Anda di halaman 1dari 18

PEMBAHASAN

1. SEJARAH AIDS
Kasus AIDS pertama kali ditemukan oleh Gottlieb di Amerika Serikat pada
tahun 1983 dan virusnya di temukan Luc Montagnier pada tahun 1983. AIDS
pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 juni 1981, ketika Centers for Disease
Control

and

Prevention Amerika

Serikat

mencatat

adanya

Pneumonia

pneumosistis (sekarang masih diklasifikasi sebagai PCP tetapi diketahui


disebabkan oleh Peneumocystis Jirovecii) pada lima laki-laki homoseksual di Los
Angeles. Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retovirus yang
disebut Human Immunodeciency Virus (HIV). Dua spesies HIV yang diketahui
menginfeksi manusia adalah HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 lebih mematikan dan lebih
mudah masuk kedalam tubuh. HIV-1 adalah sumber dari mayoritas infeksi HIV di
dunia, sementara HIV-2 sulit di masukan dan kebanyakan berada di Afrika Barat.
Baik HIV-1 dan HIV-2 berasal dari primate. Asal HIV-1 berasal dari Sooty
Mangabey (cercocebus atys), monyet dari Guinea Bissau, dan Kamerun.
Banyak ahli berpendapat bahwa HIV masuk ke dalam tubuh manusia akibat
kontak dengan primate lainnya, contohnya selama berburu atau pemotongan
daging. Teori yang lebih controversial yang dikenal dengan nama hipotesis OPV
AIDS, menyatakan bahwa epidermik AIDS dimulai pada akhir tahun 1950-an di
Kongo Belgia sebagai akibat dari penelitian Hilary Koprowski rehadap vaksin

polio. Namun demikian, komunitas ilmiah umunya berpendapat bahwa scenario


tersebut tida didukung oleh bukti-bukti yang ada.
Penyakit AIDS dewasa ini telah terjangkit hampir setiap didunia
(pandemi), termasuk diantaranya Indonesia. Hingga November 1996 diperkirakan
telah terdapat sebanyak 8.400.000 kasus didunia yang terdiri dari 6,7 juta dewasa
dan 1,7 anak-anak. Di Indonesia berdasarkan data-data yang bersumber dari
Direktorat Jendaral P2M dan PLP Depertemen Kesehatan RI sampai dengan 1Mei
1998 jumlah penderita HIV/AIDS sebanyak 685 orang yang dilaporkan oleh 23
provinsi di Indonesia. Data jumlsh penderita yang sebenarnya. Pada penyakit ini
berlaku teori Gunung Es dimana penderita yang kelihatan hanya sebagian kecil
dari yang semestinya. Untuk itu WHO mengestimasikan bahwa 1 penderita yang
terinfeksi telah terdapat kurang lebih 100-200 penderita HIV yang belum
diketahui.
Penyakit AIDS telah menjadi masalah internasional karena dalam waktu
singkat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara.
Dikatakan pula bahwa epidemic yang terjadi tidak saja mengenal penyakit
(AIDS), virus (HIV) tetapi juga reaksi/dampak negative berbagai bidang seperti
kesehatan, social, ekonomi, politik, kebudayaan dan demografi. Hal ini
merupakan tantangan yang harus diharapi baik oleh negara maju maupun negara
berkembang.

2. PENGERTIAN AIDS
Acquired Immunoficiency Syndrome (AIDS) adalah Syndrome akibst
defisiensi immunitas selluler tanpa penyebab lain yang diketahui, ditandai dengan
infeksi oportunistik keganasan berakiba penderita berakibat fatal. Munculnya
Syndrome ini erat hubungannya dengan berkurangnya zat kekebalan tubuh yang
prosesnya tidaklah terjadi seketika melainkan sekitar 5-10 tahun setelah seseorang
terinfeksi HIV. Berdasarkan hal tersebut maka penderita AIDS dimasyarakat
digolongkan kedalam 2 kategori yaitu:
a. Penderita yang mengidap HIV dan telah menunjukkan gejala klinis (penderita
AIDS positif).
b. Penderita yang mengidap HIV, tetapi belum menunjukkan gejala klinis (penderita
AIDS negatif).
Menurut Suensen (1989) terdapat 5t-10 juta HIV positif yang dalam waktu
5-7 mendatang diperkirakan 10-30% diantaranya menjadi penderita AIDS. Pada
tingkat pandemi HIV itu dapat berkembang lebih lanjut dan menyebabkan
kelainan imunologis yang luas dan gejala klinik yang bervariasi. AIDS merupakan
penyakit yang sangat berbahaya karena mempunyai case fatality rate 100% dalam
5 tahun setelah diagnose AIDS ditegakkan, maka semua penderita akan
meninggal.

