Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Teori menghasilkan pengetahuan keperawatan yang dapat digunakan
dalam praktik. Integrasi teori ke dalam praktik merupakan dasar profesi
keperawatan. Selain itu, teori dapat menunjukkan bagaiman perawat
menggunakan proses keperawatan.
Teori keperawatan adalah
keperawatan

untuk

memperkirahkan,

dan

konseptualitas

mancapai

tujuan

/atau

pelaksanaan

dari

beberapa

menggambarkan,
asuhan

aspek

menjelaskan,

keperawatan.

Teori

kepearawatan membuata perawat- perawat melihat situasi klien secara


perspektif, sebuah cara untuk mengolah data,dan sebuah metode untuk
menganalisis dan menginterpretasi informasi. Teori keperawatan membuat
perawat-perawat melihat situasi klien secara perspektif, sebuah cara untuk
mengolah data, dan sebuah metode untuk menganalisis dan menginterpretasi
informasi.
Misalnya, Teori Rogers yang memiliki tujuan keperawatan yaitu
mengelola dan mempromosikan kesehatan, pencegahan penyakit, pelayanan,
serta rehabilitasi penyakit dan klien yang cacat melalui ilmu kemanusiaan
keperawatan. Menurut Martha Rogers (1970) menganggap individu sebagai
energi lingkungan yang berada dalam jagat raya. Individu secara keseluruhan
berinteraksi terus-menerus dengan lingkungan, mempunyai integritas pribadi
dan karakter.
Manusia tunggal adalah suatu energi lingkungan empat dimensi yang
dikenali dari bentuk dan karakteristik tertentu dan tidak dapat diperkirakan dari
bagian pengetahuan. Empat dimensi dari teori Rogers-energi: lingkungan
keterbukaan, bentuk dan organisasi, serta dimensionalitas-membantu dalam
perkembangan prinsip yang berhubungan dengan perkembangan manusia.
B. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Bagaimanakah biografi Martha Elizabeth Rogers ?

2. Bagaimanakah Definisi Teori Keperawatan menurut Martha Elizabeth


Rogers ?
3. Bagaimana Konsep Teori Martha E. Rogers ?
4. Bagaimana Asumsi Teori Martha E. Rogers ?
5. Bagaimana Asumsi Utama Konsep Sentral dari Model Konseptual Martha E.
Rogers ?
6. Bagaimana Prinsip hemodinamik Martha Elizabeth Rogers ?
7. Apa Kegunaaan Prinsip Rogers Dalam Proses Keperawatan ?
8. Bagaimana Hubungan Teori Keperawatan Martha E. Rogers dengan
Pendidikan Keperawatan ?
9. Bagaimana Hubungan teori keperawatan Martha E. Rogers dengan Praktik
Keperawatan ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui biografi Martha Elizabeth Rogers !
2. Untuk mengetahui Definisi Teori Keperawatan menurut Martha Elizabeth
Rogers !
3. Untuk menegetahui Konsep Teori Martha E. Rogers !
4. Untuk mengetahui Asumsi Teori Martha E. Rogers !
5. Untuk mengetahui Asumsi Utama Konsep Sentral dari Model Konseptual
Martha E. Rogers !
6. Untuk mengetahui Hubungan teori keperawatan Martha E. Rogers dengan
Praktik Keperawatan !

7. Untuk mengetahui Kegunaaan Prinsip Rogers Dalam Proses

Keperawatan !
8. Untuk mengetahui Hubungan Teori Keperawatan Martha E. Rogers dengan

Pendidikan Keperawatan !
9. Untuk mengetahui Prinsip hemodinamik Martha Elizabeth Rogers !

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Biografi Martha Elizabeth Rogers
Martha E. Rogers dilahirkan pada tanggal 12 Mei tahun 1914 di Dallas Texas,
tertua dari 4 bersaudara pasangan Bruce Taylor Rogers dan Lucy Mulholland Kener
Rogers. Dia menerima gelar diploma keperawatan dari sekolah rumah sakit
Knoxville pada tahun 1936. Pada tahun 1937 ia menerima gelar B.S. dari perguruan
2

tinggi George Peabody di Nashville,Tennessee. (Tomey & Alligood, 1998). Setelah


aktif sebagai perawat kesehatan dia melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi,
sampai mendapatkan gelar doktor dari universitas Johns Hopkins di Baltimore.
Rogers adalah Profesor dan Kepala Divisi Perawat Pendidikan di Universitas New
York mulai tahun 1954, disini Rogers fokus mengajar dan meninggal pada 13 Maret
1994, pada umur 79 tahun
Dalam teorinya, Martha Rogers (1970), mempertimbangkan manusia (kesatuan
manusia) sebagai sumber energi yang menyatu dengan alam semesta. Manusia
berada dalam interaksi yang terus menerus dengan lingkungan (lutjens,1995).
Selain itu, manusia merupakan satu kesatuan utuh memiliki integritas diri dan
menunjukkan karakteristik yang lebih dari sekedar gabungan dari beberapa bagian
(Rogers 1970).
Manusia yang utuh merupakan Empat sumber dimensi energi yang
diidentifikasi oleh pola dan manisfestasi karakteristik spesifik yang menunjukkan
kesatuan dan yang tidak dapat di tinjau berdasarkan bagian pembentuknya
(Maminer Toey,1994).
Keempat dimensi yang digunakan oleh Martha E. Rogers sumber energi,
keterbukaan, keteraturan dan pengorganisasian, dan empat dimensionalitas manusia
digunakan untuk menentukan prinsip mengenai bagaimana berkembang.
B. Definisi Teori Keperawatan Martha Elizabeth Rogers
Keperawatan adalah ilmu humanisti/humanitarian yang menggambarkan dan
memperjelas bahwa manusia dalam strategi yang utuh dan dalam perkembangan
hipotesis secara umum dengan memperkirakan prinsip prinsip dasar untuk ilmu
pengetahuan praktis. Ilmu keperawatan adalah ilmu kemanusiaan, mempelajari
tentang alam dan hubungannya dengan perkembangan manusia.
Rogers mengungkapkan bahwa aktivitas yang di dasari prinsip prinsip
kreatifitas, seni dan imaginasi. Aktifitas keperawatan dinyatakan Rogers merupakan
aktifitas yang berakar pada dasar ilmu pengetahuan abstrak, pemikiran intelektual,
dan hati nurani. Rogers menekankan bahwa keperawatan adalah disiplin ilmu yang
dalam aktifitasnya mengedepankan aplikasi keterampilan, dan teknologi. Aktivitas
keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan pelayanan rehabilitatif senantiasa
berdasar pada konsep pemahaman manusia / individu seutuhnya.
3

