Anda di halaman 1dari 24

KEAGENAN KAPAL

Definisi keagenan adalah hubungan berkekuatan secara hukum yang terjadi bilamana
dua pihak bersepakat membuat perjanjian, dimana salah satu pihak
dinamakan agen (Agent) setuju untuk mewakili pihak lainnya yang dinamakan pemilik
(Principal) dengan syarat bahwa pemilik tetap mempunyai hak untuk mengawasi
agennya mengenai kewenangan yang dipercayakan kepadanya.
A. Pengertian Agen Kapal
Apabila suatu kapal berlabuh di suatu pelabuhan maka kapal tersebut memerlukan
pelayanan dan mempunyai berbagai keperluan yang harus dipenuhi. Untuk memenuhi
berbagai kebutuhan tersebut perusahaan pelayaran yang tidak mempunyai cabang
disuatu pelabuhan akan menunjuk perusahaan pelayaran lain yang berada di
pelabuhan tersebut sebagai agen.
Secara garis besar ada 3 jenis agen yaitu : General Agent, Sub Agent atau Agen dan
Cabang Agen
1.

a.
b.
2.

3.

General Agent (Agen Umum)


Adalah suatu perusahaan pelayaran nasional yang ditunjuk oleh perusahaan pelayaran
asing untuk melayani kapal-kapal miliknya selama berlayar dan singgah di pelabuhan
di Indonesia
Contoh: - Maersk Sea Line menunjuk PT.Djakarta Lloyd
- Mocean Shipping menunjuk PT. Meratus Line, sebagai General Agent
Persyaratan sebagai General Agent :
Perusahaan Pelayaran Indonesia yang memiliki kapal berbendera Indonesia berukuran
minimal 5.000 GRT baik secara kumulatif.
Memiliki bukti Perjanjian Keagenan Umum (Agency Agreement) atau Surat Keagenan
Umum (Letter of Appointment)
Sub Agent
Adalah suatu perusahaan pelayaran yang ditunjuk oleh General Agent untuk melayani
kebutuhan kapal di suatu pelabuhan. Berfungsi sebagai wakil dari General Agent.
Contoh : PT. Djakarta Llloyd sebagai General Agent Maersk Sea Line menunjuk PT.
Meratus Line sebagai Sub Agent di Banjarmasin.
Cabang Agen
Adalah cabang dari General Agent di suatu pelabuhan tertentu.

Contoh : PT. Meratus Line yang telah ditunjuk sebagai General Agent oleh Mocean
Shipping memerintahkan cabang-cabangnya yang ada di Indonesia untuk melayani
keperluan kapal Mocean Shipping yang singgah di pelabuhan tersebut.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.
a.

b.

Istilah-istilah di Keagenan Kapal :


Booking Agent
Adalah perusahaan pelayaran atau forwarding yang ditunjuk untuk mengurusi muatan
kapal dengan sistem liner
Special Agent (Agen Khusus)
Adalah perusahaan pelayaran yang ditunjuk untuk melayani kapal dengan sistem
tramper pada saat Charter di suatu pelabuhan untuk kegiatan bongkar-muat.
Port Agent
Adalah perusahaan pelayaran yang ditunjuk untuk melakukan tugas-tugas di suatu
pelabuhan. Port Agent dapat menunjuk Sub Agent di pelabuhan lainnya untuk
mewakilinya. Port Agent tetap bertanggung jawab terhadap principalnya.
Protectual Agent
Adalah agen yang ditunjuk oleh pencharter yang tercantum dalam Charter Party untuk
mewakili kepentinganannya.
Husbandry Agent
Adalah agen yang ditunjuk oleh principal untuk mewakili diluar kepentingan B/M,
umpama hanya mengurus ABK, Repair, Supplier dll.
Boarding Agent
Adalah petugas dari keagenan yang selalu berhubungan dengan pihak kapal. Biasanya
Boarding Agent yang pertama naik ke kapal waktu kapal tiba dan terakhir
meninggalkan kapal ketika kapal akan berangkat. (Dinas Luar Operasi)
Cargo Handling Agent
Adalah Perusahaan Bongkar Muat (PBM) yang ditunjuk untuk melayani kegiatan
bongkar-muat di pelabuhan.
Istilah di PT. Meratus Line:
Meratus As Agent (MAA) adalah Meratus Line beserta cabang-cabangnya ditunjuk
sebagai Agen oleh perusahaan pelayaran yang tidak mempunyai cabangnya di suatu
pelabuhan tertentu.
Meratus As Principal (MAP) adalah Meratus Line sebagai pemilik kapal menunjuk
perusahaan pelayaran lain sebagai agen untuk melayani keperluan kapal di pelabuhan
dimana Meratus Line tidak ada cabang.

B. Tugas Keagenan Kapal


1.

Tugas General Agent


Secara garis besar ada 2 jenis :
Tugas Keagenan Perizinan
Mengurus semua ijin-ijin di Dirjen Perhubungan Laut Jakarta, dikantor adpel
dan PT. Pelindo sehubungan dengan penunjukan keagenan.

a.
-

b.

c.

d.

e.

Tugas Koordinasi yang meliputi :

Koordinasi Operasi dan Pemasaran


Memastikan waktu sandar, lama B/M, estimasi keberangkatan dan melaporkan saat
setelah sandar dan kegiatan B/M serta keberangkatan dengan jumlah muatannya.
Mencarikan muatan atau bila principal yang cari muatan maka Agen koordinasi
dengan Shipper untuk mengatur semua keperluan yang berhubungan dengan muatan.
Mengumumkan kedatangan kapal dan rencana berangkat dengan tujuan kemana saja,
serta melaporkan kondisi muatan tersebut kepada principal.
Koordinasi Keuangan
Mengumpulkan dan mencatat semua pengeluaran biaya dan tagihan kapal selama
berada di pelabuhan. Karena tagihan dari pelabuhan sering terlambat, maka bagian
Disbursement bertugas menyelesaikan tagihan-tagiahan yang belum selesai. Oleh
karena itu agen memerlukan Advance Money yang cukup, terutama untuk kapal-kapal
tramper sebab mungkin tidak singgah lagi.
Penunjukan Sub Agent atau Agen
Untuk pelaksanaan tugas tertentu atau di pelabuhan tertentu, General Agent tidak
melakukannya sendiri. General Agent akan memerintahkan cabangnya atau
perusahaan lain sebagai agennya.
Mengumpulkan disbursement pengeluaran kapal
Bagian disbursement mengumpulkan semua tagihan selam kapal di pelabuhan sampai
dengan berangkat beserta bukti-bukti notanya, harus berkoordinasi denagn operasi
dan keuangan.
Koordinasi lain yang berkaitan dengan muatan dan dokumentasi.

