Anda di halaman 1dari 25

MODUL PERKULIAHAN

Manajemen
Keuangan
Bentuk-Bentuk
Laporan Keuangan
Program
Studi

Fakultas
Fakultas Ekonomi
dan Bisnis

Akuntansi

Tatap
Muka

Kode
MK

Disusun Oleh

02

MK84008

Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Abstract

Kompetensi

Bahan Kuliah Manajemen Keuangan


Kelas Perkuliahan dan e-Learning
untuk Mahasiswa Jurusan Akuntansi
Tahun Gasal 2014 di Universitas Mercu
Buana Kampus Meruya - Jakarta

Membangun Metode Perkuliahan yang


Efektif dan Efisien dimana Dosen telah
Mempersiapkan Bahan Ajar sedangkan
Mahasiswa Memiliki Kesempatan yang
Lebih Banyak Mempelajari Materi Kuliah
yang telah disiapkan oleh Dosen

BAGIAN 2 : BENTUK - BENTUK LAPORAN KEUANGAN

Pendahuluan
Laporan keuangan (financial statements) adalah dokumen yang dibuat, disusun, disajikan,
dan dilaporkan perusahaan yang memuat laporan hasil kerja perusahaan dalam suatu periode
tertentu biasanya 1 (satu) tahun atau siklus operasi perusahaan.
Beberapa kelompok kegiatan bisnis yang disajikan dalam laporan keuangan perusahaan yang
utama meliputi Laporan Posisi Keuangan yang secara umum disebut dengan Neraca (balance
sheet), Laporan Laba Komprehensif yang biasa disebut dengan Laporan Laba Rugi (income
statements), Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows), dan Laporan Perubahan Ekuitas
(Statement of Changes in Equity).
International Financial Reporting Standards (IFRS) Framework for the Preparation

of

Presentation of Financial Statements menggambarkan sifat, fungsi, dan batasan wilayah kerja
akuntansi keuangan dan pelaporan keuangan. IFRS Framework menitikberatkan pada laporan
keuangan bertujuan umum (general purpose financial statements) dimana laporan keuangan dibuat
dan disajikan setiap tahun dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum bagi pemakai laporan
keuangan yang membutuhkan laporan keuangan sebagai sumber informasi keuangan utama dari
perusahaan. Sementara itu, tujuan khusus laporan keuangan (special purpose financial statements)
dibuat dan ditujukan untuk pemakai tertentu untuk memenuhi kebutuhan informasi tertentu seperti
halnya untuk perpajakan.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan gambar kerangka kerja akuntansi termasuk laporan
keuangan berikut ini :

Menyajikan informasi kepada para pemakai laporan keuangan yang


dibutuhkan dalam pengambilan keputusan

Tujuan

Karakteristik
Kualitatif

Dapat
Dipahami

Kendala

Ketepatan
Waktu

Asumsi
Unsur

Reliabilitas

Keseimbangan di antara
karakteristik kualitatif

Akuntansi Akrual

Asset

Gambar yang disajikan di atas

Relevansi

Kewajiban

Komparabilitas

Manfaat versus Biaya

Going Concern

Ekuitas

Laba

Beban

menjelaskan beberapa hal mengenai laporan keuangan

sebagaimana diuraikan berikut ini.


1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Manfaat Laporan Keuangan


IFRS Framework menjelaskan bahwa laporan keuangan bertujuan menyediakan
informasi mengenai posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan suatu
entitas perusahaan yang dapat digunakan oleh para pemakai laporan keuangan untuk
mengambil keputusan ekonomi dalam hal keputusan berinvestasi, pemberiaan kredit
dan pembiayaan, serta untuk menilai kinerja manajemen perusahaan.

Pemakai Laporan Keuangan


Para pemakai laporan keuangan membutuhkan laporan keuangan perusahaan
untuk mendapat informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan ekonomi.
Berikut ini disajikan beberapa pemakai laporan keuangan yang dimaksud :
Investor
Para

investor

membutuhkan

informasi

keuangan

sehubungan

dengan

keputusan yang ingin mereka ambil sebelum melakukan investasi. Mereka tentu ingin
memperhitungkan tingkat pengembalian dan risiko yang potensial atas investasinya
apakah

ingin

menambah,

mengurangi,

atau

tetap

mempertahankan

nilai

investasinya.
Kreditor
Para investor tentu harus memperoleh informasi yang cukup mengenai kondisi
keuangan dan kinerja manajemen perusahaan sebelum mengambil keputusan
apakah perusahaan layak untuk diberikan pinjaman atau tidak dan berapa jumlah
yang dapat diberikan apabila proposal kreditnya disetujui. Perusahaan harus memiliki
bahan

pertimbangan

untuk

memperhitungkan

kemampuan

perusahaan

mengembalikan pinjaman dan membayar bunganya.


Pemasok (Supplier)
Para pemasok (supplier) harus memiliki informasi tentang kondisi dan kinerja
manajemen perusahaan untuk mengambil keputusan apakah perusahaan layak
dilayani penjualan secara kredit atau tidak. Kalaupun disetujui penjualan secara
kredit, berapa nilainya dan waktunya, serta seberapa besar risiko piutang terlambat
dibayar atau tidak bisa ditagih.
Pelanggan (Customer)
Pelanggan (customer) membutuhkan laporan keuangan untuk mengetahui
seberapa baik kondisi keuangan perusahaan atau kinerja manajemennya. Hal ini
dibutuhkan terutama bagi pelanggan aktif yang seringkali melakukan transaksi dalam
jumlah besar ataupun dalam jangka panjang.
Hal ini perlu dalam mengambil keputusan apakah transaksi sebaiknya dilakukan
dengan perusahaan tersebut atau dengan perusahaan lainnya.
Karyawan
1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Karyawan memiliki kepentingan dengan laporan keuangan terkait dengan


kinerja manajemen perusahaan, laba yang diperoleh perusahaan, gaji/bonus/intensif
yang mereka terima, kebijakan perusahaan yang memberikan rasa aman dan
nyaman bagi karyawan untuk bekerja.
Pemerintah
Sebagai pembuat regulasi, pemerintah sangat berkepentingan dengan laporan
keuangan yang diterbitkan perusahaan untuk memperoleh informasi yang diperlukan
dalam

membuat

peraturan

serta

mengawasi

pelaksanaannya.

