Anda di halaman 1dari 36

Combustio

Novitalia
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA Semester 7
Fakultas Kedokteran UKRIDA 2014
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Email : lianovitalia26@ymail.com

PENDAHULUAN
Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan
kontak dengan sumber panas.
Luka bakar merupakan cedera yang cukup sering dihadapi para dokter seiring
bertambahnya jumlah penduduk dan industri. Luka bakar disebabkan oleh banyak hal seperti
panas, ledakan, arus listrik, bahan kimia, dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan
yang dalam. Penderita luka bakar membutuhkan tindakan emergensi oleh karena itu wawasan
klinis mengenai derajat luka bakar, luas dan berat dari luka bakar sangat diperlukan. Untuk
penatalaksanaannya juga harus cepat, meliputi perawatan luka bakar saat tiba dan resusitasi
cairan dan elektrolit yang hilang. Penanganan yang cepat, keadaan kesehatan umum pasien dan
juga usia sangat mempengaruhi prognosis pasien tersebut.

ANAMNESIS
Anamnesis pada luka bakar perlu ditanyakan mengenai penyebab, lama dan lokasi
pajanan. Mekanisme cedera yang berhubungan perlu juga ditanyakan, misalnya ledakan, jatuh,
kecelakaan lalu lintas dan lamanya pajanan dengan api dan sebagainya.1

PEMERIKSAAN FISIK
Pada pemeriksaan fisik pertama kali dilakukan adalah untuk mengetahui apakah pasien
mengalami shock atau tidak karena umumnya pasien sudah tidak sadarkan diri, yaitu dengan cara
paling cepat adalah dengan memeriksa capillary refill dengan nail press. Selanjutnya baru
dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital. Selanjutnya berikan pasien pertolongan pertama
barulah dipastikan diagnose luka bakarnya berikut dengan luas dan kedalamannya.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien tidak sadarkan diri, tekanan darah menurun,
nadi 96x/menit, pernapasan 30x/menit dan suhu 37,70C

PEMERIKSAAN PENUNJANG1,2
1. Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan

dengan perpindahan/ kehilangan cairan.


2. Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan
penurunan fungsi ginjal. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air.
3. Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitial/
gangguan pompa natrium.
4. Urine : adanya albumin, Hb, dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam
dan kehilangan protein.
5. Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi
6. EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik.
7. BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
8. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi.
9. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.

10. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan.
11. Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya.

PEMBAGIAN LUKA BAKAR2


1. Berdasarkan penyebab:
a.

Luka bakar karena api

b. Luka bakar karena air panas


c.

Luka bakar karena bahan kimia

d. Luka bakar karena listrik


e.

Luka bakar karena radiasi

f.

Luka bakar karena suhu rendah (frost bite)

2. Berdasarkan kedalaman luka bakar:


a.

Luka bakar derajat I


Luka bakar derajat pertama adalah setiap luka bakar yang di dalam proses penyembuhannya
tidak meninggalkan jaringan parut. Luka bakar derajat pertama tampak sebagai suatu daerah
yang berwarna kemerahan, terdapat gelembung gelembung yang ditutupi oleh daerah putih,
epidermis yang tidak mengandung pembuluh darah dan dibatasi oleh kulit yang berwarna
merah serta hiperemis.
Luka bakar derajat pertama ini hanya mengenai epidermis dan biasanya sembuh dalam 5-7
hari, misalnya tersengat matahari. Luka tampak sebagai eritema dengan keluhan rasa nyeri
atau hipersensitifitas setempat. Luka derajat pertama akan sembuh tanpa bekas.

Gambar 1. Luka bakar derajat I2


b. Luka bakar derajat II
Kerusakan yang terjadi pada epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi inflamasi akut
disertai proses eksudasi, melepuh, dasar luka berwarna merah atau pucat, terletak lebih tinggi
di atas permukaan kulit normal, nyeri karena ujungujung saraf teriritasi. Luka bakar derajat II
ada dua:
1) Derajat II dangkal (superficial)
Kerusakan yang mengenai bagian superficial dari dermis, apendises kulit seperti folikel
rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea masih utuh. Luka sembuh dalam waktu 10-14
hari.
2) Derajat II dalam (deep)
Kerusakan hampir seluruh bagian dermis. Apendises kulit seperti folikel rambut, kelenjar
keringat, kelenjar sebasea sebagian masih utuh. Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung
apendises kulit yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu
bulan.

Gambar 2. Luka bakar derajat II2


c.

Luka bakar derajat III


Kerusakan meliputi seluruh ketebalan dermis dan lapisan yang lebih dalam, apendises kulit
seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea rusak, tidak ada pelepuhan, kulit
berwarna abu-abu atau coklat, kering, letaknya lebih rendah dibandingkan kulit sekitar
karena koagulasi protein pada lapisan epidermis dan dermis, tidak timbul rasa nyeri.
Penyembuhan lama karena tidak ada proses epitelisasi spontan.

Gambar 3. Luka bakar derajat III2

3. Berdasarkan tingkat keseriusan luka


a.

Luka bakar ringan/ minor


1) Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa
2) Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut

3) Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka, tangan, kaki,
dan perineum.
b. Luka bakar sedang (moderate burn)
1) Luka bakar dengan luas 15 25 % pada dewasa, dengan luka bakar derajat III kurang
dari 10 %
2) Luka bakar dengan luas 10 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40
tahun, dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 %
3) Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak
mengenai muka, tangan, kaki, dan perineum.
c.

Luka bakar berat (major burn)


1) Derajat II-III > 20 % pada pasien berusia di bawah 10 tahun atau di atas usia 50
tahun
2) Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama
3) Luka bakar pada muka, telinga, tangan, kaki, dan perineum
4) Adanya cedera pada jalan nafas (cedera inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka
bakar
5) Luka bakar listrik tegangan tinggi
6) Disertai trauma lainnya
7) Pasien-pasien dengan resiko tinggi.

