Anda di halaman 1dari 5

A.

DEFINISI FOBIA
Fobia merupakan rasa ketakutan yang bersifat menetap, berlebihan, serta tidak realistik
terhadap suatu objek, seseorang, binatang atau situasi tertentu. Fobia termasuk dalam tipe
gangguan anxietas. Seseorang yang menderita fobia biasanya berusaha untuk menghindari halhal yang memicu timbulnya rasa takut.1,2,3
Kata fobia berasal dari bahasa Yunani yang berarti ketakutan atau rasa takut (, fobos),
yang menunjukkan salah satu kondisi psikologis dan fisiologis yang dapat berupa gangguan
serius hingga ketakutan umum sampai perilaku kecil.6
Sebagai tambahan, beberapa kata neologisme ditampilkan dengan akhiran

-fobia, yang

bukan termasuk dalam fobia secara klinis, tetapi sedikit menjelaskan sebuah perilaku negatif
terhadap sesuatu hal.6
Fobia (dalam arti klinis) merupakan bentuk anxiety disorder. Penelitian di Amerika melalui
National Institute of Mental Health (NIMH) menemukan bahwa antara 5,1% hingga 21,5% dari
orang Amerika menderita fobia. Tidak terbatas usia ataupun kelamin, penelitian menemukan
bahwa fobia merupakan penyakit mental yang sangat umum terjadi pada kelompok wanita di
segala umur dan pria di atas usia 25 tahun.6
B. KLASIFIKASI
Para ahli psikologi dan ahli psikiatri membagi fobia menjadi tiga kategori, yakni :6
1 Fobia spesifik, rasa takut pada salah satu pemicu kepanikan yang spesifik, seperti anjing,
terbang, ketinggian, dan lain-lain.
2 Fobia sosial, rasa takut untuk berinteraksi dengan orang lain dan hubungan sosial seperti halnya
anxietas dalam penampilan, takut makan di depan orang banyak, dan lain-lain.
3 Agorafobia, ketakutan yang bersifat umum seperti keluar rumah atau bau badan, dan serangan
rasa panik yang tak terelakkan yang terus mengikuti. Agorafobia merupakan fobia yang
hanya dengan pengobatan secara teratur yang dapat mengembalikan kondisi medisnya.
C. ETIOLOGI
1

Menurut Bagby dan Shafer (19) dalam Elida Prayitno (2009:14) mengemukakan
penyebab penderitaan fobia yaitu :8
1. Pengalaman yang menyakitkan atau menakutkan akan menimbulkan pengalaman
traumatik. Pengalaman yang sangat menyakitkan atau menakutkan yang menimbulkan trauma
itu, biasanya dialami pada masa kanak-kanak. Misalnya pengalaman traumatik yang berkaitan
dengan hal-hal yang memalukan atau peristiwa yang terlarang. Oleh karena itu penderita
menghindari pikiran atau ingatan berkenaan dengan peristiwa yang sangat memalukan itu dan
tidak ingin diketahui oleh orang lain. Pikiran atau ingatan yang memlaukan itu disingkirkan oleh
penderita dari kesadarannya dengan menekannya kealam bawah sadarnya, sehingga dia lupa.
2. fobia muncul karena perasaan bersalah atau berdosa yang sangat tinggi. Situasi yang
memalukan dicegah agar situasi itu tidak muncul dlam kesadaran. Namun ketakutan atau fobia
tidak akan muncul jika penderita memiliki memiliki hubungan yang harmonis, bahagia, aman
dan damai dengan orang tua semasa kanak-kanak dan setelah berkeluarga dan menikah.
3. fobia terhadap objek tertentu dapat menyebabkan pobia terhadap objek lain. Dengan
kata lain fobia dapat merembet kepada ketakutan kepada objek lainya.
4. Selain itu salah satu penyebab fobia adalah Imajinasi yang berlebihan dapat juga
menyebabkan phobia.

D. EPIDEMIOLOGI
Fobia (dalam arti klinis) adalah bentuk paling umum dari gangguan kecemasan. Sebuah
studi di Amerika oleh National Institute of Mental Health (NIMH) menemukan bahwa antara
8,7% dan 18,1% dari orang Amerika menderita fobia. Broken bawah usia dan gender, penelitian
ini menemukan bahwa fobia adalah penyakit mental yang paling umum di kalangan wanita di
semua kelompok usia dan yang kedua penyakit yang paling umum di antara pria yang lebih tua
dari 25.5
Penelitian epidemiologis baru-baru ini telah menemukan bahwa fobia adalah gangguan
mental tunggal yang paling sering di Amerika Serikat. Diperkirakan 5 sampai 10 persen populasi
menderita gangguan yang mengganggu dan kadang-kadang menimbulkan ketidakberdayaan
tersebut.5
Perkiraan yang kurang konservatif adalah sampai 25 persen populasi. Penderitaan yang
berhubungan dengan fobia, khususnya jika keadaan tersebut tidak dikenali atau dianggap sebagai
2

