Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. DEFINISI
Fraktur humerus adalah diskontinuitas atau hilangnya struktur dari tulang
humerus yang terbagi atas : (Rasjad C, 2007)
1. Fraktur Collum Humerus
2. Fraktur Batang Humerus
3. Fraktur Suprakondiler Humerus
4. Fraktur Interkondiler Humerus
2.2. ANATOMI
Humerus atau tulang pangkal lengan ada sepasang dan berbentuk tulang
panjang dan terletak pada brachium. Humerus berartikulasi dengan scapula di
proksimal dan dengan radius ulna di distal. Humerus dapat dibagi menjadi 3
bagian, yaitu proksimal humeri, shaft humeri dan distal humeri (Santoso M.W.A,
2002).
Proksimal humeri
Pada proksimal humeri, terdapat caput humeri yang setengah bulat dan
dilapisi oleh tulang rawan. Caput humeri merupakan bagian humerus yang
berartikulasi dengan kavitas glenoidalis yang merupakan bagian scapula. Arah
caput humeri serong mediosuperior dan sedikit posterior. Caput humeri
dipisahkan dengan struktur di bawahnya oleh collum anatomicum (Santoso
M.W.A, 2002).
Didapatkan dua tonjolan tulang yang disebut tuberculum majus dan
tuberculum minor. Tuberculum majus mengarah ke lateral dan melanjutkan diri ke
distal sebagai crista tuberculi majoris. Tuberculum minor mengarah ke anterior
dan melanjutkan diri sebagai crista tuberculi minoris. Di antara kedua tuberculum
serta crista tuberculi dibentuk sulcus intertubercularis yang dilapisi tulang rawan
dan dilalui tendon caput longum m. bicipitis (Santoso M.W.A, 2002).
Shaft humeri

10

Shaft humeri memiliki penampang melintang berbentuk segitiga.


Permukaan shaft humeri dapat dibagi menjadi facies anterior medialis, facies
anterior lateralis dan facies posterior. Pertemuan facies anterior medialis dengan
facies posterior membentuk margo medialis. Margo medialis ke arah distal makin
menonjol dan tajam sebagai crista supracondilaris medialis. Pertemuan facies
anterior lateralis dengan facies posterior membentuk margo lateralis. Margo
lateralis ini juga ke arah distal makin menonjol dan tajam sebagai crista
supracondilaris lateralis (Santoso M.W.A, 2002).
Dipertengahan sedikit proksimal facies anterior lateralis didapatkan
tuberositas deltoidea. Di posterior dari tuberositas deltoidea dan di facies posterior
humeri didapatkan sulcus nervi radialis (sulcus spiralis) yang berjalan
superomedial ke inferolateral. Foramen nutricium didapatkan dekat margo
medialis dan merupakan lubang masuk ke canalis nutricium yang mengarah ke
distal (Santoso M.W.A, 2002).
Distal humeri
Distal humeri lebih tipis dan lebar dibandingkan dengan shaft humeri.
Margo medialis yang melanjutkan diri sebagai crista supracondilaris medialis
berakhir sebagai epicondilus medialis. Demikian pula margo lateralis yang
melanjutkan diri sebagai crista supracondilaris lateralis berakhir sebagai
epicondilus lateralis. Epicondilus medialis lebih menonjol dibandingkan
epicondilus lateralis serta di permukaan posterior epicondilus medialis didapatkan
sulcus nervi ulnaris (Santoso M.W.A, 2002).
Diantara kedua epicondilus didapatkan struktur yang dilapisi tulang rawan
untuk artikulasi dengan tulang-tulang antebrachii. Struktur ini mempunyai sumbu
yang sedikit serong terhadap sumbu panjang shaft humeri. Struktur ini disebut
trochlea humeri di medial dan capitulum humeri di lateral. Trochlea humeri
dilapisi oleh tulang rawan yang melingkar dari permukaan anterior sampai
permukaan posterior dan berartikulasi dengan ulna. Di proksimal trochlea baik di
permukaan anterior maupun di permukaan posterior didapatkan lekukan sehingga
tulang menjadi sangat tipis. Dipermukaan anterior disebut fossa coronoidea dan di
permukaan posterior disebut fossa olecrani (Santoso M.W.A, 2002).