MANIFESTASI KLINIS3

Tabel 1. Manifestasi Klinis


LUAS LUKA BAKAR3
Berat luka bakar (Combustio) bergantung pada dalam, luas, dan letak luka. Usia dan
kesehatan pasien sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Adanya trauma inhalasi
juga akan mempengaruhi berat luka bakar.
Jaringan lunak tubuh akan terbakar bila terpapar pada suhu di atas 46oC. Luasnya
kerusakan akan ditentukan oleh suhu permukaan dan lamanya kontak. Luka bakar menyebabkan
koagulasi jaringan lunak. Seiring dengan peningkatan suhu jaringan lunak, permeabilitas kapiler
juga meningkat, terjadi kehilangan cairan, dan viskositas plasma meningkat dengan resultan
pembentukan mikrotrombus. Hilangnya cairan dapat menyebabkan hipovolemi dan syok,

tergantung banyaknya cairan yang hilang dan respon terhadap resusitasi. Luka bakar juga
menyebabkan peningkatan laju metabolik dan energi metabolisme.
Semakin luas permukaan tubuh yang terlibat, morbiditas dan mortalitasnya meningkat,
dan penanganannya juga akan semakin kompleks. Luas luka bakar dinyatakan dalam persen
terhadap luas seluruh tubuh. Ada beberapa metode cepat untuk menentukan luas luka bakar,
yaitu:
1.

Estimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien. Luas telapak tangan
individu mewakili 1% luas permukaan tubuh. Luas luka bakar hanya dihitung pada pasien
dengan derajat luka II atau III.

2.

Rumus 9 atau rule of nine untuk orang dewasa


Pada dewasa digunakan rumus 9, yaitu luas kepala dan leher, dada, punggung, pinggang dan
bokong, ekstremitas atas kanan, ekstremitas atas kiri, paha kanan, paha kiri, tungkai dan kaki
kanan, serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. Sisanya 1% adalah daerah genitalia.
Rumus ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa.
Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine
atua rule of wallace yaitu:

a.

Kepala dan leher

: 9%

b.

Lengan masing-masing 9%

: 18%

c.

Badan depan 18%, badan belakang 18%

: 36%

d.

Tungkai maisng-masing 18%

: 36%

e.

Genetalia/perineum

: 1%

Total

: 100%

Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak
jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Karena perbandingan luas
permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda, dikenal rumus 10 untuk bayi, dan rumus 10-15-20
untuk anak.

Gambar 4. Luas luka bakar3


3.

Metode Lund dan Browder


Metode yang diperkenalkan untuk kompensasi besarnya porsi massa tubuh di kepala pada anak.
Metode ini digunakan untuk estimasi besarnya luas permukaan pada anak. Apabila tidak tersedia
tabel tersebut, perkiraan luas permukaan tubuh pada anak dapat menggunakan Rumus 9 dan
disesuaikan dengan usia:

Pada anak di bawah usia 1 tahun: kepala 18% dan tiap tungkai 14%. Torso dan lengan
persentasenya sama dengan dewasa.

Untuk tiap pertambahan usia 1 tahun, tambahkan 0.5% untuk tiap tungkai dan turunkan
persentasi kepala sebesar 1% hingga tercapai nilai dewasa.

Tabel 2. Luas luka bakar3

FASE LUKA BAKAR4


a. Fase akut.4
Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum pada fase ini, seorang penderita
akan berada dalam keadaan yang bersifat relatif life thretening. Dalam fase awal penderita
akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas),
dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa
saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera
inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama
penderiat pada fase akut.

10

Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera
termal yang berdampak sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok
(terjadinya ketidakseimbangan antara paskan O2 dan tingkat kebutuhan respirasi sel dan
jaringan) yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang
masih ditingkahi dengan problema instabilitas sirkulasi.

b.

Fase sub akut4


Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau
kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:

1)

Proses inflamasi dan infeksi.

2)

Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel
luas dan atau pada struktur atau organ organ fungsional.

3)

Keadaan hipermetabolisme.

c.

Fase lanjut4
Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan
fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa
parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

TAHAPAN PENYEMBUHAN4
Proses yang kemudian pada jaringan rusak ini adalah penyembuhan luka yang dapat
dibagi dalam 3 fase:
1. Fase inflamasi

11

Fase yang berentang dari terjadinya luka bakar sampai 3-4 hari pasca luka bakar. Dalam fase ini
terjadi perubahan vaskuler dan proliferasi seluler. Daerah luka mengalami agregasi trombosit dan
mengeluarkan serotonin, mulai timbul epitelisasi.
2. Fase proliferasi
Fase proliferasi disebut fase fibroplasia karena yang terjadi proses proliferasi fibroblast. Fase ini
berlangsung sampai minggu ketiga. Pada fase proliferasi luka dipenuhi sel radang, fibroplasia
dan kolagen, membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan berbenjol halus yang
disebut granulasi. Epitel tepi luka yang terdiri dari sel basal terlepas dari dasar dan mengisi
permukaan luka, tempatnya diisi sel baru dari proses mitosis, proses migrasi terjadi ke arah yang
lebih rendah atau datar. Proses fibroplasia akan berhenti dan mulailah proses pematangan.
3. Fase maturasi
Terjadi proses pematangan kolagen. Pada fase ini terjadi pula penurunan aktivitas seluler dan
vaskuler, berlangsung hingga 8 bulan sampai lebih dari 1 tahun dan berakhir jika sudah tidak ada
tanda-tanda radang. Bentuk akhir dari fase ini berupa jaringan parut yang berwarna pucat, tipis,
lemas tanpa rasa nyeri atau gatal.
D.

ANATOMI FISIOLOGI COMBUSTIO/ LUKA BAKAR2


Kulit adalah organ tubuh terluas yang menutupi otot dan mempunyai fungsi sebagai
pelindung tubuh dan berbagai trauma ataupun masuknya bakteri, kulit juga mempunyai fungsi
utama reseptor yaitu untuk mengindera suhu, perasaan nyeri, sentuhan ringan dan tekanan, pada
bagian stratum korneum mempunyai kemampuan menyerap air sehingga dengan demikian
mencegah kehilangan air serta elektrolit yang berlebihan dan mempertahankan kelembaban
dalam jaringan subkutan.

12

Tubuh secara terus menerus akan menghasilkan panas sebagai hasil metabolisme
makanan yang memproduksi energi, panas ini akan hilang melalui kulit, selain itu kulit yang
terpapar sinar ultraviolet dapat mengubah substansi yang diperlukan untuk mensintesis vitamin
D. kulit tersusun atas 3 lapisan utama yaitu epidermis, dermis dan jaringan subkutan.
1.

Lapisan epidermis, terdiri atas:

a.

Stratum korneum, selnya sudah mati, tidak mempunyai inti sel, inti selnya sudah mati dan
mengandung keratin, suatu protein fibrosa tidak larut yang membentuk barier terluar kulit dan
mempunyai kapasitas untuk mengusir patogen dan mencegah kehilangan cairan berlebihan dari
tubuh.

b.

Stratum lusidum. Selnya pipih, lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki.

c.

