Anda di halaman 1dari 27

14

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian sinonim ini tidak terlepas dari penelitian yang telah dilakukan
sebelumnya. Seperti yang telah ditulis oleh Dwiky Yoseph Cristopher pada tahun
2008 yang berjudul Makna Verba yang Bersinonim Suku dan Konomu.
Simpulan yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah kedua kata tersebut
memiliki arti leksikal suka, gemar dan tertarik. Namun salah satu perbedaan
mendasar antara verba suku dan konomu adalah dilibatkannya emosi atau perasaan
pada kalimat yang mengunakan verba suku. Perbedaan mendasar lainnya adalah
bahwa suku dilakukan tanpa kehendak pelaku (muishi), sedangkan konomu
dilakukan atas kehendak pelaku (ishi). Walaupun kedua verba tersebut secara
leksikal memiliki kedekatan makna, tetapi kedua verba tersebut memiliki nuansa
yang berbeda sehingga tidak dapat saling bersubtitusi.

15

Adapun penelitian yang telah ditulis oleh Dede Sugita pada tahun 2010 yang
berjudul Verba Kaeru dan Modoru (Satu Tinjauan Sintaksis dan Semantik)
dengan simpulan bahwa untuk mengetahui persamaan dan perbedaan kedua kata
tersebut maka kita harus mengetahui unsur makna yang terkandung di dalamnya
yaitu pada verba kaeru cenderung digunakan untuk menyatakan untuk
menyatakan pulang (ke rumah) atau kembali ke tempat asal, sedangkan verba
modoru lebih sering digunakan untuk menyatakan makna kembali tempat atau
lokasi awal. Selain itu makna yang muncul dari setiap penggunaan verba kaeru
dan modoru biasanya sangat dipengaruhi oleh keterangan yang menyertainya
Namun penelitian yang penulis lakukan berbeda karena mengambil judul
Verba Bersinonim Sawaru dan Fureru dianalisis melalui makna semantik dan
belum ada yang meneliti.

2.2. Semantik

Menurut Chaer (1994:2) kata semantik dalam bahasa Indonesia (Inggris :


semantics) berasal dari bahasa Yunani sema (kata benda) yang berarti tanda atau
lambang. Yang dimaksud dengan tanda atau lambang di sini sebagai padanan kata
dari sema itu adalah tanda linguistik objek. Sedangkan menurut Sutedi

16

(2003:103), semantik atau imiron merupakan salah satu cabang linguistik yang
mengkaji tentang makna. Semantik memiliki peranan penting, karena bahasa yang
digunakan dalam komunikasi tiada lain hanya untuk menyampaikan suatu makna.
Misalnya, seseorang menyampaikan ide dan pikiran kepada lawan bicara, lalu
lawan bicaranya dapat memahami apa yang dimaksud, karena dia dapat menyerap
makna yang disampaikannya.
Kata semantik itu kemudian disepakati sebagai istilah yang digunakan untuk
bidang linguistik yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik
dengan hal-hal yang ditandainya. Atau dengan kata lain, bidang studi linguistik
yang mempelajari makna atau arti bahasa. Oleh karena itu, kata semantik dapat
diartikan sebagai ilmu tentang makna atau arti, yaitu salah satu dari tiga tataran
analisis bahasa : fonologi, gramatikal dan semantik.
Selain istilah semantik dalam sejarah linguistik ada pula digunakan istilah
lain seperti semiotika, semiologi, semasiologi, sememik, dan semik untuk merujuk
pada bidang studi yang mempelajari makna atau arti dari suatu tanda atau
lambang. Namun, istilah semantik lebih umum digunakan dalam studi linguistik
karena istilah-istilah yang lainnya itu mempunyai cakupan objek yang lebih luas,
yakni mencakup makna tanda atau lambang pada umumnya. Termasuk tanda-

17

tanda lalu lintas, kode morse, dan tanda-tanda ilmu matematika. Sedangkan
cakupan semantik hanyalah makna atau arti yang berkenaan dengan bahasa
sebagai alat komunikasi verbal.
Dalam bahasa Jepang semantik disebut imiron ( ) yang mempunyai
makna sebagai berikut,

