Anda di halaman 1dari 19

BAB

IV

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REVITALISASI


KEPEMIMPINANMELALUI REVOLUSI MENTAL
GUNA MEMBAWA PERUBAHAN BUDAYA POLRI
Tugas

Pokok

Polri adalah

memelihara

keamanan

dan

ketertiban masyarakat, memberikan perlindungan, pengayoman


dan pelayanan masyarakat serta menegakan
akan

bermuara

pada

hukum yang

pelayanan Polri kepada masyarakat.

Keberhasilan Polri dalam pelaksanaan tugas tentunya sangat


tergantung

pada

tingkat

kepuasan

masyarakat

terhadap

pelayanan yang diberikan yang membentuk image

positif

sehingga

(trust)

akan

masyarakat
terhadap

menentukan

serta

besar

program,

tingkat

kecilnya

kebijakan

kepercayaan

partisipasi

dan

kegiatan

masyarakat
Polri

untuk

membawa perubahan budaya Polri menjadi Paradigma Baru


Polri yaitu

Polisi Sipil (civilian police) yang dekat dengan

masyarakat20

dapat

terwujud

ehingga

agenda

pemerintah

dalam Nawacita dan kebijakan Kapolri dalam program prioritas


Kapolri dapat terimplementasi dengan baik.
Tantangan bagi Polri dengan gencarnya tanggapan, kritikan
dan celaan yang ditujukan kepada Polri ketika kinerjanya
diragukan dan tidak sesuai dengan harapan masyarakat bahkan
terjadinya tindakan tidak terpuji telah menyudutkan Polri dan
menyebabkan
masyarakat.

rendahnya
Oleh

kepercayaan

karenanya,

Polri

serta

senantiasa

partisipasi
berusaha

melakukan perubahan ke arah yang lebih baik yang salah


satunya sebagai penggerak revolusi mental dengan menyentuh
hal yang mendasar menyangkut masalah moral, sikap dan
perilaku

anggota

yang

masih
liar dan

sering

ditemukan

mangkir

dari tugas

adanya

kekerasan,

pungutan

serta

rendahnya

profesionalisme kinerja Polri 21 yang menyebabkan

rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Dalam


rangka

terbangunnya

kepercayaan
48

masyarakat

dan

49

meruntuhkan "mitos" bahwa Polri sebagai


20

Chaeruddin Ismail, Polisi Sipil dan Paradigma Baru Polri, PT.


Merlyn Lestari, Jakarta :2008 .
21
Basuki, Teori dan Aplikasi Etika Profesi Polri, Naskah Ceramah I
Kuliah Peserta Sespimmen Polri Dikreg Ke-55 T.A. 2015, Lembang :
2015.

institusi dan individu tidak dapat dipercaya, di Polres Cianjur telah


diterapkan program, kebijakan dan strategi proaktif Kapolres
Cianjur

dalam

rangka

meningkatkan

soliditas

internal

kesatuannya dengan mengembangkan nilai sigap, amanah, netral,


tegas dan ulet serta normatif yang dituangkan dalam gagasannya
SANTUN"22 , yaitu :
"Sigap, dituntut untuk cepat tanggap terkait dengan
perkembangan situasi, kemudian gerak cepat dalam
mengantisipasinya dalam rangka tetap mempertahankan
kondusifitas situasi kamtibmas".
"Amanah, dituntut untuk jujur dan dapat dipercaya dalam
melaksanakan
tugas
sesuai
dengan
tujuan
yang
diharapkan".
"Netral, tidak berpihak atau tidak ada tendensi dalam
melaksanakan tugas sehingga tidak ada masyarakat yang
merasa hak-hak nya dirugikan karena keberpihakan kita
terhadap salah satu kelompok".
"Tegas, tidak ragu-ragu dalam melaksanakan tugas, yang
salah katakan salah yang benar katakan benar''.
"Ulet, dalam melaksanakan tugas tidak mudah putus asa,
terus berjuang dan berusaha untuk mencapai tujuan".
"Normatif, dalam melaksanakan tugas selalu berpegang
pada aturan yang berlaku".
Percepatan program perbaikan internal untuk memberikan
pelayanan kepada masyarakat dengan menambahkan program
kerja yang meliputi internal dan eksternal, dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1.

