Anda di halaman 1dari 36

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

KONTROL DIRI DAN KEMATANGAN


EMOSIONAL

KELOMPOK 3
UMMU KALSUM SALAM
1329040045
SYAHRIANTY JUNIDA

1329041033

MUH. RASYID M

1329042013

M. ILHAM HIDAYAT
1329042065
MUHAMMAD HIKMAH

1329042042

PRODI PENDIDIKAN TEKNIK INFORMATIKA DAN


KOMPUTER
JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 1

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
kelembutan hari bukan sekedar malaikat yang ia turunkan, rasa lelah adalah pilu
yang perlu pula hamba rasakan. Sejuk-sedan, semua adalah hamparan nikmat
yang tak bisa dihitung dan diraba secara akurat. Kata syukur tidak cukup
dihaturkan pada kenikmatan yang terlanjur lalu-lalang dan mencakupi di dalam
utuhnya kehidupan ini. Akan tetapi tak mengubah haluan, kalimat hamdalah-lah
tetap menjadi suatu kata tepat yang patut kami rapatkan pada-Mu.
Tak lupa kepada Nabi terakhir sebagai junjungan manusia di akhir zaman,
penuh jejak kasih yang perlu ditiru darinya. Tingkah dan prilaku yang Qurani-lah
jiwanya, manusia sempurna pula disandangnya. Muhammad SAW, seluruh
sahabat dan keluarganya yang penuh cerita lenak- enak akan menjadi iringan kami
melangkah mencari jalan yang paling lurus dari pada pelitanya.
Dengan segenap kemampuan yang kami punya, hadirnya makalah ini sangat
tidak mudah untuk dijadikan sempurna atau bahkan tidak lebih sempurna dari
pada kesempurnaan itu sendiri. Ada beberapa judul materi yang akan kami bahas
dan jelaskan walau sekedar pengantar pengertian, tetapi kurang lebihnya makalah
ini kami perhitungkan lebih dari cukup. Dan semoga dengan adanya makalah ini
dapat menjadi manfaat yang cukup. Akan tetapi tidak berhenti di cukup,
kecukupan ini pula kami harapkan menjadi perangsang pelajar untuk terus
mencari kelanjutannya.
Makassar, 17 Mei 2016
Penyusun

Kelompok 3

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 2

DAFTAR ISI
SAMPUL..................................................................................................................i
KATA PENGANTAR...............................................................................................ii
DAFTAR ISI...........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................4
A. Kontrol Diri..................................................................................................4
B. Kematangan Emosional.............................................................................15
C. Cara Mengembangkan Kemampuan Kontrol Diri.....................................22
BAB III PENUTUP................................................................................................33
Simpulan................................................................................................................33
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................34

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 3

BAB I
PENDAHULUAN
Berbagai permasalahan yang sering muncul dalam kehidupan ini banyak
diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan diri. Tawuran
antar pelajar, mengambil hak milik orang lain (mencuri, merampok, korupsi),
vandalism,

penyalahgunaan obat terlarang dan free sex merupakan contoh

perilaku yang timbul karena ketidakmampuan dalam mengendalikan diri (self


control).
Dewasa ini banyak terjadi kasus anak yang bunuh diri karena hasil ujian
mereka jeblok atau karena tidak mampu membayar uang SPP, dsb. Kontrol diri
yang mereka miliki kurang sehingga membuat anak melakukan tindakan yang
tidak mereka pikirkan dulu resikonya apa. Kontrol diri membantu anak
mengendalikan perilaku mereka, sehingga mereka dapat bertindak benar
berdasarkan pikiran dan hati nurani mereka dan memberi kemampuan anak
mengatakan tidak pada tindakan yang tidak benar, dan memilih melakukan
tindakan bermoral. Ini merupakan merupakan mekanisme internal yang sangat
berpengaruh, yang mengarahkan sikap moral anak, sehingga pilihan yang mereka
ambil tidak hanya aman, tetapi juga bijak.(Borba 2008:96)
Perkembangan self control pada dasarnya sejalan dengan bertambahnya usia
seseorang. Semakin dewasa diharapkan mempunyai self control yang lebih baik
dibanding saat remaja dan anak-anak. Namun demikian beberapa kasus
menunjukkan hal yang sebaliknya, dimana beberapa permasalahan tersebut juga
dilakukan oleh orang yang sudah dewasa. Mahasiswa yang telah beranjak dewasa
(bertambahnya usia dan ilmu) tentunya diharapkan oleh masyarakat mempunyai
self control yang lebih tinggi dibanding anak-anak SMA. Tentunya akan aneh jika
bertambahnya usia tidak diimbangi dengan kemampuan mengendalikan diri,
bahkan berbuat sesuka hati dengan membiarkan perilaku yang lebih
mementingkan egosime tanpa menghiraukan konsekuensi yang akan diperoleh.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 1

