Anda di halaman 1dari 9

Nama kelompok 3 :

Netty Sitinjak
Mentari Indah Lumbantobing
Delky Simamora
Benyamin Lumbantobing
Johanes Hutapea
Gr.Sartono Simanungkalit
Enprison Nababan
Theopneus Parapat
Kiston Manik

- Elfrida Manurung
- Triana Novita Pane
- Rista Bancin
- Tulus Sihombing
- Irvan Aruan
- Junita Lumbantoruan
- Surya Lumbantoruan
- Rony Nainggolan
- Dhaniel Gurning

ETIKA KEBUDAYAAN
I.

PENDAHULUAN

Setiap gerak manusia baik secara individu ataupun kelompok dalam hayat hidupnya
senantiasa memiliki gagasan atau sistem ide, perilaku atau sistem sosial dan hasil karya atau
budaya fisik. Selama semua dipergunakan dalam memenuhi hidupnya dan diperoleh dengan cara
belajar terus menerus berarti mereka berbudaya. Pada tataran sistem ide merupakan suatu
komplek gagasan yang memang sangat abstrak, namun dapat diketahui oleh orang dengan cara
berdialog. Adapun wujudnya berupa adat -istiadat, etika, norma, aturan, undang-undang, hukum.
Benang merah yang menyambung antara etika dan budaya sebenarnya terletak pada ruang sistem
ide ini. Karena beragam nilai sumbernya memang dari gagasan yang dalam hal ini adalah sistem
ide. Semua ini bisa mengendalikan sistem social atau perilaku manusia dalam hidupnya. Berarti
bisa diungkapkan apabila manusia itu memiliki suatu etika sudah barang tentu manusia itu
berbudaya demikian sebaliknya.1
Kata adat berasal dari kata Arab; ada, artinya kebiasaan, cara yang lazim, kelakuan yang tekah
biasa, aturan atauran yang lazim. Dan yang disebut adat istiadat adalah, kumpulan peraturan dan
norma-norma hidup yang berlaku di dalam persekutuan suku tertentu. Latar belakang
kepercayaan pada adat istiadat itu terletak pada perasaan hidup yang naturalistis-panteistis. Hal
itu telah diuraikan dan dipikirkan dalam dalam, dan paling jelas dapat kita lihat di dalam susunan
agama agama kuno seperti agama Kong Hu Cu, agama Hindu dan agama Buddha.Di dalam
agama itu yang menjadi pikiran inti adalah bahwa suat tata tertib kosmos, yang mengatur segala
sesuatu di dalam kosmos ( alam semesta) dan yang mengatur sifat dan kelakuan tumbuh
1 Samuel Fleischacker, The Eticts of Culture,(Cornell University Press:Ithaca and
London 1994), 127.

tumbuhan dan binatang, sungai sungai dan suku suku dan lain lain. Yang diuraikan dalam agama
agama tersebut juga ada dibahas di dalam agama agama suku. Adat istiadat suku ialah suatu
kumpulan peraturan yang harus memelihara dan melindungi hubungan antara makrokosmos dan
mikrokosmos. Adat istiadat itu dianggap sebagai pedoman hidup. Adat istiadat itu mengatakan
kepada mnusia, bagaimana ia harus bertindak, agar tata tertib kosmos jangan sampai tersinggung
atau terlanggar. Oleh sebab itu, adat istiadat itu melingkupi suatu persekutuan suku tertentu
dengan segala larangan pantang dan tabunya, yang bermaksud melindungi masyarakat terhadap
pelanggaran batas batas dan pelanggaran tata tertib. Apabila tata tertib kosmos dilanggar maka
akan datanglah dewa suku itu membalas. Maka akan berkuranglah kebahagiaan si pelanggar
adat. Sipelanggar adat akan ditimpa tulah terkutuk lah ia. Tanaman padi akan rusak, bencana
banjir akan menggelisahkan anggota anggota suku itu atau musim kering yang hebat akan
menghanguskan tanaman sawah dan di ladang. Pada masing masing persekutuan suku, adat
istiadat itu berlainan bentuknya, tetapi corak dasarnya di manapun sama saja.2

II.

