Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny.

F
DENGAN SUSPEK CA CERVIK DAN ANEMIA
DI RUANG NIFAS RSU MATARAM
TANGGAL 05 07 JULI 2007
Hari/ Tanggal Pengkajian : Kamis, 05 juli 2007
Pukul

: 09.00 WITA

Tempat Pengkajian

: Ruang Nifas RSU Mataram

I. PENGUMPULAN DATA DASAR


Data Subyektif
A. Identitas
Biodata
Nama

Istri
Ny. F

Suami
Tn. R

Umur

40 tahun

45 tahun

Agama

Islam

Islam

Suku

Sasak

Sasak

Pendidikan SD

SD

Pekerjaan

IRT

Swasta

Alamat

Pringgarata - Loteng

Pringgarata - Loteng

Tanggal masuk R. Nifas : 04 Juli 2007 pukul 20.00 WITA


Tanggal pengkajian

: 05 juli 2007 pukul 09.00 WITA

B. Keluhan Utama
Ibu mengeluh kepala terasa pusing dan lemah serta masih keluar darah sedikitsedikit dari kemaluan berwarna merah tua

C. Riwayat perjalanan penyakit :


1

Ibu mengatakan keluar darah dari kemaluan sejak 1 bulan yang lalu dan sering
mengalami keputihan dalam jumlah banyak dengan warna kekuning-kuningan,
berbau amis dan tidak gatal.
D. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
No
1
2
3
4
5

Umur

Tempat

Jenis

Penolong Penyakit JK

kehamilan bersalin persalinan


Aterm
Rumah Spontan
Dukun
Aterm
Rumah Spontan
Dukun
Aterm
Aterm
Aterm

Rumah
Rumah
Rumah

Spontan
Spontan
Spontan

Dukun
Dukun
Dukun

BB

PB

Umur

sekarang
30 th
28 th

14 th
12 th
8 th

E. Riwayat Menstruasi

Menarche

Siklus

: 28 hari

Lama

: 6 hari

warna

: merah tua

Jumlah darah

: 2 x ganti pembalut dalam sehari

HPHT

: 8 bulan yang lalu

F. Riwayat KB

: 14 tahun

: Ibu pernah memakai alat KB sebelumnya yaitu suntikan (3 bulan).

Data Obyektif
A. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: Pucat

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 130/90 mmHg

Nadi

: 92 x/menit

Suhu

: 36,7 C

Respirasi

: 20 x/menit

B. Pemeriksaan Khusus
Kepala

: Rambut kotor, warna rambut hitam, tidak ada lesi,


tidak ada ketombe.

Muka

: Simetris, oedema (-),

Mata

: Konjungtiva pucat, sclera tidak ikterus

Mulut dan gigi

: Bersih, tidak ada karies, bibir pucat

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar limfe, tiroid dan


bendungan vena jugularis.

Payudara

: Bentuk simetris, tidak ada benjolan atau massa,


puting susu menonjol, tidak ada nyeri tekan.

Abdomen

: Tidak ada luka bekas operasi, tidak ada benjolan atau


massa, tidak ada nyeri tekan

Genetalia

: Pemeriksaan tgl 4 Juli 2007

Inspeksi : Tidak ada varises, tidak ada oedema, keputihan (+),


perdarahan (+)
Inspekulo : fleksus (+), pembukaan (-), porsio rapuh, berdungkuldungkul dan mudah berdarah
Pemeriksaan dalam : VT pembukaan (-), CUAF b/c N, APCD
Ekstremitas

a.

Ekstremitas atas

: Oedema (-), kuku pucat, terpasang infus RL flash I

b.

Ekstremitas bawah : Oedema (-), varises (-), kuku pucat, refleks patella
+/+.

C. Pemeriksaan Penunjang

: Pemeriksaan Laboratorium tgl 4 Juli 2007

Hb : 7,1 gr%

Leokosit : 9300 / mm3

Trombosit : 23.000 / mm3

Hematokrit : 20,7

HbsAg (-)

II. INTERPRETASI DATA DASAR


A.