3. CARA PENULARAN
Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu
penyakit yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang rentan,
tempat keluar kuman dan tempat masuk kuman (portd entre). Virus HIV sampai
saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T dan sel otak sebagai organ
sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh. Sebagai
vehikulum yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan kepada
orang lain adalah cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti menularkan
diantaranya semen, cairanvagina atau servik dan darah penderita. Banyak cara
yang diduga menjadi cara penularaan virus HIV, namun hingga kini cara
penularan HIV yang diketahui adalah melalui:
A. Transmisi Seksual
Penularan (transmisi) HIV sacara seksual terjadi ketika ada kontak antara
sekresi cairan vagina atau preseminal seseorang dengan rectum, atau membrane
mukaso mulut pasanganya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih
berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan
seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral.
Kekerasan seksual secara umum menungkatkan risiko penularaan HIV karena
pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap
rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV. Penyebabnya gangguan
pertahanan jaringan epitel risiko penularan HIV karena adanya borok alat
kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit
dan makrofaga) pada semen dan sekresi vagina. Penelitian epidermiologis dari

Afrika Sub-Sahara, Eropa, dan Amerika Serikat. Menunjukkan bahwa terdapat


sekitar empat kali lebih besar risiko terinfaksi AIDS akibat adanya borok alat
kelamin seperti yang disebabkan oleh sifils dan/atau chancroid. Resiko tersebut
juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular
seksual seperti kencing nabah, infeksi Chlamydia, dan trikomoniasis yang
menyebabkan pengumpulan local lifosit dan makrofaga. Transmisi HIV
bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan
pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan dari bervariasi
pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antar orang. Pada penelitian
Darrow (1985) ditemukan resiko seropositive untuk zat anti terhadap HIV
cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada pasangan tidak tetap.
Orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan merupakan
kelompok manuasia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.
Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual.
1)

Homoseksual
Didunia barat, Amerika Serikat dan Eropa tingkat promiskuitas

homoseksual menderita AIDS, berumur antara 20-40 tahun dari semua


golongan rusial. Cara hubungan seksual anogenetal merupakan perilaku
seksual dengan resiko tinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra seksual
yang pasif menerima ejakulasi semen dari seseorangan pengidap HIV. Hal ini
sehubungan dengan mukosa rectum yang sangat tipis dan mudah sekali
mengalami pertukaran pada saat berhubungan secara anogenital.

2) Heteroseksual
Di Afrika dan Asia Tenggara cara penularan utama melalui hubungan
heteroseksual pada promiskuitas dan penderiDi Afrika dan Asia Tenggara cara
penularan utama melalui hubungan heteroseksual pada promiskuitas dan
penderita terbanyak adalah kelompok umur seksual pada promiskuitas dan
penderita terbanyak adalah kelompok umur seksual aktif baik pria maupun
wanita yang mempunyai banyak pasangan dan berganti-ganti.
B. Transmisi Non Seksual
Jalur penularan ini terutaemofilia, dan resipien terutama berhubungan
dengan obat suntik, penderita hemophilia, dan resepien transfusi darah dan produk
darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang
mengandung darah yang terkontaminasi oleh organism biologis penyebab
penyakit (pathogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi
juga hepatitis B dan hepatitis C. Berbagi penggunaan jarum suntik merupakan
penyebab sepertiga dari semua infeksi baru HIV dan 50% infeksi hepatitis C di
Amerika Uara, Republik Rakyat Cina, dan Eropa Timur.
1) Transmisi Parenral
a. Transmisi melalui benda Merupakan akibat penggunaan jarum suntik
dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang telah terkontaminasi, misalnya
pada penyalah gunaan narkotik suntik yang menggunakan jarum suntik
yang tercemar secara bersama-sama. Di samping dapat juga terjadi
melaui jarum suntik yang di pakai oleh petugas kesehatan
tanpa disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi
parenral ini kurang dari 1%.