C. Konsep Teori Martha E. Rogers


Model konsep dan teori keperawatan menurut Martha E. Rogers
dikenal dengan nama konsep manusia sebagai unit. Dalam
memahami konsep model dan teori ini, Martha berasumsi bahwa
manusia merupakan satu kesatuan yang utuh, yang memiliki sifat
dan

karakter

yang

berbeda-beda.

manusia yang dinamis, manusia

Dalam

proses

kehidupan

selalu berinteraksi dengan

lingkungan yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi, serta


dalam proses kehidupan manusia setiap individu akan berbeda
satu

dengan

karakteristik

yang
dan

lain

dan

keunikan

manusia

tersendiri

diciptakan

(Hidayat,

dengan

A.Aziz.Alimut,

2006).
Dasar teori Rogers adalah ilmu tentang asal usul manusia dan alam semesta
seperti antropologi, sosiologi, agama, filosofi, perkembangan sejarah dan mitologi.
Teori Rogers berfokus pada proses kehidupan manusia secara utuh. Ilmu
keperawatan adalah ilmu yang mempelajari manusia, alam dan perkembangan
manusia secara langsung. (Tomey & Alligood, 1998).
Tujuan diagnosa keperawatan memberikan kerangka kerja dalam intervensi
keperawatan direncanakan dan dilaksanakan. Intervensi keperawatan akan
tergantung pada fokus diagnosa keperawatan. Fokus pada integralitas akan
diimplementasikan dengan lingkungan sama dengan pada individu. Diharapkan
perubahan pada suatu hal yang akan menyebabkan perubahan di sisi yang lain
secara simultan terpisah dari dunia penyakit. Di sana masalah tidak dapat disetujui
dengan efektif dalam arti umumnya perubahan diterima, ukuran penyakit.
Kreativitas dan imaginasi menjadi sangat penting.
Resonansi

menyatakan

bahwa

diagnosa

keperawatan

ditujukan

untuk

mendukung atau memodifikasi variasi proses kehidupan sebagai manusia yang


utuh. Karena proses kehidupan manusia merupakan suatu fenomense.
Rencana keperawatan pada bagian helicy membutuhkan penerimaan individu
terhadap perubahan yang terjadi strategi untuk meningkatkan dan memodifikasi
irama dan tujuan hidup. Untuk itu dibutuhkan informasi dan partisipasi aktif klien

pada proses keperawatan. konsep yang menyebutkan manusia adalah unik dan
dapat dikenali karena kemampuannya dalam merasakan, memberi kesempatan
perawat untuk membantu memecahkan masalah kesehatannya dan mengatur agar
tujuannya dapat mencapai kesehatan.
1. Teori yang berkaitan dengan konsep menciptakan perbedaan cara pandang pada
suatu fenomena. Kerangka kerja Martha E Roger akan memberikan alternatif
dalam memandang manusia dan dunia. Teori yang menyatakan keperawatan
menggunakan prinsip hemodinamika dalam memberikan pelayanan kebutuhan
manusia atau cara memandang keperawatan dari satu sisi. Contoh adalah
prinsip helicy yang menekankan pada pola kebiasaan dan ritual.
2. Teori harus masuk akal, Mengetahui perkembangan yang masuk akal
merupakan hal penting perkembangan yang logis menyebabkan mengenai
asumsi pada prinsip hemodinamika.
3.

Teori harus sederhana dan dapat disosialisasikan. Teori dapat disosialisasikan


sejak tidak tergantung pada beberapa keadaan. Itu dinyatakan oleh Martha E
Roger konsepsi manusia sangatlah sederhana. Meskipun memberikan kaitan
dalam pemahaman. Ditambahkan teori ini dilandaskan pada penggunaan sistem
terbuka yang sangat kompleks.

4. Teori didasarkan pada hipotesa dan bisa diuji.


5. Teori memberi dan membantu peningkatan batang keilmuan dalam disiplin ilmu
melalui penelitian sehingga teori tersebut sah.
6. Teori bisa digunakan sebagai pedoman dan peningkatan dalam praktek.
7. Teori harus konsisten dengan teori lain yang sah, hukum dan prinsip-prinsip
tetapi harus menghindari pertanyaan terbuka yang perlu diperiksa.

