Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit ginjal kronis

merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia dan

sekarang dikenal sebagai kondisi umum yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit
jantung dan gagal ginjal kronis .
Gagal ginjal biasanya dibagi menjadi dua kategori yang luas yakni kronik dan akut. Gagal
ginjal kronik merupakan perkembangan gagl ginjal yang progresif dan lambat (biasanya
berlangsung beberapa tahun), sebaliknya gagal ginjal akut terjadi dalam beberapa hari atau
beberapa minggu. Pada kedua kasus tersebut, ginjal kehilangan kemampuannya untuk
mempertahankan volume dan komposisi cairan tubuh dalam keadaan asupan makanan normal.
Meskipun ketidakmampuan fungsional terminal sama pada kedua jenis gagal ginjal ini, tetapi
gagal ginjal akut mempunyai gambaran khas dan akan dibahas secara terpisah.
Gagal ginjal kronik terjadi setelah berbagai macam penyakit yang merusak massa nefron
ginjal. Sebagian besar penyakit ini merupakan penyakit parenkim ginjal difus dan bilateral,
meskipun lesi obstruktif pada traktus urinarius juga dapat menyebabkan gagal ginjal kronik.
Meskipun penyebabnya banyak, manifestasi klinis gagal ginjal kronik sangat mirip satu sama
lain karena gagal ginjal progresif dapat didefinisikan secara sederhana sebagai defisiensi jumlah
total nefron yang berfungsi dan kombinasi gangguan yang tidak pasti tidak adapat dielakkan lagi.
Selama ini, pengelolaan penyakit ginjal kronik lebih mengutamakan diagnosis dan
pengobatan terhadap penyakit ginjal spesifik yang merupakan penyebab penyakit ginjal kronik
serta dialisis atau transplantasi ginjal jika sudah terjadi gagal ginjal. Bukti ilmiah menunjukkan
bahwa komplikasi penyakit ginjal kronik, tidak bergantung pada etiologi, dapat dicegah atau
dihambat jika dilakukan penanganan secara dini. Oleh karena itu, upaya yang harus dilaksanakan
adalah diagnosis dini dan pencegahan yang efektif terhadap penyakit ginjal kronik, dan hal ini
dimungkinkan karena berbagai faktor risiko untuk penyakit ginjal kronik dapat dikendalikan.

B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Chronic Kidney Disease?
2. Apa sajakah klasifikasi pada Chronic Kidney Disease?
3. Jelaskan etiologi dari Chronic Kidney Disease?
4. Bagaimanakah patofisiologi dari Chronic Kidney Disease?
5. Jelaskan manifestasi klinis dari Chronic Kidney Disease?
6. Bagaimanakah penatalaksanaan dari Chronic Kidney Disease?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari Chronic Kidney Disease.
2. Untuk mengetahui klasifikasi dari Chronic Kidney Disease.
3. Untuk mengetahui etiologi dari Chronic Kidney Disease.
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari Chronic Kidney Disease.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari Chronic Kidney Disease.
6. Untuk mengetahui penatalaksanaan dari Chronic Kidney Disease.
D. Sistematika Penulisan
1. BAB I PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
b. Rumusan Masalah
c. Tujuan
d. Sistematika penulisan
2. BAB II TINJAUAN TEORITIS
3. BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
4. BAB IV PENUTUP
5. DAFTAR PUSTAKA

