Anda di halaman 1dari 17

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material III


Modul F Uji Tak Rusak: Ultrasonic Thickness dan Coating Thickness
Measurement Test

oleh:
Nama

: Athiya Fathinati Anindya

NIM

: 13712023

Kelompok

:4

Anggota (NIM)

: Angga Hermawan

(13711052)

I Wayan Prastik Widitama

(13712024)

M. Mersa Bayu Wibisono

(13712046)

Tanggal Praktikum

: 24 Maret 2015

Tanggal Penyerahan Laporan

: 29 Maret 2015

Nama Asisten (NIM)

: Ryan Ferdiean Tirto (13711043)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Setiap industri memiliki komponen masing-masing dan tiap komponen
membutuhkan pemeriksaan. Selama proses produksi berjalan, tidak mungkin
komponen yang akan diperiksa dirusak. Karena itu, ditemukanlah metode-metode
pemeriksaan tidak merusak (nondestructive test).
Nondestructive test (NDT) adalah metode inspeksi terhadap suatu material
untuk melokalisasi cacat, menyesuaikan dengan spesifikasi, mengukur dimensi,
melihat kaitan antara struktur mikro dengan proses pengerjaan, dan melihat
kekasaran permukaan tanpa mengubah struktur material tersebut. Karena sifatnya
yang tidak merusak, NDT digunakan untuk maintenance berkala, quality control,
dan analisis kegagalan dengan mengoptimalkan biaya dan waktu.
Secara umum, NDT terdiri dari ultrasonic test, radiography test, Eddy
current, magnetic particle test, dan dye penetrant. Ultrasonic test termasuk
metode yang memiliki kelebihan yaitu pengukurannya yang cepat, alat yang
portable, dan tidak membahayakan pengguna.
1.2 Tujuan
1. Menentukan ketebalan spesimen hasil ultrasonic test
2. Menentukan ketebalan coating spesimen hasil ultrasonic test

BAB II

TEORI DASAR

Gelombang ultrasonik (US) merupakan gelombang mekanik yang


memiliki frekuensi lebih dari 20 kHz. Ada empat jenis gelombang mekanik, yaitu:
1. Gelombang longitudinal

Sumber: http://www.antonineeducation.co.uk/Image_library/Physics_2/Waves/Wave_properties/wav_9.gif

Pada gelombang longitudinal, arah osilasi atau pergerakan partikel searah


dengan arah perambatan gelombang. Gelombang ini dapat merambat di
medium padat, cair, dan gas.
2. Gelombang transversal

Sumber: http://www.diracdelta.co.uk/science/source/t/r/transverse%20wave/image001.jpg

Partikel berosilasi dalam arah tegak lurus terhadap arah perambatan


gelombang. Gelombang ini hanya dapat merambat pada medium padat.
Kecepatan

rambat

gelombang

gelombang longitudinal.
3. Gelombang Rayleigh

transversal

lebih

rendah

daripada

Sumber: http://allshookup.org/quakes/raywave.jpg

Gelombang Rayleigh merambat di permukaan material padat yang relatif


tebal, dengan penetrasi berjarak 1 panjang gelombang. Gelombang ini
merupakan kombinasi gelombang longitudinal dan transversal sehingga
menghasilkan gerakan partikel yang elips. Gelombang Rayleigh dihasilkan
ketika gelombang longitudinal menembus permukaan pada sudut sedikit
lebih besar daripada sudut kritis. Sudut kritis adalah sudut datang yang
menghasilkan sudut refraksi 900.
4. Gelombang Lamb

Sumber: http://ej.iop.org/images/0960-1317/23/4/043001/Full/jmm455199f3_online.jpg

Gelombang Lamb mirip dengan gelombang Rayleigh, tetapi hanya bisa


merambat di material yang relatif tipis.
Sumber gelombang ultrasonik pada Ultrasonic Test (UT) adalah
probe/transducer yang tersusun dari material piezoelektrik. Piezoelektrik adalah
sifat material yang dapat menghasilkan getaran akibat diberi arus listrik dan
menghasilkan arus listrik jika diberi getaran. Jenis-jenis material piezoelektrik
yaitu: Quartz (Si02), BaTiO3, LiSO4, PbNbO6, dan PZT (Lead Zirconate Titanate).
Probe terdiri dari dua jenis, yaitu probe yang kontak langsung dengan
spesimen dan immersion probe. Probe yang kontak langsung pun terdiri dari

single probe dan double probe. Pada single probe, penghasil gelombang
(transmitter) dan penerima gelombang (receiver) menjadi satu, sedangkan pada
double probe keduanya terpisah. Immersion probe dilakukan jika material yang
akan diuji berada di dalam air, sehingga probe diletakkan di permukaan air (ada
jarak yang jauh antara probe dengan benda uji).
Pada probe kontak langsung, dibutuhkan medium antara probe dan benda
uji yang disebut kuplan (couplant/coupling agent). Kuplan berfungsi untuk
mencegah atenuasi (peredaman) gelombang ultrasonik selama merambat di dalam
material. Berikut adalah syarat-syarat kuplan:
1.
2.
3.
4.