ISI

Hubungan antara Etika dengan Kebudayaan


Hubungan antara Etika dengan Kebudayaan merupakan cara pandang secara filosofis yang yang
menyatakan bahwa tidak ada kebenaran moral yang absolut, kebenaran harus selalu disesuaikan
dengan budaya dimana kita menjalankan kehidupan sosial kita karena setiap komunitas sosial
mempunyai cara pandang yang berbeda-beda terhadap kebenaran etika. Etika erat kaitannya
dengan moral. Etika atau moral dapat digunakan oleh manusia sebagai wadah untuk
mengevaluasi sifat dan perangainya. Etika selalu berhubungan dengan budaya karena merupakan
tafsiran atau penilaian terhadap kebudayaan. Etika mempunyai nilai kebenaran yang harus selalu
disesuaikan dengan kebudayaan karena sifatnya tidak absolut dan mempunyai standar moral
yang berbeda-beda tergantung budaya yang berlaku dimana kita tinggal dan kehidupan social apa
yang kita jalani. Baik atau buruknya suatu perbuatan itu tergantung budaya yang berlaku. Prinsip
moral sebaiknya disesuaikan dengan norma-norma yang berlaku, sehingga suatu hal dikatakan
baik apabila sesuai dengan budaya yang berlaku di lingkungan sosial tersebut.
2 Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2015),63

Perbedaan Budaya dan Etika


Budaya menjelaskan cara kolektif hidup, atau cara melakukan sesuatu. Ini adalah jumlah
sikap, nilai-nilai, tujuan, dan praktek bersama oleh individu dalam kelompok, organisasi, atau
masyarakat. Budaya bervariasi selama periode waktu, antara negara dan wilayah geografis, dan
di antara kelompok-kelompok dan organisasi. Budaya mencerminkan keyakinan moral dan etika
dan standar yang berbicara kepada bagaimana orang harus bersikap dan berinteraksi dengan
orang lain. Norma-norma budaya bersama, sanksi, dan sistem kepercayaan dan praktek yang
turun-temurun dan ciri kelompok budaya yang terintegrasi. Norma menumbuhkan pedoman yang
dapat diandalkan untuk hidup sehari-hari dan memberikan kontribusi pada kesehatan dan
kesejahteraan budaya. Mereka bertindak sebagai resep untuk perilaku yang benar dan moral,
meminjamkan makna dan koherensi hidup, dan menyediakan sarana untuk mencapai rasa
integritas, keamanan, dan milik. Keyakinan normatif, bersama dengan nilai-nilai budaya yang
terkait dan ritual, memaksakan rasa ketertiban dan kontrol pada aspek kehidupan yang mungkin
tampak kacau atau tak terduga.
Di sinilah budaya bersimpangan dengan etika. Karena interpretasi apa yang moral
dipengaruhi oleh norma-norma budaya, ada kemungkinan bahwa apa yang etis untuk satu
kelompok tidak akan dipertimbangkan sehingga oleh seseorang yang tinggal di budaya yang
berbeda. Menurut relativisme budaya ini berarti bahwa tidak ada kebenaran tunggal yang
menjadi dasar perilaku etis atau moral bagi semua waktu dan ruang geografis, sebagai
interpretasi kami kebenaran dipengaruhi oleh budaya kita sendiri. Pendekatan ini berbeda dengan
universalisme, yang memegang posisi bahwa nilai-nilai moral yang sama untuk semua orang.
Relativisme budaya menganggap hal ini menjadi pandangan etnosentris, sebagai himpunan
universal nilai-nilai yang diusulkan oleh universalis didasarkan pada set mereka nilai.
Relativisme budaya juga dianggap lebih toleran dari universalisme karena, jika tidak ada dasar
untuk membuat penilaian moral antara budaya, maka budaya harus toleran satu sama lain.
HUBUNGAN ETIKA KEBUDAYAAN DENGAN DASA TITAH
Titah 4 :Hormatilah Ayah dan Ibumu

