Anda di halaman 1dari 3

Klorokuin termasuk dalam golongan Obat antimalaria yang bekerja dengan cara

mengeliminasi perkembangan skizon darah atau disebut juga skizontisid darah


(Katzung, 1997). Klorokuin mengandung unsur 4-aminoquinolin yang telah
dipergunakan secara luas untuk pengobatan dan pencegahan malaria (WHO, 201
Oa). Klorokuin dapat digunakan untuk profilaksis malaria akibat infeksi P, malariae,
P. ovale, P. l'ivar, dan strain tertentu P falciparum. Klorokuin juga dapat
digunakan sebagai pengobatan amoebiasis ekstraintestinal, Reumathoid Arthritis,
Lupus Erythematosus, babesiosis. pofiria cutanea tarda, polimorfis ringan, solar
urticaria, sarcoidosis (Diskes Provinsi Jawa Barat, 201 1

Klorokuin bekeija sebagai penghambat sintesis enzimatik DNA dan RNA mamalia
maupun protozoa. Klorokuin dapat pula membentuk kompleks dengan DNA yang
mencegah replikasi atau namkripsi ke RNA. Klorokuin berkumpul dalam vakuola
parasit dan meninggalkan pH organela tersebut. Hal ini mempengaruhi kemampuan
parasit memetabolisme dan menggunakan hemoglobin dalam eritrosit. Toksisitas
selektif terhadap parasit malaria tergantung mekanisme yang dapat mengumpulkan
klorokuin ke dalam sel terinfeksi malaria (Katzung, 1997)

Klorokuin tersedia dalam sediaan tablet yang mengandung 100 mg atau 150 mg
klorokuin basa dalam bentuk fosfat atau sulfat (W'HO, 2010a). Sediaan klorokuin
sebesar 100 mg dalarn bentuk klorokuin fosfat setara dengan 60 mg klorokuin dan
sediaan 100 mg klorokuin hidroklorida setara dengan 80 mg klorokuin. Kecepatan
absorbsi klorokuin yang dikonsumsi secara oral mendekati 89%. Klorokuin
terdistribusi ke seluruh jaringan tubuh, seperti mata, jantung, ginjal, hati, paru-paru.
Klorokuin memiliki sifat retensi yang panjang dalam tubuh, menembus plasenta,
dan ikut disekresikan ke ASL Klorokuin dimetabolisme di hepar dan memiliki waktu
paruh eliminasi 3-5 hari. Klorokuin diekskresi lewat urin sekitar 70% sebagai obat
utuh (Diskes Provinsi Jawa Barat, 201 1).

Kontraindikasi klorokuin dapat terjadi pada pasien yang

hipersensitivitas terhadap derivat 4-aminoquinolin. Klorokuin tidak

boleh diberikan kepada pasien psoriasis karena dilaporkan dapat menimbulkan


eksaserbasi porfiria. Gangguan penglihatan akibat klorokuin bisa berupa pandangan
kabur dan sulit berakomodasi. Gangguan penglihatan parah dapat terjadi bila
klorokuin digunakan dalam jangka panjang dengan dosis lebih dari 150 mg perhari.

Efek samping pengobatan jangka panjang dengan dosis tinggi menimbulkan


keratopati, transien edema, pengkerakan epitel kornea, dan jika sudah parah dapat
menimbulkan kebutaan. Efek samping pada kulit dapat berupa reaksi
hipersensitivitas, seperti pruritus, perubahan pigmen kulit, erupsi kulit berupa panus
liken, erupsi pleomorphic kulit, sindrom Stevens-Johnson. Efek samping pada sistem
syaraf dapat berupa sakit kepala ringan sampai berat, kelelahan, kecemasan,
apatis, iritabilitas, agitasi, agresivitas, kebingungan, perubahan personalitas,
depresi dan stimulasi fisik. Neuropati dapat terjadi pada pemberian dosis 250 mg
atau lebih perhari selama beberapa minggu dan reversibel jika pemberian obat
dihentikan. Efek lokal dapat berupa nyeri dan abses di tempat suntikan bila
klorokuin diberikan lewat injeksi (Diskes Provinsi Jawa Barat, 201 1).

Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam usaha pengobatan malaria adalah
timbulnya resistensi terhadap obat

antimalaria. Selama beberapa dekade, resistensi terhadap obat

antimalaria menjadi sebuah hambatan dalam usaha pengobatan

boleh diberikan kepada pasien psoriasis karena dilaporkan dapat menimbulkan


eksaserbasi porfiria. Gangguan penglihatan akibat klorokuin bisa berupa pandangan
kabur dan sulit berakomodasi. Gangguan penglihatan parah dapat terjadi bila
klorokuin digunakan dalam jangka panjang dengan dosis lebih dari 150 mg perhari.
Efek samping pengobatan jangka panjang dengan dosis tinggi menimbulkan
keratopati, transien edema, pengkerakan epitel kornea, dan jika sudah parah dapat
menimbulkan kebutaan. Efek samping pada kulit dapat berupa reaksi
hipersensitivitas, seperti pruritus, perubahan pigmen kulit, erupsi kulit berupa panus
liken, erupsi pleomorphic kulit, sindrom Stevens-Johnson. Efek samping pada sistem
syaraf dapat berupa sakit kepala ringan sampai berat, kelelahan, kecemasan,
apatis, iritabilitas, agitasi, agresivitas, kebingungan, perubahan personalitas,
depresi dan stimulasi fisik. Neuropati dapat terjadi pada pemberian dosis 250 mg
atau lebih perhari selama beberapa minggu dan reversibel jika pemberian obat
dihentikan. Efek lokal dapat berupa nyeri dan abses di tempat suntikan bila
klorokuin diberikan lewat injeksi (Diskes Provinsi Jawa Barat, 201 1).

Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam usaha pengobatan malaria adalah
timbulnya resistensi terhadap obat

antimalaria. Selama beberapa dekade, resistensi terhadap obat

antimalaria menjadi sebuah hambatan dalam usaha pengobatan

malaria Resistensi terhadap obat antimalaria telah ditemukan pada tiga dan' lima
Spesies parasit malaria yang sering menyerang manusia, yaitu Pfalciparum, P.
vivax, dan P. malariae. Resistensi terhadap klorokuin telah terjadi pada infeksi P.
falciparum di sebagian besar wilayah di dunia. Timbulnya resistensi dapat
disebabkan oleh mutasi genetik pada parasit malaria. Parasit malaria yang
mengalami mutasi genetik akan bermultiplikasi dan menghasilkan populasi parasit
yang resisten terhadap obat antirnalaria ( WHO, 2010a). Penelitian lain menyatakan
bahwa parasit yang resisten terhadap klorokuin mami)

mengeluarkan klorokuin lewat membran pompa P-glikoprotein

(Katzung, 1997).