Anda di halaman 1dari 28

AKUNTANSI PERHOTELAN

SIKLUS AKUNTANSI

Oleh :
Kelompok 1
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Wiwik Lepang Kristiana


Ni Wayan Meres
I Dewa Ayu Kade Sanda
Luh Putu Dewi Sulistiani
Putu Era Sugiartini
Putu Dian Handayani

1317051033
1317051109
1317051130
1317051143
1317051159
1317051234

JURUSAN AKUNTANSI PROGRAM S1


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA
2016
BAB 2

SIKLUS AKUNTANSI

Siklus atau daur akuntansi adalah proses yang dilakukan dalam melakukan penyusunan
laporan keuangan dari tahap awal yaitu pencatatan sampai tahap akhir sampai kembali
ketahap awal periode berikutnya. Akuntansi sebagai suatu cabang ilmu dapat diterapkan pada
berbagai jenis bisnis yang menghasilkan laba maupun nirlaba. Sebagai suatu cabang ilmu,
akuntansi memiliki ciri universalitas sehingga dapat diterapkan secara umum. Laporan
keuangan merupakan salah satu produk akhir akuntansi yang dapat digunakan oleh
manajemen sebagai panduan dalam pengambilan keputusan ekonomis. Untuk dapat
menghasilkan suatu aporan keuangan, harus dilakukan beberapa tahapan yang lazim disebut
siklus akuntansi. Apabila suatu siklus telah selesai maka siklus lainya dimulai lagi dengan
tahapan yang sama.
2.1 PENDAHULUAN
Akuntansi sangat erat kaitanya dengan informasi keuangan. Berbagai pengertian
diungkapkan oleh para ahli, namun pada prinsipnya mereka membahas satu bahan olah
(objek) yaitu informasi keuangan. Definisi resmi yang mula-mula diajukan adalah definisi
yang berkaitan oleh APB (Accounting Principles Board) yaitu suatu komite yang penyusunan
prinsip akuntansi yang dibentuk oleh American Institute of Certified Public Accountant
(AICPA), yang menyebutkan bahwa akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan
peringkasan transaksi yang terjadi yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna
dalam bentuk satuan uang, penginterprestasian hasil proses tersebut. Sebagai suatu aktivitas
dengan fungsi menghasilkan informasi ekonomis bagi yang memerlukan, akuntansi memiliki
tahapan-tahapan yang harus dilalui. Bila seluruh tahapan telah dipenuhi maka kita harus
kembali ke tahap awal. Tahapan yang berulang dengan keteraturan urutan pekerjaan dalam
akuntansi disebut siklus akuntansi. Dalam satu siklus akuntansi, satu fungsi bisa
melaksanakan beberapa tugas. Tugas dari pengumpulan data transaksi, analisis transaksi,
hingga membukukan dalam buku jurnal dapat dikerjakan oleh satu fungsi misalnya fungsi
kasir umum. Namun demikian, tidak semua tugas dirangkap oleh satu fungsi. Untuk tujuan
pengendalian internal, satu fungsi dalam siklus akuntansi hanya dibebankan satu kewenangan
dala menangani buku besar, misalnya hanya membukukan sisi debet. Sisi kredit akan

dibukukan oleh fungsi yang lain. Dengan demikian, dapat dilakukan periksa internal antara
satu fungsi dengan fungsi yang lain untuk satu rekening yang sama.
2.2 BAGAN SIKLUS AKUNTANSI, SISTEM DAN PROSEDUR AKUNTANSI PADA
USAHA PERHOTELAN
Siklus akuntansi pada usaha perhotelan secara garis besar sama dengan siklus akuntansi
pada jenis usaha lainnya. Siklus akuntansi diawali dengan pencatatan transaksi dan berakhir
dengan post-closing trial balance. Seluruh proses akuntansi dapat dilakukan secara manual
ataupun dengan menggunakan aplikasi komputer. Adapun transaksi-transaksi penting yang
terjadi dalam operasi akuntansi hotel, antara lain:
1) Penjualan produk dan jasa. Transaksi harian penjualan produk dan jasa dicatat dalam
buku khusus penjualan, dan diakhir periode akuntansi baru dibuat jurnal khusus
penjualan.
2) Penerimaan kas dan pengeluaran kas (cash disbursement). Penjualan tunai dan
pengeluaran kas harian kami catat dalam buku khusus yang disebut dengan buku kas
dan bank. Setelah dilakukan rekonsiliasi kas dan bank, diakhir periode dibuat jurnal
khusus penerimaan dan pengeluaran kas.
3) Pembelian produk dan jasa. Untuk efisiensi dan mempermudah pekerjaan bagian
akuntansi, transaksi harian pembelian produk dan jasa dicatat dalam buku khusus
pembelian, diakhir periode akuntansi dibuat jurnal khusus pembelian.
4) Payroll. Karena akuntansi hotel terdiri dari beberapa departemen, maka bagian
personalia membuat rekapitulasi daftar gaji, upah, dan PPh 21 sesuai dengan
departemen dimana karyawan bekerja. Setelah itu baru dibuat jurnal alokasi sesuai
dengan departemennya.

Klasifikasi

Transaksi
Akuntansi
1. Neraca
Jurnal
Jurnal
2. Laba
Rugi
Balik
Penyusunan
Penutup
3. (Akun
Perubahan
Riil)
Laporan
(Akundan
Modal
Analisis
Keuangan
Nominal)
4. Interpretasi
Aliran
Kas

Bukti
Transaksi

Pencatatan

Bukti Kas
Bukti
JK
KasPenjualan
Masuk
Bukti Kas
Bukti
JK KasPembelian
Keluar
Bukti Penjualan
Bukti
Retur &
JK
Penjualan
Bukti Pembelian
Potongan
JK
Pembelian
Bukti Retur &
Buku
Umum
JK Retur
& &
Potongan
Neraca
Saldo
Khusus
Potongan
Jurnal
Umum &Pengguna Laporan
Neraca
Lajur
yang Disesuaikan
Khusus
Keuangan Umum
(Opsional)

Peringkasan
Buku
Besar
-

Piutang
Persediaan
Aktiva tetap
Hutang

- Pembayaran
uangNeraca
muka
- Pos-pos
Percobaan
taksiran
Penyesuaian
- Penyusutan
Akrual
aktiva tetap

Buku
Pembantu

Dasar akuntansi untuk akuntansi hotel menggunakan double-entry bookkeeping,


dimana setiap entri data harus ada yang sama dan yang berlawanan sehingga hasilnya
akan sama.
1) Journal entry, mencatat perubahan neto setiap akun yang mempengaruhi saldo debet
dan kredit. Jurnal ini dilakukan secara bulanan yang biasanya digunakan untuk
mempermudah jurnal harian, di mana jumlah secara harian diakumulasikan dan jurnal
tunggal dibuat atas transaksi bulanan.
2) General ledger, mencatat pengelompokan secara kolektif dari akun individual.
3) Trial balance, menunjukan daftar saldo akun dalam suatu periode.
4) Financial Statement, menggambarkan posisi keuangan usaha yang biasanya disiapkan
pada akhir periode akuntansi, bisa secara bulanan atau tahunan.
Sistem dapat dijelaskan dari dua pendekatan, yaitu: pendekatan prosedur dan
pendekatan komponen. Dari Pendekatan prosedur, sistem adalah kumpulan dari prosedurprosedur yang dilengkapi dengan formulir dan catatan untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu. Contoh dari pendekatn prosedur ini adalah sistem akuntansi yang merupakan
kumpulan dari prosedur penerimaan dan pengeluaran kas, prosedur penjualan, prosedur
pembelian dan buku besar. Jadi dapat dikatakan sistem akuntansi terdiri dari subsistem
yang saling berkaitan. Sistem akuntansi yang digunakan pada usaha perhotelan terdiri
dari:

1) Subsistem akuntansi utama:


