Anda di halaman 1dari 28

BAB 1.

PENDAHULUAN
Torsio testis adalah terpluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat
terjadinya gangguan aliran darah pada testis. Torsio testis merupakan suatu
keadaan funikulus spermatikus yang terpuntir sehingga mengakibatkan oklusi dan
strangulasi dari vaskularisasi yang mengarah ke testis dan epididimis, lebih lanjut
oklusi tersebut akan memicu terbentuknya berbagai macam radikal bebas. Angka
kejadian torsio testis adalah 4,5 per 100.000 laki-laki usia 1-25 tahun setiap
tahunnya.1,2
Torsio testis merupakan salah satu kegawatdaruratan yang harus segera
ditangani secara cepat yaitu kurang dari 6 jam (golden period). Jika penanganan
torsio testis lebih dari 6 jam setelah onset ,maka prognosisnya akan semakin
memburuk dan berisiko untuk 40% kemungkinan terjadinya kerusakan testis
kontralateral, kematian jaringan testis, atau bahkan infertilitas. Torsio testis juga
merupakan kegawat daruratan urologi yang paling sering terjadi pada laki-laki
dewasa muda. Penatalaksanaan torsio testis menjadi tindakan yang harus segera
dilakukan. Penatalaksanaan kegawatdaruratan torsio testis yang paling sering dan
mutlak dilakukan saat ini adalah dengan cara pembedahan dan tindakan detorsi.
Tindakan bedah menjadi hal yang penting untuk memperbaiki aliran darah yang
terhambat agar tidak terjadi iskemi dan reperfusi. Penatalaksanaan torsio testis
menjadi tindakan darurat yang harus segera dilakukan karena angka keberhasilan
serta kemungkinan testis tertolong akan menurun seiring dengan bertambahnya
lama waktu terjadinya torsio. Adapun penyebab tersering hilangnya testis setelah

mengalami torsio adalah keterlambatan dalam mencari pengobatan (58%),


kesalahan dalam diagnosis awal (29%), dan keterlambatan terapi (13%).2
Setiap tahunnya, 4,5 dari sekitar 100.000 laki-laki dengan usia kurang dari
25, terutama pada usia 13-16 tahun, memiliki potensi untuk memiliki torsio testis
Diperkirakan bahwa keadaan testis yang terpuntir hanya memiliki kurang lebih 6
jam untuk bertahan. Apabila diterapi dalam waktu kurang dari 6 jam, maka
kemungkinan keberhasilan terapi adalah 90-100%. Bila dilakukan dalam waktu 612 jam, keberhasilan terapi akan menurun menjadi 50%, dan bila dilakukan lebih
dari 12 jam maka keberhasilan terapi hanya menjadi 20%.2
Oleh karena itu torsio testis merupakan suatu keadaan emergency,
sehingga membutuhkan diagnosis dan tatalaksana yang cepat dan tepat untuk
menyelamatkan testis dan mencegah infertilitas.2

BAB 2.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Torsio testis adalah terpluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat
terjadinya gangguan aliran darah pada testis. Torsio testis merupakan adanya torsi
(puntiran) terhadap struktur korda spermatikus yang diikuti hilangnya suplai darah
ke testis ipsilateral. Keadaan ini merupakan kondisi darurat.1,3
Torsio testis merupakan keadaan terpuntirnya funikulus spermatikus
sehingga mengakibatkan terhentinya aliran darah yang mendarahi testis. Nyeri
sesisi pada skrotum dengan onset yang tiba tiba biasanya merupakan gejala yang
mengindikasikan torsio testis karena diperkirakan sekitar setengah dari angka
kejadian torsio testis diawali dengan nyeri testis.2
2.2 Anatomi
Testis normal dibungkus oleh tunika albuginea. Pada permukaan anterior
dan lateral, testis dan epididimis dikelilingi oleh tunika vaginalis yang terdiri atas
2 lapis, lapisan viseralis yang langsung menempul ke testis dan di sebelah luarnya
adalah lapisan parietalis yang menempel ke muskulus dartos pada dinding
skrotum.1
Testis terdiri dari dua organ kelenjar berbentuk oval yang mensekresikan
semen. Testis digantung oleh funikulus spermatikus dan terbungkus di dalam
skrotum. Ukuran volume normal dari testis orang dewasa kurang lebih 25 ml.
Saat awal perkembang kehidupan janin, testis terdapat di dalam rongga perut, di