Allah menempatkan ayah dan ibu melebihi semua orang lain didunia ini dan hampir sama
pentingnya denganNya. Dalam artian kita semua sama saja dalam pandangan Allah; tetapi dalam
hubungan kita, tidak ada yang dapat berjalan tanpa perbedaaan-perbedaan dalam kedudukan.
Itulah sebabnya Allah memrintahkan kita untuk memperhatikan mereka; hendaklah engkau
menaatiku sebagai ayahmu dan akulah yang bertanggung jawab atasmu. Menghormati ayah dan
ibu dilakukan dengan: menempatkan mereka sebagai harta terindah dalam dunia, mengalah
kepada mereka, tidak membantah dan kita menghormati mereka dengan tubuh kita dan milik kita
dengan membantu serta memelihara mereka pada waktu tuanya. Semua ini dilakukan dengan
rendah hati dan penuh hormat sambil menyadari kita melakukannya dihadapan Allah. Titah ini
ditekankan Luther sebagai perintah terpenting dari semua perintah yang berkenaan dengan Allah.
Dalam melaksanakan perintah ini Allah menjanjikan adanya upah bagi mereka yang setia yaitu
upah umur yang panjang, berbeda halnya dengan melakukan sesuatu untuk mendapatkan
keselamat atau penebusan (surat indulgensia). Ketaatan yang diperintahkan Allah dalam titah ini
bukan saja taat kepada orangtua, melainkan juga pada pemerintah,Bapak rohani dan lainnya.
Allah memberikan tanggung jawab pada kita untuk dilaksanakan dengan ikhlas, tidak sesuka hati
karena hal inilah yang mengarahkan kita pada Allah.3
Titah ke 5: Jangan membunuh
Allah memberi firman ini ke dunia yang bebas penuh dengan kesusahan agar setiap orang
dilindungi dan hidup aman dari kejahatan dan tindak kekerasan. Ia menetapkan firman ini
sebagai benteng perlindungan. Akar masalah dari pembunuhan ialah rasa benci, Allah
menjelaskan bahwa meskipun musuh kita layak mendapat kutukan atau rasa benci dari kita, itu
tetaplah salah, maka Allah mendorong manusia untuk belajar bersikap tenang, sabar, dan lemah
lembut terhadap orang yang menyebabkan kita marah. Perintah ini bukan saja ditujukan pada
tindakan kita tetapi juga pada lidah kita sehingga perlindungan dari perintah ini tertuju pada
rohani dan jasmani kita. Perintah ini tertuju pada tindakan kita terhadap orang lain, bukan hanya
dengan diri kita. Melalui melakukan pertolongan atau membantu orang lain merupakan tujuan
dari perintah ini, tidaklah berguna jika kita menutup diriku dan melakukan yang baik hanya pada
diri kita tidak pada yang lain. Hal ini sangat ditekankan dalam buku ini tidak ada gunanya kita

3 Martin Luther, katekismus besar, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2015, hal 58-62.

melakukan yang baik menurut kita (yang tidak diperintahkan Allah) jika itu tidak memberi
pertolongan kepada orang lain.4
Titah ke 6 : Jangan berzinah
Perintah ini menjauhi adanya percabulan, sehingga pasangan suami dan istri terlindungi dari
siapapun yang mungkin bertindak melampaui batas. Perintah ini menyatakan perkawinan sebagai
suatu kehidupan yang kudus dan memiliki kedudukan tertinggi. Melalui perintah ini kita
disadarkan bahwa Perkawinan bukanlah hal yang membahagiakan dalam dunia ini dan berkenan
kepada Allah, maka perkawinan itu tidak sembarangan melainkan terhormat bila didasarkan
dengan kasih sehingga perkawinan diartikan debagai kehidupan yang murni.5
Titah ke 7: Jangan mencuri
Dalam perintah ini dijelaskan bahwa mencuri merupakan kejahatan yang umum dan hampir
tidak terkendalikan. Mencuri bukan hanya sekedar mengambil atau merampas barang orang lain,
melainkan juga merugikan orang lain dalam hal berdagang, menjalankan usaha, menukara
barang atau jasa pekerjaan. Firman ini menegur para pekerja yang malas dan lalai karena hal itu
akan menimbulkan kerugian yang besar terhadap majikan. Begitu juga para pedagang yang tak
henti-hentinya memikirkan cara untuk menipu orang seperti taktik licik dalam mengambil laba,
timbangan, mutu kurang dan lainnya. Pencuri dalam firman ini membedakan pencuri terangterangan (perampok) dan pencuri gelap (korupsi). Pencuri terang-terangan dikatakan hidupnya
tidak tenang, karena mereka didepan umum dinyatakan bersalah dan mendapat hukuman, tetapi
berbeda halnya dengan pencuri gela, hidupnya terpandang dan tidak diketahui masyarakat
umum. Dalam firman ini ditekankan bahwa pencuri gelap haruslah sadar bahwa kesalahan yang
mereka lakukan lebih besar dibandingkan pencuri terang-terangan dihadapan Allah. Firman ini
juga ditujukan kepada orang yang setia kepada Tuhan agar tetap setia, jangan melakukan hal
yang demikian.6
4 Martin Luther, katekismus besar, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2015, hal 71-76.
5 Martin Luther, katekismus besar, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2015, hal 80-83.
6 Martin Luther, katekismus besar, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2015, hal 85-92.

Titah ke 8: Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.


