan Uncontrolled.
Kecelakaan yang terjadi selalu ada penyebabnya, penyebab yang paling
utama adalah disebabkan oleh :
a. Tindakan tidak aman
Yaitu tindakan tidak aman yang berhubungan dengan tingkah laku para
pekerja dalam melaksanakan pekerjaan pertambangan.
b. Kondisi tidak aman
Yaitu kondisi tidak aman yang berhubungan dengan kondisi tempat kerja
atau peralatan yang digunakan dalam pekerjaan pertambangan.
Terjadinya kecelakaan merupakan landasan dari manajemen keselamatan
dan kesehatan kerja, oleh karenanya usaha keselamatan dan kesehatan kerja
diarahkan untuk mengendalikan sebab terjadinya kecelakaan. Untuk dapat
memahami dengan baik tentang sebab terjadinya kecelakaan kerja, maka
manajemen dituntut memahami sumber terjadinya kecelakaan. Dalam kaitannya

dengan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, sebab kecelakaan dapat


bersumber dari empat kelompok besar, yaitu:
a. Faktor lingkungan
Faktor ini berkaitan dengan kondisi di tempat kerja, yang meliputi:
Keadaan lingkungan kerja
Kondisi proses produksi
b. Faktor alat kerja
Di mana bahaya yang ada dapat bersumber dari peralatan dan bangunan
tempat kerja yang salah dirancang atau salah pada saat pembuatan serta
terjadinya kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh seorang perancang.
Selain itu, kecelakaan juga bisa disebabkan oleh bahan baku produksi yang
tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan, kesalahan dalam
penyimpanan, pengangkutan dan penggunaan.
c. Faktor manusia
Faktor ini berkaitan dengan perilaku tindakan manusia di dalam melakukan
pekerjaan, meliputi:
Kurang pengetahuan dan keterampilan dalam bidang pekerjaannya

maupun dalam bidang keselamatan kerja.


Kurang mampu secara fisik dan mental.
Kurang motivasi kerja dan kurang kesadaran akan keselamatan kerja.
Tidak memahami dan menaati prosedur kerja secara aman.

Bahaya yang ada bersumber dari faktor manusianya sendiri dan sebagian
besar disebabkan tidak menaati prosedur kerja.
d. Kelemahan sistem manajemen
Faktor ini berkaitan dengan kurang adanya kesadaran dan pengetahuan dari
pucuk pimpinan untuk menyadari peran pentingnya masalah Keselamatan
dan Kesehatan Kerja, yang meliputi:
Sikap manajemen yang tidak memperhatikan Keselamatan dan

Kesehatan Kerja di tempat kerja.


Tidak adanya standar atau kode Keselamatn dan Kesehatan kerja
yang dapat diandalkan.

Organisasi yang buruk dan tidak adanya pembagian tanggungjawab


dan perlimpahan wewenang bidang Keselamatan dan Kesehatan

Kerja secara jelas.


Sitem dan prosedur kerja yang lunak atau penerapannya tidak tegas.
Prosedur pencatatan dan pelaporan kecelakaan atau kejadian yang

kurang baik.
Tidak adanya monitoring terhadap sistem produksi.
Karyawan PT. Freeport Terjebak Longsor Di Lokasi Penambangan
Jayapura (15/5) Dua karyawan PT Freeport yang terjebak longsoran
di areal Underground QMS Biggosan Mill 74, pada Selasa (14/5) sekitar Pukul
09.00 Wit kemarin, dinyatakan tewas, yakni atas nama Andarias Msen dan
Kenny Wanggai. Dimana dari 40 orang karyawan yang tertimbun longsor, enam
orang berhasil ditemukan, namun dua orang dinyatakan tewas, sementara empat
orang lainnya selamat dan kini sedang dirawat intensif di rumah sakit setempat.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua, Didi
Agus Prihatno kepada wartawan, di Jayapura, Rabu (15/5) mengatakan, longsor
di areal PT Freeport adalah murni kecelakaan kerja akibat fenomena alam.
Longsoran terjadi di fasilitas pelatihan pertambangan bawah tanah PT Freeport,
tepatnya mill 74. Akibat adanya kejadian itu, ujar Didi, ada laporan resmi dari PT
Freeport, yang isinya adalah sekitar 40 pekerja tambang terjebak didalam areal
fasilitas pelatihan tambang bawah tanah di mill 74. Dimana sementara ini sedang
dilakukan upaya pencarian dan evakuasi. Dari 40 orang, enam orang sudah
terevakuasi, empat orang dinyatakan hidup dan dua orang lainnya meninggal.
Saat ini korban selamat sedang dirawat secara intensif di rumah sakit.
Dikatakannya, disaat longsoran ini diatasi, kondisi 34 orang karyawan
yang masih terjebak di bawah tanah belum diketahui pasti, karena sampai saat ini
masih dilakukan pencarian. Yang paling tahu adalah manajemen Freeport bukan
2.8

