Anda di halaman 1dari 12

DI SUSUN OLEH

KELOMPOK 2 :
DWI CIPTANINGRUM
ARINI FITRIANTI
AHMAD SUBHAN

JURUSAN PENDIDIDKAN BAHASA INGGRIS


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2009/2010

KATA PENGANTAR

Bissmilahirrohmanirrahim

Alhamdulillah

segala

puji

syukur

hanya

untuk

Allah

dan

telah

mencurahkan Rahmat serta hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas


dalam menyusun makalah ini yang berjudul "Shalat".
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada nabi Muhammad SAW. Dan
keluarganya juga para sahabatnya serta para pengikut nya yang serta sampai
akhir zaman.
Makalah ini adalah makalah yang dapat memotifasi anda untuk memperdalam
tentang "shalat". Kami mencari isi yang tercantum dalam makalah ini dari sumbersumber yang terkemuka dan dari buku-buku yang membahas tentang hal yang
bersangkutan.
Dalam menyusun makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan
dalam isi, bentuk maupun susunan kalimatnya akan tetapi berkat bimbingan dan
dorangan serta do'a dari berbagai pihak maka kesulitan-kesulitan yang kami
hadapi, Alhamdulillah dapat teratasi. Namun kami tetap menerima dan
mengaharapkan kritik serta saran dari pembaca yang menuju ke arah kebaikan
dan kesernpurnaan dalam makalah ini.
Semoga apa yang kami usahakan ini kiranya dapat bermanfaat bagi kami
khususnya dan para pembaca umumnya, Amin.

Jakarta, 15 September 2009.

Penulis
BAB II

SHALAT

A. PENGERTIAN
a. ARTI SHALAT
Menurut bahasa, shalat berarti do'a sedang menurut syara' berarti menghadap
jiwa dan raga kepada Allah; karena taqwa hamba kepada tuhannya, mengagungkan
kebesarannya dengan khusyu' dah ikhlas dalam bentuk perkataan dan perbuatan yang
dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Menurut cara-cara dan syarat-syarat
yang telah ditentukan.

Artinya:
"Dan dirikanlah shalat, keluarkanlah zakat, dan tunduklah/ruku'lah bersama-sama
orang-orang yang ruku ".(Q.S. Al-Baqarah :43).



Artinya:
"Dan dirikanlah shalat oleh karena itu shalat mencegah kamu dari kejahatan dan dari
munkar (perkerjaan buruk-dan keji)." (QS.Al-ankabut : 45).
Shalat adalah ibadah yang paling utarna untuk membuktikan keislaman
seseorang. Islam memandang shalat sebagai tiang agama dan inti sari islam terletak
pada shalat, sebab dalarn shalat tersimpul seluruh rukun agama. Oleh karena itu amalan
shalat ini perlu sekali ditanamkan dalam jiwa anak-anak oleh setiap orang tua. Harus
melatih anaknya untuk mengerjakan shalat dan memerintahkannya kala mereka berusia 7
tahun. Anak harus diperintah umtuk mengerjakan shalat dengan keras bila mereka telah
mencapai usia 10 tahun.

() .
Artinya : Dari amri bin Syuaib dari ayahnya, dari neneknya. Nabi bersabda
perintahlah anak-anakmu mengerjakan shalat di waktu usia mereka meningkat 7 tahun
dan (dimana perlu) pukullah mereka meningkat 1 tahun. (H.R. Abu Dawud).
b.

SYARAT - SYARAT WAJIB MENGERJAKAN SHALAT


Tentang syarat- syarat wajib mengerjakan itu ada 6 ( enam ) perkara, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

c.

