Anda di halaman 1dari 14

MASUKAN TENAGA AHLI ATAS LKPJ KEPALA DAERAH KABUPATEN

GRESIK AKHIR TAHUN ANGGARAN 2015

Cakupan penilaian LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2015 (LKPJ ATA) pada
kesempatan ini hanya dapat dilakukan pada 3 aspek penilaian, yakni (1)
aspek formal; (2) aspek kinerja pemerintah daerah; dan (3) aspek kebijakan
umum pengelolaan keuangan daerah. Adapun penilaian terhadap aspek
lainnya, yakni aspek: (1) penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah; (2)
penyelenggaraan tugas pembantuan; dan (3) penyelenggaraan tugas umum
pemerintahan, masih belum dapat dilakukan karena keterbatasan waktu
dan keterbatasan data pembanding/tolok ukur sebagai acuan untuk
melakukan penilaian atas 3 aspek tersebut.
I.

FORMAL DAN TEKNIS


Penilaian pertama terhadap LKPJ ATA 2015 ialah terhadap aspek formal
penyusunan LKPJ ATA sebagaimana diatur dalam PP No. 3 Tahun 2007,
yakni sebagai berikut:
1. Tolok ukur/acuan penilaian LKPJ ATA. Penilaian DPRD terhadap
LKPJ

ATA

pada

dasarnya

adalah

kegiatan

untuk

mencocokkan/membandingkan mengenai program/kegiatan berikut


pagu

anggaran

yang

pelaksanaannya.

Guna

pelaksanaan

suatu

telah
menilai

disepakati
tingkat

program/kegiatan,

dengan

realisasi/

keberhasilan/kegagalan
dilakukan

dengan

cara

membandingkan antara realisasi pelaksanaan program/kegiatan


dengan target kinerja yang ditetapkan, berdasarkan indikator yang
dijadikan sebagai alat ukur keberhasilan atas program/kegiatan
dimaksud. Adapun tolok ukur penilaian LKPJ ialah:
a. RPJPD;
b. RPJMD;

c. RKPD;
d. KUA/PPAS;
e. RKA/DPA SKPD;
f. Indikator kinerja program & kegiatan; dan
g. Perda APBD & Perda APBD Perubahan.
Dalam penilaian LKPJ ATA 2015 hanya terdapat beberapa tolok ukur
yang tersedia yakni huruf b dan huruf f, sedangkan tolok ukur
lainnya tidak tersedia sehingga tidak dapat dilakukannya penilaian
secara optimal terhadap LKPJ ATA 2015.
Rekomendasi:
Agar mendapatkan penilaian yang maksimal terhadap LKPJ ATA
pada tahun-tahun berikutnya, maka sebaiknya semua tolok ukur
penilaian diberikan/dilengkapi, sehingga dapat digunakan untuk
membandingkan

dengan

capaian

atau

realisasi

pelaksanaan

program/kegiatan dengan target kinerja yang ditetapkan.

2. Format LKPJ. Berdasarkan ketentuan Pasal 16 PP No. 3 Th 2007,


bahwa format penulisan LKPJ harus berpedoman pada Lampiran III
PP a quo. Dalam dokumen LKPJ ATA 2015 terdapat beberapa
ketentuan yang tidak sesuai dengan Lampiran III PP No. 3 Th 2007.
Penulisan yang tidak sesuai misalnya pada Bab IV C, D, E, dan F
yang seharusnya masuk menjadi bagian tidak tidak terpisahkan
dengan Bab III bagian target dan realisasi belanja atau Huruf C dan
Huruf D menjadi bagian dari Urusan Sosial, serta huruf E menjadi
bagian dari urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri.
Penulisan Bab V juga tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 21 dan
Lampiran III PP No. 3 Tahun 2007.
Relomendasi:

Agar

LKPJ

memenuhi

aspek

formal/sistematika,

sebaiknya

dilakukan perbaikan terhadap sistematika LKPJ sesuai dengan PP


No. 3 Tahun 2007.

