Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN HASIL DISKUSI

BLOK GENETIKA DAN TUMBUH KEMBANG


Skenario 3

Tutor

: dr. Prima Maharani Putri, M.H.


Kelompok 4

Ketua

: Ade Guvinda Perdana

1413010035

Sekretaris

: Arumita Puspa Hapsari

1413010038

Anggota:
Yuanita Hasna Rahmadhani

1413010009

Hudaya Taufiq

1413010017

Nur Husnina Desi

1413010020

Githa Septaliani Suryana Putri

1413010026

Arsya Firdaus

1413010032

Desi Dwi Nurchasanah

1413010041

Anindya Ryan Pramudya

1413010043

Sony Andik Pratama

1413010045

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2015

DAFTAR ISI
BAB I KLARIFIKASI ISTILAH..................................................................................
BAB II IDENTIFIKASI MASALAH...........................................................................
BAB III ANALISIS MASALAH..................................................................................
BAB IV SKEMA...........................................................................................................
BAB V LEARNING OBJECTIVE...............................................................................
BAB VI PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE.................................................
Kesimpulan..................................................................................................................
Saran............................................................................................................................
Daftar Pustaka..............................................................................................................

BAB I
KLARIFIKASI ISTILAH

1.1.

Anak
Menurut Gandana (2012) anak adalah buah hati orang tua yang tak ternilai

harganya, senyuman, celoteh, tawa dan tangisnya adalah ungkapan yang


senantiasa melekat di hati ayah dan bundanya. Adapun menurut Gunarsa &
Gunarsa (2008) anak merupakan periode pekembangan dengan rentang waktu
dari masa bayi hingga usia 11 atau 12 tahun.
1.2.

Menangis
Behrman et al. (2012) menyatakan bahwa menangis pada bayi merupakan

aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan perhatian yang lebih. Adapun


menurut Hasan (2008) menangis merupakan terapi kesehatan yang sangat berguna
dan bermanfaaat. Beberapa hasil kajian dan penelitian menunjukkan bahwa
menangis sangat berguna bagi kesehatan jiwa dan emosi kita, dimana air mata
mengambil peranan penting dan signifikan dalam meringankan ketegangan jiwa
yang mungkin disebabkan oleh komplikasi berbagai penyakit.
1.3. Berjalan
Dorland (2012) menyatakan bahwa berjalan merupakan pergerakan dengan
dua kaki. Adapun menurut Hartman (2006) berjalan kaki adalah salah satu
kegiatan fisik yang paling mudah dan murah untuk dilakukan
1.4. Jinjit
Jalan jinjit merupakan kondisi berjalan dengan menggunakan ujung kaki di
bagian jari (Morton, 2005).
1.5.

BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH

1. Apa yang menyebabkan Ani sangat cuek?


2. Mengapa ketika berusia 2 tahun ani baru bias mengatakan maem dan
3.
4.
5.
6.
7.

mama?
Bagaimana tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak?
Faktor apa saja yang mempengaruhi tumbuh kembang anak?
Mengapa ketika berjalan Ani berjinjit?
Apa saja gangguan atau kelainan tumbuh kembang anak?

BAB III
ANALISIS MASALAH

3.1.

Sikap acuh dari Ani dimungkinkan karena disebabkan adanya

gangguan perkembangan yang komplek pada otot baik dari kondisi struktural
yang tidak lengkap atau dikarenakan sebagian sel yang tidak berkembang
sempurna. Faktor-faktor terjadinya hal ini, antara lain :
1. Genetika
2. Infeksi virus atau jamur
3. Malnutrisi dan oksigen
4. Obat-obatan serta polusi udara, air, makanan
5. Gangguan pada saat sejak janin dalam kandungan (pembentukkan organorgan ( organogenesis))
Gangguan ini mengakibatkan neuroanatomik pada bagian-bagian otak :
a. Lobus Parietais
Biasanya terjadi pada anak-anak autis
Tidak peduli dengan lingkungan sekitar.
b. Cerebellum (otak kecil)
-

Lobus VI dan lobus VII : menimbulkan proses sensoris, daya ingat


berfikir, berbahasa dan perhatian

c. Sistem Limbik
Terdapat Hipokampus dan Amigdala
o Hipokampus

: gangguan fungsi terhadap agresi dan emosi serta

fungsi belajar dan daya ingat yang kemudian mengakibatkan sikap aneh,
hiperaktif, kesehatan menyimpang.
o Amigdala

: berkenaan dengan sikap kaget, takut, panik dan

menyimpan memori.
5

( Yoder, 2004)

3.2.

