Anda di halaman 1dari 39

SATUAN ACARA PENYULUHAN

ROM

KELOMPOK : II
KELAS : VII B

SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES)


MATARAM
2011

SATUAN ACARA PENYULUHAN


ROM
Topik

: ROM

Sasaran

: kelayan diwisma parwa

Tempat

: Ruang STIKES Mataram

Waktu

: 20 menit

A. ANALISA SITUASI
1. Peserta
Jumlah peserta 6 orang
2. Ruangan
a. Ukuran ruangan 3x4 meter
b. Keadaan penerangan dan ventilasi cukup memadai dengan besar ruangan .
c. Prasarana yang tersedia dalam ruangan dan tempat kursi.
3. Penyuluh
Fasilitator adalah mahasiswa STIKES Mataram semester VIIB
B. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah mendapatkan penyuluhan peserta diharapkan mampu melakukan teknik
ROM dengan benar
C. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti penyuluhan, peserta mampu :
1.

Menjelaskan pengertian ROM

2.

memahami kontra indikasi melakukan ROM

3.

Mendemonstrasikan cara melakukan ROM secara benar

D. MATERI ( Terlampir)
1. Pengertian ROM
2. Konta indikasi ROM
3. Cara kerja ROM

E. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
3. Demonstrasi
4. Redomontrasi
F. MEDIA
-

Lembar balik

LCD

G. KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR


KEGIATAN

TAHAP / WAKTU
Pembukaan

1.

Penyuluh
Mengucapkan salam.

3 menit

2.

Memperkenalkan diri.

2.

Mendengarkan.

3.

Menjelaskan tujuan diberikan

3.

Mendengarkan.

Penyajian (pengembangan)

1.

penyuluhan
Menjelaskan pengertian ROM

1.

Mendengarkan penjelasan.

15 menit

2.

Menjelaskan

2.

Mendengarkan penjelasan.

3.

Mendengarkan

tujuan

kontraindikasi ROM
3.

1.

Peserta
Menjawab salam.

Menjelaskan prosedur / cara

dan

memperhatikan penjelasan.

kerja ROM
4.

Mendemonstrasikan

cara

4.

memperhatikan penjelasan

Memberikan kesempatan pada

5.

Bertanya

6.

mendemontrasikan

7.

menjawab

1.

Mendengarkan.

2.

Menjawab salam

melakukan ROM
5.

kelayan untuk bertanya.


6.

Memberikan
kepada

kesempatan
klien

untuk

mendemontrasikan ROM
7.

Memberikan

reinforcement

positif kepada peserta atas


kemampuan dalam menjawab
Penutup

1.

5 menit

soal.
Menyimpulkan
penyuluhan

hasil
yang

sudah

dilakukan.
2.

Menutup acara penyuluhan


dengan mengucapkan terima
kasih dan salam penutup

H. EVALUASI
1. Standar Evaluasi
a. Peserta dapat menyebutkan pengertian ROM
b. Peserta dapat menyebutkan kontraindikasi ROM
c. Peserta mampu mendemonstrasikan cara melakukan ROM
2. Pertanyaan Evaluasi
a. Sebutkan pengertian ROM
b. Sebutkan konta indikasi ROM
3. Evaluasi Struktur
Waktu untuk memulai acara, persiapan alat, persiapan media, kelengkapan
jumlah mahasiswa dan kelengkapan alat yang digunakan
4. Evaluasi Proses
Bagaimana berlangsungnya proses pembelajaran, ada hambatan atau tidak,
keaktifan peserta saat proses pembelajaran dan tanya jawab bisa hidup atau tidak
5. Evaluasi Hasil
-

Mampu menjelaskan ROM

Mampu menjelaskan kontra indikasi ROM

Mampu mendemonstrasikan cara melakukan ROM

Materi
MASSAGE

A. Pengertian
Massage adalah tindakan keperawatan dengan cara memberikan massage pada klien
dalam memenuhi kebutuhan rasa nyaman (nyeri) pada daerah superfesial atau pada
otot atau tulang.
B. Tujuan massage
1. Meningkatkan sirkulasi pada daerah yang di massage
2. Meningkatkan relaksasi
3. Tindakan massage ini hanya untuk membantu mengurangi rangsangan nyeri
akibat terganggunya sirkulasi
C. Alat dan bahan
1. Minyak untuk massage

2. Handuk
D. Prosedur kerja
1. Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
2. Cuci tangan
3. Lakukan massage pada daerah yang dirasakan nyeri selama 5-10 menit
4. Lakukan massage dengan menngunakan telapak tangan dan jari dengan tekanan
halus
a. Tehnik massage dengan gerakan tangan selang seling (tekanan pendek, cepat
dan bergantian tangan) dengan menggunakan telapak tangan dan jari dengan
memberikan tekanan ringer
b. Tehnik remasan (mengusap otot bahu)
Dapat dilakukan bila nyeri terjadi pada daerah sekitar bahu
c. Tehnik massage dengan gerakan menggesek dengan menggunakan ibu jari
dan gerakan memutar . Massage ini bisa dilakukan bila nyeri dirasakan di
daerah punggung dan pinggang secara menyuluruh
d. Tehnik eflurasi dengan ke dua tangan, dapat dilakukan bila nyeri terjadi di
daerah punggung dan pinggang
5.

Cuci tangan setelah melakukan prosedur

6.

