Anda di halaman 1dari 9

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

ANALISIS AKUNTANSI PADA PT. INDOFOOD CBP SUKSES


MAKMUR TBK.
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Analisis
Laporan Keuangan

Dosen Pembina
Dr. H. Citra Sukmadilaga, S.E.,MBA
Oleh
Ari Naryanto
Bayu Ajiputra
Sartika Wulandari
Azharia Devi Agustina
Gita Nadya Sani

PROGRAM
STUDI
AKUNTANSI
FAKULTAS
EKONOMI DAN
BISNIS
UNIVERSITAS
PADJADJARAN
2016

120110130018
120110130021
120110130090
120110130091
120110130096

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
kehendak-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Mata Kuliah
Analisis Laporan Keuangan mengenai Analisis Akuntansi pada perusahaan
PT. Indofood CBP.
Kami juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen yang
memberikan kami tugas ini sehingga kami dapat lebih memahami materinya.
Semoga makalah ini dapat memberikan banyak informasi dan bermanfaat
untuk kita semua. Mohon maaf bila masih terdapat kekurangan. Kritik dan
saran kami terima untuk memperbaiki kesalahan kami.

Bandung, 13 April 2016

Penulis

BAB III
ANALISIS AKUNTANSI

1 Kebijakan Akuntansi

Laporan keuangan konsolidasi disusun menggunakan standar akuntansi keuangan


di Indonesia.
Kombinasi Bisnis Entitas Sepengendali (PSAK 38)
Transaksi pembelian tersebut dicatat dengan menggunakan metode penyatuan
kepentingan karena transaksi tersebut merupakan transaksi restrukturisasi antara
entitas sepengendali, sesuai dengan PSAK No. 38 (Revisi 2012) Kombinasi
Bisnis Entitas Sepengendali". Sebagaimana dijelaskan pada Catatan 2, selisih
antara jumlah imbalan yang dialihkan dalam kombinasi bisnis entitas sepengendali
atau jumlah imbalan yang diterima dalam pelepasan bisnis entitas sepengendali,
dengan jumlah tercatat bisnis tersebut dicatat sebagai bagian dari akun "Selisih atas
perubahan ekuitas entitas anak pada laporan posisi keuangan konsolidasian.
Imbalan Kerja (PSAK 24)
Sesuai dengan PSAK No. 24 (Revisi 2010), Kelompok Usaha membukukan
penyisihan untuk imbalan kerja karyawan sesuai dengan Undang-undang
Ketenagakerjaan No. 13/2003 tanggal 25 Maret 2003 (UUK). Berdasarkan UUK
tersebut, perusahaan diharuskan untuk membayar uang pesangon, uang
penghargaan masa kerja dan uang pengganti hak kepada karyawan apabila
persyaratan yang ditentukan dalam UUK tersebut terpenuhi.
Saldo penyisihan yang diperlukan sebagaimana disebutkan di atas, diestimasi
berdasarkan penilaian aktuaria yang menggunakan metode Projected Unit Credit.
Penyisihan sehubungan biaya jasa masa lalu ditangguhkan dan diamortisasi selama
sisa masa kerja rata-rata yang diharapkan dari karyawan yang memenuhi syarat.
Selain itu, penyisihan untuk biaya jasa kini dibebankan langsung pada operasi
tahun berjalan.
Keuntungan atau kerugian aktuarial yang timbul dari penyesuaian dan perubahan
dalam asumsi-asumsi aktuarial diakui sebagai pendapatan atau beban apabila

akumulasi keuntungan atau kerugian aktuarial neto yang belum diakui pada akhir
tahun pelaporan sebelumnya melebihi 10% dari nilai kini kewajiban imbalan pasti
pada tanggal tersebut.
PSAK 7 Perusahaan dan Entitas Anak
Perusahaan dan Entitas Anak mempunyai transaksi dengan pihak berelasi, dengan
definisi diuraikan pada PSAK No. 7 (Revisi 2010) sebagai berikut:
(i) Orang atau anggota keluarga terdekat mempunyai relasi dengan Kelompok
Usaha jika

orang tersebut:

(i.1) Memiliki pengendalian atau pengendalian bersama atas Perusahaan;


(i.2) Memiliki pengaruh signifikan atas Perusahaan; atau
(i.3) Personil manajemen kunci Perusahaan atau entitas induk Perusahaan.
(ii) Suatu entitas berelasi dengan Kelompok Usaha jika memenuhi salah satu hal
berikut:
(ii.1) Entitas dan Perusahaan adalah anggota dari kelompok usaha yang sama
(artinya
entitas induk, entitas anak, dan entitas anak berikutnya terkait dengan entitas
lain)
(ii.2) Suatu entitas adalah entitas asosiasi atau ventura bersama dari entitas lain
(atau
entitas asosiasi atau ventura bersama yang merupakan anggota suatu kelompok
usaha, yang mana entitas lain tersebut adalah anggotanya);
(ii.4) Suatu entitas adalah ventura bersama dari entitas ketiga dan entitas yang
lain

adalah entitas asosiasi dari entitas ketiga;

(ii.5) Entitas tersebut adalah suatu program imbalan pascakerja untuk imbalan
kerja
dari salah satu Perusahaan atau entitas yang terkait dengan Perusahaan. Jika
Perusahaan adalah entitas yang menyelenggarakan program tersebut,maka
entitas
sponsor juga berelasi dengan Perusahaan;
(ii.6) Entitas yang dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang
diidentifikasi dalam poin (i); atau

(ii.7) Orang yang diidentifikasi dalam poin (i.1) memiliki pengaruh signifikan
atas
entitas atau personil manajemen kunci entitas (atau entitas induk dari entitas).
PSAK 38. Transaksi Restrukturisasi antara Entitas Sepengendali
Berdasarkan PSAK No. 38, oleh karena transaksi kombinasi bisnis entitas
sepengendali tidak mengakibatkan perubahan substansi ekonomi kepemilikan atas
bisnis yang dipertukarkan, transaksi tersebut diakui pada jumlah tercatat
berdasarkan metode penyatuan kepemilikan. Dalam menerapkan metode penyatuan
kepemilikan, unsur-unsur laporan keuangan dari entitas yang bergabung, untuk
tahun terjadinya kombinasi bisnis entitas sepengendali dan untuk tahun komparatif
sajian, disajikan seolah-olah penggabungan tersebut telah terjadi sejak awal tahun
entitas yang bergabung berada dalam sepengendalian. Selisih antara jumlah
imbalan yang dialihkan dalam kombinasi bisnis entitas sepengendali atau jumlah
imbalan yang diterima dalam pelepasan bisnis entitas sepengendali, jika ada,
dengan jumlah tercatat bisnis tersebut dicatat sebagai bagian dari akun "Tambahan
Modal Disetor" pada laporan posisi keuangan konsolidasian.
Transaksi dalam mata uang asing dicatat dalam Rupiah berdasarkan kurs yang
berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal pelaporan, aset dan liabilitas
moneter dalam mata uang asing dijabarkan sesuai dengan rata-rata kurs jual dan
beli yang diterbitkan oleh Bank Indonesia pada tanggal transaksi perbankan
terakhir untuk tahun yang bersangkutan, dan laba atau rugi kurs yang timbul,
dikreditkan atau dibebankan pada operasi tahun yang bersangkutan.
Aset keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 diklasifikasikan sebagai aset
keuangan yang dinilai pada nilai wajar melalui laba rugi, pinjaman yang diberikan
dan piutang, investasi yang dimiliki hingga jatuh tempo, dan aset keuangan tersedia
untuk dijual. Kelompok Usaha menentukan klasifikasi aset keuangan pada saat
pengakuan awal dan, jikamdiperbolehkan dan sesuai, akan dievaluasi kembali
setiap akhir tahun keuangan.
Pada saat pengakuan awal, aset keuangan diukur pada nilai wajar. Dalam hal
investasi