2.

Tugas Sub Agent atau Agen


Secara garis besar ada 2 jenis :
a. Pelayanan Kapal (Ships Husbanding) yang meliputi :
Pelayanan ABK, perbaikan atau pemeliharaan kapal, pemuatan kapal. (bunker, air,
spare part dll)
b. Operasi Keagenan (Cargo Operation) yang meliputi :
Clearance in-out, tambat, tunda, pandu tiba berangkat, pengawasan B/M, dokumen
muatan.
C. Organisasi Keagenan Kapal
1. Di PT. Meratus Line, tugas bagian keagenan kapal dibawah Agency GM di Head Office
baik MAA maupun MAP. Sedangkan pelaksanaa di cabang ditangani oleh Marine
Operation Coordinator dibawah Kepala Operasi yang bertanggung jawab kepada
Kepala Cabang setempat.
2. Bila ditugaskan oleh principal untuk mencari muatan maka dilaksanakan oleh bagian
Sales dan Customer Servicenya. Sedangkan urusan dokumen menjadi tugas bagian
Dokumentasi In Bound/Out Bound
3. Marine Operational bertugas antara lain meliputi :
a. Clearance in-out
b. Mencari tambatan dan proses sandar kapal sampai dengan keberangkatannya
c. Melayani permintaan kapal air, rangsum, BBM, perbaikan dan keperluan kapal yang
lain ke Rumah Sakit bila ada crew yang sakit.
d. Memberikan supervisi kepada PBM dan mengontrol pelaksanaan B/M
e. Membuat D.A. (Disbursement Account) dan laporan ke agency pusat dan principal.
f. PBM dapat ditunjuk oleh principal, cargo owner atau agen.
g. Bagian keuangan meneriama Advance dari principal, mengeluarkan biaya-biaya
selama di pelabuhan.
h. Memverifikasi atas nota disbursement dan mengirim ke principal.
i. Membayar kekurangan disbursement ke agen yang ditunjuk (MAP).
j. Bila agen ditugaskan untuk mencari muatan maka bagian keuangan melaksanakan
freight Collection dan mengirimkan ke principal.
D. Penghasilan Agen Pelayaran
1. Pendapatan Agen Pelayaran dari jasa yang diberikan kepada kapal-kapal yang telah
menunjuknya untuk melayani kegiatan kapal di pelabuhan agar akan mendapat call

2.
a.
b.
c.
3.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

1.
a.
b.
c.
d.
e.
2.

a.

fee dari setiap kapal yang singgah dan juga mendapat komisi dari muatan yang akan
dimuat ke kapal berupa persentase dari freight.
Komisi dari kapal :
Kapal-kapal keagenan (call fee dan komisi dari muatan).
Kapal-kapal milik sendiri.
Jasa order dari Perusahaan B/M (PBM) yang ditnjuk untuk B/M dari kapal
keagenan/milik.
Pendapatan usaha keagenan berupa :
Komisi Sub Agent.
EMKL.
Haulage / trucking.
Depot.
Transhipment.
Lain-lain.
E. Dokumen Perdagangan
Salah satu tugas keagenan kapal adalah berkaitan dengan pengawasan dokumen, baik
dokumen kapal maupun dokumen perdagangan.
Dokumen pelayaran yang umumnya digunakan adalah :
Bill of Lading (B.L) atau konosemen
Adalah dokumen pelayaran yang berfungsi sebagai :
Bukti bahwa barang telah dimuat di kapal.
Dokumen hak milik dari pemilik barang (Document of Title).
Kontrak angkutan (Contract of Affreightment).
Dokumen jual-beli (Transferable Document).
Bila hanya ditujukan kepada penerima maka B.L ini termasuk Non Negotiable,
sedangkan bila diperdagangkan B.L ini disebut Negotiable.
Sea Way Bills
Adalah pengganti Ocean B.L yang sekarang ini sudah dianggap tidak memadai lagi.
Way Bill tidak dapat diperdagangkan (Non Negotiable) dan dibuat untuk Consignee
yang disebut didalamnya. Consignee dapat mengambil barang dengan menunjukkan
Way Bill ini.
Keuntungan memakai Way Bill adalah :
Consignee dapat mengambil barangnya tanpa Way Bill, asal dapat menunjukkan
identitasnya. Memakai B.L tradisional tidak akan mungkin, hal ini dapat menimbulkan
komplikasi karena keterlambatan penerimaan barang.

b.
c.
3.
a.
b.
c.

4.
a.
b.
5.

6.

7.
a.
1.
2.
3.
4.

Dapat dilakukan dalam pengiriman antar kenalan, dimana tidak ada resiko financial.
Juga dapat dilakukan bila sudah ada saling kepercayaan dalam pengiriman dagangan.
Manifest
Cargo manifest merupakan dokumen yang menginformasikan tantang jumlah muatan
di kapal untuk setiap satu pelabuhan tujuan.
Freight manifest menerangkan tentang freight, surcharge dll.
Manifest disiapkan oleh agen / perwakilan pengangkut namun dapat juga dikerjakan
oleh freight forwarder bila harus berhubungan dengan Bea Cukai dan Pejabat
Pelabuhan.
Shipping Note
Merupakan dokumen yang dibuat oleh Shipper ditujukan kepada Carrier untuk
membooking muatan
Merupakan tanda komitmen Shipper untuk meninggalkan muatannya dan juga
digunakan untuk mempersiapkan B.L
Delivery Order (D.O)
Adalah dokumen yang dikeluarkan oleh pihak yang berkuasa menyimpan barang.
Didalam mendapatkan D.O., Consignee telah melunasi : freight, biaya-biaya
pelabuhan (THC, Storage, Dermaga, OPP / OPT)
Mates Receipt
Adalah dokumen tanda terima dari pengangkut untuk menyatakan bahwa barangnya
telah diterima di kapal dimana berfungsi untuk menukarB.L.
Disamping dokumen utama tersebut terdapat juga dokumen / formulir tambahan
dalam pengawasan operasional kapal sewaktu dikerjakan oleh stevedoring dan
dokumen-dokumen pergudangan.
Laporan B/M Kapal
Untuk Stevedoring
Formulir Pre Arrival Meeting (PAM) untuk melaporkan pelaksanaan dan kesimpulan
hasil meeting
Laporan evaluasi operasional per-kapal
Laporan B/M per-kapal
Laporan operasional kapal-kapal

5.
6.
7.
8.
9.
b.
1.
2.
3.

