Anda di halaman 1dari 8

A.

1.

KONSEP DASAR
Definisi
Vulnus laceratum terjadi akibat kekerasan benda tumpul, goresan, jatuh,
kecelakaan sehingga kontuinitas jaringan terputus. Pada umumnya respon
tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan. Nyeri timbul karena
kulit mengalami luka infeksi sehingga terjadi kerusakan sel-sel yang rusak
akan membentuk zat kimia sehingga akan menurunkan ambang stimulus
terhadap reseptor mekano sensitive (Price. 2005)

2.

Etiologi
Vulnus Laseratum dapat di sebabkan oleh beberapa hal di antaranya :
a. Alat yang tumpul.
b. Jatuh ke benda tajam dan keras.
c. Kecelakaan lalu lintas dan kereta api.
d. Kecelakaan akibat kuku dan gigitan.

3.

Tanda dan gejala


Mansjoer (2000) Manifestasi klinis vulnus laseratum adalah:
a. Luka tidak teratur
b. Jaringan rusak
c. Bengkak
d. Pendarahan
e. Akar rambut tampak hancur atau tercabut bila kekerasanya di daerah rambut
f. Tampak lecet atau memer di setiap luka.

4.

Patofisiologi
Menurut Price (2006), Vulnus laserrratum terjadi akibat kekerasan benda
tumpul, goresan, jatuh, kecelakaan sehingga kontuinitas jaringan terputus.
Pada umumnya respon tubuh terhadap trauma akan terjadi proses peradangan
atau inflamasi.reaksi peradangan akan terjadi apabila jaringan terputus.dalam
keadaan ini ada peluang besar timbulnya infeksi yang sangat hebat.
Penyebabnya cepat yang di sebabkan oleh mikroorganisme yang biasanya
tidak berbahaya.Reaksi peradangan itu sebenarnya adalah peristiwa yang di
koordinasikan dengan baik yang dinamis dan kontinyu untuk menimbulkan
reaksi peradangan maka jaringan harus hidup dan harus di mikrosekulasi
fungsional.Jika jaringan yang nekrosis luas maka reaksi peradangan tak di

temukan di tengah jaringan yang hidup dengan sirkulasi yang utuh terjadi pada
tepinya antara jaringan mati dan hidup.
5.

Pemeriksaan Penunjang
a.
Pemeriksaan diagnostik yang perlu di lakukan terutama jenis
darah

lengkap.tujuanya

untuk

mengetahui

tentang

infeksi

yang

terjadi.pemeriksaannya melalui laboratorium.


b.

Sel-sel darah putih.leukosit dapat terjadi kecenderungan


dengan kehilangan sel pada lesi luka dan respon terhadap proses infeksi.

c.

Hitung darah lengkap.hematokrit mungkin tinggi atau


lengkap.

d.

Laju endap darah (LED) menunjukkan karakteristik infeksi.

e.

Gula darah random memberikan petunjuk terhadap penyakit


deabetus melitus

6.

Penatalaksanaan medis
a.

Keperawatan
1. Bersihkan luka dengan menggunakan NaCl.
2. Anastesi luka dengan menggunakan lidocaine.
3. Apabila lidocaine sudah bereaksi,sebelum melakukan tindakan hecting
maka terlebih dahulu bersihkan luka dengan membuang jaringan yang
sudah rusak
4. Lihat kondisi luka,perhatikan panjang,lebar,dan dalamnya luka. Apabila
luka tersebut dalam,maka membutuhkan hecting dalam dengan
menggunakan catgut dan hecting luar dengan menggunakan silk.
5. Beri larutan betadine untuk mempercepat pengeringan luka dan
mencegah infeksi.
6. Tutup luka dengan menggunakan kain kasa steril.
7. Rekatkan dengan plester.
8. Anjurkan agar pasien control setelah 2 hari.

B.
1.

MANAJEMEN KEPERAWATAN
Pengkajian
1. Aktifitas atau istirahat

Gejala : merasa lemah, lelah.