Stratum granulosum, stratum ini terdiri dari sel-sel pipi seperti kumparan, sel-sel tersebut
terdapat hanya 2-3 lapis yang sejajar dengan permukaan kulit.

d.

Stratum spinosum/stratum akantosum. Lapisan ini merupakan lapisan yang paling tebal dan
terdiri dari 5-8 lapisan. Sel-selnya terdiri dari sel yang bentuknya poligonal (banyak sudut dan
mempunyai tanduk).

e.

Stratum basal/germinatum. Disebut stratum basal karena sel-selnya terletak di bagian


basal/basis, stratum basal menggantikan sel-sel yang di atasnya dan merupakan sel-sel induk.

2.

Lapisan dermis terbagi menjadi dua yaitu:

a.

Bagian atas, pars papilaris (stratum papilaris)


Lapisan ini berada langsung di bawah epidermis dan tersusun dari sel-sel fibroblas yang
menghasilkan salah satu bentuk kolagen.

b.

Bagian bawah, pars retikularis (stratum retikularis).


Lapisan ini terletak di bawah lapisan papilaris dan juga memproduksi kolagen.

13

Dermis juga tersusun dari pembuluh darah serta limfe, serabut saraf, kelenjar keringat
serta sebasea dan akar rambut.
3.

Jaringan subkutan atau hipodermis


Merupakan lapisan kulit yang terdalam. Lapisan ini terutamanya adalah jaringan
adipose yang memberikan bantalan antara lapisan kulit dan struktur internal seperti otot dan tu
lang. Jaringan subkutan dan jumlah deposit lemak merupakan faktor penting dalam pengaturan
suhu tubuh
Kelenjar keringat ditemukan pada kulit pada sebagian besar permukaan tubuh. Kelenjar
ini terutama terdapat pada telapak tangan dan kaki. Kelenjar keringat diklasifikasikan menjadi 2,
yaitu kelenjar ekrin dan apokrin. Kelenjar ekrin ditemukan pada semua daerah kulit. Kelenjar
apokrin berukuran lebih besar dan kelenjar ini terdapat aksila, anus, skrotum dan labia mayora.

Gambar 5. Anatomi Kulit2


ETIOLOGI2
Luka bakar (Combustio) dapat disebabkan oleh paparan api, baik secara langsung
maupun tidak langsung, misal akibat tersiram air panas yang banyak terjadi pada kecelakaan
rumah tangga. Selain itu, pajanan suhu tinggi dari matahari, listrik maupun bahan kimia juga
14

dapat menyebabkan luka bakar. Secara garis besar, penyebab terjadinya luka bakar dapat dibagi
menjadi:
1.

Paparan api
Flame: Akibat kontak langsung antara jaringan dengan api terbuka, dan menyebabkan cedera
langsung ke jaringan tersebut. Api dapat membakar pakaian terlebih dahulu baru mengenai
tubuh. Serat alami memiliki kecenderungan untuk terbakar, sedangkan serat sintetik cenderung
meleleh atau menyala dan menimbulkan cedera tambahan berupa cedera kontak.
Benda panas (kontak): Terjadi akibat kontak langsung dengan benda panas. Luka bakar yang
dihasilkan terbatas pada area tubuh yang mengalami kontak. Contohnya antara lain adalah luka
bakar akibat rokok dan alat-alat seperti solder besi atau peralatan masak.

2.

Scalds (air panas)


Terjadi akibat kontak dengan air panas. Semakin kental cairan dan semakin lama waktu
kontaknya, semakin besar kerusakan yang akan ditimbulkan. Luka yang disengaja atau akibat
kecelakaan dapat dibedakan berdasarkan pola luka bakarnya. Pada kasus kecelakaan, luka
umumnya menunjukkan pola percikan, yang satu sama lain dipisahkan oleh kulit sehat.
Sedangkan pada kasus yang disengaja, luka umumnya melibatkan keseluruhan ekstremitas dalam
pola sirkumferensial dengan garis yang menandai permukaan cairan.

3.

Uap panas
Terutama ditemukan di daerah industri atau akibat kecelakaan radiator mobil. Uap panas
menimbulkan cedera luas akibat kapasitas panas yang tinggi dari uap serta dispersi oleh uap
bertekanan tinggi. Apabila terjadi inhalasi, uap panas dapat menyebabkan cedera hingga ke
saluran napas distal di paru.

15

4.

Gas panas
Inhalasi menyebabkan cedera thermal pada saluran nafas bagian atas dan oklusi jalan
nafas akibat edema.

5.

Aliran listrik
Cedera timbul akibat aliran listrik yang lewat menembus jaringan tubuh. Umumnya luka
bakar mencapai kulit bagian dalam. Listrik yang menyebabkan percikan api dan membakar
pakaian dapat menyebabkan luka bakar tambahan.

6.

Zat kimia (asam atau basa)

7.

Radiasi

8.

Sunburn sinar matahari, terapi radiasi.

PATOFISIOLOGI4
Luka bakar (Combustio) disebabkan oleh pengalihan energi dari suatu sumber panas
kepada tubuh. Panas dapat dipindahkan lewat hantaran atau radiasi elektromagnetik. Destruksi
jaringan terjadi akibat koagulasi, denaturasi protein atau ionisasi isi sel. Kulit dan mukosa
saluran nafas atas merupakan lokasi destruksi jaringan. Jaringan yang dalam termasuk organ
visceral dapat mengalami kerusakan karena luka bakar elektrik atau kontak yang lama
dengan burning agent. Nekrosis dan keganasan organ dapat terjadi.
Kedalam luka bakar bergantung pada suhu agen penyebab luka bakar dan lamanya
kontak dengan gen tersebut. Pajanan selama 15 menit dengan air panas dengan suhu sebesar
56.10C mengakibatkan cidera full thickness yang serupa. Perubahan patofisiologik yang
disebabkan oleh luka bakar yang berat selama awal periode syok luka bakar mencakup
hipoperfusi jaringan dan hipofungsi organ yang terjadi sekunder akibat penurunan curah jantung