Pemerintah

berkepentingan dalam hal perpajakan, pemberiaan subsidi, maupun perlindungan


terhadap perusahaan maupun para buruh/karyawan terhadap berbagai konflik
kepentingan yang mungkin terjadi.
Masyarakat
Masyarakat membutuhkan perusahaan dan sebaliknya perusahaan tentu
membutuhkan masyarakat. Kondisi keuangan dan kinerja manajemen perusahaan
akan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh seberapa besar tanggung jawab sosial
perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya (corporate social
responsibility-CSR). Tingkat kesadaran perusahaan terhadap CSR akan membangun
hubungan yang saling menguntungkan serta meminimalisasi biaya akibat timbulnya
konflik diantara mereka.

Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan


IFRS Framework menggunakan 4 (empat) karakteristik kualitatif (qualitative
characteristics) yang utama untuk menilai laporan keuangan memberikan informasi
yang bermanfaat bagi para pemakai.
Keempat karakteristik kualitatif tersebut dapat dijelaskan berikut ini.
Dapat Dipahami
Laporan keuangan harus menyajikan data yang dapat dipahami oleh para
pemakai sehingga informasi yang dihasilkan tidak mengandung penafsiran yang
berbeda-beda baik diantara para pemakai maupun dengan perusahaan yang
membuat laporan keuangan tersebut. Hal ini bisa diwujudkan apabila perusahaan
dalam membuat laporan keuangan mengikuti aturan yang standard dan berlaku
disertai dengan data yang disajikan lengkap dan benar.

Relevansi

1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Laporan keuangan harus menyajikan data yang lengkap dan benar serta harus
memiliki keterkaitan antara data satu dengan data lainnya maupun periode satu
dengan periode lainnya. Data yang disajikan di dalam laporan keuangan harus
memberikan informasi yang relevan sehingga para pemakai dapat membuat analisis
dan prediksi terhadap data tersebut. Pemakaian istilah akuntansi dalam laporan
keuangan serta data antara periode satu dengan periode lainnya harus relevan
sehingga laporan keuangan tidak menghasilkan informasi yang membingungkan
bahkan menyesatkan para pemakai.
Hal-hal yang bersifat tidak material atau tidak mungkin disajikan dalam laporan
keuangan harus dijelaskan dalam Catatan atas Laporan Keuangan sehingga para
pemakai memperoleh informasi tambahan yang dibutuhkan.
Reliabilitas
Data yang disajikan di dalam Laporan Keuangan harus lengkap, benar, dan
dapat diandalkan sehingga informasi yang dihasilkan dapat diandalkan sebagai
sumber informasi yang penting bagi para pemakai dalam mengambil keputusan.
Data yang tidak dapat diandalkan membuat para pemakai tidak percaya dan
meragukan apapun yang disampaikan perusahaan tentang kondisi keuangan
maupun kinerja manajemen perusahaan. Hal tersebut akan membuat laporan
keuangan menjadi tidak berarti bahkan bisa dianggap dapat menyesatkan para
pemakainya.
Komparabilitas
Laporan keuangan sebaiknya menyajikan data untuk lebih dari satu periode.
Hal ini bertujuan agar para pemakai bisa menilai dan membandingkan kondisi
keuangan dan kinerja manajemen perusahaan dari waktu ke waktu. Para pemakai
laporan keuangan tentu ingin mengetahui seberapa besar perubahan dan bagaimana
tren yang terjadi dari waktu ke waktu. Perubahan-perubahan yang disajikan data
dalam laporan keuangan harus mencerminkan perubahan dari aspek angka-angka
yang dihasilkan dengan metode akuntansi yang sama atau perubahan akibat
perubahan kebijakan metode akuntansi yang diterapkan sehingga para pemakai
memiliki metode analisis dan perbandingan yang jelas dan benar.

1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Bentuk Bentuk Laporan Keuangan


International Accounting Standards1 (IAS1) Presentation of Financial Statements (yang
direvisi tahun 2007 dan berlaku efektif tahun 2009) telah memperkenalkan beberapa perubahan
dalam hal penyajian laporan keuangan. Beberapa nama resmi dari laporan keuangan yang
disajikan, diantaranya : Laporan Posisi Keuangan (Statement of Financial Position), Laporan Laba
Komprehensif (Statement of Comprehensif Income), Laporan Perubahan Ekuitas (Statement of
Changes in Equitiy), dan Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows). Istilah-istilah tersebut di atas
tidak berarti menghapus nama-nama yang sering berlaku di dalam laporan keuangan sehingga
istilah Neraca untuk Laporan Posisi Keuangan dan laporan Laba-Rugi tetap berlaku untuk Laporan
Laba Komprehensif.
1. NERACA
Neraca (balance sheet) sering kali disebut dengan laporan posisi keuangan (statement of
financial position) atau juga laporan kondisi keuangan (statement of financial condition) adalah
laporan keuangan dalam bentuk daftar yang disusun secara sistematik yang menjelaskan nilai
dan susunan komponen-komponen berupa aktiva, hutang, dan modal dari suatu entitas bisnis
pada tanggal tertentu.
Ada 2 (dua) cara menyusun Neraca, yaitu bentuk stafel atau report atau skontro atau TAccount. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasn berikut ini.
1.a. Bentuk - Bentuk Neraca
1.a.1. Bentuk Stafel atau Report
Neraca dalam bentuk stafel atau report menyajikan laporan keuangan yang
disusun dari atas ke bawah dengan urutan paling atas mencantumkan aktivaaktiva perusahaan, di urutan kedua hutang atau kewajiban perusahaan, dan paling
bawah mencantumkan modal atau ekuitas perusahaan.
Bentuk stafel atau report memiliki kelebihan dibandingkan dengan bentuk
skontro atau T-Account. Neraca dalam bentuk ini dapat disajikan dalam bentuk
Neraca Perbandingan atau Neraca Komparatif (comparative balance sheet)
karena dapat menyajikan lebih dari satu tanggal sebagai perbandingan. Dengan
bentuk stafel atau report ini akan menghasilkan laporan keuangan

komparatif

(comparative financial statement) dimana laporan keuangan memberikan data


keuangan lebih dari 1 (satu) taahun akan tetapi bisa sampai beberapa tahun
sebelumnya.