- Kode rekening
- Buku besar dan buku pembantu
- Jurnal
- Bukti transaksi
2) Subsistem penjualan dan penerimaan uang:
- Order penjualan, perintah pengiriman dan pembuatan faktur
- Distribusi penjualan
- Piutang
- Penerimaan uang dan pengawasan kredit
3) Subsistem pembelian dan pengeluaran uang:
- Order pembelian dan laporan penerimaan barang
- Distribusi pembelian dan biaya
- Hutang
- Prosedur pengeluaran uang
4) Subsistem pencatatan waktu dan penggajian:
- Personalia
- Pencatatan waktu
- Penggajian
- Distribusi gaji dan upah
5) Subsistem produksi dan biaya produksi
- Order produksi
- Pengawasan persediaan
- Akuntansi biaya
Sedangkan dari pendekatan komponen, sistem adalah kumpulan dari komponenkomponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk satu kesatuan
untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh sistem yang didefinisikan dari pendekatan komponen
adalah sistem komputer yang terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak.
Prosedur adalah urutan pekerjaan klerikal yang melibatkan beberapa orang dalam satu
bagian/departemen atau lebih untuk menangani transaksi secara seragam dari transaksi yang
sama dan terjadi berulang-ulang. Pekerjaan klerikal terdiri dari kegiatan menulis,
menggandakan,

menghitung,

memberi kode,

mendaftar, memilih, memindah

dan

membandingkan yang dilakukan untuk mencatat informasi di dalam formulir, buku jurnal dan
buku besar.
2.3 SPI DI PERHOTELAN
Pengendalian intern mempunyai arti sempit dan luas. Dalam arti sempit, pengendalian
intern adalah pengecekan penjumlahan, baik penjumlahanmendatar maupun penjumlahan

menurun. Dalam arti luas, AICPA (American Institute of Certified Public Accountants)
mendefinisikan pengendalian intern meliputi struktur organisasi dan semua cara serta alat
yang dikordinasikan dan digunakan dalam perusahaan dengan tujuan untuk menjaga
keamanan harta milik perusahaan, memeriksa ketelitian dan kebenaran data akuntansi,
meningkatkan efisiensi di dalam operasi, dan membantu menjaga dipatuhinya kebijaksanaan
manajemen yang telah ditetapkan.
Secara garis besar pengendalian intern dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1)
Pengendalian

akuntansi

(accounting

control),

dan

(2)

Pengendalian

administratif

(administrative control). Pengendalian akuntansi terdiri dari struktur organisasi dan semua
prosedur serta catatan yang berkaitan dengan pengamanan aktiva dan dapat dipercayainya
catatan keuangan. Dalam pengendalian akuntansi biasanya mencakup pengendalian seperti:
prosedur pengesahan dan persetujuan, pemisahan tugas antara pihak yang mencatat dan
membuat laporan dengan pihak pelaksana atau penyimpanan aktiva, pengawasan phisik atas
aktiva, dan internal auditor.
Pengendalian administratif terdiri dari struktur organisasi dan semua metode dan
prosedur yang berkaitan dengan efisiensi operasi dan dipatuhinya kebijakan manajemen yang
telah ditetapkan. Pengendalian administratif ini biasanya mencakup pengendalian seperti:
analisis statistik, program pelatihan karyawan, kontrol kualitas pelayanan dan lainnya.
Pengendalian akuntansi biasa disebut pengendalian preventive control yang berutjuan untuk
mencegah terjadinya ketidakefisienan, sedangkan pengendalian administrative biasa disebut
administrative control atau feedback control yang bertujuan untuk memperoleh informasi
mengenai hasil operasi, apakah pelaksanaan pekerjaan menyimpang dari rencananya, ada
ketidakefisienan atau tidak.
Terdapat beberapa elemen yang merupakan ciri pokok dari sistem pengendalian intern yang
baik, yaitu:
- Adanya struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tepat dan

tegas.
Adanya sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang baik untuk melakukan pengawasan
akuntansi yang cukup terhadap harta milik perusahaan, hutang, pendapatan dan biaya.

Adanya praktek yang sehat didalam menjalankan tugas dan fungsi disetiap bagian

dalam organisasi.
Tingkat kecakapan pegawai yang sesuai dengan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya.
Adanya pengecekan independen.

Struktur pengendalian intern menurut COSO (Committee of Sponsoring Organizations of


the Treadway) terdiri dari lima komponen, yaitu:
1) Lingkungan pengendalian (control environment)

Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian


internal. Faktor-faktor lingkungan pengendalian mencakup integritas, nilai etis, dan
kompetensi dari orang dan entitas, filosofi manajemen dan gaya operasi, cara
manajemen memberikan otoritas dan tanggung jawab serta mengorganisasikan dan
mengembangkan orangnya, perhatian dan pengarahan yang diberikan oleh dewan
direksi.
2) Penaksiran risiko (risk assessment).
Mekanisme yang ditetapkan untuk mengindentifikasi, menganalisis, dan mengelola
risiko-risiko yang berkaitan dengan berbagai aktivitas di mana organisasi beroperasi.
3) Aktivitas pengendalian (control activities)
Pelaksanaan dari kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan oleh
manajemen untuk membantu memastikan bahwa tujuan dapat tercapai.
4) Informasi dan komunikasi (information and communication)
Sistem yang memungkinkan orang atau entitas, memperoleh dan menukar informasi
yang diperlukan untuk melaksanakan, mengelola, dan mengendalikan operasinya.
5) Pemantauan (monitoring)
Sistem pengendalian internal perlu dipantau, proses ini bertujuan untuk menilai mutu
kinerja sistem sepanjang waktu. Ini dijalankan melalui aktivitas pemantauan yang
terus-menerus, evaluasi yang terpisah atau kombinasi dari keduanya
Dalam prakteknya, model yang dibangun untuk menyusun sistem pengendalian intern
yang baik harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
-

Pengendalian intern tidak hanya dilihat sebagai suatu kelompok kegiatan yang berdiri
sendiri, tetapi lebih merupakan suatu rangkaian aktivitas yang terjadi pada seluruh

operasi entitas secara berkesinambungan, dengan berfokus pada resiko operasi.


Manfaat pengendalian intern harus lebih besar dari biaya untuk menyusun,

mengimplementasikannya dan resiko mungkin terjadi.


Aplikasi SPI harus didukung oleh semua pegawai dalam organisasi dari manajemen

puncak hingga staf terbawah.


Aplikasi sistem pengendalian intern harus memperhatikan budaya organisasi.

2.4 AKUNTANSI DAN KOMPUTERISASI


Kemajuan teknologi komputer, data dapat disimpan, diperbaiki, dan dipanggil kembali
dalam waktu yang sangat cepat. Kalkulasi-kalkulasi yang rumit dan memerlukan ketepatan
tinggi serta dalam jumlah yang besar akan sangat terbantu dengan kemajuan teknologi ini.
Perlu diingat bahwa dalam melaksanakan tugas-tugas akuntansi komputer hanya memerlukan
alat bantu manajemen untuk menghasilkan informasi ekonomi sehingga pengambilan
keputusan menjadi lebih tepat. Artinya, pemahaman yang baik dan mendalam terhadap

prinsip-prinsip akuntansi mutlak diperlukan oleh individu yang berkecimpung dan berkarier
dibidang akuntansi. Dengan pengusaan materi akuntansi tugas-tugas akuntansi yang
kompleks dapat dituntaskan dengan cepat dan tepat dengan bantuan alat komputer.
2.5 STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN INDONESIA
Pengambilan keputusan operasional hotel yang didasarkan pada informasi keuangan,
manajer diharapkan memilii wawasan dan pengetahuan yang berhubungan dengan Kerangka
Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan dari Standar Akuntansi Keuangan
Indonesia 2002. Standar Akuntansi Keuangan Indonesia dan prinsip-prinsip akuntansi yang
lazim diterima oleh yang berkepentingan.