3. Waktu pembahasan yang terbatas. Dalam ketentuan Pasal 23 PP


No. 3 Tahun 2007 bahwa batas waktu maksimal keputusan DPRD
atas LKPJ ialah 30 (tiga puluh) hari sejak LKPJ diterima oleh DPRD.
Dengan demikian maka waktu untuk melakukan pembahasan LKPJ
sangatlah singkat dan jika tidak ditanggapi dalam jangka waktu 30
hari setelah LKPJ diterima, maka dianggap tidak ada rekomendasi
untuk penyempurnaan.
Rekomendasi:
Perlu dilakukannya pembahasan secara optimal/intens, efektif, dan
efisien terhadap LKPJ tersebut sehingga menghasilkan penilaian dan
rekomendasi yang maksimal pula.

II. KINERJA PEMERINTAH DAERAH


Penilaian kedua terhadap LKPJ ATA 2015 ialah dilakukan terhadap
peningkatan kinerja pemerintah daerah yang bertumpu pada empat
indikator kinerja utama (IKU), yaitu: (1) Pertumbuhan Ekonomi;
(2)Tingkat

Pengangguran Terbuka; (3) Jumlah Penduduk Miskin;

(4)Terhadap Total Penduduk Gresik; dan (4) Indeks Pembangunan


Manusia.
1. Pertumbuhan Ekonomi. Kinerja Pertumbuhan ekonomi Gresik pada
tahun 2015 mencapai 6,15%, menurun 0,88 poin bila dibandingkan
tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 tumbuh sebesar

7,03%. Namun demikian, patut diapresiasi bahwa pertumbuhan


ekonomi Gresik 2015 tergolong tinggi dibandingkan pertumbuhan
ekonomi di Kabupaten/Kota di Jawa Timur maupun pertumbuhan
ekonomi Provinsi Jawa Timur sebesar 5,44% dan pertumbuhan
ekonomi nasional sebesar 4,79%. Akan tetapi jika diukur dari
RPJMD 2011-2015, pertumbuhan ekonomi tahun 2015 ditargetkan
sebesar 7,11%, sehingga realisasi pertumbuhan ekonomi tahun
2015 belum mencapai target sebagaimana tercantum dalam RPJMD
2011-2015. Begitu juga halnya terhadap sasaran pertumbuhan
ekonomi di Jawa Timur tahun 2015 sebesar 6,2% dalam RPJMN
2015-2019

(Perpres

No. 2 Tahun 2015

Buku III hlm 7-7),

pertumbuhan ekonomi Gresik masih di bawah sasaran sebesar


0,05%.
Dari sisi kajian sektoral, pertumbuhan ekonomi Gresik masih
ditopang pertumbuhan tiga sektor PDRB yang tumbuh di atas 10%,
yaitu; industri pengolahan (48,20%); pertambangan dan penggalian
(12,25%), dan perdagangan besar dan eceran (11,32%).
Rekomendasi terhadap indikator pertumbuhan ekonomi ialah;
- Mencermati adanya kesenjangan antara tiga sektor yang tumbuh
maksimal

dengan

tingkat

pertumbuhan

sektor

pertanian,

kehutanan, dan perikanan yang masih di angka 7,1% dan


pertambangan dan penggalian sebesar 12,25%, maka perlu
dilakukan intensifikasi kebijakan lingkage antara sektor pertanian
serta pertambangan dan penggalian khususnya dengan sektor
industri pengolahan yang mampu tumbuh 48,20%. Hal ini
khususnya untuk menjamin bahwa paradigma pro growth pada
sektor pertambangan dan penggalian mampu berjalan seiring
dengan paradigma pro poor di sektor pertanian/pedesaan. Dengan

adanya

intensifikasi

dan

lingkage

antara

sektor

pertanian,

kehutanan, dan perikanan serta sektor pertambangan dan


penggalian

dengan

sektor

industri

pengolahan

maka

akan

meningkatkan nilai jual dan kedaulatan pada sektor tersebut.


