Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Setiap organ pada manusia dapat mengalami kerusakan, dan kerusakan
suatu organ tertentu pada manusia akan mengganggu kehidupan manusia tersebut
dan bahkan dapat menimbulkan kematian. Transplantasi organ dilakukan sebagai
alternatif terakhir bagi mereka yang sudah mengalami kerusakan organ namun
masih ingin hidup lebih lama.
Transplantasi organ pada manusia pertama kali dilaporkan di Cina pada
abad ke-4 sebelum masehi dimana dilaporkan dilakukan transplantasi jantung
pada seorang tentara. Tidak ada yang tahu pasti kebenarannya. Pada abad ke-3
masehi dilaporkan pula tentang dua orang dokter, Kosmas dan Damianus yang
sukses mencangkok kaki dari cadaver kemanusia hidup.
Menurut data terakhir dari GODT (Global Observatory on Donation and
Transplantation) yang bekerjasama dengan WHO, pada tahun 2013 diperkirakan
dilakukan 117.733 transplantasi organ solid di seluruh dunia. Organ yang paling
banyak dicangkok adalah organ ginjal, diikuti hati dan jantung. Informasi ini
dikumpulkan dari 112 negara di seluruh dunia yang memasukkan datanya. Selain
organ-organ besar, terdapat pula organ-organ lain yang ditransplantasi seperti
kornea maupun sumsum tulang.
Saat ini Tiongkok menjadi destinasi paling popular untuk mencari donor
organ karena diyakini waktu tunggu yang relatif cepat. Dahlan Iskan, mantan
menteri di jaman pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjalani
transplantasi hati di sana. Donor organ banyak berasal dari para terpidana mati.
Hal ini menjadi kontroversi karena donasi organ dilakukan tanpa persetujuan sang
donor. Pemerintah setempat memang dilaporkan sudah berencana menghentikan
praktek ini sejak 2015, namun beberapa kelompok pegiat HAM masih mencurigai
bahwa praktek tersebut masih berlangsung.
1

Di Indonesia, transplantasi organ besar yang sering dikerjakan adalah


transplantasi ginjal. Transplantasi hati pertama kali dikerjakan pada tahun 2014 di
RS Pertamedika Sentul City. Hingga saat ini, di Indonesia belum ada organisasi di
tingkat nasional yang secara khusus menangani transplantasi organ. Data
transplantasi untuk Indonesia juga masih tergolong minim.
Di manapun di seluruh dunia, daftar tunggu resipien transplantasi organ
selalu lebih panjang dari pada daftar donor organ dan hal ini menjadi masalah bagi
mereka yang membutuhkan organ, sehingga di Negara-negara berkembang
banyak terjadi praktek jual beli organ. Semua hal ini banyak menimbulkan
masalah baik dari aspek medic maupun dari aspek medikolegal. Pada tulisan ini
akan dibahas mengenai transplantasi organ dan bagaimana transplantasi organ
dilihat dari berbagai aspek, mulai dari etik, medikolegal, hingga agama.
1.2. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu transplantasi organ?
2. Seperti apa transplantasi organ jika ditinjau dari aspek etika?
3. Seperti apa hukum-hukum yang mengatur tentang transplantasi organ, di
Indonesia dibandingkan dengan Negara-negara lain?
4. Bagaimana agama-agama memandang transplantasi organ?
1.3. TUJUAN
1.3.1. TUJUAN UMUM
Mengetahui tentang transplantasi organ dan berbagai aspek yang terlibat secara
umum di dunia dan khususnya di Indonesia.
1.3.2. TUJUAN KHUSUS
1.
2.
3.
4.

Mengetahui definisi, jenis, dan prosedur transplantasi organ


Mengetahui aspek etika transplantasi organ
Mengetahui aspek medikolegal transplantasi organ
Mengetahui aspek agama transplantasi organ

1.4. MANFAAT

Manfaat penulisan makalah ini antara lain:


Untuk penulis:
1. Untuk memenuhi syarat mengikuti ujian di Kepaniteraan Klinik Ilmu
Kedokteran Forensikdan Medikolegal di RSUP Dr. Kariadi Semarang
2. Untuk mengetahui lebih banyak mengenai transplantasi organ dan
berbagai aspek yang terlibat
Untuk komunitas medis
Agar komunitas medis dapat lebih memahami tentang transplantasi organ
dan proses yang terlibat di dalamnya serta berbagai aspek yang terlibat
Untuk pemerintah
Untuk

memberikan

gambaran

perbandingan

tentang

bagaimana

transplantasi organ diatur di Indonesia dan di Negara lain supaya


transplantasi organ di Indonesia dapat diatur dengan lebih baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Transplantasi Organ
II.1.1. Definisi
Menurut WHO, transplantasi atau pencangkokan adalah pemindahan organ
sel, atau jaringan dari pendonor kepada orang lain yang membutuhkan
penggantian organ, kerusakan sel maupun jaringan dengan tujuan untuk
mengembalikan fungsi organ, sel maupun jaringan yang telah rusak tersebut.
3

Khusus untuk sel, dunia kedokteran khususnya di bidang kedokteran regenerasi


saat ini pun telah memungkinkan untuk menumbuhkan kembali sel si pasien itu
sendiri dengan sel induk atau sel yang diekstrasi dari organ rusak.
Menurut Kamus Besar Bahas Indonesia, transplantasi adalah pemindahan
jaringan tubuh dari suatu tempat ke tempat lain. Secara etimologi transplantasi
berasal dari Middle English transplaunten diambil dari bahasa latin kuno
transplantare yang artinya to plant.
Pengertian transplantasi menurut PP No 18 tahun 1981 adalah rangkaian
tindakan kedokteran untuk pemindahan alat dan atau jaringan tubuh manusia yang
berasal dari tubuh sendiri atau tubuh orang lain dalam rangka pengobatan untuk
menggantikan alat dan atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
II.1.2. Jenis Transplantasi
Jenis transplantasi dapat ditinjau dari:
II.1.2.1. Dari Penerima Organ
Ditinjau dari segi penerima organ transplantasi dapat dibagi menjadi:
a. Autograft
Merupakan pemindahan suatu jaringan atau organ ke tempat lain
dalam tubuh orang itu sendiri. Sebagai contoh adalah skin graft pada
penderita luka bakar, dimana kulit donor berasal dari kulit sehat penderita
itu sendiri kemudian dipindahkan pada bagian kulit yang rusak akibat
mengalami luka bakar, dan pada operasi bypass karena penyakit jantung
koroner
b. Isograft
Merupakan prosedur transplantasi yang dilakukan antara dua orang
yang secara genetik identik, misalnya transplantasi ginjal pada kembar
identik.
c. Allograft
Merupakan pemindahan suatu jarinagn atau organ dari tubuh
seseorang ke orang lain. Misalkan transplantasi jantung dari seseorang
yang telah dinyatakan meninggal pada orang lainyang masih hidup
d. Xenotransplantasi
Adalah pemindahan suatu jaringan atau organ dari spesies bukan
manusia kepada tubuh manusia. Contohnya pemindahan organ dari babi ke
tubuh manusia
e. Transplantasi Domino (Domino Transplantation)

Merupakan multiple transplantasi dimana si pendonor memberikan


organ jantung dan parunya kepada si penerima donor, dan penerima donor
memberikan jantungnya kepada penerima donor yang lain. Biasanya
dilakukan pada penderita cystic fibrosis dimana kedua parunya diganti
dan secara teknis lebihy mudah mengganti jantung dan paru sebagai satu
kesatuan. Biasanya jantung penderita masih sehat, sehingga masih bisa
didonorkan.
f. Transplantasi dibagi (Transplantasi Split)
Kadangkala donor matik khususnya donor hati dapat dibagi
menjadi dua penerima, khusus dewasa dan anak, akan tetapi transplantasi
ini tidak dipilih karena transplantasi keseluruhan organ lebih baik.
II.1.2.2. Dari Segi Pemberi Organ
a. Transplantasi dengan donor hidup
Transplantasi dengan donor hidup adalah pemindahan jaringan atau
organ tubuh yang hidup kepada orang lain atau ke bagian lain dari tubuh
sendiri tanpa mengancam kesehatan. Donor hidup ini dilakukan pada
jaringan atau organ yang bersifat regeneratif, misalnya kulit, darah, dan
sumsum tulang, serta organ-organ yang berapasangan.
Transplantasi organ dari donor hidup wajib memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
1. Risiko yang dihadapi oleh donor harus proporsional dengan manfaat
yang didatangkan oleh tindakan tersebut atas diri resipien.
2. Pengangkatan organ tubuh tidak boleh mengganggu secara serius
kesehatan donor atau fungsi tubuhnya
3. Donor wajib memutuskan dengan penuh kesadaran dan kebebasan

dengan mengetahui risiko yang mungkin terjadi


b. Transplantasi dengan donor mati atau jenazah
Transplantasi dengan donor mati atau jenazah adalah pemindahan
organ atau jaringan dari tubuh jenazah orang yang baru saja meninggal
kepada tubuh orang lain yang masih hidup. Keberhasilan transplantasi
jenis ini sangat tergantung pada kesegaran organ, artinya operasi harus
dilakukan sesegera mungkin setelah donor meninggal. Namun, donor tidak
boleh dinyatakan meninggal secara dini atau kematiannya dipercepat agar
organ tubuhnya dapat segera diambil.
II.1.2.3. Dari Sel Induk
5

a. Transplantasi sel induk dari sumsum tulang


Sumsum tulang dalah jaringan spons yang terdapat dalam tulang
seperti tulang dada, punggung, dan tulang rusuk. Sumsum tulang
merupakan sumber yang kaya akansel induk hematopoetik
b. Transplantasi sel induk darah tepi
Peredaran tepi merupakan sumber sel induk walaupun jumlah sel
induk yang terkandung tidak sebanyak pada sumsum tulang untuk jumlah
sel induk mencukupi suatu transplantasi. Biasanya pada donor diberikan
granulocyte-colony stimulating factor (G-CSF). Transplantasi dilakukan
dengan proses yang disebut aferesis.
c. Transplantasi sel induk darah tali pusat
Darah tali pusat mengandung sejumlah sel induk yang bermakna
dan memiliki keunggulan diatas transplantasi sel induk dari sumsum
tulang atau adri darah tepi bagi pasien pasien tertentu.
II.1.3 Organ Yang Dapat Ditransplantasikan
Secara garis besar ada dua hal yang dapat ditransplantasikan, yaitu organ
dan jaringan termasuk diantaranya sel dan cairan tubuh.
Organ yang dapat ditransplantasi:

Ginjal
Hati
Jantung
Pankreas
Paru
Usus

Jaringan, Sel dan Cairan yang dapat ditransplantasi:

Tangan
Kornea
Kulit termasuk transplantasi wajah
Inlet of Langerhans
Sumsum tulang
Darah
6

Pembuluh darah
Katup jantung
Tulang

Sedangkan berdasarkan sumber penyumbangnya dibedakan menjadi 2, yaitu


donor hidup dan donor mati.