Diagnosa

: Suspek Ca cervik dan anemia

Dasar

:
Ibu mengatakan pusing dan lemah serta keluar darah dari kemaluan sejak

1 bulan yang lalu dan sering mengalami keputihan dalam jumlah banyak
dengan warna kekuning-kuningan, berbau amis dan tidak gatal.
Keadaan umum

: Pucat

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 130/90 mmHg

Nadi

: 92 x/menit

Suhu

: 36,7 C

Respirasi

: 20 x/menit

Mata

: Konjungtiva pucat, sclera tidak ikterus

Abdomen

: Tidak ada luka bekas operasi, tidak ada benjolan atau

massa, tidak ada nyeri tekan


Genetalia

Inspeksi

: Pemeriksaan tgl 4 Juli 2007

: Tidak ada varises, tidak ada oedema, keputihan (+),

perdarahan (+)

Inspekulo : fleksus (+), pembukaan (-), porsio rapuh, berdungkuldungkul dan mudah berdarah

Pemeriksaan dalam : VT pembukaan (-), CUAF b/c N, APCD


Di VK tampon dipasang
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 4 Juli 2007

B.

Hb

: 7,1 gr%

Leokosit

: 9300 / mm3

Trombosit

: 23.000 / mm3

Hematokrit

: 20,7

HbsAg (-)

Masalah

: Ketidaknyamanan

Dasar

: Ibu mengatakan bahwa kepalanya pusing, badan terasa lemah dan


keluar darah sedikit-sedikit dari kemaluan

C. Kebutuhan

:
- Penjelasan tentang ketidaak nyamanan
- Istirahat yang cukup
- personal hygiene
- Pemberian obat oral

III. MASALAH POTENSIAL DAN ANTISIPASI PENANGANANNYA


Masalah potensial

: Syok, infeksiosus

Antisipasi penanganan

: tidak ada

IV. KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA

1.

Mandiri

: Tidak ada

Kolaborasi : Dengan dokter

Rujukan

: Tidak ada

RENCANA TINDAKAN
1.

Jelaskan pada ibu tentang keadaannya saat ini

2.

Pemberian transfusi darah

3.

Observasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital (suhu, tekanan darah, nadi,
respirasi), dan perdarahan

4.

Anjurkan ibu istirahat

5.

Anjurkan ibu makan dan minum

6.

Memotivasi ibu untuk memelihara kebersihan diri.

7.

Anjurkan ibu untuk minim obat sesuai dosis

8.

Mengganti transfusi darah dengan NaCl

9.

Memberikan transfusi darah kolf II

10.

Mengganti transfusi darah dengan NaCl

11.

Observasi cairan infus

VII. PELAKSANAAN

Pelaksanaan dilakukan pada tanggal 5 Juli 2007


1. Pukul 09.00 WITA Menjelaskan kepada ibu tentang keadaannya berdasarkan hasil
pemeriksaan bahwa ibu diduga megalami kanker seviks dan kadar darah ibu
kurang.
2. Pukul 10.30 WITA. Memberikan transfusi darah (PRC) sebanyak 200 cc atau 1
kolf dengan tetesan 30 tetes/menit. Reaksi (-)
3. Pukul 11.00 WITA Mengobservasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital dan
perdarahan
Keadaan umum ibu : lemah
Konjungtiva

: Pucat

Tanda-tanda vital

Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Suhu

: 36,6C

Nadi

: 92 x/menit

Respirasi

: 24 x/menit

Perdarahan sedikit, berwarna merah tua


4. Pukul 12.00 WITA Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup untuk mengatasi
keadaannya yang lemah, pada malam hari 7-8 jam, pada siang hari 2 jam.
5. Pukul 12.30 WITA Menganjurkan ibu untuk makan dan minum yang banyak dan
makan dengan diet berimbang dan bergizi terutama makanan yang dapat
meningkatkan kadar darah ibu seperti hati, daging, kacang-kacangan, sayuran hijau
dan buah-buahan.
6. Pukul 12.45 WITA Memotivasi ibu untuk menjaga kebersihan terutama daerah
kemaluan dan mengganti celana dalam minimal 2 kali sehari
7. Pukul 13.00 WITA Ibu mengeluh kepalanya terasa sakit dan tidak dapat tidur
dengan nyaman. Kemudian ibu diberikan 1 tablet obat asam mefenamat 500 mg
8. Pukul 17.30 WITA Menganti transfusi darah yang telah habis dengan NaCl dengan
tetesan 28 tetes/menit
9. Pukul 18.30 WITA Pemberian transfusi darah (PRC) 200 cc kolf II dengan tetesan
30 tetes/menit