- Pertumbuhan ekonomi yang masih relatif tinggi di Gresik
hendaknya disadari lebih didorong oleh peran pengeluaran
konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan ekonomi yang didominasi
peran pengeluaran konsumsi rumah tangga menyebabkan sifat
pertumbuhan ekonominya kurang berkualitas, ditandai dengan
kurangnya daya penciptaan lapangan kerja. Kondisi demikian
hendaknya semakin diupayakan pergeserannya menuju semakin
besarnya kontribusi pengeluaran investasi bagi sektor tradeble
yang lebih kondusif bagi penciptaan lapangan kerja.
- Dalam kaitannya dengan perdagangan bebas (termasuk MEA),
harus ditetapkan suatu kebijakan daerah yang dapat melindungi
dan memberdayakan tenaga kerja dan/atau pekerja sehingga
mampu bersaing.
2. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Capaian TPT Gresik pada
Tahun 2015 mencapai 4,41%, sudah menurun bila dibanding
capaian TPT tahun 2014 yang mencapai 5,06%. Dari sisi target TPT
sebagaimana telah ditetapkan pada RPJMD Gresik tahun 20112015, capaian demikian patut diapresiasi karena telah mengalami
fluktuasi yang cukup signifikan dari 6.72% pada tahun 2012. Akan
tetapi jika dibandingkan dengan sasaran TPT Jawa Timur Tahun
2015 dalam RPJMN 2015-2019 sebesar 4,0%, maka TPT Gresik
Tahun 2015 tersebut masih di bawah sasaran TPT Jawa Timur.
Sementara itu, jika dicermati lebih jauh, maka peningkatan TPT ini
bisa dikaitkan dengan kondisi makro ketenagakerjaan Tahun 2015
yang banyak ditandai oleh problem sengketa ketenagakerjaan yang

berujung Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) termasuk melalui


penghentian kontrak tenaga alih daya, sekaligus menurunnya
capaian ekspor akibat kelesuan ekonomi global.
Rekomendasi terhadap indikator Tingkat Pengangguran Terbuka
ialah;
- Meningkatkan produktivitas sektor industri pengolahan dan
perdagangan, selain sebagai penyerap terbesar tenaga kerja di
Gresik, juga sebagai penguat lahirnya wirausahawan UMKM
-

berbasis komoditas produk lokal.


Memperkuat kapasitas SKPD

terkait

dalam

melakukan

pendampingan dan perlindungan tenaga kerja Gresik, baik dalam


segmen pekerja di perusahaan dalam negeri maupun di luar
negeri. Hal ini untuk menghindari rentannya pekerja Jawa Timur
-

dari ancaman PHK dalam sengketa hubungan industrial.


Mempertegas kebijakan perlindungan produk agro kompleks
lokal terhadap produk impor antara lain melalui regulasi
standarisasi produk.

3. Persentase Penduduk Miskin Yang Berada Di Bawah garis


Kemiskinan di Gresik tahun 2015 sebesar 13,41%, menurun
dibanding angka kemiskinan di Tahun 2011 yang mencapai 15,33%.
Jumlah penduduk miskin sebanyak 181.700 jiwa pada tahun 2011
menurun 14.750 jiwa hingga menjadi 166,950.00 jiwa pada tahun
2014 adapun jumlah penduduk miskin di Jawa Timur Tahun 2015
ialah 4.775.9700 jiwa, sehingga angka kemiskinan di Gresik dapat
dikatakan relatif sedikit/rendah dibandingkan dengan Jawa Timur
secara umum. Akan tetapi, angka 13,41% masih tergolong relatif
tinggi jika dibandingkan dengan sasaran tingkat kemiskinan wilayah
Jawa Timur Tahun 2015 dalam RPJMN 2015-2019 sebesar 12%.
Dalam capaian penurunan angka kemiskinan ini, prinsip yang perlu

dipastikan adalah keberadaan peran belanja publik (APBD) yang


semestinya harus berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi dan
tingkat kesejahteraan masyarakat.
Rekomendasi