Program Internal
a.
Siap Penampilan,
penampilan

terdiri

kesatuan.

dari

Untuk

penampilan
memberikan

diri

dan

pelayanan

50

terbaik kepada masyarakat maka anggota Polres Cianjur


harus berpenampilan rapi dan bersih, begitu juga dengan
tempat kerja, ruangan dalam gedung, tulisan I petunjuk I
pengumuman, asrama serta lingkungannya harus tertata
dengan rapi, bersih dan tidak kusam.
b.

Siap Pelayanan, bentuk kesiapan dalam memberikan


pelayanan kepada masyarakat, yaitu :

22

Asep Guntur Rahayu, Sebuah Cita-cita Menuju Polisi Madani, Cianjur : 2015.

51

1)

lnformatif, sebelum masyarakat datang ke Kantor Pospol/


Polsek

Polres diharapkan mereka sudah mengetahui alur

pelayanan yang mereka butuhkan dan syarat apa saja yang


harus

mereka

memberikan

siapkan.

Piket

penjelasan

Satuan

kepada

harus

masyarakat

mampu
yang

memerlukan pelayanan. Dibuat tanda, petunjuk arah, nomor


dan nama ruangan /loket tempat pelayanan.
2)

Terstandar, pelayanan yang diberikan kepada masyarakat


harus

sama dan telah disosialisasikan, menganut sistem

yang datang pertama dilayani terlebih dahulu.


3)

Nyaman, meliputi kenyamanan suasana (senyum, salam,


sapa dan komunikasi ramah) dan kenyamanan lingkungan
(sistem antrian yg jelas, ruang tunggu yang nyaman, fasilitas
yang memadai : tempat duduk, toilet, mushola, air minum,
AC, WiFi, koran, buku bacaan).
c.

Siap

Pengabdian,

tetap

memberikan

pelayanan

kepada masyarakat walaupun jam kerja sudah selesai


dan memberikan pelayanan pertolongan pertama
kepolisian walaupun permasalahan yang dihadapi
masyarakat diluar fungsi teknisnya.
2.
a.

Program Eksternal
Polisi

Sinergi,

membangun

kerjasama

(komunikasi,

koordinasi dan kolaborasi) dengan instansi samping dalam


melaksanakan

tugas

untuk

menciptakan

situasi

Kamtibmas yang kondusif.


b.

Polisi Religi, tiap anggota Polisi bisa menjadi contoh


disekitarnya dalam pelaksanaan ibadah keagamaan. 5
(lima) menit sebelum masuk waktu sholat Dzuhur dan
Ashar

agar

pihak

Polres

memberitahukan

kepada

masyarakat yang sedang berada di tempat pelayanan


pada

lingkungan

Polres

Cianjur

untuk

menunaikan ibadah. Melakukan komunikasi,

dipersilahkan

52

53

koordinasi
ustadz,

dan

Da'i,

keagamaan

kolaborasi
Pastor

agar

dengan

dan

penceramah,

pemimpin

menyisipkan

pesan

kelompok
Kamtibmas

dalam setiap ceramah keagamaanya.


c.

Polisi Peduli, meliputi :


1)

Peduli pendidikan, dengan menjadi pembina upacara


disekolah, meminta waktu untuk memberikan materi
kepada para siswa mulai dari tingkat SO, SMP, SMU dan
Perguruan Tinggi.

2)

Peduli lingkungan, melaksanakan kerjabakti kebersihan


di lingkungan masyarakat minimal sebulan sekali.

3)

Peduli

pembangunan

desa

terpencil,

melakukan

inventarisasi bangunan sekolah, jembatan dan sarana


lain

yang

sangat

dibutuhkan

masyarakat

untuk

difasilitasi pengajuan perbaikannya kepada pihak yang


berkompeten.
Penulis

mengidentifikasikan

dengan

adanya

pengaruh

lingkungan strategis yang menurut Haiti (2015) pada saat uji


kelayakan dan kepatutan di DPR-RI melalui Renstra Polri 2015 2019 yaitu terbangunnya kerjasama dalam negeri dan luar negeri
dalam

rangka

sinergi

polisional.

Disamping

itu,

penulis

menggunakan Teori Analisis SWOT sebagai pisau analisis terhadap


faktor yang mempengaruhi berupa

kekuatan

(strenghts),

kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities) dan kendala


(threats)23, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
22.