Organ dan jaringan dari donor hidup:

Ginjal
Hati
Islet of Langerhans
Usus
Paru
Sumsum tulang
Transfusi darah
Katup jantung
Tulang

Organ dan jaringan dari donor mati:

Jantung
Paru
Hati
Ginjal
Pankreas
Usus
Kornea
Tangan
Pembuluh darah
Katup Jantung
Tulang
Tendo

Waktu penyimpanan organ (setelah diawetkan) sebelum transplantasi :

Paru: umumnya 5 jam, maksimal 10 jam


Jantung: umumnya 3 jam, maksimal 10 jam
Usus: umumnya 8 jam, maksimal 13 jam
Pankreas: umumnya 15 jam, maksimal 25 jam
Hati: umumnya 8 jam, maksimal 18 jam
Ginjal: umumnya 20 jam, maksimal 36 jam

II.1.4 Prosedur dan Akibat Transplantasi Organ


Dalam dunia kedokteran terdapat ketentuan-ketentuan dalam melakukan
transplantasi organ, para ahli medis menetapkan tiga tipe donor organ tubuh,
yaitu:
1. Donor dalam keadaan sehat.
Untuk melakukan transplantasi organ tubuh dari orang yang hidup
yang sehat diperlukan seleksi dan penelitian cermat serta menyeluruh
(general check up) baik terhadap donor gagalnya transplantasi karena

penolakan tubuh resipien terhadap organ yang di transplantasi,


sekaligus mencegah terjadinya resiko bagi donor. Akibat dari kegagalan
ini, menurut penelitian para medis dinyatakan bahwa seorang dari
seribu donor dalam transplantasi organ tubuh meninggal dunia.
2. Donor dalam keadaan koma atau diduga kuat akan meninggal dunia.
Untuk pengambilan organ tubuh orang yang dalam keadaan yang
seperti ini dilakukan alat kontrol yang ketat dan alat penunjang
kehidupan, seperti alat bantuan pernapasan khusus (ventilator).
3. Donor dalam keadaan mati.
Para ahli medis menyatakan bahwa tipe transplantasi organ tubuh
dari donor yang telah mati adalah tipe yang ideal, karena para dokter
hanya menunggu kapan donor dianggap mati secara medis dan yuridis.
Dalam kaitannya dengan ini, para ahli medis menyatakan bahwa
pengertian mati dalam syariat Islam maupun dalam dunia kedokteran
perlu dipertegas. Tujuannya adalah agar organ tubuh donor dapat
dimanfaatkan. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara mati (wafat)
secara klinis atau medis, scara yuridis, dan secara biologis. Penentuan
kondisi mati ini diperlukan agar dokter yang akan melaksanakan
transplantasi organ tubuh dari donor kepada resipien dapat bekerja
dengan tenang dan tidak dituntut sebagai pelaku pembunuhan oleh
keluarga donor.
II.1.4.1 Persiapan pembedahan (Pra-Operatif dan perioperatif)
Persiapan pra-operatif untuk calon resipien bertujuan untuk:
1. Menilai kemampuan menjalani operasi besar
Melakukan penilaian dari riwayat dan pemeriksaan fisik yang
lengkap. Dengan melakukan pemeriksaan penunjang seperti EKG, XFoto, pemeriksaan darah lengkap, hitung darah, kimia darah, CT scan,
MRI, PFTs ( Pulmonary Function Tests), skrinning virus Hepatitis B,
CMV dan HIV, dan memeriksa Human Leukocyte Antigen (HLA)

2. Menilai kemampuan menerima obat imunosupresi untuk jangka waktu


yang lama
Obat imunosupresif akan membantu tubuh untuk tidak menolak
organ donor. Obat tersebut harus diambil selama sisa hidup pasien.
Mengambil obat imunosupresif merupakan suatu keharusan, tetapi obat
tersebut memiliki efek samping, salah satunya adalah melemahnya sistem
kekebalan tubuh.
3. Menilai status vaskular tempat anastomosis
Saat dilakukan transplantasi organ

dibutuhkan

sambungan

anastomosis pembuluh darah yang baik karena saat operasi akan dilakukan
penyambungan pembuluh darah dengan organ yang di transplantasi.
4. Menghilangkan semua sumber infeksi
5. Menilai dan mempersiapkan unsur psikis dan emosi
Persiapan pra-operatif untuk calon donor bertujuan untuk:
a. Menilai kerelaan (tak ada unsur paksaan atau jual beli)
b. Menilai kemampuan organ yang akan di donorkan
c. Menilai akibat jangka kehilangan organ yang didonorkan
d. Menilai kemungkinan anastomosis
e. Menilai kecocokan golongan darah ABO, HLA dan crossmatch.
Golongan darah penerima (A, B, AB, atau O) harus sesuai dengan
golongan darah donor. Faktor golongan darah merupakan faktor penentu
kesesuaian yang paling penting. Selain itu dibutuhkan pula HLA yang sama
dimana sel tubuh membawa 6 jenis HLA utama, 3 dari ibu dan 3 dari ayah.
Sesama anggota keluarga biasanya mempunyai HLA yang sesuai. Tes terakhir
sebelum dilakukan pencangkokan adalah uji silang organ. Sejumlah kecil
darah resipien dicampur dengan sejumlah kecil darah donor. Jika tidak terjadi
reaksi, maka hasil uji silang negatif dan transplantasi dapat dilakukan.
10

II.1.4.2 Pasca Operasi


Kemungkinan timbulnya resiko akibat transplantasi organ
Setiap operasi memiliki resiko dan akibat dilakukan pembedahan, resiko yang
mungkin terjadi berupa penolakan akut, terjadinya setelah operasi,gangguan
sirkulasi darah yang tidak lancar. Pencakokan organ merupakan suatu proses yang
rumit, dalam keadaan normal sistem kekebalan akan menyerang dan
menghancurkan jaringan asing dan akan terjadi reaksi penolakan. Antigen adalah
zat yang dapat merangsang terjadinya suatu reaksi kekebalan, yang ditemukan
pada permukaan setiap tubuh manusia. Jika seseorang menerima jaringan dari
donor, maka antigen pada jaringan yang dicangkok akan memberikan peringatan
kepada tubuh resipien bahwa jaringan tersebut merupakan benda asing. Oleh
sebab itu perlu dilakukan pencocokan golongan darah dan Human Leukocyte
Antigen (HLA). Semakin sesuai antigen HLA maka kemungkinan besar
pencakokan akan berhasil.
Penolakan biasanya terjadi segera setelah organ dicangkokkan, tetapi
mungkin juga tampak beberapa bulan kemudian. Penolakan tidak hanya dapat
merusak jaringan maupun organ yang dicangkokkan tetapi juga bisa menyebabkan
demam, menggigil, mual, lelah dan perubahan tekanan darah yang terjadi secara
tiba-tiba. Penemuan obat-obatan yang dapat menekan sistem kekebalan telah
meningkatkan keberhasilan pencangkokan. Pada saat obat penekan reaksi sistem
kekebalan tubuh terhadap organ yang dicangkokkan, obat juga menghalangi
perlawanan infeksi dan penghancuran benda asing lainnya oleh sistem kekebalan.
Penekanan sistem kekebalan yang intensif perlu dilakukan pada minggu-minggu
pertama setelah pencangkokan atau jika terlihat tanda-tanda penolakan. Berbagai
jenis obat bisa bertindak sebagai immunosupresan adalah : cyclosporin,
azathioprine, monoclonal antibodies.

11

Cyclosporin (Neoral, Sandimmune, Sangcya).


Obat ini bekerja dengan cara menghambat aktivitas T-cell, sehingga
mencegah T-cells dari serangan organ yang di transplantasikan.
Azathioprines (Imuran).
Obat ini mengganggu sintesis dari DNA dan RNA termasuk juga dari
pembagian cell.
Monoclonalnantibodies,

termasuk

basilximab

(Simulect),

daclizumab

(Zenpax), dan muromonab (orthovlone OKT3).


Obat ini bekerja dengan cara menghambat penyatuan interleukin-2, yang akan
melambatkan produksi T-cells dalam pasien imune sistem. Disamping itu
dapat terjadi infeksi dan sepsis akibat dari obat immunosupresan yang
diperlukan untuk menekan penolakan, kemudian kelainan post-transplant
lymphoproliferative ( bentuk lymphoma akibat daru immunosupresan ), juga
terjadi ketidakseimbangan elektrolit termasuk kalsium dan fosfat yang dapat
menimbulkan masalah pada tulang. Juga terdapat efek lain berupa
pencernaan, inflamasi pada saluran cerna, hirsutism (pertumbuhan rambut
yang tidak terkendali pada pria), hair loss, kegemukan, jerawatan, diabetes
mellitus tipe 2, hiperkolesterolemia dan lain-lain.
II.1.4.3 Tenaga Medis Yang Berwenang Melakukan Transplantasi
Di Indonesia transplantasi hanya boleh dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang memiliki kewenangan, yang melakukannya atas dasar
adanya persetujuan dari donor maupun ahli warisnya (pasal 34 ayat 1 UU
No. 23/1992). Karena transplantasi organ merupakan tindakan medis,
maka yang berwenang melakukannya adalah dokter. Dalam UU ini sama
sekali tidak dijelaskan kualifikasi dokter apa saja yang berwenang. Dengan
demikian, penentuan siapa saja yang berwenang agaknya diserahkan
kepada profesi medis sendiri untuk menentukannya.
Transplantasi organ dalam pelaksanaannya akan melibatkan
banyak dokter dari berbagai bidang kedokteran seperti bedah, anestesi,
penyakit dalam, sesuai dengan jenis transplantasi organ yang akan
dilakukan. Dokter yang melakukan transplantasi adalah dokter yang
bekerja di RS yang ditunjuk oleh Menkes (pasal 11 ayat 1 PP 18/1981).
12

Untuk menghindari adanya konflik kepentingan, maka dokter yang


melakukan transplantasi tidak boleh dokter yang mengobati pasien (pasal
11 ayat 2 PP 18/1981).
II.1.5 PENGADAAN ORGAN DAN ALUR TRANSPLANTASI ORGAN
Perolehan organ dibagi menjadi dua, yaitu:
II.1.5.1 Pengadaan Organ
II.1.5.1.1 Sistem Sukarela
Sistem sukarela ini dibagi menjadi dua sistem, yaitu:
1. Opt-in (Informed Consent)
Artinya: seseorang secara sukarela mendaftarkan diri untuk
menjadi donor. Menjadi donor adalah hal mulia, akan tetapi jika
mengandalkan kebaikan hati seseorang, maka kekurangan pasokan organ
akan semakin meningkat. Banyak negara yang saat ini berpikir untuk
merubah ke sistem opt-out, demi meningkatnya ketersediaan organ.
2. Opt-out (Presumed Consent)
Artinya: dianggap semua orang mau menjadi donor kecuali
kemudian menyatakan diri tidak mau (opt-out). Negara Singapura adalah
negara yang pertama kali menerapkan sistem ini.
II.1.5.1.2 Legal Dijual
Hanya di Filipina dan Iran penjualan organ adalah legal.
II.1.5.1.3 Sistem Penggantian
Singapore menerapkan sistem memberikan ganti kerugian terhadap akibat
transplantasi organ.
II.1.5.1.4 Sistem Membeli di Pasar Ilegal
Tidak seimbangnya antara permintaan organ dan persediaan organ
menyebabkan orang mencari di pasar gelap. Organ tourism merupakan salah satu
perdagangan organ di pasar gelap.
II.1.5.1.5 Sistem Bank Organ dengan network yang baik
Banyak negara-negara yang telah memanfaatkan bank organ sebagai sarana
untuk penyimpanan dan mendapatkan organ.
13

II.1.5.2 Alur Transplantasi Organ

II.1.5.2.1 Transplantasi Ginjal


Untuk orang-orang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi, pencangkokan
ginjal merupakan alternatif pengobatan selain dialisa dan telah berhasil dilakukan
14

pada semua golongan umur. Ginjal yang dicangkokkan kadang berfungsi sampai
lebih dari 30 tahun. Orang-orang yang telah berhasil menjalani pencangkokkan
ginjal biasanya bisa hidup secara normal dan aktif.
Transplantasi merupakan operasi besar karena ginjal dari donor harus
disambungkan dengan pembuluh darah dan saluran kemih resipien. Lebih dari dua
pertiga transplantasi berasal dari donor yang sudah meninggal, yang biasanya
merupakan orang sehat yang meninggal karena kecelakaan.
Ginjal dikeluarkan dari tubuh donor, didinginkan dan segera dibawa ke
rumah sakit untuk dicangkokkan kepada seseorang yang memiliki jenis jaringan
yang sama dan serum darahnya tidak mengandung antibodi terhadap jaringan.
Meskipun telah digunakan obat-obatan untuk menekan sistem kekebalan,
tetapi segera setelah pembedahan dilakukan, bisa terjadi satu atau beberapa
episode penolakan. Penolakan ini bisa menyebabkan:
-

Peningkatan berat badan akibat penimbunan cairan


Demam
Nyeri dan pembengkakan di daerah tempat ginjal dicangkokkan

Pemeriksaan darah mungkin menunjukkan adanya kemunduran fungsi


ginjal. Untuk memperkuat diagnosis penolakan, bisa dilakukan biopsi jarum
(pengambilan contoh jaringan ginjal dengan bantuan sebuah jarum untuk
diperiksa dengan mikroskop). Penolakan biasanya bisa diatasi dengan menambah
dosis atau jumlah obat imunosupresan. Jika penolakan tidak dapat diatasi, berarti
pencangkokkan telah gagal.
Ginjal yang ditolak bisa dibiarkan di dalam tubuh resipien, kecuali jika:
-

Demam terus menerus


Air kemih mengandung darah
Tekanan darah tetap tinggi

Jika pencangkokkan ginjal, maka harus segera kembali dilakukan dialisa.