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian
Sebelum tahun 2002, istilah insufisiensi renal kronis (chronic renal insufficiency/CRI)
dipakai untuk pasien dengan penurunan fungsi ginjal progresif, yang didefinisikan sebagai

laju filtrasi glomerular (glomerular filtration rate/GFR) kurang dari 75 ml/mnt/1,73 m2 luas
permukaan tubuh.
Istilah baru, yaitu CKD, diperkenalkan oleh NKF-K/DOQI, untuk pasien yang memiliki
salah satu kriteria sebagai berikut:
1. Kerusakan ginjal 3 bulan, dimana terdapat abnormalitas struktur atau fungsi ginjal
dengan atau tanpa penurunan GFR, yang dimanifestasikan oleh satu atau beberapa gejala
berikut:
- Abnormalitas komposisi darah atau urin
- Abnormalitas pemeriksaan pencitraan
- Abnormalitas biopsi ginjal
2. GFR < 60 ml/mnt/1,73 m2 selama 3 bulan dengan atau tanpa tanda kerusakan ginjal
lainnya yang telah disebutkan sebelumnya di atas.
B. Klasifikasi
Sistem klasifikasi CKD yang sekarang dipakai diperkenalkan oleh NKFK/DOQI
berdasarkan tingkat GFR, bersama berbagai parameter klinis, laboratorium dan pencitraan.
Tujuan adanya sistem klasifikasi adalah untuk pencegahan, identifikasi awal gangguan ginjal,
dan penatalaksanaan yang dapat mengubah perjalanan penyakit sehingga terhindar dari end
stage renal disease (ESRD).1-4 Namun demikian sistem klasifikasi ini hanya dapat
diterapkan pada pasien dengan usia 2 tahun ke atas, karena adanya proses pematangan fungsi
ginjal pada anak dengan usia di bawah 2 tahun.

Tabel 1. Klasifikasi stadium CKD NKF-K/DOQI


No

Stadium

GFR (ml/mnt/1,73 m2 )

90

60-89

30-59

15-29

< 15 atau dialisis

Deskripsi
Kerusakan ginjal dengan GFR
normal/meningkat
Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR
ringan
Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR
sedang
Kerusakan ginjal dengan penurunan GFR
berat
Gagal ginjal

Tabel 2. GFR normal pada anak dan remaja


No
1
2
3
4
5
6

Usia

GFR rata-rata SD (ml/mnt/1,73 m2)

1 minggu (laki-laki dan perempuan)


2-8 minggu (laki-laki dan perempuan)
> 8 minggu (laki-laki dan perempuan)
2-12 tahun (laki-laki dan perempuan)
13-21 tahun (laki-laki)
13-21 tahun (perempuan)

41 15
66 25
96 22
133 27
140 30
126 22

C. Etiologi
Penyebab dari gagal ginjal kronis menurut (Price, 2002), adalah :
1. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih (SIK) sering terjadi dan menyerang manusia tanpa memandang
usia, terutama wanita. Infeksi saluran kemih umumnya dibagi dalam dua kategori besar :
Infeksi saluran kemih bagian bawah (uretritis, sistitis, prostatis) dan infeksi saluran kencing
bagian atas (pielonepritis akut). Sistitis kronik dan pielonepritis kronik adalah penyebab utama
gagal ginjal tahap akhir pada anak-anak.

2. Penyakit peradangan

Kematian

yang

diakibatkan

oleh

gagal

ginjal

umumnya

disebabkan

oleh

glomerulonepritis kronik. Pada glomerulonepritis kronik, akan terjadi kerusakan glomerulus


secara progresif yang pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya gagal ginjal.
3. Nefrosklerosis hipertensif
Hipertensi dan gagal ginjal kronik memiliki kaitan yang erat. Hipertensi mungkin
merupakan penyakit primer dan menyebabkan kerusakan pada ginjal, sebaliknya penyakit
ginjal kronik dapat menyebabkan hipertensi atau ikut berperan pada hipertensi melalui
mekanisme retensi natrium dan air, serta pengaruh vasopresor dari sistem renin-angiotensin.
4. Gangguan kongenital dan herediter
Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal merupakan penyakit herediter yang
terutama mengenai tubulus ginjal. Keduanya dapat berakhir dengan gagal ginjal meskipun
lebih sering dijumpai pada penyakit polikistik.
5. Gangguan metabolic
Penyakit metabolik yang dapat mengakibatkan gagal ginjal kronik antara lain diabetes
mellitus, gout, hiperparatiroidisme primer dan amiloidosis.
6. Nefropati toksik
Ginjal khususnya rentan terhadap efek toksik, obat-obatan dan bahan-bahan kimia karena
alasan-alasan berikut :
a. Ginjal menerima 25 % dari curah jantung, sehingga sering dan mudah kontak dengan zat
kimia dalam jumlah yang besar.
b. Interstitium yang hiperosmotik memungkinkan zat kimia dikonsentrasikan pada daerah
yang relatif hipovaskular.
c. Ginjal merupakan jalur ekskresi obligatorik untuk kebanyakan obat, sehingga insufisiensi
ginjal mengakibatkan penimbunan obat dan meningkatkan konsentrasi dalam cairan
tubulus.
D. Patofisiologi