Catat tindakan dan respon klien terhadap tindakan

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan kesenjangan antara konsep dasar teori dengan kenyataan yang
ditemukan di lahan praktek berkaitan dengan asuhan keperawatan pada lansia dengan diagnosa medis
REOMATOID ARTRITHIS.
A. PENGKAJIAN
Dalam konsep dasar teori asuhan keperawatan lansia dengan reomatoid artrithis data yang
perlu dikaji adalah nyeri, aktivitas, istirahat, neorosensori, kardiovaskuler, makanan/ cairan, hygiene,
interaksi social, keamanan dan integritas ego, sedangkan pada pengkajian kasus ditampilkan data
biografi, riwayat keluarga, riwayat pekerjaan, riwayat lingkungan hidup, riwayat rekreasi, system
pendukung, deskripsi kekhususan, alasan mengapa kelayan masuk panti, keluhan utama yang
dirasakan kelayan, aktivitas sehari-hari, tinjauan system, status kognitif, afektif, dan sosial kelayan.
Dalam proses pengkajian kasus, didapatkan data-data yang menunjukkan masalah-masalah
kesehatan kelayan, antar lain :
1. Nyeri pada lutut
2. Resiko cedera fisik
3. Gangguan persepsi sensori auditori
Di dalam konsep teori, tidak ditampilkan diagnosa gangguan persepsi sensori auditori, tetapi
pada kenyatannya hal tersebut di alami kelayan. Sehingga penulis mengangkat masalah tersebut
karena nantinya sangat menghambat proses pemberian asuhan keperawatan jika masalah tersebut
tidak diperhatikan
B. Diagnosa Keperawatan
Pada tinjauan teori tentang konsep dasar asuhan keperawatannya, terdapat 6 diagnosa,
sedangkan pada tinjauan kasus penulis mengangkat 2 diagnosa yang ada di teori dan 1 diagnosa di
luar konsep dasar teorinya. Dalam proses pengkajian, penulis menemukan hambatan seperti kelayan
dengna gangguan pendengaran sehingga penulis harus mengulang pertanyaan jika jawaban yang
diberikan kelayan tidak sesuai dengan jawaban yang diberikan.
C. Perencanaan
Dalam perencanaan teoritis, terdapat rencana kolaborasi dengan tenaga medis lain seperti
dokter untuk memberikan terapi. Hal ini tidak direncanakan pada perencanaan kasus karena
disesuaikan dengan tenaga yang ada di PSTW Puspakarma Mataram. Tidak semua perencanan yang

ada di perencanaan teoritis dimasukkan dalam perencanaan kasus karena disesuaikan dengan
tujuandan kebutuhan asuhan keperawatan.
D. Pelaksanaan
Pemberian tindakan keperawatan pada kelayan disesuaikan dengan perencanaan yang telah
dibuat. Focus pelaksanan tindakan keperawatan adalah healt education tentang bagaimana
penanganan jika nyeri lutut dirasakan lagi. Ada tindakan keperawatan yang langsung menangani
nyeri kelayan seperti mengajarkan tehnik relaksasi, distraksi dan memijat. Sedangkan penanganan
untuk masalah gangguan pendengaran, tindakan difokuskan bagaimana menciptakan komunikasi
yang lancar misalnya dengan menciptakan lingkungan yang nyaman untuk kelayan dlam mengikuti
kegiatan sehingga komunikasi kelayan dengan perawat lancar. Untuk masalah resiko cedera tindakan
difokuskan pada modifikasi lingkungan dan sedikit informasi tentang penyakitnya (RA)
E. Evaluasi
Dalam mengevaluasi keberhasilan pencapaian pelaksanaan asuhan keperawatan kepada
kelayan dilakukan setelah 2 x 24 jam, tetapi evaluasi tindakan tetap dilakukan setiap selesai
melakukan tindakan keperawatan.
Pada saat evaluasi akhir, kelayan menunjukkan pencapaian kriteria evaluasi, misalnya untuk
diagnosa i kelayan mampu mendemonstrasikan cara mengurangi / menangani nyeri yang berarti
sesuai dengan kriteria hasil pada perencanaan.

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Reumathoid Artrithis adalah salah satu penyakit yang lumrah diderita
masyarakat Indonesia baik tua maupun muda. Di masyarakat, masih terus
berkembang mitos dan anggapan yang salah mengenai penyakit ini. Padahal mitosmitos ini menyesatkan bila dikaji daru susu medis dan bias merugikan penderita.
Salah satu mitos tersebut adalah bahwa dengan seringnya mandi malam diusia muda
akan memicu rematik di usia tua. Faktanya, sejauh ini belum ada bukti yang
menguatkan hal tersebut.
Prevalensi terjadinya penyakit ini adalah 1% orang dewasa, predominan pada
perempuan. Perempuan 3x lebih sering menderita RA dibandingkan dengan lakilaki. Penyakit ini mengenai semua etnis, dengan insidensi pada orang berusia di atas
18 tahun berkisar 0.1 % - 0.3 %, sedangkan pada anak-anak dan renaja yang berusia
kurang dari 18 tahun 1/100.000 orang.
Pada tahun 2000, jumlah penderita RA sekitar 120.000 orang. Walaupun
prevalensi penyakit rendah, tetapi penyakit ini sangat progresif dan paling sering

menyebabkan kecacatan. Di PSTW Puspakarma Mataram sendiri terdapat beberapa


lansia yang RA. Sehingga penulis tertarik untuk mengangkat kasus penyakit ini
sebagai tugas dalam praktik klinik keperawatan gerontik di PSTW Puspakarma
Mataram tahun 2008.
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Penulis dapat mengaplikasikan teori yang didapat diproses belajar
mengajar secara nyata kepada lansia dengan RA dan secara langsung
memberikan asuhan keperawatan kepada kelayan.
2. Tujuan Khusus
a. Penulis mampu mengidentifikasi tanda dan gejala RA secara langsung.
b. Penulis melaksanakan proses keperawatan secara langsung, mulai dari
mengkaji data kelayan, menganalisa data tersebut kemudian merumuskan
diagnosa keperawatannya. Selanjutnya membuat rencana tindakan dan
melaksanakannya serta melakukan evaluasi terhadap tindakan keperawatan
yang diberikan kepada kelayan.
C. METODE PENULISAN
Adapun metode penulisan yang digunakan adalah :
1. metode deskriptif
2. metode studi kepustakaan
3. metode studi kasus
D. SISTEMATIKA PENULISAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.

LATAR BELAKANG

2.

TUJUAN PENULISAN

3.

METODE PENULISAN

4.

