Anda di halaman 1dari 38

REFERAT

Obat Analgesik
Pembimbing:
Letkol CKM dr. Jumbo Utomo, Sp.An
Andriansyah Karnanda
1510221020
KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI, REANIMASI,
DAN TERAPI INTENSIF
KESEHATAN DAERAH MILITER II SRIWIJAYA
RUMAH SAKIT TINGKAT II dr. A.K GANI PALEMBANG
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN
TINGGI
FK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
JAKARTA

Nyeri
Ada 2 jenis nyeri
Nyeri akut -> disertai kerusakan jaringan
yang nyata
Nyeri kronis -> tanpa kerusakan jaringan
yang nyata

Nyeri berfungsi sebagai:


Mekanisme proteksi
Mekanisme defensif
Sebagai penunjang diagnostik

4 tahapan mekanisme nyeri

Mekanisme kerja obat secara umum


analgesik

OBAT ANALGESIK
PENGERTIAN :
Obat yang digunakan untuk
mengurangi rasa sakit
Senyawa yang dalam proses
terapeutik, meringankan atau
mengurangi rasa nyeri tanpa
memiliki kerja anestesi umum atau
tanpa menghilangkan kesadaran

Penggolongan Analgesik

Analgesik digolongkan menjadi dua,


yaitu
1. analgesik narkotik (opioid/ sentral)
2. analgesik non narkotik.

ANALGESIK OPIOID (ANALGESIK SENTRAL)

Opioid merupakan kelompok obat


yang memiliki sifat-sifat seperti opium
atau morfin.
Opioid adalah semua zat baik sintetik
atau natural yang dapat berikatan
dengan reseptor morfin.
Opioid disebut juga sebagai analgesia
narkotik yang sering digunakan dalam
anastesia untuk mengendalikan nyeri
saat pembedahan dan nyeri pasca
pembedahan.
Opioid yang sering digunakan dalam

KLASIFIKASI

Berdasarkan struktur kimia, penggolongan


opioid dibedakan menjadi 3 kelompok, antara
lain:

Alkaloid opium (natural) : morfin, kodein


Derivat semisintetik (heroin, hidromorfin, oksimorfon,
hidrokodon, dan oksikodon)
Sintetik

Fenilpiperidine : petidin, fentanil, sulfentanil, dan alfentanil


Benzmorfans : pentazosin, fenazosin, dan siklazosin
Morfinas
: lavorvanol
Propionanilides : metadon
Tramadol

MEKANISME KERJA

Reseptor opioid sebenarnya tersebar


luas diseluruh jaringan sistem saraf
pusat, tetapi lebih terkonsentrasi di
otak tengah yaitu di sistem limbik,
thalamus, hipothalamus corpus
striatum, sistem aktivasi retikuler dan
di corda spinalis

Sebagai analgetik, opioid bekerja secara sentral pada


reseptor-reseptor opioid yang diketahui ada 4
reseptor, yaitu:

Reseptor
Reseptor
Reseptor
Reseptor

Mu
Kappa
Sigma
Delta

Analgetik opium seperti morfin (alami) dan petidin


(sintetis) sering digunakan untuk premedikasi.
Juga berguna untuk mencegah respon refleks
terhadap rangsangan rasa sakit selama anestesi
(pada pasien yang paralise gejala berupa takikardia,
berkeringat atau peningkatan tekanan darah),
khususnya pada anestesi dangkal dengan nitrogen
oksida (anestesi tambahan jarang dibutuhkan selama
anestesi dengan eter).

Sebagai tambahan bagi anestesi,


berikan dosis kecil opium intravena
( misalnya morfin 0,1 mg/kgBB atau
petidin 0,25 mg/kgBB).
Jangan memberikan tambahan opium
pada setengah jam terakhir operasi,
karena kita akan menemui kesulitan
untuk membuat pasien bernafas
karena Opium bersifat mendepresi
pernapasan

BAGAIMANA JIKA TERJADI PEMBERIAN OPIUM DALAM


DOSIS YANG BERLEBIHAN??

Depresi pernapasan

Bantuan pernapasan
buatan.