11

Capitulum humeri lebih kecil dibandingkan trochlea humeri, dilapisi


tulang rawan setengah bulatan dan tidak mencapai permukaan posterior.
Capitulum humeri berartikulasi dengan radius. Di permukaan anterior capitulum
humeri didapatkan fossa radialis (Santoso M.W.A, 2002).
Otot-otot yang berhubungan dengan pergerakan dari tulang humerus
meliputi mm. biceps brachii, coracobrachialis, brachialis dan triceps brachii.
Selain itu humerus juga sebagai tempat insersi mm. latissimus dorsi, deltoideus,
pectoralis mayor, teres mayor, teres minor, subscapularis dan tendon insersio mm.
supraspinatus dan infraspinatus (Santoso M.W.A, 2002).
M. Latissimus Dorsi
Otot ini besar dan berbentuk segitia. Batas posterior trigonum lumbale
dibentuk oleh m. latissimus dorsi. Bersama m. teres mayor, otot ini membentuk
plica axillaris posterior, serta ikut membentuk dinding posterior fossa axillaris.
Otot ini berorigo pada processi spinosi vertebrae thoracales VII sacrales V dan
crista iliaca. Dan berinsersi pada sulcus intertubercularis humeri. Otot ini
berfungsi untuk ekstensi, adduksi dan endorotasi pada artikulasi humeri (Santoso
M.W.A, 2002).
M. Deltoideus
Otot yang tebal dan letaknya superficial ini berorigo di tepi anterior dan
permukaan superior sepertiga bagian lateral clavicula, tepi lateral permukaan
superior acromion, serta tepi inferior spina scapulae. Insersi pada tuberositas
deltoidea humeri. Otot ini diinervasi oleh n. axillaris. Otot ini berfungsi untuk
abduksi artikulasi humeri, bagian anterior untuk fleksi dan endorotasi artikulasi
humeri, sedang bagian posterior untuk ekstensi dan eksorotasi artikulasi humeri
(Santoso M.W.A, 2002).
M. Supraspinatus
Bagian medial fossa supraspinatus merupakan origo otot ini dan insersinya
di tuberculum majus humeri. Otot ini mendapat inervasi dari n. suprascapularis.
Otot ini berfungsi untuk abduksi artikulasi humeri. Otot ini bersama mm.
12

infraspinatus, teres minor et subscapularis membentuk rotator cuff, yang berfungsi


mempertahankan caput humeri tetap pada tempatnya dan mencegahnya tertarik
oleh m. deltoideus menuju acromion (Santoso M.W.A, 2002).
M. Infraspinatus
Mm. deltoideus et trapezius berada di superficial dari sebagian otot ini.
Origonya di dua pertiga bagian medial fossa infraspinatus dan permukaan inferior
spina scapulae. Tendo insersinya juga menyatu dengan capsul artikulasi humeri
dan berinsersi pada tuberculum majus humeri. Otot ini diinervasi oleh n.
suprascapularis. Otot ini berfungsi untuk eksorotasi artikulasi humeri. Bagian
superior untuk abduksi dan bagian inferior untuk adduksi artikulasi humeri
(Santoso M.W.A, 2002).
M. Subscapularis
Otot ini membentuk dinding posterior fossa axillaris. Origonya di fossa
subscapularis. Tendo insersinya berjalan di anterior dan melekat pada capsula
artikulasi humeri serta tuberculum minor humeri. Otot ini diinervasi oleh n.
subscapularis. Otot ini berfungsi untuk endorotasi artikulasi humeri (Santoso
M.W.A, 2002).
M. Teres Minor
Otot ini mungkin sulit dipisahkan dengan m. infraspinatus. Otot ini
berorigo pada tepi lateral fossa infraspinata dan tendo insersinya mula-mula
melekat pada capsula articularis humeri, kemudian melekat pada tuberculum
minor humeri. Otot ini diinervasi oleh n. axillaris. Otot ini berfungsi untuk
eksorotasi artikulasi humeri (Santoso M.W.A, 2002).