ASUMSI DASAR
1. DASAR AKRUAL
Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan
bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan
akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan.
Laporan keuangan yang disusun atas dasar akrual memberikan informasi kepada
pemakai, tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan
pembayaran kas, tetapi juga kewajiban pembayaran kas di masa depan.
2. KELANGSUNGAN USAHA (GOING CONCERN)
Laporan keuangan biasanya disusun atas dasar asumsi kelangsungan usaha
perusahaan dan usaha tersebut akan tetap berlanjut di masa depan. Oleh karena itu<
perusahaan diasumsikan tidak berkeinginan melikuidasi dan mengurangi secara
material skala usahanya. Jika maksud atau keinginan itu timbul, laporan keuangan
mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang digunakan harus
diuangkapkan.
KARAKTERISTIK KUALITATIF LAPORAN KEUANGAN
1. DAPAT DIPAHAMI
Kualitas penting dari informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah
kemudahannyauntuk segera dapat dipamahi oleh pemakai. Untuk maksud ini,
pemakai diasumsikan memiliki pengentahuan yang memadai tentang aktivitas

ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan
ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya
dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar
pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh
pemakai tertentu.
2. RELEVAN
Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam
proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat
memengaruhi kepuusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi
peristiwa masa lalu, masa kini, masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil
evaluasi mereka di masa lalu. Peran informasi dalam peramalan (predictive) dan
penegasan (confirmatory) berkaitan satu sama lain. Informasi posisi keuangan dan
kinerja di masa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi
keuangan dan kinerja masa depan dan hal-hal lain yang langsung menarik perhatian
pemakai. Untuk memiliki nilai prediktif, informasi tidak harus dalam bentuk ramalan
eksplisit. Namun demikian, kemampuan laporan keuangan untuk membuat prediksi
dapat ditingkatkan dengan menampilkan informasi tentang transaksi dan peristiwa
masa lalu.
3. MATERIALITAS
Relevansi informasi dipengaruhi oleh hakikat dan meterialitasnya. Dalam beberapa
kasus, hakikat informasi saja sudah cukup untuk menentukan relevansinya. Informasi
dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam
mencatat informasi tersebut dapat memengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang
diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau
kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam
mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat. Oleh karenanya, materialitas lebih
merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah dari pada suatu karakteristik
kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang berguna.
4. KEANDALAN
Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan,
kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakaiannya sebagai penyajian yang jujur
dari yang seharusnya ndisajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.
Informasi mungkin relevan, tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat
diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan.
a. PENYAJIAN JUJUR

Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi


serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat
diharapkan untuk disajikan. Jadi, misalanya neraca harus menggambarkan dengan
jujur transaksi serta peristiwa lainnya dalam bentuk aktiva, kewaji9ban, dan
ekuitas perusahaan pada tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria pengakuan.
Informasi keuangan pada umumnya tidak luput dari risiko penyajian yang
dianggap kurang jujur dari apa yang seharusnya digambarkan. Hal tersebut bukan
disebabkan oleh kesengajaan untuk menyesatkan, tetapi lebih karena kesulitan
yang melekat dalam mengidentifikasikan transaksi serta peristiwa lainnya yang
dilaporkan, atau dalam menyusun atau menerapkan ukuran dan teknik penyajian
sesuai dengan makna transaksi dan peristiwa tersebut.
b. SUBSTANSI MELAMPAUI BENTUK
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta
peristiwa lain yang seharusnya disajikan maka peristiwa tersebut perlu ducatat dan
disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk
hukumnya. Subtansi transaksi atau peristiwa lain tidak selalu konsisten dengan
apa yang tampak pada bentuk hukum.
c. NETRALITAS
Informasi harus siarahkan pada kebuthan umum pemakai, tidak tergantung pada
kebuthan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan
informasi yang menguntungkan beberapa pihak, sementara di sisi lain merugikan
pihak yang mempunyai kepentingan berlawanan.
d. PERTIMBANGAN SEHAT
Penyusunan laporan keuangan ada kalanya mengahdapi ketidakpastian peristiwa
dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan, perkiraan masa
manfaat pabrik serta peralatan, dan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin
timbul. Ketidakpastian semasacam ini diakui dengan mengungkapkan akikat serta
tingkatannya, dan menggunaan pertimbangan sehat (prudence) dalam penyusunan
laporan keuangan. Pertimbanagn sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat
melakukan perkiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva atau
penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak
dinaytakan terlalu endah.
e. KELENGKAPAN
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam
batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan

(omission) mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan


karena itu ntidak dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansi.
5. DATA DIBANDINGKAN
Pemakai harus dapat membandingkan laporan keuangan perusahaan antarperiode
untuk mengidentifikasi kecendrungan atau tren posisi dan kinerja keuangan. Pemakai
juga harus dapat membandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk
mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan perubahan posisi keuangan
secara relative. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari
transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk
perubahan tersebut, antar periode perusahaan yang sama dan untuk perusahaan yang
berbeda.
6. KENDALA INFORMASI YANG RELEVAN DAN ANDAL
a. TEPAT WAKTU
Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam laporan maka informasi yang
dihasilkanakan

kehilangan

relevansinya.

Manejemen

mungkin

perlu

menyeimbangkan manfaat relative antara pelaporan tepat dan ketentuan informasi


andal.
b. KESEIMBANGAN ANTARA BIAYA DAN MANFAAT
Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan kendala yang pervasive
dari karakteristik kualitatif. Manfaat yang dihasilkan informasi seharusnya
melebihi biaya penyusunannya.
c. KESINAMBUNGAN DI ANTARA KARAKTERISTIK KUALITATIF
Dalam praktik kesinambungan atau trade-off diantara berbagai karakteristik
kualitatif sering diperlukan. Pada umumnya tujuannya adalah untuk mencapai
suatu keseimbangan yang tepat diantara berbagai berbagai karakteristik untuk
memenuhi tujuan laporan keuangan.
7. PENYAJIAN WAJAR
Laporan keuangan sering dianggap menggambarkan pandangan yang wajar dari, atau
menyajikan dengan wajar, posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan
suatau perusahaan. Meskipun kerangka dasar ini tidak menangani secara langsung
konsep tersebut, penerapan karakteristik kualitatif pokok dan standar akuntansi
keuangan

yang

sesuai

biasanya

menghasilkan

laporan

keuangan

yang

menggambarkan apa yang pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang
wajar dari, atau menyajikan ,informasi semacam itu.
2.6 SIKLUS AKUNTANSI
Sebagai suatu bidang ilmu, akuntansi memiliki siklus yang harus dipenuhi. Artinya, satu
tahapan dalam siklus merupakan persyaratan untuk tahap siklus selanjutnya. Setelah siklus
selesai, tahapan mulai lagi dari awal, demikian selanjutnya dan aktivitas tersebut merupakan
suatu yang berulang hingga menjadi suatu siklus. Siklus akuntansi merupakan tahapantahapan dalam akuntansi yang terdiridari:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pengumpulan data transaksi keuangan pada jurnal


Analisis transaksi
Membukukan transaksi keuangan pada jurnal
Membukukan pada buku besar
Menyiapkan neraca percobaan
Menyiapkan jurnal penyesuaian
Menutup buku
Menyiapkan laporan keuangan

