P. 1
Sinopsis NoveL Siti Nurbaya

Sinopsis NoveL Siti Nurbaya

|Views: 14,884|Likes:
Dipublikasikan oleh Elsa Maniarti

More info:

Categories:Types, Brochures
Published by: Elsa Maniarti on May 19, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/29/2013

pdf

text

original

Sinopsis NoveL Siti Nurbaya

Posted on 3 December 2008 by cys77. Categories: BI.

Dengan maksud yang licik Datuk Maringgih meminjamkan uangnya pada Baginda Sulaiman. Berkat pinjangan uang dari Datuk Maringgih tersebut, usaha dagang Baginda maju pesat. Namun sayang, rupanya Datuk Maringgih menjadi iri hati melihat kemajuan dagang yang dicapai oleh Baginda Sulaiman ini, maka dengan seluruh orang suruhanya, yaitu pendekar lima, pendekar empat serta pendekar tiga, serta yanglainnya Datuk Maringgih memerintahkan untuk membakar toko Baginda Sulaiman. Dan toko Bagindapun habis terbakar. Akibatnya Baginda Sulaiman jauh bangrut dan sekligus dengan hutang yang menunpuk pada Datuk Maringgih. Di tengah-tengah musibah tersebut, Datuk Maringgih menagih hutangnya kepadanya. Jlas, tentu saja Baginda Sulaiman tidak mempu membayarnya. Hal ini memang sengaja oelh datuk Maringgih, sebab dia sudah tahu pasti bahwa Baginda Sulaiman tidak mampu membayarnya. Dengan alasan hutang tersebut, Datuk Maringgih langsung menawarkan bagaimana kalau Siti Nurbaya, Putri Baginda Sulaiman dijadikan istri Datuk Maringgih. Kalau tawaran Datuk Maringgih ini diterima, maka hutangnya lunas. Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya Siti Nurbaya diserahkan untuk menadi istri Datuk Maringgih. Waktu itu Samsulbahri, kekasih Siti Nurbaya sedang menuntut ilmu di Jakarta. Namun begitu, Samsul Bahri tahu bahwa kekasihnya diperistri oleh orang lain. Hal tersebut dia ketahui dari surat yang dikirim oleh Siti Nurbaya kepadanya. Dia sangat terpukul oleh kenyataan itu. Cintanya yang menggebu-gebu padanya kandas sudah. Dan begitupun dengan Siti Nurbaya sendiri, hatinya pun begitu hancur pula, kasihnya yang begitu dalam pada Samsulbahri kandas sudah akibat petaka yangmenimpa keluarganya. Tidak lama kemudian, ayah Siti Nurbaya jatuh sakit karena derita yangmenimpanya begitu beruntun. Dan, kebetulan itu Samsulbahri sedang berlibur, sehingga dia punya waktu untuk mengunjungi keluarganya di Padang. Di samping kepulangnya kekampung pada waktu liburan karena kangennya pada keluarga, namun sebenarnya dia juga sekaligus hendak mengunjungi Siti Nurbaya yang sangat dia rindukan. Ketika Samsulbahri dan Siti Nurbaya sedang duduk di bawah pohon, tiba-tiba muncul Datuk Maringgih di depan mereka. Datuk Maringgih begitu marah melihat mereka berdua yang sedang duduk bersenda gurau itu, sehingga Datuk maringgih berusaha menganiaya Siti Nurbaya. Samsulbahri tidak mau membiarkan kekasihnya dianiaya, maka Datuk Maringgih dia pukul hingga terjerembab jatuh ketanah. Karena saking kaget dan takut, Siti Nurbaya berteriak-teriak keras hingga terdengar oleh ayahnya di rumah yang sedang sakit keras. Mendengar teriakan anak yang sangat dicinatianya itu, dia berusaha bangun, namun karena dia tidak kuat, ayah Siti Nurbaya kemudian jatuh terjerembab di lantai. Dan rupanya itu juga nyawa Baginda Sulaiman langsung melayang.