M. Teres Mayor
Otot ini berorigo di facies dorsalis scapulae dekat angulus inferior.
Berinsersi di labium medial sulcus intertubercularis humeri di inferior dari tempat
insersi m. subscapularis. Inervasi otot ini berasal dari n. subscapularis. Bersama

13

m. latissimus dorsi, otot ini berfungsi untuk adduksi artikulasi (Santoso M.W.A,
2002).
M. Biceps Brachii
Otot yang berorigo di scapula ini, memiliki dua caput yaitu caput longum
et brevis. Caput brevis berorigo bersama dengan m. coracobrachialis di processus
coracoideus. Sedang caput longum berorigo di tuberositas supraglenoidalis.
Ketika melalui sulcus intertubercularis humeri, tendo origonya di fiksasi oleh
ligamentum transversum humeri. Insersi otot ini pada tuberositas radii. Sebagian
tendo insersinya, sebagai lacertus fibrous, berinsersi di fascia antebrachii dan ulna.
Fungsi caput longum m. biceps brachii untuk fleksi artikulasi humeri et cubiti,
sedangkan caput brevisnya untuk supinasi artikulasi radioulnaris (Santoso M.W.A,
2002).
M. Coracobrachialis
Otot ini berorigo di processus coracoideus. Otot ini ditembuh oleh n.
musculocutaneus dan insersi di sepertiga distal medial humeri. Otot ini berfungsi
untuk fleksi dan adduksi artikulasi humeri (Santoso M.W.A, 2002).
M. Brachialis
Otot ini berorigo di dua pertiga distal fascia anteromedial et anterolateral
humeri dan insersi pada capsula artikulasi cubiti, processus coronoideus et
tuberositas ulna. Otot ini berfungsi untuk fleksi artikulasi cubiti (Santoso M.W.A,
2002).
M. Triceps Brachii
Otot ini berada di regio brachii dorsalis. Otot ini memiliki tiga caput dan
tersusun dalam dua lapisan. Caput longum et lateralis menempati lapisan
superficial, sedang caput medial menempati lapisan profundus. Caput longumnya
berorigo pada tuberositas infraglenoidalis. Dalam perjalanannya ke inferior, caput
ini memisahkan hiatus axillaris medialis dari hiatus axillaris lateralis. Origo lateral
et medial dipisahkan oleh sulcus n. radialis humeri. Caput lateral berorigo di

14

facies posterior humeri di superior dari sulcus ini, sedang caput medial berorigo di
inferiornya. Insersinya di bagian posterior permukaan superior olecranon, fascia
antebrachii dan capsula articularis cubiti. Inervasi otot ini berasal dari n. radialis.
Fungsi dari caput longum m. triceps brachii untuk ekstensi dan adduksi
artikulasi humeri, sedangkan caput lateral et medial untuk ekstensi artikulasi
cubiti (Santoso M.W.A, 2002).
Persarafan yang berjalan pada regio brachii adalah saraf axillaris, medianus dan
ulnaris
N. Axillaris (C5-C6)
Awalnya saraf ini berjalan sejajar dengan n. radialis. Setinggi inferior m.
subscapularis memisahkan diri dari n. radialis dan berada di lateralnya, kemudian
berjalan ke posterior bersama a. circumflexa humeri posterior melewati hiatus
axillaris lateralis. Selanjutnya saraf ini berjalan di inferior dari tepi inferior m.
teres minor dan menginervasinya. Ketika mencapai sisi posteromedial collum
chirurgicum humeri, n axillaris member cabang n. cutaneus brachii lateralis untuk
menginervasi kulit di superficial m. deltoideus. Akhirnya melanjutkan diri ke
anterior sekeliling sisi lateral collum chirurgicum humeri untuk menginervasi m.
deltoideus (Santoso M.W.A, 2002).
N. Musculocutaneus (C5-C7)
Merupakan

cabang

fasciculus

lateralis

pleksus

brachialis.

M.

coracobrachialis ditembus oleh saraf ini. N. musculocutaneus menginervasi otototot fleksor regio brachii (mm. biceps brachii et brachialis), kulit sisi lateral regio
antebrachii dan arilkulasi cubiti. Selanjutnya saraf ini muncul di lateral dari m.
biceps brachii sebagai n. cutaneus antebrachii lateralis (Santoso M.W.A, 2002).
N. Medianus (C5-T1)
Di sisi anterolateral dari a. axillaris, saraf ini terbentuk dari pertemuan
radiks lateralisnya yang merupakan cabang fasciculus lateralis plexus brachialis
dan radiks medialis, yang merupakan cabang fasciculus medialis plexus

