Anda di halaman 1dari 23

Pharmacotherapy:

Lowering Blood Glucose

Pendahuluan
Diperkirakan sebanyak 17,3 juta kematian di

Indonesia disebabkan oleh penyakit


kardiovaskuler dan 3 juta kematian diantaranya
terjadi pada usia < 60 tahun
Jumlah kematian yang diakibatkan oleh penyakit
kardiovaskuler terutama penyakit jantung
koroner dan stroke diperkirakan akan terus
mengalami peningkatan sampai 23,3 juta
kematian pada tahun 2030 (Kemenkes, 2014).

Faktor risiko penyakit

kardiovaskuler
1. faktor risiko yang dapat diubah
(modifable)
2. tidak dapat diubah (nonmodifable)

Karakteristik Diabetes Militus


Hiperglikemia
Gangguan metabolik
Diabetes militus tipe 1
Diabetes militus tipe 2

Pada DM tipe 1, hiperglikemia disebabkan defisiensi

insulin karena terjadi kerusakan sel beta pankreas


DM 2 disebabkan karena kombinasi dari resistensi

insulin dan sekresi insulin defektif

Penghitungan kadar glukosa plasma dapat diukur

dengan melihat kadar gula darah puasa dan postprandial.


Kadar glukosa plasma juga dapat diukur dengan

melihat kadar hemoglobin glikosilasi (HbA1c)

Menurut ADA, 2016, nilai normal HbA1c adalah <

5,00
Apabila nilai HbA1c mencapai > 6,00% maka
diinterpretasikan mulai mengalami peningkatan.
Terapi obat dan modifikasi gaya hidup diperlukan
apabila nilai HbA1c telah mencapai >9,00%

diagnosa diabetes militus ditegakkan apabila gula

darah puasa >126 mg/dl dan gula darah 2 jam post


prandial >200mg/dl.
Sedangkan apabila gula darah puasa 100-125 mg/dl
dan gula darah 2 jam post prandial 140-199mg/dl
tergolong prediabetes (AACE, 2007).

Pengaturan Gaya Hidup Penderita Diabetes

Gaya hidup berperan penting untuk mengatur

manajemen penderita Diabetes type 1 dan 2. Kontrol


diet dan aktivitas fisik penting dalam terapi dan
substansi untuk menurukan kadar glukosa darah ,
diabetes tipe 2 dapat mengurangi resisten insulin
diperiferal

Penatalaksanaan Farmakoterapi Penderita


Diabetes
Untuk Pasien dengan diabetes tipe 1 dengan primer

farmakologi dianjurkan dengan menggunakan


insulin. Sedangkan, Diabetes Tipe 2 terapi yang
digunakan beraneka macam

Agen Penurun Glukosa


Agen penurun glukosa peroral dibagi menjadi 4 kelompok
berdasarkan mekanisme kerjanya:
Biguanida (metformin) dapat digunakan utuk

antihyperglikemi selama lebih dari 40 tahun. Metformin


diyakini dapat menekan produksi glukosa hepatic yang biasa
muncul pada diabetes tipe 2 dengan meningkatkan
sensitivitas indulin perifer.
glukosidase inhibitor (acarbose) dapat digunakan untuk

melambatkan absorpsi glukosa.

Insulin secretagogues:. Terdiri atas 2 kelas obat yaitu

sulfonilurea (contoh : glibencalmide, gliklaside, glipizide)


dan meglitinides (contoh: nateglinide,repaglinide )
keduanya memperbaiki fungsi aktivasi sel beta .
Insulin sensitisers: meningkatkan sensitivitas insulin yang

dicapai melalui aktivasi peroksisom poliferase activated


receptor- (PPAR-), yang mana merupakan cara kerja dari
thiazolidinediones (contoh : pioglitazone, rosiglitazone)

Kesimpulan

Kita dapat menggunakan obat golongan biguanin,

insulin secretagogues, insulin sensitisers maupun


glukosidase inhibitor untuk menurunkan kadar gula
darah. Penggunaan obat anti diabetes dapat
menggunakan single terapi atau kombinasi untuk
melawan abnormalitas metabolism glukosa serta
melihat karakteristik penyakitnya.

Terimakasih