Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI.................
BAB I PENDAHULUAN.....
BAB II TEORI DASAR.......
BAB III PEMBAHASAN.
BAB IV KESIMPULAN..
DAFTAR PUSTAKA....

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Pada kegiatan operasi pemboran dikenal istilah lumpur pemboran yang

dapat

didefinisikan

sebagai

campuran

bermacam-macam

material

yang

dipergunakan untuk membantu operasi pemboran dengan membersihkan dasar


lubang dari serpih bor dan mengangkatnya ke permukaan dengan demikian
pemboran dapat berjalan dengan lancar. Lumpur bor merupakan salah satu faktor
penting dalam suatu operasi pemboran karena dengan penggunaan lumpur bor
yang baik dan tepat sehingga operasi pemboran dapat berjalan sesuai yang
diharapkan.
Namun dalam kenyataannya pengeboran tidak selalu berjalan dengan
lancar sesuai dengan harapan, berbagai macam hambatan sering kali terjadi.
Hambatan ini biasa disebut sebagai hole-problems atau downhole-problems, yang
dapat terjadi karena masalah-masalah di dalam lubang bor maupun di permukaan.
Penyebab permasalahan ini misalnya karena mesin mati, rangkaian bor rusak,
penyebab dari formasi, dan lain sebagainya. Permasalahan yang sering terjadi
pada saat pemboran antara lain, tidak sempurnanya lubang yang diperoleh, caving
shale problem, hilangnya lumpur pengeboran ( lost-circulation atau water-lost ),
pipa terjepit dan semburan liar ( blow-out ).
Salah satu masalah yang terjadi di dalam lubang bor adalah masalah lost
circulation. Lost circulation adalah peristiwa hilangnya lumpur pemboran
sebagian atau seluruhnya masuk ke dalam formasi. Terjadinya hilang sirkulasi
lumpur ditanggulangi dengan menyesuaikan kondisi formasi dan besarnya laju

hilang sirkulasi serta bahan material penyumbatannya atau LCM (Loss


Circulation Material).
1.2

Tujuan dan Manfaat


Berikut adalah beberapa tujuan dan manfaat dari diskusi yang dilakukan,

antara lain:
1.
2.
3.
4.
5.

Mengetahui penyebab Lost Circulation.


Mengetahui metode-metode dalam menangani Lost Circulation.
Mengetahui rheologi lumpur yang sesuai dengan kondisi formasi.
Mengetahui berbagai macam Lost Circulation Material.
Mengetahui jenis semen yang digunakan dalam Cementing Plug.

BAB II
TEORI DASAR
2.1 Lost Circulation
Lost Circulation atau hilang sirkulasi didefinisikan sebagai hilangnya fluida
pemboran sebagian atau seluruhnya selama pemboran dan sirkulasi. Hilang
lumpur ini merupakan problem lama di dalam pemboran, yang meskipun telah
banyak penelitian, tetapi masih banyak terjadi dimana-mana, serta kedalaman
yang berbeda-beda. Masuknya lumpur pemboran ke dalam formasi bisa

diakibatkan secara ilmiah, karena jenis dan tekanan formasi yang ditembus mata
bor maupun diakibatkan secara mekanis yang disebabkan kesalahan dalam operasi
pemboran.

Gambar 2. 1
Lost Circulation
Pada umumnya hilang sirkulasi terjadi jika tekanan hidrostatik lumpur naik
hingga

melebihi

tekanan

rekah

formasi

yang

akan

mengakibatkan

adanya frac (rekahan) yang memungkinkan lumpur (fluida) mengalir ke


dalamnya. Kerugian akibat terjadinya lost circulation ini adalah, akibat hilangnya
lumpur tersebut, penurunan permukaan lumpur didalam lubang bor yang dapat
mengakibatkan terjadinya semburan liar pada formasi lain yang bertekanan tinggi,
tidak didapatinya serbuk bor (cutting) untuk sample log, bahaya terjepitnya pipa
bor, kehilangan waktu dan biaya serta menimbulkan kerusakan formasi.
Berdasarkan keadaan lost circulation dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

Partial Lost yaitu bila lumpur yang hilang hanya sebagian saja dan masih ada
lumpur yang mengalir ke permukaan. Umumnya terjadi pada jenis formasi
yang lunak dan mengandung rekahan-rekahan.