Keterlambatan bicara sering terjadi karena adanya retardasi mental,


gangguan pendengaran, depresi sosial, autisme dan abnormalitas oral-motor.
Jika masalahnya diidentifikasi pada pemeriksaan skrining dengan Denver II
atau pemeriksaan skrining standar lainnya (Eary Language Milistone Scale)
maka perlu segera dirujuk ke pusat pendengaran dan wicara.
Gangguan wicara meliputi artikulasi, kefasihan dan kelainan resonansi.
a. Gangguan artikulasi
Adalah kesulitan memproduksi suara dalam suku kata atau
mengucapkan kata dengan tidak tepat sehingga orang lian tidak dapat
mengerti apa yang diucapkannya.
b. Gangguan Kefasihan
Meliputi masalah-masalah seperti gagap, suatu kondisi dimana aliran
bicara

terganggu

oleh

penghentian

yang

abnormal.

Repetisi

(pengulangan, ga ga ga gagap), atau pengulangan suara dan suku kata


(gggggggaaagap).
c. Kelainan resonansi
Kelainan suara atau resonansi meliputi masalah dengan nada, volume,
atau kualitas suara anak yang mengganggu pendengar untuk
mendengarkan apa yang diucapkan.
Gangguan bahasa dapat bersifat reseptif maupun ekspresif. Kelainan
ekspresif meliputi kesulitan menempatkan kata-kata, perbedaharaan kata, atau
ketidakmampuan untuk menggunakan bahasa yang sesuai.
Untuk terapi wicara bahasa diperlukan spesialisasi wicara bahasa yang
bekerja dengan anak, baik dalam bentuk privat satu anak satu terapis.
Intervensi bahasa dilakukan berinteraksi dengan anak dengan cara bermain
dan berbicara pada anak. Terapis dapat menggunakan gambar, buku, obyek
atau kejadian yang berlangsung untuk menstimulasi perkembangan bahasa.
6

Terapis juga dapat memberi contoh pengucapan dan latihan pengulangan kata
untuk membangun kemampuan bicara dan bahasa. Untuk memperbaiki
artikulasi terpis perlu mengoreksi suara dan suku kta yang diucapkan oleh
anak, seringkali dilakukan sambil bermain. (Nelson, 2011)
3.3.

Tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak meliputi:


a. Perkembangan kognitif
Perkembangan kognitif berhubungan dengan perkembangan
cara anak untuk mencari alasan (berpikir), membentuk bahasa,
memecahkan masalah, dan menambah pengetahuan. Belajar adalah
proses pengalaman yang berpengaruh terhadap kemampuan
perkembangan

anak.

Anak

belajar

melalui

pengulangan,meniru,asosiasi,dan observasi.
b. Perkembangan adaptif
Perilaku adaptif adalah kemampuan manusia untuk bereaksi dan
belajar dari pengalaman untuk menciptakan aktivitas baru.
Perkembangan adaptif merupakan inteligensi nonverbal yang dapat
diukur. Perilaku adaptif sosial adalah kemampuan seseorang untuk
mandiri,menyesuaikan diri, dan mempunyai tanggungjawab sosial
yang sesuai dengan kelompok umur dan budayanya.
c. Perkembangan personal sosial
Aspek personal menyangkut kepribadian, konsep bahwa dirinya
terpisah dari orang lain, perkembangan emosi,individualitas,
percaya diri dan kritik diri sendiri. Sedangkan aspek sosial
menyangkut hubungan dengan orang sekitarnya, yang dimulai
dengan ibunya dan kemudian dengan orang lain yang ada disekitar
anak, sehingga anak mampu menyesuaikan diri dan mempunyai
tanggungjawab sosial sesuai dengan umur dan budayanya.
Perkembangan sosial-emosional dipengaruhi oleh temperamen
anak dan kelekatan (attachment). Temperamen adalah kualitas dan
derajat atau intensitas reaksi emosional yang dipengaruhi oleh
passivity,irritability dan activity)
d. Perkembangan gerakan motorik kasar
Aspek ini berhubunfan dengan pergerakan dan sikap tubuh, serta
melibatkan otot-otot besar. Arah perkembangan motorik adalah
7

sefalokaudal dan proksimodistal, serta dari umum ke spesifik, atau


dari kemampuan gerakan motorik kasar ke motorik halus.
e. Perkembangan gerakan motorik halus
Aspek ini berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian
tubuh tertentu saja, dengan bantuan otot-otot kecil serta
memerlukan koordinasi yang cermat dari mata,tangan,dan jari.
f. Perkembangan bahasa
Perkembangan bahasa adalah kemampuan untuk memberikan
respons terhadap suara,mengikuti perintah, dan berbicara spontan.
Komunikasi tidak hanya berbicara, tetapi juga perilaku nonverbal
seperti mimik wajah dan sikap tubuh. Komunikasi sudah dimulai
sejak lahir. Bayi akan berusaha mengenal suara ibunya

untuk

membedakan dengan suara wanita lain.