gangguan mental, dapat menyebabkan komplikasi psikiatrik lain, termasuk gangguan kecemasan
lain, gangguan depresi berat, dan gangguan berhubungan zat, khususnya gangguan penggunaan
alkohol. Tidak dikenalinya fobia adalah disayangkan, karena penelitian riset terakhir telah
menemukan bahwa fobia seringkali responsif terhadap pengobatan dengan psikoterapi kognitif
dan perilaku dan terhadap pengobatan dengan farmakoterapi spesifik, termasuk obat trisiklik,
inhibitor monoamine oksidase, dan antagonis reseptor beta adrenergik.5
E. PENGOBATAN FOBIA
Fobia termasuk dalam tipe gangguan anxietas, dan merupakan gangguan mental yang
paling umum. Banyak orang yang salah mengerti mengenai gangguan ini dan orang berfikir bisa
mendapatkan gejala-gejala tersebut jika mereka memiliki nyali yang tipis. Tetapi, gejala-gejala
ini tidak dapat diinginkan atau diharapkan.6
Gangguan anxietas diobati melalui dua cara, dengan obat-obatan dan dengan psikoterapi
tipe-tipe tertentu (kadang-kadang disebut "talk therapy"). Kadang hanya satu cara pengobatan
yang digunakan atau kedua pengobatan dikombinasikan.1,6
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati gejala depresi, disebut antidepressants,
dapat digunakan untuk membantu gangguan anxietas dengan sama baiknya. Monoamine oxidase
inhibitors (MAOIs) juga bisa digunakan, atau dengan menggunakan obat terbaru selective
serotonin reuptake inhibitors (SSRIs). Obat-obat medicinal lain yang mengandung anti anxietas
disebut juga benzodiazepines dan beta-blockers.6
Pengobatan dengan psikoterapi meliputi cognitive-behavioral therapy (CBT) and
behavioral therapy. Pada CBT, tujuannya adalah untuk mengubah tentang bagaimana seseorang
berfikir, lalu bereaksi pada suatu situasi yang membuat mereka cemas atau ketakutan. Pada

behavioral therapy, fokusnya adalah mengubah bagaimana reaksi seseorang terhadap situasi
tertentu. CBT atau behavioral therapy biasanya dilakukan selama 12 minggu. Dapat dilakukan
secara berkelompok atau individual. Pada fobia, salah satu tipe dari CBT yang disebut
desensitization atau exposure therapy kadang-kadang bisa digunakan. Terapi ini dijalankan
secara lambat kepada penderita mulai apa yang mereka takuti hingga rasa takut mulai
menghilang. Relaksasi dan latihan pernapasan juga dapat membantu menghilangkan gejalagejala kecemasan. Beberapa penelitian menjelaskan bahwa manfaat dari CBT atau behavioral
therapy berakhir lebih lama dibandingkan dengan penggunaan medikamentosa terhadap orang
dengan fobia.5,6
Menanamkan fikiran bahwa gejala ini bisa disembuhkan kepada penderita dapat dilakukan
guna memperoleh terapi yang benar untuk gangguan anxietas. Tetapi, jika salah satu pengobatan
tidak berjalan, maka dapat digunakan cara pengobatan yang lain. Dokter dan terapis biasanya
akan bekerja sama untuk membantu penderita mendapatkan solusi yang terbaik. Pengobatanpengobatan yang baru bisa dikembangkan selama pemantauan terus berjalan. Namun jangan
terlalu memberi harapan. Jika seorang penderita sudah bisa menanggulangi gangguan
anxietasnya dan kembali kambuh di waktu-waktu yang akan datang, hal ini bukan merupakan
kesalahan penderita. Penderita tersebut dapat diobati kembali. Dan kemampuan penderita dalam
belajar menanggulangi gangguannya kembali dipicu seperti pengobatan pertama kali.6
Beberapa terapis menggunakan virtual reality hingga pasien desensitize terhadap sesuatu
yang ditakuti. Bentuk lain dari terapi yang dapat diberikan kepada pasien fobia adalah graduated
exposure therapy. Terapi obat-obatan anti anxietas juga dapat diberikan secara bersamaan pada
beberapa kasus. Kebanyakan penderita fobia mengerti bahwa mereka mengalami perasaan takut

yang tidak rasional, tetapi mereka tidak berdaya untuk menolak adanya reaksi panik pada diri
mereka.6
Graduated Exposure dan CBT, keduanya bekerja sama untuk tujuan mengurang
penderitaan, dan mengubah isi pikir penderita mengenai kepanikan. Gradual desensitisation
treatment dan CBT kadang-kadang bisa berhasil, kesediaan penderita fobia untuk menyingkirkan
perasaan tidak nyaman dan tetap mau berusaha untuk jangka waktu yang lama. Praktisi dari
neuro-linguistic progranning (NLP) menyatakan tersedianya prosedur yang dapat digunakan
untuk mengurangi beberapa fobia spesifik dalam satu sesi terapeutik tunggal, namun hal ini
belum diverifikasi secara ilmiah.6
F. KESIMPULAN
Fobia adalah suatu ketakutan yang tidak rasional yang menyebabkan penghindaran yang
disadari terhadap objek, aktivitas, atau situasi yang ditakuti.
Menurut Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders, Fourth Edition (DSM-IV), fobia
terbagi 3 : fobia sosial, fobia spesifik, dan agoraphobia adalah sub-kelompok gangguan
kecemasan.
Terapi berorientasi-tilikan memungkinkan pasien mengerti asal dari fobia, fenomena
tujuan sekunder, dan peranan daya tahan dan memungkinkan pasien mencari cara yang sehat
dalam menghadapi stimuli yang menyebabkan kecemasan.Hipnosis, terapi suportif, dan terapi
keluarga mungkin berguna dalam pengobatan fobia. Terapi yang paling sering digunakan
digunakan untuk fobia spesifik adalah terapi pemaparan (exposure therapy). Pengobatan fobia
sosial menggunakan psikoterapi dan farmakoterapi, dan berbagai pendekatan adalah
diindikasikan untuk tipe umum dan situasi kerja.