Total Lost, yaitu hilang sirkulasi lumpur yang ditandai dengan tidak adanya
aliran balik dari cutting dan fluida pemboran ke permukaan dan kolom fluida
pemboran akan turun yang berarti penurunan tekanan hidrostatis, sehingga

dapat menjadi sebab terjadinya well kick.


2.1.1. Penyebab Terjadinya Lost Circulation
Penyebabnya adalah karena faktor mekanis, dimana loss disebabkan oleh
pemakaian lumpur yang terlalu berat dan nilai pressure surge yang terlalu tinggi.
Selain itu, penyebab lain yang dapat terjadi akibat banyaknya formasi yang
gerowong sehingga fluida pemboran masuk ke formasi tersebut.
Massa jenis lumpur harus dikontrol agar dapat memberikan tekanan
hidrostatik yang dapat menahan tekanan formasi dan mampu untuk mencegah
masuknya cairan formasi kedalam lubang bor, tetapi tekanan tersebut tidak boleh
terlalu besar sehingga menyebabkan formasi pecah dan lumpur hilang ke formasi.
Oleh karena itu massa jenis lumpur pemboran perlu direncanakan sebaik
baiknya dan disesuaikan dengan keadaan tekanan formasi.
Pressure Surge merupakan besarnya tekanan pada saat memasukkan pahat
ke dalam lubang bor. Sifat lumpur dan prosedur pada saat memasukkan pahat
harus dikontrol untuk memastikan agar harga pressure surge tidak terlalu tinggi.
Nilai pressure surge yang terlalu tinggi juga dapat menjadi salah satu penyebab
permasalahan terjadinya lost circulation.
2.1.2 Mendeteksi Zona Hilang Lumpur Di Permukaan
Bila terjadi loss circulation, berarti pemboran sedang mengalami masalah
berkurangnya volume system lumpur yang disirkulasikan. Hal ini dapat dideteksi
dengan melakukan pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan di permukaan
berupa:
Tekanan Pemompaan

Tekanan pemompaan adalah tekanan yang diperlukan untuk mengatasi friksifriksi pada lumpur yang disirukalsikan selama operasi pemboran yang besarnya
sebanding dengan panjang pipa yang dilaluinya.Apabila terjadi hilang sirkulasi
lumpur maka tekanan pompa yang dibaca dipermukaan akan menurun.Hal ini
meunjukkan adanya indikasi terjadinya hilang sirkulasi.

Pengamatan Serbuk Bor


Setiap operasi pemboran selalu menghasilakn cutting yang dibawa ke

permukaan oleh lumpur yang disirkulassikan secara kontinyu.Jika terjadi hilang


sirkulasi maka cutting tidak sampai ke pernukaan karena tidak ada lumpur yang
membawanya ke permukaan melalui annulus,akibatnya tidak ada informasi apaapa mengenai lubang sumur.
Volume Lumpur Mud Pit Dan Volume Lumpur yang Disirkulasikan
Mud pit adalah salah satu alat untuk penampang lumpur berupa container
yang dilengkapi dengan suatu sensor yang dapat memberikan signal alarm.Alat ini
berfungsi sebagi penunjuk level fluida yang terdapat dalam mud pit.
2.1.3

Pencegahan Terjadinya Hilang Sirkulasi


Hilang sirkulasi dalam pemboran dapat menimbulkan kerugian. Selain

dapat menimbulkan masalah, juga akan menyebabkan membesarnya biaya


pemboran. Beberapa cara pencegahan terjadinya hilang sirkulasi adalah:
1) Tetap menjaga berat fluida pemboran agar tetap seimbang dengan tekanan
formasi. Tekanan hidrostatis harus selalu dikontrol agar tidak terlalu kecil dari
tekan formasi tetapi juga tidak boleh terlalu besar.
2) Menghindari terjadinya pressure surge dan swabbing effect pada waktu pahat
dimasukkan dan pahat dicabut dari sumur.
3) Penggunaan sifat-sifat fisik yang baik dan stabil dari fluida pemboran.
2.1.4 Metode Penanggulangan Hilang Sirkulasi

Hilang sirkulasi harus ditanggulani dengan tujuan untuk menghindari


terjadinya masalah-masalah pemboran lainnya, menghindari semakin besarnya
biaya operasional serta untuk dapat melanjutkan pemboran sampai kedalaman
yang diinginkan. Metode-metode yang digunakan dalam penanggulangan lost
circulation adalah:
2.1.4.1 Mengurangi Tekanan Pompa
Bila berat lumpur normal dan tekanan abnormal bukanlah faktor
penyebab, langkah pertama dan paling mudah adalah mengatur tekanan pompa
dan berat lumpur.
2.1.4.2 Mengurangi Berat Lumpur
Pengurangan berat lumpur akan mengurangi diferensial pressure antara
lumpur dan fluida formasi, sehingga aliran lumpur yang hilang akan menurun.