16

dengan diikuti oleh fase hiperdinamik serta hipermetabolik. Kejadian sistemik awal sesudah luka
bakar yang berat adalah ketidakstabilan hemodinamika akibat hilangnya integritas kapiler dan
kemudian terjadi perpindahan cairan, natrium serta protein dari ruang intravaskuler ke dalam
ruanga interstisial.
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah
terlihat dengan jelas. Karena berkelanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume
vaskuler, maka curah jantung akan terus turun dan terjadi penurunan tekanan darah. Sebagai
respon, system saraf simpatik akan melepaskan ketokelamin yang meningkatkan vasokontriksi
dan frekuensi denyut nadi. Selanjutnya vasokontriksi pembuluh darah perifer menurunkan curah
jantung.
Umumnya jumlah kebocoran cairan yang tersebar terjadi dalam 24 hingga 36 jam
pertama sesudah luka bakar dan mencapai puncaknya dalam tempo 6-8 jam. Dengan terjadinya
pemulihan integritas kapiler, syok luka bakar akan menghilang dan cairan mengalir kembali ke
dalam kompartemen vaskuler, volume darah akan meningkat. Karena edema akan bertambah
berat pada luka bakar yang melingkar. Tekanan terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada
ekstremitas distal menyebabkan obstruksi aliran darah sehingga terjadi iskemia. Komplikasi ini
dinamakan sindrom kompartemen.
Volume darah yang beredar akan menurun secara dramatis pada saat terjadi syok luka
bakar. Kehilangan cairan dapat mencapai 3-5 liter per 24 jam sebelum luka bakar ditutup. Selama
syok luka bakar, respon luka bakar respon kadar natrium serum terhadap resusitasi cairan
bervariasi. Biasanya hipnatremia terjadi segera setelah terjadinya luka bakar, hiperkalemia akan
dijumpai sebagai akibat destruksi sel massif. Hipokalemia dapat terhadi kemudian dengan
berpeindahnya cairan dan tidak memadainya asupan cairan. Selain itu juga terjadi anemia akibat

17

kerusakan sel darah merah mengakibatkan nilai hematokrit meninggi karena kehilangan plasma.
Abnormalitas koagulasi yang mencakup trombositopenia dan masa pembekuan serta waktu
protrombin memanjang juga ditemui pada kasus luka bakar.
Kasus luka bakar dapat dijumpai hipoksia. Pada luka bakar berat, konsumsi oksigen
oleh jaringan meningkat 2 kali lipat sebagai akibat hipermetabolisme dan respon lokal. Fungsi
renal dapat berubah sebagai akibat dari berkurangnya volume darah. Destruksi sel-sel darah
merah pada lokasi cidera akan menghasilkan hemoglobin bebas dalam urin. Bila aliran darah
lewat tubulus renal tidak memadai, hemoglobin dan mioglobin menyumbat tubulus renal
sehingga timbul nekrosis akut tubuler dan gagal ginjal.
Kehilangan integritas kulit diperparah lagi dengan pelepasan faktor-faktor inflamasi
yang abnormal, perubahan immunoglobulin serta komplemen serum, gangguan fungsi neutrofil,
limfositopenia. Imunosupresi membuat pasien luka bakar bereisiko tinggi untuk mengalmai
sepsis. Hilangnya kulit menyebabkan ketidakmampuan pengaturan suhunya. Beberapa jam
pertama pasca luka bakar menyebabkan suhu tubuh rendah, tetapi pada jam-jam berikutnya
menyebabkan hipertermi yang diakibatkan hipermetabolisme

18

Pathway Combusio (Luka Bakar)4

19

PENATALAKSANAAN COMBUSTIO/ LUKA BAKAR


Upaya pertama saat terbakar adalah mematikan api pada tubuh, misalnya dengan
menyelimuti dan menutupi bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan oksigen pada api
yang menyala. Korban dapat mengusahakannya dengan cepat menjatuhkan diri dan berguling
agar bagian pakaian yang terbakar tidak meluas. Kontak dengan bahan yang panas juga harus
cepat diakhiri, misalnya dengan mencelupkan bagian yang terbakar atau menceburkan diri ke air
dingin atau melepaskan baju yang tersiram air panas.5
Pertolongan pertama setelah sumber panas dihilangkan adalah merendam daerah luka bakar
dengan air atau menyiraminya dengan air mengalir selama sekurang kurangnya lima belas menit.
Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api
dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan
daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu
merendam bagian yang terbakar selama 15 menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk
menurunkan suhu jaringan sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil. Dengan demikian
luka yang sebenarnya menuju derajat dua dapat berhenti pada derajat satu, atau luka yang akan
menjadi derajat tiga dihentikan pada tingkat dua atau satu. Pencelupan atau penyiraman dapat
dilakukan dengan air apa saja yang dingin, tidak usah steril.5
Pada luka bakar ringan, prinsip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang
terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk
berploriferasi dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka.6
Pada luka bakar berat, selain penanganan umum seperti pada luka bakar ringan, kalau perlu
dilakukan resusitasi segera bila penderita menunjukkan gejala syok. Bila penderita menunjukkan
gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Kalau terjadi

20

edema laring, dipasang endotrakeal tube atau dibuat trakeostomi. Trakeostomi berfungsi untuk
membebaskan jalan nafas, mengurangi ruang mati dan memudahkan pembersihan jalan nafas
dari lendir atau kotoran. Bila ada dugaan keracunan CO, diberikan oksigen murni.6
Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya terbuka
untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut steril untuk perawatan tertutup.
Kalau perlu, penderita dimandikan terlebih dahulu. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus
berupa ATS dan/atau toksoid. Analgesik diberikan bila penderita kesakitan.6
Secara singkat, berikut adalah hal hal yang bisa dilakukan untuk menolong korban luka
bakar di tempat kejadian.7
A. Bantuan Pertama untuk Luka Bakar Derajat Pertama
1. Jika kulit tidak rusak, siram air dingin di atas area yang terbakar atau rendam dengan air
dingin (bukan air es). Lakukan hal tersebut untuk beberapa menit. Jika luka bakar
terjadi karena suatu lingkungan dingin, Jangan gunakan air. Suatu handuk basah yang
dingin dapat juga membantu mengurangi sakit.
2. Luka bakar dapat sangat menyakitkan, tenteramkan hati korban dan jaga ia agar tetap
tenang.
3. Setelah membilas atau merendam luka bakar untuk beberapa menit, tutup luka bakar
dengan suatu perban yang steril, tidak mudah lengket atau kain bersih.
4. Lindungi luka bakar dari gesekan dan tekanan.
5. Pemberian analgesik mungkin diperlukan untuk mengurangi sakit, mereka juga bisa
membantu mengurangi peradangan dan pembengkakan.
6. Luka bakar ringan pada umumnya sembuh tanpa perawatan lebih lanjut.

21

B. Bantuan Pertama untuk Luka Bakar Derajat Dua dan Tiga


1. Jangan lepas atau tanggalkan pakaian yang terbakar; (kecuali jika pakaian itu lepas
dengan mudah), tetapi pastikan bahwa korban tidak kontak dengan bahan atau material
yang terbakar.
2.