Upaya pencangkokkan berikutnya bisa dilakukan setelah penderita benar-benar
pulih dari pencangkokkan yang pertama. Kebanyakan episode penolakan dan
komplikasi lainnya terjadi dalam waktu 3-4 bulan setelah pencangkokkan. Obat
imunosupresan tetap diminum karena jika dihentikan bisa menimbulkan reaksi

15

penolakan. Pemberian obat imunosupresan dihentikan jika timbul efek samping


atau infeksi yang berat.
Risiko terjadinya kanker pada penerima ginjal adalah 10-15 kali lebih besar
bila dibandingkan dengan populasi umum. Risiko terjadinya kanker sistem getah
bening adalah sekitar 30 kali lebih besar daripada normal, hal ini terjadi
kemungkinan karena telah terjadi penekanan terhadap sistem kekebalan.
II.2 Transplantasi Organ Ditinjau Dari Berbagai Aspek
II.2.1 Aspek Etik Transplantasi Organ
Transplantasi merupakan upaya terakhir untuk menolong seorang pasien
degan kegagalan fungsi salah satu organ tubuhnya. Dari segi etik kedokteran,
tindakan ini wajib dilakukan jika ada indikasi,berlandaskan beberapa pasal dalam
kode etik kedokteran Indonesia tahun 2012, yaitu :
1. Pasal 2.
Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran
tertinggi.
2. Pasal 10.
Setiap dokter harus senantiasa mengingat dan kewajibannya melindungi
hidup insani.
3. Pasal 11.
Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu
dan keterampilannya untuk kepentingan penderita.
Pasal-pasal tentang transplantasi dalam PP No. 18 tahun 1981, pada
hakekatnya telah mencakup aspek etik, terutama mengenai dilarangnya
memperjual belikan alat dan jaringan tubuh untuk tujuan transplantasi ataupun
meminta kompensasi material lainnya.
Berdasarkan biomedikal Etik
Transplantasi dibutuhkan dua pihak yaitu donor dab resipien. Donor
digolongkan menjadi donor hidup dan donor mati. Donor hidup dapat berasal dari
keluarga dan non-keluarga. Dalam hal perkembangannya dimana kemiskinan dan
tingginya tingkat kebutuhan akan organ menyebabkan timbulnya donor komersil
yaitu orang yang memberikan organnya dengan imbalan uang. Transplantasi

16

dipandang dari sudut etika harus dipertimbangkan dari sudut 4 (empat) prinsip
dasar Biomedikal Etik:
1. Otonomi (Autonomy)
Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu
mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang
dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan memnuat sendiri,
memilih dan memiliki berbagai keputusan nilai atau pilihan yang harus
dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek
terhadap seseoran, atau dipandang sebagai persetujuan tidak memaksa dan
bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak kemandirian dan
kebebasan individu yang menuntut pembelaan diri. Jika dikaitkan dengan
kasus transplantasi organ maka hal yang menjadi pertimbangan adalah
seseorang melakukan transplantasi tersebut tanpa adanya paksaan dari
pihak manapun dan tentu saja pasien diyakinkan bahwa keputusan yang
diambilnya adalah keputusan yang telah dipertimbangkan secara matang.
2. Berbuat baik (Beneficience)
Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik.
Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan,
penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh diri
dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan, terjadi
konflik antara prinsip ini dengan otonomi.
3. Keadilan (Justice)
Prinsip keadilan dalam Transplantasi Organ lebih relevan terhadap
alokasi organ, yang menyangkut pada perlakukan yang adil, sama dan
sesuai dengan kebutuhan pasien yang tidak terpengaruh oleh faktor lain.
4. Tidak merugikan (Nonmaleficience)
Prinsip ini berarti dalam pelaksanaan transplantasi organ, harus
diupayakan semaksimal mungkin bahwa praktek yang dilaksanakan tidak
menimbulkan bahaya/ cedera fisik dan psikologis pada klien.
II.2.2 Aspek Hukum
Transplantasi organ sangat erat kaitannya dengan bidang hukum karena di
dalamnya juga terdapat hak dan kewajiban orang yang berpotensi menimbulkan
permasalahan. Transplantasi dengan donor hidup menimbulkan dilema etik,
17

dimana transplantasi pada satu sisi dapat membahayakan donor namun di satu sisi
dapat menyelamatkan hidup pasien (resipien).
Dasar hukum dilaksanakannya transplantasi organ sebagai suatu terapi
adalah Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 64

tentang

penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan melalui transplantasi organ.


Berikut ini adalah pasal-pasal yang berkaitan dengan aspek medikolegal
transplantasi organ.

Undang-Undang Tentang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 64


o ayat (1): Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat
dilakukan melalui transplantasi organ dan / atau jaringan tubuh, implan
obat dan/ atau alat kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi, serta
penggunaan sel punca.
o ayat (2): Transplantasi organ dan / atau jaringan tubuh sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan
dilarang untuk dikomersialkan.
o ayat (3): Organ dan / atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan
dalih apapun.
Pasal ini mengatur mengenai tujuan pelaksanaan transplantasi secara legal

dimana dinyatakan bahwa transplantasi hanya boleh dilakukan dengan tujuan


kemanusiaan dan dilarang untuk tujuan komersial.

Undang-Undang Tentang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 65


o (1): Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan
oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk
itu dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
o (2): Pengambilan organ dan/atau jaringan tubuh dari seorang donor harus
memperhatikan kesehatan pendonor yang bersangkutan dan mendapat
persetujuan pendonor dan/atau ahli waris atau keluarganya.
o (3): Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan
transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

18

Yang dimaksud dengan "fasilitas pelayanan kesehatan tertentu" dalam


ketentuan ini adalah fasilitas yang ditetapkan oleh Menteri yang telah memenuhi
persyaratan antara lain peralatan, ketenagaan dan penunjang lainnya untuk dapat
melaksanakan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh.
Pasal 65 UU No. 36 Tahun 2009 ini menjelaskan tentang syarat
kompetensinya tenaga kesehatan yang akan melaksanakan transplantasi serta
penunjukan fasilitas pelayanan kesehatan tertentu. Selain itu juga perlu adanya
pemeriksaan kesehatan untuk memastikan bahwa donor dalam keadaan sehat,
perlunya informed consent (persetujuan tindakan medis setelah mendapat
penjelasan dari dokter) baik dari pendonor, ahli waris maupun keluarganya. Pada
ayat (3) menjelaskan tentang penetapan Peraturan Pemerintah yang berkaitan
dengan syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi organ dan/atau jaringan
tubuh.

Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 66


o Transplantasi sel, baik yang berasal dari manusia maupun dari hewan,
hanya

dapat

dilakukan

apabila

telah

terbukti

keamanan

dan

kemanfaatannya.

Undang-Undang No.36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 67


Pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh hanya dapat dilakukan oleh

tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan serta dilakukan di


fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
Pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh dilakukan dalam rangka
penyelenggaraan penelitian dan pengembangan kesehatan, pelayanan kesehatan,
pendidikan serta kepentingan lainnya. Kepentingan lainnya adalah surveilans,
investigasi Kejadian Luar Biasa (KLB), baku mutu keselamatan dan keamanan
laboratorium kesehatan sebagai penentu diagnosis penyakit infeksi, upaya koleksi
mikroorganisme, koleksi materi, dan data genetik dari pasien dan agen penyebab
penyakit. Pengiriman ke luar negeri hanya dapat dilakukan apabila cara mencapai
maksud dan tujuan pemeriksaan tidak mampu dilaksanakan oleh tenaga kesehatan
19

maupun fasilitas pelayanan kesehatan atau lembaga penelitian dan pengembangan


dalam negeri, maupun untuk kepentingan kendali mutu dalam rangka
pemutakhiran akurasi kemampuan standar diagnostik dan terapi oleh kelembagaan
dimaksud. Pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh dimaksud harus
dilengkapi dengan Perjanjian Alih Material dan dokumen pendukung yang
relevan.
Prosedur Pelaksanaan
Peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang mengatur
tentang pelaksanaan transplantasi organ adalah Peraturan Pemerintah No.18
Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis serta
Transplantasi Alat atau Jaringan Tubuh Manusia.
Peraturan Pemerintah ini merupakan pelaksanaan dari UU No 9 Tahun
1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan yang telah dicabut, akan tetapi PP ini masih
tetap berlaku karena berdasarkan pasal 87 UU No 23 tahun 1992 tentang
Kesehatan, semua peraturan pelaksanaan dari UU No 9 Tahun 1960 masih tetap
berlaku, sepanjang tidak bertentangan atau belum diganti dengan yang baru
berdasarkan UU No. 23 Tahun 1992.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 tentang bedah mayat
klinis, bedah mayat anatomis dan transplantasi alat kerja serta jaringan tubuh
manusia, tercantum pasal-pasal tentang transplantasi sebagai berikut:

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 1


Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :
a) Alat tubuh manusia adalah kumpulan jaringan-jaringan tubuh yang

dibentuk oleh beberapa jenis sel dan mempunyai bentuk serta faal
(fungsi) tertentu untuk tubuh tersebut.
b) Jaringan adalah kumpulan sel-sel yang mempunyai bentuk dan faal

(fungsi) yang sama dan tertentu.


c) Transplantasi adalah rangkaian tindakan kedokteran untuk pemindahan

dan atau jaringan tubuh manusia yang berasal dari tubuh orang lain

20

dalam rangka pengobatan untuk menggantikan alat dan atau jaringan


tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.
d) Donor adalah orang yang menyumbangkan alat atau jaringan tubuhnya

kepada orang lain untuk keperluan kesehatan.


e) Meninggal dunia adalah keadaan insani yang diyakini oleh ahli
kedokteran yang berwenang bahwa fungsi otak, pernapasan, dan atau
denyut jantung seseorang telah berhenti.
Ayat yang di atas mengenai definisi meninggal dunia kurang jelas, karena
itu IDI dalam seminar nasionalnya telah mencetuskan fatwa tentang masalah mati
yang dituangkan dalam SK PB IDI No. 336/PB IDI/a.4 tertanggal 15 Maret 1988
yang disusul dengan SK PB IDI No. 231/PB.A.4/07/90. Dalam fatwa tersebut
dinyatakan bahwa seseorang dikatakan mati, bila fungsi spontan pernapasan dan
jantung telah berhenti secara pasti (irreversibel), atau terbukti telah terjadi
kematian batang otak.

TRANSPLANTASI ALAT DAN ATAU JARINGAN TUBUH MANUSIA:

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 10


o Transplantasi alat untuk jaringan tubuh manusia dilakukan dengan
memperhatikan ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 Huruf a dan Huruf b, yaitu harus dengan persetujuan tertulis penderita

dan keluarga yang terdekat setelah penderita meninggal dunia.


Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 11
o Transplantasi organ dan jaringan tubuh hanya boleh dilakukan oleh dokter
yang ditunjuk oleh menteri kesehatan.
o Transplantasi alat dan jaringan tubuh manusia tidak boleh dilakukan oleh

dokter yang merawat atau mengobati donor yang bersangkutan


Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 12
Penentuan saat mati ditentukan oleh 2 orang dokter yang tidak ada sangkut
paut medik dengan dokter yang melakukan transplantasi.
21

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan.


Penentuan saat meninggal dunia seseorang di rumah sakit yang sudah modern
tidak lagi dilakukan dengan cara lama yaitu seseorang dianggap meninggal dunia
apabila pernafasan dan peredaran darahnya sudah berhenti, akan tetapi dengan
menggunakan alat yang disebut elektro-encepalograf (alat yang mencatat aktivitas
otak). Meskipun dengan elektro-encepalograf menunjukan seseorang telah
meninggal dunia, namun ada alat dan atau jaringan tubuh yang masih hidup secara
fisiologi dalam jangka waktu tertentu, sehingga dapat dilakukan pengambilan dan
pemindahan alat dan atau jaringan tubuh untuk keperluan transplantasi. Untuk
menjamin penentuan saat meninggal dunia seseorang secara obyektif, maka
penentuan ini dilakukan oleh dokter lain, yang tidak melaksanakan transplantasi.

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 13


o Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksudkan yaitu dibuat diatas kertas
materai dengan dua orang saksi.

PENGAMBILAN ALAT DAN ATAU JARINGAN TUBUH MANUSIA


KORBAN KECELAKAAN:

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 14


o Pengambilan alat atau jaringan tubuh manusia untuk keperluan
transplantasi atau bank mata dari korban kecelakaan yang meninggal dunia,

dilakukan dengan pernyataan tertulis keluarga terdekat.


Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 15
o Sebelum persetujuan tentang transplantasi alat dan atau jaringan tubuh
manusia diberikan oleh donor hidup, calon donor yang bersangkutan
terlebih dahulu diberitahu oleh dokter yang merawatnya, termasuk dokter
konsultan mengenai operasi, akibat- akibatnya, dan kemungkinankemungkinan yang dapat terjadi.
o Dokter sebagaimana yang dimaksud dalam ayat 1 harus yakin benar, bahwa
calon donor yang bersangkutan telah menyadari sepenuhnya arti dari
pemberitahuan tersebut.

22

Pada Pasal 10, 14, dan 15 tersebut di atas diatur tentang informed consent
baik pada donor hidup maupun donor jenazah. Untuk transplantasi dengan donor
hidup, maka informed consent harus diberikan di atas kertas bermaterai disaksikan
oleh dua orang saksi, hal ini sesuai dengan Pasal 13 PP No.18 Tahun 1981.
Namun tidak dijelaskan secara rinci siapa yang berhak sebagai saksi.
Sebelum seseorang memutuskan menjadi donor hidup, seseorang harus
mengetahui dan mengerti risiko yang akan dihadapinya, selain itu orang tersebut
tidak boleh mengalami tekanan psikologi. Sehingga yang dapat menjadi donor
hidup adalah seseorang yang sudah berhak melakukan perbuatan hukum, yaitu
apabila sudah cukup umur dan sehat akalnya. Menurut hukum perdata Indonesia,
seseorang dikatakan sudah cukup umur jika sudah berumur 21 tahun atau sudah
menikah.

PERBUATAN YANG DILARANG DALAM TRANSPLANTASI ORGAN


Komersialisasi organ dalam rangka transplantasi organ menempati salah
satu pelanggaran terbanyak terhadap aturan internasional. Penjualan organ sendiri
terjadi karena banyaknya orang yang mengalami kesulitan keuangan, apalagi
dengan adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Kegiatan perdagangan organ
ini sendiri sangat sulit dipantau oleh pihak yang berwajib karena umumnya pihak
perantara merupakan suatu jaringan kuat yang saling menguntungkan. Di
Indonesia, permasalahan komersialisasi organ ini diatur dalam Pasal 64 ayat (2)
dan (3) UU Kesehatan; dan Pasal 16 dan 17 PP Transplantasi Organ. Sanksi untuk
jual beli organ ini diatur dalam Pasal 192 ayat (3) UU Kesehatan.

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 16


o Donor atau keluarga donor yang meninggal dunia tidak berhak atas suatu

kompensasi material apapun sebagai imbalan transplantasi.


Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 17
o Dilarang memperjual-belikan alat atau jaringan tubuh manusia.
Undang-Undang Kesehatan No.35 Tahun 2009 Pasal 192

23

o Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ atau jaringan


tubuh dengan dalih apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat (3)
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
PENGIRIMAN ORGAN DAN ATAU JARINGAN TUBUH MANUSIA DARI
DAN KE LUAR NEGERI :

Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 18. Dilarang


mengirim dan menerima alat dan jaringan tubuh manusia dalam semua
bentuk ke dan dari luar negeri.
Sebagai penjelasan pasal 17 dan 18, disebutkan bahwa alat dan atau

jaringan tubuh manusia sebagai anugrah Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap
insan tidaklah sepantasnya dijadikan objek untuk mencari keuntungan.
Pengiriman alat dan atau jaringan tubuh manusia ke dan dari luar negeri haruslah
dibatasi dalam rangka penelitian ilmiah, kerjasama dan saling menolong dalam
keadaan tertentu.
PASAL TENTANG PERLINDUNGAN ANAK
Jual beli organ tubuh dan/atau jaringan tubuh anak untuk transplantasi
merupakan perbuatan melawan hukum karena memenuhi unsur dalam rumusan
delik. Transplantasi merupakan kegiatan pemindahan jaringan tubuh dari suatu
tempat ke tempat lain atau pentransplantasian. Peraturan Pemerintah No.18 Tahun
1981 ini dibuat jauh sebelum Undang- Undang tentang Kesehatan yaitu UU No.23
Tahun 1992 sehingga tidak ditemukan penjelasan yang rinci mengenai
transplantasi organ dan komersialisasinya.

Undang-Undang Kesehatan No.23 Tahun 1992 Pasal 85

(1) Setiap orang yang melakukan jual beli organ tubuh dan/atau jaringan tubuh

anak dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun (lima betas tahun)
dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah).
(2) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan pengambilan organ

tubuh dan/atau jaringan tubuh anak tanpa memperhatikan kesehatan anak,


atau penelitian kesehatan yang menggunakan anak sebagai objek penelitian
tanpa seizin orang tua atau tidak mengutamakan kepentingan yang terbaik
24

bagi anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah).
Sedangkan bagi yang mengambil organ tubuh, sanksi pidana penjara
paling lama sepuluh tahun dan/atau denda paling banyak dua ratus juta rupiah.

(1)

Undang-Undang Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 64


Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui

transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, implant obat dan/atau alat


kesehatan serta bedah plastik dan rekonstruksi, serta penggunaan sel punca.
(2)

Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud dalam

ayat (1) dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk
dikomersialkan.
(3)

Organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih

apapun.

Pada Pasal 64 ayat (1) dan (2) UU No 36 Tahun 2009 ini mengatur tentang
penyembuhan penyakit maupun pe mulihan penyakit melalui transplantasi organ
dan/atau jaringan tubuh, implant obat dan/atau alat kesehatan serta bedah plastik
dan rekonstruksi maupun penggunaan sel punca (stem cell). Selain itu juga ada
tujuan kemanusiaan. Pada ayat (3) merupakan penjelasan tentang perbuatan jual
beli organ dan/atau jaringan tubuh yang dilarang dan dijelaskan sanksi pidananya
pada Pasal 192. Setiap orang yang dengan sengaja memperjual-belikan organ atau
jaringan tubuh dengan dalih apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64 ayat
(3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda
paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pada pasal ini dijelaskan tentang kompetensi tenaga kesehatan yang akan
melakukan transplantasi serta fasilitas pelayanan kesehatan tertentu dan
pelaksanaan transplantasi mengacu pada ketentuan perundang-undangan tentang
syarat dan tata cara pengambilan maupun pengiriman spesimen atau bagian organ
tubuh maupun jaringan tubuh.

25

Sanksi pidana berupa pidana penjara paling lama sepuluh tahun dan denda
paling banyak satu milyar rupiah. Pada Pasal ini merupakan perumusan kumulatif
dari Pasal 64 ayat (3) yang mengatur tentang larangan jual beli organ tubuh,
sedangkan sanksinya dirumuskan pada Pasal 192 UU No 36 Tahun 2009.
Rancangan KUHP Pasal 394 tentang Transplantasi organ tubuh: Setiap orang
yang melakukan perbuatan dengan tujuan komersial dalam pelaksanaan
transplantasi organ tubuh atau jaringan tubuh atau transfusi darah dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak kategori IV.
Transplantasi Organ dan Jaringan Tubuh Manusia di Singapura
Saat ini di Singapura terdapat lebih dari 600 pasien yang menunggu untuk
dilakukan tindakan transplantasi organ terhadap mereka. Selanjutnya, kebutuhan
akan organ kaclaver untuk transplantasi tenis meningkat. Terdapat kekurangan
organ kadaver berupa hati, jantung, dan kornea untuk ditransplantasikan. Sekitar
15 orang meninggal dunia setiap tahunnya saat menunggu transplantasi hati dan 3
orang meninggal dunia setiap tahunnya saat menunggu transplantasi jantung.
Kekurangan akan donor kornea di Singapura menyebabkan negara ini harus
bergantung dengan sumber donor dari luar negeri. Akan tetapi, ketersediaan
donor kornea pun tidak dapat dipastikan keberadaannya, terutama untuk
mengatasi keadaan darurat. Transplantasi merupakan salah satu terobosan medis
yang luar biasa dalam sejarah medis. Terkadang transplantasi organ merupakan
satu-satunya harapan bagi pasien yang mengalami gagal organ.
Terdapat dua perangkat hukum yang terkait dengan transplantasi organ di
Singapura, yaitu Human Organ Transplant Act (HOTA) dan the Medical
(Therapy, Education,
Interpretation

and

Research) Act

(Determination

and

(MTERA).

Certification

of

Selanjutnya.
Death)

The

Regulation

memberikan informasi lebih lanjut mengenai kondisi dan kriteria untuk


menentukan kematian batang otak dan sertifikasi kematian batang otak
A. Human Organ Transplant Act (HOTA)
Human Organ Transplant Act (HOTA) merupakan perangkat hukum
transplantasi organ di Singapura yang diadopsi langsung dari Human Organ
26

Transplant Act di Inggris. HOTA adalah seperangkat hukum yang mengatur


tentang pengambilan organ dari tubuh orang yang telah meninggal dunia untuk
dicangkokan ke dalam tubuh seorang pasien yang membutuhkannya. Dalam
beberapa bagian HOTA juga diatur mengenai transplantasi antara dua orang yang
masih hidup. Pada dasarnya, HOTA mengatur tentang transplantasi organ
manusia.
Subjek yang merupakan cakupan dari HOTA antara lain adalah:
a.

Warga Negara Singapura dan penduduk tetap Singapura

b.

Non-Muslim (Warga Muslims telah diikutsertakan dalam subjek cakupan


pengaturan HOTA sejak Agustus 2008), sehingga saat ini semua umat
beragama di Singapura merupakan subjek cakupan dari HOTA.

c.

Berumur antara 21 -60 tahun

d.

Berpikiran sehat (tidak gila)

e.