Pansus

LKPJ

terhadap

indikator

Persentase

Penduduk Miskin ialah;


- Hendaknya terdapat prioritas alokasi belanja publik, yang fokus
dan terukur target capaiannya bagi peningkatan kapasitas
infrastruktur yang memadai. Selain untuk menciptakan iklim
investasi yang kondusif dan lebih penting lagi ialah untuk
semakin memperkecil tingkat kesenjangan antara infrastruktur
pedesaan

dan

perkotaan,

seperti

pada

disparitas

rasio

elektrifikasi antara Pedesaan yang masih di angka 70 persen,


sementara perkotaan telah mencapai 100 persen (termasuk
-

infrastruktur teknologi informasi dan pendidikan).


Hendaknya dilakukan paradigma implementasi

bantuan

langsung masyarakat, dari yang lebih berorientasi sedekah


kepada si miskin menjadi bantuan stimulasi keterampilan usaha
dan permodalan melalui mekanisme kredit perbankan dengan
bunga rendah. Sebagai contoh, pergeseran mekanisme dari
bantuan melalui jalin kesra maupun hibah modal Kopwan, agar
lebih dimaksimalkan lagi dalam bentuk promosi modal usaha
kecil, atau program pendampingan kelompok masyarakat/KUBE.
4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Patut diapresiasi bahwa
target kinerja pembangunan manusia Jawa Timur tahun 2013
(belum tersedia data IPM Tahun 2015) yang diukur melalui IPM,
mencapai 76,36, meningkat dibanding capaian tahun 2012 sebesar
75,17. Di Jawa Timur IPM tertinggi ditempati oleh Kota Surabaya
yakni 78,97 dan terendah ialah Kabupaten Sampang yakni 62,39,
sedangkan IPM Jawa Timur ialah 67,55 dan IPM Indonesia ialah

68,4. Angka 76,36 tersebut telah melampaui target RPJMD 20112015 yakni 75,97, bahkan capaian IPM pada Tahun 2013 tersebut
telah mendekati target IPM Tahun 2015 yakni 76,99. Meski demikian
hendaknya disadari pula bahwa pencapaian kinerja IPM Gresik
masih

menyisakan

sejumlah

permasalahan,

seperti

tingkat

disparitas antar wilayah dalam capaian indikator pendidikan,


kesehatan dan daya beli masyarakat.
Rekomendasi terhadap indikator Indeks Pembangunan Manusia
ialah;
- Dalam kerangka penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun, menuju
pendidikan universal yang berkualitas, hendaknya diupayakan
alokasi dana dari APBD- yang rutin diberikan untuk SD/
MI/SMP/MTs swasta yang memiliki standar akreditasi A dan B.
Bahkan jika mengacu pada RPJMN 2015-2019, Program Wajib
-

Belajar bukan lagi 9 tahun akan tetapi Wajib Belajar 12 Tahun.


Kesinambungan bantuan anggaran untuk SMA/SKM/MA yang
ada di Gresik meskipun kewenangan pengelolaannya berada di

Provinsi dan untuk mendukung Wajib Belajar 12 Tahun.


Peningkatan alokasi anggaran untuk program pencegahan dan
pemberantasan penyakit menular pada wilayah/kecamatan/desa

rawan epidemik. Terutama; DBD, TBC, dan Diare Balita.


Fokus program bidang kesehatan saat ini masih bersifat kuratif.
Ke depannya, program-program preventiv dan promotiv untuk
mendorong gaya hidup sehat perlu diperluas. Peningkatan
jumlah dokter termasuk dokter spesialis di daerah melalui
beasiswa Ikatan Dinas perlu diperluas. Layanan kedokteran
keluarga perlu segera dipertimbangkan untuk kepentingan

kesehatan preventiv maupun promotiv.