D. Asumsi Teori Martha E. Rogers


Rogers dalam McEwen & Wills, 2011, mengemukakan beberapa
asumsi yang terdiri dari lima bagian, yaitu :
1. Unifield whole is greater and different than the sum of part.
Manusia adalah system yang utuh yaitu merupakan keseluruhan dari
proses yang utuh dari dirinya dan antara satu dan lainnya berbeda di beberapa
bagian dan merupakan penjumlahan dari bagian-bagiannya..
5

2. Mutual exchange of matter and energy.


Manusia dan lingkungan selalu berubah secara kontinyu termasuk energi
keduanya. Individu dan lingkungan saling tukar-menukar energi dan material
satu sama lain. Beberapa individu mendefenisikan lingkungan sebagai faktor
eksternal pada seorang individu dan merupakan satu kesatuan yang utuh dari
semua hal.
3. Unidirectionality: life process does not reverse nor repeat.
Bahwa proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling
bergantung dalam satu kesatuan ruang waktu secara terus menerus. Akibatnya
seorang individu tidak akan pernah kembali atau menjadi seperti yang
diharapkan semula.
4. Pattern and organization identify the human field.
Pola dan organisasi mengidentifikasi perilaku pada individu merupakan
suatu bentuk kesatuan yang inovatif
5. Human beings have abstraction, imagery, language, and thought, sensation and
emotion.
Manusia mempunyai ciri kemampuan berfikir abstrak, membayangkan,
bertutur bahasa, sensasi dan emosi. Dari seluruh bentuk kehidupan di dunia
hanya manusia yang mampu berfikir dan menerima dan mempertimbangkan
luasnya dunia.
Menurut (Tomey & Alligood, 1998) Lima asumsi diatas, definisi, dan
Prinsip-prinsip hemodinamik merupakan inti teori Martha E. Rogers yang
merupakan bagian dari Building Blocks, yang terdiri dari:
a. Energy Fields (Bidang Energi)
Bidang Energi merupakan satuan dasar kehidupan dan non kehidupan,
seperti energi manusia dan energi lingkungan. Bangunan ini bersifat tak
terbatas terdiri dari mahluk hidup dan lingkungannya. Kedua komponen ini
tidak dapat dikurangi, manusia tidak dapat dipisahkan dari lingkungannya.
b. Universe of Open System (Sistem terbuka).
Konsep ini menganggap bahwa bangunan energi bersifat tak terbatas dan
terbuka, menyatu antara satu dengan yang lainnya.
c. Pattern (Pola)

Sifat pola berubah secara kontinyu dan inovatif, unik dan menyatu
dengan bangunan lingkungannya sendiri. Pola yang konstan dan tidak
berubah bisa menjadi suatu indikasi sakit atau penyakit.
d. Pandimensionality (Empat kedimensian)
Manusia yang utuh merupakan Empat sumber dimensi energi yang
diidentifikasi oleh pola dan manisfestasi karakteristik spesifik yang
menunjukkan kesatuan dan yang tidak dapat di tinjau berdasarkan bagian
pembentuknya Empat kedimensian didefinisikan sebagai domain non linier
tanpa atribut, atau mengenai ruang tanpa batas.

E.

Asumsi Utama Konsep Sentral dari Model Konseptual Martha E. Rogers


Rogers meletakan sekumpulan asumsi-asumsi dasar yang

menggambarkan proses kehidupan manusia. Asumsi-asumsi yang


merupakan kunci utama Martha E. Rogers terhadap empat konsep
sentral adalah sebagai berikut :
1. Keperawatan
Rogers menyatakan bahwa ilmu keperawatan adalah Unitary Human
Being, yaitu manusia sebagai unit. Dia mengartikan bahwa tidak ada ilmu lain
yang mempelajari manusia secara keseluruhan atau utuh. Rogers menjelaskan
keperawatan sebagai profesi yang menggabungkan unsur ilmu pengetahuan dan
seni. Keperawatan adalah ilmu pengetahuan humanistik yang didedikasikan
untuk menghibur agar dapat menjaga dan memperbaiki kesehatan, mencegah
penyakit, dan merawat serta merehabilitasi seseorang yang sakit dan cacat.
Praktek professional keperawatan bersifat kreatif, imajinatif, eksis untuk
melayani orang, hal tersebut berakar dalam keputusan intelektual, pengetahuan
abstrak dan perasaan mahkluk. (Rogers,1992 dalam Meleis 2007).
2. Kesehatan
Istilah kesehatan digunakan sebagai terminologi nilai yang
ditentukan oleh budaya atau individu. Kesehatan dan penyakit
merupakan manifestasi pola dan diangap menunjukkan pola
perilaku yang nilainya tinggi dan rendah. Rogers memandang
konsep

sehat-sakit

sebagai

suatu

ekspresi

dari

interaksi

manusia dengan lingkungannya dalam proses yang mendasar


(Fitzpatrick dan Whall, 1986).
7

3. Lingkungan

Lingkungan sebagai empat bangunan energi yang tidak dapat

direduksi

yang

diidentifikasi

dengan

pola

dan

manifestasi

karakteristik yang spesifik. Lingkungan mencakup segala sesuatu


yang berada diluar yang diberikan oleh bangunan manusia. (Meleis
2007).
4. Manusia

Manusia merupakan satu kesatuan yang utuh dan memiliki sifat dan karakter
yang berbeda-beda. Proses kehidupan manusia dinamis selalu berinteraksi
dengan lingkungan, saling mempengaruhi dan dipengaruhi atau sebagai system
terbuka. Rogers juga mengkonsepkan manusia sebagai unit yang mampu
berpartisipasi secara kreatif dalam perubahan. (Meleis, 2007).

F.