Perkembangan bahasa meliputi komprehensi,ekspresi,simbolik
dan non-verbal.
(Soetjiningsih,2013)
3.4.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak


adalah:
a. Faktor genetik
Melalui instruksi genetik yang terkandung di dalam sel telur yang
telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan.
Pertumbuhan ditandai oleh intensitas dan kecepatan pembelahan,
derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas, dan
berhentinya pertumbuhan tulang. Yang termasuk faktor genetik antara
lain adalah berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, jenis
kelamin, suku bangsa atau bangsa.
b. Faktor lingkungan
Lingkungan yang baik akan memungkinkan tercapainya potensi
genetik,

sedangkan

yang

tidak

baik

akan

menghambatnya.

Lingkungan ini merupakan lingkungan biofisikopsikososial yang


memengaruhi individu setiap hari.

Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :


1) Faktor lingkungan pranatal
2) Faktor lingkungan perinatal
3) Faktor lingkungan pascanatal
1. Faktor biologis
a. Ras atau suku bangsa
Pertumbuhan somatik dipengaruhi oleh ras atau suku bangsa.
Bangsa kulit putih atau ras Eropa mempunyai pertumbuhan somatik
lebih tinggi daripada bangsa Asia
b. Jenis kelamin
Anak laki-laki lebih sering

sakit

dibandingkan

anak

perempuan,mungkin sebabnya adalah perbedaan kromosom antara


laki-laki (xy) dan perempuan (xx). Pertumbuhan fisik dan motorik
berbeda antara laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki lebih aktif bila
dibandingkan dengan anak perempuan.
c. Umur
Umur masa balita itu sangat rentan terhadap penyakit dan sering
terjadi kurang gizi. Masa balita merupakan dasar pembentukan
kepribadian anak.
d. Gizi
Kebutuhan anak berbeda dari orang dewasa, karena makanan bagi
anak, selain untuk aktivitas sehari-hari, juga untuk pertumbuhan. Satu
aspek yang perlu ditambahkan adalah keamanan pangan (food safety)
yang mencakup pembebasan makanan dari berbagai racun
fisika,kimia, dan biologis, yang mengancam kesehatan manusia.
e. Perawatan kesehatan
Perawatan kesehatan yang teratur meliputi imunisasi,skrining dan
deteksi dini gangguan tumbuh kembang,stimulasi dini, termasuk
pemantauan pertumbuhan dengan menimbang anak secara rutin setiap
bulan.

f. Kondisi kesehatan kronis


Kondisi kesehatan kronis adalah keadaan yang perlu perawatan
terus

menerus;

tidak

hanya

penyakit;

melainkan

kelainan

perkembangan seperti autisme,serebral palsi,dan lain-lain. Anak

dengan kondisi kesehatan kronis sering mengalami gangguan tumbuh


kembang dan gangguan pendidikannya.
g. Hormon
- Somatotropin atau growth hormon (GH=hormon pertumbuhan)
Somatotropin merupakan pengatur utama pertumbuhan somatis,
terutama pertumbuhan kerangka. GH merangsang terbentuknya
-

somatomedin yang kemudian berefek pada tulang rawan.


Hormon tiroid
Hormon ini diperlukan pada tumbuh kembang anak, karena
mempunyai fungsi pada metabolisme protein,karbohidrat dan
lemak. Pertumbuhan dan fungsi otak sangat tergantung pada
tersedianya hormon tiroid dalam kadar yang cukup. Defisiensi
hormon tiroid mengakibatkan retardasi fisik dan mental,kalau
berlangsung terlalu lama dapat menjadi permanen. Hipertiroidisme

juga dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang anak.


Glukokortikoid
Kortison mempunyai efek antianabolik.
Kalau kortison
berlebihan , pertumbuhan akan terhambat/terhenti dan terjadi

osteoporosis.
Hormon-hormon seks
Hormon seks mempunyai peranan pada fertilitas dan reproduksi.
Pada permulaan pubertas, hormon seks memacu pertumbuhan
badan

,tetapi

pertumbuhan.

sesudah
Androgen

beberapa
disekresi

lama
oleh

justru

menghambat

kelenjar

adrenal

(dehidroandrosteron) dan testis (testosteron), sedangkan estrogen


diproduksi oleh ovarium.

2. Faktor lingkungan fisik


a. Cuaca,musim,keadaan geografis suatu daerah
Musim kemarau yang panjang, banjir, gempa bumi, atau bencana
alam lainnya dapat berdampak pada tumbuh kembang anak, sebagai
akibat dari kurangnya persediaan pangan dan meningkatnya wabah
penyakit, sehingga banyak anak yang terganggu tumbuh kembangnya.
b. Sanitasi