Mereka yang tidak membuat perjanjian berkeberatan untuk melakukan


transplantasi organ pada masa hidupnya
HOTA pertama kali diperkenalkan di Singapura pada tahun 1987 sebagai

hukum yang memberikan izin untuk melakukan pengambilan ginjal dari orang
yang telah meninggal dunia di rumah sakit akibat kecelakaan, untuk keperluan
transplantasi organ, di mana orang tersebut semasa hidupnya tidak memberikan
pernyataan berkeberatannya terhadap transplantasi organ. Pada saat HOTA
diperkenalkan untuk pertama kalinya di Singapura, suatu pendekatan yang
konservatiflah yang dipergunakan karena penduduk Singapura sebelumnya tidak
familiar dengan konsep transplantasi organ, serta terdapat pula keengganan yang
didasarkan atas alasan kebudayaan, untuk melakukan transplantasi organ. Oleh
karena itu, pada awal kelahirannya, HOTA hanya melingkupi transplantasi ginjal
yang diambil dari orang yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Bentuk lain dari
transplantasi organ pada saat itu belum dikembangkan dengan baik di Singapura.
Pada tanggal

6 Januari 2004, HOTA Singapura

diamandemen.

Amandemen tersebut berakibat lebih luasnya manfaat yang mungkin didapat oleh
warga Singapura dari pengaturan tentang transplantasi organ manusia. Beberapa
poin penting dalam amandemen HOTA antara lain adalah memperluas cakupan
27

HOTA yang pada awalnya hanya menyangkut transplantasi ginjal. Setelah


diamandemen. HOTA mencakup juga transplantasi hati, jantung, dan kornea.
Selanjutnya, sebelum diamandemen, HOTA hanya melingkupi kematian yang
terjadi akibat kecelakaan, namun setelah diamandemen, HOTA dapat juga berlaku
kepada kematian yang terjadi akibat segala sebab. Sebelum HOTA diamandemen,
HOTA hanya mengatur transplantasi organ yang dilakukan antara orang yang
telah meninggal dunia dengan orang yang masih hidup, namun setelah
diamandemen, HOTA juga mengatur transplantasi organ yang dilakukan oleh
kedua orang yang masih hidup, atau dnegan kata lain living donor.
Setelah diamandemen, organ yang diliputi dan diatur dalam HOTA antara
lain: 4

Ginjal
Hati
Kornea
Jantung
HOTA dapat diterapkan saat peristiwa-peristiwa sebagai berikut terjadi:
1. Saat seseorang meninggal dunia di Rumah Sakit
2. Saat kematian tersebut sesuai dengan pengertian meninggal dunia yang
terdapat dalam Bagian I, Seksi 2A Interpretation Act
3. Kematian di sini dapat berarti kematian karena berhentinya detak jantung
(cardiac death) atau kematian batang otak (brain death)
Hukum Singapura menyatakan seseorang telah meninggal dunia saat:
a) Cardiac death atau kematian karena berhentinya detak jantung. Kematian
ini adalah kematian yang paling umum. Untuk menyatakan kematian
karena berhentinya detak jantung hanya diperlukan seorang dokter untuk
menyatakannya.
b) Brain death atau kematian batang otak. di mana dibutuhkan dua orang
dokter spesialis yang menyatakan kematian tersebut. Salah satu dari
dokter spesialis yang menyatakan kematian batang otak tersebut tidak
boleh seorang dokter yang turut serta merawat pasien.
c) Bagi mereka yang yang tercatat sebagai kandidat donor organ, maka
kematiannya harus dinyatakan oleh dua orang tenaga medis yang:

28

i.

Tidak pernah ikut serta dalam upaya perawatan atau tindakan medis
bagi kandidat pendonor tersebut.

ii.

Bukan termasuk dalam tim yang berpenganih dalam penentuan


pengambilan organ yang disumbangkan dari tubuh calon pendonor.

iii.

Tidak pernah tiirut serta dalam proses pemilihan donor untuk resipien.

iv.

Tidak akan turut serta dalam proses pemilihan donor untuk resipien.

v.

Memiliki kualifikasi medis

HOTA mengatur

mengenai

dua

bentuk

transplantasi.

Pertama

transplantasi dari pendonor yang masih hidup (living donor). Bentuk yang
kedua adalah transplantasi dari orang yang telah meninggal dunia (kadaver).
HOTA melarang penjualan organ dan darah. Article 14 dari HOTA menyatakan
bahwa penjualan atau pembelian organ dan darah manusia dilarang dan tidak
sah.
B. Medical (Theraphy, Education and Research) Act (MTERA)
MTERA diundangkan oleh Parlemen Singapura pada tahun 1973.
MTERA memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memberikan
persetujuannya untuk mendonorkan organnya saat ia meninggal nanti untuk
keperluan pengobatan (termasuk transplantasi), pendidikan atau penelitian.
MTERA juga menyediakan kesempatan bagi keluarga seseorang yang telah
meninggal, yang selama hidupnya belum memperlihatkan keinginannya untuk
mendonorkan organnya, untuk mendonorkan organ orang yang telah meninggal
tersebut untuk kepentingan pengobatan, pendidikan atau penelitian. Pada tahun
1973 hingga tahun 1987, ginjal kadaver untuk didonorkan didapatkan melalui
MTERA ataupun dari luar negeri.
Setiap orang yang berumur 18 tahun ke atas dapat memberikan
persetujuannya untuk mendonorkan organ dan atau jaringan tubuhnya melalui
MTERA. Penarikan kembali persetujuan tersebut hanya dapat dilakukan oleh
29

orang yang telah memberi persetujuannya. Setelah meninggalnya pendonor,


apabila terdapat perbedaan keputusan antara pendonor dengan keluarganya,
maka keputusan pendonor saat hidupnya lah yang dijadikan dasar pengambilan
keputusan mengenai akan didonorkan atau tidaknya organ dan atau jaringan
tubuh dari pendonor. MTERA memberikan pilihan apakah seorang calon
pendonor hendak mendonorkan seluruh organ dan atau jaringan tubuhnya atau
organ dan atau jaringan tubuh tertentunya saja.
Pada dasarnya, MTERA ada untuk mengisi kekurangan dari HOTA,
yaitu bagi orang-orang serta organ dan jaringan tubuh yang tidak diatur oleh
HOTA. Selain itu, tujuan MTERA bukan sekedar untuk keperluan transplantasi
organ dan atau jaringan tubuh, seperti layaknya yang diatur dalam HOTA. Akan
tetapi. MTERA juga mengatur mengenai pendonoran organ dan jaringan tubuh
untuk kepentingan pendidikan dan penelitian. 4
Tabel 1. Perbandingan antara Human Organ Transplant Act (HOTA), the Medical
(Therapy, Education, and Research) Act (MTERA), dan Peraturan Pemerintah No.
18 Tahun 1981
Kriteria
Umur

HOTA

MTERA

PP No.18 Tahun

21 tahun ke atas

1981
Untuk diri sendiri: 21 tahun
18 tahun ke atas
Orang

sudah

atau
pernah

dewasa menikah,

sesuai

dapat

dengan

usia

mendonorkan

dewasa

yang

organ

atau diatur oleh Kitab

jaringan

tubuh Undang-Undang

keluarganya yang Hukum


telah

Perdata.

meninggal, Untuk seseorang

berapapun

yang

belum

umurnya.

mencapai usia 21
tahun dan atau
belum

30

menikah,

keluarganya yang
telah

dewasa

dapat
memberikan
Organ
Jaringan

dan
Tubuh

yang diatur

1.
2.
3.
4.

persetujuannya.
Seluruh organ dan Tidak
dirinci

Ginjal
Hati
Jantung
Kornea
mata

Tujuan

jaringan

tubuh organ dan atau

yang

dapat jaringan

tubuh

didonasikan,

yang

seperti:

didonasikan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
1.

Ginjal
Hati
Jantung
Kornea mata
Paru-paru
Tulang
Kulit
Untuk

Untuk

transplantasi organ

transplantasi

transplantasi

manusia

organ

Untuk

dapat

dan organ dan atau

jaringan tubuh jaringan


manusia

Kewarganegaraan

Warga
penduduk

Agama

Singapura
Setiap
(Muslim

dan manusia

perawatan
2. Pendidikan
3. Penelitian
Negara Setiap

Singapura

tubuh

Tidak dijelaskan

dan kewarganegaraan
tetap
agama Setiap

agama Tidak

telah (Bagi

dimasukkan dalam Muslim,

ada

umat pengaturan
MUIS mengenai agama

HOTA semenjak 1 telah

bagi

Agustus 2008)

ataupun penerima

mengeluarkan
fatwa
31

pendonor

yang donor yang diatur

menyatakan
bahwa

dalam

donor perundang-

ginjal,

hati, undangan tentang

jantung,

dan Transplantasi

korena

mata Organ dan atau

diperbolehkan

Sistem Persetujuan

Opt-out

peraturan

Jaringan

Tubuh

manusia

di

Indonesia
Opt-in

Opt-in

Setiap orang yang Setiap orang yang Setiap orang yang


memenuhi kriteria tidak masuk dalam hendak
di

atas

otomatis

secara pengaturan dalam mendonorkan


menjadi HOTA,

termasuk organ dan atau

subjek pengaturan juga bagi mereka jaringan


dalam

HOTA, yang

hendak tubuhnya,

kecuali

bagi mendonasikan

mereka

yang organ

keberatan

untuk jaringan

dan

wajib

memberikan
atau persetujuannya di

tubuh atas

kertas

mendonorkan

yang tidak diatur bermaterai

organnya

dalam

HOTA, dengan

dapat mengajukan disaksikan


persetujuannya

dua

orang saksi

Jual Beli Organ Ilegal dari Sisi Hukum (Black Market)


Sangat terbatasnya jumlah pendonor legal dan juga mahalnya harga organ
tubuh tertentu seperti ginjal, jantung dan paru-paru membuat sebagian orang
mencari alternatif lain yaitu black market atau pasar gelap. Persediaan organ
tubuh lebih banyak dan harga yang ditawarkan juga jauh

lebih murah

dibandingkan dengan harga yang diperoleh dari proses pembelian organ tubuh
secara legal. Berikut ini harga organ tubuh manusia di pasar gelap : 7
Sepasang bola mata Rp.18 Juta, kulit kepala Rp.7 Juta, liver Rp. 1,8
Milyar, tengkorak dan gigi Rp.14 Juta, pundak Rp.6 juta, arteri koroner
32

Rp.18 Juta, jantung Rp.1,4 Milyar, darah per setengah liter Rp.4 Juta, paruparu Rp.1,3 Milyar, limpa Rp.6 Juta, perut Rp.6 Juta, usus kecil Rp.30 Juta,
kantong empedu Rp.14 Juta, pankreas Rp.1,6 Milyar, tangan dan lengan bawah
Rp.4,5 Juta, ginjal Rp.3 Milyar, kulit Rp.118 Ribu per inchi persegi.
Salah satu contoh jalur pasar gelap mendapatkan organ tubuh secara ilegal
adalah melalui jasa rumah pemakaman yaitu dengan cara : Broker pasar gelap
akan mengajak orang dalam dari rumah pemakaman untuk menyediakan organ
tubuh yang dibutuhkan dan akan dibeli dengan harga yang telah disepakati.
Setelah organ tubuh jenazah dicuri, tubuh jenazah yang ada akan dijahit kembali
untuk mengaburkan tindakan kriminal dan ketika tubuh jenazah dikubur, hanya
abu yang akan dikembalikan kepada keluarga jenazah yang sebenarnya beberapa
organ tubuhnya telah dicuri.
Hal lain yang dilakukan yaitu dengan cara menipu sang donor, ada juga
yang dilakukan dengan motif pencurian organ tubuh lewat adopsi. Tidak hanya
itu, ada juga yang melalui jalur perdagangan manusia dengan membujuk anakanak untuk bekerja diluar negeri secara ilegal, padahal sudah masuk dalam
sindikat penjualan organ tubuh. Praktekjual beli bayi juga untuk dimanfaatkan
organ tubuhnya dengan harga jual Rp. 3 juta Rp. 5 juta oleh si pembeli dimana
bayi-bayi tersebut dirawat dan dipelihara hingga berusia tujuh tahun. Setelah
beranjak remaja, kemudian mereka dibunuh dan organnya dijual hingga ratusan
juta rupiah.
Mengingat penting dan vitalnya organ tubuh manusia, di beberapa negara
kasus pencurian dan jual beli organ tubuh manusia ternyata merupakan hal yang
biasa, seperti negara Moldova, Mesir, Pakistan, India, bahkan lebih parah di China
yang konon pemerintahnya memaklumi kegiatan perdagangan organ tubuh
manusia. Tetapi pada tahun 1984 pemerintah China menerapkan Undang-Undang
baru untuk mengatur upaya pemanfaatan organ tubuh pada manusia yang telah
meninggal, terutama para tahanan penjara.
Penjualan organ tubuh di Indonesia diatur dalam Kitab Undang Undang
Hukum Pidana Pasal 204, Pasal 205 mengatur tentang kejahatan yang
membahayakan keamanan umum bagi orang atau barang. Namun pasal ini tidak
33

mengatur tentang jual beli organ tubuh untuk kepentingan transplantasi. Oleh
karena itu, pemerintah membuat suatu kebijakan lebih lanjut untuk mengatur jual
beli organ tubuh untuk kepentingan transplantasi dalam peraturan diluar Kitab
Undang Undang Hukum Pidana (KUHP).