Tidak boleh membentuk gelembung udara


Tidak boleh mengkorosikan benda uji dan probe
Tidak mengiritasi operator
Mudah dibersihkan
Selama perambatan gelombang ultrasonik di dalam material, gelombang

tersebut dipengaruhi oleh sifat-sifat material yang dialuinya seperti massa jenis,
homogenitas, besar butir, kekerasan, dan lain-lain. Berdasarkan sifat tersebut,
gelombang ini dapat dipakai untuk mengetahui jenis material, tebal, dan
keberadaan cacat.
Untuk mengkalibrasi probe, digunakan Standard Reference Block (SRB)
atau blok kalibrasi. Salah satu jenis SRB yang paling umum digunakan adalah V-1
International Institute of Welding Reference Block.

Sumber: http://www.esi-crm.com/sites/default/files/fig_4.jpg

Prinsip pengukuran tebal lapisan atau coating tidak jauh berbeda dengan
pengukuran tebal material. Alat yang digunakan untuk mengkalibrasi tebal lapisan
disebut Coating Thickness Reference Standard (CTRS).

BAB III
DATA PERCOBAAN

3. 1

Pengujian Ketebalan Material

Tebal Kalibrasi SRB


(mm)

No
1
2
3
4
5

25.05
25.1
25.08
25.06
25.04

Tebal BU-Jangka sorong


Tebal BU-UT (mm)
(mm)
Aluminiu
Stee
Aluminiu
Steel 316 L
316 L
m
l
m
4.6
12.2
38.1
4.6
11.98
38
4.6
12.2
38.15
4.7
12.01
38.32
4.6
12.2
38.2 4.63
11.98
38.36
4.6
12.2
38.25
4.2
12
38.26
4.6
12.2
38.1 4.67
12
38.4

Ratarata

4.6

3. 2

38.16

4.56

11.994

38.268

Pengujian Ketebalan Coating


Tebal Coating Kalibrasi
(m)

No

12.2

1
2
3
4
5
Ratarata

514
526
518
520
506

Tebal Coating BU-UT


Tebal Coating BU(m)
Metalografi (m)
Abu
Hitam
Abu
Hitam
194
233.2
155.33
240.45
196.4
227.6
153.57
279.79
175.6
259.2
186.42
281.97
182
216.8
194.73
249.19
185.2
302.8
139.91
253.55
186.64

Spesimen Abu

247.92

165.992

260.99

Spesimen Hitam

Spesimen Steel

Spesimen 316 L

Spesimen Aluminium

BAB IV

ANALISIS DATA

Pada pengujian ketebalan material, terdapat tiga spesimen yang diuji


dengan ketebalan yang berbeda-beda. Pengujian dengan UT dan jangka sorong
menghasilkan data yang bisa dilihat pada BAB III. Pengukuran ketebalan
menggunakan jangka sorong pada spesimen baja dan 316 L selalu sama di tiap
titik yang berbeda, sedangkan aluminium berbeda di tiap titik. Dibandingkan
dengan UT, ketebalan ketiga spesimen bervariasi. Untuk spesimen baja, variasi
ketebalan tidak terlalu berbeda kecuali pada pengukuran keempat, yaitu 4.2 mm.
Hal ini menunjukkan bahwa permukaan spesimen baja sebenarnya tidak rata, dan
ada suatu area tertentu yang cenderung lebih tipis dibanding daerah rata-rata. Pada
spesimen 316 L, ketebalan dengan UT hanya berkisar antara 11.98 mm sampai
12.01 mm. Berarti permukaan spesimen tersebut cukup rata secara mikro. Untuk
spesimen aluminium, ketebalan menggunakan UT juga bervariasi dan hasilnya
lebih besar daripada menggunakan jangka sorong. Hal ini dapat disebabkan akibat
jangka sorong yang hanya dapat mengukur dimensi dalam skala makro.
Pada pengujian ketebalan coating menggunakan teknik metalografi dan
UT sama-sama menghasilkan angka yang bervariasi. Ternyata saat struktur mikro
kedua spesimen dilihat di bawah mikroskop optik, keduanya memiliki lapisan
yang sangat tidak rata (dalam skala mikron). Bahkan pada spesimen hitam ada
sebagian daerah yang ketebalannya hingga dua kali ketebalan daerah lain, tetapi
tidak diperlihatkan di data percobaan. Spesimen abu hasil UT memiliki ketebalan
rata-rata yang lebih tinggi daripada hasil metalografi, karena faktor-faktor berikut:
1. Gambar lapisan spesimen yang muncul pada mikroskop optik dilihat dari
sisi spesimen, bukan dari penampang atasnya. Padahal ketebalan lapisan
bervariasi tidak hanya sepanjang sisinya, namun di tiap titik. Karena itu,
hasil pengukuran dengan mikroskop optik dapat menampilkan daerah yang
berbeda dan ketebalannya lebih kecil daripada daerah yang diukur dengan
UT.