2.1.4.3 Mengurangi Tekanan Surge Lubang Bor


Tekanan Surge dihasilkan dari penurunan pipa kedalam lubang bor yang
terlalu cepat. Kondisi ini dapat memecahkan formasi.
2.1.4.4 Lost Circulation Material
Penanggulangan

dengan

penyumbatan

menggunakan

LCM

perlu

diperhitungkan kombinasi bahan penyumbat LCM dan aplikasinya.


1. Bahan Penyumbat LCM
a) Material Fibrous (Serabut)
Jika lumpur mengandung konsentrasi material fibrous yang tinggi
kemudian dipompakan masuk kedalam lubang bor, maka tahanan gesekan yang
cukup besar akan berkembang dan berfungsi sebagai penyumbat.

Gambar 3.2
LCM
Tipe Fibrous
Gambar
2. 2

b) Material Flake
Material ini apabila disirkulsikan
kedalam
lubang bor, maka akan terletak
LCM Tipe
Fibrous
melintang lurus di muka formasi dan selanjutnya akan menutup rekahan yang ada.

Gambar 2. 3
LCM Tipe Flakes
Gambar 3.3
LCM Tipe Flakes
c) Material Granular
Berdasarkan hasil tes pengaruh konsentrasi lost circulation terhadap
besarnya fractur yang berhasil disumbat oleh material jenis granular untuk total
loss.

Gambar 3.4
LCM Tipe Granular
2.1.4.5 Cement Plug

Cement plug merupakan langkah terakhir dimana hilang lumpur yang


terjadi sudah tidak diatasi dengan lumpur. Cement plug adalah semen yang
dipompakan kedalam zona yang porous dengan tujuan material tersebut akan
menutup pori dengan membentuk plastik yang kuat dan solid.

1. Jenis Semen yang digunakan


a) Bentonite Diesel Slurry (Gunk Squeeze)
Bentonite dicampurkan dengan minyak diesel untuk membentuk slurry
yang semi padat untuk menutup zona hilang lumpur. Campuran tersebut kurang
efektif bila lumpur pemboran mengandung LCM karena akan mengurangi waktu
pengerasan lebih cepat.
b) Bentonite Diesel Oil Cement Slurry
Bentonite cement diesel oil adalah campuran dari semen dan bentonite
kemudian dicampurkan dengan minyak diesel. Bubur semen ini berbentuk sedikit
keras apabila terkena dengan air atau lumpur pemboran berbahan dasar

air.

Bentonite cement diesel oil akan membentuk lost circulation material yang efektif.
Contoh-contoh Lost Circulation Material yang bisa digunakan bersama BCO2D
adalah Granular, flaked, atau fibrous.
BCO2D sangat efektif pada temperatur statis dasar sumur atau bottomhole
static temperatur (BHSTs) antara 60 dan 250F (15.6 dan 121C). Pada umunya,
komposisi bubur BCO2D mengandung 94 lbs semen dan 100 lbs bentonite.
Dengan perbandingan komposisi 3 sak semen dan 1 sak bentonite akan
memberikan kombinasi yang baik untuk membuat gel strength yang kuat agar
dapat menutup zona loss dan juga tahan terhdap tekanan sehingga membuat
semen itu sendiri terjaga dan tetap ditempatnya. Pada umumnya berat bubur
semen ini berkisar dari 10 sampai 13.5 lbs/gal.

Bentonite Diesel Oil Cement Slurry dapat membantu permasalahan


pemboran seperti lost circulation pada formasi yang penanganan dengan lost
circulation materialnya tidak efektif lagi untuk digunakan.
Ketika semen ditambahkan dengan BC02D slurry, maka slurry akan
menyediakan material squeeze dengan sifat low compressive strength yaitu
kemampuan material itu untuk mempertahan keutuhannya di bawah tekanan yang
kecil.

