Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan
nasional, sesuai dengan yang tertulis dalam Undang-undang no. 23 tahun 1992
tentang kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah sejahtera dari badan,
jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomi. Sedangkan dalam Konstitusi Organisasi Kesehatan Sedunia
(WHO) tahun 1948 disepakati antara lain bahwa diperolehnya derajat
kesehatan yang setinggi-tingginya adalah suatu hak yang fundamental bagi
setiap orang tanpa membedakan ras, agama, politik yang dianut dan tingkat
sosial ekonominya.
Masalah kesehatan masyarakat pada dasarnya menyangkut berbagai
aspek kehidupan. Masalah kesehatan masyarakat, dapat dipandang sebagai
problem akibat dari berbagai kebijakan atau kondisi masyarakat. Sebaliknya
masalah kesehatan sebagai salah satu unsur kualitas sumber daya manusia,
merupakan penentu berbagai kebijakan pembangunan (Santoso, 2007).
Perkembangan zaman saat ini menuntut setiap orang untuk melakukan
segala hal secara tepat dan efisien. Hal ini mempengaruhi gaya hidup dan pola
kebiasaan sehari-hari. Misalnya kebiasaan minum yang kurang dari kebutuhan
tubuh perharinya. Masukan cairan yang tidak adekuat dapat berdampak pada
ginjal seperti pembentukan batu buli (Tripod, 2007).
Penyakit batu saluran kemih sudah dikenal sejak zaman Babilonia dan
zaman Mesir kuno. Sebagai salah satu buktinya adalah diketemukan batu pada
kandung kemih seorang mumi. Penyakit ini dapat menyerang penduduk di
seluruh dunia tidak terkecuali penduduk di Indonesia. Angka kejadian
penyakit ini tidak sama diberbagai belahan bumi. Di negara-negara
berkembang banyak dijumpai pasien batu buli-buli sedangkan di negara maju
lebih banyak dijumpai penyakit batu saluran kemih bagian atas, hal ini karena
adanya pengaruh status gizi dan aktivitas pasien sehari-hari.
Batu buli-buli merupakan penyakit yang sering di klinik urologi di
Indonesia. Angka kejadian Batu buli-buli di Indonesia tahun 2014 berdasarkan
1

data yang dikumpulkan dari rumah sakit di seluruh Indonesia adalah 37.636
kasus baru, dengan jumlah kunjungan 58.959 penderita. Sedangkan jumlah
pasien yang dirawat adalah 19.018 penderita, dengan jumlah kematian 378
penderita.
Menghindari terjadinya komplikasi yang tidak diharapkan, perlu
hendaknya dilakukan penanganan yang baik. Dalam hal ini perawat sebagai
pemberi asuhan keperawatan perlu hendaknya meningkatkan mutu asuhan
keperawatan yang akan diberikan dengan memperhatikan aspek biologis,
psikologis, sosial, dan spiritual.
B. Rumusan Masalah
Di dalam makalah ini kami akan membahas tentang beberapa materi yang ada
dalam Sistem Perkemihan
1. Apa definisi dari batu buli-buli?
2. Apa saja etiologi dari batu buli-buli?
3. Bagaimana anatomi fisiologi buli-buli?
4. Bagaimana patofisiologi batu buli-buli?
5. Apa saja prognosis dari batu buli-buli?
6. Apa saja penatalaksanaan batu buli-buli?
7. Bagaimana asuha keperawatan batu buli-buli?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa definisi batu buli-buli.
2. Untuk mengetahui apa saja etiologi batu buli-buli.
3. Untuk mengetahui bagaimana fisiologi buli-buli.
4. Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi batu buli-buli.
5. Untuk mengetahui apa saja prognosis dari batu buli-buli.
6. Untuk mengetahui apa saja penatalaksanaan batu buli-buli.
7. Untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan batu buli-buli.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
1. Vesikolitiasis atau batu buli-buli adalah penyumbatan saluran kemih
khususnya pada vesika urinaria atau kandung kemih oleh batu penyakit ini
juga disebut batu kandung kemih. (Smeltzer and Bare, 2000).

2. Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal di dalam saluran
kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya
pada vesika urinari atau kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian
besar mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat (Prof. Dr. Arjatm T.
Ph.D. Sp. And dan dr. Hendra Utama, SPFK, 2001).
3. Vesikolitiasis merupakan batu yang menghalangi aliran air kemih akibat
penutupan leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar
secara tiba-tiba akan berhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri
(Sjamsuhidajat dan Wim de Jong, 1998:1027).
4. Pernyataan lain menyebutkan bahwa vesikolitiasis adalah batu kandung
kemih yang merupakan keadaan tidak normal di kandung kemih, batu ini
mengandung komponen kristal dan matriks organik (Sjabani dalam
Soeparman, 2001:377).
5. Batu buli-buli atau vesikolitiasis adalah masa yang berbentuk kristal yang
terbentuk atas material mineral dan protein yang terdapat pada urin. Batu
saluran kemih pada dasarnya dapat terbentuk pada setiap bagian tetapi
lebih banyak pada saluran penampung terakhir. Pada orang dewasa batu
saluran kencing banyak mengenai sistem bagian atas (ginjal, pyelum)
sedang pada anak-anak sering pada sistem bagian bawah (buli-buli).
B. Etiologi
Menurut

Smeltzer

(2002:1460)

bahwa,

batu

kandung

kemih

disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang
lambat dan perubahan metabolisme kalsium).
Faktor- faktor yang mempengaruhi menurut Soeparman (2001:378)
batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah
1. Hiperkalsiuria
Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena,
hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan masukan
tinggi natrium, kalsium dan protein), hiperparatiroidisme primer,
sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D atau kelebihan kalsium.

2. Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air kemih,
khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus ginjal tipe I
(lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid, dan diare dan
masukan protein tinggi.
3. Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu
pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang berlebih.
4. Penurunan jumlah air kemih
Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.
5. Jenis cairan yang diminum
Minuman yang banyak mengandung soda seperti soft drink, jus apel dan
jus anggur.
6. Hiperoksalouria
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian ini
disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi kalsium
intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi pembedahan yang
mengganggu absorbsi garam empedu.
7. Ginjal Spongiosa Medula
Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium idiopatik (tidak
dijumpai predisposisi metabolik).
8. Batu Asan Urat
Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah, dan
hiperurikosuria (primer dan sekunder).
9. Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih dengan
organisme yang memproduksi urease.
D. Fisiologi
Buli-buli merupakan organ berongga yang terdiri atas 3 lapis otot
detrusor yang saling beranyaman. Di sebelah dalam adalah otot longitudinal,

di tengah merupakan otot sirkuler, dan yang paling luar adalah longitudinal
mukosa vesika terdiri dari sel-sel transisional yang sama seperti pada mukosa
pelvis renalis, ureter dan uretra posterior. Pada dasar buli-buli kedua muara
ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu segitiga yang disebut
trigonum buli-buli. Secara anatomis buli-buli terdiri dari tiga permukaan, yaitu
(1) permukaan superior yang berbatasan dengan rongga peritoneum (2)
permukaan inferoinferior dan (3) permukaan posterior.

Gambar 2. Anatomi Buli-buli

Buli-buli berfungsi menampung urin dari ureter dan kemudian


mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme berkemih. Dalam
menampung urin, buli-buli mempunyai kapasitas yang maksimal, yang
volumenya untuk orang dewasa kurang lebih adalah 300-450 ml, sedangkan
kapasitas buli-buli pada anak menurut formula dari koff adalah:
Kapasitas buli- buli = ( umur(tahun)+ 2 )x 30
Pada saat kosong, buli-buli terdapat di belakang simpisis pubis dan
pada saat penuh berada pada atas simpisis pubis sehingga dapat dipalpasi atau
di perkusi. Buli-buli yang terasa penuh memberikan rangsangan pada saraf
afferen dan menyebabkan aktivasi miksi di medulla spinalis segmen sacral S 2-

. Hal ini akan menyebabkan kontraksi otot detrusor, terbukanya leher buli-

buli dan relaksasi spingter uretra sehingga terjadilah proses miksi.


C. Patofisiologi
Pada umumnya batu buli-buli terbentuk dalam buli-buli, tetapi pada
beberapa kasus batu buli terbentuk di ginjal lalu turun menuju buli-buli,
kemudian terjadi penambahan deposisi batu untuk berkembang menjadi besar.
Batu buli yang turun dari ginjal pada umumnya berukuran kecil sehingga
dapat melalui ureter dan dapat dikeluarkan spontan melalui uretra.