10

Kebersihan, baik kebersihan perorangan maupun lingkungan, dapat


menimbulkan penyakit. Kebersihan yang kurang dapat menimbulkan
anak sering sakit,anak yang sering menderita sakit maka tumbuh
kembangnya akan terganggu.
c. Radiasi
Tumbuh kembang anak dapat terganggu akibat adanya radiasi yang
tinggi.
3. Faktor psikososial
a. Stimulasi
Anak yang mendapat stimulasi yang terarah dan teratur akan lebih
cepat berkembang dibandingkan dengan anak yang kurang/tidak
mendapat stimulasi. Stimulasi juga akan mengoptimalkan potensi
genetik yang dipunyai anak.
b. Motivasi belajar
Motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini dengan memberikan
lingkungan yang kondusif untuk belajar.
c. Ganjaran ataupun hukuman yang wajar
Kalau anak berbuat benar, kita wajib memberikan ganjaran berupa
pujian untuk memberikan motivasi yang kuat bagi anak untuk
mengulangi tingkah laku yang baik. Menghukum dengan cara wajar
itu hukuman harus diberikan secara obyektif disertai penjelasan
pengertian dan maksud hukuman.
d. Stress
Dapat berpengaruh pada tumbuh kembang anak misal anak akan
menarik diri,nafsu makan menurun, dan rendah diri.
4. Faktor keluarga dan adat istiadat
a. Pekerjaan atau pendapatan keluarga
Akan menunjang tumbuh kembang anak karena orangtua dapat
menyediakan semua kebutuhan dasar anak.
b. Pendidikan ayah atau ibu
Pendidikan yang baik, orangtua dapat menerima informasi tentang
cara pengasuhan anak yang baik, bagaimana menjaga kesehatan
anak, mendidiknya, dan lain-lain.
c. Stabilitas rumah tangga

11

Stabilitas dan keharmonisan rumah tangga memengaruhi tumbuh


kembang anak. Tumbuh kembang anak akan berbeda pada keluarga
yang harmonis dibandingkan dengan mereka yang kurang harmonis.
d. Agama
Agama harus ditanamkan pada anak sedini mungkin, karena agama
akan menuntut umatnya untuk berbuat kebaikan dan kebajikan.
3.5.

Penyebab Ani jalan jinjit karena terjadinya perpendekan tendon


archilles yang menghubungkan tumit dengan otot betis sehingga terjadi
perpendekan. Dimana otot betis sisi belakang dominan dibandingkan dengan
sisi depan dan resultan terjadi pada tumit yang tertarik ke atas.
Kerusakan otot karena defisiensi enzim dystrophy. Penyakit ini bersifat
herediter yang diturunkan oleh gen ayahnya. Jalan jinjit di lakukan anak usia
24 30 bulan adalah normal namun untuk usia 3 tahun ke atas tidak normal
(Arvin & Behrman, 2009)

3.6.

Gangguan atau kelainan berhubungan dengan pertumbuhan dan


perkembangan meliputi:

a. Autisme
Gangguan perkembangan yang muncul sebelum umur 3 tahun dan anak
mempunyai mempunyai fungsi abnormal dalam 3 bidang yaitu interaksi
sosial,komunikasi, dan perilaku yang terbatas dan berulang.
b. ADHD (Attention Deficit-Hyperactivity Disorder) / GPPH (Gangguan
Pemusatan Perhatian dan Hiperaktifitas)
Suatu gangguan yang ditandai oleh ketidakmampuan mempertahankan
perhatian, mengatur tingkat aktifitas, dan mengontrol tingkah laku impulsive.
c. Retardasi mental
Fungsi intelektual umum secara bermakna di bawah normal, disertai
adanya keterbatasan pada 2 fungsi adaptif atau lebih, yaitu komunikasi,
menolong diri sendiri, ketrampilan sosial, mengarahkan diri, ketrampilan
akademik, bekerja, menggunakan waktu luang, kesehatan dan atau keamanan;
keterbatasan ini timbul sebelum umur 18 tahun.
12

d. Palsi serebral
Suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak progresif, karena
suatu kerusakan atau gangguan pada sel-sel motorik di SSP yang sedang
tumbuh atau belum selesai pertumbuhannya. (Nelson,2011)

13

BAB IV
SKEMA
Ani (2tahun)
Sangat cuek

Tidak pernah menangis jika ditingga


Gangguan interaksi sosial
Gangguan perkembangan Gangguan
bahasa
motorik kasar
Tidak senang jika ibunya datang

anya bisa mengucapkan kata mama dan


Jalan
maem
sering jinjit

Jarang rewel

Diagnosis banding

Autisme, ADHD, Cerebral Palsy


Orthopegagog

Terapi Okupasi Terapi sensori integrasi Terapi wicara Terapi perilaku Terapi ADL

14

BAB V
LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu menjelaskan tahapan tumbuh kembang pada anak.


2. Mahasiswa mampu menjelaskan jenis-jenis kelainan tumbuh kembang anak.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh
kembang anak.
4. Mahasiswa mampu menjelaskan manifestasi klinis gangguan tumbuh
kembang anak.
5. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan kelainan tumbuh kembang
secara umum.
6.