Dalam firman ini Allah tidak ingin sesama kita kehilangan kehormatan yang baik dan martabat
pribadinya. Firman ini pertama-tama di tujukan kepada pengadilan dimana orang-orang miskin
dan yang tidak bersalah di adili sehingga akhirnya mereka di hukum. Dalam peristiwa ini
diperlukannya hakim dan saksi yang jujur agar orang memperoleh haknya. Dalam peristiwa ini
lidah berpengaruh untuk mencelakai atau menyakiti dan menyelamatkan atau membebaskan
orang lain. Oleh sebab itu kita di sadarkan agar menjauh dari dosa akibat lidah, yang berbicara
tentang kebiasaan keji dan memalukan. Maka untuk menghindari perbuatan jahat ini kita
hendaknya sadar bahwa tak seorang pun berhak menghakimi orang lain di depan umum bahkan
bila ia melihat orang lain itu berdosa, sebab menghakimi dosa berbeda sekali dengan mengetahui
dosa. Jikalau kita turut menghakiminya, kita jatuh ke dalam dosa yang lebih besar di bandingkan
yang ia lakukan, biarlah kita saja yang mengetahui dan menyimpannya sampai kita di minta
menjadi hakim secara resmi di serahi wewenang untuk memberi kecaman, dan jika ia diam
walau sudah di serahi wewenang maka dia juga akan dinyatakan memberi saksi palsu. Dalam
firman ini menyatakan apa yang bersifat rahasia, hendaknya tetap di rahasiakan, atau paling tidak
di tegur secara diam-diam. Namun kalau kita berhadapan dengan orang yang memfitnah orang
lain, tegur lah ia secara terang-terangan sehingga ia merasa malu. Maka kita di sadarkan untuk
menggunakan lidah dengan benar.7
Titah ke9 dan 10: Jangan mengingini rumah sesamamu, jangan mengigini isterinya, atau
hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun
yang di punyai sesamamu.
Firman ini berkaitan dengan firman yang ke tujuh yang melarang kita merampas, atau
menahan hak milik orang lain apabila kita tidak punya hak akan hal itu. Namun firman ke
Sembilan dan ke sepuluh ini lebih lanjut melarang kita menarik apa pun milik orang lain
meskipun kita mampu melakukannya. Dalam firman ini dijelaskan bahwa hukum kerap kali di
salahgunakan untuk mendukung tindakan itu. Karena hukum benar-benar menolong orang yang
pandai dan lihai dalam hal ini. Firman ini ditujukan kepada orang-orang yang berbudi dan ingin

7 Martin Luther, katekismus besar, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2015, hal 94-100

hidup sepantasnya serta ingin di pandang sebagai orang-orang yang jujur dan tulus karena tidak
melanggar firman-firman yang sebelumnya. 8
III. Analisa
Dengan demikian, dapat disimpulkan hubungan etika kebudayaan dalam etika adalah
aturan-aturan moral Alkitabiah biasanya sederhana dan menggambarkan dalam garis besar batasbatas dari perilaku yang dapat diterima daripada memberikan rincian-rinciannya. Sebagai contoh,
larangan-larangan dalam Sepuluh Perintah merupakan batasan-batasan pokok kehendak Allah
yang harus dipahami dalam konteks pembebasan Allah atas bangsa Israel dari perbudakan di
Mesir dan dimaksudkan sebagai pernyataan Allah bagi Israel. Perintah jangan mencuri, misalnya,
tidak memberi rincian mengenai hubungan-hubungan ekonomis Kristiani. Tetapi Perintah itu
menyediakan suatu batasan dasariah bagi pelaku ekonomi yang dapat diterima yang penting dan
bermakna bagi setiap masyarakat. Akan tetapi, pengertian mengenai mencuri dapat berbeda dari
satu kebudayaan ke kebudayaan lainnya dengan definisi-definisi yang beragam mengenai hakhak kepemilikan.9
Larangan mencuri, seperti sembilan perintah lainnya, bukanlah suatu prinsip etik yang
abadi yang harus kita terjemahkan kedalam ungkapan-ungkapan budaya yang berlainan. Malah
kurang lagi dari itu, larangan ini adalah suatu aturan hukum kriminal. Sepuluh Perintah tidak
memuat sebagai undang-undang dan sanksi-sanksi hukum sampai yang sekecil-kecilnya.
Melainkan, itu adalah suatu perintah yang memperoleh maknanya dari aturan-aturan dan
ketentuan-ketentuan yang tidak terhitung jumlahnya yang diberikan didalam hukum kriminal,
sipil, kultik dan amal. Secara keseluruhan, hukum-hukum itu memberikan suatu gambaran
mengenai jenis dan corak paguyuban yang Allah kehendaki bagi Israel pada zaman perunggu
awal.10
8 Martin Luther, katekismus besar, Jakarta: BPK Gunung Mulia 2015, hal 103-108
9 Adeney Bernard, Etika Sosial Lintas Budaya, Pustaka Teologi : Kanisius, 1995,
hlm. 130.
10 Adeney Bernard, Etika Sosial Lintas Budaya, Pustaka Teologi : Kanisius, 1995,
hlm. 130.