SISTEMATIKA PENULISAN

BAB II
TINJAUAN TEORI
1. KONSEP DASAR (MASALAH UTAMA)
a. PENGERTIAN
b. ETIOLOGI
c. PATOFISIOLOGI
2. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
a. PENGKAJIAN
b. DIAGNOSA KEPERAWATAN
c. PERENCANAAN
d. PELAKSANAAN
e. EVALUASI

BAB III
TINJAUAN KASUS
1. PENGKAJIAN
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
3. PERENCANAAN
4. PELAKSANAAN
5. EVALUASI
BAB IV
PEMBAHASAN
1. PENGKAJIAN
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
3. PERENCANAAN
4. PELAKSANAAN
5. EVALUASI
BAB V
PENUTUP

1. KESIMPULAN
2. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. LAPORAN PENDAHULUAN
2. SAP (Jika Ada Penyuluhan Kesehatan)

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. KONSEP DASAR (Masalah Utama) : Resiko Cedera Fisik
1. PENGERTIAN
REUMATHOID ARTRITHIS adalah penyakit inflamasi kronis yang tidak
diketahui penyebabnya, dikarakteristikkan oleh kerusakan dan proliferasi
membrane sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi, ankilosis
dan deformitas. Penyakit sistemik ini ditandai terutama oleh inflamasi kronik
lapisan sinovial sendi secara simetris, sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan
bahkan terjadi kerusakan bagian dalam sendi. (Doengoes, 1990 & Carpenito
1999)
2. ETIOLOGI
Penyebab yang mendasari tidak diketahui dengan pasti. Akan tetapi diduga dapat
berasal dari factor genetic, factor resikolingkungan tertentu yang dapat
menyebabkan kekacauan daya tahan tubuh atau gangguan autoimun. (Price, S.A.
2006)

3. Manifestasi Klinis

Kedua tangan terasa kaku pada pagi hari, lebih dari setengah jam.

Tidak enak badan, kaku dan nyeri pada sendi, bengkak, semu merah dan
terasa hangat.

Mobilisasi sendi, spasme dan pemendekan otot, destruksi tulang dan


kartilago serta deformitas sendi.

Malaise,

demam,

penurunan

berat

badan.

(http://drlizakedokteran.blogspot.com/2007/12/reumatoid-artritis-ta.html)

4. PATOFISIOLOGI

Stimulus awal (pencetus tak dikenal +


predisposisi genetik)

Akumulasi limfosit dalam sinovial

Produsi faktor reumathoid

Pembentukan kompleks iman yang mengaktifkan komplemen

Kemotoksis neutrofil & makrofag ke sendi yang

Produksi anion
superoksid

Gangguan
citra tubuh

Produksi kolagen, elastase &


enzim degeneratif lain

sakit

Produsi
prostaglandin

Destruksi sendi

Nyeri

Resiko cedera fisik

Gangguan pola tidur

Defisit perawatan
diri

5. PENATALAKSANAAN MEDIS

Prinsip pengobatan Reumathoid Artrithis adalah mengistirahatkan sendi


yang terkena. Obat-obata yang bisa digunakan, antara lain :
a. Obat Anti Inflamasi Nin Steroid (NSAID)
Kelompok obat ini dapat mengurangi peradangan dengan menghalangi
proses produksi mediator peradangan. Yang paling banyak digunakan adalah
Aspirin dan Ibuprofen
b. Obat Slow Acting
1) Senyawa Emas
2) Penisilin
3) Hidroxi Kloroquin
4) Sulfa Zalazin
c. Kortikosteroid
d. Untuk pemakaian Kortikosteroid, harus diperhatikan hal berikut :
1) Pemberian orall dilakukan pada kasus-kasus RA yang tidak berespon
terhadap AINS dan obat-obatan yang bekerja lambat.
2) Untuk mengatasi gejala-gejala penyakit yang terjadi selama menunggu
efek obat-obatan yang bekerja lambat.
3) Suntikan untra artikular dilakukan apabila ada eksaserbasi akut dari
sinovial pada suatu sendi yang digerakkannya menjadi sangat terganggu.
4) Pemberian dosis tinggi peroral untuk jangka waktu pendek untuk
mengatasi serangan yang berat.
e. Obat Monosupresif

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. PENGKAJIAN

Data yang perlu dikaji


a. Nyeri / kenyamanan
Gejala : fase akut dari nyeri, rasa nyeri kronis dan kekakuan
(terutama pada pagi hari)
b. Aktivitas / istirahat
Gejala : nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk
dengan stress pada sendi, biasanya terjadi secara bilateral
dan simetris, keletihan
Tanda : malaise, keterbatasan rentang gerak, atrofi otot, kulit
kontraktur
c. Kardiovaskuler
Gejala : fenomena raynoud dari tangan / kaki (missal : pucat,
intermitten, sianosis kemudian kemerahan pada jari
sebelum kembali normal)
d. Makanan / cairan
Gejala : ketidakmampuan untuk menghasilkan / mengkonsumsi
makanan / cairan, anorexia
Tanda : penurunan BB, kekeringan pada membran mukosa
e. Neurosensori
Gejala : kebas / kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya
sensasi pada jari tangan
Tanda : pembengkakan sendi simetris
f. Personal hygiene
Gejala : berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas
perawatan pribadi, ketergantungan pada orang lain
g. Interaksi sosial
Gejala : kerusakan interaksi dengan keluarga / orang lain,
perubahan peran, isolasi

