Anda di halaman 1dari 8

ASI EKSLUSIF

Pengertian ASI Eksklusif


ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja tanpa makanan tambahan
cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan tanpa bantuan
bahan makanan padat seperti pisang, papaya, nasi yang dilembutkan, bubur susu,
biscuit, bubur nasi, tim dan lain sebagainya (Roesli, 2009).
Pemberian ASI secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu setidaknya
selama 6 bulan, dan setelah 6 bulan bayi mulai diperkenalkan dengan makanan
padatkan. Sedangkan ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau bahkan
lebih dari 2 tahun (Roesli, 2009).
Untuk mencapai ASI eksklusif, WHO dan UNICEF merekomendasikan metode
tiga langkah. Yang pertama adalah menyusui segera setelah melahirkan. Yang kedua
adalah tidak memberikan makanan tambahan apapun pada bayi dan yang ketiga,
menyusui sesering dan sebanyak yang diinginkan bayi. Dengan tiga langkah tersebut,
diharapkan tujuan menyusui secara eksklusif sapat tercapai (Depkes 2009 dalam
Utami, 2012).
Manfaat ASI
Ada berbagai manfaat yang dapat diperoleh dari pemberian ASI antara lain:
a. Manfaat ASI bagi Bayi
Menurut Suryoprayogo dalam Utami (2012), manfaat terpenting ASI bagi
bayi antara lain:
1) Bayi akan memperoleh nutrisi terbaik.
2) Daya tahan tubuh bayi lebih baik.
3) ASI baik untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi.
4) Bayi akan menjadi lebih cerdas
5) Meningkatkan jalinan kasih sayang antara bayi dengan ibu.
b. Manfaat ASI bagi Ibu
Keuntungan bagi ibu dengan memberikan ASI pada bayi antara lain:
1) Menghentikan perdarahan pasca persalinan.
2) Mengurangi terjadinya anemia.
3) Ibu akan cepat langsing kembali.
4) Mengurangi kemungkinan menderita kanker.
5) Lebih ekonomis dan praktis (Roesli, 2009).
c. Manfaat ASI bagi Keluarga

Prasetyono dalam Utami (2012) menyebutkan beberapa hal yang menjadi


keuntungan bagi keluarga yaitu:
1) Menyusui menciptakan suasanan hangat dan harmonis.
2) Kedekatan bayi dan ibu yang terus-menerus akan menjadi dasar yang kuat.
3) Membangun hubungan psikososial yang kuat dalam keluarga.
4) Hemat dan mengurangi biaya pengobatan karena bayi jarang sakit.
5) Keluarga menjadi bahagia karena ibu dan bayi sehat.
d. Manfaat ASI bagi Negara
Pemberian ASI akan dapat menghemat pengeluaran negara untuk
pemberian susu formula, perlengkapan menyusui serta biaya menyiapkan susu.
Menyusui juga dapat menurunkan mortilitas dan morbiditas bayi sehingga
mengurangi subsidi rumaha sakit untuk perawatan ibu dan anak, sehingga
terbentuk generasi penerus bangsa yang tangguh dan berkualitas untuk
membangun negara (Roesli, 2009).
e. Manfaat ASI bagi Lingkungan
ASI akan mengurangi bertambahnya sampah dan polusi udara. Dengan
hanya memberi ASI manusia tidak memerlukan kaleng susu, karton dan
pembungkus, serta botol plastik dan dot karet. (Roesli, 2009).
Ibu Menyusui
Menyusui adalah proses pemberian susu kepada bayi atau anak kecil dengan air
susu ibu (ASI) dari payudara ibu. Bayi menggunakan refleks menghisap untuk
mendapatkan dan menelan susu (Budiati, 2009).