Statement of Facts (SOF)


Notice of Readyness (NOR)
Laporan Claim
Laporan Overcarried Cargo dan Shortage Cargo (bukan partai)
Tally Sheet B/M, Stowage Plan, Bay Plan.
Untuk Pergudangan
Formulir-formulir yang sudah ditetapkan oleh PT. Pelindo (PPKB, SPKBM, KUB dll)
CLL / CDL, EIR, Tally Sheet keluar/masuk barang, Surat Jalan
Statement of Damaged Cargo, List of Short / Over Landed Cargo

F. Hubungan Keagenan Kapal dengan Bea Cukai


Khusus untuk kapal-kapal yang datang dari atau berangkat keluar negeri, agen harus
mengurus Custom Clearance ke Bea Cukai yang memang bertugas mengawasi lalu
lintas barang export dan import yang berhubungan dengan beanya.
Pada kedatangan kapal, agen harus menyerahkan Inward manifest ( import manifest),
Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP), Provision List dan Data Personal
Effects dari crew kapal.
Pada keberangkatan kapal, agen juga harus mengurus Custom Clearance dengan
menyerahkan export manifest (Entry Outward Manifest).
Muatan import maupun export harus ditimbun di lini I yaitu kawasan pelabuhan
dibawah pengawasan Bea Cukai baik gudang maupun lapangan.
Sedangkan forwarding / EMKL mengurus dokumen import untuk ijin pengeluaran
barang dari pelabuhan dan dokumen export sebagai ijin dapat mengexport barang.
Bila ada muatan yang tidak dibongkar di pelabuhan itu karena untuk tujuan pelabuhan
lain yang berikutnya juga harus dilaporkan manifestnya untuk diendorse.
G. Prosedur Pemuatan dan Pembongkaran Muatan
Untuk kapal-kapal keagenan perlakuannya sama dengan prosedur melayani kapal milik
didalam pelaksanaan kegiatan B/M. Namun harus koordinasi dengan Principal /
Charterer serta mengikuti petunjuknya. Untuk keagenan kapal asing dan kapal-kapal
yang muat barang export / import mengikuti peraturan Bea Cukai.
1. Prosedur Bongkaran (Import)
Dokumen barang bongkaran / import : manifest, copy B.L., Discharging List, Bay
Plan / Stowage Plan.
Atas dasar dokumen tersebut, maka agen akan melakukan sebagai berikut:

a.
b.
c.
d.

e.
2.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

3.
a.

b.

Memberitahu kepada para consignee; ETA kapal, kapan mulai / selesai bongkar.
Tuntutan claim diajukan paling lambat 3 hari setelah selesai bongkar.
Melaporkan kepada Bea Cukai.
Consignee / EMKL mulai mengurus dokumen bongkaran terkait dan memproses D.O.
Consignee / EMKL menyelesaikan kewajiban terhadap pelayaran seperti : freight,
jaminan peti-kemas, doc. fee, THC dan biaya lainnya kalau ada. Kemudian D.O.
diterima dan mengurus kewajiban di Bea Cukai mendapatkan Surat Jalan dari Bea
Cukai.
Mengurus proses pengeluaran barang di PBM atau gudang.
Persiapan Barang Export
Shipper menyerahkan Shipping Instruction (S.I.) kepada agen.
S.I. memuat data sebagai berikut :
Nama shipper, consignee dan notify address.
Pelabuhan muat dan bongkar.
Merk dan no. serta barang sesuai packing list, jumlah muatan, colli, berat dan
volume.
Nama kapal yang akan mengangkut.
Pembayaran freight prepaid atau collect.
Jumlah original dan copy B.L. yang dikehendaki.
Copy Pemberitahuan Export Barang (PEB).
Atas data-data tersebut agen membuat draft B.L disampaikan ke Shipper, bila sudah
disetujui maka dibuat B.L asli.
Document For In / Out Clearance
Sebelum kapal tiba di pelabuhan, agen menyiapkan dokumen-dokumen sebagai
berikut :
1. PKKA (Pemberitahuan Keagenan Kapal Asing)
2. PPKB (Permohonan Pelayaran Kapal dan Barang)
3. RKSP (Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut)
4. Memorandum pemeriksaan dokumen kapal
5. Letter of Appointment dari owners / kapal
6. Master Cable
7. ISSC (International Ship Security Certificate) dari kapal
8. Ship Particulars dari owners / kapal
9. Crew List dari kapal
10. Manifest dan copy B.L.
Dokumen yang disiapkan pada saat kapal tiba di pelabuhan :

1. Crew List
2. Crew Personal Effect
3. Voyage Memo
4. Ammunition List atau Dangerous Cargo List
5. Store List dan Provision List
c. Dokumen yang disiapkan pada saat keberangkatan kapal :
1. Sailing Declaration dari karantina dan Quarantine Clearance
2. Cargo Manifest dan copy B.L.
3. Port Clearanace Out (SIB)
4. Immigration Clearance
5. Custom Clearance

1.

2.

a.

b.