1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

1.a.2. Bentuk Skontro atau T-Account


Neraca dalam bentuk skontro atau T-Account menyajikan laporan keuangan
yang disusun dengan urutan kolom atau bagian kiri mencantumkan aktiva-aktiva
perusahaan sedangkan bagian kanan atas mencantumkan hutang atau kewajiban
perusahaan dan bagian kanan bawah mencantumkan modal atau ekuitas
perusahaan.
1.a.3. Contoh Neraca dalam bentuk Stafel atau Report dan Skontro atau T-Account
Laporan Posisi Keuangan komparatif berupa Neraca yang disusun dalam
bentuk stafel atau report di bawah ini menyajikan data keuangan berupa seluruh
aktiva atau aset perusahaan, hutang atau kewajiban perusahaan, dan modal atau
ekuitas perusahaan pada tanggal 31 Desember untuk 3 (tiga) tahun berturut-turut
sedangkan Neraca dalam bentuk skontro atau T-Account menyajikan data
keuangan setiap tahun.
1.a.3.1) Contoh Neraca dalam bentuk Stafel atau Report Tahun 2011,2012, dan 2013

1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

1.a.3.2) Contoh Neraca dalam bentuk Skontro atau T-Account Tahun 2013

1.a.3.3) Contoh Neraca dalam bentuk Skontro atau T-Account Tahun 2012

1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

1.a.3.4) Contoh Neraca dalam bentuk Skontro atau T-Account Tahun 2011

Berdasarkan Neraca tersebut di atas, kita memperoleh data mengenai posisi keuangan PT.
ABC Internasional Tbk. untuk tahun 2011, 2012, dan 2013. Para pembaca maupun pemakai
laporan keuangan akan mempergunakan data keuangan yang disajikan pada Neraca tersebut di
atas untuk mengetahui bagaimana kinerja keuangan perusahaan tersebut berdasarkan posisi
keuangan yang disajikannya.
Dalam melakukan analisis terhadap data keuangan tersebut di atas, langkah-langkah yang
harus dilakukan meliputi pengujian terhadap pengujian saldo aktiva, kewajiban, dan modal
berdasarkan persamaan akuntansi yang berlaku baku dan umum. Selanjutnya, analisis dapat
dilakukan terhadap saldo-saldo yang ada pada setiap akun laporan keuangan tersebut.
Untuk lebih jelasnya perhatikan penjelasan berikut ini.
1.b. Pengujian Keseimbangan Saldo Neraca
Sebelum melakukan analisis terhadap saldo-saldo setiap akun di dalam Neraca,
pastikan bahwa Neraca telah dinyatakan seimbang (balance) antara jumlah total aktiva
atau aset dengan jumlah total hutang atau kewajiban ditambah modal atau ekuitas.
Berdasarkan persamaan akuntansi :
Aktiva = Kewajiban + Ekuitas

1
4

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

sehingga saldo-saldo akun Neraca tersebut dapat dianalisis sebagai berikut :


Tahun
Aktiva
2013
2012
2011

Jumlah Saldo
(dalam Jutaan Rupiah)
=
Kewajiban
+

51.038
50.175
50.030

=
=
=

38.944
38.038
39.360

+
+
+

Reff.
Ekuitas
12.094
12.137
10.670

Perlu diingat bahwa saldo akun yang seimbang telah memenuhi syarat persamaan
akuntansi namun tidak berarti secara substansi atau angka-angka tersebut telah disajikan
dengan benar dan lengkap.
1.c. Analisis Saldo Akun-Akun Neraca
1.c.1) Aktiva atau Aset Perusahaan
Di dalam Neraca aktiva atau aset perusahaan terdiri dari aktiva atau aset
berwujud (tangible asset) dan aktiva tidak berwujud (intangible asset). Aktiva
berwujud meliputi aktiva lancar (current asset), aktiva tetap (fixed asset) atau
disebut juga dengan aktiva jangka panjang (long term asset) atau aktiva tidak
lancar (non current asset) yang terdiri dari aktiva bergerak, seperti kendaraan
bermotor, pesawat terbang, kapal laut, dan aktiva tidak bergerak, seperti rumah,
tanah, pabrik, gudang sedangkan aktiva tidak berwujud meliputi goodwill, franchise,
trademark, rights, patent, dan lain-lain. Aktiva atau aset di dalam Neraca disajikan di
bagian paling atas apabila mempergunakan bentuk stafel atau report dan disajikan
di bagian paling kiri apabila mempergunakan bentuk skontro atau T-Account.
1.c.1.a) Aktiva atau Aset Lancar
Secara definitif yang dimaksud aktiva atau aset lancar (current asset)
adalah seluruh aktiva atau aset yang diharapkan dapat dikonversi (diubah)
menjadi Kas, dijual, atau dikonsumsi selama 12(dua) belas bulan ke depan
atau dalam siklus operasi bisnis. Aktiva atau aset lancar di dalam Neraca
biasanya terdiri dari kas, investasi jangka pendek, piutang, persediaan
barang dagangan, dan beban di bayar di muka. Penyajian aktiva atau aset
lancar di dalam Neraca biasanya berdasarkan tingkat likuiditasnya
sehingga aktiva atau aset yang mudah diuangkan, dijual, atau dikonsumsi
disajikan di urutan paling awal seperti halnya Kas.

Berdasarkan data keuangan yang disajikan di dalam Neraca PT.