Batu ginjal merupakan batu pada saluran kemih (urolithiasis). Batu saluran kemih dapat
menimbulkan penyulit berupa obstruksi dan infeksi saluran kemih. Batu yang dibiarkan di dalam
saluran kemih dapat menimbulkan iskemi (kekurangan oksigen di dalam darah) dan infeksi
nerfon ginjal hingga pada akhirnya dapat menyebabkan

kerusakan ginjal permanen (gagal

ginjal).
Glomerulonefritis merupakan peradangan/inflamasi pada glomerulus yang menjadi penyebab
penyakit ginjal kronik karena kerusakan fungsi dan struktur glomerulus atau merupakan
peradangan dan kerusakan pada glumerulus (penyaring darah).Fungsi glomerulus menurun
hingga akhirnya menyebabkan Gagal Ginjal Kronik.
Uremia(ureum di dalam darah),peningkatan uremia akan menyebabkan peningkatan
kekentalan darah (viskositas darah),arteriosklerosis,peningkatan Renin Angiotensin Aldosteron
dan gangguan elektrolit.Hal ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah dan membuat
beban kerja jantung meningkat hingga menyebabkan gagal jantung. Yang dapat mengakibatkan
menurunnya curah jantung, sehingga suplai darah ke jaringan perifer berkurang. Muncul masalah
keperawatan
Pada diabetes melitus terjadi peningkatan kadar glukosa dalam aliran darah (sifat glukosa
yang banyak pekat atau lengket),proses filtrasi/penyaringan terjadi di glomerulus karena
viskositas darah yang tinggi yang disebabkan oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah, maka
lama-kelamaan akan menimbulkan kerusakan pada glomerus ginjal hingga pada akhirnya dapat
menyebabkan Gagal Ginjal Kronik.
Ginjal merupakan salah satu yang bekerja sebagai alat ekskresi utama untuk zat-zat yang
tidak dibutuhkan lagi oleh tubuh.Dalam melaksanakan fungsi ekskresi ini maka ginjal mendapat
tugas mengangkat hampir 25% dari seluruh aliran darah mengalir ke kedua ginjal. Besarnya
aliran darah yang menuju ke ginjal ini menyebabkan keterpaparan ginjal terhadap bahan/zat-zat
yang beredar dalam sirkulasi cukup tinggi,akibatnya bahan-bahan yang bersifat toksik akan
mudah menyebabkan kerusakan jaringan ginjal dalam bentuk perubahan struktur dan fungsi
ginjal dan pada akhirnya dapat menyebabkan Gagal Ginjal Kronik.
Kelainan ginjal di mana terjadi perkembangan banyak kista pada organ itu sendiri
(Polycystic kidney disease).Asidosis tubulus ginjal dan penyakit polikistik ginjal merupakan
6

penyakit herediter yang terutama mengenai tubulus ginjal. Keduanya dapat berakhir dengan
gagal ginjal meskipun lebih sering dijumpai pada penyakit polikistik.
Pada

