Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PENCEMARAN SUNGAI
Diajukan untuk memenuhi tugas Ilmu Alamiah Dasar
Dosen Pengampu : Suwandono, M.pd

Disusun Oleh :
1.

Azmi Fidhayanti (1115 500 015)

2.

Suci Anggari

(1115 500 079)

Kelas : 2 C
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-Nya,bisa
menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah
yang telah memberikan kesempatan untuk membuat makalah ini guna menambah wawasan kami
sebagai mahasiswa.
Dalam makalah sederhana ini, penulis hendak membahas mengenai Pencemaran Sungai
merupakan bagian dari ajaran Ilmu Alamiah Dasar.
Penulis sangat berterima kasih jika kiranya para pembaca berkehendak memberikan saran
atau kritik guna menyempurnakan makalah sederhana ini. Kesempurnaan makalah ini akan
melebarkan terbukanya jendela pengetahuan mengenai Pencemaran Sungai bagi kita semua.
Semoga makalah ini benar-benar dapat bermanfaat bagi para pembaca. Untuk itu kami ucapkan
terima kasih.
Tegal, 29 Maret 2016
Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI... iii
BAB I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang.. 1
B. Rumusan Masalah.. 2
C. Maksud dan Tujuan .. 2

BAB II PEMBAHASAN. 3
A. Pengertian

pencemaran

sungai... 3
Apa saja yang

B.

menjadi sumber pencemaran sungai... 4


C. Apa

saja

yang

menjadi

indikator

pencemaran

sungai 6
D. Penyebab terjadinya pencemaran Sungai... 9
E. Apa dampak dari pencemaran sungai... 12

BAB III PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR SUNGAI 13


A. Bagaimana

mencegah

pencemaran

sungai 13
B. Bagaimana menanggulangi pencemaran sungai .

13
BAB IV PENUTUP 15
Simpulan dan Saran... 15
DAFTAR PUSTAKA 16

iii

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang bersifat mengalir, sehingga
perlakuan air di hulu akan member dampak di hilir. Pencemaran di hulu akan menyebabkan
biaya social di hilir (extematily effect) dan pelestarian di hulu akan bermanfaat di hilir. Sungai
sangat bermanfaat bagi manusia dan juga bermanfaat bagi biota air.
Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak sehingga perlu
dilindungi agar dapat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta makhluk hidup
lainnya. Perlu upaya pelestarian dan pengendalian air, untuk menjaga kualitas air atau mencapai
kualitas air sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan tingkat mutu air
yang dikehendaki. Pengelolaan kuaitas air dilakukan dengan upaya pengendalian pencemaran air,
yaitu dengan upaya memelihara fungsi air sehingga kualitas air memenuhi baku mutu. Air yang
relatif bersih sangat didambakan oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari,
keperluan industri, untuk kebersihan sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain
sebagainya.
Saat ini air menjadi masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius. Karena air telah
tercemar oleh limbah limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia, sehingga untuk memperoleh
air yang baik sesuai dengan standar tertentu diperlukan biaya yang cukup mahal. Secara kualitas,
sumber daya air telah mengalami penurunan. Begitu pula secara kuantitas yang sudah tidak dapat
memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat. Makin banyak berita-berita mengenai
pencemaran sungai dari hari kehari. Pencemaran sungai ini terjadi dimana-mana. Krisis air juga

tejadi di hampir seluruh Pulau Jawa dan sebagian Pulau Sumatera, terutama di kota-kota besar
baik akibat pencemaran limbah cair industri, rumah tangga ataupun pertanian.

1
Pencemaran sungai di banyak wilayah di Indonesia telah mengakibatkan terjadinya krisis
air bersih. Kurangnya kesadaran warga sekitar serta lemahnya pengawasan pemerintah dan
keengganan mereka untuk melakukan penegakan hukum yang benar menjadikan masalah
pencemaran sungai menjadi hal yang kronis yang semakin lama semakin parah.
B. Rumusan Masalah
C.

Apa yang dimaksud pencemaran sungai ?

D.

Apa saja yang menjadi indikator pencemaran sungai ?

E.

Apa saja yang menjadi sumber pencemaran sunga ?

F.

Apa dampak dari pencemaran sungai ?

G.

Bagaimana mencegah pencemaran sungai ?

H.