Prinsip hemodinamik Martha Elizabeth Rogers


Teori menyatakan bahwa dalam keperawatan

dipergunakan

prinsip

hemodinamika untuk melayani manusia, yaitu :

1.Integritas (Integrality), adalah proses berhubungan yang menguntungkan antar


manusia dan lingkungannya secara berkesinambungan.

2.Resonansi (Resonancy), Prinsip ini membicarakan tentang alam dan perubahan


yang terjadi antara manusia dan lingkungan. Resonansi dapat dijelaskan sebagai
suatu pola-pola gelombang yang ditunjukkan dengan perubahan-perubahan dari
frekuensi terendah ke frekuensi yang lebih tinggi pada gelombang perubahan.

3.Helicy, Prinsip yang menyatakan bahwa keadaan alami dan hubungan manusia
dan lingkungan adalah berkesinambungan, inovatif, ditunjukkan dengan
peningkatan

jenis

pola-pola

perilaku

manusia

dan

lingkungan

yang

menimbulkan kesinambungan, menguntungkan, merupakan interaksi yang


simultan antara manusia dan lingkungan bukan menyatakan ritmitasi.
G. Kegunaaan Prinsip Rogers Dalam Proses Keperawatan
Jika profesi keperawatan dipandang sebagai kepedulian pada umat manusia,
prinsip-prinsip homeodynamics memberikan pedoman untuk memprediksi sifat dan
arah perkembangan individu sebagai respon terhadap masalah kesehatan.
Diharapkan, praktik keperawatan profesional kemudian akan meningkatkan
dinamika integrasi manusia dan lingkungannya, untuk memperkuat hubungan dan

integritas bidang manusia, dan untuk mengarahkan pola dari bidang manusia dan
lingkungan untuk realisasi maksimum kesehatan (Rogers, 1992). Tujuan ini akan
tercermin dalam proses keperawatan. Untuk berhasil menggunakan prinsip-prinsip
homeodinamik, diperlukan pertimbangan perawat dan melibatkan perawat dan klien
dalam proses keperawatan. Jika sesuatu atau seseorang di luar individu adalah
bagian dari lingkungan, maka perawat akan menjadi bagian dari lingkungan klien.
Maka tersirat bahwa klien berpartisipasi, serta bersedia maju dalam proses
keperawatan. Akibatnya, hasil keperawatan mandiri, yang Rogers (1992),
mempertahankan diperlukan jika klien berusaha mencapai potensi maksimal dengan
cara yang positif. Keperawatan, adalah bekerja dengan klien, bukan kepada atau
untuk klien. Keterlibatan ini dalam proses keperawatan oleh perawat menunjukkan
kepedulian terhadap semua orang bukan dari satu aspek, satu masalah, atau segmen
terbatas pemenuhan kebutuhan.
Dalam tahap keperawatan, semua fakta dan opini tentang klien dan lingkungan
dikumpulkan. Karena keterbatasan kita dalam mengukur dan alat pengumpulan data,
informasi yang dikumpulkan sesering mungkin dari suatu pemisahan diri atau
bagian lainnya. Namun, untuk melaksanakan pedoman, analisis data harus dalam
keadaan yang mencerminkan keutuhan, yang mungkin dicapai dengan menanyakan
beberapa pertanyaan dan mendapat respon dari data yang ada.
Pertanyaan seri pertama mencerminkan prinsip Integrasi. Seri berikutnya akan
mencerminkan prinsip resonancy. Seri terakhir dari pertanyaan akan dipengaruhi
oleh prinsip helicy.
Untuk mencerminkan pola gagasan, terkadang akan ditambahkan beberapa
pertanyaan untuk prinsip helicy sebagai pertimbangan. Harus diingat bahwa
tanggapan klien merupakan cerminan suatu titik tertentu dalam ruang-waktu.
Akibatnya, pola yang diidentifikasi ini tidak statis tetapi terus berubah,
mencerminkan perubahan waktu dan menambahkan pengalaman masa lalu. Bukan
berarti pertanyaan-pertanyaan ini memuat semua, tetapi menggunakan mereka
sebagai referensi akan membantu memberikan perawat dengan melihat klien
seutuhnya. Ini akan mengidentifikasi perbedaan individu dan pola pertukaran
bagian-bagian secara berurutan dalam proses kehidupan. Penilaian keperawatan
adalah penilaian dari seluruh keadaan manusia dan bukan penilaian yang hanya

berdasarkan fisik atau status mental. Ini merupakan penilaian potensi sehat dan sehat
secara mandiri dan bukan penilaian dari suatu penyakit atau proses penyakit.
Hasilnya ialah bahwa kemandirian memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan
penyakitnya.
Sebagai hasil dari penilaian keperawatan, ditarik kesimpulan tentang
kemandirian. Kesimpulannya adalah diagnosis keperawatan, langkah kedua dalam
proses keperawatan, dan itu mencerminkan prinsip-prinsip homeodynamik. Irama,
pola, keanekaragaman, interaksi, dan variasi proses kehidupan terlihat dengan jelas.
Diagnosis keperawatan bertujuan untuk mengetahui pola pertukaran bagian-bagian
tersebut dalam proses kehidupan yang mencakup hubungan manusia-lingkungan
(Roger, 1970). Meskipun tidak sempurna, diagnosa keperawatan berdasarkan pola
kesehatan fungsional Gordon memiliki potensi yang lebih besar kegunaannya
dengan kerangka Roger karena cenderung mencerminkan pandangan yang lebih
tentang keutuhan individu. Mengingat bersifat statis dan kehilangan tradisi
sepanjang diagnosa, sehingga penggunaannya dalam sistem abstrak dinamis bahkan
mungkin tidak tepat (Smith, 1988).
Dengan membuat diagnosis keperawatan, mengarahkan perawat memberikan
asuhan keperawatan. Fokus pada perkembanagn yang membutuhkan implementasi
dalam lingkungan maupun di dalam individu. Diharapkan bahwa perubahan yang
satu ini akan terkait dengan perubahan simultan lainnya. Karena integrasi individu
dengan lingkungan, masalah kesehatan tidak dapat dipisahkan dari penyakit sosial di
dunia. Oleh karena itu, masalah ini tidak bisa ditangani dengan efektif dengan cara
yang umumnya diterima secara umum, transisi, tindakan penyakit berorientasi
(Rogers, 1992). Dibutuhkan daya imajinasi dan kreatifitas.
Resonansi mensyaratkan bahwa rencana keperawatan diarahkan untuk
mendukung atau memodifikasi variasi proses kehidupan seluruh manusia. karena
proses kehidupan manusia merupakan fenomena searah, sehingga tidak bisa
mengembalikan individu ke tingkat mantan keberadaan, melainkan, perawat
membantu individu bergerak maju ke tingkat yang lebih tinggi lebih beragam
eksistensi.
Program keperawatan di bidang helicy membutuhkan penerimaan perbedaan
individu