ABC Internasional Tbk., bisa diperoleh informasi sebagai berikut :
Kas
1
4

10

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Kas (cash) adalah aktiva atau aset paling likuid yang berfungsi sebagai
alat atau media transaksi tunai sedangkan ekuivalen Kas atau aset setara
Kas meliputi instrumen pasar uang atau pasar modal yang dengan mudah
dapat diubah atau dikonversi menjadi Kas.
Jumlah saldo Kas dan aktiva setara Kas pada Neraca perusahaan
terdiri dari Rp3.750.000.000 (2011), Rp4.150.000.000 (2012), dan
Rp5.250.000.000 (2013) sehingga tampak mengalami kenaikan yang
konsisten dalam 3 (tiga) tahun tersebut.
Piutang Usaha
Piutang Usaha (account receivables) adalah aktiva atau aset
perusahaan berupa tagihan dari para debitor yang diharapkan dapat
ditagih. Piutang yang dimiliki perusahaan bermacam-macam jenisnya
tergantung dari jenis usaha dan ukuran perusahaan. Untuk perusahaan
dagang,

piutang

dagang

merupakan

bentuk

aktiva

yang

sering

digunakan. Piutang juga bisa dalam bentuk wesel tagih (notes


receivables) yaitu jumlah tagihan yang dimiliki perusahaan kepada pihak
yang berutang (debitur) yang disertai dengan promisory notes yang telah
ditandatangani oleh pihak berutang yang mencantumkan jumlah tagihan
serta syarat dan ketentuan yang berlaku atas tagihan tersebut.
Jumlah piutang perusahaan sebagaimana disajikan dalam Neraca
sebesar

Rp3.540.000.000

(2011),

Rp3.125.000.000

(2012),

dan

Rp2.756.000.000 (2013) dimana perusahaan hanya memiliki piutang


dagang saja dan jumlahnya secara konsisten menurun dalam tiga tahun
tersebut.
Persediaan
Akun persediaan (inventory) sangat ditentukan oleh jenis dan ukuran
perusahaan. Perusahaan dagang yang berukuran besar memiliki
persediaan yang juga lebih besar dibanding perusahaan sejenis yang
berukuran kecil. Namun, baik perusahaan dagang berukuran besar
maupun kecil, persediaan barang dagangan merupakan aktiva yang tidak
bisa diabaikan untuk menjamin kelancaran usaha. Jumlah persediaan
pada Neraca tersebut di atas sebesar Rp6.145.000.000 (2011),
Rp6.135.000.000 (2012), dan Rp6.150.000.000 (2013). Angka-angka
persediaan tersebut menggambarkan bahwa jumlah persediaan lebih dari
30% total aktiva lancar dan mengalami fluktuasi jumlahnya dalam tiga
tahun tersebut sedangkan persediaan dalam bentuk lainnya tidak ada.

1
4

11

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Sementara itu, perusahaan yang bergerak di dalam bidang jasa baik


besar

maupun kecil biasanya

tidak memiliki

persediaan barang

dagangan.
Aset Lancar Lainnya

Aset lancar lain-lain meliputi berbagai pembayaran yang belum


diakui sebagai beban seperti beban sewa dibayar di muka, beban
asuransi dibayar di muka, pinjaman karyawan, dan lain-lain. Jumlah aset
lancar

lainnya

pada

Rp4.310.000.000

Neraca

(2012),

dan

sebesar

Rp4.175.000.000

Rp4.715.000.000

(2013).

(2011),
Hal

ini

menunjukkan peningkatan yang konsisten dalam tiga tahun tersebut.


1.c.1.b) Aktiva atau Aset Tidak Lancar
Aktiva atau aset tidal lancar sering kali disebut aktiva tetap (fixed
asset), aktiva tidak lancar (non current asset), atau aktiva jangka panjang
(long term asset). Sementara itu, dari sifatnya, aktiva atau aset jangka
panjang terdiri dari aktiva berwujud (tangible asset) meliputi aset bergerak
dan aset tidak bergerak serta aktiva tidak berwujud (intangible asset).
Berdasarkan data pada Neraca perusahaan, kita bisa memperoleh
informasi sebagai berikut :
Properti, Pabrik, dan Peralatan
Properti, pabrik, dan peralatan (property, plant, equipment)
merupakan aktiva tetap yang terdiri dari beberapa aset fisik seperti
tanah, bangunan, pabrik, bangunan, gudang, peralatan, dan lain-lain.
Aktiva atau aset tetap memiliki beberapa kriteria umum yaitu nilainya
sangat besar, memiliki umur manfaat ekonomis, dan memperhitungkan
biaya penyusutan yang diakumulasikan.
Jumlah

aktiva

atau

aset

bersih

pada

Neraca

(setelah

diperhitungkan biaya penyusutan) sebesar Rp14.521.000.000 (2011),


Rp14.623.000.000 (2012), dan Rp14.716.000.000 (2013). Angka-angka
tersebut menunjukkan terdapat kenaikan yang konsisten dalam tiga
tahun tersebut.
Aktiva Tidak Berwujud
Aktiva atau aset tidak berwujud (intangible asset) merupakan aset
yang tidak berbentuk fisik namun biasanya memiliki nilai yang sangat
signifikan di dalam Neraca. Aktiva atau aset tidak tetap meliputi goodwill,
paten, merk dagang, franchise, hak cipta, dan lain-lain.
Dalam Neraca perusahaan aktiva atau tidak berwujud memiliki
saldo sebesar Rp12.412.000.000 (2011), Rp12.456.000.000 (21012),

1
4

12

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Rp12.327.000.000 (2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa nilai aktiva