Agar kita memahami jenis Paguyuban yang Allah kehendaki bagi kita dewasa ini, kita
harus memahami gambaran yang diberikan narasi Alkitab mengenai umat Allah. Hukum-hukum
mengejawantahkan gambaran paradigmatik itu. Kita dibebaskan dari hukum-hukum bukan
dalam arti bahwa kita tidak perlu mengikuti hukum-hukum itu. Melainkan, kita wajib mengikuti
arti atau makna hukum itu sebagaimana terdapat dalam tuturan mengenai kehendak Allah bagi
Israel. Sebagaimana kita dapat lihat dari penjelasan Yesus mengenai larangan berzinah, tugas dan
kewajiban kita itu dapat menjadi lebih keras lagi daripada hanya menaati hukum. Yesus
menyatakan bahwa arti perzinahan mencakup semua keinginan dan nafsu birahi laki-laki
didalam batin mereka yang tersembunyi yang diarahkam kepada perempuan-perempuan (Matius
5 : 27-28).11
Dipandang dari sudut iman Kristen, adat istiadat tidak bisa menjadi sumber pengetahuan
yang sesungguhnya yaitu tentang yang baik dan yang jahat, dikarenakan:
Pertama, karena di dalam kompleks adat istiadat kuno tidak tampak batasan-batasan antara
Tuhan dan kosmos. Segala agama suku adalah naturalistis. Di dalam agama agama itu yang
dikenal dan dimuliakan bukanlah Tuhan yang hidup, tetapi makhluk yang dimuliakan: alam,
bapa suku, kepala suku, tradisi suku, roh orang-orang yang mendirikan kampung itu dan
sebagainya.
Kedua, adat istiadat itu tidak dapat menjadi sumber pengetahuan tentang yang baik dan yang
jahat, karena adat istiadat itu penuh takhayul dan guna guna. Penyembahan kepada dewa dan
berhala senantiasa disertai guna guna, ilmu nujum dan takhayul. Dan di dalam adat istiadat
terdapat bekas bekas semua itu. Oleh sebab itu adat istiadat adalah suatu sumber yang keruh, dan
dari sumber itu kita tidak dapat tahu apa yang baik dan apa yang jahat itu. Haruslah kita akui
dengan bersyukur, bahwa di dalam adat istiadat bangsa bangsa itu terdapat unsur unsur yang
mengingantkan kita akan kehendak Tuhan yang suci. Hal itu telah diuraikan oleh Paulus dalam
surat Roma 2:14-16.12

11 Adeney Bernard, Etika Sosial Lintas Budaya, Pustaka Teologi : Kanisius, 1995,
hlm. 130-131.
12 Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, 64-65.

Disini Paulus menunjukkan bahwa bangsa bangsa kafir, walaupun belum mempunyai
pengetahuan tentang Hukum taurat, tidak kehilangan sama sekali kesadaran akan yang baik dan
yang jahat. Isi Taurat atau pekerjaan Hukum taurat tertulis di dalam hatinya, dan suara hatinya
bersaksi demikian dengan mempersalahkan dan membenarkan. Hendaklah kita memperhatikan
bahwa ada beberapa persekutuan yang beradat istiadat, dimana pengaruh Hukum Taurat dan injil
telah mengadakan banyak perubahan perubahan di dalam adat istiadat kuno itu; adat istiadat itu
diperbaharuinya, sebagian dihapuskan dan sebagian diganti. Namun di daerah-daerah yang telah
dimasehikan pun, adat istiadat itu belum merupakan sumber yang murni buat pengetahuan
tentang kehendak Tuhan. Dan disitu pun tiap tiap bentuk adat harus diuji dengan perintah
perintah Tuhan. Dan disitu pun manusia harus belajar mengambil keputusannya di hadirat Tuhan.
Dan yang terakhir hendaklah kita perhatikan, bahwa pengaruh adat istiadat di dalam persekutuan
suku yang kuno iu makin lama makin berkurang. Perhubungan di antara suku suku makin
bertambah. Hubungan percampuran bentuk bentuk kebudayaan. Persekutuan persekutuan yang
kecil makin terhisab di dalam the great society, yakni persekutuan persekutuan dunia yang besar.
Kebudayaan kebudayaan yang lama, yang dulu menjadi contoh, kini telah kehilangan
pengaruhnya. Tumbuhlah suatu kebudayaan dunia ( world civilisation).13

13 Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, 66-67.