belakang peritoneum. Sebelum kelahiran testis turun melewati kanalis inguinalis,


bersamaan dengan funikulus spermatikus melewati annulus inguinalis dan
menempati rongga skrotum dan dilapisi oleh lapisan serosa, muskularis, dan
fibrosa dari skrotum itu sendiri. Pembungkus testis sendiri di antaranya adalah
kulit, muskulus kremaster, tunika dartos, fascia infundibuliform, fascia intercrural,
dan tunika vaginalis.2
Arteri yang mendarahi kedua testis berasal dari anastomosis tiga arteri,
yaitu arteri testikularis yang dicabangkan dari Aorta abdominalis, arteri
deferentialis merupakan cabang dari arteri vesikularis inferior, dan arteri
cremasterica yang merupakan cabang dari arteri epegastrika inferior. Arteri
testikularis berjalan menyilangi ureter dan bagian inferior dari arteri illiaka
eksterna lalu ke dalam annulus inguinalis. Pada akhirnya menjadi satu
kompartmen dengan cabang arteri yang lain dalam funikulus spermatikus.
Sedangkan aliran vena yang membawa darah dari testis berasal dari formasi
beberapa vena yang disebut pleksus venosus pampiniformis dan mengelilingi
arteri testikularis di funikulus spermatikus. Drainase limfe yang berasal dari testis
mengikuti aliran arteri dan vena testikularis menuju ke nodus limfatikus aorta
kanan dan kiri serta para aorta.2
Innervasi dari testis berupa anyaman saraf yang berjalan bersama arteri
testikularis. Sistem saraf tersebut berupa sistem saraf otonom yang terdiri dari
sistem saraf parasimpatis, berasal dari nervus dan sistem saraf simpatis yang
berasal dari segmen T7 medulla spinalis.2

Testis memiliki dua fungsi penting yakni fungsi steroidogenesis dan


spermatogenesis.

Steroidogenesis

adalah

proses

pembentukan

hormon

testosterone yang terjadi di kompartmen intersisial testis. Hormon ini disintesis


dari kolesterol di sel-sel Leydig dan dan korteks adrenal. Sekresi testosteron
berada di bawah control LH. Sedangkan spermatogenesis terjadi di kompartmen
tubular testis. Dimana pada kompartmen ini terdapat Sel Leydig dan Sertoli yang
ikut berperan dalam proses pematangan spermatozoa. Secara umum volume dari
testis dipengaruhi oleh kompartmen tubular dan interstitial.2

Gambar 2.1 Anatomi testis.

Pada masa janin dan neonatus, lapisan parietal yang menempel pada
muskulus dartos masih belum banyak jaringan penyanggahnya sehingga testis,
epididimis, dan tunika vaginalis mudah sekali bergerak dan memungkinkan untuk
terpluntir pada sumbu funikulus spermatikus. Terpluntirnya testis pada keadaan ini
disebut torsio testis ekstravaginal.1

Terjadinya torsio testis pada masa remaja banyak dikaitkan dengan


kelainan sistem penyanggah testis. Tunika vaginalis yang seharusnya mengelilingi
sebagian dari testis pada permukaan anterior dan lateral testis, pada kelainan ini
tunika mengelilingi seluruh permukaan testis sehingga mencegah insersi
epididimis ke dinding skrotum. Keadaan ini menyebabkan testis dan epididimis
dengan mudahnya bergerak di kantung tunika vaginalis dan menggantung pada
funikulus spermatikus. Kelainan ini dikenal sebagai anomaly bell-clapper.
Keadaan ini juga memudahkan testis mengalami torsio intravaginal.1
2.3 Epidemiologi
Keadaan ini diderita oleh 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang dari
25 tahun, dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun).
Disamping itu tidak jarang janin yang masih berada di dalam uterus atau bayi baru
lahir menderita torsio testis yang tidak terdiagnosis sehingga mengakibatkan
kehilangan testis baik unilateral ataupun bilateral.1,3
Torsio testis extravaginal merupakan sekitar 5% dari semua torsio. Dari
kasus ini dari torsi testis, 70% terjadi sebelum lahir dan 30% terjadi postnatal.
Kondisi ini terkait dengan berat badan lahir yang tinggi. Torsio testis extravaginal
bilateral jarang terjadi. Torsio testis intravaginal merupakan sekitar 16% dari
kasus pada pasien ke gawat darurat dengan skrotum akut. Bentuk torsio testis ini
yang paling sering diamati pada laki-laki yang lebih muda dari 30 tahun, dengan
sebagian besar berusia 12-18 tahun. Puncak kejadian terjadi pada usia 13-14
tahun. Testis sebelah kiri lebih sering terlibat. Kasus bilateral terjadi sebanyak 2%
dari semua torsio.5