tidak berwujud mengalami fluktuasi.
Aktiva atau Aset Tidak Lancar Lainnya
Aktiva atau aset tidak lancar (non current asset) lainnya meliputi
aktiva atau aset yang tidak termasuk di atas seperti properti yang
ditujukan untuk investasi, aset pajak yang ditangguhkan, maupun aset
keuangan lainnya.
Berdasarkan Neraca perusahaan di atas, jumlah saldo aktiva atau
aset lainnya sebesar Rp5.487.000.000 (2011), Rp5.376.000.000 (2012),
dan Rp5.124.000.000 (2013). Angka-angka tersebut menunjukkan
penurunan yang signifikan dalam tiga tahun tersebut.
1.c.2) Hutang atau Kewajiban
Kewajiban perusahaan yang disajikan di dalam Neraca meliputi kewajiban
lancar dan kewajiban tidak lancar. Untuk lebih jelasnya, perhatikan penjelasan
berikut ini.
1.c.2.a) Hutang atau Kewajiban Lancar
Hutang atau Kewajiban Lancar (current liabilities) adalah hutanghutang atau kewajiban yang harus diselesaikan perusahaan dalam waktu
1 (satu) tahun atau dalam siklus perusahaan. Hutang atau kewajiban
lancar biasanya meliputi hutang dagang, hutang pajak, hutang gaji/upah
dan wesel bayar (notes payable).
Hutang Dagang
Pada perusahaan dagang sebagian besar hutang dagang
(account payable) merupakan kewajiban kepada pemasok barang
dagangan, wesel bayar, atau hutang-hutang yang dikelompokkan
sebagai hutang usaha.
Berdasarkan data keuangan pada Neraca di atas, hutang atau
kewajiban lancar perusahaan memiliki saldo sebesar Rp17.896.000.000
(2011), Rp17.014.000.000 (2012), dan Rp17.126.000.000 (2013). Hal
tersebut menunjukkan terdapat kenaikan yang fluktuatif dalam tiga tahun
tersebut.
Hutang Pajak
Hutang pajak (tax payable) merupakan kewajiban perusahaan
sehubungan dengan transaksi-transaksi yang dikenakan pajak atau
penghasilan kena pajak.
Jumlah saldo hutang pajak yang disajikan dalam Neraca sebesar
Rp1.364.000.000 (2011), Rp1.236.000.000 (2012), Rp1.423.000.000
1
4

13

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

(2013) yang menunjukkan bahwa terdapat jumlah yang berfluktuasi


dalam tiga tahun tersebut.

Pinjaman Jangka Pendek


Pinjaman jangka pendek (short term borrowings) merupakan
kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi dalam waktu 1 (satu) tahun
atau siklus operasi perusahaan yang berupa pinjaman dana dari pihak
kreditur.
Berdasarkan Neraca perusahaan di atas, pinjaman jangka pendek
dalam tiga tahun mengalami fluktuasi dari Rp2.764.000.000 (2011),
Rp3.169.000.000 (2012), dan Rp2.364.000.000 (2013).
Kewajiban Lancar Lainnya
Perusahaan ada kalanya memperoleh pendapatan yang ditagih di
muka dari sewa, uang muka, provisi, ataupun kewajiban pajak yang
ditangguhkan. Pendapatan yang telah diterima tetapi belum dinyatakan
sebagai pendapatan perusahaan dan kewajiban yang seharusnya telah
dibayarkan tetapi belum dilaksanakan maka dapat dikelompokkan
sebagai kewajiban lancar lainnya.
Jumlah saldo kewajiban lancar lainnya dalam tiga tahun
sebagaimana disajikan dalam Neraca di atas mengalami fluktuasi dari
Rp4.687.000.000

(2011),

Rp4.145.000.000

(2012),

dan

Rp5.328.000.000 (2013).
1.c.2.b) Hutang atau Kewajiban Tidak Lancar
Hutang atau kewajiban tidak lancar (non current liabilities) atau
kewajiban

jangka

panjang

(long

term

liabilities)

pada

dasarnya

merupakan kewajiban perusahaan yang harus diselesaikan dalam waktu


lebih dari 1 (satu) tahun. Hutang atau kewajiban jangka panjang pada
umumnya meliputi pinjaman jangka panjang dan kewajiban tidak lancar
lainnya.
Pinjaman Jangka Panjang
Pinjaman jangka panjang (short term borrowings) biasanya
berasal dari pinjaman dana perusahaan dari pihak kreditur atau dari
hasil penjualan surat hutang atau instrumen keuangan lainnya yang
harus dibayar kembali dalam waktu beberapa tahun ke depan.
Berdasarkan Neraca di atas, jumlah pinjaman jangka panjang
dalam waktu tiga tahun mengalami fluktuasi yaitu dari Rp8.436.000.000
2011), Rp8.223.000.000 (2012), dan Rp8.567.000.000 (2013).
1
4

14

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Kewajiban Tidak Lancar Lainnya


Kewajiban tidak lancar (non current liabilities) pada umumnya
berasal dari pendapatan yang sudah diterima namun belum diakui
sebagai pendapatan untuk transaksi yang bersifat jangka panjang
seperti halnya pendapatan sewa untuk jangka panjang serta kewajiban
yang harus diselesaikan dalam waktu lebih dari satu tahun tetapi belum
dibayarkan seperti halnya pajak atau biaya sewa yang ditangguhkan.
Kewajiban tidak lancar dalam waktu tiga tahun mengalami
fluktuasi sebagaimana disajikan dalam Neraca perusahaan di atas yaitu
Rp4.213.000.000 (2011), Rp4.251.000.000 (2012), Rp4.136.000.000
(2013).
1.c.3) Ekuitas Pemegang Saham
Ekuitas

pemegang

saham

(stockholders

equity)

merupakan

modal

perusahaan yang diperoleh dari hasil penjualan saham atau modal yang disetor
(paid-in capital) oleh investor, tambahan modal disetor atau premi saham (capital
in excess of par).
Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah urain berikut ini.
1.c.3.a) Modal Disetor atau Modal Saham
Modal disetor (paid-in capital) atau modal saham (Equity) atau
modal saja merupakan sumber pendanaan perusahaan yang berasal
dari dana yang dsietorkan oleh investor dalam hal ini pemegang saham
pada waktu investor pertama kali atau menyetorkan dananya untuk
memperoleh saham kepemilikan perusahaan atau membeli saham
perusahaan baik melalui pasar primer maupun pasar sekunder.
Berdasarkan angka-angka yang disajikan pada Neraca di atas,
modal tahun 2011 sampai dengan 2013 sebesar Rp1.542.000.000
setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada dana baru yang
disetor atau saham baru yang dijual dalam kurun waktu tersebut untuk
menambah modal perusahaan.
1.c.3.a) Tambahan Modal Disetor atau Premi Saham
Tambahan modal disetor merupakan dana yang disetorkan oleh
investor sebagai pemegang saham untuk menambah modal perusahaan
dengan memperoleh saham kepemilikan atas perusahaan berdasarkan
harga nominal saham tersebut. Sementara itu, dana yang disetorkan
melebih nilai nominal atau nilai par saham maka disebut dengan
tambahan modal disetor dengan premi saham (paid-in excess of par).
Berdasarkan

angka-angka

pada

Neraca

tersebut

di

atas,

tambahan modal disetor ditambahan pada Ekuitas perusahaan sebagai


laba ditahan, cadangan, dan lain-lain.
1
4

15

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

1.c.3.a) Laba Ditahan, Cadangan dan Lain-Lain


Laba ditahan (retained

earnings), cadangan, dan lain-lain

merupakan bagian laba perusahaan yang tidak dipergunakan untun


membayar dividen kepada pemegang saham. Laba perusahaan setelah
dikurangi dividen disisihkan sebagian untuk laba ditahan, sebagai
cadangan untuk kegiatan perusahaan, dan sebagai kepentingan
minoritas atau non pengendali.
Jumlah saldo tambahan modal disetor dari tahun 2011 sampai
dengan 2013 sebesar