15

BAB VI
PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE

6.1

Tahap-tahap tumbuh kembang anak meliputi:


A. Masa pranatal (prenatal period)
a Masa zigot/mudigah : konsepsi-2 minggu
b Masa embrio : 2 minggu-8/12 minggu
c Masa janin/fetus : 9/12 minggu-lahir
- Masa fetus dini : 9 minggu-trimester ke 2
- Masa fetus lanjut : trimester akhir kehamilan
B. Masa bayi (infancy) : usia 0-1 tahun
a Masa neonatal : usia 0-28 hari
-

Masa neonatal dini : 0-7 hari

Masa neonatal lanjut : 8-28 hari

b Masa pascaneonatal : 29 hari-12/15 bulan


C. Masa anak dini (toddlerhood) : usia 1-3 tahun
D. Masa prasekolah (preschool/early childhood) : usia 3-6 tahun
E. Masa sekolah : usia 6-18/20 tahun
a

Masa praremaja (middle and late childhood) : usia 6-11 tahun

Masa remaja (adolescence)


-

Masa remaja dini (early adolescence) : 11-13 tahun

Masa remaja pertengahan (middle adolescence) : 14-17 tahun

Masa remaja lanjut (late adolescence) : 17-20 tahun

16

Tahapan perkembangan anak menurut umur


Umur 0-3 bulan :
a. Mengangkat kepala setinggi 45 0 .
b. Menggerakkan kepala dari kiri/kanan ke tengah.
b. Melihat dan menatap wajah anda.
c. Mengoceh spontan atau bereaksi dengan mengoceh.
d. Suka tertawa keras.
e. Bereaksi terkejut terhadap suara keras.
f. Membalas tersenyum ketika diajak bicara/tersenyum.
g. Mengenal ibu dengan penglihatan, penciuman, pendengaran,
kontak.
Umur 3-6 bulan :
a. Berbalik dari telungkup ke telentang.
b. Mengangkat kepala setinggi 90o.
c. Mempertahankan posisi kepala tetap tegak dan stabil.
d. Menggenggam pensil.
e. Meraih benda yang ada dalam jangkauannya.
f. Memegang tangannya sendiri.
g. Berusaha memperluas pandangan.
h. Mengarahkan matanya pada benda-benda kecil.
i. Mengeluarkan suara gembira bernada tinggi atau memekik.
j. Tersenyum ketika melihat mainan/gambar yang menarik saat
bermain sendiri.

17

Umur 6-9 bulan :


a. Duduk (sikap tripoid sendiri).
b. Belajar berdiri, kedua kakinya menyangga sebagian berat badan.
c. Merangkak meraih mainan atau mendekati seseorang.
d. Memindahkan benda dari satu tangan ke tangan lainnya.
e. Memungut 2 benda, masing-masing tangan pegang 1 benda pada
saat yang bersamaan.
f. Memungut benda sebesar kacang dengan cara meraup.
g. Bersuara tanpa arti, mamama, bababa, dadada, tatatata.
h. Mencari mainan/benda yang dijatuhkan.
i. Bermain tepuk tangan/ciluk ba.
j. Bergembira dengan melempar benda.
k. Makan kue sendiri.
Umur 9-12 bulan
a. Mengangkat badannya ke posisi berdiri. A. o Belajar berdiri
selama 30 detik atau berpegangan di kursi.
b. Dapat berjalan dengan dituntun.
c. Mengulurkan lengan/badan untuk meraih mainan yang
d.
e.
f.
g.
h.

diinginkan.
Mengenggam erat pensil.
Memasukkan benda ke mulut.
Mengulang menirukan bunyi yang didengar.
Menyebut 2-3 suku kata yang sama tanpa arti.
Mengeksplorasi sekitar, ingin tahu, ingin menyentuh apa saja. o Bereaksi

i.
j.
k.
l.
m.

terhadap suara yang perlahan atau bisikan.


Senang diajak bermain CILUK BA
Mengenal anggota keluarga, takut pada orang yang belum dikenal.
Umur 12-18 bulan :
Berdiri sendiri tanpa berpegangan.
Membungkuk memungut mainan kemudian berdiri kembali. o Berjalan
mundur 5 langkah.

18

n. Memanggil ayah dengan kata papa, memanggil ibu dengan kata


o.
p.
q.
r.
s.
t.

mama.
Menumpuk 2 kubus.
Memasukkan kubus di kotak.
Menunjuk apa yang diinginkan tanpa menangis/merengek,
anak bisa mengeluarkan suara yang menyenangkan atau
menarik tangan ibu
Memperlihatkan rasa cemburu / bersaing.
Umur 18-24 bulan
a. Berdiri sendiri tanpa berpegangan 30 detik. o Berjalan tanpa terhuyungb.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

huyung.
Bertepuk tangan, melambai-lambai.
Menumpuk 4 buah kubus.
Memungut benda kecil dengan ibu jari dan jari telunjuk.
Menggelindingkan bola kearah sasaran.
Menyebut 3 6 kata yang mempunyai arti.
Membantu/menirukan pekerjaan rumah tangga.
Memegang cangkir sendiri, belajar makan - minum sendiri.

