Anda di halaman 1dari 10

MODUL PERKULIAHAN

Sistem Angkutan
Umum
Sistem Pentarifan Angkutan
Umum
Fakultas

Program Studi

Teknik

Teknik Sipil

Tatap Muka

Kode MK

Disusun Oleh

11

MK11049

Wita Meutia, ST., MT

Abstract

Kompetensi

Struktur tarif dan Metoda Penentuan


Tarif

Memahami struktur tarif angkutan


umum dan dasar-dasar penentuan tarif

Struktur Tarif
Warpani (2002) mendefinisikan tarif sebagai sebagai harga jasa angkutan yang harus
dibayar oleh pengguna jasa, baik melalui mekanisme perjanjian sewa menyewa, tawar
menawar, maupun ketetapan pemerintah. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan
Direktur Jenderal Perhubungan Darat No. 687 (2002) Tentang Penyelenggaraan Angkutan
Penumpang Umum di Wilayah Perkotaan Dalam Trayek Tetap dan Teratur, definisi tarif
adalah besarnya biaya yang dikenakan kepada setiap penumpang kendaraan angkutan
penumpang umum yang dinyatakan dalam Rupiah (Rp). Maka, disimpulkan bahwa tarif
adalah biaya yang perlu dikeluarkan oleh pengguna jasa karena menggunakan jasa yang
disediakan oleh penyedia jasa dan dinyatakan dalam Rupiah (Rp)
Menurut Suprijadi (1991) dalam Warpani (2002), kebijakan tarif yang berlaku di Indonesia
mengacu pada pendekatan berikut.
1. Pendekatan penyedia jasa
Apabila kebijakan tarif yang berdasarkan pendekatan penyedia jasa dimaksudkan untuk
menjaga kelangsungan hidup dan pengembangan usaha jasa perangkutan, serta demi
menjaga kelancaran penyediaan jasa, keamanan, dan kenyamanan layanan jasa
perangkutan, maka :
Tarif didasarkan atas berbagai biaya yang dikeluarkan, dalam arti dapat menutup

seluruh biaya produksi jasa perangkutan dan memperoleh kelebihan berupa laba.
Tarif seharusnya dapat memberikan pendapatan yang layak bagi penyedia jasa,

sehingga upaya pemeliharaan sarana dan prasarana dapat terpenuhi dan


pengembalian investasi dapat diwujudkan dalam waktu yang relatif tidak lama.
Untuk investasi yang besar dengan tingkat pengembalian modal yang cukup lama,

maka tarif diharapkan dalam jangka panjang lebih tinggi dari biaya marginal.
2. Pendekatan pengguna jasa
Jika pendekatan berdasarkan pengguna jasa dimaksudkan agar tarif tidak terlalu
memberatkan pengguna jasa dan memperlancar mobilitas baik penumpang maupun
barang, maka :
Tarif harus rasional, diberlakukan secara umum, layak dan adil serta tidak

diskriminatif dalam pengklasifikasiannya.


Tarif diharapkan dapat merangsang peningkatan kegiatan dunia usaha dan

mendorong pertumbuhan produksi secara menyeluruh.


Tarif diharapkan dapat terjangkau oleh daya beli pengguna jasa.

15

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Tarif diharapkan dapat membantu perkembangan integritas sosial masyarakat,

khususnya bagi angkutan penumpang.

Tarif harus dapat mendorong dan mengembangkan distribusi pemasaran yang luas.

Tarif sebagai unsur biaya pada kalkulasi harga pokok barang diharapkan dapat
ditekan sekecil mungkin.

3. Pendekatan pemerintah
Pendekatan pemerintah yang dimaksudkan untuk mendorong pembangunan ekonomi
serta menjaga stabilitas politik dan keamanan dalam rangka globalisasi, meliputi :

Menjaga keseimbangan antara kepentingan pengguna jasa dengan penyedia jasa.

Menunjang upaya tercapainya kesejahteraan sosial bagi masyarakat.