b. Darah/produk darah merupakan transmisi melalui transfuse atau


produk darah di negara-negara barat sebelum 1985. Sesudah tahun
1985 transmisi melalui jalur ini di negara barat sangat jarang, karena
darah donor telah diperoksa sebelum ditransfusikan. Resiko retular
infeksi/HIV lewat transfusi darah adalah lebih dari 90%.
2) Transmisi Transplasental
Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai
resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan
sewaktumenyusui. Penularan melalui air susu ibu (ASI) termasuk penularan
dengan resiko rendah.

4. PATOGENESIS
AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV . HIV adalah
retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia,
seperti sel T CD4+ (sejenis sel T), makrofaga, dan sel dendritik. HIV merusak sel
T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ hingga
jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter (L) darah, maka
kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut
AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian
timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang diidentifikasi dengan
memeriksa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu. Dasar
utama pathogenesis HIV adalah kurangnya jenis limposit T helper/induser yang
mengandung marker CD 4 (sel T 4). Limpfosit T 4 merupakan pusat dan sel utama
yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam menginduksi fungsi-

fungsi imunologik. Menurun atau hilangnya sistem imunitas seluler, terjadi karena
HIV secara selektif menginfeksi sel yang berperan membentuk zat antibody pada
sistem kekebalan tersebut, yaitu sel lymfosit T4. Setelah HIV mengikat diri pada
molekul CD 4, virus masuk kedalam target dan ia melepas bungkusnya kemudian
dengan anzym reverse transcryptae ia merubah bentuk RNA agar dapat bergabung
dengan DNA sel target. Selanjutnya sel yang berkembang biak akan mengundang
bahan genetic virus. I nfeksi HIV dengan demikian menjadi irreversible dan
berlangsung seumur hidup.
Pada awal infeksi, HIV tidak segera menyebab kematian dari sel yang di
infeksinya tetapi terlebih dahulu mengalami replikasi (penggandaan), sehingga
ada kesempatan untuk berkembang dalam tubuh penderita tersebut, yang lambat
laun akan menghabiskan atau merusak sampai jumlah tertentu dari sel lymfosit
T4. Setelah beberapa bulan sampai beberapa tahun kemudiam, barulah pada
penderita akan terlihat gejala klinis sebagai dampak dari infeksi HIV tersebut.
Masa antara bulan sampai lebih dari 10 tahun, rata-rata 21 bulan pada anak-anak
dan 60 bulan pada orang dewasa. Infeksi oleh virus HIV menyebab fungsi
kekebalan tubuh rusak yang mengakibatkan daya tahan tubuh berkurang atau
hilang, akibatnya mudah terkena penyakit-penyakit lain seperti penyakit ibfeksi
yang disebabkan oleh bakteri, protozoa, dan jamur dan juga mudah terkena
penyakit kanker seperti sarcoma Kaposi. HIV mungkin juga secara langsung
menginfeksi sel-sel syaraf, menyebabkan kerusakan neurologis.