2.4 Etiologi
Kebanyakan torsio testis terjadi tanpa adanya kejadian pemicu. Hanya 48% kejadian yang disebabkan oleh trauma. Faktor predisposisi lain adalah
peningkatan volume testis (terkait dengan masa pubertas), tumor testis, testis yang
posisinya mendatar, atau riwayat kriptorkidismus.3,6
Penyebab dari keadaan torsio adalah tidak adekuatnya fiksasi dari testis
dan epididimitis ke skrotum atau dikenal dengan istilah bell clapper deformity.
Bell clapper deformity adalah satu-satunya kelainan anatomi yang menjadi faktor
risiko kejadian torsio testis. Namun, belum diketahui secara pasti apakah keadaan
ini berkaitan dengan kelainan perkembangan embrional dari skrotum, funikulus
spermatikus, dan testis atau berkaitan mesorchium yang panjang atau
kriptokismus testis. Kontraksi otot kremaster yang berlebihan juga dapat
menyebabkan

testis

dapat

mengalami

torsio.

Keadaan-keadaan

yang

menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu antara lain adalah perubahan suhu
yang mendadak atau trauma yang mengenai skrotum.2,6
Selain berkaitan dengan kelainan anatomi, dalam beberapa penelitian
terkini menyebutkan bahwa faktor keturunan juga diperkirakan memiliki
pengaruh sebesar 11.4% terhadap risiko terjadinya torsio testis. Faktor hormonal
INSL3 dan reseptor RXLF2 telah diduga menjadi gen penyebab munculnya
keadaan torsio testis. Keberadaan hormon dan reseptor ini menyebabkan atrofi
testis yang berisiko tinggi terjadinya torsio testis secara tiba-tiba.2

2.5 Patogenesis
Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati
dan menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis.
Adanya kelainan pada sistem penyanggah testis menyebabkan testis dapat
mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang
menyebabkan pergerakan yang berlebihan itu, antara lain adalah perubahan suhu
yang mendadak (seperti pada saat berenang), ketakutan, latihan yang berlebihan,
batuk, celana yang terlalu ketat, defekasi, atau trauma yang mengenai skrotum.1
Terpluntirnya funikulus spermatikus menyebabkan obstruksi aliran darah
testis sehingga testis mengalami hipoksia, edema testis, dan iskemia. Pada
akhirnya testis akan mengalami nekrosis. Torsio dapat menyumbat aliran darah
vena. Sumbatan aliran balik vena akan meningkatkan tekanan sehingga liran darah
masuk melalui arteri juga dihambat. Akibatnya, testis dapat mengalami iskemia
yang prosesnya mulai berlangsung jika torsio terjadi lebih dari 4 jam. Derajat
iskemia bergantung pada lama berlangsungnya torsio dan derajat putaran korda
spermatikus (berkisar antara 180-720).1,3
Torsio testis terjadi pada anak dengan insersi tunika vaginalis tinggi di
funikulus spermatikus sehingga funikulus dengan testis dapat terpuntir di dalam
tunika vaginalis. Akibat puntiran tangkai, terjadi gangguan perdarahan testis mulai
dari bendungan vena sampai iskemia yang menyebabkan gangren. Keadaan
insersi tinggi tunika vaginalis di funikulus biasanya gambarkan sebagai lonceng
dengan bandul yang memutar dan mengalami nekrosis dan gangren.4

Kadang torsio dicetuskan oleh cedera olahraga. Biasanya nyeri testis hebat
timbul tiba-tiba yang sering disertai nyeri perut dalam serta mual dan muntah.
Nyeri perut selalu ada karena berdasarkan perdarahan dan persarafannya, testis
tetap merupakan organ perut. Pada permulaan testis teraba agak bengkak dengan
nyeri dan terletak agak tinggi di skrotum dengan funikulus yang juga bengkak.
Akhirnya, kulit skrotum tampak udem dan menjadi merah sehingga menyulitkan
palpasi, dan kelainan ini sukar dibedakan dengan epididimitis akut.4

Gambar 2.2 Testis normal dan torsio testis.