Rp9.128.000.000, Rp10.595.000.000,

dan

Rp10.552.000.000. Angka tersebut menunjukkan bahwa tambahan


modal disetor mengalami fluktuasi dalam kurun waktu tersebut sehingga
jumlah ekuitas pemegang saham akan bertambah sebesar laba ditahan
dan cadangan tersebut.
2. LAPORAN LABA RUGI
Laporan Laba Rugi menyajikan laporan pendapatan dan beban selama 1(satu) tahun atau
siklus operasional perusahaan. Apabila laporan keuangan menyajikan laporan pendapatan dan
beban secara menyeluruh maka laporan laba rugi tersebut disebut dengan Laporan Laba Rugi
Komprehensif (Statement of Comprhensif Income). Sementara itu, apabila laporan laba rugi
tersebut menyajikan laporan gabungan dari beberapa anak perusahaan (subsidiaries) maka
laporan laba rugi yang disajikan oleh induk perusahaan tersebut disebut dengan Laporan Laba
Rugi Konsolidasi (Statement of Consolidated Income).
Periode akuntansi yang digunakan oleh perusahaan dalam menyajikan Laporan Laba Rugi
tergantung pada keputusan setiap perusahaan. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut :

Nama Perusahaan
Carrefour
Wal-Mart
Lenovo
FedEx
Steinhoff (Afsel)
Ahold N.V. (Belanda)
Lain-Lain

1
4

16

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Tanggal Penyajian Laporan Laba Rugi pada


pada Akhir Tahun Fiskal
31 Desember
31 Januari
31 Maret
31 Mei
30 Juni
Hari Minggu terakhir sebelum
tanggal 31 Desember
52 atau 53 minggu pada tanggal yang paling
dekat ke tanggal 31 Desember
Pusat Bahan Ajar dan
eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Berikut ini disajikan Laporan Laba Rugi Konsolidasi PT. ABC Internasional Tbk. yang
berakhir pada tanggal 31 Desember tahun 2011, 2012, dan 2013.

Berdasarkan Laporan Laba Rugi Konsolidasi tersebut di atas, kita harus memahami
informasi apa yang diperoleh dari data keuangan tersebut. Untuk itu, di bawah ini disajikan uraian
atas masing-masing akun dimaksud.
2.a. Pendapatan
Dalam laporan laba rugi diatas disajikan 2 (dua) jenis pendapatan yaitu penjualan
bersih dan pendapatan lainnya. Penjualan bersih pada dasarnya pendapatan penjualan
setelah dikurangi dengan semua pengembalian barang (retur) yang dikembalikan oleh
pelanggan diterima kembali oleh perusahaan. Sementara itu, pendapatan lainnya
merupakan pendapatan yang diperoleh dari kegiatan di luar kegiatan pokok perusahaan
yaitu penjualan berupa pendapatan dari jasa keuangan seperti pendapatan sewa, fee, dan
lain-lain. Keterangan lengkap mengenai akun-akun dan angka-angka yang disajikan dalam
laporan laba rugi tersebut disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan yang
memberikan penjelasan tentang segala hal yang terkait dengan kebijakan akuntansi, metode
yang dipergunakan, maupun rincian lainnya secara lengkap.
Dari tabel tersebut di atas, laba bersih perusahaan dari tahun 2011 sampai dengan
2013 mengalami penurunan yang konsisten dari Rp2.874.000.000, Rp2.847.000.000,sampai Rp2.697.000.000 setelah ditambah dengan jumlah pendapatan lain pada pos
pendapatan lainnya sebesar Rp74.000.000,- Rp113.000.000,- dan Rp196.000.000.
1
4

17

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

2.b. Beban
2.b.1) Harga Pokok Penjualan (HPP)
Beban-beban (expenses) yang mengurangi penghasilan tidak seluruhnya
menggunakan kata beban seperti harga pokok penjualan (cost of goods sold
COGS). COGS pada dasarnya merupakan beban penjualan berupa biaya barang
dagangan yang dijual kepada pelanggan. Hasil penjualan setelah dikurangi dengan
harga pokok penjualan disebut dengan marjin kotor (gross margin). Nilai marjin kotor
akan sangat tergantung kepada angka penjualan dan angka harga pokok penjualan.
Dengan asumsi nilai penjualannya sama, semakin besar penjualan dan semakin kecil
harga pokok penjualan maka semakin besar marjin kotornya. Sebaliknya, semakin
kecil penjualan dan semakin besar harga pokok penjualannya maka marjin kotor
akan semakin kecil.
Perhatikanlah tabel di atas. Harga pokok penjualan dari tahun 2011 2013
berfluktuasi dari Rp66.564.000.000, Rp69.145.000.000, dan Rp67.389.000.000.
Angka-angka tersebut mencerminkan biaya barang yang diperoleh dan dijual kembali
mengalami perubahan dalam tiga tahun tersebut.
2.b.2) Beban Penjualan, Umum, dan Administrasi
Beban penjualan, umum, dan administrasi merupakan biaya-biaya yang tidak
berhubungan langsung dengan pembelian barang dagang namun diperlukan untuk
mendukung kegiatan perusahaan. Biaya-biaya ini diantaranya meliputi beban tenaga
kerja, sewa properti, pemeliharaan dan perbaikan, fee, iklan, konsumsi, dan beban
umum lainnya.
Jumlah beban-beban tersebut dari tahun 2011-2013 jumlahnya tidak tetap
sebesar Rp12.786.000.000, Rp12.052.000.000,- dan Rp13.126.000.000. Hal tersebut
menjelaskan bahwa besar beban pada setiap tahun tergantung kondisi pada tahun
tersebut.
2.b.3) Penyusutan, Amortisasi, dan Provisi
Beban-beban tersebut berhubungan dengan penggunaan dan biaya manfaat
yang dikonsumsi dari aset-aset jangka panjang yang dimiliki dan digunakan oleh
perusahaan berupa aktiva berwujud seperti properti, pabrik, mesin, peralatan,
bangunan, dan lain-lain serta aktiva tidak berwujud seperti goodwill, paten, merk
dagang, franchise, hak cipta, dan lain-lain.
Berdasarkan data keuangan yang disajikan pada laporan laba rugi di atas,
beban-beban tersebut mengalami peningkatan yang konsisten dari tahun 2011-2013
sebesar Rp1.254.000.000, Rp1.367.000.000, dan Rp1.457.000.000.
1
4