15

brachialis. Selanjutnya berjalan bersama a. axillaris dan lanjutannya, yaitu a.


brachialis. Saraf ini menyilang di anterior a. brachialis untuk berada di medial dari
arteri ini di dalam fossa cubiti. N. medianus bersama a. brachialis berjalan di
permukaan anterior m. brachialis menuju fossa cubiti (Santoso M.W.A, 2002).
N. Radialis (C5-T1)
Cabang terbesar dari pleksus brachialis ini awalnya berjalan di posterior
dari a. axillaris dan di anterior dari m. subscapularis. Saraf ini menginervasi kulit
di sisi posterior regio brachii, antebrachii et manus, otot-otot ekstensor regio
brachii et antebrachii, artikulasi cubiti dan beberapa artikulasi di regio manus
(Santoso M.W.A, 2002).
N. Ulnaris (C7-T1)
Saraf ini berjalan ke inferior di posteromedial dari a. brachialis, jadi sejajar
dengan n. medianus. Kira-kira di pertengahan region brachii, n. ulnaris menjauhi
a. brachialis dan n. medianus untuk berjalan ke poter oinferior menembus septum
intermusculare medial bersama a. collateralis ulnaris proksimal menuju sisi
medial m. triceps brachii. Akhirnya berada di sisi posterior epicondylus medialis
humeri (Santoso M.W.A, 2002).
Vaskularisasi regio brachii dijelaskan pada bagian berikut:
Arteri brachialis merupakan lanjutan a. axillaris, dimulai dari tepi inferior
m. teres mayor. Arteri ini melanjutkan diri ke fossa cubiti dan di sini berakhir
sebagai dua cabang terminal, yaitu aa. Ulnaris et radialis. Cabang-cabangnya yang
berada di regio ini adalah aa. Profunda brachii, collaterales ulnares proksimal et
distalis (Santoso M.W.A, 2002).
Arteri profunda brachii berjalan ke posterior bersama n. radialis. Di sini
lateral regio brachii arteri ini berakhir sebagai dua cabang terminalnya, yaitu a.
collateralis radialis, yang berjalan ke anterior bersama n. radialis dan a.
collateralis media, yang menuju sisi posterior epicondylus lateralis humeri
(Santoso M.W.A, 2002).

16

Arteri collateralis ulnaris proksimalis berawal dipertengahan regio brachii


dan berjalan bersama n. ulnaris menuju sisi posterior epicondylus medialis humeri
(Santoso M.W.A, 2002).
Arteri collateralis ulnaris distalis awalnya sedikit di superior dari artikulasi
cubiti dan berjalan di posterior dari n. medianus, kemudian cabang-cabangnya
menuju sisi anterior dan posterior epicondylus medialis humeri. 4 Vena brachialis
mengikuti arterinya dan kira-kira di dua pertiga proksimal regio ini v. basilica
berjalan superficial terhadap a. brachialis (Santoso M.W.A, 2002).

Gambar 3.. (a) Anterior and (b) Posterior Humerus. (c) Humerus dengan tiga
saraf
utama
yaitu
n.
axillaris, n.
radialis and n. ulnaris
diambil
dari Elis Harorld,
2006, Part
3: Upper Limb, The
Bones and
Joint of the Upper
Limbs; In:
Clinical
Anatomy
Eleventh
Edition
(e-book);
Blackwell
Publishing;
Oxford
University;
p 169-170.

17

Gambar 4. Anterior dan Posterior Humerus. Tempat insersi otot-otot berhubungan


dengan pergerakan humerus diambil dari Elis Harorld, 2006, Part 3:
Upper Limb, The Bones and Joint of the Upper Limbs; In: Clinical
Anatomy Eleventh Edition (e-book); Blackwell Publishing; Oxford
University; p 169-170.
2.3. ETIOLOGI
Tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyaki kekuatan dan gaya
pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat terjadi akibat: (1) peristiwa
trauma tunggal; (2) tekanan yang berulang-ulang; (3) kelemahan abnormal
pada tulang (fraktur patologik) (Apley, A. Graham, 1995).
Penyebab Fraktur akibat peristiwa trauma adalah:
1. Trauma langsung: Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada
tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan (Rasjad C, 2007). Pemukulan
(pemukulan sementara) biasanya menyebabkan fraktur melintang dan
kerusakan pada kulit diatasnya. Pengahancuran kemungkinan akan
menyebabkan fraktur kominutif disertai kerusakan jaringan lunak yang luas
(Apley, A. Graham, 1995).
2. Trauma tidak langsung: disebut trauma tidak langsung apabila trauma
dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh
dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula. Pada
keadaan ini biasanya jaringan lunak masih utuh (Rasjad C, 2007). Trauma