Pengaruh Lingkungan Strategis


Kepemimpinan melalui revolusi mental pada Polres
Cianjur telah menjadi dasar untuk melakukan reformasi
budaya

kerja

agar

terwujudnya

Kepolisian selaras dengan tujuan

pelayanan

prima

54
23

Setyo Riyanto, Ana/isis SWOT, Naskah Ceramah kepada Peserta Didik


Sespimmen Polri Dikreg ke-55 T.A. 2015, Lembang: 2015.

55

pencapaian polisi sipil yang dipengaruhi oleh lingkungan


strategis baik pengaruh global, regional dan nasional,
sebagai berikut :
a.

Lingkungan Global
Pengaruh

lingkungan

global

menurut

Chaeruddin (2006) dapat dilihat dari Code of Conduct


for Law Enforcement Official PBB yang mensyaratkan
polisi sipil juga harus memiliki sikap dan perilaku yang
berlandaskan nilai-nilai inti (core values) sebagai
berikut :
1)

lntegritas pribadi (Integrity), adalah nilai sentral yang


menampilkan ketaatan yang tak terselewengkan terhadap
nilai inti lainnya. Nilai ini menuntut adanya disiplin pribadi
yang konsisten sebagai pondasi penegakan hukum dalam
masyarakat
bertanggung

demokratis
jawab

yang

atas

mengharuskan

kepercayaan

Polri

masyarakat

kepadanya.
2)

Kewajaran dan Keadilan (Fairness), adalah nilai yang


terbebas dari prasangka dan bersifat netral sebagai
landasan Polisi yang egaliter yang menuntut Polri agar
memperlakukan

semua

saksi,

korban

dan

tersangka

secara adil, wajar tanpa pengaruh kepentingan pribadi.


3)

Rasa Hormat (Respect), adalah nilai kebanggaan nasional,


penghargaan

yang

tinggi

kepada

warga

masyarakat, konstitusi dan kekuasaan serta kewenangan


jabatan pemerintahan.
4)

Kejujuran (Honesty), adalah nilai yang memperkokoh


integritas seseorang yang dapat dipercaya, tutus hati dan
sesuai

fakta

dan

pengalaman

yang

ada.

Perbuatan

berbohong, menipu dan tidak berpenampilan

layak

merupakan hal yang tidak pantas bagi profesi Kepolisian.

56

5)

Keberanian dan Keteguhan (Courage), adalah nilai yang


harus dimiliki untuk melindungi jiwa, harta benda dan
berpihak kepada kebenaran.

6)

Welas Asih (Compassion), adalah nilai yang mendorong


pemeliharaan ketertiban tanpa mengusik warga, rendah
hati dan memahami perasaan orang (empai) serta sikap
suka menolong sesama.
b.

Lingkungan Regional
Pengaruh lingkungan regional dapat dilihat dari
upaya negara-negara dalam keanggotaan Association
of South East Asian Nations (ASEAN), misalnya negara
Singapura yang telah menciptakan ketertiban dan
keteraturan di tengah masyarakat. Hal ini selaras
dengan

Nawacita

yang

mencontohkan

negara

Singapura secara konsisten dan terukur mampu


menciptakan ketertiban dan keteraturan sehingga
pelayanan

terhadap

masyarakat

dapat

diimplementasikan dengan baik.


Dalam
Indonesia

lingkungan
sangat

regional,

strategis

yang

posisi

negara

berpengaruh

terhadap perkembangan bagi negara ASEAN sehingga


pentingnya perubahan budaya dalam revolusi mental
sangat berpengaruh untuk menghadapi tantangan
pemberlakuan

Asean

Economic

Community

(Masyarakat Ekonomi ASEAN -MEA).


b.