tidak diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, nilai wajar tersebut ditambah
dengan biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Aset keuangan Kelompok Usaha mencakup kas dan setara kas, investasi jangka
pendek, piutang usaha, piutang bukan usaha dan aset tidak lancar lainnya - piutang
jangka panjang.
Liabilitas keuangan dalam ruang lingkup PSAK No. 55 diklasifikasikan sebagai
liabilitas keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi, dan utang dan
pinjaman. Pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian, Kelompok Usaha
tidak memiliki liabilitas keuangan selain yang diklasifikasikan sebagai utang dan
pinjaman. Kelompok Usaha menetapkan klasifikasi atas liabilitas keuangan pada
saat pengakuan awal.
Saat pengakuan awal, liabilitas keuangan diukur pada nilai wajar dan, dalam hal
utang dan pinjaman, termasuk biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara
langsung.
Liabilitas keuangan Kelompok Usaha mencakup utang bank jangka pendek dan
cerukan, utang trust receipts, utang usaha dan bukan usaha, utang dividen, beban
akrual dan utang jangka panjang.
STANDAR AKUNTANSI YANG TELAH DISAHKAN NAMUN BELUM
BERLAKU EFEKTIF
Berikut ini adalah beberapa standar akuntansi yang telah disahkan oleh Dewan
Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) yang dipandang relevan terhadap pelaporan
keuangan Kelompok Usaha namun belum berlaku efektif untuk laporan keuangan
konsolidasian tahun 2014:

PSAK No. 1 (2013): Penyajian Laporan Keuangan, yang diadopsi dari IAS 1,

berlaku efektif 1 Januari 2015. PSAK ini mengubah penyajian kelompok pospos
dalam Penghasilan Komprehensif Lain. Pos-pos yang akan direklasifikasi ke laba
rugi disajikan terpisah dari pos-pos yang tidak akan direklasifikasi ke laba rugi.
PSAK No. 15 (2013): Investasi pada Entitas Asosiasi dan Ventura Bersama, yang
diadopsi dari IAS 28, berlaku efektif 1 Januari 2015. PSAK ini mengatur
penerapan metode ekuitas pada investasi ventura bersama dan juga entitas asosiasi.

PSAK No. 24 (2013): Imbalan Kerja, yang diadopsi dari IAS 19, berlaku efektif 1
Januari 2015. PSAK ini, antara lain, menghapus mekanisme koridor dan
pengungkapan atas

informasi liabilitas kontinjensi untuk menyederhanakan

klarifikasi dan pengungkapan.


PSAK No. 46 (2014): Pajak Penghasilan, ini mengatur perlakuan akuntansi untuk
pajak penghasilan. Isu utama dalam perlakuan akuntansi untuk pajak penghasilan
adalah bagaimana menghitung konsekuensi pajak kini dan masa depan untuk:
(a) pemulihan (penyelesaian) masa depan jumlah tercatat aset (liabilitas) yang
diakui dalam laporan posisi keuangan entitas; dan
(b) transaksi dan peristiwa lain pada periode berjalan yang diakui dalam laporan
keuangan entitas. PSAK ini juga mengatur pengakuan aset pajak tangguhan yang
timbul dari rugi pajak belum dikompensasi atau kredit pajak belum dimanfaatkan,
penyajian pajak penghasilan dalam laporan keuangan, dan pengungkapan informasi
yang terkait dengan pajak penghasilan. Revisi PSAK No. 46 ini akan berlaku
efektif tanggal 1 Januari 2015.
PSAK No. 48: Penurunan Nilai Aset Revisi PSAK No. 48 mengatur pengukuran
nilai wajar dikurangi biaya pelepasan mengacu pada hirarki nilai wajar dalam
PSAK No. 68: Pengukuran Nilai Wajar, dan juga memberikan tambahan
persyaratan pengungkapan untuk setiap aset individual atau unit penghasil kas
yang kerugian penurunan nilainya telah diakui atau dibalik selama periode
pelaporan. Revisi PSAK No. 48 ini berlaku prospektif, tidak mengijinkan
penerapan dini, dan berlaku efektif tanggal 1 Januari 2015.
PSAK No. 50: Instrumen Keuangan: Penyajian, efektif tanggal 1 Januari 2015.
Revisi PSAK ini mengikuti definisi nilai wajar dalam PSAK No. 68 Pengukuran
Nilai Wajar, yaitu harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga
yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi teratur antara
pelaku pasar pada tanggal pengukuran. Selain itu, revisi PSAK ini juga
memberikan pedoman aplikasi atas kriteria saling hapus yang dapat dipaksakan
secara hukum untuk melakukan saling hapus, serta kriteria untuk merealisasikan
aset dan menyelesaikan liabilitas secara neto atau bersamaan.
PSAK No. 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran, berlaku efektif
tanggal 1 Januari 2015. PSAK ini mengatur pertimbangan pengukuran nilai wajar,
teknik penilaian nilai wajar instrumen keuangan pada pasar tidak aktif, dan input