H. Tata Cara Mendapatkan D.O.


Consignee atau EMKL yang ditunjuk untuk dapat mengeluarkan barangnya dari
pelabuhan harus mengurus D.O.. Dapat menukarkan B.L asli atau bila belum ada B.L.
asli maka harus menyerahkan jaminan.
Penukaran D.O. dengan B.L. asli.
Consignee / EMKL menyerahkan salah satu lembar B.L. asli untuk ditukar dengan D.O.
Bila lebih satu lembar B.L. asli maka yang lainnya tidak berlaku. Dalam prakteknya
sering terjadi bank atau agen meminta seluruh lembar asli agar diserahkan dengan
maksud demi keamanan terutama kalau terjadi perpindahan kepemilikan barang.
Penebusan D.O. tanpa B.L. asli.
Consignee / EMKL harus menyerahkan jaminan pribadi, jaminan perusahaan, jaminan
bank.
Jaminan Pribadi (dapat diterima untuk Recta B.L.).
Jaminan diberikan oleh pihak yang tercantum namanya sebagai penerima, yang harus
dibuktikan dengan bukti identitas diri (harus sesuai).
Jaminan Perusahaan.
Diberikan oleh pihak yang namanya tercantum sebagai penerima atau dalam to order
of Bank B.L. tercantum sebagai Notify Address Company Guarantee dapat diterima
hanya apabila perusahaan yang memberikan jaminan sudah diketahui dengan baik
bonafiditas dan kredibilitasnya.

c.

Jaminan Bank
Adalah jaminan oleh Bank yang namanya tercantum sebagai pihak yang akan
memberikan order penyerahan barang (to order of Bank)
Ada beberapa kemungkinan :
1. Bank memberikan jaminan kepada pelayaran untuk menyerahkan B.L. asli setelah
dokumen tersebut diterima oleh bank. Jaminan seperti ini dapat diterima untuk
barang Pemerintah dan jaminan diberikan oleh bank Pemerintah.
2. Bank memperkuat jaminan yang diberikan Consignee yang isinya menyatakan bahwa
Shipment bersangkutan tersebut benar di-import melalui bank tersebut dan bank
berjanji untuk menyerahkan B.L. asli setelah diterima oleh bank
3. Bank mengambil alih tanggung jawab consignee seperti dijanjikan consignee yaitu :
Bank akan memberikan ganti rugi seperti yang dijanjikan oleh consignee bila terjadi

kesalahan penyerahan barang. Besarnya ganti rugi disebutkan dalam Surat Jaminan
Bank juga berjanji untuk menyerahkan B.L asli setelah dokumen tersebut diterima

oleh bank
Yang harus diperhatikan dalam surat jaminan bank adalah tanggal berlakunya surat
jaminan tersebut. Klaim yang terjadi karena kesalahan penyerahan barang hanya
dapat diajukan selama jangka waktu surat jaminan tersebut masih berlaku.

I. Kekurangan dan Kerusakan Barang


Salah satu tugas agen adalah mengurus muatan kapal, termasuk bila terjadi
kekurangan atau kerusakan barang.
Tata cara mengurus kekurangan atau kerusakan barang :
1. Bukti Kekurangan Barang
Dikeluarkan oleh gudang bila pada waktu penyerahan terjadi kekurangan jumlah
barang bisa disebut Bukti Kekurangan Sementara yang ditanda tangani kedua belah
pihak. Kemudian dokumen tersebut diserahkan kepada agen untuk diganti dengan
Bukti Kekurangan (Notice of Shortage).
Dalam keterangan tersebut harus menyebutkan :
PADA WAKTU DISERAHKAN KEDAPATAN...... Karena bila tidak tahu persis jumlah
barang tersebut pada waktu pemuatan atau pengisisan container.
2. Bukti Kerusakan / Bukti Pendapat
Bila pada waktu penyerahan terjadi kerusakan maka diadakan pemeriksaan bersama
(Joint Survey) yang disaksikan oleh penerima, gudang dan pelayaran. Hasilnya
dituangkan dalam Joint Survey Report dan selanjutnya oleh agen dibuat Survey
Report, jangan lupa menyebutkan :

a.
b.
c.

1.
a.
b.
c.
2.
a.
b.
c.
d.
3.
a.
b.

4.
a.
b.

5.

Sebelum dibongkar, pada waktu dibongkar


Sebelum diserahkan, pada waktu diserahkan
Dan KEDAPATAN ..........
J. Klaim Barang
Shipper harus memberitahukan secara tertulis kepada agen bila terjadi kerusakan
atau kekurangan barang di pelabuhan bongkar pada waktu :
Sebelum atau pada saat barang dikeluarkan oleh penerima
Tiga hari setelah barang diambil, bila kerusakan tidak diketahui ketika dibongkar
Pemberitahuan / pernyataan tertulis tidak diperlukan bila sudah diadakan Joint
Survey yang dituangkan dalam Joint Survey Report
Pihak yang dapat mengajukan klaim adalah :
Consignee yang tercantum dalam B.L.
Shipper bila B.L. belum diendorse.
Pihak lain yang diberi wewenang untuk menjadi pemilik B.L. dengan cara diendorse.
Perusahaan asuransi yang menanggung barang, dimana shipper / consignee telah
memindahkan haknya (Subrogate) kepada perusahaan asuransi.
Prosedur pengajuan klaim
Sebaiknya dilakukan ditempat kejadian
Claimant melihat dan membicarakan dengan pengangkut / agen tentang besarnya
kerusakan atau kehilangan, sedapat mungkin ditempat kejadian
Jika belum mendapat kepuasan maka claimant dapat melaksanakan melalui jalur
hukum atau pengadilan atau menunjuk arbitrator yang disepakati kedua belah pihak.
Biasanya disebut didalam clausul di B.L.
Batas waktu pengajuan klaim :
Dalam waktu satu tahun setelah penyerahan barang dalam hal klaim kerusakan
Dalam waktu satu tahun dimana barang seharusnya diserahkan dalam hal klaim
kehilangan
Menurut HAGUE VISBY RULES waktu pengajuan klaim dapat diperpanjang bila kedua
belah pihak menyetujui
Dasar pegajuan klaim
Pengangkut bertanggung jawab untuk menyerahkan barang dalam jumlah dan kondisi
sama seperti pada waktu diterima. Jadi kerusakan dan kehilangan barang yang terjadi
sejak barang diterima sampai dengan barang diserahkan menjadi tanggung jawab
pengangkut, sedangkan pengangkut dapat membebankan kepada pihak terkait: kapal,
PBM

6.
a.
b.
c.
7.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
8.

a.

b.
c.
d.