18

dapat berupa (1) pemuntiran, yang menyebabkan fraktur spiral; (2)


penekukan, yang menyebabkan fraktur melintang; (3) penekukan dan
penekanan, yang menyebabkan fraktur yang sebagian melintang tetapi
disertai fragmen kupu-kupu berbentuk segitiga terpisah; (4) kombinasi dari
pemuntiran, penekukan dan penekanan, yang menyebabkan fraktur oblik
pendek; atau (5) penerikan, dimana tendon atau ligamen benar-benar
menarik tulang sampai terpisah (Apley, A. Graham, 1995).
Fraktur kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang, seperi halnya pada logam benda lain, akibat
tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia atau
fibula atau metatarsak, terutama pada atlet, penari dan calon tentara yang jalan
berbaris dalam jarak jauh (Apley, A. Graham, 1995).
Fraktur patologik
Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang itu lemah
(misalnya oleh tumor) atau kalau tulang itu sangat rapuh (misalnya pada penyakit
paget) (Apley, A. Graham, 1995).
2.4. PATOFISIOLOGI
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas
untuk menahan tekanan. Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar
dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang
mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi
fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan
jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena
kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan
tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami
nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai dengan
vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian
inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya (Wim de
Jong & Sjamsuhidajat R, 2004)

19

Faktor-faktor yang mempengaruhi fraktur penyembuhan tulang:


1. Faktor intrinsik
Beberapa sifat yang terpenting dari tulang yang menentukan daya tahan
untuk timbulnya fraktur seperti kapasitas absorbsi dari tekanan, elastisitas,
kelelahan (fatigue fracture), dan kepadatan atau kekerasan tulang.
2. Faktor ektrinsik
Adanya tekanan dari luar yang bereaksi pada tulang yang tergantung
terhadap besar, waktu, dan arah tekanan yang dapat menyebabkan fraktur.
2.5. KLASIFIKASI
Berikut klasifikasi fraktur diafisis humerus menurut Ortopaedics Trauma
Association (OTA): (Holmes E.J and Misra R.R, 2004)

Tipe A: fraktur sederhana (simple fracture)


A1: spiral
A2: oblik (>30)
A3: transversal (<30)

Tipe B: fraktur baji (wedge fracture)


B1: spiral wedge
B2: bending wedge
B3: fragmented wedge

Tipe C: fraktur kompleks (complex fracture)


C1: Spiral
C2: Segmental
C3: Ireguler (significant comminution)

20

1. Gambar 5. Tipe A = fraktur sederhana. A1 = fraktur spiral (.1 pada


sepertiga proksimal, .2 pada sepertiga tengah, dan .3 pada sepertiga distal),
A2 = fraktur oblik, A3 = fraktur transversal diambil dari Holmes E.J and
Misra R.R; 2004; Humerus fracture Shaft fracture In: A-Z of Emergency
Radiology (e-book); UK; Cambridge University Press; p 110-111.

2. Gambar 6. Tipe B = fraktur baji (wedge fracture). B1 = fraktur baji spiral


(spiral wedge fracture), B2 = bending wedge fracture, A3 = fragmented wedge
fracture diambil dari Holmes E.J and Misra R.R; 2004; Humerus fracture
Shaft fracture In: A-Z of Emergency Radiology (e-book); UK; Cambridge
University Press; p 110-111.