BAB III
PEMBAHASAN

Lost Circulation didefinisikan sebagai hilangnya fluida pemboran sebagian


atau seluruhnya selama pemboran dan sirkulasi. Hilang lumpur ini merupakan
problem dalam pemboran, yang meskipun telah banyak penelitian, tetapi masih
banyak terjadi dimana-mana, serta kedalaman yang berbeda-beda. Masuknya
lumpur pemboran ke dalam formasi bisa diakibatkan secara ilmiah, karena jenis
dan tekanan formasi yang ditembus mata bor maupun diakibatkan secara mekanis
yang disebabkan kesalahan dalam operasi pemboran.
Kerugian akibat terjadinya lost circulation ini adalah, akibat hilangnya
lumpur tersebut, penurunan permukaan lumpur didalam lubang bor yang dapat
mengakibatkan terjadinya semburan liar pada formasi lain yang bertekanan tinggi,
tidak didapatinya serbuk bor (cutting) untuk sample log, bahaya terjepitnya pipa
bor, kehilangan waktu dan biaya serta menimbulkan kerusakan formasi.
Metode-metode yang dapat digunakan untuk menanggulangi masalah lost
circulation, antara lain: mengurangi tekanan pompa lumpur, menurunkan densitas
lumpur, mengurangi tekanan surge pada lubang bor agar tidak membuat formasi
menjadi pecah, melakukan penyumbatan dengan Lost Circulation Material, dan
metode yang terakhir adalah cementing plug.

Cementing plug merupakan langkah terakhir dimana hilang lumpur yang


terjadi sudah tidak diatasi dengan LCM. Cementing plug adalah semen yang
dipompakan kedalam zona yang porous dengan tujuan material tersebut akan
menutup pori dengan membentuk plastik yang kuat dan solid.
Jenis Semen yang digunakan, antara lain: Bentonite Diesel Slurry (Gunk
Squeeze) dan Bentonite Diesel Oil Cement Slurry. Bentonite cement diesel oil
akan membentuk lost circulation material yang efektif. Contoh-contoh Lost
Circulation Material yang bisa digunakan bersama BCO2D adalah Granular,
flaked, atau fibrous.
BCO2D sangat efektif pada temperatur statis dasar sumur atau bottomhole
static temperatur (BHSTs) antara 60 dan 250F (15.6 dan 121C). Pada umunya,
komposisi bubur BCO2D mengandung 94 lbs semen dan 100 lbs bentonite.
Dengan perbandingan komposisi 3 sak semen dan 1 sak bentonite akan
memberikan kombinasi yang baik untuk membuat gel strength yang kuat agar
dapat menutup zona loss dan juga tahan terhdap tekanan sehingga membuat
semen itu sendiri terjaga dan tetap ditempatnya. Pada umumnya berat bubur
semen ini berkisar dari 10 sampai 13.5 lbs/gal.
Ketika semen ditambahkan dengan BC02D slurry, maka slurry akan
menyediakan material squeeze dengan sifat low compressive strength yaitu
kemampuan material itu untuk mempertahan keutuhannya di bawah tekanan yang
kecil.

BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan diskusi yang telah kami lakukan dapat disimpulkan beberapa
hal, antara lain:
1. Lost Circulation adalah hilangnya fluida pemboran sebagian atau seluruhnya
selama proses pemboran berlangsung.
2. Lost Circulation dapat disebabkan oleh pemakaian lumpur yang terlalu berat
nilai pressure surge yang terlalu tinggi, dan banyaknya formasi gerowong.
3. Metode untuk menanggulangi lost circulation dapat dilakukan dengan,
menurunkan tekanan pompa, menurunkan densitas lumpur, menurunkan
pressure surge, penyumbatan dengan LCM, dan cementing plug.
4. Cementing plug merupakan cara terakhir untuk menangani lost circulation
apabila penanganan dengan LCM telah gagal.
5. Bentonite Diesel Oil Cement Slurry (BC02D) merupakan slurry yang akan
menyediakan material squeeze dengan sifat low compressive strength yaitu
kemampuan material itu untuk mempertahan keutuhannya di bawah tekanan
yang kecil.