Memperhatikan dan melaksanakan hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan,


penyebaran dan struktur kependudukan.
Mengendalikan tarif yang dapat menjamin dan mendorong penggunaan sumber daya

secara maksimal.
Menjaga tingkat pelayanan (level of service) dalam rangka peningkatan kinerja

layanan jasa perangkutan.


Frids (2002) dalam Novalina (2014) mengemukakan dalam tesis masternya bahwa sistem
tarif pada dasarnya hanya dibagi menjadi dua:
a. Tarif rata (flat fare), yaitu tarif yang sama besar untuk setiap jarak sepanjang trayek
b. Tarif progresif yaitu, tarif yang secara proporsional meningkat sejalan dengan makin
jauhnya jarak layanan jasa angkutan.
a. Tarif Rata (Flat Fare)
Tarif ini biasanya diterapkan pada layanan jasa angkutan jarak pendek dan
menengah, pada umumnya trayek angkutan umum penumpang dalam kota. Cara ini
sangat memudahkan bagi pihak pengguna maupun penyedia jasa transportasi.
Penentuan tarif pada trayek tertentu dengan sejumlah pemberhentian tetap
memperhitungkan faktor muatan (load factor), yaitu jumlah minimal penumpang yang
diangkut sepanjang trayek sehingga diperoleh pendapatan marginal yang cukup
untuk menutup biaya operasi. Tarif diperhitungkan atas dasar pendapatan marginal
dibagi jumlah penumpang minimal. Pada kedudukan ini, pengusaha sudah mampu
menutup biaya operasi (Warpani, 2002)

15

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Secara matematis, tarif rata/flat fare dinyatakan dengan persamaan berikut:


T = MC/P
Keterangan:
MC = Biaya operasi sekali jalan pada suatu trayek
P = Prakiraan faktor muatan
T = Tarif rata
Pada pelayanan angkutan kota jarak pendek, faktor muatan biasanya ditetapkan
lebih dari atau sama dengan 100%. Pada pelayanan jarak menengah, faktor muatan
biasanya ditetapkan kurang dari 100%, misalnya 80%.
b. Tarif Progresif
Sistem tarif progresif/distance based tarif adalah sistem tarif yang berdasarkan pada
jarak, makin jauh jarak pelayanan makin tinggi tarif jasa angkutan dan sebaliknya.
Dalam hal ini ada tarif minimal, dan tambahan selanjutnya sesuai dengan besaran
tarif per unit jarak. Sistem tarif progresif sesuai untuk diterapkan pada layanan jarak
jauh bagi angkutan perkotaan maupun angkutan antar kota. Salah satu mekanisme
yang digunakan untuk menentukan tarif progresif adalah membagi satu trayek
menjadi

beberapa segmen.

Satu segmen dapat

terbagi dalam

beberapa

pemberhentian.
Metode Penentuan Besaran Tarif
Penentuan tarif angkutan biasanya didasarkan berdasarkan biaya operasi kendaraan jasa
kendaraan (BOK) yang terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap:
a. Biaya tetap merupakan biaya yang tidak terpengaruh oleh kegiatan pengoperasian
kendaraan. Komponennya antara lain:konsumsi bahan bakar , konsumsi olie mesin ,
pemakaian ban, biaya perawatan, onderdil kendaraan dan pekerjaannya, biaya awak
(untuk kendaraan umum), depresiasi kendaraan
b. Biaya tidak tetap adalah biaya yang berubah sejalan dengan kegiatan pengoperasian
kendaraaan. Komponennya antara lain : biaya akibat bunga, biaya asuransi,
overhead cost
c. Biaya setengah tetap merupakan biaya beban tetap namun masih terjad perubahan
akibat pengoperasian kendaraan. Misal: surat menyurat, pemeliharaan dan
pembersihan.