(Shinmura, 1955:151)
Tango ya keitaso no imi no henka wo rekishi teki shinri gaku teki ni
kenkyuu suru gengogaku no bumon.
Suatu cabang linguistik yang meneliti perubahan dan struktur makna kata
dan morfem berdasarkan sejarah dan pisikologinya.
Sedangkan Sakuma (2004:17) mendefinisikan semantik sebagai berikut,

Go, keitaso to bun ga arawasu imi o taishou to suru bunya ga imiron desu.
Imiron dewa, mazu imi to wa nani ka to iu teigi ga okonawaremasu. Koushite
teigisareta imi no seishitsu o, tango, keitaso to bun no zorezore ni tsuite bunseki
shite iku no ga imiron no mokuhyou desu.
Semantik adalah bidang ilmu yang mengkaji tentang makna kata, morfem,
dan kalimat. Di dalam semantik, pertama yang di bahas adalah tentang pengertian

18

makna. Lalu tujuan dari semantik itu sendiri adalah menganalisis sifat definisi
makna tersebut terhadap kata, morfem, dan kalimat.
Objek kajian semantik di antaranya adalah makna kata (go no imi), relasi
makna (go no imi kankei) antar satu kata dengan kata yang lainnya, makna frase
dalam suatu idiom (ku no imi), dan makna kalimat (bun no imi). Semantik dibagi
atas semantik gramatikal dan semantik leksikal.

2.3. Makna

Imi wa gengo no motsu dentatsu sayou ni kakasenai mono de aru. Sore jitai
ga gainen toshite sonzai shite iru no dewa naku, hoka no youso to no sougo
kankei, taikei ni okeru kachi ni yotte gaibuteki ni kitei sareru no de aru.
Makna adalah unsur yang tidak dapat dipisahkan dari fungsi bahasa sebagai
alat komunikasi. Makna tersebut tidak berdiri sendiri sebagai ide, melainkan
hubungan timbal balik dengan unsur lain yang telah disepakati dengan pihak luar
berdasarkan nilai-nilai. (Okimori, 2006:84)
Makna yang bermula dari kata ternyata juga memiliki hubungan erat dengan
sistem sosial budaya maupun realitas luar yang diacu, pemakai, maupun konteks
sosial-situasional dalam pemakaian.

19

Okimori (2006:85) juga membagi makna ke dalam tiga hubungan makna,


yaitu:
1. (ruigikankei)
Disebut juga dengan (dougigo), yaitu hubungan makna yang
mempunyai makna mirip.
2. (hangikankei)
Hubungan makna yang mempunyai makna berlawanan.
3. (taishoukankei)
Disebut juga dengan (rinsetsuteki na kankei), yaitu
hubungan makna yang mempunyai makna dekat dan sederajat.

2.3.1. Jenis-jenis Makna


2.3.1.1. Makna Leksikal dan Makna Gramatikal
Makna lambang kebahasaan yang masih bersifat dasar, yakni belum
mengalami konotasi dan hubungan gramatik dengan kata yang lain, disebut
makna leksikal. Dalam bahasa Jepang, makna leksikal disebut jishoteki imi atau
goiteki imi. Menurut Sutedi (2003:106) makna leksikal adalah makna kata yang
sesungguhnya sesuai dengan referensinya sebagai hasil pengamatan indra dan

20

terlepas dari unsur gramatikalnya, atau bisa juga dikatakan sebagai makna asli
suatu kata.
Makna yang timbul akibat adanya peristiwa gramatik, baik antara imbuhan
dengan kata dasar maupun antara kata dengan kata atau frasa dengan frasa,
disebut makna gramatikal.
Dalam bahasa Jepang, makna gramatikal disebut bunpouteki imi, yaitu
makna yang muncul akibat proses gramatikalnya. Dalam bahasa Jepang, joshi
(partikel) dan jodoushi (kopula) tidak memiliki makna leksikal, tetapi memiliki
makna gramatikal, sebab baru jelas maknanya jika digunakan dalam kalimat.
(Sutedi, 2003:106)
2.3.1.2. Makna Denotatif dan Makna Konotatif
Makna denotatif dalam bahasa Jepang disebut meijiteki imi atau gaien, yaitu
makna yang berkaitan dengan dunia luar bahasa seperti suatu objek atau gagasan
dan bisa dijelaskan dengan analisis komponen makna.
Makna kata yang telah mengalami penambahan terhadap makna dasarnya
disebut makna konotatif atau makna tambahan. Dalam bahasa Jepang, makna
konotatif disebut anjiteki imi atau naihou, yaitu makna yang ditimbulkan karena
perasaan atau pikiran pembicara dan lawan bicaranya. (Sutedi, 2003:107).