GGK

terjadi

gangguan

metabolisme,antara

lain

gangguan

metabolisme

protein,lemak,dan karbohidrat. Salah satu sisa metabolisme dari protein dan lemak adalah zat
ureum yang tidak dapat diekskresikan oleh ginjal sehingga menumpuk di dalam tubuh di
antaranya di gastrointestinal seperti di air liur yang menyebabkan cegukan & gastritis, hal ini
akan menimbulkan gejala anoreksia,mual,muntah, dan stomatitis mengakibatkan intake nutrisi
yang tidak adekuat(kurang dari kebutuhan tubuh). Sehingga pada akhirnya akan menimbulkan
masalah keperawatan Nutrisi kurang dari kebutuhan dan Intoleransi aktivitas/kelemahan.
Karena ginjal tidak bisa mengekskresikan ureum,maka terjadi penumpukan ureum di kulit
(urokrom) beserta ekskariosis dan urea frost sehingga kulit tampak pucat dan gatal.Hingga pada
akhirnya bisa menimbulkan masalah keperawatan Gangguan integritas kulit,Resti infeksi
kulit,Gagguan istirahat tidur,dan Body image.
E. Manifestasi Klinis
Menurut Suhardjono (2001), manifestasi klinik yang muncul pada pasien dengan gagal ginjal
kronik yaitu:
1. Gangguan pada sistem gastrointestinal:
a. Anoreksia, nausea, dan vomitus b/d gangguan metaboslime protein dalam usus.
b. Mulut bau amonia disebabkan oleh ureum yang berlebihan pada air liur.
c. Cegukan (hiccup)
d. Gastritis erosif, ulkus peptik, dan kolitis uremik
2. Kulit:
a. Kulit berwarna pucat akibat anemia.
b. Gatal dengan ekskoriasi akibat toksin uremik.
c. Ekimosis akibat gangguan hematologis
d. Urea frost akibat kristalisasi urea
e. Bekas-bekas garukan karena gatal
3. Sistem Hematologi:
a. Anemia
b. Gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia
c. Gangguan fungsi leukosit
4. Sistem Saraf dan Otot:
a. Restles leg syndrome: Pasien merasa pegal pada kakinya, sehingga selalu digerakkan.
b. Burning feet syndrome: Rasa semutan dan seperti terbakar, terutama ditelapak kaki.
c. Ensefalopati metabolik: Lemah, sulit tidur, konsentrasi turun, tremor, asteriksis, kejang.
7

d. Miopati: Kelemahan dan hipotrofi otot-otot terutama otot-otot ekstremitas proksimal


5. Sistem kardiovaskuler:
a. Hipertensi, akibat penimbunan cairan dan garam.
b. Nyeri dada dan sesak nafas
c. Gangguan irama jantung
d. Edema akibat penimbunan cairan
6. Sistem endokrin:
a. Gangguan seksual: libido, fertilitas dan ereksi menurun pada laki-laki.
b. Gangguan metabolisme glukosa, resistensi insulin, dan gangguan sekresi insulin.
c. Gangguan metabolisme lemak.
d. Gangguan metabolisme vitamin D.
7. Gangguan sistem lain:
a. Tulang : osteodistrofi renal
b. Asidosis metabolik.
F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medik
a. Mengendalikan

Hipertensi

dengan

pemberian

obat

antihipertensif,eritro

protein,suplemen besi,agen pengikat posfat,suplemen dan kalsium.


b. Penanganan dialisis yang adekuat untuk menurunkan kadar produk sampah uremik
dalam darah.
c. Intervensi diet yang yang mencakup pengaturan yang cermat