15

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

BOK untuk jalan dihitung dengan menggunakan Persamaan yang dikembangkan PT. PCI
(Pacific Consultant International). Kendaraan Dikelompokkan menjadi 3 golongan
a. golongan I meliputi kendaraan penumpang,
b. golongan II A sejenis bus besar dan
c. golongan II B meliputi jenis truk besar.
1. Konsumsi Bahan Bakar (Lt/1000 km)
Jalan TOL

Kendaraan Gol. I

: Y = 0,04376 V2 4,94076 V + 207,04840

Kendaraan Gol IIA

: Y = 0,14461V2 16,10285 V + 636,50343

Kendaraan Gol IIB

: Y = 0,13485 V2 15,12463 V + 592,60931

Jalan Arteri

Kendaraan Gol. I

: Y = 0,05693 V2 6,42593 V + 269,18567

Kendaraan Gol II A

: Y = 0,21692V2 24,15490 V + 954,78624

Kendaraan Gol II B

: Y = 0,21557 V2 24,17699 V + 947,80862

2. Konsumsi Olie (Lt/ 1000 km)


Jalan TOL

Kendaraan Gol. I

: Y = 0.00029 V2 0.03134 V + 1.69613

Kendaraan Gol II A

: Y = 0.00131 V2 0.15257 V + 8.30869

Kendaraan Gol II B

: Y = 0.00118 V2 0.13770 V + 7.54073

Jalan Arteri

Kendaraan Gol. I : Y = 0.00037 V2 0.04070 V + 2.20403

Kendaraan Gol. II A

: Y = 0.00209 V2 0.24413 V + 13.29445

Kendaraan Gol. II B

: Y = 0.00186 V2 0.22035 V + 12.06486

3. Pemakaian Ban /1000 km

Kendaraan Gol. I : Y = 0.0008848 V 0.0045333

Kendaraan Gol. II A

: Y = 0.0012356 V 0.0065667

Kendaraan Gol. II B

: Y = 0.0015553 V 0.0059333

4. Suku Cadang / 1000 km

15

Kendaraan Gol I

: Y = 0.0000064 V + 0.0005567

Kendaraan Gol II A

: Y = 0.0000332 V + 0.0020891

Kendaraan Gol II B

: Y = 0.0000191 V + 0.0015400

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

5. Montir / 1000 km

Kendaraan Gol I

: Y = 0.00362 V + 0.36267

Kendaraan Gol II A

: Y = 0.02311 V + 1.97733

Kendaraan Gol II B

: Y = 0.01511 V + 1.21200

6. Depresiasi / 1000 km

Kendaraan Gol. I

: Y = 1/(2.5 V + 125)

Kendaraan Gol II A

: Y = 1/(9.0 V + 450)

Kendaraan Gol II B

: Y = 1/(6.0 V + 300)

7. Biaya Bunga / 1000 km

Kendaraan Gol I

: Y = (0.15 * 1000) / (500 V)

Kendaraan Gol II A

: Y = (0.15 * 1000) / (2571.42857 V)

Kendaraan Gol II B

: Y = (0.15 * 1000) / (1714.28571 V)

8. Biaya Asuransi / 1000 km

Kendaraan Gol I

: Y = 38 / (500 V)

Kendaraan Gol II A

: Y = 60 / (2571.42857 V)

Kendaraan Gol II B

: Y = 61 / (1714.28571V)

Keterangan: V = Kecepatan (km/jam)


Contoh soal:
Berapakah konsumsi bahan bakar mobil penumpang dengan kecepatan 60 km/jam?
Solusi:
Mobil penumpang masuk kedalam golongan I, sehingga konsulsi bahan bakar adalah
sebagai berikut:
Y = 0,04376 V2 4,94076 V + 207,04840
= 0,04376 (602 ) - 4,94076 (60) + 207,04840
= 68,1388 liter/1000 km

Penyedia jasa selalu menginginkan pemberlakuan tarif setinggi mungkin denganmaksud


mempercepat pengembalian modal. Sedangkan, penumpang angkutan umum selalu ingin
mendapatkan tarif yang serendah mungkin. Dalam rangka untuk memeperemukan kedua
kepentingan ini, maka tarif jasa angkutan umum tertentu ditentukan oleh pemerintah.
15

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Penentuan tarif beberapa macam jasa angkutan diserahkan pada mekanisme pasar, yakni
kesepakatan antara pengguna jasa dan pengguna jasa. Dalam masa tertentu, pemerintah
dapat menetapkan tarif khusus yakni tambahan biaya yang harus dibayar oleh penumpang
misalnya tarif lebaran.