21

2.3.1.3. Makna Dasar dan Makna Perluasan


Makna dasar disebut dengan kihongi, yaitu makna asli yang dimiliki oleh
suatu kata. Makna asli yang dimaksud yaitu makna bahasa yang digunakan pada
masa sekarang ini. Sedangkan makna perluasan atau tengi adalah makna yang
muncul sebagai hasil perluasan dari makna dasar, diantaranya akibat penggunaan
secara kiasan. Perubahan makna suatu kata terjadi karena berbagai faktor, seperti
perkembangan peradaban manusia pemakai bahasa tersebut, perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, atau pengaruh bahasa asing. (Sutedi, 2003:108).

2.3.2. Makna Leksikal Kata Sawaru dan Fureru


Seperti yang telah dikemukakan pada subbab sebelumnya, bahwa makna
leksikal adalah makna asli yang tertulis di dalam kamus. Jika kita memeriksa kata
sawaru dan fureru di dalam Koujien (1958:911) makna sawaruadalah
Te de sawaru. sesshoku suru. ataru. Apabila
diartikan dalam bahasa Indonesia adalah menyentuh dengan tangan, kontak,
mengenai. Sedangkan makna fureru dalam Koujien (1958:1446)
adalah Chotto sawaru, karuku ataru. Dalam
bahasa Indonesia berarti sedikit menyentuh, kena dengan lembut. Sedangkan

22

dalam Kamus Standar Bahasa Jepang Indonesia makna sawaru (1999:496)


adalah menyentuh, meraba, terganggu. Dan makna fureru dalam Kamus Standar
Bahasa JepangIndonesia (1999:102) yaitu menyentuh, mengenai, bersinggungan.

2.4. Pengertian Sinonim


Secara etimologi kata sinonimi atau disingkat sinonim berasal dari bahasa
Yunani kuno, yaitu onoma yang berarti nama, dan syn yang berarti dengan.
Maka secara harfiah kata sinonimi berarti nama lain untuk benda atau hal yang
sama (Chaer, 1994:82).
Sinonim dalam bahasa Jepang disebut dengan ruigigo. Ruigigo (sinonim)
merupakan salah satu objek kajian semantik. Sinonim merupakan beberapa kata
yang maknanya hampir sama. Misalnya kedua verba dalam bahasa Jepang di
bawah ini jika dipadankan ke dalam bahasa Indonesia menjadi satu kata, yaitu
kata menyentuh.
Contoh : Sawaru dan Fureru.
Berikut ini adalah beberapa definisi tentang ruigigo (sinonim), diantaranya
adalah :

23

Dalam Nihon Bunpo Daijiten (1971:912) pengertian ruigigo adalah sebagai


berikut,

Gokei wa kotonaru ga, imi ga hotondo douitsu de aru. Futatsu ijou no go.
Ruigi, douigi tomo. Hyougen taishou wa douitsu de aru ga, hanashi te no taishou
haaku no shikata ni yotte, gokei ni soui ga shoujiru.
Bentuk katanya berbeda tetapi maknanya hampir sama. Dua buah kata atau
lebih. Disebut juga dengan ruigi atau douigi. Walaupun objek yang dinyatakan
sama, tetapi akan terjadi perbedaan dalam bentuk katanya berdasarkan cara
pemahaman objek si pembicara.
Ruigigo adalah beberapa kata yang memiliki bunyi ucapan yang berbeda
namun memiliki makna yang sangat mirip (Dahidi, 2004:114).
Menurut Kindaichi (1994:1375) yang menjelaskan bahwa ruigigo adalah :

Imi ga yoku nite iru.


Artinya sangat mirip.
Yang disebut dengan sinonim adalah kata yang memiliki arti sama atau
sangat mirip.