Islam.
Suci dari hadas besar dan kecil.
Sampai dakwah Islam kepadanya.
Berakal.
Ada pendengaran / tidak tuli

SYARAT SYARAT SAHNYA SHALAT


Syarat-syarat sah shalat ada 5, yaitu:
1. suci badannya dari dua hadats; yaitu hadats keeil dan hadats besar.
2. bersih badan, pakaian dan tempatnya dari najis
3. menutup aurat; bagi laki-laki antara pusat dan lutut dan bagi wanita seluruh
badannya kecuali muka dan telapak tangan.
4. sudah masuk shalat.
5. menghadap kiblat.

d.

RUKUN SHALAT.
Tentang rukun shalat ini dirumuskan menjadi 13 perkara:
1. Niat, artinya menyegaja di dalam hati untuk melakukan shalat.
Sabda Nabi Muhammad s.a.w.:

2. Berdiri, bagi orang yang kuasa ;(tidak dapat berdiri boleh dengan duduk
tidak dapat duduk boleh berbaring).
3. Takbiratul iliram, membaca "Allah Akbar", Artinya Allah maha Besar.
4. Membaca Surat Al-fatihah.
5. Rukun' dan thuma'ninah artinya membungkuk sehingga punggung menjadi
sama datar dengan leher dan kedua belaah tangannya memegang lutut.

6. I'tidal dengan thuma'ninah.


7. Sujud dua kali dengan thuma'ninah.
8. Duduk diantara dua sujud dengan thuma'ninah.
9. Duduk untuk tasyahud pertama.
10. Membaca tasyahud akhir.
11. Membaca shalawat atas Nabi .
12. Mengucap salam yang pertama.
13. Tertib.
Keterangan:
Thuma'ninah yakni berhenti sejenak sekedar ucapan subhanallah.

e.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN SHALAT


Adapun hal-hal yang membatalkan shalat, ialah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

f.

Berhadats kecil maupun besar.


Terkena najis yang tidak bisa dimaafkan.
Berkata-kata dengan sengaja selain bacaan shalat.
Sengaja meninggalkan sesuatu rukun atau syarat shalat tanpa `udzur.
Tertawa berbahak-bahak.
Bergerak tiga kali berturut-turut.
Mendahului Imam sampai dua rukun.
Murtad, yakni keluar dari Islam.

PERBUATAN PERBUATAN YANG MAKRUH DIDALAM SHALAT.


Perbuatan-perbuatan yang makruh didalam shalat ialah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Menahan hadats.
Melihat kekanan / kekiri.
Meludah kemuka, ke kanan atau ke kiri.
Memalingkan muka.
Memejamkan mata.
Menutup mata rapat-rapat.
Melihat ke arah langit.
Terangkat kepalanya atau menurunkannya dengan sangat di waktu ruku
Menahan telapak tangannya dilengan bajunya ketika sedang takbiratul'ihram,

ruku atau sujud.


10. Bertolak pinggang ; yakni meletakkan kedua tangannya di atas pinggang.
11. Shalat di kuburan atau biara / gereja.
g. SHALAT BERJAMAAH
Shalat berjama'ah ialah shalat yang dilakukan oleh orang banyak bersama-sama,

sekurang-kurangnya dua orang, seorang diantaranya mereka yang lebih fasih


bacaannya dan lebih mengerti tentang hukum Islam dipilih menjadi imam.
Shalat berjama'ah hukumnya sunnah mu'akkad kecuali shalat jama'ah
pada shalat jum'at. Padahal 27 derajat (kali) dibandingkan dengan shalat sendirian.
Rasululah saw. Bersabda:

:

.
()
h. SHALAT BAGI YANG BEPERGIAN
Bagi rang yang bepergian (musafir) dibolehkan mengqashar atau menjama'
shalat-shalat fardhu.

i.

SHALAT QASHAR
Shalat qashar ialah shalat yang diperpendek (diringkaskan). Seorang musafir

diperbolehkan mengqashar shalat fardhu yang empat raka'at menjadi dua raka'at.
Adapun shalat maghrib (3 raka'at) dan shubuh (2 raka'at) tetap sebagaimana biasa.