sebagai

ungkapan

munculnya

10

evolusi,

untuk

mendukung

atau

memodifikasi irama dan tujuan hidup. Untuk melakukan ini membutuhkan


partisipasi dan aktif dari klien dalam asuhan keperawatannya. Kesehatan tidak
hanya tercapai dengan mempromosikan homeostasis dan keseimbangan, melainkan
mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan dinamika dan keragaman dalam
individu.
H. Hubungan Teori Keperawatan Martha E. Rogers dengan Riset Keperawatan
Model konseptual abstrak yang di kemukakan Martha E Rogers secara langsung
memiliki hubungan dengan riset dan pengembangan ilmu keperawatan. Model
konseptualnya memberikan arah dan stimulus untuk aktifitas keilmuan tersebut.
Model keperawatan Rogers menunjukkan betapa uniknya realita profesi
keperawatan. Peneliti yang memiliki asumsi dan pemahaman seperti konsep Martha
E Rogers akan menemukan mendapatkan pandangan yang jelas tentang seperti
apakah sesungguhnya bekerja sebagai perawat. Secara jelas dalam konsepnya
Martha E Roger menunjukkan bahwa kebutuhan kritis dalam keperawatan adalah
merupakan dasar pengetahuan dalam aktifitas penelitian keperawatan.
Gill dan Atwood mengadakan studi dengan menggunakan hipotesis-hipotesis
yang diambil dari prinsip-prinsip Rogers tentang helicy dan reciprocy. Fokusnya
adalah mutual interaction antara manusia dan lingkungan. Studi tersebut mendukung
prinsip hemodinamis reciprocy. Whelton mengaitkan teori Rogers dengan proses
perawatan menggunakan pasien-pasien penderita sakit jantung dan fungsi-fungsi
syaraf. Teori tersebut menjadi fokus untuk penerapan intervensi-intervensi
perawatan dan memprediksikan hasil-hasilnya. Falco dan Lobo mengikat prinsipprinsip hemodynamic dengan proses perawatan. Mereka melaporkan kesehatan
tidak akan diraih dengan memperkenalkan homeostasis dan keseimbangan, tetapi
dengan

mengambil

langkah-langkah

untuk

meningkatkan

dinamisme

dan

kompleksitas di dalam individu. Banyak studi penelitian lain telah dilakukan dan
semua studi ini memiliki implikasi dalam membimbing praktek perawatan dan
pendidikan, serta saran penelitian lebih lanjut.
Rogers memandang perawat sebagai bagian integral dari lingkungan pasien. Ia
juga memandang perawatan sebagai ilmu pengetahuan unik yang berurusan dengan
kesatuan manusia yang berbeda dengan jumlah dari bagian-bagiannya. Hal ini
yang membedakan perawatan dengan berbagai profesi pelayanan lain.

11

Hasil Penelitian penelitian yang berhubungan dengan Marta E Roger


Pengaruh Terapi Musik Terhadap Status Hemodinamika pada Pasien Koma
Diruang ICU Sebuah Rumah Sakit di Lampung, diteliti oleh Trori Rihiantoro
dalam Jurnal Keperawatan Indonesia volume 12 No. 2 Juli 2008 (ISSN 1410-4490).
Berdasarkan hasil penelitian tersebut didapatkan bahwa terapi musik berpengaruh
secara bermakna terhadap status hemodinamika pada pasien koma. Penerapan dan
pengembangan intervensi keperawatan terapi musik hendaknya dilakukan dan
disosialisasikan secara luas. Komunikasi yang terapeutik dan percakapan yang baik
pada pasien koma dalam setiap aktivitas perawatan juga merupakan salah satu aspek
yang harus diperhatikan oleh perawat dan petugas kesehatan lainnya dalam
berinteraksi dengan pasien koma tersebut. Latihan ROM Lengan Meningkatkan
Kekuatan Otot pada Pasien Pasca Stroke, diteliti oleh Judi Nurbaini dalam Jurnal
Ners Vol. 5 No. 1 April 2010 (ISSN 1858-3598). Berdasarkan hasil penelitian
tersebut didapatkan bahwa latihan ROM lengan dapat meningkatkan kekuatan otot
pada pasien pasca stroke melalui mekanisme perangsangan sel untuk mengaktifkan
Ca+ sehingga terjadi integritas protein otot. Jika Ca+ dan Troponin diaktifkan maka
aktin dan meisin dipertahankan agar otot dapat berfungsi menggerakkan skeletal.
Oleh karena itu perawat harus lebih intensif untuk memberikan latihan ROM pada
pasien pasca stroke tidak hanya dilakukan di Rumah Sakit tetapi dilanjutkan oleh
keluarga melalui pendidikan kesehatan.
Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa faktor lingkungan memiliki
dampak yang besar terhadap proses penyembuhan dan peningkatan kesehatan
seseorang dalam aplikasi praktek keperawatan. Hal ini sesuai dengan prinsip-prinsip
hemodinamika di dalam konsep Rogers yang terdiri dari Integral (badan manusia
dan lingkungannya tidak dapat dipisahkan, rangkaian pertukaran proses kehidupan
terus terjadi pembaharuan interaksi antara badan manusia dan lingkungannya),
Resonansi (berbicara pada kejadian pertukaran alam antara manusia dan bidang
lingkungan) dan Helicy (manusia dan lingkungan adalah dinamis, sistem terbuka
dalam pertukaran adalah hak berlanjut pada pertukaran yang konstan antara manusia
dan bidang lingkungan).