Peraturan tersebut antara lain:


1. Undang Undang No 21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan

Orang:
Undang Undang No 21 Tahun 2007 Pasal 1 angka 7
o Eksploitasi adalah tindakan dengan atau tanpa persetujuan korban yang
meliputi tetapi tidak terbatas pada pelacuran, kerja atau pelayanan paksa,
perbudakan atau praktik serupa perbudakan, penindasan, pemerasan,
pemanfaatan fisik, seksual, organ reproduksi, atau secara melawan
hukum memindahkan atau mentransplantasi organ dan/atau jaringan
tubuh atau memanfaatkan tenaga atau kemampuan seseorang oleh pihak

lain untuk mendapatkan keuntungan baik materiil maupun immateriil.


Undang Undang No 21 Tahun 2007 Pasal 2
o (1) Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan,
penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang
dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan,
penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau
posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat
walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali
atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah
negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling
singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana
denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah)
dan paling banyak Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
o Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan
orang tereksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama

sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


Undang Undang No 21 Tahun 2007 Pasal 3
34

o Setiap orang yang memasukkan orang ke wilayah negara Republik


Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di wilayah negara
Republik Indonesia atau dieksploitasi di negara lain dipidana dengan
pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima
belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus
dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus
juta rupiah).
Undang Undang No 21 Tahun 2007 Pasal 4
o Setiap orang yang membawa warga negara Indonesia ke luar wilayah
negara Republik Indonesia dengan maksud untuk dieksploitasi di luar
wilayah negara Republik Indonesia dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan
pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
Undang Undang No 21 Tahun 2007 Pasal 5
o Setiap orang yang melakukan pengangkatan anak dengan menjanjikan
sesuatu atau memberikan sesuatu dengan maksud untuk dieksploitasi
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak
Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
Undang Undang No 21 Tahun 2007 Pasal 6
o Setiap orang yang melakukan pengiriman anak ke dalam atau keluar
negeri dengan cara apa pun yang mengakibatkan anak tersebut
tereksploitasi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling
sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling
banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)
Undang Undang No 21 Tahun 2007 Pasal 7
o (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2),
Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan korban menderita
luka berat, gangguan jiwa berat, penyakit menular lainnya yang
membahayakan jiwanya, kehamilan, atau terganggu atau hilangnya
35

fungsi reproduksinya, maka ancaman pidananya ditambah 1/3


(sepertiga) dari ancaman pidana dalam Pasal 2 ayat (2), Pasal 3, Pasal 4,
Pasal 5, dan Pasal 6.
o (2) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2),
Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 mengakibatkan matinya korban,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling
lama penjara seumur hidup dan pidana denda paling sedikit
Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
2. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 192
Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ atau
jaringan tubuh dengan dalih apa pun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 64
ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan
denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
3. Tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat Anatomis
o Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 17: Dilarang
memperjual-belikan alat atau jaringan tubuh manusia.
o Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 18. Dilarang
mengirim dan menerima alat dan jaringan tubuh manusia dalam semua
bentuk ke dan dari luar negeri.
Pada undang undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana
Perdagangan Orang Pasal 1 angka 7 ini pengaturan mengenai penjualan organ
tubuh manusia dalam rangka transplantasi diletakkan pada pengertian eksploitasi
dikarenakan di dalam pengertian eksploitasi terdapat rumusan perbuatan yang
dapat

dipidana

berupa

pemanfaatan

fisik

serta

pemindahan

atau

mentransplantasikan organ atau jaringan tubuh untuk mendapatkan keuntungan


baik materiil maupun immateriil. Terkait rumusan diatas apabila terdapat
seseorang yang memindahkan organ tubuh miliknya kepada orang lain secara
melawan hukum demi mendapat keuntungan akan mendapat pidana. 7
Selain Undang Undang No 21 tahun 2007, Undang Undang Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan juga mengatur tentang larangan

dalam hal

penjualan organ tubuh manusia. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 64 ayat (3) yang
36

menentukan bahwa organ dan atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan


dengan dalih apapun. Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh hanya
dilakukan untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersialkan. Pada
dasarnya transplantasi organ tubuh bertujuan untuk penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan yang hanya dilakukan oleh tenaga kesehatan yang
mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di fasilitas
pelayanan kesehatan tertentu. Transplantasi organ tubuh harus memperhatikan
kesehatan pendonor yang bersangkutan dan mendapat persetujuan pendonor dan
atau ahli waris atau keluarganya.
Kedua Undang Undang tersebut lebih lanjut diatur dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 tentang Bedah Mayat Klinis dan Bedah Mayat
Anatomis. Peraturan Pemerintah tersebut menentukan bahwa adanya larangan
memperjualbelikan, mengirim, dan menerima alat dan atau jaringan tubuh
manusia dalam semua bentuk ke dan dari luar negeri.
Hal ini diancam dengan pidana kurungan selama lamanya 3 bulan atau
denda setinggi tingginya Rp 7.500,00 ( tujuh ribu lima ratus rupiah).
II.2.3 Transplantasi Organ Dari Aspek Agama
Agama memegang peranan penting dalam pengaturan mengenai donasidan
transplantasi organ yang beralaku di seluruh dunia. Sehubungan denganperanan
penting agama dalam masyarakat indonesia, mengenai cara pandangmasyarakat
indonesia terhadap donasi dan transplantasi organ tubuh manusia di Indonesia,
maka pemabahasan mengenai transpalntasi dan donasi organ inimeliputi seluruh
agama sebagaimana dimaksud dalam Penetapan Presiden no 14tahun 1967.

37

II.2.3.I Transplantasi Organ dari Segi Agama Islam


Ada 3 (tiga) tipe donor organ tubuh, dan setiap tipe mempunyai
permasalahan sendirisendiri, yaitu;
a. Donor dalam keadaan hidup sehat. Tipe ini memerlukan seleksi cermat dan
general check up, baik terhadap donor maupun terhadap penerima (resepient),
demi menghindari kegagalan transplantasi yang disebabkan oleh karena
penolakan tubuh resepien, dan sekaligus mencegah resiko bagi donor.
b. Donor dalam hidup koma atau di duga akan meninggal segera. Untuk tipe ini,
pengambilan organ tubuh donor memerlukan alat control dan penunjang
kehidupan, misalnya dengan bantuan alat pernapasan khusus. Kemudian alat-alat
tersebut di cabut setelah pengambilan organ tersebut selesai.
c. Donor dalam keadaan mati. Tipe ini merupakan tipe yang ideal, sebab secara
medis tinggal menunggu penentuan kapan donor dianggap meninggal secara
medis dan yudiris dan harus diperhatikan pula daya tahan organ tubuh yang mau
di transplantasi.
Hingga kini, tidak ada ulama yang mengajukan argumen tertulis yang
secara terang-terangan mendukung transplantasi organ. Namun demikian, ulama
di berbagai belahan dunia telah menulis argumen-argumen yang mendukung
maupun mengeluarkan fatwa-fatwa keagamaan mengenai transplantasi organ.
Para ulama yang mendukung pembolehan transplantasi organ berpendapat
bahwa transplantasi organ harus dipahami sebagai satu bentuk layanan altruistik
bagi sesama muslim.
Hadis Nabi SAW :Berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena
sesungguhya Allah tidak meletakkan suatu pentakit, kecuali dia juga meletakkan
obat penyembuhnya,selain penyakit yang satu, yaitu penyakit tua.(H.R. Ahmad,
Ibnu Hibban dan Al-Hakim dari Usamah Ibnu Syuraih)

38

Hadist tersebut menunjukkan, bahwa wajib hukumnya berobat bila sakit,


apapun jenis dan macam penyakitnya, kecuali penyakit tua. Oleh sebab itu,
melakukan transplantasi sebagai upaya untuk menghilangkan penyakit hukumnya
mubah, asalkan tidak melanggar norma ajaran islam.
Transplantasi organ hukumnya mubah dan dapat berubah hukumnya sesuai
dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Transplantasi ini dapat di qiyaskan
dengan donor darah dengan illat bahwa donor darah dan organ tubuh dapat
dipindahkan tempatnya, keduannya suci dan tidak dapat diperjual belikan. Tentu
saja setelah perpindahan itu terjadi maka tanggungjawab atas organ itu menjadi
tanggungan orang yang menyandangnya. Kaidah-kaidah hukum wajib dijunjung
dalam melakukan trasnplantasi ini antaranya :
Tidak boleh menghilangkan bahaya dengan menimbulkan bahaya lainnya artinya:
a.

Organ tidak boleh diambil dari orang yang masih memerlukannnya

b. Sumber organ harus memiliki kepemilikan yang penuh atas organ yang
diberikannnya, berakal, baligh, ridho dan ikhlas dan tidak mudharat bagi dirinya.
c. Tindakan transplantasi mengandung kemungkinan sukses yang lebih besar dari
kemungkinan gagal.
d. Organ manusia tidak boleh diperjualbelikan sebab manusia hanya
memperoleh hak memanfaatkan dan tidak sampai memiliki secara mutlak.
Pencangkokan dilakukan ketika pendonor telah meninggal, baik secara
medis maupun yuridis, maka menurut hukum Islam ada yang membolehkan dan
ada yang mengharamkan. Yang membolehkan menggantungkan pada dua syarat
sebagai berikut:
1. Resipien dalam keadaan darurat, yang dapat mengancam jiwanya dan ia
sudah menempuh pengobatan secara medis dan non medis, tapi tidak berhasil.

39

2. Pencangkokan tidak menimbulkan komplikasi penyakit yang lebih berat


bagi repisiendibandingkan dengan keadaan sebelum pencangkokan.
Adapun alasan membolehkannya adalah sebagai berikut:
1. Al-Quran Surat Al-Baqarah 195 di atas.
Ayat tersebut secara analogis dapat difahami, bahwa Islam tidak
membenarkan pula orang membiarkan dirinya dalam keadaan bahaya atau
tidak berfungsi organ tubuhnya yang sangat vital, tanpa ausaha-usaha
penyembuhan termasuk pencangkokan di dalamnya.
2. Surat Al-Maidah: 32.Artinya;Dan barang siapa yang memelihara
kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan
manusia seluruhnya.
Ayat

ini

sangat

menghargai

tindakan

kemanusiaan

yang

dapat

menyelematkan jiwa manusia.