Lingkungan Nasional
Pengaruh lingkungan nasional melalui revolusi
mental dalam perubahan budaya kerja birokrasi
selain sebagai harapan dan tuntutan masyarakat juga
merupakan sasaran prioritas Presiden Joko Widodo
dengan

slogan

mengharuskan Polri

"ayo
melakukan

kerja...kerja...kerja
tahapan

untuk

57

mencapai

sasaran Kabinet

kerja

dengan

mengakselerasi

program Nawacita kedalam kebijakan dan program


prioritas Kapolri.
Polres Cianjur telah melakukan beberapa upaya dan
terobosan kreatif dalam kerangka pencapaian visi dan misi
Kapolri

untuk

beberapa

mewujudkan

perubahan

pola

pelayanan

prima

kepemimpinan

melalui
sebagai

penggerak revolusi mental berdasarkan wawancara dan


pemberian

quisioner

dengan

responden

intelnal

dan

eksternal yang dilaksanakan 3 (tiga) kali oleh penulis di


Polres Cianjur pada hari Sabtu 11 Juli 2015, Kamis 23
Juli 2015 dan Jumat 21 Agustus 2015 dengan hasil bahwa
kepemimpinan dapat dicontohkan pada tindakan pimpinan
Polres Cianjur yang telah melakukan penjabaran Nawacita
dan 11 program prioritas Kapolri dengan kesimpulan :
"1. Kapolres telah mengetahui adanya kekurangan
sumber daya di Polresnya, tetapi berupaya
mengoptimalkan dengan cara menyatukan anggota
yang menyesuaikan karakter di Cianjur; 2. Memiliki
konsep "memanusiakan anggota" dan mengikis
militeristik di Polres; 3. Masyarakat Cianjur melihat
Polri merupakan elite dan bukan bagian dari
masyarakat; 4. Konsep kepemimpinan seperti
"piramida terbalik", yaitu dari bawah pimpinan
melayani anggota, sehingga anggota dapat melayani
masyarakat; 5. Seorang pemimpin harus memahami
3 (tiga) hal, yaitu : Mampu menembus bumi (dalami
keinginan anggota}, berjalan di atas air (mampu
berjalan diatas keanekaragaman anggota dan
masyarakat dan tidak tenggelam ke salah satu pihak)
dan dapat terbang (memiliki cita-cita untuk

58

membawa anggota ke arah yang lebih maju); 6.


Keterbukaan merupakan keharusan; 7. Adanya jarak
dan barrier antara pimpinan dan anggota, maka
diambil solusi : pimpinan yang harus mendekat, tidak
mau dipanggil komandan (dapat dipanggil "akang"),
anggota secara bergantian masuk ke ruang Kapolres,
kurang
ketauladanan
(Kapolres
mendahului
membersihkan sesuatu untuk memberikan contoh
kepada anggota agar diikuti secara sadar); 8. Polri
agak tertutup secara umum terhadap media, maka
masyarakat tidak banyak tau tentang keberhasilan
dan pelayanan Polri; 9. Polri dianggap gagap
intelektual; 10. Kapolres memiliki program "SANTUN"
dalam arti "Sigap, Amanah, Netral, Tegas, Ulet dan
Normatif

59

Untuk mengidentifikasi dan menganalisa berbagai


gejala dalam revitalisasi kepemimpinan melalui revolusi
mental oleh Kapolres tidaklah mudah, perlu adanya suatu
pendekatan atau metode dengan memperhatikan faktor
lingkungan seperti dibawah ini :
23.

Faktor Internal
Sesuai dengan teori analisis SWOT, yang menjadi
objek analisis dari faktor internal adalah faktor yang berasal
dari dalam organisasi berupa kekuatan (strengths) dan
kelemahan (weaknesses), yaitu :
a.
1)

Kekuatan (Strenghts)
Adanya program prioritas Kapolri terkait Visi Polri,
yaitu : Pertama, memperkuat soliditas internal melalui
internalisasi kecintaan pada organisasi, commander
wish dan komunikasi terbuka antar pimpinan dengan
pimpinan

dan

pimpinan

implementasi pembinaan

dengan

perumusan indikator

quick

wins

terdistribusikannya
dalam

buku

SANTUN sebagai

serta

karir sistem meritokrasi;

Kedua,

antara

bawahan

keberhasilan program

lain

"tersusun

dan

panduan

Polres Cianjur

penggerak

revolusi mental

dan tertib sosial di ruang publik.