Dalam pandangan Zakiyah Darajat bahwa orang yang sehat mentalnya


akan dapat menunda buat sementara pemuasan kebutuhannya itu atau ia dapat
mengendalikan diri dari keinginan-keinginan yang bisa menyebabkan hal-hal
yang merugikan. Dalam pengertian yang umum pengendalian diri lebih
menekankan pada pilihan tindakan yang akan memberikan manfaat dan
keuntungan yang lebih luas, tidak melakukan perbuatan yang akan merugikan
dirinya di masa kini maupun masa yang akan datang dengan cara menunda
kepuasan sesaat.
Mengapa penting memiliki self control ? Pertama, kontrol diri berperan
penting dalam hubungan seseorang dengan orang lain (interaksi social). Hal ini
dikarenakan kita senantiasa hidup dalam kelompok atau masyarakat dan tidakbisa
hidup sendirian. Seluruh kebutuhan hidup kita (fisiologis) terpenuhi dari bantuan
orang lain, begitu pula kebutuhan psikologis dan social kita. Oleh karena itu agar
kita dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidup ini dibutuhkan kerjasama dengan
orang lain dan kerjasama dapat berlangsung dengan baik jika kita mampu
mengendalikan diri dari perbuatan yang merugikan orang lain. Kedua, Kontrol
diri memiliki peran dalam menunjukkan siapa diri kita (nilai diri). Seringkali
seseorang memberikan penilaian dari apa yang kita lakukan dalam kehidupan
sehari-hari dan kontrol diri merupakan salah satu aspek penting dalam mengelola
dan mengendalikan perilaku kita. Kontrol diri menjadi aspek yang penting dalam
aktualisasi pola pikir, rasa dan perilaku kita dalam menghadapai setiap situasi.
Seseorang yang dapat mengendalikan diri dari hal-hal yang negatif tentunya akan
memperoleh penilaian yang positif dari orang lain (lingkungan sosial), begitu pula
sebaliknya. Ketiga, kontrol diri berperan dalam pencapaian tujuan pribadi.
Pengendalian diri dipercaya dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuan
hidup seseorang. Hal ini dikarenakan bahwa seseorang yang mampu menahan diri
dari perbuatan yang dapat merugikan diri atau orang lain akan lebih mudah focus
terhadap tujuan-tujuan yang ingin dicapai, mampu memilih tindakan yang
memberi manfaat, menunjukkan kematangan emosi dan tidak mudah terpengaruh
terhadap kebutuhan atau perbuatan yang menimbulkan kesenangan sesaat. Bila