12

I. Hubungan Teori Keperawatan Martha E. Rogers dengan Pendidikan


Keperawatan
Pada tahun 1963, Rogers mencetuskan ide untuk mendirikan kembali program
undergraduated dan graduated dalam pendidikan keperawatan. Hal ini adalah di
lakukannya sebagai refleksi terhadap evolusi perubahan dalam ilmu keperawatan.
Konsistensi terhadap definisi yang ia berikan untuk keperawatan bahwa
keperawatan adalah profesi yang di pelajari, unik serta memiliki batang tubuh
pengetahuan, maka ia sangat menganjurkan bagi perawat untuk menempuh
pendidikan dalam keperawatan.
J. Hubungan teori keperawatan Martha E. Rogers dengan Praktik Keperawatan
Martha E Rogers mengungkapkan bahwa teori yang diambilnya dari konsepnya
sangat mungkin untuk di terapkan dalam praktik keperawatan. Malinski (1986)
mencatat ada tujuh trend yang ada dalam praktik keperawatan, yang kesemuanya
berdasar pada konsep teori yang di kemukakan Martha E Rogers.
1. Pemberian kewenangan penuh dalam hubungan perawat klien.
2. Menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar.
3. Penyesuaian terhadap pola.
4. Menggunakan modalitas gelombang seperti lampu musik, pergerakan dalam
proses penyembuhan.
5. Menunjukkan suatu perubahan yang positif.
6. Memperluas fase pengkajian dalam proses keperawatan.
7. Menerima hubungan yang menyeluruh dalam hidup.

13

BAB III
CASE STUDY

A. Deskripsi Kasus
Teori Martha E. Rogers tidak memberikan teori yang spesifik dalam aplikasinya
dalam proses keperawatan, akan tetapi dengan mengadaptasikan prinsip
hemodinamik, maka perawat dapat menuangkan dasar-dasar pemikiran Martha E.
Rogers ke dalam tahap demi tahap proses keperawatan. Untuk lebih dapat
memudahkan pemahaman dapat kita lihat contoh kasus keperawatan yang
kemudian di dalam asuhan keperawatannya menggunakan konsep dasar
hemodinamik Martha E. Rogers.
B. Contoh Kasus
Tn. A. Berusia 48 tahun adalah seorang petani sebagai kepala keluarga . Tn. A.
Mempunyai seorang istri dan 4 orang anak. Tn. A Terbiasa bekerja di sawah. Dua
hari yang lalu Tn. A mengeluh mengalami rasa perih, mual, muntah serta nyeri
perut. Ada nyeri tekan di bagian abdomen, skala nyeri 5 dari 0 sampai 10, Td :
110/70 mmhg, Nadi : 86 X/m, S : 37, 5 oC, RR : 18 /menit, BB 45 kg. Tn A Tampak
memegang perutnya bila nyeri, tampak lemah. Tn. A mengatakan tidak dapat

14

bekerja karena aktivitasnya terganggu oleh nyeri yang dirasakannya. Istri dan anakanak Tn. A Selalu sarapan pada jam 06.30 Wita, Makan siang 12.00-13.00 Wita,
dan makan malam 19.00 Wita , kadang-kadang Tn. A jarang sarapan pagi, karena
biasanya setelah shalat shubuh Tn. A berangkat ke sawah dan pulang siang hari.
Setiap hari Tn.A dalam memenuhi kebutuhan akan rekreasi dan hiburan biasanya
menonton TV, dan setiap libur panjang sekali Tn.A selalu mengajak keluarganya
Jalan-jalan ke Pantai. Strategi koping yang digunakan bila ada permasalahan, Tn. A
berusaha untuk menyelesaikan sendiri.
Keluarga tidak pernah menggunakan kekerasan

perlakuan

kejam kepada

anaknya dan memberikan ancaman-ancaman dalam meyelesaikan masalah.


Dalam kasus tersebut, aplikasi teori keperawatan Martha E. Rogers dalam
mengatasi masalah kesehatan yang dialami Tn. A adalah menggunakan konsepkonsep prinsip hemodinamik (integrity, resonansi, dan helicy).
C. Pengkajian
1. Identitas
a. Nama kepala keluarga

: Tn A

b. Umur

: 42 tahun

c. Agama

: Islam

d. Pendidikan

: SMA

e. Pekerjaan

: Petani

f. Suku / Bangsa

: Bugis/Indonesia

g. Alamat

: desa Puulemo, Kec.Baula, Kab. Kolaka

h. Komposisi keluarga

: terdiri dari Ayah, ibu dan empat orang anak.