5. GEJALA DAN KOMPLIKASI

Berbagai gejala AIDS umunya tidak akan terjadi pada yang memiliki sistem
kekebalan tubuh yang baik. Kebanyakan kondisi tersebut akibat infeksi oleh
bakteri,virus, fungi, dan parasit, yang biasanya dikendalikan oleh unsur-unsur
sistem kekebalan tubuh yang dirusak HIV. Infeksi oportunistik umum didapati
pada penderita AIDS. HIV memengaruhi hampir semua organ tubuh. Penderita
AIDS juga berisiko lebih besar menderita kanker seperti sarcoma Kaposi, Kanker
leher rahim, dan kanker sistem kekebalan yang disebut limfoma. Biasanya
penderita

AIDS

mrmiliki

gejala

infeksi

sistematik;

seperti

demam,

berkeringat(terutama pada malam hari), pembengkak kelenjar, kedinginan, erasa


lemah, serta penurunan berat badan. Infeksi oportunistik tertentu yang diderita
pasien AIDS, juga tergantung pada tingkat kekerapan terjadinya infeksi tersebut di
wilayah geografis tempat hidup pasien.
A. Penyakit paru-paru utama
Foto sinar-X pneumonia pada paru-paru, disebabkan oleh Pneumocystis
jirovecii. Pneumonia pneumocystis (PCP) jarang dijumpai pada orang sehat yang
memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umunya dijumpai pada orang yang
terinfeksi HIV. Penyakit adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Sebelum adanya
diagnosis, perawatan, dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negaranegara Barat, penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. Di negaranegara berkembang, penyakit ini merupakan indikasi pertama AIDS pada orangorang yang belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul
kecuali jika jumlah CD4 kurang 200 per L.

Tunberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi


lainnya yang terkait HIV, karena dditularkan kepada orang yang sehat
(imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah
ditangani bila telah diindentifikasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, serta
dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Namun demikian, resistensi TBC
terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini.
Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang
digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya,
namun tidaklah demikian yang terjadi negara-negara berkembang tempat HIV
paling banyak ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4>300 sel
per L), TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi
HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh
lainnya (tuberculosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak
spesifik (konstitusional) sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan aluran
pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf
pusat. Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan
tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.

10

B. Penyakit saluran pencernaan utama


Ekofasigitis adalah peradangan pada kerongkongan (esophagus), yaitu jalur
makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini
terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau (herpes simpleks-1 atau virus
sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteri, meskipun kasusnya
langka. Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat karena
berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti
Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi
oportunistik

yang

tidak

umum

dan

virus

(seperti

Kriptosporindisis,

Mikrosporidiosis,mplex, dan virus sitomegalo, Mycobakcterium avium complex


(CMV) yang merupakan penyebab kolitis). Pada beberapa kasus, diare terjadi
sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV,
atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu,
diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk
menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir
infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara
saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen
penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV.
C. Penyakit syaraf dan kejiwaan utama
Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena
gangguan pada syaraf (neuropsyhiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi
organisme atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat
langsung dari penyakit itu sendiri.

11

Toksoplamosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, disebut


Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan
radang otak akut (tokoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan
menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru. Meningitis kriptokokal adalah
infeksi meninges (membrane yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang)
oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit
kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan
kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.
Leukoensefalopati multifocal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu
penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (myelin) yang menutupi serabut
sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaraan impuls syaraf. Ia disebabkan
oleh virus JC, yang 70% populsinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi
laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah,
sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. P enyakit ini berkembang cepat
(progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian
dalam waktu setelah diagnosis.
Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental
(demensia) yang terjadi karena menurunya metabolism sel otak (ensefalopati
metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV, dan dorong pula oleh terjadinya
pengaktifan imun oleh makrofag dan microglia pada otak yang mengalami infeksi
HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin. Kerusakan syaraf yang spensifik,
tampak dalam bentuk ketidak normalan kognitif,perilaku,dan motorik, yang
muncul bertahun-tshun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubung dengan

12

keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma
darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar
10-20%, mamun di India hanya 1-2% pengidap infeksi HIV.P erbedaan ini
mungkin terjadi katena adanya perbedaan suptipe di India.
D. Kanker dan Tumor ganas (malignan)
Sarkoma Kaposi
Pasien dengan infeksi HIV dasarnya memiliki risiko yang lebig tinggi
terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena oleh virus DNA penyebab
mutasi genetik; yaitu terutama virus Eptein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma
Kaposi(KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV).
Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang
terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun
1981 adalah salah satu pertand pertama wabah AIDS. Penyakit ini sebabkan oleh
virus dari subfamily gammaherpervirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga
disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit
dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama
mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru.
Kanker gatah tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang
menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah benning, misalnya
seperti limfoma Burkitt (Burkitts lymphoma) atau sejenis (Burkitts-like
lymphoma) diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf
pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini
seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa

13

kasus,limfoma adalah tanda utama AIDS.Limfoma ini sebagian besar disebabkan


oleh virus Eptein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi. Kanker leher rahim
pada wanita yang terinfeksi HIV dianggap tanda utanma AIDS.Kanker ini
disebabkan oleh virus papiloma manysia.
Pasien yang terinfeksi HIV jugs terkens tumor lainnya, seperti limfoma
Hodgkin.kanker usus besar bawah (rectum) dan kanker anus. Namun demikian,
banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar
(colon), yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempattempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam
menangani AIDS, kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS
menurun, namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi paenyebab
kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV.
E. Infeksi oportunistik lainnya
Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak
speitik, terutama semam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi opoetunistik
ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo.
Virus sitomegala dapat menyebabkan gangguan radang usus besar (kolitis) seperti
yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis
sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan
oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi
oportunistik ketiga yang paling umu (setelah tuberculosis dan kriptokosis) pada
orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara.

14

6. PENGOBATAN ALTERNATIF
Berbagai bentuk pengobatan alternative digunakan untuk menangani gejala
atau mengubah arah perkembangan penyakit. Akupunktur telah digunakan untuk
mengatasi beberapa gejala, misalnya kelainan syaraf tepi (peripheral neuropathy)
seperti kaki kram, kesemutan atau nyeri; namun tidak menyembuhkan infeksi
HIV. Tes-tes uji acak klinis terhadap efek obat-obatan.

7. UPAYA PENCEGAHAN AIDS


Mengingat sampai saat ini obat untuk mengobati dan vaksin untuk
mencegah AIDS belum di temukan, maka alternative untuk menanggulangi
masalah AIDS yang terus meningkat ini adalah upaya pencegahan oleh semua
pihak untuk tidak terlibat dalam lingkaran transmisi yang mungkin dapat terserang
HIV. Pada dasarnya upaya pencegahan AIDS dapat dilakukan oleh semua pihak
asal mengetahui cara-cara penyebaran AIDS. Ada 2 cara pencegahan AIDS yaitu
jangka pendek dan jangka panjang:
A. Upaya pencegahan AIDS jangka pendek
Upaya pencegahan jangka pendek adalah dengan KIE, memberikan
informasi kepada kelompok resiko tinggi bagaimana pola penyebaran virus AIDS
(HIV), sehingga dapat diketahui langkah-langkah pencegahannya.
Ada 3 pola penyebaran virus HIV :
1) Melalui hubungan seksual
2) Melalui darah
3) Melalui ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya

15

1. Pencegahan Infeksi virus HIV melalui hubungan seksual


Virus HIV pada semua cairan tubuh penderita tetapi yang terbukti
berperan dalam penularan AIDS adalah mani, cairan vagina, dan darah. HIV
dapat menyebar melalui hubungan seksual pria ke wanita, dari wanita ke pria
dan pria ke pria. Setelah mengetahui cara penyebaran HIV melalui hubungan
seksual maka upaya pencegahan adalah dengan cara:
-

Tidak melakukan hubungan seksual. Walaupun cara ini sangat efektif,


namun tidak mungkin dilaksanakan sebab seks merupakan kebutuhan

biologis.
Melakukan hubungan seksual hanya dengan seorang mitra seksual

yang setia dan tidak terinfeksi HIV (homogami).