Pastikan bahwa korban masih bernafas. Jika nafasnya berhenti atau airway korban
terhalang kemudian buka airway dan jika perlu mulai resusitasi.

3. Jika korban bernafas, tutup luka bakar dengan suatu perban yang steril, lembab, dingin
atau kain bersih. Jangan menggunakan suatu selimut atau handuk; suatu seprai yang
mudah terbakar. Jangan gunakan obat salep dan hindari terjadinya lepuh.
4. Jika jari tangan atau jari kaki telah dibakar, pisahkan mereka dengan pembalut luka yang
tidak mudah lengket steril, kering.
5.

Angkat area yang terbakar dan lindungi dari tekanan atau gesekan.

6. Lakukan tindakan untuk mencegah syok. Letakkan korban pada tempat yang datar,
angkat kaki setinggi 12 inci, dan tutup korban dengan suatu mantel atau selimut. Jangan
tempatkan korban pada posisi syok bila dicurigai ada kepala, leher, punggung, atau kaki
yang luka atau jika posisi tersebut membuat korban tidak nyaman.
7. Lanjutkan dengan memonitor tanda vital korban (nafas, denyut nadi, tekanan darah).
C. Hal Yang Tidak Boleh Dilakukan7
1. Jangan oleskan obat salep, mentega, es, pengobatan, pakaian berbahan kapas halus, perban
yang mudah lengket, kain sari, meminyaki percikan, atau menggunakan bahan rumah
tangga apapun untuk memperbaiki luka bakar. Hal ini dapat bertentangan dengan
penyembuhan yang sesuai.

22

2. Jangan biarkan luka bakar terkontaminasi. Hindari bernafas atau batuk di area yang
terbakar.
3. Jangan lakukan apapun pada kulit yang mati atau melepuh.
4. Jangan lakukan kompres beku dan jangan rendam suatu luka bakar serius dengan air
dingin. Hal ini dapat menyebabkan syok.
5. Jangan letakkan bantal di bawah kepala korban jika ada suatu luka bakar pada airway. Hal
ini dapat menutup airway.

Luka bakar adalah merupakan suatu keadaan gawat darurat, jadi setelah hal-hal diatas
dilakukan sebaiknya korban di bawa ke rumah sakit. Berikut adalah hal-hal yang dilakukan:6,7
1. 24 Jam Pertama (Hari 1)
a. Survei primer :
A = Airway
Adakah trauma inhalasi: anamnesa, suara serak (stridor)observasi selama 24 jam
bila perlu pasang ET atau lakukan trakheostomi
B = Breathing
Gangguan nafas karena eschar yang melingkar dada, trauma thorax dlllakukan
escharotomi atau penanganan trauma thorax yang lain
C = Circulation
Dilakukan resusitasi cairan. Bila penderita syok maka diatasi dulu syoknya dengan
infus RL diguyur sampai nadi teraba atau tekanan darah >90mmHg. Baru kemudian
lakukan resusitasi cairan. Cairan yang dibutuhkan dalam penanganan syok tidak
dihitung. Resusitasi cairan yang sering digunakan adalah cara Baxter.

23

Baxter dengan rumus :


4cc x kgBB x %luka bakar

Setengah dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama dan sisanya diberikan
selama 16 jam berikutnya. Cairan yang diberikan biasanya RL karena terjadi defisit ion
Na.
Cara lain yang bisa dilakukan adalah cara Evans :
1. %luka bakar x kgBB menjadi NaCl per 24 jam
2. %luka bakar x kgBB menjadi ml plasma per 24 jam
Keduanya merupakan pengganti cairan yang hilang akibat edema. Plasma
diperlukan untuk mengganti plasma yang keluar dari pembuluh darah dan meninggikan
tekanan osmosis hingga mengurangi perembesan keluar dan menarik kembali cairan yang
telah keluar.
3. Sebagai pengganti cairan yang hilang akibat penguapan, diberikan 2000cc glukosa 5%
per 24jam.
Separuh dari jumlah 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya dalam 16 jam
berikutnya.
-

Pasang kateter untuk memonitor produksi urin. Diharapkan produksi urin 1cc/KgBB/jam

Pasang CVP pada luka bakar >/=40% dan pada penderita yang mengalami kesulitan
untuk mengukur tekanan darah.

24

b. Survei Sekunder

Penilaian luas luka bakar dan derajat kedalamannya. Biasanya dihitung sebelum
resusitasi cairan definitive

Pasang NGT. Untuk dekompresi penderita yang mengalami ileus paralitik dan
untuk memasukkan makanan

Cuci luka dengan NaCl dan savlon, keringkan, olesi dengan salep (Dermazin)
kemudian rawat luka secara tertutup

Pemeriksaan laboratorium darah dan Analisa Gas Darah tiap 24 jam

Pemberian analgetika dan antibiotika


Luka bakar termal, listrik dan bahan kimia membutuhkan penanganan dan

pengobatan yang berbeda. Terapi farmakologi memiliki peran yang terbatas dalam
penatalaksanaan luka bakar kimia. Disisi lain kunci dari penanganan luka bakar listrik
adalah pada rehidrasi sementara luka bakar termal memerlukan analgetik dan antibiotik
topikal. Pastikan pasien memberi informasi tentang alergi obat yang mereka miliki, obat
obatan yang sedang diminum atau kondisi kesehatan lain.7
Terapi Luka Bakar Termal
1. Analgetik
Untuk luka bakar termal dokter biasanya memberikan resep analgetik untuk
menghilangkan rasa nyeri dan memberikan kenyamanan pada pasien. Morfin sulfat,
Demerol dan Vicodin mungkin diresepkan untuk nyeri yang sangat hebat.
2. Anti Inflamasi Non steroid

25

Golongan obat ini digunakan untuk nyeri akibat luka bakar ringan sampai sedang.
Ibuprofen biasanya digunakan untuk terapi awal, tapi pilihan lain seperti naproxen,
ansaid dan anaprox dapat juga diberikan.
3. Antibiotik Topikal
Antibiotik topikal digunakan untuk mencegah infeksi dan pertumbuhan bakteri. Neo
sporin digunakan untuk infeksi minor dan dioleskan ke kulit 1 3x sehari.
Silvadene adalah krim topikal yang digunakan untuk luka bakar yang lebih berat.
Silvadene adalah obat golongan sulfa yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi
bakteri atau jamur. Silvadene harus dioleskan menggunakan teknik steril ke tempat luka bakar
dan tempat luka bakar tersebut harus dicuci bersih sebelum pemakaian. Hindari menggunakan
silvadene pada wajah dan silvadene tidak boleh digunakan pada neonatus, bayi berumur kurang
dari 2 tahun atau pada kehamilan trimester akhir.1