Jenis klaim
Klaim yang dapat diajukan kepada pengangkut adalah :
Klaim kerusakan yang merupakan ganti rugi karena barang diserahkan dalam
keadaan rusak (Damaged Cargo)
Klaim kekurangan yang merupakan tuntutan ganti rugi atas tidak diserahkannya
sejumlah barang (Except / Short Delivery)
Hal-hal lain seperti kelambatan penyerahan barang tidak dapat dituntut kepada
pengangkut
Dokumen pendukung klaim
Pada waktu mengajukan surat permohonan klaim, maka claimant harus menyertakan
dokumen pendukung sebagai berikut :
Bukti kekurangan atau kerusakan
Copy B / L
Packing List
Invoice Pembelian Barang
Polis Asuransi
Surat Tuntutan yang menyebutkan jumlah nominal tuntutannya
Penelitian klaim.
Berdasarkan Surat Permohonan Klaim yang masuk, pengangkut mengambil langkahlangkah sebagai berikut :
Menyelidiki kebenaran adanya kekurangan / kerusakan barang berdasarkan berita
acara kejadian, surat jalan, tally sheet, D.O., bukti kerusakan / kekurangan, photo :
bay plan / stowage plan
Menyelidiki dimana terjadinya kerusakan / kehilangan barang, apakah terjadi selama
barang berada dalam penguasaan pengangkut ?
Diselidiki sejak barang mulai masuk gudang, stuffing luar atau stuffing dalam,
berapa lama ditimbun di gudang / lapangan
Sebelum muat dan selama proses muat
Dalam pelayaran, ombak besar, kebocoran kapal
Sebelum bongkar dan sepanjang proses bongkar
Ditempat penumpukan sebelum keluar sampai dengan proses penyerahan
Apakah kerusakan / kehilangan barang terjadi sebagai akibat dari kesalahan
pengangkutan atau pihak lain
Kejadian diluar kekuasaan pengangkut (Force Majeure) kesalahan pemilik barang,
kelemahan pengemasan (packing), kerusakan yang disebabkan oleh sifat barang itu
sendiri

9.

Force Majeure
Pengangkut dibebaskan dari tanggung jawab kerusakan / kehilangan barang jika
merupakan akibat dari kejadian diluar kontrol manusia (Force Majeure). Misalnya :
gempa bumi, bencana alam, peperangan, huru-hara, kebakaran, pemogokan, larangan
kerja, penyitaan oleh pemerintah dan kebijakan pemerintah
10. Nilai klaim
a. Besarnya kerugian yang diderita oleh pemilik barang sesuai harga barang yang
rusak / hilang. Harga barang adalah harga jual barang ditempat tujuan pada waktu
barang diserahkan
b. Berdasarkan maximum liability pengangkut sebagaimana diatur dalam KUHD atau
Konvensi Internasional
c. Berdasarkan saran dari Protection & Indemnity Club (P&I Club)
d. Berdasarkan pertimbangan komersil dalam rangka memelihara pelanggan (ex gratia
payment)
11. Tanggung jawab maximum (Maximum Liability)
Adalah jumlah terbesar yang harus ditanggung oleh pengangkut bila terjadi
kerusakan / kekurangan barang yang diatur dalam konvensi internasional sebagai
berikut :
a. HAGUE RULES 1924
100
per-Kg
b. HAGUE VISBY RULES 1968
2,00 SDR
per-Kg
666,67 SDR per-Kg
c. HAMBURG RULES 1928
2,5 SDR
per-Kg
835 SDR
per-Kg
d. COGSA 1936 (USA)
US $ 500
per-Kg
e. Sesuai perjanjian dalam clausul di B.L.
SDR (Special Drawing Right) adalah satuan uang yang mengacu pada harga emas
secara berkala setiap 1 atau 3 bulan. IMF akkan mengeluarkan SDR. Saat ini (Juli
2007), 1 SDR = US $ 1,44 . Satuan tukar ini disebut Units of Account s
12. Penolakan klaim oleh pengangkut
Carrier dapat menolak klaim dari Shipper maupun Consignee dengan alas an sebagai
berikut :
a. Unseaworthy Packing
b. Unclean Bill of Lading
c. Clean B.L. karena ditutup oleh Letter of Indemnity
d. Expiration of Claim Period
e. Natural Loss, terutama barang-barang yang dapat susut sendiri

f.

Voice Proper (Inherent Vice), yaitu barang-barang yang dapat rusak sendiri. Seperti :
buah, kentang, telur dan lainnya yang cepat/mudah membusuk
g. Unpacked Cargo
h. Leakage
i. Pilferage atau karena pencurian
j. Fragile Cargo atau barang yang mudah pecah
Bila barangnya diasuransikan, klaim harus diajukan dalam waktu 21 hari setelah
pembongkaran. Bila lewat maka Polis menjadi kadaluwarsa.
Dokumen pendukung proses barang yang diasuransikan :
1. Polis Asli Asuransi atau cover note asli kalu Polis belum keluar
2. Bukti Kekurangan (Short Delivery List) atau Except Bewijs (EB) dan Bukti Kerusakan
(Damaged Cargo List) bila ada kerusakan
13. Penyelesaian klaim
a. Bila ada perbedaan pendapat antara pemilik barang dengan pengangkut, maka
diadakan negosiasi untuk mendapat Compromised Settlement
b. Untuk mencegah waktu klaim yang max. 1 tahun, Claimant mengajukan
perpanjangan waktu. Biasanya pengangkut memberi 1 sampai dengan 3 bulan.
c. Bila sudah ada kesepakatan maka claimant menandatanganiClaim Release yang
isinya merupakan penyelesaian akhir.
d. Bila timbul klaim yang sama dari pihak lain, akan menjadi tanggung jawab
claimant
e. Setelah Claim Release dikeluarkan lalu ditanda tangani claimant kemudian
dikembalikan ke pengangkut, klaim dapat dibayar