dalam teknik penilaian nilai wajar instrumen keuangan yang mengacu pada PSAK
No. 68
PSAK No. 60: Instrumen Keuangan: Pengungkapan, berlaku efektif tanggal 1
Januari 2015. Revisi PSAK ini juga mengatur bahwa entitas yang memenuhi
persyaratan penyajian saling hapus dalam PSAK No. 50 atau entitas yang tunduk
pada perjanjian induk untuk penyelesaian secara neto (enforceable master netting
arrangement) atau perjanjian serupa, harus mengungkapkan informasi kuantitatif
dan kualitatif.
PSAK No. 65: Laporan Keuangan Konsolidasi, yang diadopsi dari IFRS No. 10,
berlaku efektif 1 Januari 2015. PSAK ini menggantikan porsi PSAK No. 4 (2009)
yang mengenai pengaturan akuntansi untuk laporan keuangan konsolidasian, dan
menetapkan prinsip penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian
ketika entitas mengendalikan satu atau lebih entitas lain.
PSAK No. 66: Pengaturan bersama, yang diadopsi dari IFRS 11, berlaku efektif 1
Januari 2015. PSAK ini menggantikan PSAK No. 12 (2009) dan ISAK 12. PSAK
ini menghapus opsi metode konsolidasi proporsional untuk mencatat bagian
ventura bersama.
PSAK No. 67: Pengungkapan Kepentingan dalam Entitas Lain, yang diadopsi
dari IFRS 12, berlaku efektif 1 Januari 2015. PSAK ini mencakup semua
pengungkapan yang diatur sebelumnya dalam PSAK No. 4 (2009), PSAK No. 12
(2009) dan PSAK No. 15 (2009). Pengungkapan ini terkait dengan kepentingan
entitas dalam entitas-entitas lain.
PSAK No. 68: Pengukuran Nilai Wajar, yang diadopsi dari IFRS 13, berlaku
efektif 1 Januari 2015. PSAK ini memberikan panduan tentang bagaimana
pengukuran nilai wajar ketika nilai wajar disyaratkan atau diizinkan.
Kelompok Usaha sedang mengevaluasi dampak dari standar akuntansi tersebut dan
belum menentukan dampaknya terhadap laporan keuangan konsolidasian
Kelompok Usaha.
3.2 Deteksi Terhadap Earnings Management

No.

Account

2014

1.

Pajak dibayar di muka

Rp 118.348

2.

Selisih atas perubahan ekuitas entitas Rp 29.484

2013
Rp 36.484
Rp 38.022

anak
3.

Laba (rugi) yang belum terealisasi


dari aset keuangan tersedia untuk
dijual

Rp (12.480)

Rp 50.720