Terapi Luka Bakar Kimia


Walaupun obat-obatan memegang peranan yang terbatas pada penatalaksanaan luka bakar
kimia pada umumnya namun antibiotik topikal, garam magesium dan kalsium mungkin dapat
digunakan. Setelah luka dibersihkan, terapi cairan IV dan obat-obat narkotik diberikan1,2,7
1. Antibiotik
Silvadene digunakan untuk luka bakar pada kulit dan berguna dalam pencegahan
infeksi pada luka bakar derajat 2 dan 3. Obat ini harus dioleskan pada kulit 1 atau 2x sehari
dan semua obat yang diberikan sebelumnya harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum
mengoleskan salep baru. Eritromicin salep (bacitracin) digunakan untuk mencegah infeksi
pada luka bakar yang terdapat di bagian mata.

26

2. Analgetik
Morfin dan asetaminofen diberikan untuk penatalaksanaan nyeri dan mungkin dapat
bertindak sebagai sedatif yang penting bagi pasien yang mengalami cedera pada daerah mata.
3. Anti Inflamasi Non Steroid
Advil, Motrin, Ansaid, Naprosyn, dan anaprox adalah obat anti inflamasi yang
digunakan untuk menghilangkan nyeri ringan sampai sedang.

Terapi Luka Bakar Elektrik


Kunci dari penatalaksanaan luka bakar listrik adalah hidrasi. Hidrasi yang adekuat dapat
menurunkan morbiditas. Jika kerusakan otot terjadi sangat parah, diuretik osmotik diberikan.6
1. Terapi Cairan
Ringer Lactat biasanya digunakan untuk terapi. Ringer lactat adalah larutan isotonik dan
berfungsi sebagai pengganti volume cairan tubuh. Pemberiannya melalui jalur intra vena dan
harus dihentikan apabila terdapat tanda-tanda edema pulmo.
2.

Osmosis diuretik
Manitol adalah diuretik osmosis yang tidak dimetabolisme secara signifikan dan melewati
glomerulus tanpa direabsorpsi oleh ginjal. Manitol digunakan untuk mengembalikan dan
mempertahankan urin output.

2. 24 Jam Kedua (Hari II) dst7

Cairan yang diberikan volumenya dari hari pertama

Pemberian koloid/plasma ekspander sudah boleh dilakukan

Diet sudah mulai 8 jam pasca trauma bila tidak terjadi ileus, melalui NGT

Perawatan luka dilakukan sesuai kebutuhan, biasanya setiap hari


27

Hari ke 7 penderita boleh dimandikan

Posisi penderita diletakkan dalam posisi yang baik agar tidak terjadi kontraktur maupun
problem rekonstruksi yang lain.

Selain penatalaksanaan secara farmakologik, perawatan luka bakar juga tak lepas dengan
masalah nutrisi. Nutrisi bagi penderita luka bakar tak kalah pentingnya dalam proses
penyembuhan luka.7
Memperkirakan jumlah kebutuhan nutrisi pada pasien luka bakar sangat penting dalam
proses penyembuhan. Terdapat beberapa rumus untuk menghitung kebutuhan nutrisi pasien kula
bakar. Persamaan Harris-Benedict dibuat untuk menghitung kebutuhan kalori orang dewasa
sementara Galvaston digunakan pada anak-anak. Rumus Curreri digunakan untuk menghitung
kebutuhan kalori dewasa dan anak-anak. Studi terbaru menunjukkan bahwa rumus ini cenderung
bersifat berlebihan (over estimate) sebesar kira kira 150% dari kebutuhan kalori. Karena tidak
ada satupun rumus yang dapat memperhitungkan secara akurat berapa banyak kalori yang
dibutuhkan oleh pasien, adalah penting bagi dokter dan ahli gizi untuk memonitor secara ketat
kondisi nutrisi pasien.7
Kebutuhan protein pada umumnya meningkat daripada kebutuhan energi dan tampaknya
berhubungan dengan besarnya massa tubuh. Tubuh kehilangan protein melalui luka dan karena
hal ini tubuh meningkatkan kebutuhan kalori untuk penyembuhan. Bagaimanapun juga
mayoritas dari peningkatan kebutuhan protein berasal dari adanya kerusakan otot dan terkait
penggunaannya dalam memproduksi energi. Memberikan indeks protein yang lebih tinggi tidak
dapat menghentikan proses perusakan ini akan tetapi protein penting untuk menyediakan bahan
untuk sintesis jaringan yang rusak atau hilang. Karbohidrat merupakan penyuplai kalori terbesar

28

pada kebanyakan kondisi terrmasuk stress pada luka bakar. Memberikan kalori yang adekuat dari
karbohidrat dapat mengurangi penggunaan protein sebagai bahan bakar. Tubuh memecah
karbohidrat menjadi glukosa yang akan digunakan sebagai energi. Luka bakar membutuhkan
glukosa untuk energi dan tidak dapat menggunakan sumber energi lain.7
Lemak dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan akan asam lemak esensial dan juga
sebagai sumber kalori. Rekomendasi umum memberikan 30% kalori dalam bentuk lemak, dan
jumlah ini bisa lebih besar jika diperlukan. Kekurangan asupan lemak berimplikasi pada
penurunan fungsi imun.7
Kebanyakan institusi kesehatan mengetahui bahwa luka bakar membutuhkan jumlah
vitamin dan mineral yang lebih tinggi akan tetapi berapa peningkatan kebutuhan ini belum dapat
ditentukan. Beberapa vitamin yang penting adalah vitamin C dan E bersama dengan zinc dapat
membatasi kerusakan oksidatif dan mempercepat penyembuhan luka.
Memberikan kalori dan zat gizi yang adekuat adalah tugas yang sangat sulit pada pasien
luka bakar terutama pada anak-anak. Adalah sangat penting bagi para tenaga kesehatan untuk
dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dalam rangka meminimalisasi efek buruk dari
kehilangan masa tubuh,dan malnutrisi energi protein. Kegagalan memenuhi kebutuhan ini dapat
bermanifestasi sebagai penyembuhan luka yang tidak sempurna, balance nitrogen yang negatif,
penurunan BB dan penurunan fungsi kekebalan tubuh.7
Penilaian status nutrisi awal sebaiknya dilakukan secepatnya setelah masuk rumah sakit.
Hal ini sangat penting agar pemberian makan yang adekuat dapat diberikan dalam 24-48 jam
pertama setelah pasien mengalami luka bakar. Pengukuran berat badan dan tinggi badan yang
akurat seperti sebelum luka bakar terjadi yang dapat dilihat pada Tabel Standar Pertumbuhan
Anak sangat diperlukan untuk memperkirakan kebutuhan nutrisi pada anak. 7