24

Berdasarkan pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud


dengan sinonim atau ruigigo adalah suatu kata atau beberapa kata yang memiliki
bentuk dan ucapan yang berbeda namun memiliki arti yang sama atau mirip.

2.4.1. Cara Mengidentifikasi Sinonim


Sutedi

(2003:129)

memberikan

beberapa

pemikiran

tentang

cara

mengidentifikasi suatu sinonim, seperti berikut :


a. Chokkanteki (secara intuitif langsung) bagi para penutur asli dengan
berdasarkan pada pengalaman hidupnya. Bagi para penutur asli jika
mendengar suatu kata, maka secara langsung dapat merasakan bahwa kata
tersebut bersinonim atau tidak.
b. Beberapa kata jika diterjemahkan ke dalam bahasa asing, akan menjadi satu
kata. Misalnya kata oriru, sagaru, kudaru dan furu dalam bahasa Indonesia
bisa dipadankan dengan kata turun.
c. Dapat menduduki posisi yang sama dalam suatu kalimat dengan perbedaan
makna yang kecil. Misalnya pada kalimat kaidan o agaru ()
dan pada kalimat kaidan o noboru () yang artinya sama dengan
menaiki tangga.

25

d. Dalam menegaskan suatu makna, kedua-duanya bisa digunakan secara


bersamaan (sekaligus). Misalnya, kata hikaru () dan kagayaku ()
kedua-duanya berarti bersinar, bisa digunakan secara bersamaan seperti
pada kalimat berikut :

Hoshi ga hikari kagayaiteiru.


Bintang bersinar terang.
Chaer (1994:297) mengungkapkan bahwa relasi sinonim bersifat dua arah.
Maksudnya, kalau satu satuan ujaran A bersinonim dengan satuan ujaran B, maka
satuan ujaran itu bersinonim dengan satuan ujaran A. Namun dua buah ujaran
tersebut, maknanya tidak akan persis sama. Ketidaksamaan itu terjadi karena
barbagai faktor, antara lain :
1. Faktor waktu.
Misalnya kata kempa dan stempel. Kata kempa hanya cocok
digunakan pada konteks klasik.
2. Faktor tempat dan wilayah.
Misalnya kata saya dan beta. Kata saya dapat digunakan dimana saja,
namun kata beta hanya cocok untuk wilayah Indonesia bagian timur atau
diantara masyarakat yang berasal dari wilayah tersebut.
3. Faktor keformalan.

26

Misalnya kata uang dan duit. Kata duit hanya cocok untuk ragam tidak
formal.
4. Faktor sosial.
Misalnya kata saya dan aku. Kata saya dapat digunakan kepada siapa
saja, namun kata aku hanya cocok digunakan terhadap orang yang sebaya,
yang dianggap akrab, atau kepada yang lebih muda atau lebih rendah
kedudukan sosialnya.
5. Faktor bidang kegiatan.
Misalnya kata matahari dan surya. Kata matahari dapat digunakan
dalam kegiatan apa saja atau dapat digunakan secara umum, namun kata
surya hanya cocok digunakan pada ragam khusus seperti ragam sastra.
6. Faktor nuansa makna.
Misalnya kata melihat, melirik, menonton, dan meninjau adalah kata
yang bersinonim. Tetapi antara yang satu dengan yang lainnya tidak selalu
dapat disubtitusi, karena masing-masing memiliki nuansa makna yang
berbeda. Kata melihat memiliki makna umum; kata melirik memiliki makna
melihat dengan sudut mata; kata menonton memiliki makna melihat untuk
kesenangan; dan kata meninjau memiliki makna melihat dari jauh.
Menurut faktor-faktor di atas, dua buah kata yang bersinonim tidak akan
selalu dapat dipertukarkan atau disubtitusikan.