Bagaimana menanggulangi pencemaran sungai ?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tulisan ini bertujuan untuk mengupas mengenai
pencemaran sungai. Secara khusus akan dibahas sumber, dampak dan pencegahan serta
penanggualangan pencemaran sungai yang tentu saja tidak lepas dari pengertian dan perspektif
hukum dari pencemaran sungai serta indikator pencemaran tersebut. Diharapkan dengan adanya
penjelasan mengenai dampak pencemaran sungai beserta cara penanggulangan, timbul kesadaran
dari kita semua akan betapa pentingnya sungai bagi kehidupan yang pada akhirnya pencemaran
sungai dapat dikurangi sehingga didapat sumber air yang aman dan sesuai baku mutu.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pencemaran Sungai

Air merupakan sumber kehidupan di muka bumi ini, kita semua bergantung pada air.
Untuk itu diperlukan air yang dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Tapi pada akhir-akhir
ini, persoalan penyediaan air yang memenuhi syarat menjadi masalah seluruh umat manusia.
Dari segi kualitas dan kuantitas air telah berkurang yang disebabkan oleh pencemaran.
Pencemaran air sungai terjadi apabila dalam air sungai terdapat berbagai macam zat atau kondisi
yang dapat menurunkan standar kualitas air yang telah ditentukan, sehingga tidak dapat
digunakan untuk kebutuhan tertentu. Suatu sumber air dikatakan tercemar tidak hanya karena
tercampur dengan bahan pencemar, akan tetapi apabila air tersebut tidak sesuai dengan
kebutuhan tertentu, sebagai contoh suatu sungai yang mengandung logam berat atau
mengandung bakteri penyakit masih dapat digunakan untuk kebutuhan industri atau sebagai
pembangkit tenaga listrik, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Dalam praktek operasionalnya, pencemaran lingkungan hidup tidak pernah ditunjukkan secara
utuh, melainkan sebagai pencemaraan dari komponen-komponen lingkungan hidup, seperti
pencemaran air, pencemaran air sungai, pencemaran air laut, pencemaran air tanah dan
pencemaran udara. Dengan demikian, definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan
hidup yang ditetapkan dalam UU tentang lingkungan hidup yaitu UU No. 23/1997.
Menurut UU Republik Indonesia No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup, yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan hidup yaitu; masuknya atau
dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup,

oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Demikian pula dengan
lingkungan air yang terdapat di sungai yang dapat tercemar karena masuknya atau dimasukannya
mahluk hidup atau zat yang membahayakan bagi kesehatan.
3
Air sungai dikatakan tercemar apabila kualitasnya turun sampai ke tingkat yang
membahayakan sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya.
B. Bahan Pencemar Air Sungai

Pada dasarnya Bahan Pencemar Air dapat dikelompokkan menjadi :


a)

Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigen yaitu sampah yang

mengandung senyawa organik, misalnya sampah industri makanan, sampah industri gula tebu,
sampah

rumah

tangga

(sisa-sisa

makanan),

kotoran

manusia

dan

kotoran

hewan,

tumbuhtumbuhan dan hewan yang mati. Untuk proses penguraian sampah-sampah tersebut
memerlukan banyak oksigen, sehingga apabila sampah-sampah tersbut terdapat dalam air, maka
perairan (sumber air) tersebut akan kekurangan oksigen, ikan-ikan dan organisme dalam air akan
mati kekurangan oksigen. Selain itu proses penguraian sampah yang mengandung protein
(hewani/nabati) akan menghasilkan gas H2S yang berbau busuk, sehingga air tidak layak untuk
diminum atau untuk mandi.
b) Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit, yaitu bahan pencemar yang mengandung
virus dan bakteri misal bakteri coli yang dapat menyebabkan penyakit saluran pencernaan
(disentri, kolera, diare, types) atau penyakit kulit. Bahan pencemar ini berasal dari limbah rumah
tangga, limbah rumah sakit atau dari kotoran hewan/manusia.
c) Bahan pencemar senyawa anorganik/mineral misalnya logam-logam berat seperti merkuri
(Hg), kadmium (Cd), Timah hitam (pb), tembaga (Cu), garam-garam anorganik. Bahan pencemar
berupa logam-logam berat yang masuk ke dalam tubuh biasanya melalui makanan dan dapat
tertimbun dalam organ-organ tubuh seperti ginjal, hati, limpa saluran pencernaan lainnya
sehingga mengganggu fungsi organ tubuh tersebut.
d) Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yaitu senyawa
organik berasal dari pestisida, herbisida, polimer seperti plastik, deterjen, serat sintetis, limbah

industri dan limbah minyak. Bahan pencemar ini tidak dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme,
sehingga akan menggunung dimana-mana dan dapat mengganggu kehidupan dan kesejahteraan
makhluk hidup.