29

Rehabilitasi Pasca Luka Bakar2


Mencegah timbulnya bekas luka adalah merupakan tujuan utama dari penatalaksanaan
luka bakar. Edukasi pasien secara konsisten dan berulang adalah suatu bagian yang penting
dalam terapi pasien. Penatalaksanaan terhadap edema, penatalaksanaan gangguan nafas,
memposisikan, dan melibatkan pasien dalam aktivitas fungsional dan pergerakan harus dimulai
sejak dini. Pasien perlu dimotivasi untuk bekerja sesuai dengan kemampuan mereka dan
menerima tanggung jawab untuk merawat diri mereka sendiri. Kemampuan fungsional pasien
setelah terapi tidak akan maksimal jika pasien tidak secara teratur terlibat dalam pergerakan.
A. Pengendalian Nyeri2
Dalam rangka mencapai hasil akhir yang diinginkan, adalah sangat penting untu
memberikan penghilang nyeri yang adekuat. Tujuan dari pemberian obat penghilang sakit adalah
untuk memberikan dasar yang baik pada penatalaksanaan nyeri agar baik aktifitas dan
pergerakan fungsional hidup sehari-hari dapat dilakukan oleh pasien setiap waktu. Penggunaan
obat penghilang sakit kombinasi seperti paracetamol, AINS, tramadol, dan obat narkotika lepas
lambat dapat menurunkan kebutuhan akan dosis narkotika untuk nyeri yang sangat hebat. Kodein
harus dihindarkan jika mungkin oleh karena efek negatifnya mempengaruhi motilitas usus.
Metode penatalaksanaan yang mungkin dapat membantu adalah Stimulasi Listrik Syaraf
Transkutaneus (TENS)

B. Trauma Inhalasi2,7
Penata laksanaan agresif dan profilaksis terhadap saluran pernafasan harus dimulai bila
ada kecurigaan adanya suatu trauma inhalasi. Jika terdapat riwayat luka bakar pada suatu ruang
tertutup atau pasien mengalami penurunan tingkat kesadaran maka perawatan harus dimulai

30

secepatnya. Perawatan harus diarahkan pada menghilangkan sekresi paru-paru (oedema),


menormalisasi mekanisme pernafasan, dan mencegah komplikasi lain seperti pneumonia.
Penatalaksanaan awal meliputi:

Normalisasi mekanisme pernafasan-seperti menggunakan suatu alat Bantu ekspirasi


bertekanan positif, intermittent positive pressure breathing, posisi duduk, dan potitioning

Meningkatkan kedalaman pernafasan dan ventilasi kolateral alveolar seperti dengan


ambulasi atau, jika tidak mungkin, menggunakan tilt table, dan teknik fasilitasi.

C. Pergerakan dan Fungsi2,7


Pergerakan adalah suatu kebiasaan yang harus dimotivasi untuk dimulai bahkan sejak
saat masuk rumah sakit. Jika suatu pasien dapat menerima tanggung jawab atas latihan diri
sendiri dan dapat melakukan aktivitas hidup sehari-hari maka aspek tersulit dari program
rehabilitasi akan mudah terlewati. Jika dicurigai ada kerusakkan tendon akibat luka bakar, maka
mungkin akan dibutuhkan bidai pelindung dan alat pelindung pergerakan lain.

D. Penatalaksanaan Oedema2
Menghilangkan Oedema harus dilakukan sejak awal masuk rumah sakit. Satu-satunya
sistem tubuh yang dapat dengan aktif memindahkan kelebihan cairan dan debris dari jaringan
interstitium adalah sistem limfatik. Oedema yang terkumpul pada zona stasis suatu luka bakar
dapat menyebabkan penambahan kedalaman luka bakar secara progresif. Prinsip pengurangan
oedema merupakan bagian yang holistic dalam penata laksanaan luka bakar.
Rehabilitasi Yang dimulai pada saat terjadinya luka bakar meliputi:

Kompresi-misalnya Coban, sarung tangan edema

Pergerakan-Ritmik

31

Elevasi atau memposisikan ekstremitas untuk membantu penyerapan kembali


cairan oedema

Maksimalisasi pembuluh limfe

Pembidaian tidak mengendalikan oedema kecuali untuk mengalirkan cairan ke


daerah yang mengalami imobilisasi.

E. Imobilisasi2
Penghentian pergerakan, fungsi, dan ambulasi mempunyai indikasi masing-masing.
Imobilisasi hanya boleh dilakukan apabila terdapat kerusakan tendon atau tulang atau apabila
jaringan yang rusak telah diperbaiki (termasuk rekonstruksi kulit). Apabila bagian tubuh harus
diimobilisasi, misalnya untuk membuat skin graft menempel, maka bagian tersebut harus
dipasang bidai atau diposisikan pada posisi antideformitas (mencegah adanya deformitas
dikemudian hari) untuk jangka waktu yang sesingkat mungkin.

F. Rekonstruksi Kulit2
Rekonstruksi Kulit dirancang sesuai dengan kedalaman luka bakar yang dinilai pada saat
operasi. Teknik rekonstruksi dan perkiraan waktu pelaksanaan rekonstruksi sepenuhnya
tergantung pada masing-masing ahli bedah. Faktor lain yang mempengaruhi metode pemilihan
rekonstruksi kulit ini meliputi ketersediaan dan biaya produk bioteknologi.

G. Penatalaksanaan Jaringan Parut2,7


Penatalaksanaan jaringan parut berhubungan komponen fisik dan komponen estetik
dikarenakan adanya implikasi emosional dan psikososial pasca luka bakar.

32

Jaringan parut hipertrofik merupakan hasil dari pembentukan serat kolagen yang
berlebihan selama masa penyembuhan luka dan reorientasi dari serat tersebut dengan pola yang
tidak seragam.
Jaringan keloid berbeda dari jaringan parut hipertrofik karena ia bisa meluas di luar area
luka bakar. Keloid lebih sering dijumpai pada orang-orang dengan kulit hitam dibanding orangorang kulit putih.
Pembentukan jaringan parut dipengaruhi oleh banyak faktor:

Faktor diluar kulit: pertolongan pertama kecukupan resusitasi cairan, penempatan di

rumah sakit, intervensi bedah, penatalaksanaan luka dan pembebatan luka.