Artinya:
"Apabila kamu mengadakan perjalanan diatas bumi (didarat maupun dilaut) maka
tidak ada halangan bagimu untuk memendekkan shalat " (Q.S An-Nisa : 101).
Syarat-syarat sahnya shalat qashar:
1. Jarak perjalanan sekurang-kurangnya dua hari perjalanan kaki, atau dua marhalal
(yaitu sama dengan 16 farsah). Keterangan ini berdasarkan hadist Nabi saw.


( ) .
Artinya:
"Pernah Ibnu Umar dan Ibn Abbas r.a. mengqashar dan berbuka dalam
perjalanan sejauh empat burud yaitu enam batas farsakh".
2. Bepergian bukan untuk maksiat.
3. Shalat yang boleh diqashar hanya shalat yang empat raka'at saja, dan bukan
shalat qadla.
4. Niat mengqashar pada waktu takbiratul 'ihram.
5. Tidak ma'mun kepada orang shalat yang bukan musafir.

j. SHALAT BAGI ORANG YANG SAKIT


Orang yang sedang sakit wajib pula mengerjakan shalat, selama akal dan
ingatanya masih radar.
1. Kalau tidak dapat berdiri, boleh mengerjakanya sambil duduk.
2. Jika tidak dapat duduk, boleh mengerjakanya dengan cara; dua belah kakinya
diarahkan ke arah kiblat, kepalanya ditinggikan dengan alas bantal dan
mukanya diarahkan ke kiblat.
3. Jika duduk seperti biasa dan berbaring juga tidak dapat, maka boleh
berbaring dengan seluruh anggota badan dihadapkan ke arah kiblat.
4. Jika tidak dapat mengerjakan dengan cara berbaring seperti tersebut diatas,
maka cukup dengan isyarat, bak dengan kepada maupun dengan mata.

j.

SUJUD SAHWI
Sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan karena kelupaan dalam

shalat. Cara mengerjakannya sama dengan sujud biasa, artinya dengan takbir
diantara dua sujud dan dikerjakan sesudah tahiyat akhir sebelum salam.


Artinya:
"Maha Suci Allah yang tidak tidur dan tidak lupa".

B. MACAM-MACAM SHALAT
a. Shalat fardhu
Shalat fardlu meliputi shalat Subuh, Dzuhur, Ashar, Magh-rib, dan Isya.
b. Shalat Sunnah
1) Arti Shalat Sunnah
Shalat-shalat sunah/nawafil ialah shalat-shalat sunnah yang diluar
dari pada shalat-shalat yang difardhukan. Shalat itu dikerjakan
oleh Nabi Muhammad untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk
mengharapkan tambahan pahala.
2) Shalat Sunnah Rawatib.
Shalat sunnah rawatib ialah shalat sunnah yang dikerjakan sebelum dan
sesudah shalat fardhu. Seluruh dari shalat rawatib ini 22 raka'at.
2 raka'at sebelum shalat Subuh (sesudah shalat shubuh tidak ada
sunnat ba'diyah); 2 raka'at sebelum shalat Zhuhur; 2 atau 4 raka'at

sesudah shalat zhuhur.


2 raka'at 4 raka'at sebelum shalat `ashar, (sesudah shalat `ashar

tidak ada surmah ba'diyah).


2 raka'at sesudah shalat mahgrib.
2 raka'at sebelum shalat isya.
2 raka'at sesudah shalat isya.

Shalat-shalat

tersebut,

yang

dikerjakan

sebelum

shalat

fardhu

dinamakan Qabliyah dan sesudahnya disebut "Badiyah".


3) Shalat Tahyatul Masjid
Shalat sunnah yang dikerjakan oleh jama'ah yang sedang masuk ke
masjid, baik pada hari Jum'at maupun lainya, diwaktu malam atau siang.
Sabda Rasulullah saw.