Karena kejadian itu, Siti Nurbaya oleh datuk Maringgih diusir, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya dan adat istiadat. Siti Nurbaya kembali ke kampunyanya danm tinggal bersama bibinya. Sementara Samsulbahri yang ada di Jakarta hatinya hancur dan penuh dendam kepada Datuk Maringgih yang telah merebut kekasihnya. Siti Nurbaya menyusul kekasihnya ke Jakarta, naumun di tengah perjalanan dia hampir meninggal dunia, ia terjatuh kelaut karena ada seseorang yang mendorongnya. Tetapi Siti Nurbaya diselamatkan oleh seseorang yang telah memegang bajunya hingga dia tidak jadi jatuh ke laut. Rupanya, walaupun dia selamat dari marabahaya tersebut, tetapi marabahaya sberikutnye menunggunya di daratan. Setibanya di Jakarta, Siti Nurbaya ditangkap polisi, karena surat telegram Datuk Maringgih yang memfitnah Siti Nurbaya bahwa dia ke Jakarta telah membawa lari emasnya atau hartanya. Samsulbahri berusaha keras meolong kekasihnya itu agar pihak pemerintah mengadili Siti Nirbaya di Jakarta saja, bukan di Padang seperti permintaan Datuk Maringgih. Namun usahanya sia-sia, pengadilan tetap akan dilaksanakan di Padang. Namun karena tidak terbukti Siti Nurbaya bersalah akhirnya dia bebas. Beberapa waktu kemudian. Samsulbahri yang sudah naik pangkat menjadi letnan dikirim oleh pemerintah ke Padang untuk membrantas para pengacau yang ada di daerah padang. Para pengacau itu rupanya salah satunya adalah Datuk Maringgih, maka terjadilah pertempuran sengit antara orang-orang Letnan Mas (gelar Samsulbahri) dengan orang-orang Datuk Maringgih. Letnan Mas berduel dengan Datuk Maringgih. Datuk Maringgih dihujani peluru oleh Lentan Mas, namun sebelum itu datuk Maringgih telah sempat melukai lentan Mas dengan pedangnya. Datuk Maringgih meninggal ditempat itu juga, sedangkan letan mas dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit, sebelum dia meninggal dunia, dia minta agar dipertemukan dengan ayahnya untuk minta maaf atas segala kesalahannya. Ayah Samsulbahri juga sangat menyesal telah mengata-ngatai dia tempo dulu, yaitu ketika kejadian Samsulbahri memukul Datuk Maringgih dan mengacau keluarga orang yang sangat melanggar adat istiadat dan memalukan itu. Setelah berhasil betemu dengan ayahnya, Samsulbahripun meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal dia minta kepada orangtuanya agar nanti di kuburkan di Gunung Padang dekat kekasihnya Siti Nurbaya. Perminataan itu dikabulkan oleh ayahnya, dia dikuburkan di Gunung Padang dekat dengan kuburan kekasihnya Siti Nurbaya. Dan di situlah kedua kekasih ini bertemu terakhir dan bersama untuk selama-lamanya. Dengan maksud yang licik Datuk Maringgih meminjamkan uangnya pada Baginda Sulaiman. Berkat pinjangan uang dari Datuk Maringgih tersebut, usaha dagang Baginda maju pesat. Namun sayang, rupanya Datuk Maringgih menjadi iri hati melihat kemajuan dagang yang dicapai oleh Baginda Sulaiman ini, maka dengan seluruh orang suruhanya, yaitu pendekar lima, pendekar empat serta pendekar tiga, serta yanglainnya Datuk Maringgih memerintahkan untuk membakar toko Baginda Sulaiman. Dan toko Bagindapun habis terbakar. Akibatnya Baginda Sulaiman jauh bangrut dan sekligus dengan hutang yang menunpuk pada Datuk Maringgih. Di tengah-tengah musibah tersebut, Datuk Maringgih menagih hutangnya kepadanya. Jlas, tentu saja Baginda Sulaiman tidak mempu membayarnya. Hal ini memang sengaja oelh datuk Maringgih, sebab dia sudah tahu pasti bahwa Baginda Sulaiman tidak mampu membayarnya. Dengan alasan hutang tersebut, Datuk Maringgih langsung menawarkan bagaimana kalau Siti Nurbaya, Putri Baginda Sulaiman dijadikan istri Datuk Maringgih. Kalau tawaran Datuk Maringgih ini diterima, maka hutangnya lunas. Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya Siti Nurbaya diserahkan untuk menadi istri Datuk Maringgih.