PENGUMPULAN DATA TRANSAKSI KEUANGAN


Transaksi adalah kejadian atau situasi yang mempengaruhi situasi keuangan
perusahaan. Setiap transaksi memerlukan pengidentifikasian, pengukuran dan jika melibatkan
pihak eksternal diperlukan pendokumentasian dalam bentuk bukti transaksi. Bukti transaksi
digunakan untuk memaskitan keabsahan transaksi yang dicatat serta sebagai rujukan bila
terjadi permasalahan dikemudian hari atas transaksi yang dilakukan tersebut. Bukti transaksi
tersebut bias dibuat oleh pihak intern perusahaan maupun pihak ekstern perusahaan. Aktivitas
ini merupakan siklus pertama dari rangkaian siklus akuntansi. Pada tahap ini semua data
transaksi keuangan hotel dikumpulkan di bagian akuntansi. Data transaksi dikumpulkan di
hotel bersifat harian. Transaksi di hotel dengan pihak ketiga umumnya didukung dengan
bukti transaksi yang berbentuk voucer yang berarti bahwa setiap transaksi yang terjadi di
bagian hotel (outlet hotel), seperti restoran, didukung oleh bukti transaksi seperti rekening
restoran.
ANALISIS TRANSAKSI
Siklus kedua dari akuntansi keuangan adalah analisis transaksi yang terjadi. Dalam analisis
transaksi kita harus mengetahui macam-macam transaksi, secara garis besar, transaksi dapat

dipisahkan menjadi dua kelompok yaitu transaksi yang terjadi dalam intern perusahaan dan
transaksi yang berkaitan dengan pihak luar.
a. Transaksi yang berkaitan dengan pihak lain : merupakan kejadian-kejadian atas suatu
keadaan yang terjadi karena hubungan perusahaan sebagai suatu organisasi dengan
pihak lain diluar organisasi perusahaan. Contoh transaksi yang berhubungan dengan
pihak lain adalah :
Menerima uang tunai dari pemilik sebagai setoran modal.
Membeli peralatan dan perlengkapan baik tunai maupun kredit.
Membayar hutang kepada kreditur
Menjual barang secara tunai maupun kredit.
Membayar biaya listrik air dan telepon.
b. Transaksi yang terjadi dalam intern perusahaan : kejadian-kejadian atas suatu keadaan
yang terjadi tanpa ada hubunganya atau keterkaitan dengan pihak lain. Transaksi ini
terjadi karena faktor-faktor yada dalam perusahaan seperti pemakaian gedung, mesin
dan lain-lain.
Analisis transaksi bertujuan mengkaji dampak ekonomis setiap transaksi yang terjadi.
Artinya, setiap transaksi yang terjadi akan mempengaruhi aset, kewajiban, dan modal. Setiap
transaksi yang terjadi di sisi lain akan mempengaruhi sisi debet dan kredit untuk rekeningrekening pada neraca, laba rugi, dan modal. Sebagai ilustrasi, penerimaan kas hasil penjualan
jasa kamar akan mempengaruhi rekening neraca dan laba rugi. Pada neraca, rekening yang
dipengaruhi adalah kas, kas bertambah, jadi di debet sedangkan dikredit rekening penjualan
kamar yang merupakan rekening rugi laba.
Jadi :
Penerimaan kas akan menambah kas, rekening kas didebet. Penjualan jasa kamar akan
menambah hasil penjualan, rekening penjualan jasa kamar dikredit.
MEMBUKUKAN TRANSAKSI PADA BUKU JURNAL
Setelah proses analisis transaksi dilaksanakan, langkah selanjutnya adalah membukukan
setiap transaksi pada buku jurnal. Jurnal merupakan buku pertama untuk mencatat setiap
transaksi yang terjadi. Dalam bahasa Inggris, jurnal disebut book of original entry karena
setiap transaksi pertama kali dibukukan pada jurnal. Adapun proses pembukuan setiap
transaksi pada jurnal disebut penjurnalan (journalizing). Hal yang harus diperhatikan adalah
pencatatan setiap transaksi pada jurnal dilaksanakan secara berurutan atau kronologis, sesuai

dengan tanggal terjadinya transaksi dimaksud. Sebagai ilustrasi, semua transaksi yang terjadi
pada 1 Februari 2004 dicatat paling awal,s elanjutnya transaksi pada 2 Februari 2004,
demikian seterusnya. Pembukuan transaksi pada jurnal sebagai berikut :
Tgl

Keterangan

1 Feb 04

Kas
Pada penjualan jasa kantor
Untuk mencatat hasil penjualan jasa kamar

No.

Debet

Rek
100
400

10.000

Kredit

10.000

Dalam membukukan transaksi pada jurnal, rekening yang didebet dibukukan lebih awal
diikuti dengan rekening yang dikredit dengan mencantumkan kata pada di depan rekening
yang dikredit tersebut. penjelasan transaksi yang diberikan untuk setiap transaksi yang telah
dibukukan pada jurnal. Dengan penjurnalan berarti bahwa tahap analisis transaksi telah
dilaksanakan. Setelah itu, dilaksanakan siklus akuntansi selanjutnya, yaitu pencatatan
transaksi pada buku besar. Dengan penjurnalan, proses penelusuran kesalahan lebih mudah
dilaksanakan karena jurnal merupakan book of original entry.
MEMBUKUKAN TRANSAKSI PADA BUKU BESAR
Setelah penjurnalan selesai dilaksanakan, proses selanjutnya adalah mencatat semua transaksi
pada buku besar. Buku besar merupakan kumpulan dari beberapa rekening yang dalam
bahasa Inggris disebut ledger. Buku besar memiliki indentitas, yaitu nomor dan nama untuk
rekening-rekening neraca, rugi-laba, dan modal. Misalnya rekening-rekening neraca : aset
bernomor 100, kewajiban bernomor 200, modal bernomor 300. Pada rekening-rekening rugi
laba : penjualan bernomor 400, dan biaya bernomor 500. Bila buku besar kas bernomor 110
maka kas keil dapat diberi nomor 110.1, Bank A dengan 110.2, Bank B dengan 110.3, dan
seterusnya. aktivitas membukukan transaksi pada buku besar dalam bahasa Inggris disebut
posting. Transaksi yang telah dibukan pada jurnal. Pada buku besar dicatat sebagai berikut :

Kas
Tgl
1 Feb 04

No Rek : 100
Keterangan
Penjualan jasa kamar

Ref
VJ.1

Debet
10.000

Kredit
-

Saldo
10.000

Penjualan jasa kamar


Tgl
1 Feb 04

Keterangan
Penerimaan kas

No Rek : 400
Ref
VJ.1

Debet
-

Kredit
10.000

Saldo
10.000

MENYIAPKAN NERACA PERCOBAAN


Menyiapkan neraca percobaan merupakan siklus kelima dari aktivitas akuntansi. Pada siklus
ini semua saldo buku besar dipindahkan pada neraca percobaan untuk mendapatkan total
saldo debet = total saldo kredit. Bila total debet = total kredit untuk semua rekening (neraca,
rugi-laba dan modal) maka dapat dinyatakan bahwa pencatatan semua transaksi pada
tahunberjalan sudah benar. Neraca percobaan disipkan akhir periode akuntansi. Penyiapan
neraca percobaan akan sangat membantu dalam penyiapan laporan keuangan karena neraca
percobaan membantu menguji ketepatan pembukuan dengan menguji total debet= total
kredit. Perhatikan contoh isian neraca percobaan suatu hotel di bawah ini. Angka-angka
bersifat ilustratif dan hipotesis.
No. Rek
100
110
120
140
150
170
-3
-2
-1
200
-1
-5
250
300
400
420
430
510
520
620
630
640
650

Rekening
Kas
Surat berharga jangka pendek
Piutang
Persediaan barang
Pembayaran di muka (prepaid expense)
Property and equipment
Furniture, fixture, and equipment (FFE)
Gedung
Tanah
Utang
Utang dagang
Utang pajak penghasilan
Utang jangka panjang
Modal
Pendapatan kamar
Pendapatan makanan
Pendapatan minuman
Biaya kamar-kantor depan
Biaya kamar-tata graha
Biaya SDM
Biaya administrasi dan umum
Biaya pemasaran
Biaya pemeliharaan dan energi
Total
Catatan : No. Rek = Nomor rekening

Debet
5000
7250
6200
3570
1200

Kredit

45000
320000
80000
5780
3140
91250
338750
25000
7400
4250
1700
2000
550
600
1100
1400
475570

475570

GAMBAR 2.1 contoh isian neraca percobaan


MENYIAPKAN JURNAL PENYESUAIAN
Beberapa rekening buku besar pada saat penyiapan laporan keuangan harus disesuaikan
sehingga saldo akhir periode akuntansi untuk rekening yang bersangkutan tepat. Proses
penyesuaian rekening dilakukan setelah penyiapan neraca percobaan dilakukan. Sebagai
contoh, asuransidi bayar dimuka (prepaid insurance), pada Juni 2006 telah dibayar untuk
setahun sebesar Rp 1.200. pada akhir Desember 2006 rekening ini harus disesuaikan karena
hanaya 6 bulan yang benar-benar merupakan biaya asuransi, sementara sisa 6 bulan belum
merupakan biaya. Jurnal penyesuaian sebagai berikut :
Tgl

Keterangan

31 Des 06

Biaya asuransi
Pada pembayaran di muka
Untuk mencatat biaya asuransi pada 2004

N0.