terhadap masukan

protein,masukan cairan untuk mengganti cairan yang hilang dan suplemen vitamin harus
dianjurkan.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Mengkaji status nutrisi
b. Melaksanakan program diet untuk menjamin masukan nutrisi yang sesuai dalam batasbatas program penanganan.
c. Beri masukan intake cairan yang adekuat untuk mengurangi kesempatan pembentukan
batu ginjal akibat urin yang terlalu pekat.
d. Meningkatkan rasa positif dengan mendorong peningkatan perawatan diri.
e. Memberikan dukungan emosi yang besar bagi pasien dan keluarga yang berhubungan
dengan sejumlah perubahan yang dialami.
f. Memberikan penjelasan dan informasi kepada pasien dan keluarga mengenai penyakit
ginjal tahap akhir.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Aktivitas / Istirahat
Gejala : Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise.
Tanda : Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat hipertensi lama atau berat; palpasi; nyeri dada (angina).
Tanda : Hipertensi; nadi kuat, edema jaringan dan pitting; disritmia jantung; fiction sub
perikardial (respon terhadap akumulasi sisa); pucat; kulit coklat kehijauan, kuning;
kecenderungan perdarahan.
3. Integritas Ego
Gejala : Faktor stress, perasaan tidak berdaya, tak ada harapan, tidak ada kekuatan.
Tanda : Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian.
4. Eliminasi
Gejala : Penurunan frekuensi urin, oliguri atau anuria; distensi abdomen atau
konstipasi.
Tanda : Perubahan warna urine (kuning pekat, merah, coklat), oliguri, atau anuria.
5. Makanan / Cairan
Gejala : Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan (malnutrisi)
anoreksia, nyeri ulu hati, mual, muntah, rasa bau amoniak.
Tanda : Distensi abdomen (asites), pembesaran hati (hematomegali); perubahan turgor
kulit, lembab, edema, ulserasi gusi, perdarahan gusi atau lidah, penurunan otot,
penurunan lemak subkutan, penampilan tak berdaya.
6. Neurosensori
Gejala : Sakit kepala, penglihatan kabur. Kram otot (kejang), rasa terbakar pada telapak
kaki. Kesemutan dan kelemahan, khususunya ekstremitas bawah (neuropati perifer)
Tanda : Gangguan status mental. Tanda chuostek dan trauseau positif. Kejang,
fasikulasi otot, aktivitas kejang. Rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
7. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri panggul, sakit kepala, kram otot, nyeri kaki.
Tanda : Perilaku berhati-hati (distraksi), gelisah.
8. Pernapasan
Gejala : Napas pendek, noktural paroxysmal dispnea, batuk dengan atau tanpa sputum
kental.
10

Tanda : Takipnea, dispnea, peningkatan kusmaul (cepat dan dalam). Batuk produktif
dengan sputum merah mudah dan encer (edema paru)
9. Keamanan
Gejala : Kulit gatal, ada atau berulangnya infeksi.
Tanda : Pruritus, demam (karena sepsis atau dehidrasi) ptekie, ekimosis
10. Seksualitas
Gejala : Penurunan libido; amenorhea, infertilitas.
11. Interaksi sosial
Gejala : Kesulitan menentukan kondisi, (misalnya : tak mampu bekerja
atau mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga).
B. Diagnosa Keperawatan
1. Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urin, diet berlebih dan retensi cairan
serta natrium
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual dan muntah,
pembatasan diet, dan perubahan membran mukosa mulut
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d menurunnya suplai oksigen ke perifer
4. Intoleransi aktivitas b.d keletihan, anemia, retensi, produk sampah
C. Data Fokus yang Perlu dikaji
No
.
1.

2.

3.

Data Fokus
DS
-keluarga klien mengatakan bengkak
diarea kaki
DO
-edema pada ekstreminitas bawah (dari
paha sampai telapak kaki)
-urine berwarna kuning keruh
DS
-klien mengatakan badan terasa
lemas ,mual dan muntah, serta nafsu
makan berkurang
DO
-porsi makan tidak dihabiskan yang
dimakan Cuma 3 sendok makan
-mengalami 1 kali muntah
DS
-klien mengatakan bahwa wajahnya
terlihat pucat

Etiologi

Problem

Penurunan haluaran
urine , diet berlebih ,
retensi cairan serta
natrium

kelebihan volume
cairan

Anoreksia, mual dan


muntah, pembatasan
diet, dan perubahan
membrane mukosa
mulut

Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Menurunnya suplai O2
ke perifer

Ketidakefektifan
perfusi jaringan
perifer
11

4.