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 2

hal ini terjadi niscaya seseorang akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.
Dengan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri sebaik-baiknya,
maka kita akan dapat menjadi pribadi yang efektif, hidup lebih konstruktif, dapat
menyusun tindakan yang berdimensi jangka panjang, mampu menerima diri
sendiri dan diterima oleh masyarakat luas. Kemampuan mengendalikan diri
menjadi sangat berarti untuk meminimalkan perilaku buruk yang selama ini
banyak kita jumpai dalam kehidupan di masyarakat juga dalam tatanan
kenegaraan karena banyak peristiwa yang terjadi karena ketidakmampuan
mengendalikan diri.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kontrol Diri
1. Pengertian Kontrol Diri
Kontrol diri diartikan Papalia (2004) sebagai kemampuan
individu untuk menyesuaikan tingkah laku dengan apa yang dianggap
diterima secara sosial oleh masyarakat. Wallston (dalam Sarafino, 2006)
menyatakan bahwa kontrol diri adalah perasaan individu bahwa ia
mampu untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan yang
efektif untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan menghindari hasil
yang tidak diinginkan.
Ketika berinteraksi dengan orang lain, individu akan berusaha
menampilkan perilaku yang dianggap paling tepat bagi diri individu.
Calhoun dan Acocella (1990), mengemukakan dua alasan yang
mengharuskan individu untuk mengontrol diri secara kontinyu.
Pertama, individu hidup dalam kelompok sehingga dalam memuaskan
keinginannya individu harus mengontrol perilakunya agar tidak
menggangu kenyamanan orang lain. Kedua, masyarakat mendorong
individu untuk secara konstan menyusun standar yang lebih baik bagi
dirinya. Sehingga dalam rangka memenuhi tuntutan tersebut dibutuhkan
pengontrolan diri agar dalam proses pencapaian standar tersebut
individu tidak melakukan hal-hal yang menyimpang.
Menurut Chaplin (2002) kontrol diri adalah kemampuan untuk
membimbing tingkah lakunya sendiri; kemampuan untuk menekan atau
merintangi impuls-implus atau tingkah laku yang impulsif. Kontrol diri
didefinisikan Roberts (dalam Ghufron, 2011) sebagai suatu jalinan yang
secara utuh atau terintegrasi antara individu dengan lingkungannya.
Individu yang memiliki kontrol diri tinggi berusaha menemukan dan
menerapkan cara yang tepat untuk berperilaku dalam situasi yang
bervariasi. Kontrol diri mempengaruhi individu untuk mengubah
perilakunya sesuai dengan situasi sosial sehingga dapat mengatur kesan

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 4

lebih responsif terhadap petunjuk situasional, fleksibel, dan bersikap


hangat serta terbuka.
Marvin R. Goldfried dan Michael Merbaum (dalam Ghufron,
2011) berpendapat kontrol diri secara fungsional didefinisikan sebagai
konsep dimana ada atau tidak adanya seseorang memiliki kemampuan
untuk mengontrol tingkah lakunya yang tidak hanya ditentukan cara
dan teknik yang digunakan melainkan berdasarkan konsekuensi dari apa
yang mereka lakukan.
2. Jenis-Jenis Kontrol Diri
Kontrol diri yang digunakan seseorang dalam menghadapi
situasi tertentu, meliputi :
a. Behavioral control, kemampuan untuk mempengaruhi atau
memodifikasi suatu keadaan yang tidak menyenangkan. Adapun
cara yang sering digunakan antara lain dengan mencegah atau
menjauhi situasi tersebut, memilih waktu yang tepat untuk
memberikan reaksi atau membatasi intensitas munculnya situasi
tersebut.
b. Cognitive control, kemampuan individu dalam mengolah
informasi yang tidak diinginkan dengan cara menginterpretasi,
menilai dan menggabungkan suatu kejadian dalam sutu kerangka
kognitif sebagai adaptasi psikologis atau untuk mengurangi
tekanan. Dengan informasi yang dimiliki oleh individu terhadap
keadaan yang tidak menyenangkan, individu berusaha menilai
dan menafsirkan suatu keadaan dengan cara memperhatikan segisegi positif secara subyektif atau memfokuskan pada pemikiran
yang menyenangkan atau netral.
c. Decision control, kemampuan seseorang untuk memilih suatu
tindakan

berdasarkan

pada

sesuatu

yang

diyakini

atau

disetujuinya. Kontrol diri dalam menentukan pilihan akan


berfungsi baik dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau
kemungkinan untuk memilih berbagai kemungkinan (alternative)
tindakan.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 5

d. Informational control, Kesempatan untuk mendapatkan informasi


mengenai kejadian yang menekan, kapan akan terjadi, mengapa
terjadi dan apa konsekuensinya. Kontrol informasi ini dapat
membantu