Gambar 3.
Batu Buli-buli
Secara teoritis batu dapat terbentuk diseluruh saluran kemih terutama
pada tampat-tempat yang sering mengalami hambatan aliran urine (statis
urine), yaitu pada sistem kalises ginjal atau buli-buli. Adanya kelainan bawaan
pada pelvikalises (stenosis uretro-pelvis), divertikel, obstruksi infravesika
kronis seperti pada hyperplasia prostate benigna, striktura, dan buli-buli
neurogenik merupakan keadaan-keadaan yang memudahkan terjadinya
pembentukan batu. Batu terdiri atas kristal-kristal yang tersusun oleh bahanbahan organik maupun anorganik yang terlarut di dalam urine. Kristal-kristal
tersebut tetap berada dalam keadaan metastable (tetap terlarut) dalam urine
jika tidak ada keadaan-keadaan tertentu yang menyebabkan terjadinya
presipitasi kristal. Kristal-kristal yang saling mengadakan presipitasi
membentuk inti batu (nukleasi) yang kemudian akan mengadakan agregasi,
dan menarik bahan-bahan lain sehingga menjadi kristal yang lebih besar.

Meskipun ukurannya cukup besar, agregat kristal masih rapuh dan belum
cukup mampu membuntu saluran kemih. Untuk itu agregat kristal menempel
pada epitel saluran kemih (membentuk retensi kristal), dan dari sini bahanbahan lain diendapkan pada agregat itu sehingga membentuk batu yang cukup
besar untuk menyumbat saluran kemih. Kondisi metastabel dipengaruhi oleh
pH larutan, adanya koloid di dalam urine, konsentrasi solute di dalam urine,
laju aliran urine di dalam saluran kemih, atau adanya korpus alienum di dalam
saluran kemih yang bertindak sebagai inti batu. Lebih dari 80% batu saluran
kemih terdiri atas batu kalsium, baik yang berikatan dengan oksalat maupan
dengan fosfat, membentuk batu kalsium oksalat dan kalsium fosfat; sedangkan
sisanya berasal dari batu asam urat, batu magnesium ammonium fosfat (batu
infeksi), batu xanthyn, batu sistein, dan batu jenis lainnya. Meskipun
patogenesis pembentukan batu-batu diatas hampir sama, tetapi suasana
didalam saluran kemih yang memungkinkan terbentuknya jenis batu itu tidak
sama. Dalam hal ini misalkan batu asam urat mudah terbentuk dalam asam,
sedangkan batu magnesium ammonium fosfat terbentuk karena urine bersifat
basa.
Pada penderita yang berusia tua atau dewasa biasanya komposisi batu
merupakan batu asam urat yaitu lebih dari 50% dan batu paling banyak
berlokasi di vesika. Batu yang terdiri dari calsium oksalat biasanya berasal
dari ginjal. Pada batu yang ditemukan pada anak umumnya ditemukan pada
daerah yang endemik dan terdiri dari asam ammonium material, calsium
oksalat, atau campuran keduanya. Hal itu disebabkan karena susu bayi yang
berasal dari ibu yang banyak mengandung zat tersebut. Makanan yang
mengandung rendah pospor menunjang tingginya ekskresi amonia. Anak-anak
yang sering makan makanan yang kaya oksalat seperti sayur akan
meningkatkan kristal urin dan protein hewan (diet rendah sitrat).
Batu buli-buli juga dapat terjadi pada pasien dengan trauma vertebra/
spinal injury, adapun kandungan batu tersebut adalah batu struvit/Ca fosfat.
Batu buli-buli dapat bersifat single atau multiple dan sering berlokasi pada
divertikel dari ventrikel buli-buli dan biasanya berukuran besar atau kecil