Tanda : perubahan kesadaran, penurunan kekuatan tahanan keterbatasaan
rentang gerak, perubahan aktifitas.
2. Sirkulasi
Gejala : perubahan tekanan darah atau normal.
Tanda : perubahan frekwensi jantung takikardi atau bradikardi.
3. Integritas ego
Gejala : perubahan tingkah laku dan kepribadian.
Tanda : ketakutan, cemas, gelisah.
4. Eliminasi
Gejala : konstipasi, retensi urin.
Tanda : belum buang air besar selama 2 hari.
5. Neurosensori
Gejala : vertigo, tinitus, baal pada ekstremitas, kesemutan, nyeri.
Tanda : sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan, pusing, nyeri pada
daerah cidera , kemerah-merahan.
6. Nyeri / kenyamanan
Gejala : nyeri pada daerah luka bila di sentuh atau di tekan.
Tanda : wajah meringis, respon menarik pada rangsang nyeri yang hebat,
gelisah, tidak bisa tidur.
7. Kulit
Gejala : nyeri, panas.
Tanda : pada luka warna kemerahan , bau, edema.
2.

Diagnosa keperawatan
a.
Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d diskontuinitas jaringan.
b.

Gangguan istirahat tidur kurang dari kebutuhan b/d nyeri.

c.

Gangguan eliminasi BAB b/d kelemahan fisik.

d.

Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot.

e.

Gangguan integritas kulit b/d kerusakan jaringan.

f.

Resiko tinggi infeksi b/d perawatan luka tidak efektif.

g.

Resti kekurangan volume cairan b/d pendarahan.

3.

Intervensi keperawatan
Fokus intervensi di dasarkan oleh diagnosa keperawatan yang muncul pada
teori.
1. Gangguan rasa nyaman nyeri muncul akibat jaringan kulit , jaringan otot,
jaringan saraf terinfeksi oleh bakteri pathogen. Penggandaan zat-zat
racunnya sehingga mengakibatkan perubahan neurologis yanng sangat
besar.
Tujuan : nyeri hilang / berkurang.
KH :
- pasien melaporkan reduksi nyeri dan hilangnya nyeri setelah tindakan
-

penghilang nyeri.
Pasien rileks.
Dapat istirahat / tidur dan ikut serta dalam aktifitas sesuai kemampuan.
Intervensi :
Kaji tanda tada vital.
Lakukan ambulasi diri.
Ajarkan teknik distraksi dann relaksasi misalnya nafas dalam.
Berikan obat sesuai petunjuk.

2. Gangguan istirahat tidur kurang dari kebutuhan b/d nyeri.Gangguan


kebutuhan istirahat dan tidur adalah gangguan jumlah kualitas tidur.
Tujuan : gangguan istirahat tidur tetasi
KH :
Mengatakan peningkatan rasa segar, tidak pucat, tidak ada lingkar hitam
pada mata.
Melaporkan perbaikan dalam pola tidur.
Intervensi :
Kaji penyebab nyeri / gangguan tidur.
Berikan posisi nyaman pada klien.
Anjurkan minum hangat.
Kolabirasi dengan keluarga untuk menciptakan lingkungan tenang.
3. Gangguan eliminasi BAB / konstipasi b/d penurunan mobilitas usus
adalah suatu penurunan frekwensi defekasi yag normal pada seseorang, di
sertai gangguan kesulitan keluarnya feses yang tidak lengkap atau
keluarnya feses yang sangat keras dan kering.
Tujuan : tidak terjadi konstipasi.
KH :

pasien mempertahankan / menetapkan pola nominal fungsi usus.