21

3. Gambar 7. Tipe C = complex fracture. C1 = fraktur spiral kompleks, C2 =


fraktur segmental kompleks, C3 = fraktur ireguler diambil dari Holmes E.J and
Misra R.R; 2004; Humerus fracture Shaft fracture In: A-Z of Emergency
Radiology (e-book); UK; Cambridge University Press; p 110-111.
Berdasarkan arah pergeserannya, fraktur humerus dibagi menjadi;
1. Fraktur sepertiga proksimal humerus
Fraktur yang mengenai proksimal metafisis sampai insersi m. pectoralis
mayor diklasifikasikan sebagai fraktur leher humerus. Fraktur di atas insersi
pectoralis mayor menyebabkan fragmen proksimal abduksi dan eksorotasi
rotator cuff serta distal fragmen bergeser ke arah medial. Fraktur antara
insersi m. pectoralis mayor dan deltoid umumnya terlihat adduksi pada akhir
distal dari proksimal fragmen dengan pergeseran lateral dan proksimal dari
distal fragmen (Kenneth J, dkk, 2002).
2. Fraktur sepertiga tengah dan distal humerus
Jika fraktur terjadi di distal dari insersi deltoid pada sepertiga tengah korpus
humerus, pergeseran ke medial dari fragmen distal dan abduksi dari fragmen
proksimal akan terjadi (Kenneth J, dkk, 2002).

4. Gambar 8. Lokasi fraktur dan arah pergeseran fragmen. (dari kiri ke kanan)
Fraktur diatas insersi pectoralis mayor, fraktur antara insersi pectoralis mayor
dan deltoid, fraktur di bawah insersi deltoid daimbil dari Holmes E.J and Misra
R.R; 2004; Humerus fracture Shaft fracture In: A-Z of Emergency Radiology
(e-book); UK; Cambridge University Press; p 110-111.
22

Secara ringkas dapat penjelasan posisi fragmen fraktur dapat dilihat pada table 2.1
berikut (Kenneth J, dkk, 2002):
Tabel 8. Tabel posisi fragmen fraktur (Kenneth J, dkk, 2002):
Lokasi fraktur

Fragmen proksimal

Fragmen distal

Diatas insersi
pectoralis mayor

Abduksi, eksorotasi oleh


rotator cuff

Medial, proksimal oleh


deltoideus dan pectoralis
mayor

Antara pectoralis
mayor dan
tuberositas
deltoideus

Medial oleh pectoralis,


teres mayor dan
latissimus dorsi

Lateral, proksimal oleh


deltoideus

Distal tuberositas
deltoideus

Abduksi oleh deltoideus

Medial, proksimal oleh


biceps dan triceps brachii

2.6. GAMBARAN KLINIS


1. Nyeri terus menerus dan bertambah berat. Nyeri berkurang jika fragmen
tulang diimobilisasi (Rasjad C, 2007).
2. Deformitas dapat disebabkan oleh pergeseran fragmen pada eksremitas.
Deformitas dapat di ketahui dengan membandingkan dengan ekstremitas
normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal
otot bergantung pada integritas tulang tempat melengketnya otot (Rasjad C,
2007).
3. Pemendekan tulang, karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah
tempat fraktur (Rasjad C, 2007).

23

4. Krepitasi yaitu pada saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya
derik tulang. Krepitasi yang teraba akibat gesekan antar fragmen satu
dengan lainnya (Rasjad C, 2007).
5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi akibat trauma
dan perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini baru terjadi setelah
beberapa jam atau beberapa hari setelah cedera (Rasjad C, 2007).
6. Pada pemeriksaan harus diperhatikan keutuhan faal nervus radialis dan
arteri brakialis. Saat pemeriksaan apakah ia dapat melakukan dorsofleksi
pergelangan tangan atau ekstensi jari-jari tangan (Rasjad C, 2007).
2.7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Pada fraktur test laboratorium yang perlu diketahui : Hemoglobin,
hematokrit sering rendah akibat perdarahan, laju endap darah (LED)
meningkat bila kerusakan jaringan lunak sangat luas. Pada masa
penyembuhan Ca dan P mengikat di dalam darah (Apley, A. Graham,
1995).
Radiologi
Pada rontgen dapat dilihat gambaran fraktur (tempat fraktur, garis
fraktur (transversal, spiral atau kominutif) dan pergeseran lainnya dapat
terbaca jelas). Radiografi humerus AP dan lateral harus dilakukan.
Sendi bahu dan siku harus terlihat dalam foto. Radiografi humerus
kontralateral

dapat

membantu

pada

perencanaan

preoperative.

Kemungkinan fraktur patologis harus diingat. CT-scan, bone-scan dan


MRI jarang diindikasikan, kecuali pada kasus dengan kemungkinan
fraktur

patologis.