Mekanisme Ischemia-Reperfusion (I-R)injury


Ischemia-Reperfusion Injury (I-R) pada torsio testis menyebabkan
disfungsi seluler dengan menginisiasi terjadinya apoptosis dan nekrosis jaringan
testis ditandai dengan serbukan sel radang. Reperfusi injuri adalah respon
restorasi aliran darah setelah terjadi iskemi. Namun, dengan adanya respon ini

justru meningkatkan produksi dari zat-zat toxic pada sirkulasi darah di jaringan
testis.2
Kerusakan yang terjadi di jaringan testis juga turut memicu peningkatan
produksi dari radikal bebas salah satunya reactive oxygen species (ROS).
Peningkatan ROS terjadinya karena adanya kerusakan pada endotel. Keberadaan
ROS yang tinggi tidak diimbangi dengan sistem pertahanan enzimatik tubuh
sehingga akan memicu proses induksi kematian sel dan jaringan testis.2
Telah dikenal beberapa obat-obatan untuk memperbaiki keadaan ischaemi
reperfusion injury (I-R) Obat-obatan seperti Calcium Channel Blocker, verapamil,
menjegah terjadinya injuri pada torsio testis unilateral. Jenis obat lain seperti
capsaicin secara efektif untuk mencegah apoptosis pada torsio testis unilateral
maupun pada testis kontralateral.2
Pengaruh Torsio Testis terhadap Testis Kontralateral
Pada keadaan torsio testis unilateral, testis kontralateral juga dalam
keadaan bahaya. Keadaan torsio yang lama atau lebih dari 4 jam dengan torsi 720
dapat mengakibatkan kerusakan jaringan di kedua testis atau dapat mempengaruhi
testis kontralateral. Kerusakan jaringan testis kontralateral diakibatkan oleh
penurunan aliran darah dan hipoksia jaringan testis akibat torsio testis yang terjadi
unilateral. Selain akibat penurunan aliran darah, penyebab lain yang
mempengaruhi testis kontralateral adalah tindakan detorsi testis unilateral.
Disgenesis kongenital dapat memicu reaksi serupa terhadap testis kontralateral
ditunjukkan dengan penemuan histopatologi dimana ditemukan peningkatan

10

apoptosis pada testis kontralateral. Proses autoantibodi testis juga terdeteksi pada
testis kontralateral.2

Gambar 2.3 Bell-clapper testicle.

2.6 Gambaran klinis dan diagnosis


Pasien mengeluh nyeri hebat di daerah skrotum, yang sifatnya mendadak
dan diikuti pembengkakan pada testis. Keadaan itu dikenal sebagai akut skrotum.
Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah sehingga jika
tidak diwaspadai sering dikacaukan dengan apendiksitis akut. Pada bayi gejalanya
tidak khas yakni gelisah, rewel, dan tidak mau menyusui. Pada pemeriksaan fisik,
testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi
kontralateral. Kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi, dapat
diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus. Keadaan ini biasanya
tidak disertai dengan demam.1

11

Pemeriksaan sedimen urine tidak menunjukkan adanya leukosit dalam


urine dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan tanda inflamasi, kecuali pada
torsio testis yang sudah lama dan telah mengalami peradangan steril. Pemeriksaan
penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis dengan keadaan akut
skrotum yang lain adalah dengan memakai stetoskop Doppler, USG Doppler, dan
sintigrafi testis yang kesemuanya bertujuan menilai aliran darah ke testis. Pada
torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis, sedangkan pada
peradangan akut testis, terjadi peningkatan aliran darah ke testis.1

Gambar 2.4 Korda spermatika yang terpluntir.