Tarif yang ideal adalah tarif yang serendah mungkin, namun masih memberikan keuntungan
yang jauh lebih besar bagi pihak penyedia jasa. Beberapa hal yang menjadi dasar
pertimbangan penentuan tarif adalah:
a. Kelangsungan hidup dan pengembangan usaha jasa angkutan
b. Daya beli masyarakat pada umumnya
c. Tingkat bunga modal
d. Jangka waktu pengembalian modal
e. Biaya masyarakat yang ditimbulkan karena operasi jasa angkutan.

Bila ditinjau dari sisi pemegang kepentingan (stakeholders), yang mempengaruhi besaran
suatu tarif adalah pengguna jasa angkutan (masyarakat/penumpang/user), penyedia jasa
transportasi (operator) dan pemerintah (regulator).
a. Pengguna Jasa Dari sudut pandang pengguna jasa, tarif adalah biaya yang harus
dikeluarkan setiap kali menggunakan angkutan umum. Sedemikian sehingga
besaran tarif dirasa perlu untuk diperhitungkan dari parameter kemampuan
membayar masyarakat (Ability to Pay, ATP) dan kemauan membayar masyarakat
atau (Wilingness to Pay, WTP).

WTP, menurut Frids (2002) dalam Novalina (2014) merupakan besaran biaya ratarata yang mau dikeluarkan masyarakat untuk menikmati satu unit pelayanan
angkutan umum. Dalam hal ini, masyarakat atau penumpang bersedia untuk
membayar besar tarif atas barang/jasa yang didapatkannya namun harus sesuai
dengan preferensinya.
Sedangkan ATP, masih menurut Frids (2002) dalam Novalina (2014), adalah
kemampuan membayar masyarakat. ATP menjelaskan besar tarif yang sanggup
dibayar oleh masayarakat berdasarkan keadaan sosial ekonomi masyarakat.

b. Penyedia Jasa Dalam sudut pandang penyedia jasa transportasi (operator), tarif
adalah harga dari jasa yang diberikan. Mekanisme penetapan tarif tentu dilihat dari
15

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

berapa besar BPP yang dikeluarkan. Nilai tersebut ditambahkan dengan keuntungan
yang wajar, akan menjadi besar tarif yang diinginkan oleh penyedia jasa. Dalam
perhitungannya, komponen BPP sangat beragam. Namun, dalam SPM Dirjenhub
No. 687 Tahun 2002 telah disebutkan sebelumnya dan dibahas apa saja komponen
BPP dalam angkutan umum untuk penumpang.

c. Pemerintah Pemerintah (regulator) yaitu sebagai pihak yang menentukan tarif resmi.
Dalam penentuan besar tarif untuk penumpang, pemerintah berperan besar dalam
pembuatan dan penegakan aturan-aturan yang ada. Besarnya tarif berpengaruh
terhadap besarnya pendapatan daerah pada sektor transportasi. Di dalam regulasiregulasi yang mempengaruhi tarif, salah satu poin penting yang perlu digaris bawahi
adalah subsidi. Subsidi dilakukan pemerintah untuk membuat stabil tarif yang
berlaku, terutama bagi angkutan perintis dan angkutan kelas ekonomi. Kegiatan jasa
angkutan umum, terutama angkutan perkotaan, adalah jasa yang tidak semata-mata
berorientasi pada pencarian laba oleh penyedia jasa. Usaha jasa angkutan juga
menjadi salah satu alat untuk melayani kepentingan masyarakat. Masalahnya adalah
mana yang menjadi tujuan utama: mencari laba atau melayani kepentingan
masyarakat banyak. Apabila yang menjadi prioritas adalah mencari laba, maka tarif
yang dibebankan kepada pengguna jasa angkutan harus dapat menutupi biaya
operasi ditambah laba perusahaan. Namun, bila yang menjadi prioritas adalah
pelayanan kepentingan masyarakat banyak, maka tarif yang ada harus dapat
dijangkau oleh seluruh elemen masyarakat. Hampir seluruh angkutan umum yang
beroperasi di dunia, khususnya dalam sistem angkutan kota cenderung lebih
mempertimbangkan daya beli masyarakat. Hal ini mengakibatkan angkutan umum
tersebut beroperasi dalam keadaan defisit. Guna menjaga kelangsungan hidup pihak
perusahaan 40 penyedia jasa transportasi, pemerintah setempat dapat memberikan
mekanisme subsidi dalam berbagai bentuk. (Novalina, 2014)
Ada dua jenis subsidi untuk jasa angkutan, yaitu subsidi langsung dan subsidi
silang.