4
e) Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan seperti senyawa nitrat, senyawa fosfat
dapat menyebabkan tumbuhnya alga (ganggang) dengan pesat sehingga menutupi permukaan air.
Selain itu akan mengganggu ekosistem air, mematikan ikan dan organisme dalam air, karena
kadar oksigen dan sinar matahari berkurang. Hal ini disebabkan oksigen dan sinar matahari yang
diperlukan organisme dalam air (kehidupan akuatik) terhalangi dan tidak dapat masuk ke dalam
air.
f) Bahan pencemar berupa zat radioaktif, dapat menyebabkan penyakit kanker, merusak sel dan
jaringan tubuh lainnya. Bahan pencemar ini berasal dari limbah PLTN dan dari percobaanpercobaan nuklir lainnya.
g) Bahan pencemar berupa endapan/sedimen seperti tanah dan lumpur akibat erosi pada tepi
sungai atau partikulat-partikulat padat/lahar yang disemburkan oleh gunung berapi yang meletus,
menyebabkan air menjadi keruh, masuknya sinar matahari berkurang, dan air kurang mampu
mengasimilasi sampah.
h) Bahan pencemar berupa kondisi (misalnya panas), berasal dari limbah pembangkit tenaga
listrik atau limbah industri yang menggunakan air sebagai pendingin. Bahan pencemar panas ini
menyebabkan suhu air meningkat tidak sesuai untuk kehidupan akuatik (organisme, ikan dan
tanaman dalam air). Tanaman, ikan dan organisme yang mati ini akan terurai menjadi senyawasenyawa organik. Untuk proses penguraian senyawa organik ini memerlukan oksigen, sehingga
terjadi penurunan kadar oksigen dalam air.
Secara garis besar bahan pencemar air tersebut di atas dapat dikelompokkan menjadi :
1. Bahan pencemar organik, baik yang dapat mengalami penguraian oleh mikroorganisme

maupun yang tidak dapat mengalami penguraian.


2. Bahan pencemar anorganik, dapat berupa logam-logam berat, mineral (garam-garam

anorganik seperti sulfat, fosfat, halogenida, nitrat)

3. Bahan pencemar berupa sedimen/endapan tanah atau lumpur.


4. Bahan pencemar berupa zat radioaktif
5. Bahan pencemar berupa panas

5
C. Indikator Pencemaran Air Sungai

Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya perubahan atau
tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi :
a. Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat kejernihan
air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya perubahanwarna, bau dan rasa,
b. Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zatkimia yang
terlarut dan perubahan pH,
c. Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan mikroorganisme
yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen.
Indikator yang umum diketahui pada pemeriksaan pencemaran air sungai terbagi dua
jenis, yaitu parameter kimia dan parameter fisika.
1. Parameter Kimia
a) Derajar Keasaman (pH), Derajat keasaman adalah ukuran untuk menentukan sifat asam dan
basa. Perubahan pH di suatu air sangat berpengaruh terhadap proses fisika, kimia, maupun
biologi dari organisme yang hidup di dalamnya. Derajat keasaman diduga sangat berpengaruh
terhadap daya racun bahan pencemaran dan kelarutan beberapa gas, serta menentukan bentuk zat
didalam air. Nilai pH air digunakan untuk mengekpresikan kondisi keasaman (kosentrasi ion
hidrogen) air limbah. Skala pH berkisar antara 1-14. Kisaran nilai pH 1-7 termasuk kondisi
asam, pH 7-14 termasuk kondisi basa, dan pH 7 adalah kondisi netral. Air limbah dan buangan
industri akan mengubah pH air yang akhirnya akan mengganggu kehidupan biota akuatik.
b) Biologycal Oxygen Demand (BOD), Kebutuhan oksigen Biokimia atau BOD adalah
banyaknya oksigen yangdibutuhkan oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan organiknya
yangmudah terurai. Bahan organik yang tidak mudah terurai umumnya berasal darilimbah
pertanian, pertambangan dan industri. Parameter BOD ini merupakansalah satu parameter yang

di lakukan dalam pemantauan parameter air, khusunyapencemaran bahan organik yang tidak
mudah terurai.