2. Pengkajian berdasarkan prinsip-prinsip hemodinamik Rogers :


a. Integrasi : Tn A merasakan adanya gangguan rasa nyaman nyeri yang
disebabkan rasa sakit pada perutnya sehingga klien terbatas dalam
melakukan aktifitas, kebutuhannya dipenuhi orang lain. Klien merasa sangat
khawatir akibat sakit yang dideritanya karena klien harus di rawat/istrahat
lebih lama dan tidak dapat melakasanakan tugasnya sebagai tulang
punggung dalam keluarga. Saat ini Tn. A merasa tidak berguna karena tidak
dapat manafkahi keluarganya dengan maksimal.
b. Resonansi

15

Tn. A Klien mengalami Gastritis Akut. Klien mengalami mual, muntah,


perih, serta nyeri pada perut, klien mendapat pertolongan dengan pemberian
obat oleh keluarganya yang dibeli di apotik terdekat dari rumah. Akibat
kondisinya klien tidak melakukan aktifitas seperti biasa. Klien merasa tidak
berguna saat ini.
c. Helicy
Tn A Berusia 48 tahun adalah seorang petani sebagai kepala keluarga dan
pencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Klien baru pertama
kali merasakan nyeri perut yang sangat perih, sehingga klien merasa tidak
nyaman dengan kondisinya saat ini. Pasien merasa dengan penyakit yang
alaminya Dia tidak bisa beraktivitas lagi.
3. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman nyeri (akut) berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam mengenal masalah gastritis.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga
dalam merawat keluarga yang sakit.
4. Klasifikasi data
Data subjektif
-

Tn. A mengatakan

Data objektif
-

sering merasa perih dan


-

sakit perut.
Tn. A mengatakan sering
merasa mual dan

muntah.
Tn. A mengatakan tidak

dapat bekerja karena


aktivitasnya terganggu
oleh nyeri yang

ada

nyeri

tekan

di

bagian

abdomen
skala nyeri 5 dari 0 sampai 10,
Td :110/70 mmhg,
Nadi : 86 X/m,
S : 37, 5 oC
RR : 18 /menit
BB 45 kg,
Tampak memegang perutnya bila
nyeri.
Tampak lemah
Kekuatan otot : 4
4

dirasakannya.

16

4
4

BAB IV
MODEL KONSEPTUAL KEPERAWATAN MENURUT TEORI MARTA E.
ROGER
Model konsep dan teori keperawatan menurut Martha E. Rogers dikenal dengan
nama konsep manusia sebagai unit. Dalam memahami konsep model dan teori ini,
Martha berasumsi bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh, yang memiliki
sifat dan karakter yang berbeda-beda. Dalam proses kehidupan manusia yang dinamis,
manusia selalu berinteraksi dengan lingkungan yang saling mempengaruhi dan
dipengaruhi, serta dalam proses kehidupan manusia setiap individu akan berbeda satu
dengan yang lain dan manusia diciptakan dengan karakteristik dan keunikan tersendiri.

17

Asumsi tersebut didasarkan pada kekuatan yang berkembang secara alamiah yaitu
keutuhan manusia dan lingkungan, kemudian system ketersediaan sebagai satu kesatuan
yang utuh serta proses kehidupan manusia berdasarkan konsep homeodinamik yang
terdiri dari :
1.

Integritas : Individu sebagai satu kesatuan dengan lingkungan yang tidak dapat

dipisahkan dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain.


2. Resonansi : Proses kehidupan antara individu dengan lingkungan berlangsung
dengan berirama dengan frekuensi yang bervariasi. Resonansi dapat dijelaskan
sebagai suatu pola-pola gelombang yang ditunjukkan dengan perubahan-perubahan
dari frekuensi terendah ke frekuensi yang lebih tinggi pada gelombang perubahan.
3. Helicy : terjadinya proses interaksi antara manusia dengan lingkungan akan terjadi
perubahan baik perlahan-lahan maupun berlangsung dengan cepat.

18

BAB V
INTERVENSI BERDASARKAN MODEL KONSEPTUAL KEPERAWATAN
MENURUT TEORI MARTA E. ROGER
Contoh Penerapan Teori Martha E. Rogers pada kasus di bawah ini:
a. Diagnosa 1 : Gangguan rasa nyaman nyeri (akut) berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah
gastritis.

Areas of

NO.
1.

Assesment

Latar

PENGKAJIAN
Supplementary

Data
Pasien

belakang

dengan

pendidikan

gastritis akut

pasien

rendah

Appraisal Pattern
Pasien A merasa

mengalami nyeri

Pasien A mengeluh

Integrasi :

perih

pasien
Bapak

DIAGNOSA

pada

ulu

hatinya

merasa tidak

Pasien A mengeluh

KEPERAWATAN

INTERVENSI
(MUTUAL

PATTERN)
Gangguan rasa- Pain Reduction
- Coping Enhancement
nyaman
nyeri
- Anticipatory Guidance
berhubungan
Integrasi :
dengan
Memberikan
ketidakmampuan

lingkungan

anggota keluarga

nyaman bagi pasien

merupakan

nyaman

nyeri pada bagain

mengenal

dan

tulang

karena nyeri

peruntnya

gastritis.

beberapa

punggung

yang

keluarga

dialaminya

Selama sakit Pasien

untuk

nyeri

terlihat

19

sering

EVALUASI

yang

mengajarkan
tekhnik

mengurangi

Integrasi :
pasien
merasa
nyaman
dengan
lingkungan
dan

bisa

melakukan
tekhnik
untuk

Keluarga

Resonansi

melamun

tidak

pasien

Resonansi :
Memberikan health

mengerti

merasa tidak

education

mengenai

berguna

pendidikan

penyakit

dengan

kesehatan

tentang

yang dialami

kondisinya

gastritis

kepada

anggota

saat ini

keluarga
Helicy :
Memberikan

keluarganya.