Debet

Kredit

Rek
730
150

600
-

600

MENUTUP BUKU
Pada proses menutup buku aktivitas yang dilakukan adalah mengembalikan saldo tiap
rekening pada saldo normal masing-masing untuk periode akuntansi yang akan datang. Untuk
rekening-rekening riil (rekening-rekeningneraca), aset saldo normalnya adalah debet.
Adapun, untuk rekening utang dan modal, saldo normalnya adalah kredit. Untuk rekeningrekening nominal (rekening-rekening rugi-laba), semua saldo dipindah bukukan pada laba
yang ditahan. Pada saat menutup buku, saldo dari semua rekening nominal adalah nol. Untuk
semua rekening nominal, saldo untuk periode akuntansi yang akan datang mulai lagi dari
awal.
MENYIAPKAN LAPORAN KEUANGAN
Laporan keuangan hotel disiapkan akhir periode akuntansi. Ketepatan laporan keuangan yang
disiapkan sangat tergantung dari sikluas akuntansi sebelumnya. Neraca percobaan merupakan
sumber penyiapan laporan keuangan. laporan keuangan yang lazim disiapkan pada akhir
periode akuntansi adalah neraca, laporan rugi-laba, dan laporan arus kas (Standar Akuntansi
keuangan, 2002).

2.7 LAPORAN KEUANGAN HOTEL


Akuntansi bertujuan memberikan informasi mengenai operasional hotel sehingga
manajemen akan dapat mengambil keputusan yang lebih tepat. Dengan informasi keuangan
yang sekarang, manajemen dapat merencanakan kegiatan periode yang akan datang, berupa
anggaran periode yang akan datang. Selain itu juga, dapat melakukan analisis dan
pengendalian yang lebih baik untuk aktivitas operasional hotel.
Informasi keuangan untuk keputusan ekonomis hotel bersumber dari:
1.
2.
3.
4.

Laporan rugi-laba (income statement);


Neraca (balance sheet);
Laporan arus kas (cash flow statement);
Catatan atas laporan keuangan (notes to financial statement)
Sistem akuntansi yang lazim diterapkan di industri perhotelan adalah Uniform System of

Accounts for

Hotel(USAH) yang awalnya dikembangkan di Amerika Serikat oleh

perhimpunanpengusaha hotel di New York pada tahun 1925.

Semakin berkembangnya

sistem jaringan di industri perhotelan, USAH berkembang menjadi Uniform System of


Accounts for The Lodging Industry (USALI) dengan beberapa manfaat diantaranya
keseragaman pemahaman untuk istilah yang lazim diterapkan di bisnis perhotelan. Misalnya,
istilah gross operating profit (GOP) yang merupakan laba seluruh departemen minus biayabiaya departemen yang bersangkutan minus undistributed operating expenses. Terminologi
yang diterapkan untuk

gross operating profit(GOP) adalah income afterundistributed

operating expenses. Manfaat lainnya adalah data keuangan untuk hotel dengan kelas yang
sama dapat dibandingkan. Selain itu, manfaat juga dirasakan oleh pihak ketiga, yaitu
membuat data runut waktu dengan tujuan kompilasi dan intepretasi lebih lanjut.
Akuntansi keuangan hotel merupakan akuntansi departemental yang artinya setiap
departemen hotel melaporkan hasil operasinya pada periode tertentu. Misalnya, kantor depan
hotel melaporkan aktivitasnya setiap bulan. Penjualan kamar yang terjadi dalam sebulan
dilaporkan bersamaan dengan biaya-biaya yang diserap untuk menghasilkan penjualan kamar
seperti biaya gaji dan upah, biaya alat tulis kantor, biaya yang dipakai habis di kamar tamu,
dan lain sebagainya. Kantor depan juga melaporkan laba departemen yang dicapai pada bulan
atau periode tahun tertentu.
Bila dikaji dari sisi penjualan, departemen hotel dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang
menghasilkan penjualan (revenue generating departements) seperti kantor depan yang
menghasilkan penjualan kamar dan departemen makanan dan minuman (food and beverage
departement). Di sisi lain, ada departemen-departemen hotel yang tidak menghasilkan
penjualan (nonrevenue generating departement) yang hanya menyerap biaya operasional,

tetapi mendukung dan melayani operasional departemen yang menghasilkan penjualan.


Contoh departemen ini adalah personalia, training, pemasaran, pemeliharaan, tata graha, tata
boga, dan lain sebagainya.
2.8 LAPORAN RUGI-LABA
Hotel sebagai industri jasa memiliki laporan yang penting, yaitu laporan rugi-laba.
Dalam laporan rugi-laba, yang dilaporkan adalah penjualan, harga pokok penjualan, biayabiaya yang terjadi pada departemen bersangkutan, biaya-biaya operasional hotel yang tidak
didistribusikan ke masing-masing departemen hotel (undistributed operating expenses),
biaya-biaya tetap seperti depresiasi, sewa, buga, pajak penghasilan, dan laba bersih. Jadi,
laporan rugi-laba merupakan laporan yang sistematis mengenai penjualan, harga pokok
penjualan, harga pokok dan biaya serta laba (rugi) untuk periode tertentu.Periode tertentu
dapat dalam satu bulan, tiga bulan atau satu tahun. Secara teknis, operasional laporan rugilaba hotel disiapkan setiap bulan sebagai laporan antara (interim report) untuk kepentingan
internal manajemen hotel yang bersangkutan. Laporan ini memberikan gambaran kepada
manajemen hotel pencapaian sasaran yang dicapai setiap bulan sehingga tindakan koreksi
dapat dilaksanakan dengan lebih cepat. Format dan bentuk laporan rugi-laba hotel yang
mencakup seluruh penjualan dan laporan keuangan setiap departemen akan dibahas berikut
ini.
ELEMEN-ELEMEN LAPORAN RUGI-LABA HOTEL
1. PENJUALAN
Pada rekening penjualan dicantumkan semua jasa dan atau produk yang ditawarkan
oleh hotel. Pada laporan rugi-laba ini diasumsikan bahwa hotel menawarkan jasa
kamar, makanan, minuman, dan jasa lainnya seperti komunikasi (telepon, faksimil,
dan lainnya), cucian (jasa komunikasi dan cucian disebut minor operated
departement). Penjualan jasa kamar dapat dirinci lagi menjadi tamu yang menginap
jangka panjang (permanent guests) dan jangka pendek (transient guests). Penjualan
makanan dilaksanakan dibagian makanan (food outlet) seperti coffee shop, main
dining room, dan room service. Penjualan makanan dapat dirinci lagi menjadi
penjualan makan pagi, siang, dan malam. Penjualan minuman dilaksanakan di bagian
minuman (beverage outlet) seperti bar.
2. HARGA POKOK DAN BIAYA OPERASIONAL DEPARTEMEN
Pada rekening ini dilaporkan harga pokok makanan dan minuman yang telah diserap
untuk menghasikan penjualan makanan dan minuman. Selain itu, dilaporkan juga