sehingga menggangu kerja dari vesika. Gambaran fisik batu dapat halus
maupun keras. Batu pada vesika umumnya mobile, tetapi ada batu yang
melekat pada dinding vesika yaitu batu yang berasal dari adanya infeksi dari
luka jahitan dan tumor intra vesika.
E. Prognosis
Prognosis batu pada saluran kemih dan ginjal tergantung dari faktorfaktor ukuran batu, letak batu, adanya infeksi serta adanya obstruksi. Makin
besar ukuran suatu batu, makin jelek prognosisnya. Letak batu yang dapat
menyebabkan obstruksi dapat mempermudah terjadinya infeksi. Makin besar
kerusakan jaringan dan adanya infeksi karena faktor obstruksi akan dapat
menyebabkan penurunan fungsi ginjal, sehingga prognosis menjadi jelek. (1)
Maka itu diperlukan pencegahan terjadinya pembentukan batu kembali dengan
memperbaiki diet serta asupan cairan dan mengedukasi pasien agar tidak
menahan miksi sehingga tidak menimbulkan stasis urine.
Pada pasien ini dikarenakan operasi telah berjalan lancar, ukuran batu
belum besar maka prognosisnya baik, namun kemungkinan pembetukan batu
baru masih ada, oleh karena itu perlu perubahan diet dan asupan cairan yang
mencukupi untuk mencegah terbentuknya batu kembali, baik pada buli
maupun bagian saluran kemih yang lain.

F. Therapi
1. Konservatif
Terapi ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5 mm,
karena diharapkan batu dapat keluar spontan. Memberikan minum yang
berlebihan disertai diuretik. Dengan produksi air kemih yang lebih banyak
diharapkan dapat mendorong batu keluar dari saluran kemih. Pengobatan
simptomatik mengusahakan agar nyeri, khususnya kolik, yang terjadi
menghilang dengan pemberian simpatolitik. Dan berolahraga secara
teratur.

Adanya batu struvit menunjukkan terjadinya infeksi saluran kemih,


karena itu diberikan antibiotik. Batu strufit tidak dapat dilarutkan tetapi
dapat dicegah pembesarannya bila diberikan pengobatan dengan
pengasaman urin dan pemberian antiurease, seperti Acetohidroxamic acid.
Ini untuk menghambat bakteri urease dan menurunkan kadar ammonium
urin.
Pengobatan yang efektif untuk pasien yang mempunyai batu asam
urat pada saluran kemih adalah dengan alkalinisasi supaya batu asam yang
terbentuk akan dilarutkan. Pelarutan batu akan terjadi apabila pH urin
menjadi lebih tinggi atau berjumlah 6,2. Sehingga dengan pemberian
bikarbonas natrikus disertai dengan makanan alkalis, batu asam urat
diharapkan larut. Potasium Sitrat (polycitra K, Urocit K) pada dosis 60
mEQ dalam 3-4 dosis perhari pemberian digunakan untuk terapi pilihan.
Tetapi terapi yang berlebihan menggunakan sediaan ini akan memicu
terbentuknya deposit calsium pospat pada permukaan batu sehingga
membuat terapi tidak efektif lagi. Atau dengan usaha menurunkan
produksi kadar asam urat air kemih dan darah dengan bantuan alopurinol,
usaha ini cukup memberi hasil yang baik. Dengan dosis awal 300 mg
perhari, baik diberikan setelah makan.
2. Litotripsi
Pemecahan batu telah mulai dilakukan sejak lama dengan cara buta, tetapi
dengan kemajuan tehnik endoskopi dapat dilakukan dengan cara lihat
langsung. Untuk batu kandung kemih, batu dipecahkan dengan litotriptor
secara mekanis melalui sistoskop atau dengan memakai gelombang
ultrasonic atau elektrohidrolik. Makin sering dipakainya gelombang kejut
luar tubuh (ESWL = Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) yang dapat
memecahkan batu tanpa perlukaan ditubuh sama sekali. Gelombang kejut
dialirkan melalui air ke tubuh dan dipusatkan di batu yang akan
dipecahkan. Batu akan hancur berkeping-keping dan keluar bersama
kemih.
3. Terapi pembedahan

Terapi bedah digunakan jika tidak tersedia alat litotriptor, alat gelombang
kejut atau bila cara non bedah tidak berhasil. Walaupun demikian kita
harus memerlukan suatu indikasi. Misalnya apabila batu kandung kemih
selalu menyebabkan gangguan miksi yang hebat sehingga perlu diadakan
tindakan pengeluarannya. Litotriptor hanya mampu memecahkan batu
dalam batas ukuran 3 cm kebawah. Batu diatas ukuran ini dapat ditangani
dengan batu kejut atau sistolitotomi.
a. Transurethral Cystolitholapaxy: tehnik ini dilakukan setelah adanya
batu ditunjukkan dengan sistoskopi, kemudian diberikan energi untuk
membuat nya menjadi fragmen yang akan dipindahkan dari dalam buli
dengan alat sistoskopi. Energi yang digunakan dapat berupa energi
mekanik (pneumatic jack hummer), ultrasonic dan elektrohidraulik dan
laser.
b. Percutaneus Suprapubic cystolithopaxy: tehnik ini selain digunakan
untuk dewasa juga digunakan untuk anak- anak, tehnik percutaneus
menggunakan endoskopi untuk membuat fragmen batu lebih cepat
hancur lalu dievakuasi.sering tehnik ini digunalan bersama tehnik yang
pertama denagn tujuan stabilisasi batu dan mencegah irigasi yang
ditimbulkan oleh debris pada batu.
c. Suprapubic Cystostomy: tehnik ini digunakan untuk memindah batu
dengan ukuran besar, juga di indikasikan untuk membuang prostate,
dan