3. Hadits
Artinya:Berobatlah wahai hamba Allah, karen sesungguhnya Allah tidak
meletakkan penyakit kecuali Dia meletakkan jua obatnya, kecuali satu
penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu penyakit tua.
Dalam kasus ini, pengobatannya adalah dengan cara transplantasi organ
tubuh.
1. Kaidah hukum Islam
Artinya:Kemadharatan harus dihilangkan.Dalam kasus ini bahaya
(penyakit) harus dihilangkan dengan cara transplantasi.
2. Menurut hukum wasiat, keluarga atau ahli waris harus melaksanakan
wasiat orang yang meninggal.Dalam kasus ini adalah wasiat untuk donor
organ tubuh. Sebaliknya, apabila tidak ada wasiat, maka ahli waris tidak
boleh melaksanakan transplantasi organ tubuh mayat tersebut.

40

Akan tetapi Mendonorkan Organ tubuh dapat menjadi haram hukumya apabila :
1. Transplantasi organ tubuh diambil dari orang yang masih dalam keadaan
hidup sehat, dengan alasan :
Firman Allah dalam Alquran S. Al-Baqarah ayat 195, bahwa ayat tersebut
mengingatkan , agar jangan gegabah dan ceroboh dalam melakukan sesuatu,
tetapi harus memperhatikan akibatnya, yang kemungkinan bisa berakibat
fatal bagi diri donor, meskipun perbuatan itu mempunyai tujuan
kemanusiaan yang baik dan luhur. Melakukan transplantasi dalam keadaan
dalam keadaan koma.Karena hal itu dapat mempercepat kematiannya dan
mendahului kehendak Allah. Dalam hadis nabi dikatakan : Tidak boleh
membuat madharat pada diri sendiri dan tidak boleh pula membuat madharat
pada orang lain.(HR. Ibnu Majah, No.2331)
2. Penjualan Organ Tubuh Sejauh mengenai praktik penjualan organ
tubuh manusia, ulama sepakat bahwa praktik seperti itu hukumnya haram
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan berikut :
Seseorang tidak boleh menjual benda-benda yang bukan miliknya.Sebuah
hadis

menyatakan,

Diantara

orang-orang

yang

akan

diminta

pertanggungjawaban di akhirat adalah mereka yang menjual manusia


merdeka dan memakan hasilnya.Dengan demikian , jika seseorang
menjual manusia merdeka, maka selamanya si pembeli tidak memiliki hak
apapun atas diri manusia itu, karena sejak awal hukum transaksi itu sendiri
adalah

haram.

Penjualan

organ

manusia

bisa

mendatangkan

penyimpangan, dalamarti bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan


diperdagangkannya organ-organtubuh orang miskin dipasaran layaknya
komoditi lain.

41

II.2.3.2 Transpalntasi Organ dari Segi Agama Kristen


Pengorbanan dan menolong sesama merupakan dasar ajaran bagi seluruh
umat kristiani. Bagi umat kristen menolong sesama merupakan perbuatan cinta
dan mengikuti teladan Yesus.
Di alkitab tidak dituliskan mengenai mendonorkan organ tubuh, selama
niatnya tulus dan tujuannya kebaikan itu boleh-boleh saja terutama untuk
membantu kelangsungan hidup suatu nyawa (nyawa orang yang membutuhkan
donor organ), bukan karena mendonorkan untuk mendapatkan imbalan
materi/uang untuk si pendonor organ. Akan lebih baik lagi bila si pendonor sudah
mati dari pada saat si pendonor belum mati, karena saat masih hidup organ tubuh
itu bagaimanapun penting artinya, sedangkan saat sudah mati tidak dibutuhkan
tubuh.

II.2.3.3 Transpalntasi Organ dari Segi Agama Katolik


Secara umum, pandangan agama katolik

mengenai donasi organ dan

jaringan adalah perbuatan amal dan cinta kasih. Donor organ merupakan
keputusan individu yang karena tujuan mulianya dapat melakukan setiap saat
untuk sesama.
Bahkan , dalam buku Ensiklik " Evangelium Vitae " ( " The Gospel of Life " ,
1995), ia mengemukakan bahwa salah satu cara untuk memelihara budaya asli
hidup " adalah sumbangan organ , dilakukan secara etis dapat diterima , dengan
maksud untuk menawarkan kesempatan kesehatan dan bahkan kehidupan itu
sendiri untuk orang sakit yang kadang-kadang tidak memiliki harapan lain
Gereja menganjurkan untuk mendonorkan organ tubuh sekalipun jantung,
asal saja pedonor sudah benar-benar mati artinya bukan mati secara medis yaitu
otak yang mati, seperti koma, vegetative state atau kematian medis lainnya. Pada

42

keadaan hidup dan sehat kita dianjurkan untuk menolong hidup orang lain dengan
menjadi donor.

Bila donor tidak menuntut pedonor harus mati, seperti donor darah,
sumsum, ginjal, kulit, mata, rambut, lengan, jari, kaki atau urat nadi, tulang maka
dianjurkan untuk melakukannya. Sedangkan menjadi donor mati seperti jantung
atau bagian tubuh lainnya dimana donor tidak bisa hidup tanpa adanya organ
tersebut, maka wajib untuk dinyatakan mati oleh ajaran GK. Kematian klinis atau
medis bukan mati sepenuhnya menurut gereja, jadi harus menunggu sampai si
donor benar-benar mati untuk diambil organnya, dan ini bukti tidak ada halangan
dalam pengambilan organ.

II.2.3.4 Transpalntasi Organ dari Segi Agama Budha.


Pengertian Budhis, seorang terlahir kembali dengan badan yang baru. Oleh
karena itu, pastilah organ tubuh yang telah didonorkan pada kehidupan yang
lampau tidak lagi berhubungan dengan tubuh dalam kehidupan yang sekarang.
Artinya, orang yang telah mendermakan anggota tubuh tertentu tetap akan terlahir
kembali dengan organ tubuh yang lengkap dan normal. Ia yang telah berdonor
kornea mata misalnya, tetap akan terlahir dengan mata normal, tidak buta.
Malahan, karena donor adalah salah satu bentuk karma baik, maka ketika
seseorang berderma kornea mata, dipercaya dalam kelahiran yang berikutnya, ia
akan mempunyai mata lebih indah dan sehat dari pada mata yang ia miliki dalam
kehidupan saat ini.
Buddhisme tidak memiliki aturan baik untuk atau terhadap
darah , sumsum tulang dan donasi organ .Bagian penting dari agama
Buddha adalah keinginan untuk meringankan penderitaan .Sekarat dan

43

kematian dipandang sebagai waktu yang sangat penting, tubuh harus


diperlakukan dengan hormat

II.2.3.5 Transpalntasi Organ dari Segi Agama Hindu


Menurut ajaran agama Hindu, Donasi dan Transplatasi Organ tubuh dapat
dibenarkan dengan alasan, bahwa pengorbanan ( yajna)kepada orang yang
menderita, agar dia bebas dari penderitaan dan dapat menikmati kesehatan dan
kebahagiaan , jauh lebih penting, utama, mulia, dan luhur, dari keutuhan organ
tubuh manusia yang telah meninggal. Tetapi sekali lagi perbuatan ini harus
dilakukan diatas prinsip yajna yaitu pengorbanan yang tulus ikhlas tanpa pamrih
dan bukan dilakukan untuk maksud mendapatakn keuntungan material. Alasan
yang lebih bersifat logis dijumpai dalam kitab Bhadawadgita II.2 sebagai berikut :
Wasamsi jirnani yatha wihaya nawani grihnati naroparani, tahtha sarirani
wihaya jirnany anyani samyati nawani dehi artinya: seperti halnya seseorang
mengenakan pakaiaian baru dan membuka pakaian lama, begitu pula Sang Roh
menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan
lama yang tiada berguna. Kematian adalah berpisahnya jiwatman atau roh dengan
jasmani ini. Badan jasmani atau sthula sarira ( badan kasar) terbentuk dari Panca
Maha Bhuta ( apah= unsur cair, prethiwi=unsur padat, teja=unsur sinar,
bayu=unsur

udara

dan

akasa=unsur

ether).

Ibarat

pakaian,

apabila

jasmani( pakaian) sudah lama rusak, kita membuangnya dan menggantikannya


dengan pakaian yang baru.
Menurut

hukum

agama

Hindu,

Tidak

ada

hukum

agama

mencegah Hindu dari menyumbangkan organ atau jaringan mereka


.Hindu percaya pada kehidupan setelah kematian dan ini adalah proses
yang berkelanjutan dari kelahiran kembali .donasi organ merupakan

44

bagian integral dari kehidupan Hindu , sebagaimana dibimbing oleh


Veda.

BAB III
PEMBAHASAN
III.1. Contoh Kasus
MENGAPA SAYA MENDONORKAN SUMSUM TULANG
Oleh William Hudson, CNN (produser CNN Medical Unit)
26 Desember 2012
Saat saya menerima surat musim panas ini dari Be the Match, saya tidak
tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Saya hanya tahu bahwa saya
berkesempatan untuk menyelamatkan hidup seseorang.
Saya mengetahui bahwa tidak peduli sebanyak apa waktu yang saya
berikan, sebanyak apapun uang yang saya sumbangkan maupun yang tidak saya
sumbangkan ke yayasan amal, hal ini berbeda. Ada seorang pasien dengan kanker
darah yang sistem imunnya mirip dengan milik saya. Singkat cerita, dari
banyaknya orang di dunia ini, saya adalah orang yang paling cocok untuk
menyelamatkan hidupnya.
Hal ini merupakan suatu kesempatan dan tanggung jawab yang luar biasa.
Sekarang saya sudah melewati semua proses itu, termasuk prosedur yang
disebut pemanenan sumsum tulang. Sudah jelas hal itu merupakan salah satu
hal yang menjadi titik penting dalam hidup saya.
Partisipasinya hanya membutuhkan waktu yang sedikit yang dibutuhkan
hanyalah usapan air liur dengan menggunakan kapas. Kesempatan menjadi
seorang donor sekitar 1 banding 540.

45

Akan tetapi jika sebuah surat permintaan donor datang, seperti yang terjadi
pada saya, kesempatan nyata untuk menyelamatkan hidup seseorang amatlah
menarik sehingga langkah-langkah berikutnya akan terasa mudah dan tidak perlu
ada upaya sama sekali.

Surat Permintaan Donor


Sesuai dengan tujuan program donor, 1 dari 40 anggota akan mendapatkan
seorang donor potensial pada suatu waktu yang tepat. Ini mengindikasikan bahwa
dengan berdasarkan sampel air liur, anda bisa jadi adalah seorang donor yang
cocok untuk seseorang.
Saya sudah terdaftar sejak saat 5 tahun sebelum saya mendapatkan surat
donor potensial.
Kemudian inilah yang terjadi berikutnya.
Saya menghubungi Be the Match dan mengatakan kepada mereka bahwa
saya masih berminat untuk donor sumsum tulang. Kemudian seorang spesialis
yang telah ditunjuk untuk program ini menjadwalkan tes darah awal untuk saya.
Tes itulah yang akan menentukan apakah saya merupakan kandidat yang paling
cocok untuk resipien yang telah ditentukan tersebut atau tidak. Kemudian, untuk
proses selanjutnya anda hanya dihubungi melalui email dan telepon sehingga
prosesnya sangat mudah.
PBSC vs sumsum tulang
Jika donor dan resipiennya cocok, anda kemudian akan diberi pilihan
apakah akan mendonorkan sumsum tulang yang sesungguhnya, atau apa yang
disebut dengan peripheral blood stem cells (sel punca darah perifer), disebut juga
dengan PBSC. Dokter dari pasien akan meminta salah satunya, tetapi pendonor
akan menentukan yang mana yang bersedia untuk didonorkan. Saya penasaran
apakah keputusan tersebut akan menentukan kemungkinan bertahan hidup
resipien. Karena semua hal ini bertujuan untuk menyelamatkan hidup resipien.
46