meningkatkan

kemampuan

seseorang

dalam

memprediksi dan mempersiapkan yang akan terjadi dan


mengurangi ketakutan seseorang dalam menghadapi sesuatu yang
tidak diketahui, sehingga dapat mengurangi stress.
e. Retrospective control, Kemampuan untuk menyinggung tentang
kepercayaan mengenai apa atau siapa yang menyebabkan sebuah
peristiwa yang menekan setelah hal tersebut terjadi. Individu
berusaha mencari makna dari setiap peristiwa yang terjadi dalam
kehidupan. Hal ini bukan berarti individu mengontrol setiap
peristiwa yang terjadi, namun individu berusaha memodifikasi
pengalaman stress tersebut untuk mengurangi kecemasan.
3. Aspek-Aspek Kontrol Diri
Averill (1973) menyebutkan ada tiga aspek kemampuan yang
tercakup dalam kontrol diri. Averill menyebutkan self control dengan
sebutan control personal, yaitu mengontrol perilaku (behavioral
control ), mengontrol kognisi (cognitive control), dan mengontrol
keputusan (desicional control). Lebih lanjut tiga hal tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. Mengontrol perilaku (self control)
Aspek ini didefinisikan sebagai suatu kesiapan seseorang
dalam

merespon

sesuatu

yang

dapat

secara

langsung

mempengaruhi keadaan tidak menyenangkan dan langsung


mengantisipasinya. Kontrol diri diperinci menjadi dua komponen,
yaitu mengatur pelaksanaaan (regulated administration) dan
kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability).
Mengatur

pelaksanaan

berarti

menentukan

siapa

yang

mengendalikan situasi atau keadaan, dirinya sendiri atau orang


yang diluar dirinya. Individu yang kontrol dirinya baik akan
mampu mengatur perilaku menggunakan kemampuan dari dalam

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 6

dirinya. Bila tidak mampu, maka individu akan menggunakan


sumber ekternal diluar dirinya.
Kemampuan mengatur stimulus yang datang dari luar
merupakan salah satu cara mengatasi bagaimana dan kapan suatu
stimulus yang tidak dikehendaki dan sesuai dapat diarahkan dan
dihadapi, dengan cara bmencegah serta mengarahkannya, denagn
menempatkan sesuai dengan posisi dan kedudukan stimulus
tersebut secara positif dan dapat diterima norma, etika serta
peraturan yang berlaku di masyarakat.
b. Mengontrol kognisi (congnitive control)
Kemampuan mengontrol kognisi
kemampuan

seseorang

dalam

berkaitan

menangkap,

dengan

menilai

atau

menggabungkan suatu peristiwa dalam kerangka kognitif.


Kemampuan mengontrol kognisi

dapat pula diartikan sebagai

kemampuan dalam mengolah informasi yang didapat dan tidak


diinginkan untuk mengurangi tekanan. Aspek ini terdiri dari dua
komponen, yaitu memperoleh informasi (information gain), dan
melakukan penilaian (appraisal). Dengan informasi yang dimiliki
mengenai suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi mengontrol
kognisi dibagi menjadi 3 bagian yaitu :
1) Mengontrol stimulus
Kemampuan dalam mengolah informasi yang datang,
didapat serta tidak diinginkan untuk mengurangi tekanan yang
terjadi dari informasi yang ada, yang menurut individu
tersebut kurang menyenangkan atau mengganggu.
a) Mengantisipasi suatu peristiwa
Kemampuan individu dalam mengantisipasi suatu
keadaan di mana keadaan tersebut baik atau tidak
menurut individu itu. Dengan berbagai pertimbangan
melalui pengetahuan yang diperoleh.
b) Menafsirkan suatu peristiwa
Kemampuan individu dalam

menilai

dan

menafsirkan suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi.


c) Mengontrol keputusan (desicional control)
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 7

Kemampuan

mengontrol

keputusan

berkaitan

dengan kemampuan seseorang untuk memilih hasil atau


tujuan yang diinginkan. Kemampuan akan berfungsi
baik bila ada kesempatan, kebebasan atau kemungkinan
dalam

diri

individu

untuk

memilih

berbagai

kemungkinan atas tindakan yang diambil.