27

Sering dikatakan bahwa kata-kata yang bersinonim memiliki makna yang


sama dengan hanya saja bentuk-bentuk yang berbeda (Verhaar, 1996: 394). Jika
tidak ada perbedaan nuansa lagi antara dua sinonim, maka satu akan hilang dari
perbendaharaan kata, dan satunya tinggal. Yang normal dalam hubungan antar
sinonim ialah bahwa ada perbedaan nuansa dan maknanya boleh disebut kurang
lebih sama.
Hubungan kesinoniman berlaku timbal balik, kita dapat mengatakan bahwa
yang bersinonim dengan buruk adalah jelek, ataupun sebaliknya yaitu jelek
bersinonim dengan buruk. Meskipun perbedaan nuansa antar sinonim itu kecil,
namun dapat dilawankan dalam konteks tertentu.

2.4.2. Hubungan Makna dalam Ruigigo


Menurut Okimori (2006:85), bahwa jenis-jenis hubungan makna dalam
ruigigo adalah sebagai berikut :
1.

Imi ryouiki ga hotondo kasanariniau kankei.


hubungan makna yang hampir sama.

28

Hubungan makna ini dapat juga disebut dengan dougigo ( )


yang berarti benar-benar sama. Tidak ada permasalahan jika kata-kata
tersebut ditukar secara bebas dalam kalimat apapun.
Contoh :

2.

Imi ryouiki ni oite ippou ga chihou wo housetsu suru kankei.


hubungan makna di mana yang satu melingkupi yang lainya
Hubungan makna yang kedua ini mengandung pengertian bahwa dari
kata-kata bersinonim tersebut ada yang memiliki makna yang lebih luas dan
sempit. Kata yang memiliki keluasan makna lebih sempit dapat ditukar
dengan kata yang lebih luas. Akan tetapi sebaliknya, kata yang lebih luas
tidak dapat ditukar dengan kata yang keluasan maknanya lebih sempit.
Contoh :

3.

Souhou ga sorezore ichi bubun ni oite kasanariniau kankei.


hubungan makna antara kata-kata yang memiliki pengertian yang sama
pada suatu segi.

29

Hubungan yang ketiga ini memiliki makna yang sama dalam satu segi
dan bisa saling bersubtitusi dalam kalimat tanpa menyebabkan perubahan
arti, akan tetapi berbeda pengertian pada segi yang lainnya dan tidak dapat
saling bersubtitusi dalam kalimat.
Contoh :

2.5. Kelas Kata Bahasa Jepang


Kelas kata dalam setiap bahasa di dunia dan merupakan unsur dari
terbentuknya sebuah kalimat berdasarkan aturan gramatikal. Kelas kata adalah
istilah yang dipakai untuk kelas atau penggolongan kata atau penjenis kata, dalam
peristilahan bahasa inggris disebut juga part of speech. Setiap kata mempunyai
cirinya masing-masing dan kriteria yang digunakan untuk membuat klasifikasi
kata itu bermacam-macam. Kriteria yang digunakan biasanya adalah kriteria
makna dan fungsi. Kriteria makna digunakan untuk mengidentifikasi kelas verba,
nomina, adjektiva sedangkan kriteria fungsi digunakan untuk mengidentifikasi
preposisi, konjugasi, adverbia, pronominal, dan lain-lain.

30

Klasifikasi atau penggolongan kelas kata dalam bahasa Jepang disebut


hinshi bunrui ( ). Hinshi mempunyai arti kelas kata dan bunrui
mempunyai arti pembagian atau penggolongan.
Menurut Okimori (2006:96), yang dimaksud dengan hinshi adalah sebagai
berikut,

Go o keitai, imi, hataraki nado no ue kara bunrui shita kubetsu ke wo hinshi


to iu.
Kelas kata adalah pembagian kata berdasarkan bentuk, makna, dan
fungsinya.
1.

Doushi
Doushi adalah kata yang menyatakan perbuatan atau keadaan. Doushi
termasuk yougen ( ) yaitu kata yang mengalami perubahan, dapat
berfungsi sebagai predikat.

2.

neru

tidur

hashiru

berlari

Keiyoushi
Keiyoushi adalah kata yang menyatakan sifat, perasaan atau keadaan
seseorang atau benda. Keiyoushi termasuk yougen. Keiyoushi dibagi

31

menjadi dua, yaitu keiyoushi yang berakhiran i dan keiyoushi yang


berakhiran na.