h. Keamanan

Gejala : kulit mengkilat, tegang, lesi kulit, ulkus kaki, kesulitan


dalam menangani tugas, demam ringan menetap,
kekeringan pada mata dam membrane mukosa.
i. Integritas ego
Gejala : keputusasaan dan ketidakberdayaan, ancaman pada
konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut / kronis b/d distensi jaringan oleh akumulasi cairan / proses
inflamasi ditandai dengan:
1) Keluhan nyeri, kelelahan
2) Fokus pada diri sendiri
3) Prilaku yang bersifat hati-hati
b. Resiko cedera fisik b/d penurunan fungsi tulang ditandai dengan:
1) Prilaku yang bersifat hati-hati
2) Penurunan rentang gerak
c. Gangguan pola tidur b/d nyeri ditandai dengan:
1) Keluhan susah tidur / istirahat
d. Defisit perawatan diri b/d keterbatasan aktivitas, nyeri pada saat bergerak,
ditandai dengan:
1) Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari
e. Gangguan citra tubuh b/d perubahan kemampuan untuk melakukan tugastugas umum, ditandai dengan:
1) Perubahan struktur / fungsi bagian-bagian yang sakit]
2) Bicara negative tentang diri sendiri
3) Perubahan pada gaya hidup
4) Perubahan interaksi social
5) Perasaan putus asa
f. Kurang pengetahuan b/d ketidakcukupan pengetahuan tentang kondisi,
terapi, perawatan, ditandai dengan:
1) Pengungkapan adanya masalah
3. PERENCANAAN

a. DIAGNOSA I
1) Kaji keluhan nyeri (lokasi, intensitasnya)
Rasional : membantu dalam menentukan kebutuhan managemen
nyeri dan keefektifan program
2) Sarankan kelayan menggunakan matras / kasur keras dan bantal kecil
Rasiona : Matras yang lembut / empuk, bantal yang besar akan
mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat,
menempatkan stress pada sendi yang sakit
3) Bantu kelayan untuk mendapatkan posisi yang nyaman
Rasional : pada penyakit ynag berat, tirah baring mungkin diperlukan
untuk membatasi nyeri
4) Motivasi kelayan untuk sering mengubah posisi
Rasional : mencegah terjadinya kelelahan umum dan kekakuan sendi
5) Berikan massage lembut
Rasional : meningkatkan relaksasi / mengurangi tegangan otot
6) Ajarkan managemen stress, seperti teknik relaksasi
Rasional : meningkatkan relaksasi, memberi rasa control dan
kemampuan koping
7) Kolaborasi : berikan obat-obatan yang sesuai Petunjuk
Rasional : sebagai anti inflamasi
b. DIAGNOSA II
1) Kriteria Evaluasi

Kelayan meningkatkan rentang gerak

Kelayan tidak menunjukkan kelelahan

Kelayan mampu mengikuti program farmakologis yang


diresepkan

2) Intervensi

Kendalikan lingkungan (modifikasi lingkingan)


Rasional : lingkungan yang bebas bahaya akan mengurangi

resiko cedera

Izinkan kemandirian dan kebebasan maksimum


Rasional : hal ini akan memberikan kelayan merasa otonomi

Kolaborasi : pemberian obat-obatan sesuai petunjuk

c. DIAGNOSA III
1) Diskusikan kebiasaan pola dan kebutuhan tidur
Rasional : gangguan tidur mengakibatkan gangguan fungsi kognitif,
persepsi dan penurunan control emosi. Ini juga menurunkan ambang
nyeri dan mengurangi produksi ketokolamin
2) Dorong kelayan untuk melaksanakan ritual menjelang tidur seperti
membaca atau minum hangat
Rasional : membantu meningkatkan relaksasi dan menyiapkan tidur
3) Lakukan tindakan penghilang nyeri sebelum tidur
Rasional : kelayan dengan penyakit inflamasi sendi sering mengalami
gejala memburuk pada malam hari
4) Anjurkan posisi yang tepat mencegah nyeri selama tidur
Rasional : posisi yang tepat mencegah nyeri selama tidur
5) Ciptakan tidur tanpa gangguan untuk memungkinkan siklus tidur
lengkap
Rasional : siklus tidur mempunyai interval 70-100 menit
d. DIAGNOSA IV
1) Pertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan
Rasional : mendukung kemandirian fisik / emosional
2) Diskusikan hambatan dalam partisipasi dalam perawatan diri
Rasional : meningkatkan kemandirian
3) Kolaborasi : konsul dengan ahli terapi okupasi
Rasional : berguna untuk menentukan alat Bantu untuk memenuhi
kebutuhan individual

e. DIAGNOSA V
1) Diskusikan arti dari kehilangan / perubahan pada pasien / orang terdekat,
bagaimana pandangan pribadi pasien dalam fungsi gaya hidup sehari-hari
Rasional : mengidentifikasi bagaimana penyakit mempengaruhi persepsi
diri dan interaksi dengan orang lain akan menentukan kebutuhan
intervensi
2) Perhatikan perilaku menarik diri, terlalu memperhatikan perubahan
Rasional : dapat menunjukkan emosional ataupun metode koping
maladaptif
3) Bantu pasien untuk mengidentifikasi koping adaptif
Rasional : membantu pasien untuk mempertahankan control diri
4) Ikut sertakan pasien dalam merencakan perawatan dan membuat jadwal
aktivitas
Rasional : meningkatkan perasaan harga diri, mendorong kemandirian
dan partisipasi dalam terapi
5) Kolaborasi : rujuk pada konseling psikiatri
Rasional : pasien / orang terdekat membutuhkan dukungan selama
berhadapan dengan proses jangka panjang
f. DIAGNOSA VI
1) Tinjau proses penyakit, prognosis dan harapan masa depan
Rasional : memberi pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan
berdasarkan informasi
2) Tekankan pentingnya patuh pada terapi farmakologis
Rasional : keuntungan penggunaan obat-obatan tergantung pada
ketepatan dosis
3) Berikan informasi mengenai alat Bantu
Rasional : keuntungan penggunaan obat-obatan tergantung pada
ketepatan dosis
4) Dorong untuk mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada saat
istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas

Rasional : mekanika tubuh yang baik harus menjadi bagian dari gaya
hidup pasien untuk mengurangi tekanan sendi dan nyeri
5) Jelaskan pentingnya diet seimbang dengan makanan yang banyak
mengandung vitamin, protein dan zat besi.
Rasional : meningkatkan perasaan sehat umum dan perbaikan atau
regenerasi jaringn
4. PELAKSANAAN
a. Diagnosa I
1) Mengkaji keluhan nyeri
2) Menyarankan kelayan menggunakan matras / kasur keras dan bantal
kecil
3) membantu kelayan untuk mendapatkan posisi yang nyaman
4) Memotivasi kelayan untuk sering mengubah posisi
5) Memberikan massage lembut
6) Mengajarkan managemen stress, seperti teknik relaksasi
7) Kolaborasi : Memberikan obat-obatan yang sesuai Petunjuk
b. Diagnosa II
1) Mengendalikan lingkungan (modifikasi lingkingan)
2) Mengizinkan kemandirian dan kebebasan maksimum
3) Memberikan obat-obatan sesuai petunjuk
c. Diagnosa III
1) Mendiskusikan kebiasaan pola dan kebutuhan tidur
2) Mendorong kelayan untuk melaksanakan ritual menjelang tidur seperti
membaca atau minum hangat
3) Melakukan tindakan penghilang nyeri sebelum tidur
4) Menganjurkan posisi yang tepat mencegah nyeri selama tidur
5) Menciptakan tidur tanpa gangguan untuk memungkinkan siklus tidur
lengkap
d. Diagnosa IV
1) Mempertahankan mobilitas, kontrol terhadap nyeri dan program latihan

2) Mendiskusikan hambatan dalam partisipasi dalam perawatan diri


3) konsultasi dengan ahli terapi okupasi
e. Diagnosa V
1) Mendiskusikan arti dari kehilangan / perubahan pada pasien / orang
terdekat, bagaimana pandangan pribadi pasien dalam fungsi gaya hidup
sehari-hari
2) Mengidentifikasi perilaku menarik diri
3) Mambantu pasien untuk mengidentifikasi koping adaptif
4) Mengikut sertakan pasien dalam merencakan perawatan dan membuat
jadwal aktivitas
5) Merujuk pada konseling psikiatri
f. Diagnosa VI
1) Meninjau proses penyakit, prognosis dan harapan masa depan
2) Menekankan pentingnya patuh pada terapi farmakologis
3) Memberikan informasi mengenai alat Bantu
4) Mendorong untuk mempertahankan posisi tubuh yang benar baik pada
saat istirahat maupun pada waktu melakukan aktivitas
5) Menjelaskan pentingnya diet seimbang dengan makanan yang banyak
mengandung vitamin, protein dan zat besi.

5. EVALUASI
a. Diagnosa I
1) Kelayan menunjukkan nyeri hilang / terkontrol
2) Kelayan terlihat rileks, dapat tidur / istirahat
3) Kelayan mampu mengikuti program farmakologis yang diresepkan
b. Diagnosa II

1) Kelayan meningkatkan rentang gerak


2) Kelayan tidak menunjukkan kelelahan
3) Kelayan mampu mengikuti program farmakologis yang
diresepkan
c. Diagnosa III
1) Kelayan akan menjelaskan factor-faktor yang menghambat tidur
2) Kelayan mampu mengidentifikasi teknik untuk memudahkan tidur
d. Diagnosa IV
1) Kelayan mamapu melaksanakan aktivitas perawatan diri pada tingkat
yang konsisten dengan kemampuan individual
e. Diagnosa V
1) Mengungkapkan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi
penyakit
2) Perubahan gaya hidup
f. Diagnosa VI
1) Menunjukkan pemahaman tentang kondisi / prognosis, perawatan
2) Mengembangkan rencana untuk perawatan diri, termasuk modifikasi
gaya hidup yang konsisten dengan mobilitas dan / pembatasan aktivitas.

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
Nama Pengkaji

: NURLAILA SYUKRIANTI

Tanggal pengkajian : Selasa, 17 Juni 2008 jam 09.00


1. Data Biografi
a. Nama

: Papuq R

b. Tempat dan Tanggal Lahir

: Cakra Timur tahun 1950-an

c. Pendidikan Terakhir

: Kelayan mengatakan tidak sekolah

d. Agama

: Katolik

e. Status Perkawinan

: Janda (cerai hidup)

f. TB / BB

: 150 cm / 52 Kg

g. Penampilan

: Rapi dan bersih, punggung bungkuk

h. Orang Yang dekat dihubungi : i. Hubungan dengan usila

: -

j. Alamat

: -

k. Tanggal masuk panti

: 5 Bulan yang lalu

2. Riwayat Keluarga
a. Genogram

Keterangan :
Perempuan / laki-laki hidup
Perempuan / laki-laki meninggal
Kelayan
Hubungan Perkawinana
Cerai
3. Riwayat Pekerjaan
Pekerjaan Saat Ini

: Pekerjaan saat ini tidak ada.

Alamat Pekerjaan

: Tidak ada

Berapa jarak dari rumah: tidak ada


Alat transportasi

: tidak ada

Pekerjaan sebelumnya : Pembantu rumah tangga


Alat transportasi

: tidak ada

jarak dari rumah

: tidak ada

Sumber-sumber pendapatan & kecukupan terhadap kehidupan : kebutuhan


sehari-hari terpenuhi dari panti
4. Riwayat Lingkungan Hidup
Tipe tempat tinggal

: Permanen

Jumlah kamar

: 7 ruangan (5 kamar tidur 2 kamar


mandi dan 1 Gudang)

Jumlah tongkat

: tidak ada

Kondisi tempat tinggal

: Pencahayaan cukup terang,


ventilasi baik tidak lembab dan
bersih.

Jumlah orang yang tinggal di rumah : 7 Orang (6 orang perempuan dan 1


orang lak-laki)
Derajat privasi

: Baik

Tetangga terdekat

: Penghuni wisma Selaparang yang


lain.