Diagnosis torsio testis perlu dilakukan secara cepat dan tepat. Penundaan
diagnosis dapat menyebabkan kerusakan fungsi testis, sementara diagnosis
berlebihan dapat menyebabkan pasien menjalani tata laksana yang tidak
diperlukan.3
a. Anamnesis: nyeri skrotum ipsilateral akut.
b. Pemeriksaan fisik:

12

Testis yang mengalami torsio dapat tampak lebih tinggi


dibandingkan testis kontralateral akibat adanya perputaran pada

korda spermatikus.
Testis tampak lebih besar.
Refleks kremaster berkurang atau hilang. Refleks kremaster dipicu
dengan menggores atau mencubit bagian medial paha, yang
menyebabkan kontraksi otot kremaster dan mengangkat testis.

Refleks kremaster positif jika testis terangkat minimal 0,5 cm.


Prehns sign dilakukan dengan cara mengangkat testis. Pada torsio,

rasa nyeri semakin bertambah jika testis diangkat.


c. Pemeriksaan penunjang:
Ultrasonografi (USG) Doppler dapat membedakan kondisi iskemia
dan inflamasi. Pada kondisi iskemia seperti torsio testis, aliran
darah berkurang atau menghilang. Sedangkan pada kondisi

inflamasi, aliran darah meningkat.


Eksplorasi bedah.

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Sesuai torsio dan 6 jam:


eksplorasi bedah segera.

Diagnosis masih meragukan


atau nyeri 6 jam: USG
Doopler

Aliran darah normal/ meningkat


pada testis yang dikeluhkan

Aliran darah absen/ turun pada


testis yang dikeluhkan

Inflamasi (orkitis) atau


torsio apendiks testis.

Torsio Testis

Tidak perlu tes lebih lanjut

Bedah Segera
13

Gambar 2.5 Alur pendekatan klinis nyeri skrotum.

2.7 Diagnosis banding


Diagnosis banding torsio testis yaitu:1
1. Epididimitis akut. Penyakit ini secara klinis sulit dibedakan dengan torsio
testis. Nyeri skrotum akut biasanya disertai dengan kenaikan suhu tubuh,
keluarnya nanah dari uretra, ada riwayat coitus suspectus (dugaan
melakukan senggama dengan bukan istrinya), atau pernah menjalani
kateterisasi uretra sebelumnya. Jika dilakukan elevasi (pengangkatan)
testis, pada epididimis akut terkadang nyeri akan berkurang sedangkan
pada torsio testis tetap ada (tanda dari Prehn). Pasien epididimitis akut
biasanya lebih dari 20 tahun dan pada pemeriksaan sedimen urine
didapatkan adanya leukosituria atau bakteriuria

14

2. Hernia skrotalis inkarserata, yang biasanya didahului dengan anamnesis


didapatkan berjolan yang dapat keluar dan masuk ke dalam skrotum.
3. Hidrokel terinfeksi, dengan anamnesis sebelumnya sudah ada benjolan di
dalam skrotum.
4. Tumor testis. Benjolan tidak dirasakan nyeri kecuali terjadi perdarahan di
dalam testis.
5. Edema skrotum yang dapat disebabkan oleh hipoproteinemia, filariasis,
adanya pembuntuan saluran limfe inguinal, kelainan jantung, atau
kelainan-kelainan yang tidak diketahui sebabnya.
Menurut sumber lain juga disebutkan bahwa diagnosis banding torsio
testis adalah semua keadaan darurat dan akut di dalam skrotum seperti hernia
inkarserata, orkitis akut, epididimitis akut, dan torsio hidatid morgani. Gejala dan
tanda torsio hidatid morgana tidak begitu hebat dan dominan dibandingkan torsio
testis. Untuk menegakkan diagnosis, kadang dibutuhkan operasi walaupun torsio
Morgagni sebenarnya tidak perlu dibedah.4
Sumber yang lain juga menyebutkan diagnosis banding torsio testis dapat
juga trauma testis, hernia inkarserata, varikokel, edema skrotum idiopatik, dan
torsio apendiks testis (apendiks testis adalah sisa duktus Mullerian). Diagnosis
banding pada anak-anak adalah torsio apendiks testis, yang dapat dibedakan
dengan adanya tanda titik biru (blue dot sign), yaitu nodul lembek berwarna
biru pada ujung atas testis.3

15

Gambar 2.6 Testis yang mengalami nekrosis.

Tabel 2.1 Diagnosis banding akut skrotum menurut JAMA.