DO
-konjungtiva anemis
DS
-klien mengatakan badan terasa lemah
DO
-klien tampak hanya berbaring ditempat
tidur
-hampir semua aktivitas dibantu oleh
perawat dan keluarga
-klien tampak lemah

Keletihan, anemia,
retensi, produk sampah

Intoleransi aktivitas

D. Perencanaan
NO

Diagnosa
keperawatan

Rencana keperawatan

Tujuan dan Criteria


Hasil
Kelebihan volume NOC:
cairan
Electrolic and
acid
base
balance
Fluid balance
Hydration
Kriteria Hasil:
Terbebas dari
edema, efusi,
anaskara
Bunyi
nafas
bersih, tidak
ada
dyspneu/ortop
neu
Terbebas dari
distensi vena
jugularis,
reflek
hepatojugular
(+)
Memelihara
tekanan vena
sentral,
tekanan

Intervensi
NIC:
Fluid management
- Timbang
popok/pembalut jika
diperlukan
- Pertahankan
catatan intake dan output
yang akurat
- Pasang urin kateter jika
diperlukan

- Monitor hasil Hb yang


sesuai dengan retensi cairan (BUN, Hmt,
osmolalitas urin)
- Monitor
status
hemodinamik
termasuk CVP, MAP,
PAP, dan PCWP
- Monitor vital sign
-

- Monitor

indikasi -

Rasional

Untuk
mengetahui
intake dan output
Untuk mempetahankan
intake dan output yang
tepat
Mencegah terjadinya
peningkatan urine
Membantu
mempertahankan
Hb
normal sesuai dengan
retensi cairan
Mengetahui
nilai
normal

Membantu
mempertahankan nilai
normal vital sign
Mencegah
indikasi
retensi/kelebihan cairan

Membantu
12

kapiler paru,
output jantung
dan vital sign
dalam
batas
normal
Terbebas dari
kelelahan,
kecemasan
atau
kebingungan
Menjelaskan
indikator
kelebihan
cairan

retensi/kelebihan
cairan (cracles, CVP, edema, distensivena
leher, asites)
- Kaji lokasi dan luas edema
- Monitor
masukan makanan/cairan dan
hitung intake kalori
- Monitor status nutrisi
- Kolaborasi pemberian
diuretik
sesuai
interuksi
- Batasi masukan cairan
pada
keadaan
hiponatrermi
dilusi
dengan serum Na <
130 mEq/l
- Kolaborasi dokter jika
tanda cairan berlebih
muncul memburuk
Fluid Monitoring
- Tentukan
riwayat
jumlah
dan
tipe
intake cairan dan
eliminasi
- Tentukan kemungkinan
faktor resiko dari
ketidakseimbangan
cairan (hipertermia,
terapi
deuretik,
kelainan renal, gagal
jantung, diaporesis,
disfungsi hati dll)
- Monitor serum dan
elektrolit urine
- Monitor tekanan darah
orthostatik
dan

meminimalisir edema
Untuk
mempertahankan intake
dan output yang tepat
Membantu memenuhi
asupan
kebutuhan
nutrisi
Untuk
memobilisasi
cairan udem
Membantu
menyeimbangkan
masukan cairan pada
keadaan
hiponatremi
dilusi
Membantu mencapai
nilai
normal
dan
memulihkan
status
kesehatan
Membantu memenuhi
tipe intake cairan dan
eliminasi
Mencegah terjadinya
resiko
dari
ketidakseimbangan
cairan

Membantu
keseimbangan elektrolit
Membantu
mempertahankan
tekanan darah dalam
batas normal
Membantu memenuhi
intake dan output
Mencegah terjadinya
distensi leher, edema
perifer
dan
penambahan BB
Untuk
mengetahui
tanda dan gejala dari
13

perubahan
jantung

irama

edema

- Catat secara akurat


intake dan output
- Monitor adanya distensi
leher, edema perifer
dan penambahan BB