5. Riwayat Rekreasi
Hoby / minat

: Nonton TV

Keanggotaan organisasi

: Tidak ada

Liburan perjalanan

: Tidak pernah

6. System Pendukung
Di PSTW Puspakarya Mataram terdapat Poliklinik yang melayani
kesehatan seluruh kelayan, dibantu oleh 2 orang perawat dan 6 orang
relawan dari STIKES Mataram. Selain itu, dalam 3 bulan sekali ada
Dokter yang datang.
7. Deskripsi Kekhususan
Papuq KR beragama Katolik, kelayan hanya berdoa di kamarnya saja.
8. Status Kesehatan
Kelayan mengatakan tidak pernah mengalami sakit yang parah, tapi kelayan
hanya merasakan lututnya sakit.
9. Alasan Dating Ke PSTW

Kelayan mengatakan diantar oleh saudaranya. Kelayan mengatakan kalau


saudaranya telah menipunya.
10. Keluhan Utama
Kelayan mengatakan sering mengalami sakit pada daerah lutut.
Palliative

: Kelayan mengatakan sakit jika duduk terlalu lama.

Quality

: Kelayan mengatakan rasanya seperti ditusuk-

tusuk
Region

: Kelayan mengatakan sakitnya hanya terasa pada


daerah lutut.

Severity scale

: Kelayan mengatakan sulit berjalan jika sakit


dating.

Timming

: Kelayan mengatakan sakitnya kambuh jika duduk


terlalu lama.

11. Aktivitas Hidup Sehari-Hari


1.

Indeks Katz

: Skor A, yaitu kelayan mandiri

dalam hal
makan, berpindah, ke kamar kecil, berpakaian
dan mandi.
2.

Oksigenasi

: Klien mengatakan tidak pernah

mengalami
gangguan dalam bernafas.
3.

Cairan dan Elektrolit

: Kelayan mengatakan air minum

air putih
1-2 gelas sehari. Kadang-kadang minum
teh
4.

Nutrisi

: kelayan mengatakan

mendapatkan jatah
makan dari panti sebanyak 3x dengan menu
yang berbeda, yaitu nasi, sayur, daging.
Dan porsi yang diberikan selalu habis

5.

Aktivitas

: Setiap hari kelayan selalu

merapikan
tempat tidurnya, mandi, makan, dan
berpakaian secara mandiri. Kelayan juga
menonton TV dan kadang berjalan-jalan di
depan wisma.
6.

Istirhat/tidur

: Kelayan tidur siang kira-kira

pada pukul
14.00 dan tidur malam kira-kira pukul
20.00
7.

Personal hygien

: Setiap hari kelayan mandi 1 x

sehari,
keramas 3 x seminggu, gosok gigi setiap
mandi, tidak ada ketombe, rambut tidak
berminyak, kulit bersih tidak bersisik.
8.

Sexual

: Kelayan mengatakan tidak pernah


berhubungan seksual semenjak cerai
dengan suaminya.

9.

Rekreasi

: kelayan mengatakn tidak pernah

pergi
Rekreasi, kelayan hanya nonton tv.
10.

Psikologis
a. Persepsi kelayan

: Kelayan mengatakan sakitnya tiba-tiba


saja, mungkin saudara saya yang
membuat saya begini

b. Konsep diri

: kelayan mengatakan dirinya sudah tua dan


tidak menarik lagi.

c. Emosi

: kelayan kadang-kadang marah pada saat


berbicara dengan perawat. Terutama pada
saat kelayan bercerita tentang saudaranya

d. Adaptasi

: kelayan sudah tinggal 5 bulan. Kelayan


jarang bergaul dengan penghuni panti yang

lain (wisma tamu)

e. Mekanisme pertahanan diri : pada saat lutut kelayan sakit, kelayan


memijatnya. Dan kelayan juga mengatakan
lebih mendekatkan diri dengan Tuhan jika
mengalami masalah
12. Tinjauan System
a. Keadaan umum

: kelayan berpenampilan bersih, rapi,


komunikasi jelas, orientasi baik

b. Tingkat kesadaran

: CM (Compos Mentis)

GCS : Mata : 4, verbal : 5, psikomotor : 6


c. Kepala : simetris, tidak ada benjolan, rambut beruban
d. Mata : konjungtiva merah, sklera putih, tidak terdapat katarak,
reflek pupil ada, VOS : 4/60, VOD : 4/60
e. Telinga : simetris, tidak ada benjolan, terdapat serumen, kelayan
mengatakan pendengarannya kurang jelas.
f. Hidung : bersih, tidak ada secret, tidak ada polip / benda asing,
tidak ada peradangan mukosa hidung.
g. Mulut : mukosa bibir tidak pucat, lidah agak kotor, gigi bersih
h. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar getah bening & bendungan
vena jugularis
i. Dada : inspeksi (bentuk simetris), palpasi (tidak terdapat masa),
perkusi (tidak terdapat pembesaran organ-organ),
auskultasi (tidak terdapat kelaianan), bunyi jantung S1S2
tunggal, irama teratur, suara sonor, tidak ada tarikan
dinding dada.
j. Punggung : bentuk kiposis (+)
k. Abdomen : perut simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat
Masa, bising usus 10x / menit, tidak ada pembesaran
hepar / lien

l. Pinggang : tidak terdapat nyeri tekan.

m. Ekstremitas atas dan bawah :

atas kanan (3), atas kiri (3),

bawah kanan (2), bawah kiri (3).


Kelayan mengatakan lutut kanannya
sakit, kulit keriput.
n. System imun : tidak terkaji dengan jelas, tetapi kelayan
mengatakn tidak pernah demam atau pilek.
o. Genetalia : kelayan tidak bersedia diperiksa tetapi kelayan
mengatakan tidak ada kelainan pada alat kelaminnya.
p. System reproduksi : kelayan mengatakan tidak pernah
Melahirkan / menopause
q. System persarafan : wajah (kelayan masih bisa tertawa dengan
memeperlihatkan giginya), mata (kelayan masih bisa menggerakkan bola
matanya ke atas, bawah, kiri dan kanan), pendengaran (kelayan
mengatakan pendengarannya kurang jelas), penciuman (kelayan masih
bisa membedakan minyak kayu putih dengan kopi), pengecap (kelayan
masih bisa membedakan rasa asin, manis, dan pahit), ekstremitas
(kelayan masih bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya dan
terdapat reflek patela), kulit (kelayan bisa merespon ketika kita
memegang tangannya)
r. System pengecap : kelayan masih bisa membedakan rasa asin, manis,
dan pahit
s. System penciuman : kelayan masih bisa membedakan anatara minyak
kayu putih dengan kopi
t. Taktil respon : kelayan bisa merespon ketika kita memegang tangannya
13. Status Kognitif, afektif dan sosial
a. SPMSQ