biaya-biaya operasional untuk departemen yang menghasilkan pendapatan seperti


bahan dipakai habis (supplies:paper supplies, cleaning supplies, dan guest supplies),
biaya gaji dan upah departemen yang bersangkutan.
3. LABA DEPARTEMENTAL
Laba departemental merupakan selisih seluruh penjualan departemen hotel dengan
harga pokok dan biaya-biaya yang terjadi. Misalnya departemen kamar (room
departement) yang akan menghasilkan laba departemen setelah penjualan kamar
dikurangi dengan seluruh biaya yang terjadi di departemen kamar. Pendekatan yang
sama dapat diterapkan pada departemen lain.
4. BIAYA-BIAYA OPERASIONAL YANG TIDAK TERDISTRIBUSIKAN
Biaya-biaya ini dalam USAH ataupun USALI disebut undistributed operating
expenses karena biaya operasional ini tidak terdistribusikan ke departemen yang
menghasilkan penjualan, melainkan diserap untuk departemen yang bersangkutan.
Undistributed operating expenses adalah biaya-biaya yang terjadi di departemen
administrasi dan umum (administrative and general yang disingkat A&G),
pengolahan data (data processing atau EDP), human resource (personalia),
transportasi, pemasaran (administrative and promotion disingkat A&P), akuntansi dan
pengendalian biaya, satpam (security), pemeliharaan (property operation and
maintenance) dan biaya energi (utility/energy cost).
5. BIAYA TETAP
Biaya tetap adalah biaya-biaya yang tidak dipengaruhi oleh aktivitas atau volume
bisnis hotel. Yang termasuk biaya tetap adalah biaya manajemen (management fee),
sewa, asuransi, bunga, depresiasi, dan amortisasi. Misalnya, bulan ini tingkat hunian
kamar 10% atau terhuni hanya 25 kamar dan bulan depan terhuni 50% atau 125
kamar. Biaya tetap seperti biaya manajemen, sewa, asuransi, bunga, depresiasi, dan
amortisasi, jumlah keseluruhannya akan tetap sama, tidak dipengaruhi oleh volume
bisnis hotel.
6. PAJAK PENGHASILAN
Tarif pajak penghasilan diterapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Penerapannya dilakukan setelah penjualan dikurangi semua biaya yang terjadi (pos ini
merupakan laba sebelum pajak penghasilan).
7. LABA BERSIH
Laba bersih merupakan laba bersih operasional hotel selama periode setahun yang
ditentukan dengan mengurangi penjualan dengan semua biaya dan pajak penghasilan.

2.9 HUBUNGAN LAPORAN RUGI-LABA DENGAN NERACA


Laporan rugi-laba merupakan laporan yang mencakup aktivitas hotel untuk jangka waktu
setahun. Bila dalam jangka waktu operasi setahun tersebut hotel menghasilkan laba
(penjualan lebih besar daripada seluruh biaya yang terjadi) maka laba yang dihasilkan ini
akan menambah modal hotel. Dengan kata lain, laba yang dihasilkan pada periode tertentu,
misalnya pada tahun 2001, akan dilaporkan neraca per 31 Desember 2001 dibawah judul
rekening modal, pada rekening laba yang ditahan. Laba periode ini dicantumkan pada
rekening laba yang ditahan karena laba ini pada saat pencatatan belum didistribusikan kepada
pemilik hotel berupa dividen.
berikut ini merupakan hubungan antara lapoan rugi-laba dengan neraca.

2.10

ELEMEN-ELEMEN LAPORAN KEUANGAN DEPARTEMEN HOTEL


Akuntansi keuangan hotel merupakan akuntansi departemental. Disebut demikian karena

setiap departemen hotel melaporkan aktivitasnya selama periode tertentu. Departemen kamar
akan melaporkan aktivitasnya setiap periode (setiap bulan misalnya), demikian pula halnya
dengan departemen makanan dan minuman, dan departemen-departemen hotel lainnya.
Laporan aktivitas setiap departemen ini (penjualan dan biaya-biaya departemental yang
diserap untuk periode tertentu) pada laporan keuangan merupakan lampiran laporan keuangan
hotel.
1. Laporan Rugi-Laba Departemen Kamar
a. Penjualan Kamar
Pada laporan rugi-laba departemen kamar dicantumkan semua sumber penjualan
jasa kamar untuk periode tertentu (sebulan, tiga bulan, atau setahun). Sumbersumber penjualan jasa kamar dari transient regular, transient group, permanent,
dan penjualan kamar tambahan (extraroom revenues).
b. Allowance

Allowance merupakan penyesuaian harga kamar untuk yang melampaui perjanjian


sebelumnya. Kesalahan pembebanan harga kamar yang terjadi pada saat tamu
check-in dan diperbaiki beberapa hari kemudian, atau pada saat check-out, disebut
allowance. Jadi, allowance adalah istilah teknis untuk memperbaiki kesalahan
pembebanan harga kamar yang terjadi pada waktu yang lampau (kemarin atau
beberapa hari yang lalu).
c. Biaya-biaya Operasional Langsung
Biaya-biaya yang terjadi pada departemen kamar dibebankan langsung ke
departemen kamar seperti gaji dan upah, employee benefits, biaya tembikar
(chinaware), bahan habis pakai (guest supplies, cleaning supplies, paper supplies),
komisi, seragam, pelatihan (training), dan biaya resevasi.
d. Laba (Rugi) Departemen Kamar
Laba departemen kamar didapat dengan mengurangkan penjualan dengan seluruh
biaya yang diserap oleh departemen kamar.
2. Laporan Laba-Rugi Departemen Makanan dan Minuman
a. Penjualan Makanan dan Minuman
Pada penjualan dicantumkan sumber-sumber penjualan makanan dan minuman,
yaitu restoran, coffee shop, room service dan bar.
b. Allowance
Allowance adalah istilah teknis untuk memperbaiki kesalahan pembebanan harga
makanan dan minuman yang terjadi kemarin atau beberapa hari yang lalu.
c. Harga Pokok Makanan dan Minuman
Harga pokok merupakan harga pokok bahan makanan yang digunakan untuk
menghasilkan penjualan. Harga pokok makanan di industri perhotelan dihitung
hanya untuk bahan makanan yang digunakan untuk memproduksi makanan. Biayabiaya lain seperti tenaga kerja dan penyusutan tidak dibebankan ke hara pokok
karena biaya tenaga kerja dibebankan ke departemen yang bersangkutan. Adapun
penyusutan peralatan dibebankan ke rekening penyusutan. Pendekatan yang sama
diterapan untuk menentukan harga pokok minuman. Harga pokok dibebankan
menjadi harga pokok makanan dan minumanhang dikonsumsi dan harga pokok
makanan yang dijual. Harga pokok makanan yang dikonsumsi adalah harga pokok
makanan yang digunakan untuk memproduksi makanan yang ditawarkan. Harga
pokok makanan yang dibebankan sesuai dengan jumlah harga pokok makanan
yang keluar dari gudang makanan. Adapun harga pokok makanan yang dijual
didapat dari harga pokok makanan yang dikonsumsi minus harga pokok makanan
untuk karyawan dan harga pokok makanan untuk karyawan dan harga pokok untuk
tujuan promosi dan tujuan lain seperti pertemuan dengan dewan direksi/pemilik