2. Kesalahan operator. Probe UT sangat sensitif terhadap getaran sehingga


getaran tangan sedikit pun dapat menyebabkan hasil yang berbeda.
Berbeda dengan spesimen abu, ketebalan lapisan spesimen hitam hasil UT
lebih rendah daripada hasil metalografi. Hal ini dapat disebabkan oleh:
1. Kuplan yang tidak merata sehingga terjadi atenuasi pada daerah yang
diukur oleh probe.
2. Lapisan yang dilihat pada mikroskop optik memang daerah yang berbeda
dan lebih tebal daripada daerah yang diukur dengan UT.
3. Kesalahan operator.
Selain itu, terdapat banyak goresan di permukaan spesimen yang dapat
menimbulkan variasi ketebalan. Cacat di dalam material juga bisa diperhitungkan
karena dapat mempengaruhi refleksi gelombang ultrasonik.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5. 1.

Kesimpulan

1. Ketebalan Spesimen

Steel
4.6
4.7
4.63
4.2
4.67
4.56

Tebal BU-UT (mm)


316 L
Aluminium
11.98
38
12.01
38.32
11.98
38.36
12
38.26
12
38.4
11.994
38.268

2. Ketebalan Coating Spesimen


Tebal Coating BU-UT
(m)
Abu
Hitam
194
233.2
196.4
227.6
175.6
259.2
182
216.8
185.2
302.8
186.64
247.92

5. 2.

Saran

1. Spesimen yang digunakan memiliki ketebalan yang sama sepanjang


penampang.
2. Spesimen untuk pengukuran ketebalan juga dilihat di bawah mikroskop
optik untuk mengetahui kehomogenan ketebalan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ramelan, A, Judawisastra, H, Sasmita, F. Panduan Praktikum MT3203


Laboratorium Teknik Material 3. 2015.
2. Suratman, Rochim. Catatan kuliah MT4041 Pengujian Tidak Merusak.
Program Studi Sarjana Teknik Material. 2014.
3. Introduction to Nondestructive Testing Techniques. Ultrasonic Testing.
Jordan: The Hashemite University.
4. Basic Principles of Ultrasonic Testing. Krautkramer NDT Ultrasonic
Systems.
5. http://www.olympus-ims.com/en/ndt-tutorials/thickness-gage/appendicesvelocities/ (diakses pada 29/03/2015 pukul 18.43)
6. https://www.ndeed.org/GeneralResources/MaterialProperties/UT/ut_matlprop_metals.htm
(diakses pada 29/03/2015 pukul 18.46)
7. https://www.ndeed.org/GeneralResources/MaterialProperties/UT/ut_matlprop_plastics.htm
(diakses pada 29/03/2015 pukul 18.48)

LAMPIRAN
Tugas Setelah Praktikum
1. Berapakah kecepatan rambat gelombang US longitudinal dan transversal
pada material baja, aluminium, tembaga, dan plastik (secara umum)?
v Baja
= 5890 m/s (longitudinal), 3230 m/s (transversal)
v Aluminium = 6320 m/s (longitudinal), 3130 m/s (transversal)
v Tembaga
= 4660 m/s (longitudinal), 2330 m/s (transversal)
v Plastik
= 2080 m/s (longitudinal), tidak diketahui (transversal)
2. Jika permukaan suatu BU tidak rata atau bergelombang, dapatkah metoda
US mengukur ketebalan suatu material dengan teliti? Jelaskan!