: kesalahan 5-7 (kerusakan intelektual sedang)

b. MMSE

: nilai 10 (adanya kerusakan kognitif yang


memerlukan penyelidikan lanjut)

c. IDB

: nilai 14

d. APGAR Keluarga

: nilai 4

14. Data Penunjang


a. Laboratorium : b. EKG

:-

c. CT Scan

:-

d. Radiologi

:-

e. USG

:Analisa Data

No
1 DS :

Symptomp

Etiologi
Reaksi imunologi

Problem
Nyeri

kelayan mengatakan sakit


pada lututnya yang kanan
jika terlalu lama duduk.
DO :
skala nyeri 2 (0-4)
kelayan tampak meringis
kelayan memijat kakinya

Inflamasi membran
sinovial
Destruksi sendi
Nyeri

yang kanan
DS :
kelayan mengatakan tidak
kuat berjalan jauh
2

Proses menua

DO:
pembatasan rentang gerak
kelayan tampak hati-hati

fisik
Penurunan fungsi
tulang

waktu berjalan
kekuatan otot

Resiko cedera

Resiko cedera fisik

Gangguan
DS:

Proses menua

kelayan mengatakan

persepsi sensori
auditori

Penurunan fungsi
tulang

pendengarannya kurang
jelas
3
DO:

Resiko cedera fisik

kelayan tidak merespon


komunikasi tidak efektif

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan destruksi sendi ditandai dengan :
DS:
kelayan mengatakan sakit pada lututnya yang kanan jika terlalu lama
duduk.
DO:
skala nyeri 2 (0-4)
kelayan tampak meringis
kelayan memijat kakinya yang kanan
2. Resiko cedera fisik berhubungan dengan penurunan fungsi tulang ditandai
dengan
DS:
kelayan mengatakan tidak kuat berjalan jauh
DO:
pembatasan rentang gerak
kelayan tampak hati-hati waktu berjalan
kekuatan otot

3. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan penurunan fungsi


pendenganran ditandai dengan
DS:
kelayan mengatakan pendengarannya kurang jelas
DO:
kelayan tidak merespon
komunikasi tidak efektif

C. PERENCANAAN
NO
DIAGNOSA
TUJUAN
RENCANA
KEPERAWATAN
TINDAKAN
1
Nyeri berhubungan Setelah dilakukan 1. Bina
tindakan
hubungan
dengan
destruksi
keperawatan
saling
sendi
ditandai selama 2 x 24 jam
percaya
diharapkan kelayan 2. Anjurkan
dengan :
memahami
kelayan
DS:
managemen nyeri
untuk
dengan KH :
memberikan
kelayan
kelayan dapat
kompres
hangat pada
mengatakan
mendemonstras
daerah yang
ikan
teknik
sakit pada
nyeri
jika
managemen
sakitnya
lututnya
nyeri
yang
kambuh
diajarkan
yang kanan
kelayan tidak 3. anjurkan
kelayan
jika terlalu
mengeluh nyeri
untuk
lama duduk. skala nyeri (0memijit
1)
lututnya
DO:
yang sakit
skala nyeri 2
4. ajarkan
tehnik
(0-4)
relaksasi dan
kelayan
distraksi
5. anjurkan
tampak

RASIONAL
1. panas dapat
meningkatka
n
relaksasi
otot
2. mengurangi
ketegangan
otot
3. memberi rasa
kontrol
4. tirah baring
diperlukan
untuk
membatasi
nyeri

meringis
kelayan
memijat
kakinya
yang kanan

Resiko cedera fisik

posisi yang
nyaman bagi
kelayan jika
sakitnya
kambuh

Setelah dilakukan
tidnakan
keperawatan
selama 2 x 24 jam
diharapkan kelayan
mampu melakukan
aktivitas di luar
panti dengan KH:
kelayan dapat
meningkatkan
rentang
geraknya

1. lingkungan
yang bebas
bahaya akan
mengurangi
terjadinya
resiko cedera
2. hal ini akan
memberikan
pasien rasa
otonomi

berhubungan
dengan penurunan
fungsi tulang
ditandai dengan
DS:
3

kelayan
mengatakan
tidak kuat
berjalan
jauh
DO:
pembatasan
rentang
gerak
kelayan

1.
Setelah melakukan
tindakan
2.
keperawatan
selama 2 x 24 jam
diharapkan kelayan
dapat
berkomunikasi
lebih efektif dengan
KH:
mengerti setiap 3.
informasi yang
diberikan

tampak
hati-hati
waktu
berjalan
kekuatan
otot
Gangguan persepsi
sensori

4.
5.

Bina
hubungan
saling
percaya
kendalikan
lingkungan
(modifikasi
lingkungan) 1. lingkungan
yang
tidak
ramai
memungkink
izinkan
an
kelayan
kemandiria
lebih
n
dan
konsentrasi
kebebasan
dengan apa
maksimum
yang
kita
dengan
sampaikan
memberika 2. memudahkan
n
kelayan
kebebasan
mengerti apa
dalam
yang
kita
lingkungan
sampaikan
yang aman 3. memudahkan
lakukan
kelayan
KIE
membaca
Ajarkan
gerak bibir
penggunaan
kita.

berhubungan

alat Bantu

dengan penurunan
fungsi
pendenganran
ditandai dengan
DS:
kelayan
mengatakan
pendengara

1.

nnya kurang
jelas
DO:

2.

kelayan
tidak
merespon

3.

4.

5.