hotel. Hotel lazimnya memberikan makanan dan minuman satu kali selama
karyawan hotel bertugas. Harga pokok untuk makanan dan minuman pada akhirnya
dibebankan pada rekening employee benefits, pendekatan yang sama diterapkan
untuk menentukan harga pokok minuman yang dijual.
d. Biaya-biaya
Biaya-biaya yang terjadi di departemen makanan dan minuman dibebankan kepada
departemen ini. Biaya-biaya dimaksud adalah gaji dan upah, employee benefits,
biaya tembikar, bahan habis pakai (guest supplies, cleaning supplies, paper
supplies), komisi, seragam, pelatihan (training), dan biaya musik dan artis.
e. Laba (Rugi) Departemen Makanan dn Minuman
Laba departemen makanan dan minuman didapat dengan mengurangkan penjualan
dengan harga pokok dan seluruh biaya yang diserap oleh departemen makanan dan
minuman.
3. Laporan Rugi-Laba Minor Operated Departments
Departemen lain yang menghasilkan penjualan seperti telepon, laundry dan dry
cleaning (lazim dikelompokkan ke dalam minor operated departments) juga membuat
laporan rugi-laba dengan pendekatan sama dengan departemen kamar dan departemen
makanan dan minuman.
4. Undistributed Operating Expenses
Departemen yang hanya menyerap biaya dan tidak menghasilkan penjualan (seperti
departemen administrasi dan umum, pengolahan data, human resources, transportasi,
pemasaran, pemeliharaan dan biaya energi) hanya melaporkan semua biaya yang terjadi
di departemen tersebut untuk periode tertentu. Dengan laporan ini, aktivitas tetap
separtemen hotel dapat diketahui dan dikendalikan.
2.11

NERACA
Neraca merupakan salah satu laporan keuangan hotel yang penting.Dalam neraca

dilaporkan posisi kekayaan hotel seperti kas, piutang, persediaan, aktiva lancar lain-lain,
gedung dan perlengkapan gedung, aktiva tetap lain-lain, dan tanah. Di samping kekayaan
hotel, neraca juga melaporkan kewajiban hotel yang terdiri dari utang dagang, utang pajak,
utang gaji, utang jangka pendek lain-lain,utang jangka panjang serta modal. Dengan
demikian, neraca merupakan laporan yang sistematis mengenai aktiva, pasiva dan modal
hotel pada saat tertentu.Saat tertentu ini misalnya 31 Desember 200x.Neraca merupakan
perluasan dari persamaan dasar akuntansi karena pada neraca dapat ditetapkan konsep dasar
akuntansi berikut.

2.12 KONSEP DASAR AKUNTANSI


Konsep dasar akuntansi seperti dalam persamaan di bawah ini ini:
Debet = Kredit
Aktiva = Utang + Modal
Konsep dasar akuntansi ini menyatakan bahwa harus ada keseimbangan antara debet
dan kredit. Artinya, bila transaksi dibukukan dengan benar maka slisih antara debet dan kredit
adalah nol.
Pada konsep dasar akuntansi di atas, aktiva merupakan kekayaan perusahaan, dicatat
pada sisi debet neraca yang terdiri dari aktiva lancar dan aktiva tetap. Utang merupakan
kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga yang terdiri dari utang lancar/jangka pendek dan
utang jangka panjang.Modal merupakan penyertaan pemilik pada perusahaan/hotel yang
diklasifikasikan menjadi modal sendiri, laba yang ditahan, agio/disagio saham.Utang dan
modal dicatat pada sisi kredit neraca.
2.13 AKTIVA LANCAR
Pada neraca aktiva dilaporkan sesuai dengan tingkat likuiditas aktiva yang bersangkutan.
Aktiva yang paling likuid, seperti kas atau setara kas akan dilaporkan paling awal. Aktiva
lancar dicatat pada kolom debet pada neraca. Aktiva ini dari sisi keuangan didanai dari utang
lancar dan atau modal sendiri.Pada industri perhotelan, tergolong aktiva lancar adalah kas dan
setara kas, persediaan yang terdiri dari bahan makanan, minuman, dan bahan yang dipakai
habis (material and supplies).Surat berharga jangka pendek merupakan aktiva lancar hotel
untuk investasi jangka pendek yang bersif sementara, yang dapat dikonvensikan menjadi kas
dalam setahun.Piutang hotel terdiri dari piutang dagang yang merupakan tagihan hotel kepada
tamu dan pihak ketiga seperti biro perjalanan, perusahaan, penerbangan, dan pihak ketiga
lainnya yang berhubungan dengan pihak hotel.Pada neraca jumlah piutang yang dicantumkan
adalah jumlah yang menjadi hak hotel, sedangkan jumlah yang kemungkinannya tidak
tertagih dibebankan sebagai penyisihan piutang ragu-ragu dan dibebankan sebagai biaya bad
debt. Pembayaran di muka (prepaid expense) merupakan aktiva lancar hotel untuk biayabiaya yang telah dibayar oleh hotel., tetapi jasanya belum semua dinikmati oleh hotel saat
neraca dilaporkan. Contoh rekening ini adalah biaya asuransi untuk setahun,tetapi pada saat

dilaporkan jasa yang masih harus dinikmati oleh hotel masih 75%. Jadi, yang dilaporkan
dalam neraca adalah nilai asuransi sebesar 75% dari nominal sebagai prepaid expense.
2.14 AKTIVA TETAP (AKTIVA JANGKA PANJANG)
Aktiva tetap merupakan aktiva yang dapat dikonversikan menjadi kas lebih lama
daripada setahun dan digunakan untuk aktivitas produksi hotel. Seperti aktiva lancar, aktiva
tetap juga dicatat pada sisi debet nraca. Aktiva tetap didanai utang jangka panjang dan atau
modal sendiri. Pada industry perhotelan, aktiva tetap terdiri dari gedung dan gedung yang
sedang dibangun, perlengkapan gedung, system pendinginan, kendaraan, furnitute, fixture
and equipment (FFE), tembikar (chinaware), glasswar, lena(linens), dan seragam karyawan.
Aktiva tetap berwujud milik hotel ini pada neraca dicantumkan at cost dan secara sistematis
nilai historisnya (at cost) dibebankan sebagai biaya depresiasi dengan metode depresiasi
tertentu untuk jangka waktu taksiran usia ekonomis aktiva tetap yang bersangkutan. Untuk
tembikar, glassware, lena, dan seragam karyawan, secara sistematis nilai disusutkan dan
dibebankan sebagai biaya dengan teknik penyisihan tertentu. Aktiva tetap dan lain-lain seperti
biaya prapembukuan hotel dan biaya-biaya yang ditangguhkan dicantumkan sebagai aktiva
tetap lain-lain karena tidak berwujud dan jangka waktu aktiva ini lebih dari setahun.Biaya
prapembukuan merupakan semua biaya yang dikeluarkan sebelum hotel beroprasi secara
komersial.Biaya ini cukup bsar sehingga, sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang lazim
berlaku, dapat dikapitalisasi yaitu diberlakukan sebagai aktiva dan secara sistematis
dibebankan sebagai biaya dengan teknik amortisasi untuk beberapa periode akuntansi. Biaya
prapembukuan yang jumlahnya cukup besar didistribusikan sebagai biaya dengan jumlah
yang sama untuk beberapa periode akuntansi sehingga tidak berpengaruh secara signifikan
atas rugi-laba hotel. Biaya yang ditangguhkan juga diperlakukan sama seperti biaya
prapembukuan hotel. Contoh biaya yang ditangguhkan misalnya biaya kontrak pemasaran
hotel untuk setahun dngan pihak ketiga yang memerlukan biaya yang cukup besar untuk
dikapitalisasi.
2.15 UTANG LANCAR
Utang lancar merupakan kewajiban hotel pada pihak ketiga (misalnya rekanan hotel)
yang jatuh tempo dalam setahun.Utang lancar merupakan sumber pendanaan untuk aktiva
lancar hotel.Pada neraca, utang lancar dicatat paling awal/paling atas pada sisi kredit
neraca.peringkat pencatatan utang lancar ditentukan oleh jangka waktu jatuh tempo/dibayar
lunas. Pada industri perhotelan yang merupakan utang lancar seperti utang dagang, utang