18

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

2.b.4) Pendapatan dan Beban Tidak Berulang


Pendapatan dan beban tidak berulang (non-recurring) sering disebut dengan
pos luar biasa. Pos luar biasa biasanya berkaitan dengan biaya-biaya yang tidak
sering terjadi seperti biaya restrukturisasi atau pun penurunan beban operasi
(impairment charge) dengan maksud dapat meningkatkan laba bersih perusahaan.
Penjelasan lengkap mengenai pos luar biasa ini disajikan di dalam Catatan atas
Laporan Keuangan.
Jumlah saldo pos luar biasa pada laporan laba rugi tersebut di atas mengalami
kenaikan secara konsisten dari Rp378.000.000 (2011), Rp468.000.000 (2012), dan
Rp532.000.000 (2013).
2.b.4) Biaya Keuangan atau Beban Bunga
Biaya keuangan atau beban bunga (interest expense) merupakan beban
berupa bunga yang timbul dari hutang atau pinjaman dana yang diperoleh
perusahaan. Selain beban bunga, perusahaan bisa saja memperoleh pendapatan
bunga dari tabungan, investasi, dan instrumen keuangan lainnya. Penyajian
pendapatan bunga atau beban bunga pada laporan laba rugi bisa disajikan selisihnya
atau seluruhnya secara lengkap.
Data keuangan pada laporan laba rugi tersebut di atas menyajikan jumlah
selisih negatif yang berfluktuasi dari tahun 2011 - 2013 sebesar Rp859.000.000,
Rp964.000.000,- dan Rp773.000.000.
2.b.5) Beban Pajak Penghasilan
Beban pajak penghasilan berhubungan dengan kewajiban perusahaan untuk
membayar sebagian penghasilan yang diperolehnya kepada pemerintah berdasarkan
tarif pajak yang telah ditentukan. Besarnya pajak penghasilan perusahaan tergantung
pada besarnya penghasilan perusahaan dan tarif pajak yang dikenakan. Jumlah
pajak tentu tidak berlaku sama apabila perusahaan memperoleh keringanan atau
pembebasan pajak atas penghasilan yang diperolehnya dari pemerintah.
Jumlah pajak penghasilan yang disajikan dalam laporan laba rugi tersebut
diatas tidak tetap dari tahun 20112013 sebesar Rp793.000.000, Rp879.000.000,
dan Rp864.000.000.
2.c. Laba Bersih
Jumlah laba bersih yang dicatat pada laporan laba rugi tersebut di atas adalah laba
bersih setelah pajak (earning after tax EAT).

1
4

19

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Berdasarkan data pada laporan laba rugi tersebut diatas tampak bahwa laba bersih
perusahaan dari tahun 20112013 mengalami penurunan yang konsisten yaitu sebesar
Rp2.874.000.000, Rp2.847.000.000,- dan Rp2.697.000.000.
.

3. LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS


Ekuitas merupakan sisa kepentingan dari pemilik perusahaan dari seluruh aktiva atau aset
perusahaan dikurangi dengan seluruh kewajibannya. Laba yang dihasilkan perusahaan akan
menambah kekayaan perusahaan yang berarti bertambah pula kesejahteraan pemegang saham.
Perubahan ekuitas suatu perusahaan disajikan dalam bentuk Laporan Perubahan Ekuitas
Konsolidasi (Statement of Consolidated Changes in Equity) sebagaimana terlihat pada tabel
berikut ini.

3.a. Ekuitas Pemegang Saham Tahun 2011


Angka-angka pada tabel di atas menjelaskan bahwa ekuitas pemegang saham per 31
Desember 2010 sebesar Rp8.662.000.000. Pada tahun 2011 perusahaan memperoleh laba
bersih sebesar Rp2.874.000.000 namun dikurangi untuk membayar dividen sebesar
Rp653.000.000 dan untuk reklasifikasi dan cadangan lainnya sebesar Rp213.000.000.
Dengan demikian maka ekuitas pemegang saham per 31 Desember 2011 sebesar
Rp8.662.000.000

Rp2.874.000.000

Rp653.000.000

Rp213.000.000

Rp10.670.000.000.

1
4

20

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

3.b. Ekuitas Pemegang Saham Tahun 2012


Ekuitas pemegang saham per 31 Desember 2011 sebesar Rp10.670.000.000. Pada
tahun 2012 perusahaan memperoleh laba bersih sebesar Rp2.847.000.000 namun dikurangi
untuk membayar dividen sebesar Rp834.000.000 dan untuk reklasifikasi dan cadangan
lainnya sebesar Rp546.000.000.
Dengan demikian maka ekuitas pemegang saham per 31 Desember 2012
Rp10.670.000.000