Faktor yang berhubungan dengan pasien sendiri. Derajat penyesuaian dengan program
rehabilitasi, tingkat motivasi, umur, kehamilan, warna kulit.

H. Follow Up pasien rawat Jalan2


Unit penanganan luka bakar sebaiknya memberikan ringkasan yang teratur dan
komprehensif mengenai perkembangan terapinya. Jenis follow up pasien rawat jalan tergantung
dari derajat beratnya luka bakar, akan tetapi dalam hubungannya dengan pengembalian fungsi
dan pergerakan, pasien rawat jalan membutuhkan monitoring yang ketat dan perubahan secara
berkala dosis latihan fisioterapi dan program latihan di rumah.

KOMPLIKASI COMBUSTIO/ LUKA BAKAR


1. Gagal jantung kongestif dan edema pulmonal
2. Sindrom kompartemen
Sindrom kompartemen merupakan proses terjadinya pemulihan integritas kapiler, syok luka
bakar akan menghilang dan cairan mengalir kembali ke dalam kompartemen vaskuler, volume
33

darah akan meningkat. Karena edema akan bertambah berat pada luka bakar yang melingkar.
Tekanan terhadap pembuluh darah kecil dan saraf pada ekstremitas distal menyebabkan obstruksi
aliran darah sehingga terjadi iskemia.
3. Adult Respiratory Distress Syndrome
Akibat kegagalan respirasi terjadi jika derajat gangguan ventilasi dan pertukaran gas sudah
mengancam jiwa pasien.
4. Ileus Paralitik dan Ulkus Curling
Berkurangnya peristaltic usus dan bising usus merupakan tanda-tanda ileus paralitik akibat luka
bakar. Distensi lambung dan nausea dapat mengakibatnause. Perdarahan lambung yang terjadi
sekunder akibat stress fisiologik yang massif (hipersekresi asam lambung) dapat ditandai oleh
darah okulta dalam feces, regurgitasi muntahan atau vomitus yang berdarha, ini merupakan
tanda-tanda ulkus curling.
5. Syok sirkulasi terjadi akibat kelebihan muatan cairan atau bahkan hipovolemik yang terjadi
sekunder akibat resusitasi cairan yang adekuat. Tandanya biasanya pasien menunjukkan mental
berubah, perubahan status respirasi, penurunan haluaran urine, perubahan pada tekanan darah,
curah janutng, tekanan cena sentral dan peningkatan frekuensi denyut nadi.
6. Gagal ginjal akut
Haluran urine yang tidak memadai dapat menunjukkan resusiratsi cairan yang tidak adekuat
khususnya hemoglobin atau mioglobin terdektis dalam urine.

PROGNOSIS

34

Harapan hidup setelah luka bakar sangat erat kaitannya dengan usia penderita, ukuran
luka bakar, dan ada tidaknya cedera inhalasi. Karena banyaknya variable pada luka bakar
sebelum dirawat di rumah sakit, dan kejadian-kejadian di sekitar luka bakar, maka mortalitas
secara kasar hanya sedikit bernilai dan sering kali menyesatkan dalam usaha untuk menilai
prognosis pengobatan.
Analisa probit dari 37.000 pasien pada tahun 1980 dari National Burn Information
Exchange Data Collection Program menunjukkan suatu LA50 secara keseluruhan adalah 71,2%
untuk pasien-pasien luka bakar berusia 5 hingga 34 tahun. Anak di bawah usia 4 tahun memiliki
mortalitas yang lebih tinggi dibandingkan anak yang lebi besar dan orang dewasa.1
EDUKASI
Luka bakar yang belum sembuh harus dilakukan debridement dan dibersihkan sedikitnya
dua kali sehari. Jaringan nekrotik yang dibuang pada saat membersihkan adalah jaringan yang
tampak mati dan tampak seperti keju pada permukaan luka bakar. Penderita harus
memperhatikan setiap perubahan yang menyolok dari penampilan luka bakar menunjukkan
adanya infeksi.1
Pasien diintruksikan untuk membersihkan dan mengganti balutan luka tiap hari. Setelah
penyembuhan sempurna, maka epithelium yang baru akan lebih sensistif daripada kulit
disekitarnya terhadap panas matahari atau panas. Pasien harus menghindari daerah yang terlalu
panas atau terlalu banyak menerima sinar matahari selama 6 bulan.3
Teratur menggunakan salep atau krim kulit yang telah diberikan dokter untuk
memperbaiki karakteristik permukaan kulit secara perlahan-lahan, karena kulit baru cenderung
kering dan bersisik karena kehilangan sejumlah kelenjar keringat dan sebasea sekunder terhadap
luka bakar.3

35

Pemenuhan nutrisi yang adekuat dengan makan makanan yang mengandung banyak
kalori, lemak, vitamin dan mineral untuk mengimbangi pengeluaran energi.1
KESIMPULAN
Luka bakar adalah luka trauma yang bervariasi pada tingkat keparahannya dari ringan
hingga berat yang dapat menimbulkan kematian. Penyembuhan dan perawatan yang lama
disertai komplikasi merupakan kendala pada trauma luka bakar. Hasil pada perawatan luka bakar
sangatlah bergantung pada pertolongan pertamanya, semakin baik dan cepat maka hasilnya akan
semakin baik pula. Oleh karena itu penilaian, resusitasi, penanganan, dan rehabilitasi sangat
diperlukan agar hasil pengobatan pasien memberikan hasil yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Jong WD. Buku ajar ilmu bedah. Edisi ke-2. Jakarta: EGC. 2005.h.66-88.
Sabiston DC. Buku ajar bedah. Jakarta:EGC.2002.h.151-76.
Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Edisi ke-3. Jakarta: EGC. 2009.h.127-33.
Schwartz SI. Intisari prinsip-prinsip ilmu bedah. Edisi ke-6. Jakarta: EGC.2000.h.97-133.
Mohamad K. Pertolongan pertama. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.2004.h.70-72.
Becker JM. Essentials of surgery. Edisi ke-1. Philadelphia:Saunders Elsevier.2007.p. 118-29.
Holmes JH, Heimbach DM. Burns, in: Schwartzs Principles of Surgery. 18th ed. New York:
McGraw-Hill.2005.p.189-216.

36