10. Pukul 21.30 WITA Mengganti transfusi darah yang telah habis dengan NaCl
dengan tetesan 28 tetes/menit
11. Pukul 22.30 WITA. Mengganti cairan infus yang telah habis dengan RL flash III
28 tetes/menit
VII. EVALUASI
Tanggal 5 Juli 2007 pukul 23.00 WITA
-

Keadaan umum ibu baik, Infus RL flash III masih terpasang dengan tetesan 20
tetes/menit

S : 36,6C, N : 86 x/menit, R : 24 x/menit, TD : 130/80 mmHg

Ibu sudah minum obat yang telah di berikan dan ibu mengatakan sakit kepala
sudah mulai berkurang

Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan

HARI KE 2
Hari/ Tanggal Pengkajian

: Jumat, 6 Juli 2007

Pukul

: 09.00 wita

Tempat Pengkajian

: Ruang Nifas RSU Mataram

SUBYEKTIF ( S) :
-

Ibu mengatakan masih terasa lemah dan pusing

OBYEKTIF (O) :
-

Keadaan umum lemah

Kesadaran composmentis

Tanda Vital :

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 84 x/mnt

Suhu

Respirasi

: 36,9 C
: 20 x/mnt
7

Genetalia : Pengeluran darah (+) jumlah 15 cc, konsistensi encer, warna

darah merah tua


-

Ekstremitas : Kuku pucat dan tidak oedema pada tangan maupun kaki serta
infus RL flash ke III masih terpasang dengan tetesan 20 tetes/menit

ASSESMENT (A) :
Suspec Ca Cerviks dan anemia
PLANNING (P) :
1.

Pukul 06.00 WITA Mengobservasi keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital
Keadaan umum lemah, TD 120/80 mmHg, Nadi 88 x/menit, suhu 36,7C

2.

Pukul 09.00 WITA Melakukan pemeriksaan gynekologi oleh dokter, tampon


dilepaskan

3.

Pukul 09.30 WITA Mengobservasi perdarahan


Perdarahan (-)

4.

Pukul 09.00 WITA Melakukan pemeriksaan Hb.


Hb 8,8 gr %

5.

Pukul 10.00 WITA Infus RL flas III dilepaskan

6.

Menjurkan ibu untuk istirahat yang cukup

7.

Menjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan diri dengan mandi dan
melakukan vulva hygiene serta mengganti pembalut

8.

Menganjurkan ibu untuk makan dan minum yang cukup

9.

Ibu mengatakan mengerti tengtang penjelasan yang di berikan

HARI KE 3
Hari/ Tanggal Pengkajian

: Sabtu, 7 Juli 2007

Pukul

: 10.00 wita

Tempat Pengkajian

: Ruang Nifas RSU Mataram

SUBYEKTIF ( S) :
-

Ibu mengatakan tidak merasa pusing dan pengeluaran darah tidak ada

OBYEKTIF (O) :
-

Keadaan umum baik

Kesadaran composmentis

Tanda Vital :

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 82 x/mnt

Suhu

Respirasi

Genetalia : Pengeluran darah (-)

Pemeriksaan laboratorium tgl 6 Juli 2007 (Hb 8,8 gr%)

: 36,3 C
: 20 x/mnt

ASSESMENT (A) :
Suspec Ca Cerviks dan anemia
PLANNING (P) :
1. Mengobservasi keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital dan perdarahan
2. Menjurkan ibu untuk istirahat yang cukup
3. Menganjurkan ibu untuk makan dan minum yang cukup
4. Menganjurkan ibu untuk menjaga kebersihan diri
5. Ibu mengatakan mengerti tengtang penjelasan yang di berikan
6. Ibu diperbolehkan pulang atas izin dokter