(Soetjiningsih,IG.N.Gde Ranuh. 2013. Tumbuh Kembang Anak. Ed.2.


Jakarta : EGC)

6.2
a

Terdapat 3 pola gangguan pertumbuhan, yaitu:


Tipe I
Berat badan lebih tertekan daripada tinggi badan, lingkaran kepala tidak
terganggu pertumbuhannya.
Umumnya karena masukan kalori tidakcukup, pengeluaran kalori yang
berlebihan, masukan kalori yang berlebihan, atau ketidakmampuan tubuh
perifer menggunakan kalori. Kebanyakan kasus merupakan akibat dari

kegagalan pada penyampaian (delivery) ke jaringan yang dituju.


Kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor kemiskinan, kesenjangan
hubungan pengasuh dan anak, pola makan yang abnormal atau kombinasi

dari faktor-faktor tersebut.


Tipe II.
Ditandai oleh tubuh kecil yang proporsional, lingkaran kepala dalam batas
normal.
Berkaitan dengan faktor genetik pada perawakan pendek, endokrinopati,
pertumbuhan lambat konstitusional, penyakit jantung atau ginjal, displasia
tulang.

19

Tipe III
Ditandai oleh ketiga parameter (tinggi, berat dan lingkaran kepala) di
bawah normal
Tipe ini berkaitan dengan Susunan Syaraf Pusat yang abnormal, defek
pada kromosom, dan gangguan perinatal (Irwanto, 2006).
Beberapa Gangguan Tumbuh-Kembang
a. Gangguan bicara dan bahasa.
Kemampuan

berbahasa

merupakan

indikator

seluruh

perkembangan anak. Karena kemampuan berbahasa sensitif terhadap


keterlambatan atau kerusakan pada sistem lainnya, sebab melibatkan
kemampuan kognitif, motor, psikologis, emosi dan lingkungan sekitar
anak. Kurangnya stimulasi akan dapat menyebabkan gangguan bicara dan
berbahasa bahkan gangguan ini dapat menetap.
b. Cerebral palsy.
Merupakan suatu kelainan gerakan dan postur tubuh yang tidak
progresif, yang disebabkan oleh karena suatu kerusakan/gangguan pada
sel-sel motorik pada susunan saraf pusat yang sedang tumbuh/belum
selesai pertumbuhannya.
c. Sindrom Down.
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenal
dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan yang terbatas, yang terjadi
akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Perkembangannya
lebih lambat dari anak yang normal. Beberapa faktor seperti kelainan
jantung kongenital, hipotonia yang berat, masalah biologis atau
lingkungan lainnya dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan
motorik dan keterampilan untuk menolong diri sendiri.
d. Perawakan Pendek.
Short stature atau Perawakan Pendek merupakan suatu terminologi
mengenai tinggi badan yang berada di bawah persentil 3 atau -2 SD pada
kurva pertumbuhan yang berlaku pada populasi tersebut. Penyebabnya
dapat karena varisasi
normal, gangguan gizi, kelainan kromosom, penyakit sistemik atau karena
kelainan endokrin.

20

e. Gangguan Autisme.
Merupakan gangguan perkembangan pervasif pada anak yang
gejalanya muncul sebelum anak berumur 3 tahun. Pervasif berarti meliputi
seluruh aspek perkembangan sehingga gangguan tersebut sangat luas dan
berat,

yang

mempengaruhi

anak

secara

mendalam.

Gangguan

perkembangan yang ditemukan pada autisme mencakup bidang interaksi


sosial, komunikasi dan perilaku.

f. Retardasi Mental.
Merupakan suatu kondisi yang ditandai oleh inteleginsia yang
rendah (IQ < 70) yang menyebabkan ketidakmampuan individu untuk
belajar dan beradaptasi terhadap tuntutan masyarakat atas kemampuan
yang dianggap normal. Ciri Retardasi mental yaitu:
1

Fungsi intelektual umum di bawah normal

Terdapat kendala pada perilaku adaptif sosial

Gejalanya timbul dalam perkembangan, yaitu di bawah usia 18 th

Penyebab retardasi mental sangat kompleks dan multifaktorial. Beberapa


faktor dapat saling memberatkan sehingga terjadi gangguan fungsi otak yang
merupakan dasar terjadinya retardasi mental. Beberapa faktor yang potensial
menyebabkan retardasi mental antara lain;
1

Faktor prakonsepsi, seperti kelainan genetik, kromosom atau


mitokondria, misal pada Sindroma Fragile-X, penyakit inborn error
metabolism.