Gambar 1: Ibu Menyusui


Pendidikan yang diberikan pada ibu menyusui (IDAI, 2005)
Hal-hal yang perlu dijelaskan kepada ibu menyusui :

1. Makan makanan yang seimbang dan pencapaian berat badan sebelum


kehamilan.
a. Kilokalori
Kenaikan kebutuhan kkal dapat dipenuhi dengan menggunakan
tambahan susu dan sedikit meningkatkan makanan dalam bentuk daging dan
pengganti daging, buah-buahan dan sayuran, dan biji-bijian atau roti dan
sereal yang sudah diperkaya.
Penting untuk mempertahankan program olahraga setelah melahirkan
bayi untuk meningkatkan pengontrolan berat badan, membantu penurunan
berat badan, membantu penurunan berat badan dan kembali ke bentuk dan
gambaran sebelum hamil, dan memberi perasaan sehat dan segar pada bayi.
b. Protein
Seperti pada kehamilan, sebagaian besar protein ekstra yang
dibutuhkan dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi 4 gelas susu atau produk
yang serupa per hari. Pada wanita yang tidak hamil dan tidak menyusui
hanya perlu minum susu 2 kali sehari.
a. Kalsium
Pada individu yang tidak minum susu atau produk dari susu, harus
mengikuti anjuran yang diberikan untuk hamil.
b. Cairan
Air, susu, teh, kopi yang tidak mengandung kafein, minuman ringan,
jus buah, dan es dapat digunakan untuk memenuhi kebutuha cairan
2. Pemberian ASI eksklusif
a. Anjurkan pemberian ASI dini dan eksklusif (6 bulan)
b. Jelaskan kepada ibu dan keluarga manfaat pemberian ASI dini dan eksklusif,
antara lain:
1). ASI mengandung zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayi.
2). ASI mudah dicerna dan digunakan secara efisien oleh tubuh bayi
3). ASI mencegah bayi terhadap berbagai penyakit infeksi.

4). Pemberian ASI dapat digunakan sebagai cara Keluarga Berencana


(Amenore laktasi)
5). Menyusui mendekatkan hubungan ibu dan bayi (bonding)
c. Anjurkan ibu untuk menysui tanpa jadwal siang dan malam (paling kurang 8
kali dalam 24 jam) setiap kali bayi menginginkan.
d. Bila bayi melepaskan isapannya dari satu payudara berikan payudara
lainnya.
e. Nasihati ibu agar tidak memaksakan bayi untuk menyusu bila bayi belum
mau, tidak melepaskan isapan bayi sebelum bayi selesai menyusu dan tidak
memberikan minuman lain selain ASI, atau menggunakan dot atau kempeng.
f. Anjurkan ibu hanya memberi ASI untuk 4-6 bulan pertama
g. Posisi dan perlekatan menyusu yang benar.
h. Susuilah bayi apabila sudah siap menyusu. Tanda bayi telah siap menyusu
antara lain mulut membuka lebar ( rooting refleks), melihat-melihat
sekeliling, dan bergerak.
i. Tunjukkan kepada ibu cara memegang bayi yang benar sewaktu menyusui :
1). Topang seluruh tubuh bayi, jagan hanya kepala dan leher.
2). Kepala dan tubuh bayi lurus sehingga bayi menghadap payudara ibu
dan hidung bayi dekat puting susu ibu.
j. Tunjukkan kepada ibu cara melekatkan bayi. Katakan kepada ibu agar:
1). Menyentuhkan puting pada bibir bayi
2). Tunggu sampai mulut bayi terbuka lebar
3). Mulut bayi digerakkan ke arah puting ibu sehingga bibir bawah bayi
terletak jauh dibelakang puting pada aerola.
k. Nilai perlekatan bayi pada ibu dan reflek mengisap bayi. Bantu ibu bila
membutuhkan, terutama ibu muda atau primipara. Tanda perlekatan yang
baik adalah :
1). Dagu bayi menyentuh payudara ibu
2). Mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah bayi melipat keluar

3). Daerah areola di atas mulut bayi tampak lebih banyak daripada di bawah
mulut bayi
4). Bayi mengisap dengan pelan dan kadang-kadang berhenti.