LANDASAN TEORI
Kanker Leher Rahim
DEFINISI
Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks) adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher
rahim/serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina.
Kanker serviks biasanya menyerang wanita berusia 35-55 tahun.
90% dari kanker serviks berasal dari sel skuamosa yang melapisi serviks dan 10% sisanya
berasal dari sel kelenjar penghasil lendir pada saluran servikal yang menuju ke dalam
rahim.
PENYEBAB
Kanker serviks terjadi jika sel-sel serviks menjadi abnormal dan membelah secara tak
terkendali.
Jika sel serviks terus membelah maka akan terbentuk suatu massa jaringan yang disebut
tumor yang bisa bersifat jinak atau ganas. Jika tumor tersebut ganas, maka keadaannya
disebut kanker serviks.
Penyebab terjadinya kelainan pada sel-sel serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi
terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker serviks:
1. HPV (human papillomavirus)
HPV adalah virus penyebab kutil genitalis (kondiloma akuminata) yang ditularkan
melalui hubungan seksual. Varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16, 18,
45 dan 56.
2. Merokok
Tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk
melawan infeksi HPV pada serviks.
3. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini
4. Berganti-ganti pasangan seksual
5. Suami/pasangan seksualnya melakukan hubungan seksual pertama pada usia di
bawah 18 tahun, berganti-ganti pasangan dan pernah menikah dengan wanita yang
menderita kanker serviks
6. Pemakaian DES (dietilstilbestrol) pada wanita hamil untuk mencegah keguguran
(banyak digunakan pada tahun 1940-1970)
7. Gangguan sistem kekebalan
8. Pemakaian pil KB
9. Infeksi herpes genitalis atau infeksi klamidia menahun
10. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mampu melakukan Pap smear secara rutin)
Keadaan Prekanker Pada Serviks
Sel-sel pada permukaan serviks kadang tampak abnormal tetapi tidak ganas.
10

Para ilmuwan yakin bahwa beberapa perubahan abnormal pada sel-sel serviks merupakan
langkah awal dari serangkaian perubahan yang berjalan lambat, yang beberapa tahun
kemudian bisa menyebabkan kanker.
Karena itu beberapa perubahan abnormal merupakan keadaan prekanker, yang bisa berubah
menjadi kanker.
Saat ini telah digunakan istilah yang berbeda untuk perubahan abnormal pada sel-sel di
permukaan serviks, salah satu diantaranya adalah lesi skuamosa intraepitel (lesi artinya
kelainan jaringan, intraepitel artinya sel-sel yang abnormal hanya ditemukan di lapisan
permukaan).
Perubahan pada sel-sel ini bisa dibagi ke dalam 2 kelompok:
1. Lesi tingkat rendah : merupakan perubahan dini pada ukuran, bentuk dan jumlah sel
yang membentuk permukaan serviks. Beberapa lesi tingkat rendah menghilang
dengan sendirinya. Tetapi yang lainnya tumbuh menjadi lebih besar dan lebih
abnormal, membentuk lesi tingkat tinggi.
Lesi tingkat rendah juga disebut displasia ringan atau neoplasia intraepitel servikal
1 (NIS 1).
Lesi tingkat rendah paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 25-35 tahun,
tetapi juga bisa terjadi pada semua kelompok umur.
2. Lesi tingkat tinggi : ditemukan sejumlah besar sel prekanker yang tampak sangat
berbeda dari sel yang normal.
Perubahan prekanker ini hanya terjadi pada sel di permukaan serviks. Selama
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sel-sel tersebut tidak akan menjadi ganas
dan tidak akan menyusup ke lapisan serviks yang lebih dalam.
Lesi tingkat tinggi juga disebut displasia menengah atau displasia berat, NIS 2 atau
3, atau karsinoma in situ.
Lesi tingkat tinggi paling sering ditemukan pada wanita yang berusia 30-40 tahun.
Jika sel-sel abnormal menyebar lebih dalam ke dalam serviks atau ke jaringan maupun
organ lainnya, mada keadaannya disebut kanker serviks atau kanker serviks invasif.
Kanker serviks paling sering ditemukan pada usia diatas 40 tahun.
GEJALA
Perubahan prekanker pada serviks biasanya tidak menimbulkan gejala dan perubahan ini
tidak terdeteksi kecuali jika wanita tersebut menjalani pemeriksaan panggul dan Pap smear.
Gejala biasanya baru muncul ketika sel serviks yang abnormal berubah menjadi keganasan
dan menyusup ke jaringan di sekitarnya. Pada saat ini akan timbul gejala berikut:
- Perdarahan vagina yang abnormal, terutama diantara 2 menstruasi, setelah melakukan
hubungan seksual dan setelah menopause
- Menstruasi abnormal (lebih lama dan lebih banyak)
- Keputihan yang menetap, dengan cairan yang encer, berwarna pink, coklat, mengandung
darah atau hitam serta berbau busuk.
11