Venogram/anterogram

menggambarkan

arus

vascularisasi. CT scan untuk mendeteksi struktur fraktur yang lebih


kompleks (Apley, A. Graham, 1995).
2.8. PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
Fraktur pada humerus dapat sembuh dengan mudah. Fraktur itu tidak
membutuhkan reduksi yang sempurna ataupun imobilisasi. Beratnya lengan

24

beserta gips luarnya biasanya cukup untuk menarik fragmen sehingga


menjajar. Gips menggantung dipasang dari bahu sampai pergelanggan
tangan dengan siku yang berfleksi 90 derajat dan bagian lengan bawah
tergantung pada kain gendongan yang melingkar pada leher pasien. Gips ini
dapat diganti setelah 2-3 minggu dengan gips yang pendek (dari bahu ke
siku) atau suatu penahan polipropilen fungsional yang dipakai selama 6
minggu selanjutnya. Pergelangan tangan dan jari diberi latihan sejak awal.
Latihan bahu dengan pemberat dimulai dalam seminggu, tetapi abduksi
aktif ditunda hingga fraktur telah menyatu. Pilihan lainnya, fraktur dapat
dipertahankan tereduksi dengan fiksator luar (Apley, A. Graham, 1995).

5. Gambar 9. Penatalaksanaan pada fraktur shaft humerus dengan konservatif


diambil dari Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur
Sistem Apley. Widya Medika: Jakarta.
Berikut beberapa metode dan alat yang digunakan pada terapi
konservatif:
Hanging cast

25

Indikasi penggunaan meliputi pergeseran shaft tengah fraktur


humerus dengan pemendekan, terutama fraktur

spiral dan oblik.

Penggunaan pada fraktur transversal dan oblik pendek menunjukkan


kontraindikasi relatif karena berpotensial terjadinya gangguan dan
komplikasi pada saat penyembuhan. Pasien harus mengangkat tangan
atau setengah diangkat sepanjang waktu dengan posisi cast tetap untuk
efektivitas. Seringkali diganti dengan fuctional brace 1-2 minggu
pasca trauma. Lebih dari 96% telah dilaporkan mengalami union
(Kenneth J, dkk, 2002).

Coaptation splint
Diberikan untuk efek reduksi pada fraktur tapi coaptation splint
memiliki stabilitas yang lebih besar dan mengalami gangguan lebih
kecil daripada hanging arm cast. Lengan bawah digantung dengan
collar dan cuff. Coaptation splint diindikasikan pada terapi akut
fraktur shaft humerus dengan pemendekan minimal dan untuk jenis
fraktur oblik pendek dan transversa yang dapat bergeser dengan
penggunaan hanging arm cast. Kerugian coaptation splint meliputi
iritasi aksilla, bulkiness dan berpotensial slippage. Splint seringkali
diganti dengan fuctional brace pada 1-2 minggu pasca trauma
(Kenneth J, dkk, 2002).

Thoracobranchial immobilization (velpeu dressing)


Biasanya digunakan pada pasien lebih tua dan anak-anak yang
tidak dapat ditoleransi dengan metode terapi lain dan lebih nyaman
jadi pilihan. Teknik ini diindikasikan untuk pergeseran fraktur yang
minimal atau fraktur yang tidak bergeser yang tidak membutuhkan
reduksi. Latihan pasif pendulum bahu dapat dilakukan dalam 1-2
minggu pasca trauma (Kenneth J, dkk, 2002).

Shoulder spica cast


Teknik ini diindikasikan pada jenis fraktur yang mengharuskan
abduksi dan eksorotasi ektremitas atas. Kerugian teknik ini meliputi

26

kesulitan aplikasi cast, berat cast dan bulkiness, iritasi kulit,


ketidaknyamanan dan kesusahan memposisikan ektremitas atas
(Kenneth J, dkk, 2002).