Antagonis opium dapat diberikan


nalokson i.v / i.m

EFEK SENTRAL OBAT OPIOID:


Menurunkan persepsi nyeri dengan stimulasi (pacuan) pada
reseptor opioid (efek analgesi)
2. Pada dosis terapik normal, tidak mempengaruhi sensasi lain.
3. Mengurangi aktivitas mental (efek sedative)
4. Menghilangkan kecemasan (efek transqualizer)
5. Meningkatkan suasana hati (efek euforia), walaupun sejumlah
pasien merasakan sebaliknya (efek disforia)
6. Menghambat pusat respirasi dan batuk (efek depresi respirasi
dan antitusif)
7. Pada awalnya menimbulkan mual-muntah (efek emetik), tapi
pada akhirnya menghambat pusat emetik (efek antiemetik)
8. Menyebabkan miosis (efek miotik)
9. Memicu pelepasan hormon antidiuretika (efek antidiuretika)
10. Menunjukkan perkembangan toleransi dan dependensi
dengan pemberian dosis yang berkepanjangan.
1.

EFEK PERIFER OBAT OPIOID:

a)

b)

c)
d)
e)

f)

Menunda pengosongan lambung dengan


kontriksi pilorus
Mengurangi motilitas gastrointestinal dan
menaikkan tonus (konstipasi spastik)
Kontraksi sfingter saluran empedu
Menaikkan tonus otot kandung kencing
Menurunkan tonus vaskuler dan menaikkan
resiko reaksi ortostastik
Menaikkan insidensi reaksi kulit, urtikaria dan
rasa gatal karena pelepasan histamin, dan
memicu bronkospasmus pada pasien asma.

OBAT-OBAT OPIOID YANG BIASA DIGUNAKAN DALAM ANASTESI

Morfin
Petidin
Fentanil
Tramadol

Morfin
a. Farmakodinamik
Efek morfin terjadi pada susunan syaraf pusat dan organ yang
mengandung otot polos.
Efek morfin pada sistem syaraf pusat mempunyai dua sifat yaitu depresi
dan stimulasi.
Depresi : analgesia, sedasi, perubahan emosi, hipoventilasi alveolar
Stimulasi : stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif reflek spinal,

konvulsi dan sekresi hormon anti diuretika (ADH)

b. Farmakokinetik
Tidak dapat menembus kulit (kecuali luka) & dapat menembus mukosa
Morfin dapat melewati sawar uri dan mempengaruhi janin
Eksresi morfin terutama melalui ginjal
c. Indikasi
Morfin dan opioid lain terutama diindikasikan untuk meredakan atau

menghilangkan nyeri hebat yang tidak dapat diobati dengan analgesik


non-opioid

d. Efek Samping
Efek samping morfin (dan derivat opioid pada umumnya) meliputi
depresi pernafasan, nausea, vomitus, dizzines, mental berkabut,
disforia, pruritus
e. Dosis dan Sediaan
Morfin tersedia dalam tablet, injeksi, supositoria.
Dosis anjuran untuk menghilangkan atau mengurangi nyeri sedang

adalah 0,1-0,2 mg/ kg BB dan untuk nyeri hebat pada dewasa 1-2
mg intravena dan dapat diulang sesuai yang diperlukan.

Petidin/ Meperidin (Demerol)


a. Farmakodinamik
Bekerja sebagai agonis reseptor
Seperti halnya morfin, meperidin (petidin) menimbulkan efek
analgesia, sedasi, euforia, depresi nafas dan efek sentral lainnya.
Durasi analgesinya pada penggunaan klinis 3-5 jam
b. Indikasi
Meperidin digunakan juga untuk menimbulkan analgesia obstetrik

dan sebagai obat preanestetik.

c. Farmakokinetik
Kurang lebih 60% meperidin dalam plasma terikat protein.
Metabolisme meperidin terutama dalam hati.
Meperidin dapat menurunkan aliran darah otak, kecepatan
metabolik otak, dan tekanan intra kranial.

d. Efek Samping
Pusing, berkeringat, euforia, mulut kering, mual-muntah, perasaan
lemah, gangguan penglihatan, palpitasi, disforia, sinkop dan
sedasi.
e. Dosis dan Sediaan
Sediaan yang tersedia adalah tablet 50 dan 100 mg ; suntikan 10
mg/ml, 25 mg/ml, 50 mg/ml, 75 mg/ml, 100 mg/ml. ; larutan oral 50
mg/ml.
Sebagian besar pasien tertolong dengan dosis parenteral 100 mg.
Dosis untuk bayi dan anak ; 1-1,8 mg/kg BB.

f. Perbedaan antara petidin (meperidin) dengan morfin

sebagai berikut :
Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang

larut dalam air.


Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin,
asam meperidinat dan asam normeperidinat. Petidin bersifat atropin
menyebabkan kekeringan mulut, kekaburan pandangan dan
takikardia.
Petidin menyebabkan konstipasi
Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetaran pasca bedah
yang tidak ada hubungannya dengan hipotermi dengan dosis 20-25
mg i.v pada dewasa.
Lama kerja petidin lebih pendek dibandingkan morfin.

Fentanil
a. Farmakodinamik
Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten
(75-125 kali lebih poten dibandingkan dengan morfin)
Kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin.
b. Farmakokinetik
Fentanil dimetabolisir oleh hati dengan N-dealkilase dan hidrosilasidan,

sedangkan sisa metabolismenya dikeluarkan lewat urin.

c. Indikasi
Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesiknya. Dosis 1-3
mg /kg BB analgesianya hanya berlangsung 30 menit, karena itu hanya
dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah

d. Efek Samping
Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang
sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot.
Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula, katekolamin
plasma, ADH, renin, aldosteron dan kortisol.
e. Dosis dan Sediaan
Sediaan yang tersedia adalah Inj. 50g/ml
Dosis 1-3 g/kgBB

Tramadol
Tramadol merupakan analgetik yang bekerja di sentral yang

memiliki afinitas sedang pada reseptor mu() dan afinitasnya


lemah pada reseptor kappa dan delta opioid sehingga
menyebabkan potensi kerja tramadol menjadi lebih rendah
bila dibandingkan dengan morfin
Dosis Tramadol 3mg/kgBB yang diberikan secara oral, i.m.

atau i.v, efektif pada pengobatan nyeri sedang hingga berat


Efek samping tramadol yang paling sering terjadi adalah

meningkatnya insidensi mual dan muntah pada pasien


perioperatif. Ondansetron dapat mengganggu 10 komponen
analgesik pada tramadol karena efek pada reuptake

ANALGESIK NON OPIOID


(ANALGESIK PERIFER)
Terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat
narkotik dan tidak bekerja sentral. Disebut juga
analgetika perifer, karena tidak mempengaruhi
sistem saraf pusat, tidak menurunkan
kesadaran, atau mengakibatkan adiksi.
Mekanisme umum dari analgetik jenis ini adalah
blok pembentukan prostaglandin dengan jalan
menginhibisi enzim COX pada daerah yang
terluka dengan demikian mengurangi
pembentukan mediator nyeri.

Mekanismenya tidak berbeda dengan NSAID dan


COX-2 inhibitors.
Efek samping yang paling umum dari golongan
obat ini adalah gangguan lambung usus,
perdarahan, kerusakan hati dan ginjal serta
reaksi alergi di kulit.

KLASIFIKASI

Penggolongan analgesik non opioid dibedakan menjadi 9


kelompok, antara lain:
Salicylates

p-Aminophenol

Derivatives
Indoles and Related Compounds
Fenamates
Arylpropionic Acid Derivatives
Pyrazolone Derivatives
Oxicam Derivatives
Acetic Acid Derivatives
Miscellaneous Agents

Salicylates

Contoh obatnya: Aspirin


Kerjanya menghambat enzim
siklooksigenase secara ireversibel, pada
dosis yang tepat,obat ini akan menurunkan
pembentukan prostaglandin maupun
tromboksan A2, pada dosis yang biasa efek
sampingnya adalah gangguan lambung
(intoleransi).

p-Aminophenol Derivatives

Contoh obatnya : Acetaminophen (Tylenol)


adalah metabolit dari fenasetin.
Obat ini menghambat prostaglandin yang
lemah pada jaringan perifer dan tidak
memiliki efek anti-inflamasi yang bermakna.