Gejala dari kanker serviks stadium lanjut:


- Nafsu makan berkurang, penurunan berat badan, kelelahan
- Nyeri panggul, punggung atau tungkai
- Dari vagina keluar air kemih atau tinja
- Patah tulang (fraktur).

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan berikut:
1. Pap smear
Pap smear dapat mendeteksi sampai 90% kasus kanker serviks secara akurat dan
dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Akibatnya angka kematian akibat kanker
servikspun menurun sampai lebih dari 50%.
Setiap wanita yang telah aktif secara seksual atau usianya telah mencapai 18 tahun,
sebaiknya menjalani Pap smear secara teratur yaitu 1 kali/tahun. Jika selama 3 kali
berturut-turut menunjukkan hasil yang normal, Pap smear bisa dilakukan 1 kali/23tahun.
Hasil pemeriksaan Pap smear menunjukkan stadium dari kanker serviks:
- Normal
- Displasia ringan (perubahan dini yang belum bersifat ganas)
- Displasia berat (perubahan lanjut yang belum bersifat ganas)
- Karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar)
- Kanker invasif (kanker telah menyebar ke lapisan serviks yang lebih dalam atau ke
organ tubuh lainnya).
2. Biopsi
Biopsi dilakukan jika pada pemeriksaan panggul tampak suatu pertumbuhan atau
luka pada serviks, atau jika Pap smear menunjukkan suatu abnormalitas atau kanker.
3. Kolposkopi (pemeriksaan serviks dengan lensa pembesar)
4. Tes Schiller
Serviks diolesi dengan lauran yodium, sel yang sehat warnanya akan berubah
menjadi coklat, sedangkan sel yang abnormal warnanya menjadi putih atau kuning.
Untuk membantu menentukan stadium kanker, dilakukan beberapa pemeriksan berikut:
- Sistoskopi
- Rontgen dada
- Urografi intravena
- Sigmoidoskopi
- Skening tulang dan hati
- Barium enema.
PENGOBATAN
Pengobatan lesi prekanker

12

Pengobatan lesi prekanker pada serviks tergantung kepada beberapa faktor berikut:
- tingkatan lesi (apakah tingkat rendah atau tingkat tinggi)
- rencana penderita untuk hamil lagi
- usia dan keadaan umum penderita.
Lesi tingkat rendah biasanya tidak memerlukan pengobatan lebih lanjut, terutama jika
daerah yang abnormal seluruhnya telah diangkat pada waktu pemeriksaan biopsi. Tetapi
penderita harus menjalani pemeriksaan Pap smear dan pemeriksaan panggul secara rutin.
Pengobatan pada lesi prekanker bisa berupa:
Kriosurgeri (pembekuan)
Kauterisasi (pembakaran, juga disebut diatermi)
Pembedahan laser untuk menghancurkan sel-sel yang abnormal tanpa melukai jaringan
yang sehat di sekitarnya
LEEP (loop electrosurgical excision procedure) atau konisasi.
Setelah menjalani pengobatan, penderita mungkin akan merasakan kram atau nyeri lainnya,
perdarahan maupun keluarnya cairan encer dari vagina.
Pada beberapa kasus, mungkin perlu dilakukan histerektomi (pengangkatan rahim),
terutama jika sel-sel abnormal ditemukan di dalam lubang serviks. Histerektomi dilakukan
jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi.
Pengobatan untuk kanker serviks
Pemilihan pengobatan untuk kanker serviks tergantung kepada lokasi dan ukuran tumor,
stadium penyakit, usia, keadaan umum penderita dan rencana penderita untuk hamil lagi.
1. Pembedahan
Pada karsinoma in situ (kanker yang terbatas pada lapisan serviks paling luar),
seluruh kanker seringkali dapat diangkat dengan bantuan pisau bedah ataupun
melalui LEEP.
Dengan pengobatan tersebut, penderita masih bisa memiliki anak.
Karena kanker bisa kembali kambuh, dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan
ulang dan Pap smear setiap 3 bulan selama 1 tahun pertama dan selanjutnya setiap 6
bulan.
Jika penderita tidak memiliki rencana untuk hamil lagi, dianjurkan untuk menjalani
histerektomi.
Pada kanker invasif, dilakukan histerektomi dan pengangkatan struktur di sekitarnya
(prosedur ini disebut histerektomi radikal) serta kelenjar getah bening.
Pada wanita muda, ovarium (indung telur) yang normal dan masih berfungsi tidak