Rp2.847.000.000

Rp834.000.000

sebesar

Rp546.000.000

Rp12.137.000.000.
3.c. Ekuitas Pemegang Saham Tahun 2013
Selanjutnya,

ekuitas

pemegang

saham

per

31

Desember

2012

sebesar

Rp12.137.000.000.000. Pada tahun 2013 perusahaan memperoleh laba bersih sebesar


Rp2.697.000.000 namun dikurangi untuk membayar dividen sebesar Rp1.450.000.000 dan
untuk reklasifikasi dan cadangan lainnya sebesar Rp1.290.000.000. Dengan demikian maka
ekuitas pemegang saham per 31 Desember 2011 sebesar Rp12.137.000.000 +
Rp2.697.000.000 Rp1.450.000.000 Rp1.290.000.000 = Rp12.094.000.000.
Beberapa hal yang harus diperhatikan di dalam laporan perubahan ekuitas pemegang
saham diantaranya bagaimana kebijakan dividen yang diambil oleh perusahaan dalam hal
apakah perusahaan akan mengeluarkan dividen atau tidak yang tentunya akan mempengaruhi
jumlah laba ditahan yang akan digunakan untuk menambah modal atau dana cadangan. Di
samping itu, faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi ekuitas diantaranya perubahan nilai
wajar instrumen keuangan, perubahan kurs mata uang asing, maupun kebijakan perusahaan
untuk menerbitkan saham atau membeli kembali (buy-back) saham perusahaan yang beredar.
4. LAPORAN ARUS KAS
Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flows) menunjukkan penerimaan dan pembayaran
Kas perusahaan. Arus kas perusahaan meliputi 3 (tiga) kegiatan utama yaitu : aktivitas operasi
(operating activities), aktivitas investasi (investment activities) dan aktivitas pembiayaan
(financing activities). Laporan Arus Kas menyajikan data penerimaan dan pengeluaran Kas dari
ketiga aktivitas perusahaan tersebut.
Untuk lebih jelasnya, di bawah ini dijelaskan mengenai ketiga aktivitas tersebut.
4.a. Aktivitas Operasi
Aktivitas operasi (operating activities) mencatat kegiatan dari operasi perusahaan
dengan menjual barang dan jasa. Dari hasil penjualan tersebut, perusahaan akan
memperoleh penghasilan yang akan diperhitungkan dengan beban-beban yang harus
dikeluarkan. Apabila penghasilan melebihi segala beban yang harus dikeluarkan maka
1
4

21

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

perusahaan akan memperoleh laba bersih dan sebaliknya akan memperoleh rugi bersih
apabila jumlah penghasilan lebih rendah dari jumlah beban-beban operasionalnya.
Kegiatan

perusahaan sekalipun memperoleh keuntungan belum

tentu dapat

menghasilkan Kas dari aktivitas operasionalnya. Sebaliknya, perusahaan bisa saja


menghasilkan Kas sekalipun mengalami kerugian. Oleh karena itu, laporan kas diperlukan
untuk melihat sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan Kas dan apakah
perusahaan memperoleh kentungan atau kerugian.
4.b. Aktivitas Investasi
Aktivitas investasi (investment activities) menunjukkan seberapa besar sumber dana
yang dimiliki oleh perusahaan dipergunakan untuk investasi jangka panjang dengan cara
membeli aktiva atau aset tidak lancar yang bersifat produktif seperti properti, pabrik,
bangunan, tanah, mesin, peralatan, dan lain-lain. Dalam melakukan investasi tentu terdapat
arus Kas keluar berupa dana yang dipergunakan untuk membeli aset-aset tersebut maupun
arus Kas masuk dari penerimaan hasil investasi atau penjualan aktiva tidak lancar tersebut.
4.c. Aktivitas Pendanaan
Kebutuhan dana perusahaan bisa dipenuhi dengan aktivitas pendanaan (financing
activities) yang dilakukan perusahaan dalam bentuk kegiatan yang menghasilkan arus Kas
masuk seperti penerbitan saham, memperoleh dana pinjaman maupun arus Kas keluar
seperti pembelian kembali saham ataupun membayar pokok atau bunga pinjaman.
Untuk lebih jelasnya, lihatlah tabel di bawah ini.

Berdasarkan laporan arus Kas di atas, dapat disimpulkan bahwa jumlah Kas dan
ekuivalen Kas pada akhir tahun 2011-2013 meningkat secara konsisten yaitu sebesar
Rp3.750.000.000, Rp4.150.000.000, dan Rp5.250.000.000.
1
4

22

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Hubungan antara Akun-Akun Laporan Keuangan


Untuk memahami hubungan diantara akun-akun laporan keuangan, perhatikan tabel-tabel
berikut ini :

1
4

23

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Hubungan antar akun-akun laporan keuangan di atas, dapat dilihat pada penjelasan di
bawah ini.
Neraca
Melaporan aset, kewajiban, dan ekuitas pada akhir tahun.
Memiliki saldo akhir yang seimbang berdasarkan persamaan akuntansi yaitu
jumlah saldo aktiva sama dengan jumlah saldo kewajiban ditambah dengan
jumlah saldo ekuitas.
Melaporkan jumlah saldo ekuitas yang berasal dari Laporan Perubahan Ekuitas
seperti yang dtiunjukkan pada tanda panah

Laporan Laba Rugi


Melaporan pendapatan dan beban tahun berjalan.
Melaporkan laba bersih atau rugi bersih.
Laporan Perubahan Ekuitas
Menjelaskan saldo ekuitas awal
Memasukkan laba bersih atau rugi bersih yang diambil dari Laporan Laba Rugi
seperti yang dtiunjukkan pada tanda panah

Laporan Arus Kas

Menyajikan data arus Kas keluar-masuk dari aktivitas operasi, investasi, dan
pendanaan.

Menghasilkan arus Kas bersih positif (menambah) atau negatif (mengurangi)


saldo Kas akhir.
Melaporkan posisi saldo Kas akhir apakah bertambah, berkurang, atau tidak
terdapat saldo Kas sama sekali seperti yang ditunjukkan tanda panah .
1
4

24

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Daftar Pustaka
Van Horne, James C. dan John M. Wachowisz Jr. 2012. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan.
Fundamental of Financial Management, edisi 13 . Buku 1. Jakarta. Salemba Empat.
Harrison Jr, Walter T dkk.2012. Akuntansi Keuangan.International Financial Reporting StandardsIFRS, edisi 8. Jilid 1. Jakarta. PENERBIT ERLANGGA.

1
4

25

Manajemen Keuangan
Idik Sodikin,SE,MBA,MM

Pusat Bahan Ajar dan


eLearning
http://www.mercubuana.ac.id