Functional bracing
Memberikan efek kompresi hidrostatik jaringan lunak dan
mempertahankan aligment fraktur ketika melakukan pergerakan pada
sendi yang berdekatan. Brace biasanya dipasang selama 1-2 minggu
pasca trauma setelah pasien diberikan hanging arm cast atau
coaptation splint dan bengkak berkurang. Kontraindikasi metode ini
meliputi cedera massif jaringan lunak, pasien yang tidak dapat
dipercaya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan asseptabilitas
reduksi. Collar dan cuff dapat digunakan untuk menopang lengan
bawah; aplikasi sling dapat menghasilkan angulasi varus (kearah
midline) (Kenneth J, dkk, 2002).
2. Tindakan operatif
Pengobatan operatif dengan pemasangan plate and screw atau pin
dari rush atau pada fraktur terbuka dengan fiksasi interna (Rasjad C, 2007).
Kalau fraktur sangat tak stabil dan sulit dikendalikan, fiksasi
internal lebih baik-baik dengan plat dan sekrup atau paku intermedula
panjang. Pemasangan plat memerlukan banyak keahlian, dan pemasangan
pen mempunyai kelemahan yaitu ujung proksimal pen dapat menggangu
kerja supraspinatus (Apley, A. Graham, 1995).
Fraktur spiral menyatu sekitar 6 minggu dan jenis lainnya dapat
memakan waktu 4-6 minggu lebih lama. Sekali menyatu, yang diperlukan
hanyalah kain gendongan hingga fraktur berkonsolidasi (Apley, A. Graham,
1995).
Meskipun demikian, ada beberapa indikasi untuk dilakukan tindakan
pembedahan, diantaranya (Kenneth J, dkk. 2002)

Cedera multiple berat


Fraktur terbuka
Fraktur segmental
27

Fraktur ekstensi intra-artikuler yang bergeser


Fraktur patologis
Siku melayang (floating elbow) pada fraktur lengan bawah

(antebrachii) dan humerus tidak stabil bersamaan


Palsi saraf radialis (radial nerve palsy) setelah manipulasi
Non-union

2.9. KOMPLIKASI

Komplikasi Dini
Cedera Saraf
Kelumpuhan saraf radialis (wrist drop) dan paralisis pada ekstensor
metakarpofalangeal dapat terjadi pada fraktur batang. Pada cedera
tertutup, saraf jarang sekali terpisah, jadi tidak perlu tergesa-gesa untuk
melakukan operasi. Bebat lincah di gunakan untuk menyokong
pergelangan tangan dan taga sambil menunggu penyembuhan. Kalau
tidak ada tanda penyembuhan setelah 6 minggu, saraf harus
dieksplorasi. Pada lesi lengkap (neurotmesis), penjahitan saraf sering
tidak memuaskan, tetapi banyak fungsi dapat pulih dengan pemindahan
tendon (Apley, A. Graham, 1995).
Cedera Pembuluh Darah
Kalau terdapat tanda-tanda insuffisiensi pembuluh darah pada tungkai,
kerusakanarteri

brakialis

harus

disingkirkan.

Angiogrfi

akan

memeprlihatkan tingkat cederanya. Ini suatu keadaan darurat,


ememrlukan eksplorasi, baik dengan perbaikan pembuluh atau
pencangkokan untuk memintas daerah yang rusak; dalam keadaan ini,
feksasi internal mungkin lebih baik (Apley, A. Graham, 1995).

Komplikasi Belakangan
Delayed Union and Non-Union
Penyatuan yang lambat dapat terjadi pada fraktur melintang,
terutama kalau digunakan terlalu banyak traksi (gips menggantung
tidak boleh terlalu berat) atau kalu pasien belum melatih fleksor dan
ekstensor siku secara aktif (Apley, A. Graham, 1995).

28

Non-union dapat terjadi setelahnya. Kombinasi berbahaya adalah


penyatuan yang tidak lengkap dan sendir yang kaku. Kalau gerakan
siku atau bahu dipaksakan sebelum konsolidasi, humerus dapat
mengalami fraktur lagi, dan non-union dapat terjadi (Apley, A. Graham,
1995).
Terapi non-union yang telah menetap adalah operasi. Ujung tulang
digeserkan, serpih tulang ditaruh disekityarnya dan pen intramedula
dimasukkan, plat disekrupkan atau fiksator luar dipasang (Apley, A.
Graham, 1995).

Kekakuan Sendi
Kekakuan sendi dapat diminimalkan dengan aktivitas lebih awal, tetapi
fraktur melintang (yang berbahaya bila baku melakukan abduksi) dapat
membatasi gerak bahu selama beberapa bulan (Apley, A. Graham,
1995).

29