c. Mengontrol Keputusan (Decision Control)
Kemampuan mengontrol keputusan berkaitan dengan
kemampuan

seseorang untuk memilih hasil atau tujuan yang

diinginkan. Kemampuan akan berfungsi baik bila ada kesempatan,


kebebasan atau kemungkinan dalam diri individu untuk memilih
berbagai kemungkinan atas tindakan yang diambil.
Menurut Shaffer (1985), ada dua aspek dalam kontrol diri,
yaitu:
a. Menahan Aktifitas (Motor Inhibition)
Motor inhibition atau menahan aktivitas motorik adalah
kemampuan untuk mengendalikan atau menahan perilaku motorik
ketika diperintahkan demikian. Terdapat juga hubungan antara
motor inhibition dengan model kognitif seseorang. Orang yang
reflektif, yaitu orang yang mampu bekerja dengan hati-hati dan
akurat, lebih dapat mampu menahan perilaku motoriknya
dibanding orang yang impulsif.
b. Penundaan Kepuasan (Delay of Gratification)
Delay of gratification atau penundaan kepuasan adalah
kemampuan

untuk

mengendalikan

mengontrol

perilaku

impuls

mereka

atau

dengan

tindakan
harapan

dan
untuk

memperoleh tujuan jangka panjang yang diinginkan. Aspek ini


terdiri dari dua fase, yaitu keputusan untuk menunda kepuasan
dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih menguntungkan
dan kemampuan untuk bersabar dan menjaga keputusan yang telah
diambil hingga hasil yang dituju telah didapat.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 8

Menurut Smet (1994), kemampuan mengontrol diri memiliki 5 aspek


yaitu :
a. Behavioral Control (Kemampuan Mengontrol Perilaku)
Kemampuan dalam mengambil tindakan nyata

untuk

mengurangi dampak dari stressor, kemungkinan tindakan ini dapat


mengurangi tingkat ketegangan suatu atau mempersingkat durasi
masalah.
b. Cognitive Control (Kemampuan Mengontrol Kognitif)
Kemampuan seseorang dalam menggunakan proses berpikir
atau strategi keika menghadapi masalah. Hal ini dapat dilakukan
dengan

cara

memfokuskan

pikiran

terhadap

hal-hal

yang

menyenangkan, netral, atau suatu sensasi yang berbeda dengan


situasi yang dihadapi.
c. Decision Control (Kemampuan Mnegontrol Informasi)
Suatu kesempatan untuk memilih antar pilihan alternatif atau
tindakan yang umum.
d. Informational control (Kemampuan Mengontrol Informasi)
Meliputi hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan tentang
masalah yang dihadapinya, seperti apa yang akan terjadi, mengapa
dan kosnekuensi apa yang akan diterimanya. Kontrol informasi ini
sangat membantu seseorang dalam mengurangi stress karena
seseorang dapat memperkirakan dan mempersiapkan diri terhadap
apa yang akan terjadi. Selain itu, seseorang juga merasakan
berkurangnya rasa takut terhadap hal-hal yang diketahuinya dengan
pasti.
e. Retrospective Control (Kontrol Retrospektif)
Kontrol terhadap pengalaman masa lalu adalah keyakinan
terhadap apa atau siapa yang menyebabkan suatu permasalahan
tersebut. Seseorang seringkali mencoba untuk mencari arti dari
berbagai kejadian dalam kehidupan mereka. Meskipun demikian,
al tersebut tidak membantu seseorang dalam mengontrol apa yang
akan terjadi tetapi dapat membantu seseorang atau sesuatu untuk

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 9

disalahkan, bahkan dirinya sendiri seringkali membantu seseorang


meringankan kecemasannya.
4. Ciri-Ciri Kontrol Diri
Ciri-ciri seseorang mempunyai kontrol diri antara lain :
a. Kemampuan untuk mengontrol perilaku yang ditandai dengan
kemampuan menghadapi situasi yang tidak diinginkan dengan
cara mencegah atau menjauhi situasi tersebut, mampu mengatasi
frustasi dan ledakan emosi.
b. Kemampuan menunda kepuasan dengan segera untuk mengatur
perilaku agar dapat mencapai sesuatu yang lebih berharga atau
lebih diterima oleh masyarakat.
c. Kemampuan mengantisipasi peristiwa dengan mengantisipasi
keadaan melalui pertimbangan secara objektif.
d. Kemampuan menafsirkan peristiwa dengan melakukan penilaian
dan penafsiran suatu keadaan dengan cara memperhatikan segisegi positif secara subjektif
e. Kemampuan mengontrol keputusan dengan cara memilih suatu
tindakan

berdasarkan

pada

sesuatu

yang

diyakini

atau

disetujuinya.
Orang yang rendah kemampuan mengontrol diri cenderung akan
reaktif dan terus reaktif (terbawa hanyut ke dalam situasi yang sulit).
Sedangkan orang yang tinggi kemampuan mengendalikan diri akan
cenderung proaktif (punya kesadaran untuk memilih yang positif).
Untuk mengecek sejauh mana kita punya kemampuan mengendalikan
diri, kita bisa melihat petunjuk di bawah ini:
Rendah
Anda mudah kehilangan