Bina
hubungan
saling
percaya
ciptakan
lingkungan
yang
mendukung
komunikasi
kelayan
dengan
perawat

gunakan
bahasa
verbal dan
non verbal
yang
sederhana
yang
mudah
dimengerti
oleh
kelayan dan
bicara
perlahan
posisikan
diri
di
depan
kelayan
kolaborasi
dalam
pemberian
analgetik

D. IMPLEMENTASI
NO Hari /
No.
Tindakan Keperawatan
tanggal Dx
1
Jumat
I
1. menganjurkan kelayan
20 -06untuk
memberikan
2008
kompres hangat pada
Jam
daerah yang nyeri jika
09.00
sakitnya kambuh
wita
2. menganjurkan kelayan
untuk memijit lututnya
yang sakit
3. mengajarkan
tehnik
relaksasi dan distraksi
2

II
Jam
10.00
wita

III
Jam
11.00
wita

4. menganjurkan
posisi
yang
nyaman
bagi
kelayan jika sakitnya
kambuh

Evaluasi Tindakan
1. kelayan
kooperatif,
kelayan
memperhatikan
dengan seksama
penjelasan yang
diberikan
2. kelayan memijat
kakinya pada
saat sakit
3. kelayan aktif
mengikuti teknik
relaksasi dan
distraksi
4. kelayan duduk
dengan
meluruskan
kakinya pada
saat kakinya
sakit

1. Mengendalikan
lingkungan (modifikasi 1. kelayan
lingkungan)
kooperatif
2. mengizinkan
kemandirian
dan
kebebasan maksimum
dengan
memberikan

Paraf

I
Sabtu
21-062008
Jam
11.00
wita

Jam
11.10
wita

Jam
11.20
wita

II

III

kebebasan
dalam
lingkungan yang aman
1. ciptakan
lingkungan 1. kelayan
yang
mendukung
kooperatif
komunikasi
kelayan 2. kelayan
dengan perawat
mengatakn sudah
2. gunakan bahasa verbal
siap untuk
dan non verbal yang
mengikuti
sederhana dan bicara
kegiatan hari ini
perlahan
3. komunikasi
3. posisikan diri di depan
kelayan dengan
kelayan
perawat lebih
efektif
1. menanyakan
pada 1. kelayan
kelayan cara-cara yang
menyebutkan
bisa dilakukan untuk
beberapa cara
mengurangi rasa sakit
yang bisa
dilakukan untuk
mengurangi
2. meminta kelayan untuk
nyeri
memperagakan
cara- 2. kelayan
cara tersebut
memperagakan
cara memijat
kakinya
1. memberitahu kelayan
tentang hal-hal yang
dapat
menyebabkan
terjadinya cedera pada 1. kelayan
kelayan
mendengarkan
dengan seksama
setiap penjelasan
1. menciptakan
yang diberikan
lingkungan
yang
mendukung komunikasi
kelayan dengan perawat 1. kelayan bisa
2. menggunakan bahasa
merespon apa
verbal dan non verbal
yang dikatakan
yang sederhana dan
perawat dengan
bicara perlahan
benar
3. memposisikan diri di
depan kelayan

E. EVALUASI
NO
1

HARI /

DIAGNOSA KEPERAWATAN

EVALUASI

TANGGAL
Sabtu,

Nyeri berhubungan dengan

21-06-2008

destruksi sendi ditandai dengan :

sekarang mengerti

jam 16.00

DS:

bagaimana cara
kelayan mengatakan

S : kelayan mengatakan

mengurangi/menangani

sakit pada lututnya yang

nyeri jika sakitnya

kanan jika terlalu lama

kambuh

duduk.

O : kelayan mampu
mendemonstrasikan

DO:
skala nyeri 2 (0-4)

teknik relaksasi,

kelayan tampak meringis

distraksi

kelayan memijat kakinya


yang kanan
Resiko cedera fisik berhubungan

A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan
S : kelayan mengatakan

dengan penurunan fungsi tulang

sudah bisa berjalan

ditandai dengan

lebih jauh dari biasanya


O : kelayan bisa berjalan

DS:
kelayan mengatakan

lebih jauh dari


biasanya (tidak

tidak kuat berjalan jauh


DO:

membatasi rentang
gerak)

pembatasan rentang
gerak

A : masalah terasi
P : intervensi dihentikan

kelayan tampak hati-hati


waktu berjalan
kekuatan otot

S : kelayan mengatakan
Gangguan persepsi sensori

lebih cepat mendengar

berhubungan dengan penurunan

dengan dengan situasi

fungsi pendenganran ditandai

yang tidak ramai


O : kelayan selalu

dengan

merespon perawat

DS:
kelayan mengatakan

sesuai dengan yang

pendengarannya kurang

disampaikan perawat

jelas

meskipun perawat

DO:
kelayan tidak merespon
komunikasi tidak efektif

harus berbicara dengan


suara agak keras.
A : masalah teratasi
P : intervensi dihentikan

Latar Belakang
Kebutuhan rasa nyaman yang dimaksud di sini adalah kebutuhan rasa nyaman
bebas dari nyeri dan hipo/ hipertermia mengingat nyeri dan hipo/hipertermia merupakan
keadaan yang dapat memengaruhi perasaan tidak nyaman bagi tubuh. Rasa tidak
nayaman ini ditunjukkan dengan tanda dan gejala seperti ketika ada nyeri, pasien
menunjukkan perilaku protektif dan tidak tenang, peningkatan tekanan darah, frekuensi
nadi, peningkatan atau penurunan frekuensi pernapasan. Diaforesis, wajah menyeringai
dan perilaku distraksi, seperti menangis dan merintih.
Rasa ketidaknyamanan ( nyeri ) dapat disebabkan oleh terjadinya kerusakan
syaraf sensorik atau juga diawali ransangan aktivitas sel T ke korteks serebri dan
menimbilkan persepsi neyeri. Hipo/hipertermia terjadi akibat gangguannya pusat
pengatur suhu ( dalam hal ini adalah termoregulasi )
Prosedur keperawatan yang dapat dilakukan yang berhubungan dengan
kebutuhan rasa nyaman ( nyeri, hipo/hipertermia ) adalah teknik masase.
.