6
BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikosumsi oleh respirasi mikro aerob yang terdapat
dalam botolBOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20 0C selama lima hari, dalam keadaantanpa
cahaya. Kadar maksimum BOD5 yang diperkenankan untuk kepentingan air minum dan
menopang

kehidupan

organisme

akuatik

adalah

3,0-6,0

mg/L

berdasarkan

UNESCO/WHO/UNEP, 1992. Sedangkan berdasarkan kep.51/MENKLH/10/1995 nilai BOD5


untuk baku mutu limbah cair bagi kegiatan industri golongan I adalah 50 mg/L dan golongan II
adalah 150 mg/L.
c) Chemical Oxygen Demand (COD),Kebutuhan oksigen kimiawi atau COD menggambarkan
jumlah totaloksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi,
baikyang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis
menjadi CO2 dan H2O. Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas
rumah tangga dan industri. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi
kepentingan perikanan dan petanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya
kurang dari 29 mg/liter. Sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/liter
pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/liter.
d) Dissolved Oxygen (DO), oksigen terlarut atau DO adalah jumlah oksigen yang diperlukan
untuk proses degradasi senyawa organik dalam air. Oksigen dapat dihasilkan dari atmosfir atau
dari hasil fotosintesis. Kelarutan oksigen dalam air bergantung pada temperature dan tekanan
atmosfir. Berdasarkan data-data temperatur dan tekanan, maka kelarutan oksigen jenuh dalam air
pada 25oC dan tekanan 1 atm adalah 8,32 mg/L (Warlina, 1985).
e) Lemak dan Minyak, Merupakan zat pencemar yang sering dimasukkan kedalam
kelompokpadatan, yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. Menurut Sugiharto
(1987), bahwa lemak tergolong benda organik yang relatif tidak mudah teruraikan oleh bakteri.
Terbentuknya emulsi air dalam minyak akan membuat lapisan yang menutup permukaan air dan

dapat merugikan, karena penetrasi sinar matahari ke dalam air berkurang serta lapisan minyak
menghambat pegambilan oksigen dari udara sehingga oksigen terlarut menurun. Untuk air sungai
kadar maksimum lemak dan minyak 1 mg/l.

7
f) Nitrogen Amoniak(NH3-N), Merupakan salah satu parameter dalam menentukan kualitas air,
baik airminum maupun air sungai. Amoniak berupa gas yang berbau tidak enak sehingga20
kadarnya harus rendah, pada air minum kadarnya harus nol sedangkan air surgai kadarnya 0.5
mg/l.
2. Parameter Fisika
a) Suhu, Menurut Effendi (2003), suhu dari suatu badan air dipengaruhi olehmusim,
lintang (latitute),ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari,sirkulasi udara, penutupan
awan, dan aliran serta kedalaman badan air, adalahsalah satu faktor yang sangat penting bagi
kehidupan organisme, karena suhumempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun
pengembangbiakan dariorganisme-organisme tersebut.
b) Total Suspended Solid (TSS),Total Suspended Solid atau padatan tersuspensi adalah
padatan yangmenyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut, dan tidak dapat mengendap.
Padatantersuspensi terdiri dan partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecildari
pada sedimen, seperti bahan-bahan Organik tertentu, tanah liat dan lainnya.Partikel menurunkan
intensitas cahaya yang tersuspensi dalam air umumnyaterdiri dari fitoplankton, zooplankton,
kotoran hewan, sisa tanaman dan hewan,kotoran manusia dan limbah industri.
c) Total Dissolved Solid (TDS),Total Dissolved Solid atau padatan terlarut adalah padatanpadatan yangmempunyai ukuran lebih kecil dari padatan tersuspensi. Bahan-bahan terlarutpada
perairan alami tidak bersifat toksik, akan tetapi jika berlebihan dapatmeningkatkan nilai
kekeruhan yang selanjutnya akan menghambat penetrasi21cahaya matahari ke kolom air dan
akhirnya berpengaruh terhadap prosesfotosintesis diperairan.