3.

utsukushii

indah

kirei (na)

cantik

oishii

enak

Meishi
Meishi adalah kata yang menyatakan kata benda, orang, binatang,
tempat, atau hal-hal yang bersifat kebendaan. Meishi termasuk taigen ()
yaitu dapat berdiri sendiri, tidak mengalami perubahan, dan dapat menjadi
subjek.
Yamada

4.

nama orang

Yokohama

nama kota

Hon

buku

Fukushi
Fukushi adalah kata yang menerangkan yougen yaitu doushi dan
keiyoushi, tidak dapat berdiri sendiri, dan tidak mengalami perubahan.

32

Totemo

sangat

Marude
5.

seolah-olah

Rentaishi
Rentaishi adalah kata yang menerangkan taigen yaitu meishi, tidak
mengalami perubahan, dan selalu diletakkan di depan taigen.

6.

ano

itu

kono

ini

Setsuzokushi
Setsuzokushi adalah kata yang menghubungkan kalimat sebelumnya
dengan kalimat berikutnya, dan tidak mengalami perubahan.

7.

soshite

lalu

dakara

karena itu

Kandoushi
Kandoushi adalah kata yang menyatakan perasaan, sapaan, sahutan.
Kandoushi berdiri sendiri dan tidak mengalami perubahan.

aa

oo

33

8.

hai

ya

Jodoushi
Jodoushi adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri, mengalami
perubahan, menambahkan arti, dan terutama selalu bersama-sama dengan
yougen yaitu doushi.

9.

~tai

~masu

Joshi
Joshi adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri, selalu mengikuti
kata lain, tetapi tidak mengalami perubahan.

wa

ga

Kelas kata yang akan dijadikan bahan penelitian adalah kelas kata verba
(doushi), dan akan lebih dijelaskan pada subbab berikutnya.

2.6. Pengertian Verba

34

Terdapat beberapa definisi verba antara lain menerangkan tentang


pemakaiannya di dalam konteks kalimat dan mengklasifikasikannya. Dalam
kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa verba adalah kata yang
menggambar proses, perbuatan atau keadaan, yang juga disebut kata kerja
(Poerwadarmita, 1984:1260). Verba atau kata kerja dalam bahasa Jepang disebut
dengan doushi ( ), merupakan bagian penting dalam suatu kalimat. Selain
karena sifatnya yang mampu berdiri sendiri, verba juga memiliki keistimewaan,
yakni hanya dengan satu verba sebagai satu ujaran, sebuah kalimat juga
memposisikan diri sendiri sebagai kalimat perintah.
Pengertian doushi menurut Shinmura (1973:568) adalah sebagai berikut :

Jibutsu no dousa / sayou / sonzai / joutai nado o jikanteki ni


jizokushi, mata jikanteki ni henka shite iku mono toshite toraete hyougen
suru go.
Merupakan kata yang mengungkapkan aktivitas, aksi, keberadaan,
keadaan, dan sebagainya, yang mempertahankan atau berubah dilihat dari
segi waktunya.
Sedangkan menurut Nitta (2010:95), doushi adalah satu kelas kata yang
dipakai untuk menyatakan aktifitas, menjadi predikat, dan mengalami perubahan.

2.6.1. Klasifikasi Verba

35

Berdasarkan uraian dari Nitta, verba dapat diklasifikasikan dari berbagai


tinjauan, tetapi yang paling utama terbagi menjadi tiga, yaitu,
1. (hataraki doushi) dan (joutai doushi)
Kelompok verba yang menyatakan perbuatan, aksi dan tindakan seperti
(aruku, iku, hanasu/berjalan, pergi, berbicara) disebut
(hataraki doushi). Berlawanan dengan itu, meskipun jumlahnya
sedikit ada juga verba yang menyatakan keadaan, yaitu (joutai
doushi). (joutai doushi) ada yang menyatakan keberadaan dan
kepunyaan seperti (aru) dan (iru), kemudian yang menyatakan
kemampuan seperti (dekiru), (yomeru), dan semua verba yang
berbentuk (kanou/kemampuan), menyatakan makna perlu seperti
(iru), dan yang menyatakan konsep hubungan, seperti (kotonaru) dan
(chigau).
2. (jidoushi) dan (tadoushi)
(jidoushi) adalah verba intransitif, yaitu verba yang tidak
memerlukan objek. Sedangkan (tadoushi) adalah verba transitif, yaitu
verba yang memerlukan objek. Berikut adalah contoh (jidoushi) yang
berpasangan dengan (tadoushi) dalam suatu kalimat.
(jidoushi)

(tadoushi)

36

a.
Doa o shimeru.
Menutup pintu.
b.
Hi o kesu.
Memadamkan api.

a.
Doa ga shimaru.
Pintu tertutup.
b.
Hi ga kieru.
Api padam.