diverculotomy.

Pengambilkan

prostate

secara

terbuka

diindikasikan jika beratnya kira- kira 80-100gr. Keuntungan tehnik ini


adalah cepat, lebih mudah untuk memindahkan batu dalam jumlah
banyak, memindah batu yang melekat pada mukosa buli dan
kemampuannya untuk memindah batu yang besar dengan sisi kasar.
Tetapi kerugian penggunaan tehnik ini adalah pasien merasa nyeri post
operasi, lebih lama dirawat di rumah sakit, lebih lama menggunakan
kateter.

10

11

Gambar. Suprapubic Cystostomy

G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Biodata
2) Keluhan utama : Nyeri.
3) Riwayat penyakit sekarang
Nyeri skala sekarang sedang sampai berat pada perut bagian bawah
setelah dilaksanakan Laparotomy, nyeri terasa seperti teriris-iris,
kwalitas nyeri intermiten.
4) Riwayat penyakit dahulu
Infeksi, air minum dapat merupakan factor predisposisi/pendukung
terjadinya batu traktus urinaruis, pernah menderita penyakit
hipertensi atupun diabetes mellitus dapat mengalami keterlambatan
penyembuhan luka.
5) Riwayat penyakit keluarga
Dalam keluarga mungkin ada yang menderita penyakit batu traktus
urinarius.
6) Riwayat psikososial-spiritual
Psikologi : klien cemas dan gelisah
Sosial : terjadi perubahan interaksi social
Spiritual : keyakinan klien terhadap penyakitnya, tergantung pada
masing-masing individu.
b. Pemeriksaan
1) Pemeriksaan umum
a) Keadaan umum : lemah kesadaran normal/menurun
b) Tekanan darah : meningkat/dalam batas normal
c) Nadi : bradikardi/takikardi
d) Nafas : bradipneu, takpineu

12

e) Suhu : peningkatan suhu jika terjadi infeksi


2) Pemeriksaan fisik
a) Kepala : muka pucat
b) Mata : konjungtiva anemis pada perdarahan
c) Mulut : mukosa mulut kering
d) Perut : terdapat luka insisi pada perut bagian bawah, terdapat
nyeri tekan, nyeri pada suprapubik.
e) Genetalia : kencing menetes, hematuria
c. Activity Daily Live
a) Nutrisi : terapi puasa post-op
b) Aktivitas : kelemahan dalam melakukan aktivitas
c) Istirahat todur : gangguan pola tidur kurang dari kebutuhan
d) Eliminasi : perubahan pola eliminasi urine
e) Personal higiene : peningkatan ketergantungan kebutuhan personal
hygiene.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
b. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan factor perbedaan
c. Kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan mobolitas
terhadap pembedahan
d. Gangguang mobilitas fisik berhubungan dengan kurang informasi
4. Rencana Keperawatan / Intervensi
a. Diagnosa : nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
Tujuan : nyeri berkurang/hilang
Kriteria hasil :
-

Melaporkan nyeri hilang/terkontrol

Klien tampak rileks

Klien mampu tidur/istirahat yang tepat

Tanda-tanda vital dalam batas normal

13

INTERVENSI
1. Kaji karakteristik, kwalitas
nyeri, sifat dan pengalaman
nyeri
2. Jelaskan penyebab nyeri pada
individu/klien dan keluarga
3. Berikan informasi yang akurat
untuk mengurangi/menurunkan
nyeri
4. Berikan ndividu kesempatan
untuk istirahat selama siang
dan dengan waktu tidur yang
tidak terganggu pada malam
hari (harus istirahat bila nyeri)
5. Bicarakan dengan individu dan
keluarga penggunaan terapi
distraksi, bersamaan dengan
metode lain untuk menurunkan
nyeri
6. Ajarkan tindakan penurunan
nyeri non-infasif (relaksasi)
dengan cara bernafas dalam
perlahan, teratur atau nafas
dalam dengan mengepalkan
tinju/menguap