Helicy

mengurangi

keluarga
merasa
masih
berguna lagi
karena sudah

pasien

motivasi

merasa

kesembuhannya

untuk

mengerti
mengenai

dengan

panyakit

kondisinya
saat ini dia
tidak

nyeri
Resonansi:
pasien dan

bisa

gastritis
Helicy :
Pasien

beraktivitas

mampu

lagi

menjalankan
perawatan
untuk
kesembuhan
ya

20

b. Diagnosa 2 : Gangguan rasa nyaman nyeri (akut) berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah
gastritis.

Areas of

NO.
1.

PENGKAJIAN
Supplementary

Assesment

Latar

belakang

Data
Pasien dengan

Appraisal Pattern

Pasien A merasa

Gangguan
mobilitas

terbatas

Integrasi : klien

melakukan

berhubungan

pasien

merasa terbatas

aktifitasnya.

dengan

rendah

dalam
Bapak

dalam

Pasien A mengeluh

melakukan

mengalami

merupakan

aktifitas,

sehingga

tulang

kebutuhannya

dalam

punggung

dipenuhi orang

aktifitas

keluarga

lain

Resonansi

pasien

merasa

tidak

berguna

nyeri
terbatas

melakukan

Selama sakit Pasien


A jarang melakukan
aktifitas fisik

(MUTUAL

KEPERAWATAN

gastritis akut

pendidikan

INTERVENSI

DIAGNOSA

PATTERN)

- Coping Enhancement
fisik- Anticipatory Guidance

ketidakmampuan

lingkungan

keluarga

nyaman

dalam

nyaman
yang
dan

lingkungan

memodifikasi

yang

yang sakit.

aktifitas fisik untuk

diberikan

pasien gastritis
Resonansi :
Memberikan health

dan mampu

education

yang

1.

pendidikan

mobilitas
21

dengan

merawat keluarga

melakukan
aktifitas fisik
baik

untuk pasien
tentang

pentingnya

kondisinya saat

Integrasi :
pasien
merasa

Integrasi :
Memberikan

kesehatan

dengan

EVALUASI

fisik

gastritis
Resonansi:
pasien dan

ini

kepada pasien dan

keluarga

Helicy : pasien

keluarga
Helicy :
Memberikan

mengerti

merasa dengan
kondisinya saat
ini

dia

tidak

bisa beraktivitas
lagi

tentan

motivasi

kepada

keluarga

agar

mampu

merawat

keluarga

dengan

pentingnya
melakukan
aktifitas
fisik
berguna

gangguan mobilitas

juga untuk

fisik

mengurangi
nyeri pada
pasien
dengn

gastritis
Helicy

pasien dan
keluarga
mampu
menjalanka
n

aktifitas

fisik
22

yang

baik untuk
kesembuha
nya.

23

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Model konsep dan teori keperawaran menurut Martha E. Rogers dikenal dengan
nama konsep manusia sebagai unit. Dalam memahami konsep model dan teori
ini,Rogers berasumsi bahwa manusia merupakan satu kesatuan yang utuh,yang
memiliki sifat dan karakter yang berbeda beda. Dalam proses kehidupan manusia
yang dinamis, manusia dalam proses kehidupan manusia setiap individu akan
berbeda satu dengan yang lain dan manusia deciptakan dengan karakteristik dan
keunikan tersendiri.
Asumsi tersebut didasarkan pada kekuatan yang berkembang secara alamiah
yaitu keutuhan manusia dan lingkungan,kemudian system ketersediaan sebagai satu
kesatuan yang utuh serta proses kehidupan manusia berdasarkan konsep
homeodinamik

yang

terdiri

dari

integritas,resonansi

dan

helicy.

Integritas berarti individu sebagai satu kesatuan dengan lingkungan yang tidak
dapat dipisahkan, dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Resonansi
mengandung arti bahwa proses kehidupan antara individu dengan lingkungan
berlangsung dengan berirama dengan frekuensi yang bervariasi dan helicy
merupakan proses terjadinya interaksi antara manusia dengan lingkungan akan
terjadi perubahan baik perlahan lahan maupun berlangsung dengan cepat.
B. Saran
1. Bagi mahasiswa keperawatan, semoga makalah ini mampu menambah
informasi tentang teori dalam keperawatan keluarga.
2. Bagi mahasiswa keperawatan, semoga makalah ini mampu membantu
mahasiswa dalam praktik di dalam tatanan keperawatan keluarga sehingga
mampu memberikan asuhan keperawatan keluarga yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

24

Hidayat, A.Aziz.Alimut. 2006. B. Kebutuhan Dasar Manusia,


Jakarta : Salemba Medika
Tomey A.M, Alligood M.R 1998. Nursing theorists and their work. 4ed. USA :
Mosby Inc
George, J.B. 1995. Nursing Theories (The Base for Profesional Nursing
Practice), Fourth Edition. USA : Appleton & Lange.
Fawcett,J. 2005. Contemporary nursing knowledge: Analysis and Evaluation of
Nursing Models and Theories. 2nd ed. Philadelphia: F.A. Davis
Company
Doengoes, M. E. 2002. Nursing care plane: Guidelines for planning &
documenting patient care, 3rd edition, FA. Davis.

25

Anda mungkin juga menyukai