Hudson menjalani prosedur di Medstar Georgetown University Hospital,


yang telah melakukan banyak prosedur pemanenan sumsum tulang lebih dari
tempat manapun di Amerika Serikat.
Saat kami mengkaji mengenai PBSC vs sumsum tulang, kami melihat hasil
yang dapat dibandingkan pada dewasa, tutur Dr John Miller, direktur medis di
Be the Match dan National Marrow Donor Program.
Saat kami melihat hasilnya pada anak-anak, kami melihat hasil yang baik
dengan sumsum tulang, dan hasil dalam waktu jangka panjangnya dalam hal
komplikasi lebih kecil pada sumsung tulang dibandingkan dengan PBSC sehingga
kebanyakan transplantasi anak menggunakan sumsum tulang sebagai sumber
transplantasi.
Karena resipien saya adalah orang dewasa, saya merasa nyaman untuk
memilih yang manapun di antara kedua pilihan.
Proses pemanenan sumsum tulang merupakan prosedur operasi minor yang
biasanya dilakukan di bawah anestesi umum, sehingga pendonor tidak akan ingat
apapun dan tidak mengalami rasa sakit sedikitpun kecuali pada kasus yang jarang.
Sebuah jarum disuntikkan ke belakang tulang pelvis, dan sumsum tulang diambil
melalui jarum suntik.
Persentase kecil (1.3%) pendonor mengalami komplikasi serius karena
anestesi atau kerusakan tulang, saraf dan otot di daerah panggul, tutur Be the
Match.
Pada intinya, prosedur ini berisiko kecil dan inilah yang saya pilih.
Akan tetapi, pilihan yang lebih umum adalah mendonasikan sel punca darah
perifer. Prosedur ini membutuhkan satu injeksi obat yang dinamakan filgrastim
setiap harinya untuk lima hari yang memindahkan sel punca keluar dari sumsum
tulang ke aliran darah. Pada proses ini, pendonor akan merasa gatal dan nyeri.
Pada hari kelima, pendonor akan dihubungkan ke mesin apherisis, yang
mengambil darah dari salah satu lengan, mengisolasi sel punca yang sudah
tersirkulasi di darah, dan kemudian ditransfusi kembali ke salah satu lengan
pendonor. Proses ini memakan waktu selama 4-6 jam.

47

Obat filgrastim terhitung aman menurut para klinisi, akan tetapi belum ada
data yang mendukung keamanannya dan meneliti efek jangka panjangnya dalam
penggunaan obat ini pada pendonor yang sehat. Sebagai pendonor, hal itu
membuat saya sedikit terdiam. Lalu, kemudian saya mencari apa yang dapat saya
ketahui.
Pada tahun 2009, para peneliti menemukan bahwa tidak adanya bukti bahwa
obat tersebut meningkatkan risiko kanker, berdasarkan sebuah studi selama 4
tahun.
Miller, yang merupakan salah satu dari penulis studi tersebut, menuturkan
bahwa data paling baru mengindikasikan bahwa penggunaan filgrastim dalam
donasi PBSC tidak meningkatkan risiko apapun.
Mendonorkan PBSC secara berkesinambungan membuat anda berpartisipasi
dalam penelitian klinis untuk meneliti risiko dan keuntungan jangka panjang.
Donasi
Enam bulan berlalu semenjak Be the Match pertama kali menghubungi saya
saat hari pendonoran. Alokasi waktu dan jadwal bergantung kepada kondisi
kesehatan dan jadwal pengobatan resipien. Tentu saja ada banyak formulir
persetujuan yang harus ditandatangani, dan pemeriksaan kesehatan lengkap
dengan X-ray, EKG dan sampel urin serta darah sebelum pendonoran. Prosesnya
itu sendiri memerlukan pergi ke kota lain, tetapi semua ongkos ditanggung untuk
pendonor dan satu orang yang menemani pendonor.
Pemanenan sumsum tulang saya memakan waktu sekitar 1 jam. Para dokter
membuat saya menginap di rumah sakit selama 1 malam, tapi tidak dengan
makanan rumah sakit yang seperti biasanya. Ruths Chris Steak House
menyediakan makanan untuk pendonor sumsum tulang di rumah sakit tempat saya
mendonorkan sumsum tulang.
Di hari berikutnya saya berjalan dengan pelan dan sedikit sakit, dengan
instruksi agar tidak memaksakan diri, selama 2 minggu selagi tubuh saya kembali
memproduksi sumsum tulang.
Segera setelah pemanenan sumsum tulang, sebuah jasa sukarela dengan
pesawat, mobil maupun kereta akan membawanya secara langsung kepada
48

resipien. Pada waktu ini, sel-sel sumsum tulang abnormal milik pasien sudah
dihancurkan dengan sengaja melalui kemoterapi atau radioterapi, dan kemudian
sel punca yang sehat diberikan kepada pasien melalui tetes intravena.
Setelah diinfus, sel-sel punca secara otomatis menuju ke kavitas tulang
resipien dan jika transplantasinya berhasil akan mulai membentuk sel-sel
darah baru.
Resipien saya bisa jadi berada dimanapun di dunia: 51% transplantasi
melalui Be the Match menyertakan donor dan resipien internasional. Jika kami
berdua setuju, kami dapat bertemu setidaknya setelah 1 tahun, tapi kami juga bisa
memilih untuk tetap tidak berkenalan. Saya berharap untuk bertemu dengannya.
Saya sudah membayangkan secara spesifik mengenai seperti apa dirinya,
dan juga membayangkan bahwa kami akan sama-sama menangis ketika bertemu.
Bergabung untuk berada dalam daftar donor merupakan suatu pernyataan
bahwa ketika kanker mengenai kita, maka kita semua akan terkena. Hal-hal yang
saya ketahui mengenai resipien saya adalah umurnya, diagnosis, dan dia samasama keturunan Inggris seperti saya.
Golongan minoritas memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk
menemukan pendonor yang bersedia dan juga memenuhi syarat, berhubung
golongan minoritas tidak terlalu diatur dalam daftar donor. Untuk pasien AfrikaAmerika, diperkirakan ada kemungkinan sebesar 66% untuk menemukan donor.
Pebisnis Amit Gupta, yang didiagnosis dengan leukemia pada tahun 2011,
berhasil menemukan donor setelah berkampanye untuk mengajak lebih banyak
orang Asia Selatan di Amerika Serikat dan juga di seluruh penjuru dunia untuk
mendaftar sebagai pendonor.
Rata-rata 54.000 orang bergabung dalam Be the Match tiap bulannya.
Untuk mendonor, klik marrow.org
III.2. Pembahasan Contoh Kasus
Analisa Kasus
Contoh kasus di atas membahas mengenai seorang pendonor sumsum
tulang yang menjelaskan pengalamannya dalam menjalani proses pemanenan
49

sumsum tulang dalam suatu program donor sukarela Be the Match di Amerika
Serikat. Program tersebut akan membantu menyalurkan donor sumsum tulang ke
seluruh dunia.
Kasus ini sesuai dengan Undang-undang Kesehatan No.36 tahun 2009
tentang pelaksanaan transplantasi organ, yaitu pasal 64 ayat 1 yang menjelaskan
bahwa transplantasi organ diizinkan untuk penyembuhan penyakit dan pemulihan
kesehatan. Ayat 2 yang mengatur mengenai tujuan pelaksanaan transplantasi
secara legal dan hanya dapat dilakukan demi tujuan kemanusiaan. Undangundang kesehatan no.36 tahun 2009 ayat 3, Rancangan KUHP Pasal 394, dan
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Pasal 17

yang melarang

penjualbelian organ.
Namun di Indonesia masih belum diizinkan untuk menerima organ dari
luar negeri sesuai dengan Peraturan Pemerintah no.18 tahun 1981 pasal 18.
Pendonor juga diperiksa oleh tenaga kesehatan yang berwenang di sarana
kesehatan tertentu dan menjalani tes-tes tertentu untuk menentukan apakah ia
memenuhi syarat untuk menjadi pendonor, dimana sesuai dengan Undang-Undang
Kesehatan No.36 Tahun 2009 Pasal 65.

50

BAB IV
PENUTUP

IV.1. KESIMPULAN
Transplantasi organ didefinisikan sebagai sebuah proses
pemindahan organ, sel atau jaringan dari seseorang ke orang lain
yang membutuhkan organ tersebut. Organ yang diambil dapat
berasal dari donor yang masih hidup, atau donor yang sudah
mati, atau dapat berasal pula dari sel punca.
diberikan

secara

autograft,

isograft,

Organ dapat

allograft,

xenograft,

transplantasi domino, atau bahkan transplantasi split.

Organ

yang ditransplantasi antara lain: ginjal, hati, jantung, pancreas,


paru, usus, kornea, tangan, kulit termasuk wajah, darah, islet of
Langerhans, darah, pembuluh darah, susmsum tulang, katup
jantung, tulang.
Proses transplantasi organ secara umum melibatkan donor dan resipien.
Pada donor, pertama-tama perlu dipastikan bahwa keinginannya untuk melakukan
transplantasi organ tidak didasari atas paksaan apapun dan bahwa donor
menyadari apa yang ia lakukan dan konsekuensi atas apa yang ia lakukan tersebut.
Pada donor hidup harus dipastikan bahwa donor masih dapat hidup sehat pasca
operasi transplantasi tersebut. Pada resipien harus dipastikan bahwa tubuhnya
dapat menjalani operasi yang diperlukan untuk transplantasi dan bahwa tubuhnya
dapat menerima dan tidak akan menolah organ dari donor. Hal ini berhubungan

51

dengan golongan darah, kecocokan HLA, cross match antara donor dan resipien,
serta

kemampuan

tubuh

resipien

untuk

bertahan

ketika

mendapatkan

imunosupresan untuk jangka waktu yang lama.


Secara etika, pada umumnya praktek transplantasi harus selalu memenuhi
keempat aspek bioetik, yakni: autonomy, beneficence, justice, dan nonmaleficence.
Secara hukum, Indonesia mengijinkan transplantasi organ, namun
melarang penjualan organ untuk alasan apapun. Hanya Filipina dan Iran yang
melegalkan penjualan organ. Dasar hukum yang digunakan di Indonesia untuk
transplantasi organ adalah:
1. Undang Undang No 21 Tahun 2007 Tentang Tindak Pidana Perdagangan
Orang, Pasal 1 angka 7 dan Pasal 2,3,4,5, 6 dan Pasal 7
2. Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan Pasal 64 dan
Pasal 192
3. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1981 Tentang Bedah Mayat Klinis
dan Bedah Mayat Anatomis Pasal 17 dan Pasal 18.
Indonesia menganut system opt-in, yang berarti mereka yang berniat
mendonorkan organnya harus secara eksplisit membuat pernyataan di atas materai
yang menyatakan mereka setuju untuk mendonorkan organnya dengan minimal 2
orang saksi. Sebagai perbandingan, di Singapura mereka menganut system optout, yang berarti semua orang diasumsikan bersedia mendonorkan organnya, dan
mereka yang tidak bersedia dapat membuat pernyataan tidak bersedia, supaya
organnya tidak diambil untuk didonorkan. Pada kenyataannya di Indonesia, dan
di seluruh dunia, masih banyak terjadi pratek perdagangan organ illegal akibat
ketimpangan supply dan demand. Modusnya bermacam-macam, bahkan sampai
melibatkan penculikan dan pembunuhan.
Secara agama, agama-agama di Indonesia tidak ada yang secara eksplisit
melarang praktek transplantasi organ. Agama-agama di Indonesia umumnya
mendukung praktek transplantasi dengan donor yang sudah meninggal. Hanya
52

saja setiap agama memiliki pertimbangan masing-masing terutama mengenai


praktek transplantasi organ dengan donor hidup.
IV.2. SARAN
Penulis menyarankan agar pihak regulator dapat membuat peraturan yang
lebih baik dan jelas mengenai transplantasi, dan agar dapat dibuat sebuah lembaga
yang dapat membantu mencocokkan donor dengan resipien organ. Selain itu,
dapat dipertimbangkan kemungkinan legalisasi penjualam organ demi sejumlah
uang yang dapat membantu meningkatkan suplai organ.

53