Waktu itu Samsulbahri, kekasih Siti Nurbaya sedang menuntut ilmu di Jakarta. Namun begitu, Samsul Bahri tahu bahwa kekasihnya diperistri oleh orang lain. Hal tersebut dia ketahui dari surat yang dikirim oleh Siti Nurbaya kepadanya. Dia sangat terpukul oleh kenyataan itu. Cintanya yang menggebu-gebu padanya kandas sudah. Dan begitupun dengan Siti Nurbaya sendiri, hatinya pun begitu hancur pula, kasihnya yang begitu dalam pada Samsulbahri kandas sudah akibat petaka yangmenimpa keluarganya. Tidak lama kemudian, ayah Siti Nurbaya jatuh sakit karena derita yangmenimpanya begitu beruntun. Dan, kebetulan itu Samsulbahri sedang berlibur, sehingga dia punya waktu untuk mengunjungi keluarganya di Padang. Di samping kepulangnya kekampung pada waktu liburan karena kangennya pada keluarga, namun sebenarnya dia juga sekaligus hendak mengunjungi Siti Nurbaya yang sangat dia rindukan. Ketika Samsulbahri dan Siti Nurbaya sedang duduk di bawah pohon, tiba-tiba muncul Datuk Maringgih di depan mereka. Datuk Maringgih begitu marah melihat mereka berdua yang sedang duduk bersenda gurau itu, sehingga Datuk maringgih berusaha menganiaya Siti Nurbaya. Samsulbahri tidak mau membiarkan kekasihnya dianiaya, maka Datuk Maringgih dia pukul hingga terjerembab jatuh ketanah. Karena saking kaget dan takut, Siti Nurbaya berteriak-teriak keras hingga terdengar oleh ayahnya di rumah yang sedang sakit keras. Mendengar teriakan anak yang sangat dicinatianya itu, dia berusaha bangun, namun karena dia tidak kuat, ayah Siti Nurbaya kemudian jatuh terjerembab di lantai. Dan rupanya itu juga nyawa Baginda Sulaiman langsung melayang. Karena kejadian itu, Siti Nurbaya oleh datuk Maringgih diusir, karena dianggap telah mencoreng nama baik keluarganya dan adat istiadat. Siti Nurbaya kembali ke kampunyanya danm tinggal bersama bibinya. Sementara Samsulbahri yang ada di Jakarta hatinya hancur dan penuh dendam kepada Datuk Maringgih yang telah merebut kekasihnya. Siti Nurbaya menyusul kekasihnya ke Jakarta, naumun di tengah perjalanan dia hampir meninggal dunia, ia terjatuh kelaut karena ada seseorang yang mendorongnya. Tetapi Siti Nurbaya diselamatkan oleh seseorang yang telah memegang bajunya hingga dia tidak jadi jatuh ke laut. Rupanya, walaupun dia selamat dari marabahaya tersebut, tetapi marabahaya sberikutnye menunggunya di daratan. Setibanya di Jakarta, Siti Nurbaya ditangkap polisi, karena surat telegram Datuk Maringgih yang memfitnah Siti Nurbaya bahwa dia ke Jakarta telah membawa lari emasnya atau hartanya. Samsulbahri berusaha keras meolong kekasihnya itu agar pihak pemerintah mengadili Siti Nirbaya di Jakarta saja, bukan di Padang seperti permintaan Datuk Maringgih. Namun usahanya sia-sia, pengadilan tetap akan dilaksanakan di Padang. Namun karena tidak terbukti Siti Nurbaya bersalah akhirnya dia bebas. Beberapa waktu kemudian. Samsulbahri yang sudah naik pangkat menjadi letnan dikirim oleh pemerintah ke Padang untuk membrantas para pengacau yang ada di daerah padang. Para pengacau itu rupanya salah satunya adalah Datuk Maringgih, maka terjadilah pertempuran sengit antara orang-orang Letnan Mas (gelar Samsulbahri) dengan orang-orang Datuk Maringgih. Letnan Mas berduel dengan Datuk Maringgih. Datuk Maringgih dihujani peluru oleh Lentan Mas, namun sebelum itu datuk Maringgih telah sempat melukai lentan Mas dengan pedangnya. Datuk Maringgih meninggal ditempat itu juga, sedangkan letan mas dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit, sebelum dia meninggal dunia, dia minta agar dipertemukan dengan ayahnya untuk minta maaf atas segala kesalahannya. Ayah Samsulbahri juga sangat menyesal telah mengata-ngatai dia tempo dulu, yaitu ketika kejadian Samsulbahri memukul Datuk Maringgih dan mengacau keluarga orang yang sangat melanggar adat istiadat dan memalukan