8
D. Penyebab Terjadinya Pencemaran Sungai
Pencemaran air sungai dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu pencemaran sungai yang
disebabkan oleh alam dan pencemaran sungai yang disebabkan oleh ulah manusia.
1. Pencemaran Sungai yang Disebabkan oleh Alam
a) Desposisi Asam, Kelebihan zat asam pada sungai akan mengakibatkan sedikitnya
spesies yang bertahan. Jenis plankton dan invertebrata merupakan mahkluk yang paling pertama
mati akibat pengaruh pengasaman. Jika sungai memiliki pH dibawah 5, lebih dari 75 % dari
spesies ikan akan hilang (Anonim, 2002). Ini disebabkan oleh pengaruh rantai makanan, yang
secara signifikan berdampak pada keberlangsungan suatu ekosistem. Tidak semua sungai yang
terkena hujan asam akan menjadi pengasaman, dimana telah ditemukan jenis batuan dan tanah
yang dapat membantu menetralkan keasaman.
b) Kebakaran Hutan, Kebakaran hutan memang tidak secara signifikan menyebabkan
perubahan kualitas air di sungai, namun kebakaran hutan bisa menyebabkan terganggunya
ekosistem makhkluk hidup yang ada di sungai yang disebabkan faktor asap. Tebalnya asap
menyebabkan matahari sulit untuk menembus dalamnya lautan. Pada akhirnya hal ini akan
membuat beberapa spesies tumbuhan yang hidup di sungai menjadi sedikit terhalang untuk
melakukan fotosintesa dan ikan-ikan sulit bernafas karena kandungan CO2 yang berlebih.
c) Letusan Gunung Berapi, letusan gunung berapi menyebabkan sungai atau danau
tercemar karena bebatuan serta materi-materi yang terbawa dari gunung mengendap di sungai.
Jika materi yang mengendap bervolume besar, maka hal ini menyebabkan ikan-ikan mati bila
tertumpuk oleh bebatuan tersebut. Selain itu, materi-materi yang bervolume kecil menyebabkan
sungai keruh dan mempengaruhi ekosistem di sungai.
d) Endapan Hasil Erosi, Tebalnya lumpur yang terbawa erosi akan mengalami
pengendapan di bagian hilir sungai. Ancaman yang muncul adalah meluapnya sungai

bersangkutan akibat erosi yang terus menerus.Ketika air hujan tidak lagi memiliki penghalang
dalam menahan lajunya maka ia akan membawa seluruh butir tanah yang ada di atasnya untuk
masuk kedalam sungai-sungai yang ada. Akibatnya adalah sungai menjadi sedikit keruh. Hal ini
akan terus berulang apabila ada hujan di atas gunung ataupun di hulu sungai sana.
9
2. Pencemaran Sungai yang Disebabkan oleh Ulah Manusia
a) Limbah Industri, Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab terjadinya
pencemaran air sungai. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3, yaitu bahan
berbahaya dan beracun. Menurut PP 18 tahun 99 pasal 1, limbah B3 adalah sisa suatu usaha
atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan atau
merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup
manusia dan mahluk lainnya.. Karakteristik limbah B3 adalah korosif/ menyebabkan karat,
mudah terbakar dan meledak, bersifat toksik/ beracun dan menyebabkan infeksi/ penyakit.
Limbah industri yang berbahaya antara lain yang mengandung logam dan cairan asam. Misalnya
limbah yang dihasilkan industri pelapisan logam, yang mengandung tembaga dan nikel serta
cairan asam sianida, asam borat, asam kromat, asam nitrat dan asam fosfat. Limbah ini bersifat
korosif, dapat mematikan tumbuhan dan hewan air. Pada manusia menyebabkan iritasi pada kulit
dan mata, mengganggu pernafasan dan menyebabkan kanker.
b) Limbah Pemukiman, Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa
sampah organik dan sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik adalah sampah yang dapat
diuraikan atau dibusukkan oleh bakteri. Contohnya sisa-sisa sayuran, buah-buahan, dan daundaunan. Sedangkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan,
logam, karet, dan kulit. Sampah-sampah ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable).
Sampah organik yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut,
karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya.
Apabila sampah anorganik yang dibuang ke sungai, cahaya matahari dapat terhalang dan
menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang menghasilkan oksigen.
Tentunya anda pernah melihat permukaan air sungai atau danau yang ditutupi buih deterjen.
Deterjen merupakan limbah pemukiman yang paling potensial mencemari air. Pada saat ini