kami, karena ini adalah kecelakaan kerja, maka menjadi domainnya perusahaan.
Upaya Penanggulangan Kecelakaan
Upaya penanggulangan kecelakaan dalam kaitannya dengan masalah
keselamatan dan kesehatan kerja harus mengacu dan bertitik tolak pada konsep

sebab akibat kecelakaan, yaitu dengan mengendalikan sebab dan mengurangi


akibat kecelakaan. Berdasarkan prinsip pencegahan kecelakaan tersebut, maka
fungsi dasar manajemen keselamatan dan kesehatan kerja memegang peranan
penting terhadap upaya pengendalian kecelakaan sesuai dengan program yang
telah ditetapkan.
Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan:
a. Peraturan perundangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang

diwajibkan

mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi,


perawatan dan pengujian dan cara kerja peralatan industri, tugas-tugas
pengusaha dan buruh, latihan, supervide medis dan pemeriksaan kesehatan.
b. Standardisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi, atau
tak resmi mengenai konstruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan
umum, atau alat-alat pelindung diri
c. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan
perundang-undangan yang diwajibkan.
d. Penelitian bersifat teknik, yang meliputi sifat dan ciri-ciri bahan yang
berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat-alat
pelindung diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu, atau
penelitian

tentang

bahan-bahan

dan

desain

paling

tepat

untuk

tambangtambang pengangkat dan peralatan pengangkat lainnnya.


e. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tetang efek-efek fisiologis
dan patologis faktor-faktor lingkungan dan teknologis dan keadaan-keadaan
fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
f. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan.
g. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang
terjadi, banyaknya, mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa
sebabsebabnya.
h. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan dalam kurikulum
teknis, sekolah-sekolah perniagaan atau kursus-kursus pertukangan.
i. Latihan-latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khusunya tenaga
kerja yang baru, dalam keselamatan kerja.

10

j. Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain


untuk menimbulkan sikap selamat.
k. Asuransi, yaitu insentif financial untuk meningkatkan pencegahan
kecelakaan misalnya dalam bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh
perusahaan jika tindakan-tindakan keselamatan sangat baik.
l. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan, yang merupakan ukuran efektif
tindakan penerapan keselamatan kerja.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Kesehatan kerja adalah bagian dari ilmu kesehatan yang bertujuan agar tenaga
kerja memperoleh keadaan kesehatan yang sempurna baik fisik, mental,
maupun sosialnya sehingga memungkinkan karyawan dapat bekerja secara
optimal.
2. Tambang terbuka (open pit mining) juga disebut dengan open cut mining;
adalah metode penambangan yang dipakai untuk menggali mineral deposit
yang ada pada suatu batuan yang berada atau dekat dengan permukaan.
3. Penyebab yang paling utama dalam kecelakaan adalah disebabkan oleh
Tindakan tidak aman dan kondisi tidak aman.
11

4. Sebab kecelakaan dapat bersumber dari empat kelompok besar, yaitu: Faktor
lingkungan, faktor alat kerja, faktor manusia, kelemahan sistem manajemen.
5. Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan peraturan
perundangan, standardisasi, pengawasan, penelitian bersifat teknik, riset
medis, penelitian psikologis, penelitian secara statistik, pendidikan, latihanlatihan, penggairahan, asuransi, usaha keselamatan pada tingkat perusahaan,
3.2 Saran
Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena
sakit dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu
perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola
secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.
Harapannya rekomendasi ini dapat dijadikan sebagai acuan ataupun perbandingan
dalam rangka meningkatkan pelaksanaan K3 khususnya di tambang terbuka.

12

DAFTAR PUSTAKA
Heinrich W.W. (1960). Industrial accident Prevention a Safety Management
Approach fifth edition. New York.
Ridley, John. (2009). Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta: Erlangga
Suardi, Rudi. (2007). Sistem Manajemen Keselamatan & Kesehatan Kerja. Jakarta:
PPM.
.

13

Beri Nilai