itu. Setelah berhasil betemu dengan ayahnya, Samsulbahripun meninggal dunia. Namun, sebelum meninggal dia minta kepada orangtuanya agar nanti di kuburkan di Gunung Padang dekat kekasihnya Siti Nurbaya. Perminataan itu dikabulkan oleh ayahnya, dia dikuburkan di Gunung Padang dekat dengan kuburan kekasihnya Siti Nurbaya. Dan di situlah kedua kekasih ini bertemu terakhir dan bersama untuk selama-lamanya.

Sinopsis Novel Iran: Kiss the Lovely Face of God
27 Oktober 2008 pada 10:31 am (Review) Tags: Add new tag, novel

Belakangan ini, saya lagi kesemsem novel Iran. Awalnya sih kurang menikmati karena banyak istilah sastra yang rada susah. Tapi, lama-lama jadi asyik juga. Apalagi kalau dicermati, karya sastra memang universal, di manapun mengundang daya pikat tersendiri bagi pembacanya. Terakhir yang saya baca, karya Mustafa Mastur yang judulnya Kiss the Lovely Face of God, itu kalau terjemahan harfiahnya dari farsi, tapi saya lebih suka menerjemahkan bebas menjadi Raihlah kelembutan cinta Tuhan. Novel setebel 113 hal ini, berhasil menggondol penghargaan “Kalam Zarin”, salah satu ajang sastra bergengsi di Iran dan sampai saat ini sudah 23 kali cetak ulang. Novel ini bertutur tentang pergulatan hidup Yunes, seorang mahasiswa pasca sarjana jurusan sosiologi yang tengah terjerat tugas akhir tentang motivasi bunuh diri yang dilakukan seorang fisikawan senior. Setiap hari ia berburu data mulai dari melacak keterangan dari keluarga, teman, para mahasiwanya di berbagai kota sampai membongkar lagi berkas di pengadilan dan dokter pribadinya. Bahkan, ia membuat pengumuman di koran segala. Tapi, semuanya hanya menuai jalan buntu. Tidak ada perkembangan berarti untuk mengakhiri desertasinya. Yunes merasa di persimpangan, tapi untuk kembali lagi ke star awal rasanya juga tidak mungkin. Yang membuat ia bertambah menciut, karena calon mertuanya mensyaratkan desertasi itu menjadi tiket untuk melamar putrinya. Puncak karir, ketenaran dan lebih dari itu kebimbangan akan Tuhan yang mendera hidupnya juga bergantung pada kesimpulan risetnya. Akhirnya, ia tertatih-tatih menyisir kembali data yang tercecer. Melacak dua mahasiwi yang cuti dan pindah kota. Atas persetujuan keluarga korban, ia juga memprint berbagai catatan harian korban dari komputer. Sedikit demi sedikit mulai terlihat benang merah.