Subsidi Langsung
Subsidi

langsung

dari

pemerintah

dapat

berupa

keringanan

atau

pembebasan berbagai biaya, misalnya bea masuk kendaraan tertentu, pajak


kendaraan umum, bea balik nama kendaraan umum, biaya izin trayek, biaya
izin usaha, pajak perusahaan dan lain sebagainya. Di Indonesia, pemerintah
memberi subsidi kepada angkutan perintis untuk menutup kekurangan biaya
operasi sebagai akibat dari kebijakan tarif, terutama bagi BUMN. Selain itu,
15

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

pemerintah menyediakan prasarana maupun sarana angkutan yang pada


saatnya diserahkan kepada BUMN sebagai penyertaan modal pemerintah
atau tugas pengoperasian. Kebijakan subsidi langsung bertolak dari landasan
pemikiran bahwa jasa transportasi dalam bentuk angkutan umum penumpang
akan memacu kegiatan ekonomi, social dan budaya masyarakat setempat
yang pada gilirannya akan meningkatkan kegiatan perekonomian wilayah.
Sayangnya dalam hal ini, sektor angkutan umum penumpang tidak dijadikan
sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara langsung, melainkan
digunakan sebagai pemicu kegiatan ekonomi lain yang menghasilkan PAD.

Subsidi Silang
Subsidi tidak hanya selalu diberikan dari pemerintah. Suatu badan usaha
dapat melakukan subsidi bagi dirinya sendiri. Artinya, sektor yang mampu
meraup laba lebih dapat mensubsidi sektor yang merugi. Suatu angkutan
penumpang bus kelas eksekutif misalnya, dapat mensubsidi bus kelas
ekonomi. Kebijakan seperti ini bisa diterapkan sebagai pemicu sektor swasta
agar bersedia mengoperasikan pelayanan angkutan umum pada trayek yang
sepi. 41 Selama ini, jalur pelayanan yang sepi pada umumnya hanya dilayani
oleh BUMN. Contoh-contoh trayek sepi misalnya adalah angkutan kelas
ekonomi

di

perkotaan,

kereta

api

kelas

ekonomi

dan

pelayaran

penyeberangan perintis di kawasan timur Indonesia. Dua hal pokok yang


menyebabkan kerugian adalah sulitnya mencapai tingkat muatan (load factor)
minimal dan tingkat daya beli masyarakat yang masih rendah.

15

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Perhubugan Republik Indonesia (2004). Keputusan Menteri Perhubungan
Nomor KM 62 Tahun 2004 Tanggal 26 Juli 2004 Tentang Penetapan Kota Batam
Provinsi Riau Kepulauan Sebagai Kota Percontohan di Bidang Transportasi
Perkotaan. Sekretariat Negara: Jakarta
Novalina, W. (2014). Kajian Operasional Trans Bandar Lampung. Tesis. Institut Teknologi
Bandung
Warpani, Suwardjoko P. (2002). Pengelolaan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Penerbit
ITB: Bandung

15

10

Sistem Angkutan Umum


Wita Meutia, ST., MT

Pusat Bahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id