RASIONAL
1. Pengkajian yang lengkap dapat
menentukan pilihan terapi
2. Pengetahuan yang eduquate
menyebabkan klien kooperatif
3. Informasi
yang
akurat
memungkinkan
klien
koorperatif
4. Istirahat
menjadikan
neuromuskuloskeletal rileks
yang dapat mengurangi nyeri.

5. Teknik
distraksi
dapat
mengalihkan perhatan klien
terhadap nyeri yang dirasakan

6. Teknik
relaksasi
dapat
mengurangi ketegangan otot.

b. Diagnosa resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan faktor


pembedahan
Tujuan : infeksi dapat dicegah
Kriteria hasil :
-

Meningkatkan penyembuhan luka dengan benar

Bebas tanda infeksi pada luka

Suhu dalam batas normal

INTERVENSI
1. Pantau suhu badan tiap 4 jam,
keadaan luka ketika melakukan
perawatan luka.
2. Ganti verban yang sesuai dengan
14

RASIONAL
1. Mengidentifikasi adanya
kemajuan tau penyimpangan
dari hasil yang diharapkan.
2. Dengan mengikuti teknik

INTERVENSI
teknik aseptic dan antiseptic akan
mengurangi kontaminasi bakteri
3. Berikan antipiretik yang
ditentukan jika terdapat demam

RASIONAL
aseptic dan antiseptik akan
mengurangi kontaminasi
bakteri
3. Antipiretik dapat
memperbaiki termoregulasi
dalam otak

c. Diagnosa : kurang perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan


mobolitas terhadap pembedahan
Tujuan : klien dapat melaksanakan personal hygiene
Kriteria hasil : mampu melaksanakan perawatan diri yang mandiri
INTERVENSI
1. Tentukan tingkat bantuan yang
diperlukan, berikan bantuan
dengan aktvitas kerja sehari-hari
sesuai keperluan
2. Berikan waktu yang cukup bagi
klien untuk melaksanakan
aktivitas

RASIONAL
1. Mendorong kemandirian
klien dalam beraktivitas

3. Ajarkan klien tentang cara


perawatan diri

3. Pengetahuan yang adeguat


memungkinkan ketepatan
dalam pelaksanaan

2. Dapat melatih klien dalam


memenuhi kebutuhan
perawatan diri dan
mengurangi tingkat
ketergantungan

d. Diagnosa : gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kurang


informasi
Tujuan : mobilitas klien kembali normal
Kriteria hasil :
-

Memperlihatkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

Melaporkan adanya peningkatan mobilitas

INTERVENSI
1. Jelaskan pada klien
pentingnya mobilisasi

RASIONAL
tentang 1. Pengetahuan yang adequate
memungkinkan
klien
kooperatif

15

INTERVENSI
2. Lakukan mobolisasi progresif
dengan
membantu
klien
membantu posisi duduk secara
perlahan
3. Anjurkan
untuk
mobolisasi
agresif dengan membantu klien
membantu posisi duduk secara
perlahan
4. Beri dorongan ambulasi untuk
berjalan yang sering (sedikitnya 3
langkah sehari) dengan bantuan
bila belum bias berdiri tegap
5. Tingkatkan lamanya berjalan
secara progresif setiap hari

RASIONAL
2. Peningkatan aktivitas dapat
dilakukan secara perlahan

3. Alat
bantu
mungkin
dibutuhkan untuk keperluan
ambulasi lien
4. Motivasi yang kuat dapat
meningkatkan kemauan klien
dalam kemandirian aktivitas
5. Peningkatan aktivitas secara
normal
dapat
dilakukan
secara perlahan.