Artinya
"Jika salah seorang diantaramu masuk di masjid, maka hendaklah ia
shalat dua raka'at sebelum duduk ".
4) Shalat Sunnah Taubat
Shalat yang disunnahkan, shalat ini dilaksanakan setelah seseorang

melakukan dosa atau merasa berbuat dosa, lalu bertaubat kepada Allah
swt.
Doanya :
"Saya memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung, saya
mengaku bahwa tiada tuhan yang hidup terus selalu jaga. Saya
memohon taubat kepadanya, selaku taubatnya seorang hamba yang
banyak dosa, yang tidak mempunyai daya upaya untuk bertaubat
madlarat atau manfa'at, untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.
5) Shalat Sunnah Awwabin
Sesudah sunnah ba'da maghrib (ba'diyyah), disunnahkan pula
bagi siapa saja yang mengerjakan sunnah dua sampai dengan enam
raka'at, yang dinamakan shalat sunnah awwabin.
6) Shalat Sunnah Tarawih
Shalat malam yang dikerjakan pada bulan ramadhan. Shalat ini
hukumnya sunnah muakkad, boleh dikerjakan sendiri-sendiri atau
berjama'ah. Shalat tarawih ini dilakukan sesudah shalat isya sampai
waktu fajar. Bilangan raka'atnya ada 8 raka'at sampai 20 raka'at.
7) Shalat Sunnah Witir.
Shalat witir hukumnya sunnah, yakni shalat sunnah yang sangat
diutamakan. Dalam hadits dinyatakan yang artinya:
"Dari Ali .r.a berkata : "Shalat witir itu bukan wajib sebagaimana
shalat lima waktu, tetapi Rasulullah saw. telah mencontohkannya dan
bersabda: "sesungguhnya Allah itu witir (Esa) dan suka kepada witir,
maka shalat witirlah wahai ahli Qur'an". (H.R. Abu Daud dan AtTirmidzi).
Waktunya sesudah shalat isya sampai terbit fajar, biasanya shalat witir
itu dirangkaikan dengan shalat tarawih. Bilangan raka'at nya 1, raka'at 3,
5, 7, 9, dan 11.
8) Shalat Id atau Shalat Hari Raya

Shalat Hari Raya ada dua, yaitu hari Raya Fitrah dan hari Raya Adha.
Waktu shalat id dimulai dari terbit matahari sampai tergelincirnya.

Hukumnya sunnah muakkad bagi laki-laki dan perempuan mukim atau


musafir. Boleh dikerjakan sendirian dan sebaiknya dilakukan berjama'ah.
9) Shalat Istiqarah

Shalat istiqarah ialah shalat sunnah dua raka'at untuk memohon


kepada Allah ketentuan pilihan yang lebih baik diantara dua hal
atau lebih yang belum dapat ditentukan baik buruknya. Shalat
istiqarah lebih utama dikerjakan seperti shalat tahajud yakni dimalam
hari. Hukumnya sunnah muakkad bagi yang sedang menghajatkan
petunjuk itu.
Sabda Nabi Muhammad saw yang artinya : "Tidak akan kecewa
bagi orang yang melaksanakan shalat istiqarah, dan tidak akan
menyesal bagi orang yang suka bermusyawarah dan tidak akan
kekurangan bagi orang yang suka berhemat". (H.R.Thabrani).
10) Shalat Hajat.
Shalat hajat ialah shalat sunnah yang dikerjakan karena mempunyai
hajat

agar

diperkenankan hajatnya

oleh Allah. Shalat hajat

dikerjakan dua raka'at, kemudian berdo'a memohon sesuatu yang


menjadi hajatnya. Shalat hajat dilaksanakan dua raka'at sampai dengan
12 raka'at dengan tiap-tiap dua raka'at satu salam.