13

diangkat.
2. Terapi penyinaran
Terapi penyinaran (radioterapi) efektif untuk mengobati kanker invasif yang masih
terbatas pada daerah panggul.
Pada radioterapi digunakan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel-sel kanker dan
menghentikan pertumbuhannya.
Ada 2 macam radioterapi:
- Radiasi eksternal : sinar berasar dari sebuah mesin besar
Penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, penyinaran biasanya dilakukan
sebanyak 5 hari/minggu selama 5-6 minggu.
- Radiasi internal : zat radioaktif terdapat di dalam sebuah kapsul dimasukkan
langsung ke dalam serviks.
Kapsul ini dibiarkan selama 1-3 hari dan selama itu penderita dirawat di rumah
sakit. Pengobatan ini bisa diulang beberapa kali selama 1-2 minggu.
Efek samping dari terapi penyinaran adalah:
- iritasi rektum dan vagina
- kerusakan kandung kemih dan rektum
- ovarium berhenti berfungsi.
3. Kemoterapi
Jika kanker telah menyebar ke luar panggul, kadang dianjurkan untuk menjalani
kemoterapi. Pada kemoterapi digunakan obat-obatan untuk membunuh sel-sel
kanker.
Obat anti-kanker bisa diberikan melalui suntikan intravena atau melalui mulut.
Kemoterapi diberikan dalam suatu siklus, artinya suatu periode pengobatan diselingi
dengan periode pemulihan, lalu dilakukan pengobatan, diselingi denga pemulihan,
begitu seterusnya.
4. Terapi biologis
Pada terapi biologis digunakan zat-zat untuk memperbaiki sistem kekebalan tubuh
dalam melawan penyakit.
Terapi biologis dilakukan pada kanker yang telah menyebar ke bagian tubuh
lainnya.
Yang paling sering digunakan adalah interferon, yang bisa dikombinasikan dengan
kemoterapi.
Efek samping pengobatan
Selain membunuh sel-sel kanker, pengobatan juga menyebabkan kerusakan pada sel-sel
yang sehat sehingga seringkali menimbulkan efek samping yang tidak menyenangkan.
Efek samping dari pengobatankanker sangat tergantung kepada jenis dan luasnya
pengobatan. Selain itu, reaksi dari setiap penderita juga berbeda-beda.