Pemerataan distribusi tenaga kesehatan dan pemerataan alatalat kesehatan di wilayah terpencil.

III. KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH


Penilaian ketiga terhadap LKPJ ATA 2015 ialah dilakukan terhadap
kebijakan umum pengelolaan keuangan daerah, yakni:
1. Target dan realisasi pendapatan daerah serta pendapatan asli
daerah. Target Pendapatan Daerah Kabupaten Gresik pada Tahun
Anggaran 2015 sebagaimana yang tertuang dalam APBD dianggarkan
sebesar Rp 2.599.403.620.789,41, sedangkan realisasinya sampai
dengan akhir Tahun anggaran sebesar 2.436.165.639.090,64 atau
93,72%. Realisasi sebesar 93,72% tersebut cukup baik dan harus
diapresiasi, namun jika dibandingkan dengan realisasi anggaran
Kabupaten

Sidoarjo

ialah

sebesar

104,64%

dan

Kabupaten

Probolinggo sebesar 101,13% maka realisasi anggaran Kabupaten


Gresik masih relatif kecil. Adapun realisasi PAD Tahun 2015 sebesar
Rp.799.876.895.698,64 atau mencapai 90,42%, jika dibandingkan
dengan

Kabupaten

Malang

realisasinya

sebesar

129,03%

dan

Kabupaten Sidoarjo sebesar 111,21%, maka realisasi PAD Kabupaten


Gresik sudah cukup baik, namun belum optimal.
Rekomendasi:
Pemerintah Kabupaten Gresik perlu melakukan analisis potensipotensi yang ada di daerah dan mengembangkan potensi tersebut
sebagai

pemasukan

daerah,

sehingga

dapat

meningkatkan

pemasukan Pendapatan Asli Daerah.

2. Kontribusi PAD terhadap pendapatan Daerah. Semakin besar


kontribusi PAD atas pendapatan daerah, menunjukkan bahwa
tingkat kemandirian keuangan daerah semakin baik. Artinya bahwa
semakin tinggi kontribusi PAD terhadap pendapatan daerah maka

tingkat ketergantungan daerah terhadap Pemerintah Pusat (APBN)


semakin rendah, sehingga akan menyebabkan suatu daerah mandiri.
Kontribusi PAD Kabupaten Gresik pada Tahun 2015 lebih besar jika
dibandingkan dengan tahun sebelumnya yakni sebesar 31,75%. Jika
dibandingkan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara sebesar 3,14%,
Kabupaten Sleman sebesar 19,35%, Kota Medan sebesar 31,57%,
Kabupaten Sidoarjo sebesar 30% maka proporsi PAD Gresik terhadap
pendapatan daerah masih tergolong baik dan cukup sehat.
Rekomendasi:
- Agar Pemerintah Kabupaten Gresik terus meningkatkan jumlah
atau besaran kontribusi PAD atas pendapatan daerah sehingga
kemandirian keuangan daerah semakin baik dan tidak terlalu
bergantung kepada APBN. Peningkatan kontribusi PAD atas
pendapatan daerah dapat dilakukan dengan menggali berbagai
potensi daerah sebagai pemasukan daerah seperti potensi pajak
daerah, retribusi daerah, dan lainnya.
- Agar potensi daerah dar berbagai sektor benar-benar dapat
dioptimalkan, maka sebaiknya disajikan tabel pendapatan daerah
dari tiap-tiap SKPD. Tiap-tiap SKPD itu nantinya harus benarbenar menggali potensi pendapatan asli daerah sesuai dengan
bidangnya masing-masing.

3.

Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Penerimaan Pajak Daerah


pada

Tahun

anggaran

431.797.814.095,60

dan

450.326.075.139,76 atau

2015

direncanakan

sebesar

Rp

dapat

direalisasikan

sebesar

Rp

mencapai 104,29%. Hal ini berbanding

terbail dengan penerimaan Retribusi Daerah pada Tahun anggaran


2015 direncanakan sebesar Rp 230.007.033.725,00, dan hanya

terealisasi

sebesar

Rp

117.640.882.350,20

atau

51,15%. Jika

dibandingkan dengan realisasi retribusi daerah Kabupaten Sidoarjo


sebesar 103,53% dan Kabupaten Malang sebesar 160%, maka
realisasi Retribusi Daerah Gresik sangat rendah, walaupun dari segi
jumlah penerimaan Retribusi, jumlah penerimaan Retribusi Daerah
Gresik tergolong tinggi dibandingkan Kabupaten Malang sebesar Rp.
51.905.681.732,00

dan

Kabupaten

Sidoarjo

sebesar

Rp.

96.645.390.259,65.
Realisasi pajak daerah dan retribusi tahun 2015 sudah melampaui
target RPJMD 2011-2015 pada tahun 2015 yakni sebesar Rp.
206.551.300.000,00 yakni sebesar Rp. 34.141.620.000,00. Bahkan
realisasi proporsi penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah
terhadap pendapatan daerah telah melampaui target 20% bagi
wilayah Jawa-Bali dalam RPJMN 2015-2019.
Rekomendasi:
- Dokumen Bab III LKPJ belum dilengkapi dengan permasalahan
dan solusi dalam upaya peningkatan pajak daerah dan retribusi
daerah. Seharusnya dalam dokumen LKPJ Bab III disertai dengan
permasalahan yang dihadapi sehingga realisasi retribusi daerah
sangat kecil terutama realisasi retribusi jasa usaha yang hanya
22,61%.
- Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014 bahwa urusan energi dan
sumber

daya

mineral

tidak

lagi

menjadi

kewenangan

Kabupaten/Kota, akan tetapi dalam realisasi Pajak Mineral Bukan


Logam dan Batuan terdapat realisasi penerimaan sebesar Rp.
8.645.702.390,00. Kedepannya hal ini harus dikonsultasikan
kembali mengenai kewenangan Kabupaten Gresik untuk menarik
pajak mineral bukan logam dan batuan serta subyek dan obyek

pajak

mineral

bukan

logam

dan

batuan

yang

menjadi

hak/kewenangan kabupaten.
- Perlu

adanya

pendapatan

beberapa

termasuk

melakukan

pembenahan

peningkatan

pembenahan

kelembagaan

secara

dan

terus

sistem

kualitas

layanan.

pengembangan

menerus

pengelolaan

dalam

Perlu

internal
melakukan

peningkatan kualitas pelayanan.


- Diperlukan peningkatan koordinasi antar instansi terkait dalam
pengelolaan pendapatan. Diperlukan koordinasi dan pendekatan
dengan

sektor

konstruktif

terkait

dengan

pemerintahan,

serta

berbagai

kalangan

membangun
pihak

baik

pengusaha

komunikasi
dalam

akademisi

yang

lingkungan
maupun

masyarakat.

4. Pengelolaan Belanja Daerah. Proporsi belanja tidak langsung tahun


2015 masih lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi belanja
langsung, begitupula realisasi belanja tidak langsung tahun 2015
masih lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi belanja langsung.
Akan tetapi, realisasi belanja daerah tahun 2015 telah melampaui
estimasi RPJMD 2011-2015 sebesar Rp. 1.730.571.020.000,00,
bahkan realisasinya lebih dari 200% dari estimasi belanja daerah
tahun 2015 dalam RPJMD 2011-2015. Proporsi belanja modal tahun
2015 sebesar Rp.655.388.486.830,00 dan terealisasi sebesar Rp.
584.251.688.504,99 telah melampaui estimasi belanja modal tahun
2015 dalam RPJMD 2011-2015 sebesar Rp. 428.187.630.000,00.
Dalam RPJMN 2011-2015 ditargetkan proporsi belanja modal bagi
daerah kabupaten/kota di Wilayah Jawa dan Bali sebesar 25% pada
tahun 2015, sedangkan kondisi eksisting proporsi belanja modal
dalam ABPD Gresik Tahun 2015 telah mencapai kisaran 21%,