Indoles and Related Compounds

Contoh obatnya : Indomethacin (Indocin)


obat ini lebih efektif daripada aspirin,
merupakan obat penghambat prostaglandin
terkuat.
Efek samping menimbulkan efek terhadap
saluran cerna seperti nyeri abdomen, diare,
pendarahan saluran cerna, dan pancreatitis,
serta menimbulkan nyeri kepala, dan jarang
terjadi kelainan hati.

Fenamates

Contoh obatnya : Meclofenamate


(Meclomen)
Merupakan turunan asam fenamat,
mempunyai waktu paruh pendek, efek
samping yang serupa dengan obat-obat
AINS baru yang lain dan tak ada keuntungan
lain yang melebihinya.
Obat ini meningkatkan efek antikoagulan
oral.
Dikontraindikasikan pada kehamilan.

Arylpropionic Acid Derivatives

Contoh obatnya : Ibuprofen


Obat ini dikontraindikasikan pada mereka
yang menderita polip hidung, angioedema,
dan reaktivitas bronkospastik terhadap
aspirin.
Efek samping: gejala saluran cerna

Pyrazolone Derivatives

Contoh obatnya : Phenylbutazone


(Butazolidin)
Untuk pengobatan artristis reumatoid, dan
berbagai kelainan otot rangka
Efek samping yang serius seperti
agranulositosis, anemia aplastik, anemia
hemolitik, dan nekrosis tubulus ginjal

Oxicam Derivatives
Contoh obatnya : Piroxicam (Feldene)
Obat AINS dengan waktu paruhnya yang
panjang untuk pengobatan artristis rmatoid,
dan berbagai kelainan otot rangka.
Efek sampingnya meliputi tinitus, nyeri
kepala, dan rash

Acetic Acid Derivatives

Contoh Obatnya : Diclovenac (Voltaren)


Obat ini adalah penghambat siklooksigenase
yang kuat dengan efek antiinflamasi ,
analgetik, dan antipiretik.
Waktu paruhnya pendek, dianjurkan untuk
pengobatan arthritis rheumatoid dan berbagai
kelainan otot rangka.
Efek sampingnya distress saluran cerna,
perdarahan saluran cerna dan tukak lambung.

Miscellaneous Agents
Contoh Obat
Ketorolak

Efek analgesia dicapai dalam 30 menit, maksimal setelah 1-2 jam.


Diberikan secara oral, intramuskular, intravena.
Lama kerja 4-6 jam.
Dosis awal 10-30mg/hari dosis maks. 90mg/hari
30mg ketorolak=12mg morfin=100mg petidin, dapat digunakan
bersama opioid.
Cara kerja menghambat sintesis prostaglandin di perifer tanpa
mengganggu reseptor opioid di sistem saraf pusat.
Tidak untuk wanita hamil, menghilangkan nyeri persalinan, wanita
menyusui, usia lanjut, anak usia <4th.

Ketoprofen

Diberikan secara oral, kapsul, tablet 100-200 mg/hari.


Per-rektal 1-2 suppositoria.
Suntikan intarmuskuler 100-300mg/hari.
Intravena per-infus dihabiskan dalam 20 menit.

Referensi
Anonim, Buku PedomanPelayanan Anestesiologi Untuk RSU Klas C

dan D, Diterbitkan oleh: Direktorat Rumah Sakit Khusus dan Swasta


Direktorat Jenderal Pelayanan Medis Kemenkes RI, Jakarta, 2010
Davies NJH, Cashman JN. Lees Synopsis of Anesthesia, Principles
& Practice. 13th(ed), Philadelphia. Elsevier Butterworth-Heinemann.
2006
I Gde Mangku dkk. Ilmu Anestesia dan Reanimasi. ed 1, Jakarta.
Indeks Jakarta. 2010
Michael Dobson dan Adji Dharma. Penuntun Praktis Anestesi.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2012
Nafrialdi 2007. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Departemen
Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran UI, Jakarta
Said A Latief dkk. Petunjuk Praktis Anestesiologi, ed 2 FKUI,
Jakarta, 2002.

TERIMA

KASIH