KEGIATAN AGEN KAPAL , BAGIAN USAHA


PELAYARAN
Oleh M. Simaremare
Sesuai dengan ketentuan pelayaran yang berlaku secara universal, perusahaaan pelayaran yang
mengoperasikan kapal yang dimiliki atau dicharter mengunjungi suatu pelabuhan di negara lain, harus
menunjuk perusahaan untuk mengurus semua kebutuhan kapal selama berada di pelabuhan tersebut.
Kegiatan mengurus keperluan kapal tersebut, dinamakan keagenan umum. Sedangkan perusahaan yang
bertindak melakukan kegiatan tersebut dinamakan Agen Umum.
Prinsip semacam itu, berlaku juga di Indonesia. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) No. 82 tahun 1999 dan
Keputusan Menteri Perhubungan No. KM.33 tahun 2001, perusahaan pelayaran asing yang
mengoperasikan kapalnya ke pelabuhan Indonesia, wajib menunjuk perusahaan pelayaran nasional
sebagai agen umum.
Agen umum kapal asing mempunyai tugas mengurus kepentingan kapal asing. Tugas tersebut mencakup
kegiatan yaitu mendapatkan jasa-jasa kepelabuhanan (labuh, tambat, tunda dan pandu) yang diperlukan
kapal, menunjuk perusahaan bongkar muat, melakukan pencarian dan pembukuan muatan, dan memungut
uang jasa angkutan (freight) atas perintah pemilik kapal.
Selain itu, juga mencakup menerbitkan konosemen untuk dan atas nama pemilik kapal, menyelesaikan
tagihan dan klaim, menyelesaikan pengisian bahan bakar minyak dan air tawar kebutuhan kapal,
memberikan informasi yang diperlukan pemilik kapal di luar negeri, melaporkan kedatangan dan
keberangkatan kapal, dan sebagainya.
Sebagai imbalan bagi kegiatan agen yang dilakukan, perusahaan yang bertindak sebagai agen umum
mendapat jasa keagenan (agency fee). Besarnya jasa keagenan ditentukan berdasarkan kesepakatan
antara pemilik kapal dan perusahaan yang ditunjuk menjadi agen umum.
Dilakukan Pelayaran
Menurut ketentuan angkutan laut nasional, perusahaan yang dapat bertindak sebagai agen umum kapal
adalah perusahaan pelayaran nasional. Perusahaan yang bergerak di luar usaha pelayaran, tidak
dibolehkan menjadi agen umum kapal.
Pemberian kegiatan agen umum kapal hanya pada perusahaan pelayaran, tidak terlepas dari kedudukan
dan posisi negara Indonesia sebagai negara kepulauan.
Di negara kepulauan, perusahaan pelayaran mempunyai peranan yang cukup penting, terutama dalam
penyediaan armada yang diperlukan untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau lain.
Mengingat sifat usaha pelayaran yang tergolong beresiko tinggi, maka perusahaan pelayaran memerlukan
dukungan bagi pengembangan armada, di antaranya melalui pemberian hak eksklusif mengageni kapalkapal asing.
Dengan pendapatan dari jasa keagenan, perusahaan pelayaran diharapkan mempunyai kesempatan
memperkuat modal perusahaan yang diperlukan untuk pengembangan usaha, terutama pengembangan
armada.
Memang, karena praktek-praktek kegiatan keagenan umum kapal yang kurang professional selama ini,

pemberian hak eksklusif keagenan kepada perusahaan pelayaran, belum banyak memberikan manfaat
bagi pengembangan armada. Tapi, dengan adanya penataan yang mengarah pada profesionalisme,
pemberian hak tersebut, akan bermanfaat dalam upaya memberdayakan perusahaan pelayaran nasional,
sehingga perlu diteruskan sebagai suatu kebijakan di bidang angkutan laut.
Harus Memiliki Kapal
Lebih spesifik lagi, perusahaan pelayaran yang boleh menjadi agen umum kapal asing, dibatasi pada
perusahaan pelayaran yang memiliki kapal sekurang-kurangnya berukuran Gross Tons (GT) 5.000.
Perusahaan pelayaran yang tidak memiliki kapal dengan ukuran seperti itu, tidak dibolehkan menjadi agen
umum kapal.
Ketentuan harus memiliki kapal dengan ukuran GT. 5.000, tentu tidak lepas dari keinginan berbagai pihak
menjadikan keagenan umum kapal sebagai salah satu instrumen dalam peningkatan dan pengembangan
armada.
Dengan kebijakan harus memiliki kapal, perusahaan pelayaran yang ingin tetap memperoleh pendapatan
dari jasa keagenan kapal, dituntut terus berupaya mengembangkan armada, sehingga mampu meraih
pangsa muatan yang lebih besar di bidang angkutan laut, baik angkutan dalam ne-geri maupun angkutan
luar negeri.
Upaya memiliki dan mengembangkan armada, memang tidak mudah. Tetapi, berbagai cara yang mungkin,
harus tetap dicoba. Satu di antaranya adalah dengan mengajak pemilik kapal asing yang diageni
mendirikan perusahaan pelayaran patungan.
Pemilik kapal di luar negeri yang bersedia menanamkan modal di Indonesia untuk mendirikan perusahaan
pelayaran, akan memperoleh keuntungan, seperti kegiatan agen umum kapal-kapal milik dan kapal relasi
yang beroperasi di Indonesia, dapat ditangani perusahaan pelayaran patungan tersebut.
Bagian Usaha Pelayaran
Pada kurun waktu 1988-2001, cukup banyak perusahaan pelayaran yang memusatkan kegiatannya pada
pemberian jasa keagenan, terutama karena perusahaan pelayaran tersebut tidak memiliki kapal. Ini
mengakibatkan, kegiatan pokok perusahaan tersebut di bidang pelayaran menjadi terbengkalai.
Pemusatan kegiatan perusahaan pelayaran pada pemberian jasa keagenan, jelas mengakibatkan tidak
bertambahnya jumlah dan kapasitas armada. Dan ironisnya lagi, dengan terpusatnya kegiatan pada
keagenan umum kapal, perusahaan pelayaran nasional, terjerumus pada persaingan tarip yang tidak
sehat.
Dalam upaya mendapat relasi, perusahaan pelayaran nasional yang tidak memiliki kapal, tidak segansegan menurunkan tarip jasa keagenan sampai tingkat yang tidak wajar menurut kebiasaan yang berlaku
secara internasional.