Gambar 2.7 Testis yang terpluntir.

16

Gambar 2.8 Blue dot sign.

Gambar 2.9 A Testis normal (panah merah) B Torsio testis ekogenisitas menurun,edema

17

Tabel 2.2 Diagnosis banding nyeri skrotum akut.7

18

Gambar 2.10 Reflek Kremaster

Gambar 2.11 Klasifikasi torsio testis.

Pada awal proses, belum ditemukan pembengkakan pada scrotum. Testis


yang infark dapat menyebabkan perubahan pada scrotum. Scrotum akan sangat
nyeri kemerahan dan bengkak. Pasien sering mengalami kesulitan untuk
menemukan posisi yang nyaman. Selain nyeri pada sisi testis yang mengalami
torsio, dapat juga ditemukan nyeri alih di daerah inguinal atau abdominal. Jika
testis yang mengalami torsio merupakan undesendensus testis, maka gejala yang
yang timbul menyerupai hernia strangulata.8,9

19

Dalam phisical examination, Testis yang mengalami torsio letaknya lebih


tinggi dan lebih horizontal daripada testis sisi kontralateral. Kadang-kadang pada
torsio testis yang baru terjadi, dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus
spermatikus. Keadaan ini biasanya tidak disertai dengan demam.9
Testis kanan dan testis kiri seharusnya sama besar. Pembesaran asimetris,
terutama jika terjadi secara akut, menandakan kemungkinan adanya keadaan
patologis di satu testis. Perubahan warna kulit scrotum, juga dapat menandakan
adanya suatu masalah. Hal terakhir yang perlu diwaspadai yaitu adanya nyeri atau
perasaan tidak nyaman pada testis. Reflex cremaster secara umum hilang pada
torsio testis. Tidak adanya reflex kremaster, 100% sensitif dan 66% spesifik pada
torsio testis. Pada beberapa anak laki-laki, reflex kremaster dapat menurun atau
tidak ada sejak awal, dan reflex kremaster masih dapat ditemukan pada kasuskasus torsio testis, oleh karena itu, ada atau tidak adanya reflex kremaster tidak
bisa digunakan sebagai satu-satunya acuan mendiagnosis atau menyingkirkan
diagnosis torsio testis.8
Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk membedakan torsio testis
dengan keadaan akut scrotum yang lain adalah dengan menggunakan stetoskop
Doppler, ultrasonografi Doppler, dan sintigrafi testis, yang kesemuanya bertujuan
untuk menilai aliran darah ke testis. Sayangnya, stetoskop Doppler dan
ultrasonografi konvensional tidak terlalu bermanfaat dalam menilai aliran darah
ke testis. Penilaian aliran darah testis secara nuklir dapat membantu, tetapi
membutuhkan waktu yang lama sehingga kasus bisa terlambat ditangani.
Ultrasonografi Doppler berwarna merupakan pemeriksaan noninvasif yang

20

keakuratannya kurang lebih sebanding dengan pemeriksaan nuclear scanning.


Ultrasonografi Doppler berwarna dapat menilai aliran darah, dan dapat
membedakan aliran darah intratestikular dan aliran darah dinding scrotum. Alat ini
juga dapat digunakan untuk memeriksa kondisi patologis lain pada skrotum.8,9
Pemeriksaan sedimen urin tidak menunjukkan adanya leukosit dalam urin,
dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan adanya inflamasi kecuali pada torsio
yang sudah lama dan mengalami keradangan steril.9
Terdapat 2 jenis torsio testis berdasarkan patofisiologinya yaitu intravagina
dan ekstravagina torsio. Torsio intravagina terjadi di dalam tunika vaginalis dan
disebabkan oleh karena abnormalitas dari tunika pada spermatic cord di dalam
scrotum. Secara normal, fiksasi posterior dari epididymis dan investment yang
tidak komplet dari epididymis dan testis posterior oleh tunika vaginalis
memfiksasi testis pada sisi posterior dari scrotum. Kegagalan fiksasi yang tepat
dari tunika ini menimbulkan gambaran bentuk deformitas bell-clapper , dan
keadaan ini menyebabkan testis mengalami rotasi pada cord sehingga potensial
terjadi torsio. Torsio ini lebih sering terjadi pada usia remaja dan dewasa muda.
Ekstravagina torsio terjadi bila seluruh testis dan tunika terpuntir pada axis
vertical sebagai akibat dari fiksasi yang tidak komplet atau non fiksasi dari
gubernakulum terhadap dinding scrotum, sehingga menyebabkan rotasi yang
bebas di dalam scrotum. Kelainan ini sering terjadi pada neonatus dan pada
kondisi undesensus testis.8,9