Sedang
Anda sudah sanggup

Tinggi
Anda bisa memberikan

kendali, mudah frustasi,

memberikan respon

respon secara

mudah meluapkan

dengan tenang dan

konstruktif: bisa

ekspresi emosi secara

mendiskusikannya secara

membangun hubungan

meledak-ledak, atau

fair

yang lebih positif dan

tidak efektif dalam

mengantisipasi problem

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 10

menjalankan aktivitas
karena emosi yang tidak
terkontrol
Anda sudah bisa
mengelola tekanan

Anda sudah bisa

Anda tidak tahan

secara efektif, tidak

menenangkan diri anda

terhadap berbagai

mempengaruhi hasil

dan orang lain atau

tekanan atau himpitan

pekerjaan atau tidak

sanggup memainkan

mempengaruhi proses

peranan sebagai leader

pekerjaan
Anda sudah bisa
mengontrol emosi tetapi
belum bisa
menggunakannya secara
konstruktif
5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kontrol Diri
a. Kepribadian.
Kepribadian mempengaruhi control diri dalam konteks
bagaimana seseorang dengan tipikal tertentu bereaksi dengan
tekanan yang dihadapinya dan berpengaruh pada hasil yang akan
diperolehnya. Setiap orang mempunyai kepribadian yang berbeda
(unik) dan hal inilah yang akan membedakan pola reaksi terhadap
situasi yang dihadapi. Ada seseorang yang cenderung reaktif
terhadap situasi yang dihadapi, khususnya yang menekan secara
psikologis, tetapi ada juga seseorang yang lamban memberikan
reaksi.
b. Situasi.
Situasi merupakan faktor yang berperan penting dalam
proses kontrol diri. Setiap orang mempunyai strategi yang
berbeda pada situasi tertentu, dimana strategi tersebut memiliki
karakteristik yang unik. Situasi yang dihadapi akan dipersepsi
berbeda oleh setiap orang, bahkan terkadang situasi yang sama
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 11

dapat dipersepsi yang berbeda pula sehingga akan mempengaruhi


cara memberikan reaksi terhadap situasi tersebut. Setiap situasi
mempunyai karakteristik tertentu yang dapat mempengaruhi pola
reaksi yang akan dilakukan oleh seseorang.
c. Etnis.
Etnis atau budaya mempengaruhi kontrol diri dalam bentuk
keyakinan atau pemikiran, dimana setiap kebudayaan tertentu
memiliki keyakinan atau nilai yang membentuk cara seseorang
berhubungan atau bereaksi dengan lingkungan. Budaya telah
mengajarkan nilai-nilai yang akan menjadi salah satu penentu
terbentuknya perilaku seseorang, sehingga seseorang yang hidup
dalam budaya yang berbeda akan menampilkan reaksi yang
berbeda dalam menghadapi situasi yang menekan, begitu pula
strategi yang digunakan.
d. Pengalaman.
Pengalaman akan membentuk proses pembelajaran pada
diri seseorang.

Pengalaman yang diperoleh dari proses

pembelajaran lingkungan keluarga juga memegang peran penting


dalan kontrol diri seseorang, khususnya pada masa anak-anak.
Pada masa selanjutnya seseorang bereaksi dengan menggunakan
pola fikir yang lebih kompleks dan pengalaman terhadap situasi
sebelumnya untuk melakukan tindakan, sehingga pengalaman
yang positif akan mendorong seseorang untuk bertindak yang
sama, sedangkan pengalaman negatif akan dapat merubah pola
reaksi terhadap situasi tersebut.
e. Usia.
Bertambahnya usia pada dasarnya akan diikuti dengan
bertambahnya kematangan dalam berpikir dan bertindak. Hal ini
dikarenakan pengalaman hidup yang telah dilalui lebih banyak
dan

bervariasi,

sehingga

akan

sangat

membantu

dalam

memberikan reaksi terhadap situasi yang dihadapi. Orang yang


lebih tua cenderung memiliki control diri yang lebih baik
dibanding orang yang lebih muda.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 12