Perawatan payudara
a. Apabila terjadi bendungan pada payudara, anjurkan ibu untuk memeras
sedikit ASI sebelum menyusui. Hal ini akan melunakkan daerah areola
sekitar putting sehingg bayi lebih mudah dilekatkan.
b. Apabila ibu tidak bisa menyusui atau memeras ASI (missal ibu memilih
tidak member ASI karena menderita HIV atau bayi meninggal), ajari ibu
cara merawat payudara :
1). Katakan padanya bahwa payudara akan terasa sakit daan jangan
dirangsang
2). Kenakan BH yang menyokong payudara tapi jangan dikancing terlalu
ketat karena kan menambah rasa nyeri.
3). Boleh

mengompres

dengan

air

hangat

untuk

mengurangi

pembengkakan, kemudian kompres air dingin untuk mengurangi rasa


sakit.
4). Apabila sangat sakit, keluarkan sedikit ASI beberapa kali sehari untuk
mengurangi rasa sakit. Atau bila perlu, mnum obat pengurang rasa sakit.
Memberikan ASI peras menggunakan alternative cara pemberian minum

a. Apabila bayi tidak dapat menyusu (misalnya bayi sakit atau kecil, atau ibu
sakit berat), anjurkan ibu memeras ASI dan berikan dengan salah satu
alternative cara pemberian minum yang lain.
b. Ajarkan ibu cara memeras ASI,bila perlu. Jelaskan bahwa ia dapat menyusui
lagi setelah bayi dan ibu sembuh.
c. Nilai kemampuan menyusu dua kali sehari dan ajurkan menyusu langsung
apabila bayi menunjukkan tanda siap untuk menyusu.
Memeras ASI
a. Ajarkan ibu cara memeras ASI
1). Cuci tangan sampai bersih
2). Peras sedikit ASI dan oleskan pada putting dan areola sekitarnya
3). Duduk yang enak dan letakkan wadah steril bermulut lebar di bawah
payudara
4). Peras ASI tiap payudara paling tidak 4 menit
5). Kemudian pindah ke payudara lain dan peras selama 4 menit
6). Lanjutkan memeras secara bergantian selama paling tidak 20-30 menit.
b.

Apabila ASI tidak mengalir lancar


1). Bantu ibu teknik memeras yang benar
2). Kompres payudara dengan air hangat
3). Minta seseorang untuk memijat punggung dan leher ibu agar rileks

c. Apabila ASI peras tidak akan segera diberikan, beri label dan simpan di
lemari es dan gubakan waktu dalam waktu 24 jam, atau bekukan ASI peras
(bila belum juga diberikan, tetap dijaga membeku) pada suhu -20C paling
lama 6 bulan.
1). Apabila tidak mempunyai lemari es dapat disimpan pada suhu kamar
sampai 6 jam.
2). Usahakan suhu ASI peras pada saat diminum bayi berada pada suhu
kamar
a). Hangatkan ASI peras yang dibekukan atau didinginkan dengan
merendam ASI dalam air hangat (sekitar 40C)

b). Gunakan ASI pada waktunya, jangan disimpan dalam lemari es


kembali bila tersisa
c). Jangan merebus ASI peras
d. Anjurkan ibu unntuk memeras ASI paling tidak 8 kali daalam 24 jam. Setiap
peras ASI sebanyak mungkin yang diabutuhkan bayi atau lebih
Anjurkan dan beri dukungan ibu untuk memulai menyusui sesegar
mungkin.

DAFTAR PUSTAKA
Saiffudin. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal & Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina.
Budiati, T. (2009). Tesis: Efektifitas Pemberian Paket "Sukses ASI" terhadap
Produksi ASI Ibu Menyusui deng Seksio Sesarea di WIlyah Depok Jawa
Barat. Program Magister Ilmu Keperawatan Kekhususan Keperawatan
Maternitas. Universitas Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Promosi Kesehatan Di Daerah


Bermasalah Kesehatan. Panduan Bagi Petugas Kesehatan Di Puskesmas.
Jakarta.
________.

2007.

Keputusan

Kementerian

Kesehatan

Republik

Indonesia

no.585/MENKES/ SK/V/2007 Tentang Pedoman Pelaksanaan Promosi


Kesehatan Di Puskesmas. Jakarta.
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina.
Utami, H. S. (2012). Skripsi: Faktor-faktor yang berhubugan dengan Perilaku Ibu
dalam Praktek Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas
Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah Tahun 2012. Depok: Fakultas
Kesehatan Masyarakat. Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat.
Peminatan Kebidanan Komunitas. Universitas Indonesia.
Roesli, U. (2009). Mengenai ASI Eksklusif. Jakarta: Trubus Agriwidya.