2)

Komitmen

Kapolres

kepemimpinan

untuk

melalui

revolusi

mengedepankan
mental

yang

berorientasi pada pelayanan (servant leadership), yang


dapat

dilihat

dari

komitmen

Kapolres

dalam

mewujudkan pelayanan prima dengan menjabarkan


Nawacita

poin ke-1 "Menghadirkan kembali negara

untuk melindungi

dan memberikan rasa aman pada

seluruh warga negara" yang telah dituangkan dalam


kebijakan pimpinan Polri yaitu Renstra

2015- 2019,

Renja 2015 dan 11 program prioritas Kapolri dalam

60

bentuk
dilaksanakan dengan mengubah

komitmen yang telah

56

pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture


set)

melalui

pelatihan

Neuro

Associative

Conditioning (NAG) bagi personel dan dibuatkan


buku

saku

sebagai

pedoman

bagi

seluruh

personel.
3)

Lnternalisasi

tampilan

mengaplikasikan
leadership),

kepemimpinan

pimpinan

sebagai

yang

konsultan

melayani
dalam

dengan
(servant

memecahkan

masalah (solutif) dan menjamin kualitas kinerja anggota


dan kesatuan (quality insurance).
4)

Adanya

Hubungan

Tata

Cara

Kerja

(HTCK)

yang

dilakukan oleh Kapolres dalam mengaplikasikan program


unggulan "SANTUN" dengan meningkatkan koordinasi
antar fungsi dan dilaksanakannya setiap saat Anev serta
dibentuknya

Tim Pokja

dalam pelaksanaan program

unggulan.
5)

Dukungan personil Polres dalam menjabarkan visi dan misi


serta

kebijakan

Kapolres

guna

mendukung keberhasilan

pelaksanaan tugas fungsi masing-masing yang berawal dari


komitmen

Kapolres

terhadap pencapaian

program

Polres

Cianjur. Hal ini dapat dilihat dari pendapat Kapolsek jajaran


PoIres Cianjur24 bahwa :

"Kapolres
memberi
tauladan
nyata
terhadap bawahan dan stafnya serta
personel lainnya diberikan
pelatihan
budaya kerja dan pola pikir. Adapun
dukungan personil terhadap Kapolres
Cianjur dalam revitalisasi kepemimpinan
melalui
revolusi
mental
diwujudkan
melalui kinerja profesional, melaksanakan
tugas dengan penuh rasa tanggung
jawab , bekerja dengan rasa disiplin dan
dedikasi tinggi demi kemajuan organisasi,
menerapkan SOP sebagai acuan kegiatan
utama untuk melakukan inovasi yang

57

selaras".
Penelitian Kedua, Hasi/ Wawancara dan Quisioner Internal, Polres
Cianjur : 23 Juli 2015.
24

58

a.
1)

Kelemahan (Weaknesses)

Masih ditemukan personil yang belum memahami program


Kapolres sehingga berdampak pada pelayanan yang dilakukan
personil terhadap masyarakat.

2)

Masih ditemukan sikap apatis personil terhadap penjabaran


program Kapolres.

3)

Kurangnya komunikasi yang efektif antara atasan dan bawahan


untuk menggali penjabaran kebijakan pimpinan, yang hanya
dilakukan melalui perwira stat saja.

4)

Kurangnya

pemahaman

kepemimpinan

melalui

personel
revolusi

terhadap

mental

implementasi

yang

efektif

guna

menunjang keberhasilan Polres.


5)

Personil kurang memahami langkah


Kapolres
pengorganisasian,
mewujudkan

melalui

pelaksanaan

pelayanan

prima

strategis

yang dilakukan

mekanime

perencanaan,

dan

pengendalian

melaui

perubahan

dalam
budaya

pelayanan.
24.

Faktor Eksternal
Yang menjadi objek analisis dari faktor eksternal adalah
faktor faktor yang berasal dari luar organisasi berupa peluang
(opportunities) dan kendala / ancaman (threats), yaitu :
a.
1)

Peluang (Opportunities)
Adanya

dukungan

pemerintah

pusat

dan

pemerintah

daerah Kabupaten Cianjur untuk mewujudnya pelayanan


prima

sesuai dengan yang dikemukan oleh Sekretaris

Badan Kesbangpol Kabupaten Cianjur, Dr. Drs. H. Dadan


Akhmad Muharam , AMd, MM25 bahwa :
25

Penelitian Ketiga, Hasil Wawancara dan Quisioner Ekstemal, Polres


Cianjur : 21 Agustus 2015.