Tidak, karena permukaan yang tidak rata mempunyai bidang yang


miring terhadap gelombang ultrasonik. Jika gelombang ultrasonik
memasuki bidang dengan sudut yang berbeda dari garis normal, maka
jarak yang ditempuh gelombang tersebut sampai ketebalannya akan lebih
jauh dari seharusnya.
3. Sebutkan jenis-jenis dari kuplan! Apakah fungsi dari kuplan pada
pemeriksaan ketebalan suatu material dengan metoda UT?
Jenis-jenis kuplan: Air, oli, solid lubricant (gemuk).
Fungsi kuplan: Mencegah atenuasi (peredaman) gelombang ultrasonik di
dalam material.
4. Sebutkan keunggulan dan kelemahan alat UT dalam hal pengukuran
ketebalan coating suatu material!
Keunggulan
1. Penetrasi ketebalan paling tinggi di
antara metode NDT lain
2. Pengujian relatif cepat
3. Preparasi sampel mudah
4. Tidak membahayakan operator dan
tidak merusak material
5. Portable dan otomatis

Kelemahan
1. Membutuhkan tangan yang
terlatih
2. Membutuhkan kuplan
3. Spesimen yang tipis dan kecil
sulit diukur
4. Tidak bisa digunakan untuk
mengukur besi cor
5. Dibutuhkan standar kalibrasi

5. Dapatkah metoda UT ini digunakan untuk memeriksa pada komponenkomponen yang bekerja pada temperatur tinggi? Jelaskan!
Bisa, karena refleksi gelombang ultrasonik terjadi karena faktor
perbedaan kecepatan rambat, bukan temperatur. Namun peralatan yang
digunakan seperti probe dan kuplan harus didesain khusus agar dapat
bertahan pada temperatur tinggi.
6. Studi kasus:
Terkait pengukuran ketebalan pipa, jika suatu pipa berdiameter luar 20
in. (500 mm) atau kurang dari 20 in. (500 mm), dapatkah kalibrasi yang
dilakukan cukup dengan SRB pada sisi yang datar atau flat saja? Jelaskan!
Tugas Tambahan
1. Jelaskan mengenai:
a. Magnetic Particle Test

MPT adalah pemeriksaan material magnetik dengan metoda


magnetisasi yang dilakukan untuk mendeteksi cacat di surface dan
subsurface. Serbuk magnetik disebarkan di permukaan benda kerja dan
dimagnetisasi sehingga serbuk akan berkumpul di daerah yang medan
magnetimnya mengalami distorsi. Cacat dapat ditemukan jika posisinya
tegak lurus terhadap arah medan magnet.
b. Dye Penetrant
Pada metode ini, permukaan benda uji dibersihkan, kemudian
disemprotkan dengan dye penetrant dan dibiarkan beberapa saat agar
masuk ke celah yang ada di permukaan, lalu sisa cairan yang berada di
permukaan

dibersihkan,

dan

teakhir

cacat

dimunculkan

dengan

menyemprotkan developer sehingga cairan penetrant terhisap keluar.


c. Ultrasonic Test
UT memanfaatkan gelombang ultrasonik (100 kHz-25 MHz) untuk
memeriksa cacat di permukaan dan bagian dalam material serta mengukur
ketebalannya. Gelombang ultrasonik dihasilkan dari probe yang terdiri dari
kristal piezoelektrik, dan ditangkap kembali oleh probe yang sama atau
berbeda.
d. Radiographic Test
Radiografi merupakan teknik pemeriksaan diskontinuitas pada material
baik berupa defect maupun densitas dengan menggunakan sinar X atau .
Pada teknik ini diperlukan film untuk merekam aspek diskontinuitas yang
terjadi di dalam material.
2. Jelaskan mengenai:
a. Paint Brush Transducer

Sumber:http://www.olympus-ims.com/modules/ecs/images/570436442_xl.png

Digunakan untuk memindai area yang luas. Transducer ini tersusun


dari kristal-kristal yang kecil dan dapat memeriksa daerah yang luas
secara cepat.
b. Cylindrical Probe

Sumber:http://www.capacitec.com/Products/Displacement-SensingSystems/Cylindrical-Probes

c. Direct Probe
Memanfaatkan gelombang transversal yang langsung dirambatkan ke
dalam material.
d. Angle Beam Transducer

Sumber:https://www.ndeed.org/EducationResources/CommunityCollege/Ultrasonics/EquipmentTrans/
transducertypes.htm

Digunakan untuk menghasilkan refraksi gelombang transversal dengan


berbagai sudut yang telah ditentukan. Sudut refraksi ini berbeda-beda
untuk tiap material. Umum digunakan untuk mendeteksi cacat hasil las
dan dapat menghasilkan gelombang permukaan.
e. Straight Beam Probe

Sumber:http://www.ge-mcs.com/download/ultrasound/transducers/GEIT20117EN_ultrasonic-transducer-catalog.pdf

Menghasilkan gelombang longitudinal dan digunakan untuk material


dengan geometri yang teratur dan permukaan halus.