Keadaan semacam itulah yang ingin diakhiri dengan menerapkan persyaratan yang lebih berat terhadap
kegiatan agen kapal. Dengan mempersyaratkan kepemilikan kapal sebesar GT. 5.000, perusahaan
pelayaran yang dapat melakukan kegiatan agen umum kapal, diharapkan dapat menjalankan kegiatan
bisnis keagenan umum kapal secara professional sesuai dengan standar internasional
Di samping itu, ketentuan yang mensyaratkan kepemilikan kapal ini, juga diperlukan untuk
mempertahankan prinsip bahwa kegiatan agen umum kapal merupakan bagian yang tidak terpisah dari
usaha pelayaran.
Tetap bertahannya prinsip semacam itu, maka kegiatan agen umum kapal, tetap menjadi bisnis perusahaan
pelayaran yang berguna menguatkan permodalan perusahaan itu. Pemisahan kegiatan ini dari usaha
pelayaran, meskipun dimungkinkan, dapat mempengaruhi sendi ketahanan perusahaan pelayaran nasional
sebagai infrastruktur perekonomian nasional.
Sejalan dengan itu, dispensasi yang masih membolehkan perusahaan pelayaran yang tidak memiliki kapal
melakukan kegiatan keagenan umum, harus diakhiri tepat pada waktunya. Dengan kata lain, dalam kurun

waktu dua tahun sejak tanggal 5 Oktober 2001, semua perusahaan pelayaran yang tidak memiliki kapal,
tidak lagi diperkenankan melakukan kegiatan agen umum kapal. Dengan penerapan ketentuan ini, mudahmudahan perusahaan pelayaraan nasional dapat berkembang dan menjadi tuan di negeri sendiri.

Bisnis Keagenan Kapal Boleh Bukan


SIUPAL
JAKARTA - Menteri Perhubungan Ignasius Jonan menandatangani ketentuan
tentang Penyelenggaraan dan Pegusahaan Keagenan Kapal No.11 ahun 2016.
Aturan tersebut diundangkan dan mulai berlaku pada 18 Januari 2016. Berikut
adalah pasal-pasal krusial dari Ketentuan tersebut.
Pasal 2 menyebutkan kegiatan keagenan kapal merupakan pelayanan jasa yang
dilakukan untuk mewakili perusahaan angkutan laut asing dan/atau perusahaan
angkutan laut nasional dalam rangka mengurus kepentingan kapal perusahaan
angkutan laut asing dan/atau kapal perusahaan angkutan laut nasional selama
berada di Indonesia.
Pasal 4 menyebutkan kegiatan keagenan kapal dilakukan oleh perusahaan
nasional keagenan kapal atau perusahaan angkutan laut nasional, dalam hal ini
adalah pemegang Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut (SIUPAL).
Sedangkan pasal 5 menyebutkan perusahaan keagenan kapal merupakan
badan hukum yang didirikan khusus untuk kegiatan keagenan kapal dan memiliki
izin usaha untuk mengurus kepentingan perusahaan angkutan angkutan laut
asing dan/atau kapal perusahaan angkutan laut nasional selama berada di
Indonesia.
Lalu siapa yang mengeluarkan izin usaha keagenan kapal? Pasal 9 ayat 1
menyebutkan bahwa perusahaan nasional keagenan kapal wajib memiliki izin

usaha yang diberikan oleh Direktur Jenderal, dalam hal ini Direktur Jenderal
Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.
Untuk mendapatkan izin usaha, pasal 9 juga menyatakan bahwa perusahaan
keagenan kapal harus memiliki modal dasar minimal Rp6 miliar dan modal
disetor minimal Rp1,5 miliar.
Lalu, darimana pendapatan bisnis keagenan kapal? Pasal 11 menyatakan bahwa
perusahaan keagenan kapal berhak mendapatkan pembayaran (agency fee) dari
pemilik kapal sesuai dengan kesepakatan. (hry/hry)

Penerbitan Izin Usaha Keagenan


Kapal Bakal Terkena Pajak
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan
akan mengutip Rp1 juta sebagai pendapatan negara bukan pajak
(PNBP) sesuai aturan yang berlaku dalam penerbitan dokumen surat
izin usaha perusahaan keagenan kapal (SIUPKK).
Dalam penerbitan sertifikat ataupun dokumen SIUPKK tersebut juga
menggunakan dokumen khusus hasil cetakan Perum Peruri guna
menghindari terjadinya praktik hadirnya surat ijin palsu pada jenis
kegiatan usaha tersebut.
Kasubdit Angkutan Laut Luar Negeri Ditjen Perhubungan Laut
Kemenhub Wigyo mengatakan berdasarkan pengalaman selama ini,

banyak terjadi praktik pemalsuan surat izin usaha perusahaan


angkutan laut (SIUPAL) yang diterbitkan oleh Kemenhub.
"Disinyalir dari sekitar 3.000-an dokumen SIIUPAL saat ini, ada 1.000
dokumen tersebut yang diduga palsu. Jadi nantinya dengan blanko
dari Perum Peruri dan data SIUPKK kita input di Direktorat
Perhubungan Laut, maka akan memudahkan untuk pengecekan jika
terjadi praktik pemalsuan dokumen perizinan," ujarnya pada workshop
Peraturan Menteri Perhubungan No. 11/ 2016 tentang
Penyelenggaraan dan Pengusahaan Keagenan Kapal, Selasa
(15/3/2016).
Workshop itu juga diikuti perusahaan keagenan kapal asing di
Indonesia anggota Indonesia Shiping Agency Association (ISAA)
perwakilan Jawa Timur, Jawa Tengah, Dumai, Palembang, Sumatra
Barat, Jambi, Sulawesi Selatan & Barat, Nusa Tenggara Timur,
Balikpapan sertastakeholder terkait lainya.
Wigyo menjelaskan, nantinya setiap blanko SIUPKK cetakan Perum
Peruri yang digunakan dalam perizinan usaha keagenan kapal
tersebut akan dikenakan tarif Rp1 juta per dokumen sebagai
penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
Ketua Umum DPP ISAA Juswandi K mengatakan pihaknya telah siap
mengoleksi pengurusan maupun persyaratan dalam dokumen
SIUPKK dari perusahaan anggota ISAA tersebut.

Dia juga mengajak perusahaan keagenan kapal anggota ISAA untuk


tetap siap bersaing di bidang jasa keagenan kapal ini, dengan
perusahaan pelayaran nasional yang memiliki izin melekat untuk jasa
keagenan kapal.