Faktor pranatal, seperti kelainan kromosom (sindroma Down), infeksi


(TORCH), teratogen (alkohol, radiasi), ibu malnutrisi, ibu DM, ibu
toxemia gravidarum.

Faktor perinatal, seperti kelahiran prematur, BBLR, asfiksia, trauma


lahir, hipoglikemia, hiperbilirubinemia, infeksi (meningitis).

Faktor

postnatal,

seperti

trauma

kepala,

infeksi

(ensefalitis,

meningitis), asfiksia, gangguan metabolik, toksin, malnutrisi.

21

Faktor lingkungan, seperti kemiskinan, keluarga yang tidak harmonis,


interaksi anak-pengasuh yang tidak baik, sosiokultural, penelantaran
anak.

Penyebab yang tidak diketahui.

Berdasarkan nilai IQ, retardasi mental dapat dikelompokkan sebagai :

Retardasi mental ringan, IQ 70 50

Retardasi mental sedang, IQ 49 35

Retardasi mental berat, IQ 34 - 20 dan

Retardasi mental sangat berat, IQ kurang dari 20.

g. Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH)


Merupakan gangguan dimana anak mengalami kesulitan untuk
memusatkan perhatian yang seringkali disertai dengan hiperaktivitas.
Variasi GGPH terbagi menjadi 3 yaitu :
1. GPPH dengan gejala dominant Hiperaktivitas dan impulsivitas
2. GPPH dengan gejala dominant kesukaran memusatkan perhatian
3. GPPH dengan tipe kombinasi
GPPH merupakan suatu penyakit kronis, dan 50% anak dengan
GPPH akan terus menimbulkan gejala sampai dewasa. Pada orang dewasa
angka kejadian kecemasan, self-esteem yang rendah, perilaku antisosial,
penyalahgunaan obat dan alkohol, kesulitan hubungan interpersonal, dan
berganti-ganti kerja akan meningkat. Hasil akhir yang buruk dihubungkan
dengan rendahnya intelegensia, status ekonomi rendah, masalah perilaku,
dan psikopatologi dalam keluarga (seperti penyalahgunaan alkohol atau
obat-obatan). Hasil akhir individual dapat sangat baik.
(Menkes, 2014)
6.3

Faktor-faktor tumbuh kembang meliputi:


A. FAKTOR INTERNAL:

a. Ras/ etnik atau bangsa

22

b. Keluarga
c. Umur
d. Jenis kelamin
e. Genetik
f. Kelainan kromosom
B. FAKTOR EKSTERNAL
a. Faktor pre natal
a. Gizi
b. Mekanis
c. Toksin/ zat kimia
d. Endokrin
e. Radiasi
f. Infeksi
g. Kelainan imunolgi
h. Anoreksia embrio
i. Psikologi ibu
b. Faktor persalinan
c. Faktor pascapersalinan
a. Gizi
b. Penyakit kronis atau kelainan kongenital
c. Lingkungan fisik dan kimia
d. Psikologis
e. Endokrin

23

f. Sosioekonomi
g. Lingkungan pengasuhan
h. Stimulasi
i. Obat-obatan
(Tanuwidjaya, 2002)

6.4

Manifestasi klinis tumbuh kembang yaitu:


a. GANGGUAN PERKEMBANGAN BAHASA
Gangguan ini melibatkan kesinambunagn kemampuan motoik,
psikologi, emosional serta perilaku. Kurangnya

interaksi dengan

lingkungan, maturasi terlambat, dan faktor keluarga, kelainan fisik


seperti bibir sumbing dan cerebral palsy.
b. GANGGUAN PENGELIHATAN
Biasanya berupa maturitas visual yang terlambat, gangguan refraksi,
juling, nistagmus, ambliopia, buta warna, dan kebutaan akibat katarak,
neuritis optik, glaukoma, dll.
c. GANGGUAN PENDENGARAN

24

Gangguan pendengaran dibagi menjadi dua yaitu :


a. Tuli konduksi
Gangguan ini melibatkan telinga bagian luar dan tengah yang
mengarah pada banyak sedikitnya gelombang suaar ayng ditangkap
telinga.
b. Tuli sensorineural.
Melibatkan gangguan saraf-saarf yang berkaitan langsung dengan
gendang telinga.
Faktor yang mempengaruhi, antara lain :
a. Prenatal

: Genetik atau infeksi TORCH

b. Postnatal

: Infeksi baktero atau virus

(Hendramin, 2002)
d. GANGGUAN PERKEMBANGAN MOTORIK
Kelainan tonus otot atau penyakit neuromuskular. Contohnya adalah :
a. Kelainan sumsum tulang seperti spina bifida
b. Cerebral palsy sebagai akibat dari spastisitas, ataksia, hipotonia, dan
atheosis.
c. Penyakit

neuromuskular

seperti

muscular

ditrofi

memperlihatkan

keterlambatan dan kemampuan berjalan.