hampir setiap rumah tangga menggunakan deterjen, padahal limbah deterjen sangat sukar
diuraikan oleh bakteri sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen
secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau danau. Fosfat ini
merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok.
10
Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan permukaan air
danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya matahari dan mengakibatkan
terhambatnya proses fotosintesis. Jika tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan
yang menghabiskan persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan
pendangkalan.
c) Limbah Pertanian, Pupuk dan pestisida biasa digunakan para petani untuk merawat
tanamannya. Namun pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari air.
Limbah pupuk mengandung fosfat yang dapat merangsang pertumbuhan gulma air seperti
ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan gulma air yang tidak terkendali ini menimbulkan
dampak seperti yang diakibatkan pencemaran oleh deterjen.
Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik. Insektisida dapat
mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian dimakan hewan atau manusia
orang yang memakannya akan keracunan. Untuk mencegahnya, upayakan agar memilih
insektisida yang berspektrum sempit (khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat
biodegradabel (dapat terurai oleh mikroba) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan.
Jangan membuang sisa obet ke sungai. Sedangkan pupuk organik yang larut dalam air dapat
menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi). Karena air kaya nutrisi, ganggang dan tumbuhan air
tumbuh subur (blooming). Hal yang demikian akan mengancam kelestarian bendungan.
bemdungan akan cepat dangkal dan biota air akan mati karenanya.
Selain itu penggunaan pupuk yang terus menerus dalam pertanian akan merusak struktur tanah,
yang menyebabkan kesuburan tanah berkurang dan tidak dapat ditanami jenis tanaman tertentu
karena hara tanah semakin berkurang. Penggunaan pestisida bukan saja mematikan hama
tanaman tetapi juga mikroorga-nisme yang berguna di dalam tanah. Padahal kesuburan tanah

tergantung pada jumlah organisme di dalamnya. Sedangkan penggunaan pestisida yang terus
menerus akan mengakibatkan hama tanaman kebal terhadap pestisida tersebut.

11
G. Dampak Pencemaran Sungai

Pada saat ini, limbah kegiatan industri dikatakan telah mengancam seluruh.negeri. Hal ini
disebabkan karena melalui mekanisme alam seperti tiupan angin, aliran air sungai, daya rambat
di tanah melalui difusi limbah tersebut dapat menyebar ke mana-mana.
Buangan di perairan menyebabkan masalah kehidupan biota dalam bentuk keracunan bahkan
kematian. Gangguan terhadap biota perairan telah menimbulkan dampak penurunan kualitas dan
kuantitas biota perairan (ikan dan udang). Kelebihan pupuk yang dialirkan ke rawa atau ke danau
dapat menimbulkan suburnya enceng gondok. Selain itu, erosi lumpur yang terbawa ke laut
kemudian diendapkan mengakibatkan tertutupnya permukaan karang yang pada akhirnya
menyebabkan kematian karang.
Akibat pencemaran itu kehidupan dalam air dapat terganggu dengan mematikan
binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan dalam air karena oksigen yang terlarut dalam air akan
habis dipakai untuk dekomposisi aerobik dari zat-zat organik yang banyak terkandung dalam air
buangan.
Pencemaran yang tidak disebabkan oleh sifat racun dari bahan-bahan pencemar adalah :
1. Kandungan lumpur yang meningkat di dalam air mengurangi jumlah cahaya yang masuk

yang diperlukan untuk berfotosintesis. Unsur hara yang masuk berlebihan ke ekosistem
perairan dapat menyebabkan pertumbuhan yang sangat cepat dari algae atau tanaman air,
sehingga menyebabkan berkurangnya bentuk kehidupan lainnya seperti ikan dan kerangkerangan.
2. Buangan air panas meskipun tidak langsung membunuh biota air, dapat merubah kondisi

dari lingkungan hidupnya. Akibatnya, satu jenis akan tumbuh dan berkembang lebih
cepat sedang yang lain justru dapat terhambat. Kelakuan ikan yang selalu berpindah

(migration) dapat berubah disebabkan adanya perubahan suhu yang relatif cepat pada
jarak yang pendek.
3. Lumpur erosi sebagai akibat pengelolaan tanah yang kurang baik dapat diendapkan di

pantai-pantai dan mematikan kehidupan karang atau merusak tempat berpijak biota
perairan.
12
BAB III
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR SUNGAI
A. Pencegahan Pencemaran Sungai

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah pencemaran
sungai :
1.

Penggunaan detergen secukupnya,

2. Tidak mebuang sampah ke sungai


3.

Penggunaan pupuk dan pestisida secukupnya,

4.

Setiap industri atau pabrik menyediakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL),

5.

Reboisasi

6.