PERAN DAN TUGAS


PERUSAHAAN
KEAGENAN KAPAL
June 29, 2014Uncategorized

1. Tugas General Agent


Secara garis besar, tugas general agent ada dua jenis, Yakni tugas
pengurusan perizinan dan tugas koordinasi. Adapun tugas koordinasi
meliputi:

a. Koordinasi operasi dan pemasaran


>>> Tugas untuk memastikan bahwa pembongkaran / pemuatan kapal
dikerjakan dengan baik oleh perusahaan bongkar muat. Selain itu, tugas
koordinasi juga termasuk juga memastikan bahwa ketika kapal masuk ke
tempat sandar palabuhan, pelaksanaan pandu, dan kapal-kapal tunda
dilakukan dengan baik. Sedangkan yang di maksud dengan koordinasi

pemasaran adalah fungsi general agent untuk mencarikan muatan,


mengumumkan kedatangan kapal, hubungan dengan armada pemasaran
(market forces) dan sebagainya.

b. Koordinasi keuangan
>>> merupakan tugas general agent untuk mengumpulkan dan mencata
segala pengeluaran kapal selama berada di pelabuhan. Karena tagihan
dari pelabuhan sering terlambat, maka bagian disbursement bertugas
menyelesaikan tagihan-tagihan yang belum diselesaikan. Dengan demikian
agen memerlukan advance money yang cukup besar, terutama untuk
kapal-kapal tramper, karena kemungknan tidak akan singgah lagi di
pelabuhan tempat agen berada.

c. Penunjukan sub agen/agen


>>> Seperti telah disebutkan sebelumnya, untuk pelaksanaan tugas
tertentu atau di pelabuhan tertentu, general agen tidak melakukannya
sendiri. General agen akan memerintahkan cabangnya atau perusahaan
lain sebagai agennya.

d. Mengumpulkan disburment pengeluaran kapal


>>> Bagian disbursement mengumpulkan segala tagihan selama kapal di
pelabuhan dan sesudah pemberangkatannya. Tugas ini biasany diawasi
oleh bagian operasi dan keuangan.

e. Koordinasi lain yang berkaitan dengan muatan dan dokumentasi


2. Tugas sub agent atau agen

Secara garis besar, tugas sub-agen atau agen ada dua yaitu pelayanan
kapal (ships husbanding) dan operasi keagenan (cargo operation). Tugas
tugas yang termasuk operasi keagenan adalah pelayanan ABK, perbaikan
atau pemeliharaan kapal, penyediaan onderdil atau suku cadang kapal,
dan sebagainya. Sedangkan tugas yang berkaitan dengan operasi
keagenan adalah pengurusan bongkar dan muat, stowage lashing dan
dokumen muatan.

Pemerintah Terbitkan Aturan Terkait Bisnis


Agen Kapal
Kementerian Perhubungan telah menerbitkan Peraturan Menteri
Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 11 Tahun 2016 tentang
Penyelenggaraan dan Pengusahaan Keagenan Kapal.
Kepala Bagian Organisasi Dan Hubungan Masyarakat Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perubungan Bambang
Sutrisna dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (9/2/2016)
mengatakan, Permen tersebut telah diundangkan pada 28 Januari
2016 oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.
"Dengan diterbitkannya peraturan ini, maka pengusahaan keagenan
kapal, selain dapat dilaksanakan oleh perusahaan angkutan laut
nasional yang memiliki Surat Izin Usaha Perusahaan Angkutan Laut
(SIUPAL), juga dapat dilakukan oleh perusahaan nasional keagenan
kapal," tuturnya.
Bambang menjelaskan sesuai dengan peraturan yang berlaku, apabila
suatu kapal asing berlabuh di Indonesia maka perusahaan pelayaran
yang mengoperasikan kapal tersebut harus menunjuk perusahaan lain
untuk mengurus semua kebutuhan kapal selama berada di pelabuhan

dimaksud.
Dia menambahkan kegiatan usaha untuk mengurus kepentingan kapal
perusahaan angkutan laut asing dan/atau kapal perusahaan angkutan
laut nasional selama berada di Indonesia tersebut, dinamakan usaha
keagenan kapal.
Sebelumnya, lanjut dia, kegiatan keagenan kapal hanya dapat
dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional pemegang SIUPAL
dan harus memiliki kapal sebagai salah satu instrumen dalam
peningkatan dan pengembangan armada.
Namun saat ini, Bambang menuturkan terkait dengan persyaratan
perizinan usaha, dalam PM 11 Tahun 2016 disebutkan bahwa
perusahaan nasional keagenan kapal wajib memiliki izin usaha yang
diberikan oleh Direktur Jenderal jika telah memenuhi persyaratan
yang telah ditetapkan.
"Persyaratan lain, perusahaan harus memiliki modal usaha berupa
moda dasar paling sedikit Rp6 miliar dan modal disetor paling sedikit
Rp1,5 miliar," ucapnya.
Selanjutnya, Bambang mengatakan, Dirjen Perhubungan Laut
melakukan penelitian atas persyaratan permohonan izin usaha
keagenan kapal dalam jangka waktu paling lama tujuh hari kerja sejak
diterima permohonan secara lengkap.
"Jika berdasarkan hasil penelitian persyaratan telah terpenuhi, Surat
Izin Usaha Perusahaan Keagenan Kapal (SIUPKK) akan diterbitkan
dan berlaku selama perusahaan nasional keagenan kapal masih
menjalankan kegiatan usahannya dan dievaluasi setiap dua tahun
sekali oleh Dirjen Perhubungan Laut," tukasnya.
Dia menegaskan nasional keagenan kapal bertanggung jawab
terhadap kapal asing dan kapal berbendera nasional yang diageninya

selama berada di Indonesia serta berhak menerima pembayaran dari


pemilik kapal sesuai dengan kesepakatan.
"Jika perusahaan keagenan kapal dimaksud melanggar ketentuan
yang telah disepakati maka dapat dikenai sanksi administratif yang
berupa peringatan tertulis, pembekuan izin, atau pencabutan izin oleh
Direktur Jenderal Perhubungan Laut," tegaasnya. (Antara)