14

Metoda untuk membuang atau menghancurkan sel-sel kanker pada permukaan serviks sama
dengan metode yang digunakan untuk mengobati lesi prekanker.
Efek samping yang timbul berupa kram atau nyeri lainnya, perdarahan atau keluar cairan
encer dari vagina.
Beberapa hari setelah menjalani histerektomi, penderita bisa mengalami nyeri di perut
bagian bawah. Untuk mengatasinya bisa diberikan obat pereda nyeri.
Penderita juga mungkin akan mengalami kesulitan dalam berkemih dan buang air besar.
Untuk membantu pembuangan air kemih bisa dipasang kateter.
Beberapa saat setealh pembedahan, aktivitas penderita harus dibatasi agar penyembuhan
berjalan lancar. Aktivitas normal (termasuk hubungan seksual) biasanya bisa kembali
dilakukan dalam waktu 4-8 minggu.
Setelah menjalani histerektomi, penderita tidak akan mengalami menstruasi lagi.
Histerektomi biasanya tidak mempengaruhi gairah seksual dan kemampuan untuk
melakukan hubungan seksual.
Tetapi banyak penderita yang mengalami gangguan emosional setelah histerektomi.
Pandangan penderita terhadap seksualitasnya bisa berubah dan penderita merasakan
kehilangan karena dia tidak dapat hamil lagi.
Selama menjalani radioterap, penderita mudah mengalami kelelahan yang luar biasa,
terutama seminggu sesudahnya.
Istirahat yang cukup merupakan hal yang penting, tetapi dokter biasanya menganjurkan
agar penderita sebisa mungkin tetap aktif.
Pada radiasi eksternal, sering terjadi kerontokan rambut di daerah yang disinari dan kulit
menjadi merah, kering serta gatal-gatal. Mungkin kulit akan menjadi lebih gelap.
Daerah yang disinari sebaiknya mendapatkan udara yang cukup, tetapi harus terlindung dari
sinar matahari dan penderita sebaiknya tidak menggunakan pakaian yang bisa mengiritasi
daerah yang disinari.
Biasanya, selama menjalani radioterapi penderita tidak boleh melakukan hubungan seksual.
Kadang setelah radiasi internal, vagina menjadi lebh sempit dan kurang lentur, sehingga
bisa menyebabkan nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Untuk mengatasi hal ini,
penderita diajari untuk menggunakan dilator dan pelumas dengan bahan dasar air.
Pada radioterapi juga bisa timbul diare dan sering berkemih.
Efek samping dari kemoterapi sangat tergantung kepada jenis dan dosis obat yang
digunakan. Selain itu, efek sampingnya pada setiap penderita berlainan.
Biasanya obat anti-kanker akan mempengaruhi sel-sel yang membelah dengan cepat,
termasuk sel darah (yang berfungsi melawan infeksi, membantu pembekuan darah atau
mengangkut oksigen ke seluruh tubuh).
Jika sel darah terkena pengaruh obat anti-kanker, penderita akan lebih mudah mengalami
infeksi, mudah memar dan mengalami perdarahan serta kekurangan tenaga.

15

Sel-sel pada akar rambut dan sel-sel yang melapisi saluran pencernaan juga membelah
dengan cepat.
Jika sel-sel tersebut terpengaruh oleh kemoterapi, penderita akan mengalami kerontokan
rambut, nafsu makannya berkurang, mual, muntah atau luka terbuka di mulut.
Terapi biologis bisa menyebabkan gejala yang menyerupai flu, yaitu menggigil, demam,
nyeri otot, lemah, nafsu makan berkurang, mual, muntah dan diare.
Kadang timbul ruam, selain itu penderita juga bisa mudah memar dan mengalami
perdarahan.
PENCEGAHAN
Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks:
1. Mencegah terjadinya infeksi HPV
2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur .
Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang
diperoleh dari apusan serviks.
Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan bantuan sebuah spatula
yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks) dan sebuah sikat
kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal).
Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke
laboratorium untuk diperiksa.
24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan pencucian atau
pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak
menggunakan tampon.
Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada serviks.
Jika hasil Pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya
dilakukan kolposkopi dan biopsi
Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:
Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun
Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita
infeksi HPV atau kutil kelamin
Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB
Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear
berturut-turut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani
histerektomi bukan karena kanker
Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal
Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks.
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya:
- Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.
- Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan
kondom untuk mencegah penularan kutil kelamin
- Jangan berganti-ganti pasangan seksual
16

- Berhenti merokok.
Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang
wanita mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang
abnormal harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi.
Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa vitamin A berpertan dalam menghentikan atau
mencegah perubahan keganasan pada sel-sel, seperti yang terjadi pada permukaan serviks.
www.medicastore.com 2004

17