- Monitor
tanda
dan
gejala dari edema
Ketidak
NOC:
NIC:
seimbangan nutrisi
- Nutritional
Nutrition
kurang
dari
status
management-untuk menentukan diet
- Nutritional
kebutuhan tubuh
-Kolaborasi dengan ahli yang tepat
status : food gizi untuk menentukan
and
fluid jumlah kalori dan nutrisi
intake
yang dibutuhkan pasien
- Nutritional
-Membantu pasien dalam
status : nutrien -Anjurkan pasien untuk pemenuhan
kebutuhan
intake
meningkatkan protein nutrisi dan vitamin pasien
- weight control
dan vitamin C
-membantu
memenuhi
asupan kebutuhan nutrisi
Kriteria hasil:
-Berikan makanan yang yang tidak seimbang dan
- adanya
terpilih
(
sudah mempercepat
poses
peningkatan
dikonsultasikan dengan penyembuhan.
BB
sesuai
ahli gizi) dan memonitor -Membantu
pasien
dengan tujuan
jumlah
nutrisi
dan memahami
informasi
- mampunmengi
kandungan kalori
asupan kebutuhan nutrisi
dentifikasi
-Berikan
informasi yang dibutuhkan.
kebutuhan
tentang
kubutuhan -Mengontrol asupan nutrisi
nutrisi
pasien
- tidak adanya nutrisi

tanda
malnutrisi,
menunjukan
peningkatan
fungsi
pengecapan
dan menelan
tidak
terjadi

-Mencegah terjadinya BB
-Kaji
kemampuan yg berlebihan
pasien
untuk -Mencegah
penurunan
mendapatkan
nutrisi nafsu makan
yang dibutuhkan
-membantu pasien dalam
Nutrion Monitoring
menjelaskan aktifitas yang
14

penurunan BB -Bb pasien dalam batas


yang berarti
normal.
-Monitor
adanya
penurunan BB
-Monitor
tipe
dan
jumlah aktifitas yang
biasa dilakukan

bisa dilakukan.
membantu
pasien
memahami
lingkungan
disekitar
-Memonitoring pengobatan
pasien

-Penentuan jumlah kalori


-Monitor
lingkungan dan bahan makanan yang
selama makan
memenuhi standar gizi.

Ketidakefektifan
perfusi jaringan
perifer b.d
penurunan
sirkulasi darah
ke perifer

NOC
Circulation
status
Tissue
perfusion :
cerebral
Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan
status sirkulasi yang
ditandai dengan:
Tekanan
systole dan
diastole dalam
rentang yang
diharapkan
Tidak ada
ortostatik
hipertensi
Tidak ada
tanda-tanda
peningkatan
tekanan
intrakranial
(tidak lebih

-Jadwalkan pengobatan
dan
tindakan
tidak
selama jam makan
-Monitor kalori dan
intake nutrisi
NIC
- Menurunkan
ekstremitas di
bawah jantung
- Mendorong
latihan jalan
sedang atau
latihan
ekstremitas
bertahap
- Mendorong
latihan postural
aktif (latihan
Buerger-Allen)
- Meninggikan
ekstremitas di
atas jantung
- Melarang berdiri
diam atau duduk
dalam waktu
lama
- Mendorong
pasien untuk
berjalan-jalan