59

"Telah terbangun sinergitas antara Pemkab


dengan Polres dalam mewujudkan Polri yang
berorientasi pada kualitas kinerja dan
perubahan budaya pelayanan dengan upaya
Polres yang telah banyak dirasakan di
lingkungan SKPD dan masyarakat desa,
kelurahan dan kecamatan. Di samping itu
telah dikoordinasikan dengan Pemda setiap
program kebijakan Kapolres melalui rapat
koordinasi. (Rakor) dalam forum komunikasi
pimpinan daerah (Forkominda) ataupun secara
langsung kepada pimpinan daerah".

2)

Meningkatnya dukungan instansi samping yaitu TNI dan


intansi terkait yaitu Kejaksaan dalam pelaksanaan kinerja
Polres

sehingga

diharapkan

eksistensi

tugas

pokok

kepolisian dapat terwujud secara utuh dan mandiri serta


profesional dan proporsional. Sesuai dengan wawancara
dan hasil quisioner Pasiops Kodim 0608/CJR, Kampten
Armed Lagimin dan Babinsa Sertu Sugiharto, yaitu :
"Sinergitas Polres dengan TNI, khususnya
Kodim cukup bagus dan kondusif dari unsur
pimpinan sampai dengan bawahan. Tindakan
proaktif yang dilakukan Polres cukup berkesan
dalam rangka meningkatkan kamtibmas
dengan melaksanakan patroli bersama dan
kegiatan anjang sana bersama masyarakat".
Demikian juga dengan Kejaksaan Negeri Cianjur,
yang disampaikan Jaksa Muda Agatha C. Wangge,
S.H, bahwa "Secara internal penyidik sudah bisa
berkoordinasi secara baik dengan Kejari".
3)

Berkembangnya
dimanfaatkan
publik.

informasi

untuk

dan

teknologi

meningkatkan

yang

kualitas

dapat

pelayanan

60

4)

Adanya peran media massa

yang

mampu

memberikan

informasi kepada masyarakat tentang keberhasilan dan


adanya perubahan budaya Polri kearah yang lebih baik.
5)

Adanya tuntutan masyarakat terhadap Polri untuk hadir


secara

fisik ditengah masyarakat guna menghilangkan

rasa takut
dapat

dan menciptakan rasa aman. Hal ini tentunya

memudahkan tugas Polres dalam melaksanakan

program

kepemimpinan melalui revolusi mental, sesuai

dengan hasil wawancara dan pemberian quisioner tokoh


masyarakat, Guru

Yayasan Pribadi Kamilah SMP Islam

Cendikia Cianjur, Bapak Usep Bunyamin (Kang Ben) :


"Sinergitas yang dibangun Polres sangat baik
dan
bersosialisasi
dengan
masyarakat
sehingga keramahtamahan terwujud. Kualitas
kinerja anggota bagus, kami merasa Polres
sangat ramah dan Kapolresnya membaur
dengan masyarakat".
Selanjutnya menurut tokoh agama, Pengurus DKM Allkhlas, ustad Saepuloh mengatakan:

"Responsif dengan laporan warga sekitar,


membantu warga kami dalam membuat jalan
ke makam umum dan ikut berpartisipasi
dalam pembangunan Mesjid di kampung
kami".
b.
1)

Kendala I Ancaman (Threats)


Kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam
mendukung program kebijakan Kapolres yang disebabkan
belum tersosialiasinya secara optimal program dimaksud.
Sesuai pandangan tokoh masyarakat, Sekretaris lkatan Seni
Marawis Indonesia (ISMI), Agus Anwar terhadap program
Kapolres :
"Pandangan tokoh masyarakat secara umum
baik, mungkin karena adanya sosialisasi yang
kurang tepat sehingga ada juga yang
berpendapat kurang baik".

61

2)

Adanya institusi lain yang berupaya mengambil

alih

kewenangan Polri terkait pelayanan publik.


3)

Masih

kurangnya

kepercayaan

masyarakat

terhadap

kemampuan SDM personel Polres yang disebabkan masih


adanya penyimpangan yang dilakukan.
4)

Adanya

intervensi dari elit politik di daerah yang dapat

mempengaruhi independensi Kepolisian termasuk Kapolres


dalam melaksanakan tugas pokoknya.
5)

Masih adanya sikap acuh tak acuh masyarakat dalam


menjaga keamanan diri sendiri maupun lingkungan yang
beranggapan bahwa tugas pengamanan ada berada di
polisi saja.

24 .