Ternyata di akahir hidupnya, si doktor itu sedang meramu sebuah formula matematika terapan. Dia berhipotesa bahwa berbagai fenomena alam ini bisa didekati secara matematis. Angka-angka dapat mengefektifkan kerja manusia. Tapi, ia sendiri terbentur kenyataan yang betolak belakang dengan temuannya. Ia tersandung cinta dengan salah seorang mahasiswi. Siapa dapat mengukur cinta dalam angka-angka. Iapun tenggelam dalam frustasi, mengurung diri di kamar dan membuat puisi-puisi mistis. Meskipun belum final, titik terang itu bisa sedikit membuat Yunes bernafas. Ia berharap tidak lama lagi akan memboyong calon istri dan mengakhiri perburuan. Tapi, sayangnya kenyataan itu belum membuat Yunes mengakhiri persoalan paling dasar dalam hidupnya, meyakini keberadaan Tuhan. Sebenarnya, kegelisahan itu sudah lama mengaduk-aduk batin dan menjelajah pikirannya. Tak jarang juga ia hempaskan gelisah itu pada Ali Reza, seorang veteran perang. Bersama Ali, kehausan spiritualnya sedikit terobati meski tak seluruhnya terpuaskan. Pertanyaan “nyeleneh” seringkali mampir dan menjadi menu hangat mereka. Ali Reza punya caranya tersendiri untuk menata manis jawabannya. Obrolan ini juga, pernah diriuhkan oleh dialog mengesankan antara seorang sopir shalih dengan perempuan PSK. Selain Ali, tokoh lain yang turut menyelusup dalam perhelatan batin Yunes adalah Sayeh, calon istrinya. Sayeh yang seorang penganut taat agama kecewa menghadapi sikap Yunes. Kekecewaan itu akhirnya membuncah di saat Yunes hampir menyelesaikan risetnya. Suatu sore, Maksumah berkata: Kenapa kamu masih meragukan Tuhan…ingatkah pada mimpimu…suatu hari kau berada di tengah sahara lalu sebuah suara menyapa: “Apa yang sedang kau cari?” “Aku mencari Tuhan” jawabmu. Suara itu kembali bergema: “Tuhan tak akan kau jumpai di sini” Tuhan ada di tengah kaum papa, Tuhan ada di antara jerit wanita yang melahirkan, Tuhan ada di malam bahagia pasangan pengantin, ada di tengah kepolosan anak, Tuhan ada dalam pikiran seorang filosof yang ingin membuktikan keberadaannya…tapi tak sanggup….Tuhan ada…………..(Dan sederet kalimat lain yang sangat panjang, rasanya tak mungkin saya tulis semua) Di akhir cerita digambarkan Yunes sedang duduk di sebuah taman memandangi bocah kecil yang bersedih lantaran tak bisa menaikan layangannya. Raut duka dan air mata si kecil menelisik ke sudut hati Yunes, menggerakan kakinya untuk mendekat dan melipur laranya. Tidak lama, mereka sudah sedemikian akrab, derai tawapun mengalir. Layang-layang mulai mengakasa, dengan susah payah akhirnya si kecil bisa mengendalikan. Yunes berpamit, si

kecil berteriak kegirangan sambil berseru “Layang-layangku sampai di langit, sampai pada Tuhan” Suara itu membuat Yunes terhenti menatap angkasa biru, ke arah layang-layang, keharibaan Tuhan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->