Ekstremitas bawah
yang tergantung
memperlancar
suplai darah arteri
Latihan otot
memperbaiki aliran
darah dan
pertumbuhan
sirkulasi kolateral
Dengan latihan
postural, pengisian
akibat gravitasi
terganggu sehingga
pembuluh darah
menjadi kosong
Peninggian
ekstremitas
melawan tarikan
gravitasi,
meningkatkan
aliran balik vena
dan mencegah
stasis vena
Berdiri diam atau
15

dari 15
mmHg)
Mendemonstrasikan
kemampuan kognitif
yang ditandai dengan :
Berkomunikas
i dengan jelas
dan sesuai
dengan
kemampuan
Menunjukkan
perhatian,
konsentrasi
dan orientasi
Memproses
informasi
Membuat
keputusan
dengan benar
Menunjukkan
fungsi sensori
motori cranial
yang utuh :
Tingkat
kesadaran
membaik,
tidak ada
gerakangerakan
involunter

Menjaga suhu
hangat dan
menghindari
suhu dingin
Melarang
merokok
Memberikan
penyuluhan cara
menghindari
gangguan emosi,
menatalaksanaka
n stres
Mendorong
menghindari
pakaian dan
asesori yang
mengikat (sabuk
pengaman yang
terlalu ketat)
Mendorong
untuk
menghindari
menyilang kaki
Mendorong
untuk
menghindari
obat vasodilator
dan penyekat
adrenergik sesuai
resep, dengan
pendekatan
keperawatan
yang sesuai

duduk lama
menyebabkan stasis
vena
Berjalan-jalan
memperbaiki aliran
balik vena dengan
mengaktivasi
pompa otot
Kehangatan
memperbaiki aliran
arteri dengan
mencegah efek
vasokonstriksi
akibat dingin
Nikotin
menyebabkan
vasospasme, yang
menghambat
sirkulasi perifer
Stres emosional
menyebabkan
vasokonstriksi
perifer dengan
menstimulasi
sistem saraf
simpatis
Baju dan asesori
yang ketat
menghambat
sirkulasi dan
menyebabkan stasis
vena
Menyilangkan kaki
menyebabkan
penekanan pada
pembuluh darah
dengan gangguan
sirkulasi yang
diakibatkannya,
menghasilkan stasis
16

vena
Vasodilator
melemaskan otot
polos,
bahan
adrenergik
menyekat respons
terhadap
impuls
saraf simpatis atau
sirkulasi
katekolamin

17

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Gagal Ginjal Kronik adalah kegagalan fungsi ginjal (unit nefron) atau penurunan faal ginjal
yang menahun dimana ginjal tidak mampu lagi mempertahankan lingkungan internalnya yang
berlangsung dari perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat yang berlangsung dalam
jangka waktu lama dan menetap sehingga mengakibatkan penumpukan sisa metabolik (toksik
uremik) berakibat ginjal tidak dapat memenuhi kebutuhan dan pemulihan fungsi lagi yang
menimbulkan respon sakit.
Pada gagal ginjal kronik hampir selalu disertai hipertensi, mekanisme terjadinya hipertensi
pada Gagal Ginjal Kronik oleh karena penimbunan garam dan air, atau sistem renin angiostensin
aldosteron (RAA). Gagal ginjal kronik dapat menyebabkan edema pulmonal, kelebihan cairan.
Pleuritis mungkin ditemukan, terutama jika pericarditis berkembang. Kondisi paru-paru uremia
dapat menyebabkan pneminia. Asidosis dapat menyebabkan kompensasi meningkatnya respirasi
sebagai usaha mengeluarkan ion hidrogen. Sehingga membuat sesak dan irama terasa cepat
Sesak nafas merupakan gejala yang sering dijumpai akibat kelebihan cairan tubuh, dapat pula
terjadi perikarditis yang disertai efusi perikardial

B. SARAN
Penulis menyarankan kepada pembaca khususnya mahasiswa keperawatan agar dapat
memahami Kasus dengan Gagal Ginjal Kronik. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan
kualitas kesehatan pada lansia di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
18

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit) Edisi 6.
Jakarta: EGC
Sudoyo, Aru W.2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I Edisi IV. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia
Warady BA, Chadha V. Chronic kidney disease in children: the global perspective. Pediatr
Nephrol 2007;22:19992009.

19