21

2.8 Penatalaksanaan
Terapi yang dapat dilakukan antara lain:1,10
1. Detorsi manual
Detorsi manual adalah mengembalikan posisi testis ke asalnya, yaitu
dengan jalan memutar testis kearah yang berlawanan dengan arah torsio. Karena
arah torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk memutar testis ke arah
lateral terlebih dahulu, kemudian jika tidak terjadi perubahan, dicoba detorsi ke
arah medial. Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa detorsi telah
berhasil. Jika detorsi berhasil operasi harus tetap dilaksanakan.
Metode tersebut dikenal dengan metode open book (untuk testis kanan),
Karena gerakannya seperti membuka buku. Bila berhasil, nyeri yang dirasakan
dapat menghilang pada kebanyakan pasien. Detorsi manual merupakan cara
terbaik untuk memperpanjang waktu menunggu tindakan pembedahan, tetapi
tidak dapat menghindarkan dari prosedur pembedahan
Dalam pelaksanaannya, detorsi manual sulit dan jarang dilakukan. Di unit
gawat darurat, pada anak dengan scrotum yang bengkak dan nyeri, tindakan ini
sulit dilakukan tanpa anestesi. Selain itu, testis mungkin tidak sepenuhnya
terdetorsi atau dapat kembali menjadi torsio tak lama setelah pasien pulang dari
RS. Sebagai tambahan, mengetahui ke arah mana testis mengalami torsio adalah
hampir tidak mungkin, yang menyebabkan tindakan detorsi manual akan
memperburuk derajat torsio.

22

Gambar 2.12 Detorsi manual.

2. Operasi
Tindakan operasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan posisi testis pada
arah yang benar (reposisi) dan setelah itu dilakukan penilaian viabilitas testis yang
mengalami torsio, mungkin masih viable (hidup) atau sudah mengalami nekrosis.
Jika testis masih hidup, dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos
kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral.
Orkidopeksi dilakukan dengan mempergunakan benang yang tidak diserap
di 3 tempat untuk mencegah agar testis tidak terpluntir kembali, sedangkan pada
testis

yang

sudah

mengalami

nekrosis

dilakukan

pengangkatan

testis

(orkidektomi) dan kemudian disusul orkidopeksi pada testis kontralateral. Testis


yang telah mengalami nekrosis jika tetap dibiarkan dalam skrotum akan
merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga mengurangi kemampuan
fertilitas di kemudian hari.
Torsio testis merupakan kasus emergensi, harus dilakukan segala upaya
untuk mempercepat proses pembedahan. Hasil pembedahan tergantung dari
lamanya iskemia, oleh karena itu, waktu sangat penting. Biasanya waktu terbuang

23

untuk pemeriksaan pencitraan, laboratorium, atau prosedur diagnostik lain yang


mengakibatkan testis tak dapat dipertahankan.
Tujuan dilakukannya eksplorasi yaitu
a. Untuk memastikan diagnosis torsio testis
b. Melakukan detorsi testis yang torsio
c. Memeriksa apakah testis masih viable
d. Membuang (jika testis sudah nonviable) atau memfiksasi jika testis masih
viable
e. Memfiksasi testis kontralateral.
Perbedaan pendapat mengenai tindakan eksplorasi antara lain disebabkan
oleh kecilnya kemungkinan testis masih viable jika torsio sudah berlangsung lama
(>24-48 jam). Sebagian ahli masih mempertahankan pendapatnya untuk tetap
melakukan eksplorasi dengan alasan medikolegal, yaitu eksplorasi dibutuhkan
untuk membuktikan diagnosis, untuk menyelamatkan testis (jika masih mungkin),
dan untuk melakukan orkidopeksi pada testis kontralateral. Saat pembedahan,
dilakukan juga tindakan preventif pada testis kontralateral. Hal ini dilakukan
karena testis kontralateral memiliki kemungkinan torsio di lain waktu.
Jika testis masih viable, dilakukan orkidopeksi (fiksasi testis) pada tunika
dartos kemudian disusul pada testis kontralateral. Orkidopeksi dilakukan dengan
menggunakan benang yang tidak diserap pada tiga tempat untuk mencegah agar
testis tidak terpuntir kembali. Sedangkan pada testis yang sudah mengalami
nekrosis, dilakukan pengangkatan testis (orkidektomi) dan kemudian disusul
orkidopeksi kontralateral. Testis yang telah mengalami nekrosis jika tetap berada