4. Implementasi
Pada langkah ini, perawat memberikan asuhan keperawatan, yang
pelaksanaannya berdasarkan rencana keperawatan yang telah disesuaikan
pada langkah sebelumnya (perencanaan tindakan keperawatan).
5. Evaluasi
Evaluasi perawatan adalah penilaian keberhasilan rencana perawatan
dalam memenuhi kebutuhan klien. pada klien dengan gastritis dapat
dinilai pelaksanaan perawatan dengan melihat catatan perawatan, hasil
pemeriksaan klien, melihat langsung keadaan klien dan timbul keluhan
sebagai masalah baru. Evaluasi keperawatan akan berhasil baik jikalau
tindakan perawatan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan klien.
setelah mengadakan evaluasi dapat dilihat empat kemungkinan yang
menentukan tindakan perawatan selanjutnya yaitu :
a.

Masalah klien dapat dipecahkan.

b.

Sebagian masalah klien dapat dipecahkan.

c.

Masalah tidak dipecahkan.

d.

Timbul masalah baru.

16

Dengan penerapan proses keperawatan diharapkan semua masalah yang


dihadapi klien dapat diatasi dengan baik, sehingga klien dapat kembali ke
rumahnya dalam keadaan sehat sesuai dengan tujuan perawat yang telah
ditentukan sebelumnya.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Batu buli-buli atau vesikolitiasis adalah masa yang berbentuk kristal
yang terbentuk atas material mineral dan protein yang terdapat pada urin. Batu
saluran kemih pada dasarnya dapat terbentuk pada setiap bagian tetapi lebih
banyak pada saluran penampung terakhir.
Menurut

Smeltzer

(2002:1460)

bahwa,

batu

kandung

kemih

disebabkan infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang
lambat dan perubahan metabolisme kalsium).
Batu buli-buli dapat bersifat single atau multiple dan sering berlokasi
pada divertikel dari ventrikel buli-buli dan biasanya berukuran besar atau kecil
sehingga menggangu kerja dari vesika.
B. Saran
Setelah membaca dan memahami isi makalah ini, diharapkan perawat,
mahasiswa calon perawat atau para pembaca bisa mempelajari dan
mengetahui apakah yang dimaksud dengan Batu buli-buli. Semoga makalah
ini bermanfaat dan senantiasa mengalami perbaikan dalam setiap pembuatan
makalah yang akan datang.

17

DAFTAR PUSTAKA
De Jong, W. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:EGC
Purnomo, B. B. 2007. Dasar-dasar Urologi. Malang: Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.
Reksoprojo, S. 1995. Ilmu Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
Sjamsulhidajat, de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta: EGC; 2012. h.
872-9
Smeltzer,C. Suzanne. 2002. Buku bAjar Keperawat Medikal Bedah Edisi 8.
Jakarta.EGC
Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., dan Setiati, S. 2006. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

18

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................................................................................

DAFTAR ISI................................................................................................

ii

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang1
B. Rumusan Masalah...2
C. Tujuan Penulisan...
2

BAB II.

PEMBAHASAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Definisi
Etiologi
Fisiologi
Patofisiologi
Prognosis
Therapi
Asuhan Keperawatan

3
3
4
6
7
7
8

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
B. Saran

17
17

DAFTAR PUSTAKA

19

KATA PENGANTAR
ii
Puji syukur penyusun panjatkan Kehadirat Allah S.W.T. berkat rahmatNya Kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul BATU BULI-BULI.
Sholawat dan taslim tak lupa kita kirimkan pada junjungan Nabi besar
Muhammad SAW. Nabi yang telah menuntun kita kejalan Allah SWT.
Penulis mengucapkan banyak terimah kasih kepada teman-teman yang
turut serta membantu dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah
ini. Terlapas dari itu semua, kami menyadari bahwa di dalam penyusunan makalah
ini masih jauh dari kesempurnaan serta banyak kekurangan-kekurangannya, untuk
itu besar harapan kami jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih
menyempurnakan makalah ini.
Akhir kata, mohon maaf bila ada kata-kata dalam makalah ini yang
menyinggung perasaan dosen maupun kawan-kawan, karena kami hanya manusia
biasa yang tidak lepas dari kesalahan. Harapan besar dari kami mudah-mudahan
apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik itu pribadi, teman-teman, serta
orang lain yang melihat dan membacanya . Amien.

Watampone, 31 Desember 2015


Penulis

20

BATU BULI-BULI
i

OLEH :
KELOMPOK V
1.
2.
3.

RISDAYANTI
IRMAH
DARMAWANSYAH

21

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)


PUANGRIMAGGALATUNG BONE
2015/2016

22