sehingga untuk mencapai kisaran 25% pada tahun 2019 tidaklah


terlalu sulit. Namun jika dibandingkan dengan proporsi belanja
pegawai, proporsi belanja modal masih relatif kecil dibandingkan
dengan proporsi belanja pegawai yang lebih Rp. 1 Triliun (belanja
pegawai pada belanja tidak langsung + belanja pegawai pada belanja
langsung).
Rekomendasi:
Proporsi belanja modal pada tahun-tahun yang akan datang harus
terus ditingkatkan hingga mencapai paling sedikit 25% pada tahun
2019.

5. Penyerapan Anggaran. Penyerapan anggaran belanja di Pemerintah


Kabupaten Gresik Tahun Anggaran 2015 mencapai 90,01%, tidak
terealisasi sebesar 9,99% karena adanya efisiensi, sisa lelang, atau
alasan lainnya. Penyerapan anggaran Kabupaten Gresik cukup baik
dibandingkan

dengan

Kabupaten

Sidoarjo

sebesar

84,43%,

Kabupaten Bekasi sebesar 84% dan Kabupaten Malang sebesar


90,70%. Permasalahan klasik yang dihadapi dalam serapan anggaran
ialah penyerapan anggaran dilakukan

pada triwulan IV atau

menjelang berakhirnya tahun anggaran. Dengan perkataan lain


bahwa serapan anggaran pada triwulan I, II, dan III sangat tidak
optimal.

Bandingkan

dengan

penyerapan

anggaran

Kabupaten

Semarang pada triwulan III Tahun 2015 sudah mencapai 54,53 %


dan Kabupaten Pati sebesar 52,93% bahkan penyerapan anggaran
tingkat Provinsi pada triwulan II Tahun 2015 terbilang sangat tinggi
seperti Provinsi Jambi sebesar 48,63%, Provinsi Kalimantan Tengah
sebesar 45,33%, dan Provinsi Kepulauan Riau 38,89%. Dengan
demikian, maka sebenarnya penyerapan anggaran dengan dalih

bahwa

ABPD

lambat

disahkan,

terlambatnya

juknis/juklak

DAU/DAK, atau perlunya PPK menjabarkan proyek yang masih


bersifat

umum

sebagai

penghambat

serapan

anggaran

dapat

dibantah dengan tingginya penyerapan anggaran di berbagai daerah


tersebut. Artinya bahwa strategi penyerapan anggaran di Kabupaten
Gresik harus ditingkatkan sehingga serapan anggaran bukan hanya
terjadi pada triwulan IV atau bahkan oleh masyarakat dianggap
sekedar

menghabiskan

anggaran

di

akhir

tahun

dengan

mengabaikan otput/otcome dan kualitas program/kegiatan yang


dicapai.

Rekomendasi:
- Perlunya analisis terhadap permasalahan yang dihadapi dalam
penyerapan anggaran. Jadi, bukan hanya besaran realisasi belanja
dan

pembiayaan

yang

dijadikan

target

melainkan

realisasi

penyerapan anggaran yang bukan hanya terserap di akhir tahun


atau di triwulan IV.
- Pemerintah Kabupaten Gresik harus merumuskan strategi yang
lebih baik guna tercapainya realisasi penyerapan anggaran secara
cepat dan tepat.
- Agar memudahkan penilaian, dalam LKPJ ATA harus dicantumkan
penyerapan anggaran masing-masing SKPD pada tiap triwulannya,
sehingga

dapat

dijadikan

sebagai

bahan

mendapatkan solusi yang tepat kedepannya.

evaluasi

untuk