3. (ishi doushi) dan (muishi doushi).


Verba seperti (aruku/berjalan), (yomu/membaca),
(oshieru/mengajar) adalah verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan
dengan kesadaran (maksud) dari pelaku. Verba demikian disebut
(ishi doushi). Sebaliknya, verba yang menyatakan perbuatan yang dilakukan
tanpa keinginan (tidak sadar) disebut (muishi doushi).
Dalam buku dasar-dasar linguistik bahasa Jepang (2003:27), verba dalam
bahasa Jepang digolongkan ke dalam tiga kelompok berdasarkan pada bentuk
konjugasinya.
a. Kelompok I
Kelompok I disebut dengan (godan doushi), karena kelompok ini
mengalami perubahan dalam lima derertan bunyi bahasa jepang yaitu :
(a-i-u-e-o), cirinya yaitu verba yang berakhiran (gobi) huruf,
(u-tsu-ru-bu-nu-mu-ku-su-gu).
Contoh:

37

- ka-u (membeli)
- ta-tsu (berdiri)
- u-ru (menjual)
- ka-ku (menulis)
- oyo- gu (berenang)
- yo- mu (membaca)
- shi-nu (mati)
- aso-bu (bermain)
- hana-su (berbicara)
b. Kelompok II
Kelompk II disebut dengan

(ichidan doushi), karena

perubahannya hanya pada satu deretan bunyi saja. Ciri utama dari verba ini adalah
yang berakhiran suara e-ru disebut kami ichidan doushi atau yang berakhiran i-ru
disebut shimo ichidan doushi.
Contoh:
- mi-ru ( melihat)
- oki-ru ( bangun )
- ne-ru ( tidur )
- tabe-ru (makan)
c. Kelompok III

38

Verba kelompok III ini merupakan verba yang perubahannya tidak


beraturan, sehingga disebut (henkaku doushi) diantaranya terdiri dari
dua verba yaitu :
Contoh:
- suru (melakukan)
- kuru (datang)
Dalam buku Pengantar linguistik Bahasa Jepang (2000:45), verba dalam
bahasa Jepang dibagi menjadi tiga jenis yaitu :
1. Jidoushi (verba intransitif)
Jidoushi merupakan verba yang tidak disertai dengan objek penderita.
Pengertian dilihat dari huruf kanjinya yang bermakna kata yang bergerak sendiri.
Contoh:
- kawaru (tukar)
- okiru (bangun)
- neru (tidur)
- hairu (masuk)
- atsumaru (berkumpul)
- nagareru (mengalir)
2. Tadoushi (verba transitif )

39

Verba yang memiliki objek penderita. Pengertian dilihat dari makna


kanjinya yang bermakna kata yang digerakkan yang lain , jadi ada gerakan dari
subjek.
Contoh :
- okosu (membangunkan)
- nekasu (menidurkan)
- ireru (memasukkan)
- atsumeru (mengumpulkan)
- nagasu (mengalirkan)
3. Shodoushi
Shodoushi merupakan kelompok verba (doushi) yang memasukkan
pertimbangan pembicara, maka tidak dapat diubah ke dalam bentuk pasif dan
kausatif. Selain itu, shodoushi tidak memiliki bentuk perintah dan ungkapan
kemauan (ishi hyogen). Diantara verba-verba yang termasuk kelompok ini,
kelompok doushi yang memiliki makna potensial seperti ikeru ( ) dan
kireru () yang disebut kanou doushi (verba potensial).

Contoh:
-aru (ada)

- kieru (hilang)

40

- iru (memerlukan)

- mieru (terlihat)

- dekiru (bisa)

- kikoeru (terdengar)

- niau (cocok)