Pengomposan sampah organik,

7.

Pendaurulangan sampah anorganik.

B. Penanggulangan Pencemaran Air Sungai


Pengendalian/penanggulangan pencemaran air di Indonesia telah diatur melalui Peraturan
Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran
Air. Secara umum hal ini meliputi pencemaran air baik oleh instansi ataupun non-instansi. Salah
satu upaya serius yang telah dilakukan Pemerintah dalam pengendalian pencemaran air adalah
melalui Program Kali Bersih (PROKASIH). Program ini merupakan upaya untuk menurunkan
beban limbah cair khususnya yang berasal dari kegiatan usaha skala menengah dan besar, serta
dilakukan secara bertahap untuk mengendalikan beban pencemaran dari sumber-sumber lainnya.
Program ini juga berusaha untuk menata pemukiman di bantaran sungai dengan melibatkan
masyarakat setempat (KLH, 2004

Pada prinsipnya ada 2 (dua) usaha untuk menanggulangi pencemaran, yaitu


penanggulangan secara non-teknis dan secara teknis. Penanggulangan secara non-teknis yaitu
suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara menciptakan peraturan
perundangan yang dapat merencanakan, mengatur dan mengawasi segala macam bentuk
kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak terjadi pencemaran.
13
Peraturan perundangan ini hendaknya dapat memberikan gambaran secara jelas tentang
kegiatan industri yang akan dilaksanakan, misalnya meliputi AMDAL, pengaturan dan
pengawasan kegiatan dan menanamkan perilaku disiplin. Sedangkan penanggulangan secara
teknis bersumber pada perlakuan industri terhadap perlakuan buangannya, misalnya dengan
mengubah proses, mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat mengurangi
pencemaran. Sebenarnya penanggulangan pencemaran air dapat dimulai dari diri kita sendiri.
Dalam keseharian, kita dapat mengurangi pencemaran air dengan cara mengurangi produksi
sampah (minimize) yang kita hasilkan setiap hari. Selain itu, kita dapat pula mendaur ulang
(recycle) dan mendaur pakai (reuse) sampah tersebut. Kitapun perlu memperhatikan bahan kimia
yang kita buang dari rumah kita. Karena saat ini kita telah menjadi masyarakat kimia, yang
menggunakan ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak,
membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya. Kita harus bertanggung jawab
terhadap berbagai sampah seperti makanan dalam kemasan kaleng, minuman dalam botol dan
sebagainya, yang memuat unsur pewarna pada kemasannya dan kemudian terserap oleh air tanah
pada tempat pembuangan akhir. Bahkan pilihan kita untuk bermobil atau berjalan kaki, turut
menyumbangkan emisi asam atu hidrokarbon ke dalam atmosfir yang akhirnya berdampak pada
siklus air alam.
Menjadi konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana.
Sebagai contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi, apakah nantinya akan menjadi sumber
bencana yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun atau degradable (dapat didegradasi
alam)? Apakah barang yang kita konsumsi nantinya dapat meracuni manusia, hewan, dan
tumbuhan aman bagi makhluk hidup dan lingkungan ? Teknologi dapat kita gunakan untuk
mengatasi pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah, yang

dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun dari air yang
tercemar. Dari segi kebijakan atau peraturanpun mengenai pencemaran air ini telah ada. Bila kita
ingin benar-benar hal tersebut dapat dilaksanakan, maka penegakan hukumnya harus
dilaksanakan pula.

14

BAB IV
PENUTUP
SIMPULAN
Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang banyak
sehingga perlu dilindungi agar dapat bermanfaat bagi hidup dan kehidupan manusia serta
makhluk hidup lainnya. Perlu upaya pelestarian dan pengendalian air, untuk menjaga
kualitas air atau mencapai kualitas air sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan
sesuai dengan tingkat mutu air yang dikehendaki.
SARAN
Untuk semua masyarakat Indonesia jagalah sungai kita jangan kotorinya dengan
sampah-sampah yang menyumbat nya,buanglah sampah pada tempatnya agar tidak
terjadi pencemaran air.

15

DAFTAR PUSTAKA

Wardhana, W.A. (2001). Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Andi.


Mulia, R.M. (2005). Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sastrawijaya, A.T (2000). Pencemaran Lingkungan. Jakarta: Rineka Cipta.
Kristanto, Philip. (2002). Ekolgi Industri. Jogjakarta: Andi

16