(Santrock, 2007)
6.5
a

Penatalaksanaan gangguan tumbuh kembang secara umum meliputi:


Terapi Okupasi
Terapi ini meliputi permainan dan keterampilan sosial melatih kekuatan

lengan, genggaman, kognitif dan mengikuti arah. Diperuntukan bagi anak dan
dewasa yang kesulitan belajar, hambatan motorik(cedera, stroke traumatic,
brain injury),autisme, cerebral palsi,sindrom down, ADHD, genetic disorder
dan keterlambatan bicara
b

Terapi Sensori Integrasi


Terapi sensori integrasi merangsang peningkatan kemampuan SSP

sehingga dapat memperbarui struktur dan fungsi. Tujuannya adalah aktifitas


25

sensory integrasi ini dapat merangsang koneksi sinapsis sehingga kapasitas


belajar meningkat. Diterapkan pada anak yang menderita Autisme, ADHD,
Down syndrome, Asperger syndrome, cerebral palsy, persuasif development
disorder
c

Terapi Wicara
Tujuan dari terapi ini adalah untuk membantu aktivitas berkomunikasi.

Terapi ini diterapkan kepada anak atau dewasa yang memiliki beberapa
gangguan yaitu :

anak dengan gangguan ekspresif

anak dengan gangguan gagap/artikulasi

anak dengan gangguan speech delay

dewasa/ anak yang baru menjalani operasi bibir

Terapi ADL (aktifitas keseharian)


Layanan terapi ini dapat membantu anak dalam melakukan aktivitas

keseharian seperti makan,minum, bersepatu, bersisir, mandi, aktifitas toileting


secara mandiri Biasanya dilakukan untuk terapi okupasi.
e

Terapi Perilaku
Terapi ini dapat mengurangi perilaku yang berlebihan atau perilaku yang

tidak normal. Terapi ini diterapkan pada penderita ADHD dan autisme.
f

Terapi Orthopegagog
Terapi ini bertujuan untuk mengatasi kesulitan belajar khusus pada anak.

Berfungsi dalam membimbing anak untuk menguasai :

Logika dasar

kemampuan berfikir secara optimal

membaca, menulis, dan berhitung

26

Diterapkan pada anak yang menderita disleusia, disgrafik, disfasia,


disnomia.
g

Fisioterapi
Terapi layanan fisik yang menitikberatkan pada perstabilan (memperbaiki

fungsi alat gerak). Tujuan nya adalah untuk membantu anak mengembangkan
kemampuan motorik kasar. Diterapkan pada anak yang memiliki beberapa
keterbatasan contohnya:

Anak dengan keterbatasan fisik

Orang yang mengalami pasca stroke

Terapi Musik
Terapi musik berguna untuk meningkatkan kualitas fisik dan mental

dengan rangsangan suara. Layanan terapi ini untuk semua ketunaan, Autisme,
dan ADHD .
i

Terapi akupressure dan Akupunctur

Terapi akupressure : terapi dengan cara memijat

Terapi akupunctur : membedah dengan menusukan jarum

Kedua terapi ini berguna untuk merileksasikan tubuh dan hanya ahli saja yang
dapat menggunakan terapi ini.
(Budiyanto, 2013)

27

Kesimpulan

Saran

28

Daftar Pustaka
Behrman, R.E., Kliegman, R & Arvin, A.M. (2012.). Nelson Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Bhler, E., Bachmann, C., Goyert, H., Heinzel-Gutenbrunner, M., & KampBecker, I. (2011). Differential diagnosis of autism spectrum disorder and
attention deficit hyperactivity disorder by means of inhibitory control and
theory of mind. Journal of Autism Dev. Disorder, 41(12), 1718-1726.
Children's National Medical Center. (2012). Children's Toe Walking Not a Sign of
Bigger Problems. Washington DC. : Children's National Medical Center
Dorland, W.A. N. (2012). Kamus Kedokteran Dorland. Edisi 31. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Gensler, D. (2012). Autism Spectrum Disorder in DSM-V: Differential Diagnosis
and Boundary Conditions. Journal of Infant, Child, and Adolescent
Psychotherapy,11(2), 676-686.
Hasan, M.B.M.. (2008). Hikmah Terapi Air Mata : Menangis Karena Allah.
Kuala Lumpur : Al-Hidayah.
Hartman, T. (2006). Terapi Jalan Kaki. Jakarta : PT. Serambi Ilmu Semesta.
Morton, P.G. (2005). Panduan Pemeriksaan Kesehatan Dengan Dokumentasi
Soapie. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sadock, B. J. (2010). Kaplan & Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Soetjiningsih. (2014). Tumbuh Kembang Anak. Edisi 2. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Quill, K.A. (1995). Teacing Children with Autism ; strategic to Enchange
Communication and Socialization. New York : Cengage Learning.

29