gaji, utang pajak, utang jangka pendek lain (utang dengan bank), porsi utang jangka panjang
yang jatuh tempo tahun ini dan utang dividen.
2.16 UTANG JANGKA PANJANG
Utang jangka panjang merupakan kewajiban hotel pada pihak ketiga yang jatuh tempo
lebih daripada setahun. Pada neraca, makin panjang jangka waktu utang maka akan dicatat
paling akhir/bawah pada klarifikasi utang. Utang jangka panjang lazimnya diperuntukan
untuk mendanai aktiva tetap.Pada industri perhotelan, termasuk utang jangka panjang di
antaranya utang hipotek, yaitu utang dengan jaminan aktiva tetap yang bersangkatan.Utang
obligasi yang jatuh tempo lebih daripada setahun merupakan klasifikasi utang jangka
panjang. Obligasi merupakan surat pengakuan utang yang dikeluarkan berdasarkan undangundang yang berlaku di Indonesia. (rincian mengenai undang-undang obligasi dapat dikaji
pada undang-undang pasar modal Indonesia tahun 1995).
2.17 MODAL
Modal merupakan penyertaan pemilik pada perusahaan hotel yang dimiliki.Modal dicatat
pada sisi kredit neraca setelah utang jangaka panjang.Modal terdiri dari modal sendiri, laba
yang ditahan, dan agio/disagio saham.Modal sendiri lazim disebut ekuitas (equity) merupakan
penyertaan pemilik pada perusahaan/hotel.Bila modal dikonvnsikan dalam saham maka
saham yang lazim adalah saham biasa (common stock). Saham jenis lain yang memiliki ciri
berbeda dengan saham biasa adalah saham preferensi (preferred stocks). Saham preferensi
diperuntukan untuk pemilik dengan kualifikasi tertentu.Laba yang ditahan (retained
earnings) merupakan salah satu kualifikasi modal. Laba yang ditahan merupakan laba
operasional hotel periode akuntansi yang lalu yang tidak didistribusikan kepada hotel di masa
yang akan datang. Agio/disagio saham merupakan kelebihan/kekurangan harga saham bila
saham ditawarkan kepada investor publik. Sebagai contoh, saham hotel per lembabr
ditawarkan Rp5000, tetapi investor public membeli per lembar saham hotel sebesar Rp5100.
Dengan demikian, Rp100 merupakan agio per lembar saham. Bila saham yang ditawarkan
1000 lmbar maka agio saham yang dicatat pada neraca sebesar Rp100.000. Sebaliknya, bila
oleh investor publik per lembar dibayar Rp4900 maka disagio per lembar saham yang dicatat
pada neraca pada rekening modal adalah Rp100.
2.18 LAPORAN ARUS KAS

Laporan arus kas (statement of cash flows) merupakan laporan yang mengungkapkan
sumber-sumber kas hotel.Laporan ini merupakan satu kesatuan dengan laporan rugi-laba dan
neraca.Pada laporan arus kas dilaporkan arus kas (penerimaan dan pngeluaran) hotel dari
aktivitas operasional (operating activity), aktivitas investasi, dan aktivitas pendanaan.Arus
kas operasional bersumber dari operasional hotel sehari-hari seperti penjualan tunai jasa
kamar,

makanan,

minuman,

dan

jasa-jasa

lainyang

ditawarkan

hotel

kepada

tamunya.Pengeluaran kas untuk aktivitas operasional diantaranya untuk membayar gaji


karyawan, membayar utang dagang kepada rekanan untung daging, ikan, dan keperluan
operasional lainnya. Arus kas masuk dari aktivitas investasi bila hotel mendapatkan dividen
tunai dari investasi pada perusahaan lain, sedangkan pengeluaran kas untuk aktivitas investasi
bila hotel membeli surat-surat beharga jangka pendek. Arus kas dari aktivitas pendanaan
bersumber dari pihak ketiga,misalnya utang jangka panjang dari bank. Sumber kas masuk
dari utang jangka panjang, sedangkan pengeluaran kas untuk cicilan dan bunga jangka
panjang.
2.19

CATATAN

ATAS

LAPORAN

KEUANGAN
Catatan atas laporan keuangan (notes on financial statement) merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari laporan keuangan hotel. Jadi, sesuai dengan satu set laporan keuangan
terdiri ataas neraca, laporan rugi-laba, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan.
Pada catatan atas laporan keuangan informasi diuangkapkan antara lain kebijakan akuntansi
yang diterapkan seperti penentuan nilai persediaan, metode depresiasi yang diterapkan seperti
penentuan nilai persediaan, metode depresiasi yang diterapkan, kebijakan kapitalisasi untuk
misalnya biaya prapembukaan hotel, penentuan nilai per lembar saham. Selain kebijakan
akuntansi yang diterapkan, catatan atas laporan keuangan mengungkapkan pula pengaruh
inflasi pada laporan keuangan.
2.20 MENERANGKAN STRUKTUR ORGANISASI DI DEPARTEMEN AKUNTANSI
Departemen akuntansi pada usaha perhotelan biasanya terdiri dari beberapa bagian
yang saling terkait satu sama lainnya, seperti bagian kredit dengan accout receivable, cost
control dengan purchasing dan lain sebaginya. Adapun bagian-bagian yang ada dalam
departemen akuntansi, yaitu:

Head Department

Accounting

Credit

Personalia

Night Audit

Cost Control

EDP
General
Cashier
Cashier Outlet

Purchasing

Storeroom

Account Receivable
Dari bagan
di atas
dapat dijelaskan lebih rinci tentang bagian-bagian yang ada dalam
Account
Payable
departemen akuntansi, antara lain:
1) General Income
Cashier,Audit
merupakan kasir yang mempunyai tanggung jawab penuh atas
semua penerimaan dan pengeluaran hotel.
2) Chasier Outlet, terdiri dari front office, restoran, bar. Kasir outlet bertanggung jawab
atas penerimaan pada masing-masing outlet.
3) Income Auditor, adalah orang yang mempunyai tugas untuk mecocokkan semua hasil
penjualan hotel dan mengoreksi kembali pekerjaan night auditor.
4) Night Audit, merupakan orang yang bertanggung jawab atas kebenaran dan ketelitian
pemasukan data penjualan dalam satu hari dari masing-masing outlet.
5) Credit, merupakan bagian yang mempunyai tanggung jawab atas besarnya kredit yang
telah digunakan oleh tamu, dan menyetujui batas kredit untuk setiap tamu, serta
melakukan analisa atas guest bill.
6) Account Receivable, merupakan bagian yang bertanggung jawab atas penyiapan
tagihan dan penagihan kepada tamu yang melakukan reservasi melalui agen. Account
receivable juga bertanggung jawab atas pencatatan piutang untuk tamu yang masih
menginap di hotel (guest ledger) dan tamu yang sudah keluar dari hotel (city ledger).
7) Account Payable, merupakan bagian yang bertanggung jawab atas hutang hotel pada
pihak luar khususnya supplier.
8) Cost Control, bertanggung jawab atas pengendalian biaya-biaya yang dikeluarkan
oleh masing-masing departemen, mencek harga barang di pasar, menyetujui
pembelian barang untuk keperluan hotel.
9) Personalia, bertanggung jawab atas penghitungan, pengalokasian, dan pembayaran
gaji karyawan.
10) Electronic data processing (EDP), bertanggung jawab atas sistem informasi yang
digunakan di hotel, khususnya dalam pemrosesan data.
11) Purchasing, bertanggung jawab dalam pembelian barang keperluan hotel.
12) Storeroom, bertanggung jawab dalam menerima barang yang dibeli dan
menyimpannya, melakukan pencatatan atas persediaan di gudang.

13) Accounting atau bookkeeper, bertanggung jawab dalam menyiapkan laporan


keuangan.

Anda mungkin juga menyukai