Mengurangi jumlah mitra seksual sesedikit mungkin.
Hindari hubungan seksual dengan kelompok rediko tinggi tertular

AIDS.
Tidak melakukan hubungan anogenital.
Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir hubungan seksual

dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS dan pengidap virus HIV.
2. Pencegahan Infeksi HIV melalui Darah
Darah merupakan media yang sangat cocok untuk hidup virus AIDS.
Langkah-langkah untuk pencegahan terjadinya penularan melalui darah
adalah:
-

Darah yang digunakan untuk transfuse diusahakan bebas HIV


dengan jalan memeriksa darah donor. Hal ini masih belum dapat
dilaksanakan

sebab

memerlukan

biaya

yang

tinggi

serta

peralatan canggih karena prevensi HIV di Indonesia masih rendah,


maka pemeriksaan donor darah hanya dengan uji petik.

16

Menghimbau kelompok resiko tinggi tertular AIDS untuk tidak


menjadi donor darah. Apabila terpaksa karena menolak, menjadi
donor menyalahi kode etik, maka darah yang dicurigai harus di

buang.
Jarum suntik dan alat tusuk yang lain harus disterilisasikan secara

baku setiap kali habis dipakai.


Semua alat yang tercemar dengan cairan tubuh penderita AIDS

harus disterilisasikan secara baku.


Kelompok penyalahgunaan narkotik
kebiasaan

penyuntikan

obat

ke

harus

dalam

menghentikan
badannya

serta

menghentikan kebiasaan menggunakan jarum suntik bersama.


- Gunakan jarum suntik sekali pakai (disposable)
- Membakar semua alat bekas pengidap virus HIV.
3. Pencegahan Infeksi HIV melalui ibu
Ibu hamil yang mengidap virus HIV dapat memindahkan virus tersebut
kepada janinnya. Penularan dapat terjadi pada waktu bayi di dalam
kandungan, pada waktu persalinan dan sesudah bayi di lahirkan. Upaya untuk
mencegah agar tidak terjadi penularan hanya dengan himbauan agar ibu
terinfeksi HIV tidak hamil.
B. Upaya Pencegahan AIDS Jangka Panjang
Penyebaran AIDS di Indonesia (Asia Pasifik) sebagian besar adalah karena
hubungan seksual, terutama dengan orang asing. Kasus AIDS yang menimpa
orang Indonesia adalah mereka yang pernah ke luar negeri dan mengadakan
hubungan seksual dengan orang asing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
resiko penularan dari suami pengidap HIV ke istrinya adalah 22% dan istri
pengidap HIV ke suaminya adalah 8%. Namun ada penelitian lain yang

17

berpendapat bahwa resiko penularan suami ke istri dan istri ke suami di anggap
sama. Kemungkinan penularan tidak terganggu pada frekuensi hubungan seksual
yang dilakukan suami istri. Mengingat maslah seksual masih merupakan barang
tabu di Indonesia, karena norma-norma budaya dan agama yang masih kuat,
sebetulnya masyarakat kita tidak perlu risau terhadap penyebaran virus HIV.
Namun demikian kita tidak boleh lengah sebab negara kita merupakan negara
terbuka dan tahun 1991 adalah tahun melewati Indonesia.
Upaya jangka panjang yang harus kita lakukan untuk mencegah
merajalelanya AIDS adalah merubah sikap dan perilaku masyarakat dengan
kegiatan yang meningkatkan norma-norma agama maupun social sehingga
masyarakat dapat berperilaku seksual yang bertanggung jawab. perilaku seksual
yang bertanggung jawab adalah :
1) Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali.
2) Hanya melakukan hubungan seksual dengan mitra seksual yang setia dan
tidak terinfeksi HIV (monogamy).
3) Menghindari hubungan seksual dengan wanita-wanita tuna susila.
4) Menghindari hubungan sekdual dengan orang yang mempunyai lebih dari
5)
6)
7)
8)

satu mitra seksual.


Mengurangi jumlah mitra seksual sedikit mungkin.
Hindari hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS.
Tidak melakukan hubungan anogenital.
Gunakan kondom mulai dari awal sampai akhir seksual.
Kegiatan tersebut dapat berupa dialog antara tokoh-tokoh agama,

penyebararluasan informasi tentang AIDS dengan bahasa agama, melalui


penataran P4 dan lain-lain yang bertujuan untuk mempertebal iman serta normanorma agama menuju perilaku seksual yang bertanggung jawab.

18