Artinya:
"Hai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah
dengan sabar dan shalat, karena sesungguhnya Allah beserta oringorang yang sabar". (Q.S. Al-Baqarah. 153).
11) Shalat Tasbih.
Shalat sunnah tasbih ialah shalat yang sebagaimana diajarkan oleh
Rasulullah saw. Kepada pamannya. Sayidina Abbas Ibnu Muthalib.
Shalat tasbih ini dianjurkan mengamalkan, kalau dapat tiap-tiap
malam kalau tidak dapat tiap malam maka sekali seminggu, kalau,
juga tak sanggup sekali seminggu, dapat juga dilakukan sebulan
sekali atau setahun sekali dan kalau tak dapat setahun, setidak-tidaknya

sekali seumur hidup.


12) Shalat Tahajjud
Shalat Tahjjud ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu malam,
sedikitnya dua raka'at dan sebanyak-banyaknya tidak terbatas. Waktunya
sesudah shalat isya sampai terbit fajar. Shalat dapat disebut tahajjud,
dengan syarat apabila dilakukan sesudah bangun dari tidur malam,
sekalipun tidur itu hanya sebentar. Hadits Rasulullah saw.
Hadist Rasulullah saw :
"Perintah Allah turun ke langit dunia diwaktu hingga sepertiga yang
akhir dari waktu malam, lalu berseru: adakah orang-orang yang
memohon (berdo'a, pasti akan Ku kabulkan, adakah orang yang
meminta, pasti akan Ku beri dan adakah yang menharap/memohon
ampunan, pasti akan Ku ampuni baginya. Sampai tiba waktu subuh.
13) Shalat Dhuha
Shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu matahari sedang naik,
hukumnya sunnah. Permulaan shalat Dhuha ini kira-kira matahari
sedang naik setinggi kurang lebih 7 hasta dan berakhir diwaktu
matahari lingsir. Sekurang-kurangnya shalat ini dua raka'at, sebanyakbanyaknya 8 raka'at.
Dari Zaid bin Arqam r.a. berkata :
Abu Hurairah na berkata : " Kekasihku Rasulullah saw berpesan
pada saya supaya berpuasa tiga hari tiap-tiap bulan dan shalat dhuha
dua raka'at, dan shalat witir sebelum tidur". (H.R. Bukhari dan Muslim).

C. TATA CARA PELAKSANAAN SHALAT.


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Berdiri
Takbiratul ihram
Membaca surat iftitah
Membaca surat al-Fatihah
Membaca surat pendek
Rukuk
I'tidal
Sujud
Duduk antara dua Sujud

j.
k.
l.
m.

Sujud
Duduk tasyahud awal (raka'at kedua )
Duduk tasyahud akhir (raka'at terakhir )
Salam

D. HIKMAH SHALAT
a.

Meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah.

b.

Memberikan ketenangan dalam diri (lahir dan bathin).

c.

Mendapatkan kecintaan kepada Allah.

d.

Mencegah perbuatan keji dan mungkar.

e.

Mendapatkan ridha Allah Swt.

Hukum Meninggalkan Shalat


Bila yang meninggalkan shalat tersebut tidak meyakini kewajiban shalat maka
ulama sepakat bahwa orang tersebut kafir menurut nash/dalil yang ada dan ijma.
Namun bila meninggalkannya karena malas maka ada perbedaan pendapat dalam hal
ini.
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata, Orang yang meninggalkan shalat
karena mengingkari kewajibannya maka orang itu kafir menurut kesepakatan kaum
muslimin. Ia keluar dari Islam, kecuali jika orang itu baru masuk Islam dan tidak
berkumpul dengan kaum muslimin sesaatpun yang memungkinkan sampainya berita
tentang wajibnya shalat padanya dalam masa tersebut. Bila ia meninggalkan shalat
karena malas-malasan sementara ia meyakini akan kewajibannya sebagaimana keadaan
kebanyakan manusia, mereka tidak mengerjakan shalat karena malas padahal tahu
hukum shalat tersebut maka ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.(Al-Minhaj,
2/257)
Wallahu taala alam bish-shawab.