Konsistensi feses normal.
Perut tidak kembung.
Intervensi :
Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus.
Anjurkan untuk ambulasi sesuai kemampuan.
Berikan obat laksatif pelembek feses bila di perlukan.
4. Gangguan mobilitas fisik b/d kelemahan otot
Tujuan : mempertahankan mobilitas fisik
KH :
mempertahankan meningkatkan kekuatan dan fungsi atau bagian tubuh
yang terkena.
Mendemonstrasikan teknik atau perilaku yang di ajarkan.
Kemungkinan melakukan aktifitas.
Intervensi :
Kaji kemampuan secara fungsional / luasnya kerusakan awal.
Bantu dalam aktifitas perawatan diri.
Pantau respon pasien terhadap aktivitas. (doenges, 2000: 930-931)
5. Gangguan integritas kulit b/d kerusakan jaringan. Kerusakan integritas
kulit adalah suatu kondisi individu yang mengalami perubahan dermis dan
atau epidermis .
Tujuan : tidak terjadi gangguan integritas kulit.
KH :
Bebas tanda tanda infeksi.
Mencapai penyembuhan luka tepat waktu
Intervensi :
Kaji / catat ukuran, warna keadaan luka, perhatikan daerah sekitar luka.
Ajarkan pemeliharaan luka secara aseptik.
Observasi tanda-tanda infeksi.
6. Resiko infeksi sekunder b/d perawatan luka tidak efektif. Resiko infeksi
adalah suatu kondisi yang beresiko mengalami peningkatan terserang
organisme pathogenik.
Tujuan : tidak terjadi infeksi lebih lanjut.
KH :

Tidak terdapat tanda tanda infeksi lebih lanjut dengan luka bersih tidak
ada pus.
Intervensi :
Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan.
Pantau ssuhu tubuh secara teratur.
Berikan antibiotik secara teratur.
7. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b/d pendarahan.
Tujuan : Volume cairan terpenuhi
KH :
Keseimbangan cairan yang adekuat ditandai dengan TTV yang stabil ,
turgor, kulit normal, membran rukosa lembab, pengeluaran urine yang
sesuai.
Intervensi :
Kaji pengeluaran dan pemasukan cairan.
Pantau tanda-tanda vital.
Catat munculnya mual muntah.
Berikan cairan parenteral sesuai indikasi.
Pantau suhu kulit, palpasi, denyut perifer.
4.

Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah pengelolaan dan perwujudan dari
rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Setiadi,
2012: 53). Dalam melaksanakan tindakan perawatan, selain melaksanakannya
secara mandiri, harus adanya kerja sama dengan tim kesehatan lainnya.
Implementasi merupakan realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan dan menilai data yang baru. Implementasi tindakan
dibedakan menjadi tiga kategori yaitu: independent (mandiri), interdependent
(bekerja sama dengan tim kesehatan lainnya: dokter, bidan, tenaga analis, ahli
gizi, apoteker, ahli kesehatan gigi, fisioterapi dan lainnya) dan dependent
(bekerja sesuai instruksi atau delegasi tugas dari dokter). Perawat juga harus
selalu mengingat prinsip 6S setiap melakukan tindakan, yaitu senyum, salam,
sapa, sopan santun, sabar dan syukur. Selain itu, dalam memberikan
pelayanan, perawat harus melaksankannnya dengan displin, inovatif (perawat
harus berwawasan luas dan harus mampu menyesuaikan diri dengan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi), rasional, integrated (perawat


harus mampu bekerja sama dengan sesama profesi, tim kesehatan yang lain,
pasien, keluarga pasien berdasarkan azas kemitraan), mandiri, perawat harus
yakin dan percaya akan kemampuannya dan bertindak dengan sikap optimis
bahwa asuhan keperawatan yang diberikan akan berhasil (Zaidin, 2003: 84).
Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah
intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi,
penguasaan keterampilan interpersonal, intelektual dan teknikal, intervensi
harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan
fisik dan psikologis dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa
pencatatan dan pelaporan (Gaffar, 2003: 50).
5.

Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang
kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga kesehatan
lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam
mencapai tujuan yang disesuaikan denagn kriteria hasil pada tahap
perencanaan.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta :
EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Mansjoer,A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3, Jilid 2. Jakarta: Medika
Auskulapius FKUI.
Willson.J.M. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 7. Jakarta: EGC.