24

di scrotum dapat merangsang terbentuknya antibodi antisperma sehingga


mengurangi kemampuan fertilitas di kemudian hari.

Gambar 2.13 Orkidopeksi.

Saat pembedahan, dilakukan juga tindakan preventif pada testis


kontralateral. Hal ini dilakukan karena testis kontralaeral memiliki kemungkinan
torsio di lain waktu.

25

Gambar 2.14 Orkidektomi.

2.9 Komplikasi dan prognosis


Komplikasi yang dapat terjadi seperti hilangnya fungsi testis dan
infertilitas. Terdapat banyak kemungkinan yang dapat terjadi akibat komplikasi
dari torsio testis. Komplikasi tersebut dapat berupa kematian jaringan testis,
infeksi, gangguan fertilitas, dan gangguan kosmetik.2,3
Fungsi dari sistem eksokrin dan endokrin juga mengalami penurunan
sebagai akibat dari torsio testis. Penurunan fungsi ini diukur dari adanya
abnormalitas analisa semen yang dapat dipicu oleh karena adanya injuri yang
berulang, keadaan patologi yang terjadi di funikulus spermatikus karena torsio
testis, atau dapat juga karena perubahan patologi di kontralteral testis akibat
retensi dari testis yang mengalami torsio.2
Gangguan fertilitas sebagai akibat dari komplikasi selain diakibatkan oleh
karena kematian sel dan jaringan testis juga diduga dikarenakan oleh mekanisme
autoimun yang menyerang tubulus seminiferous. Manifestasi dari proses ini akan
menurunkan fertilitas dari testis.2

26

Bila dilakukan penangan sebelum 6 jam hasilnya baik, 8 jam


memungkinkan pulih kembali, 12 jam meragukan, 24 jam dilakukan orkidektomi.
Viabilitas testis sangat berkurang bila dioperasi setelah 6 jam.

DAFTAR PUSTAKA
27

1. Purnomo, BB, 2011, Dasar-dasar Urologi, Edisi 3, CV Sagung Seto, Jakarta.


2. Cahya, BI 2015, Perbedaan derajat inflamasi pada tindakan torsi-detorsi testis
tikus Sprague Dawley dengan pemberian Phosphodiesterase type 5
inhibitors, Dokumen Universitas Diponegoro, diakses 19 Mei 2016,
http://eprints.undip.ac.id/46688/3/Bagus_Indra_Cahya_22010111120032_la
p.kti_bab2.pdf.
3. Tanto, C 2014, Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Edisi 4, Media Aesculapius,
Jakarta.
4. Sjamsuhidajat, R, de Jong, W 2011, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.
5. Ogunyemi, O, Kim, ED 2015, Testicular Torsion, Medscape Document, diakses
4 Juni 2016, http://emedicine.medscape.com/article/2036003-overview#a7.
6. Daryanto, B, et al 2010, Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Urologi RSU
dr.Saiful Anwar Malang, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Malang, diakses 4 Juni 2016, http://urologimalang.com/?wpfb_dl=18.
7. Minevich E, McQuiston LT 2010, Division of Pediatric Urology, University of
Cincinnati,
diakses
4
Juni
2016,
http://emedicine.medscape.com/article/438817-overview.
8. Scott, R, Deane, R, Fletcher 1975. Urology Ilustrated, Churchill Livingstone,
London.
9. Urologi Care Foundation, 2016, American Urological Association, diakses 4
Juni 2016, http://www.urologyhealth.org/about/.
10. Govindarajan, KK 2015, Pediatric Testicular Torsion, Jawaharlal Institute of
Postgraduate Medical Education and Research, diakses 4 Juni 2016,
http://emedicine.medscape.com/article/2035074-overview.

28