6. Prinsip-Prinsip Kontol Diri


a. Prinsip kemoralan. Setiap agama pasti mengajarkan moral yang
baik bagi setiap pemeluknya, misalnya tidak mencuri, tidak
membunuh, tidak menipu, tidak berbohong, tidak mabuk-mabukan,
tidak melakukan tindakan asusila maupun tidak merugikan orang
lain. Saat ada dorongan hati untuk melakukan sesuatu yang negatif,
maka kita dapat bersegera lari ke rambu-rambu kemoralan. Apakah
yang kita lakukan ini sejalan atau bertentangan dengan nilai-nilai
moral dan agama? Saat terjadi konflik diri antara ya atau tidak,
mau melakukan atau tidak, kita dapat mengacu pada prinsip moral
di atas.
b. Prinsip kesadaran. Prinsip ini mengajarkan kepada kita agar
senantiasa sadar saat suatu bentuk pikiran atau perasaan yang
negatif muncul. Pada umumnya orang tidak mampu menangkap
pikiran atau perasaan yang muncul, sehingga mereka banyak
dikuasai oleh pikiran dan perasaan mereka. Misalnya seseorang
menghina atau menyinggung kita, maka kita marah. Nah, kalau
kita tidak sadar atau waspada maka saat emosi marah ini muncul,
dengan begitu cepat, tiba-tiba kita sudah dikuasai kemarahan ini.
Jika kesadaran diri kita bagus maka kita akan tahu saat emosi
marah ini muncul, menguasai diri kita dan kemungkinan akan
melakukan tindakan yang akan merugikan diri kita dan orang lain.
Saat kita berhasil mengamati emosi maka kita dapat langsung
menghentikan pengaruhnya. Jika masih belum bisa atau dirasa
berat sekali untuk mengendalikan diri, maka kita dapat melarikan
pikiran kita pada prinsip moral.
c. Prinsip perenungan. Ketika kita sudah benar-benar tidak tahan
untuk meledakkan emosi karena amarah dan perasaan tertekan,
maka kita bisa melakukan sebuah perenungan. Kita bisa
menanyakan pada diri sendiri tentang berbagai hal, misalnya apa
untungnya saya marah, apakah benar reaksi saya seperti ini,
mengapa saya marah atau apakah alasan saya marah ini sudah

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 13

benar. Dengan melakukan perenungan, maka kita akan cenderung


mampu mengendalikan diri. Secara sederhana dapat digambarkan
bahwa saat emosi aktif maka logika kita tidak jalan, sehingga saat
kita melakukan perenungan atau berpikir secara mendalam maka
kadar kekuatan emosi atau keinginan kita akan cenderung
menurun.
d. Prinsip kesabaran. Pada dasarnya emosi kita naik turun dan
timbul, tenggelam. Emosi yang bergejolak merupakan situasi yang
sementara saja, sehingga kita perlu menyadarinya bahwa kondisi
ini akan segera berlalu seiring bergulirnya waktu. Namun hal ini
tidaklah mudah karena perlu adanya kesadaran akan kondisi emosi
yang kita miliki saat itu dan tidak terlalu larut dalam emosi. Salah
satu cara yang perlu kita gunakan adalah kesabaran, menunggu
sampai emosi negatif tersebut surut kemudian baru berpikir untuk
menentukan respon yang bijaksana dan bertanggung jawab (reaksi
yang tepat).
e. Prinsip pengalihan perhatian. Situasi dan kondisi yang
memberikan tekanan psikologis sering menghabiskan waktu,
tenaga dan pikiran yang cukup banyak bagi seseorang untuk
menghadapinya. Apabila berbagai cara (4 prinsip sebelumnya)
sudah dilakukan untuk berusaha menghadapi namun masih sulit
untuk mengendalikan diri, maka kita bisa menggunakan prinsip ini
dengan menyibukkan diri dengan pikiran dan aktifitas yang positif.
Ketika diri kita disibukkan dengan pikiran positif yang lain, maka
situasi yang menekan tersebut akan terabaikan. Begitu pula
manakala kita menyibukkan diri dengan aktifitas lain yang positif,
maka emosi yang ingin meledak akibat peristiwa yang tidak kita
sukai tersebut akan menurun bahkan hilang. Saat kita berhasil
memaksa diri memikirkan hanya hal-hal yang positif maka emosi
kita akan ikut berubah kearah yang positif juga.
B. Kematangan Emosional
1. Pengertian Emosi
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 14

Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang sebagai


reaksi psikologis-fisiologis dan surut dalam waktu singkat. Emosi
bersifat subyektif. Emosi ada yang bersifat positif dan ada yang
negatif. Para psikolog mengkaji emosi dengan memberi perhatian
yang sesuai dengan urgensinya dalam kehidupan manusia. Emosi
punya pengaruh terhadap kesehatan mental dan fisik manusia, serta
pengaruh terhadap perilaku pribadi dan sosial. Emosi, dengan
pengertian ini, berpengaruh terhadap segala aspek kepribadian
individu, luar, dan dalam. Emosi dirasakan secara psiko-fisik karena
terkait langsung dengan jiwa dan fisik.
Pengertian Emosi Menurut George Miller, Emosi adalah
pengalaman seseorang tentang perasaan yang kuat, dan biasanya
diiringi dengan perubahan-perubahan fisik dalam peredaran darah
dan pernapasan, biasanya juga dibarengi dengan tindakan-tindakan
pemaksaan.
Pengertian Emosi Menurut Angels, Emosi adalah kondisi
perasaan yang kompleks, yang diiringi dengan beberapa gerakan
atau aktivitas kelenjar. Atau, perilaku yang kompleks yang
didominasi oleh aktivitas lambung atau organ-organ intrinsik.
Pengertian Emosi Menurut Dr. Muhammad Najaati, Emosi
adalah kekacauan hebat yang meliputi segala aspek individu, dan
berpengaruh terhadap perilakunya, perasaannya, dan fungsi vitalnya.
Asalnya dia muncul dari faktor psikologis.
2. Pengertian Kematangan
Kematangan diartikan sebagai suatu kondisi yang memiliki
struktur dan fungsi yang lengkap baik dari segi sifat maupun tingkah
laku seseorang. Seseorang dikatakan memiliki kematangan apabila
telah mampu berbuat dan berpikir secara dewasa. Kedewasaan dan
kematangan seseorang tidak serta merta dipengaruhi oleh usia,
kematangan sendiri terbagi menjadi dua jenis:
a. Kematangan instingtif, merupakan kematangan yang diturunkan
dari gen orangtua (hereditas).

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 15

b. Kematangan Intelijen, merupakan kematangan yang didapatkan


dari proses mengamati keadaan lingkungan di sekitarnya.
Sehingga membentuk pola berpikir dan bertindak pada diri
seseorang.
Manusia sejatinya memiliki pemikiran alami (insting) untuk
bisa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Hal inilah yang
menjadikan seseorang ingin terus belajar dan membenahi diri, agar
memiliki kematangan dari segi usia dan pemikiran. Proses
pengembangan diri ini memiliki beberapa faktor untuk mencapai
kematangan:
a. Pertumbuhan fisiologis, seseorang yang beranjak dewasa akan
semakin sering berinteraksi terhadap lingkungan di luar rumah
dan keluarga. Hal ini menjadikan seseorang memahami hiruk
pikuk yang terjadi, dan belajar dari pengalaman.
b. Motivasi , hal ini merupakan dorongan yang diperlukan
seseorang untuk tetap teguh dalam pendirian. Sebab meraih
sesuatu sejatinya proses yang panjang dan melelahkan, sehingga
membutuhkan dukungan (motivasi) dari pihak luar.
3. Pengertian Kematangan Emosional
Kematangan emosi merupakan aspek yang sangat dekat
dengan kepribadian. Bentuk kepribadian inilah yang akan dibawa
individu dalam kehidupan sehari-hari bagi diri dan lingkungan
mereka. Seseorang dapat dikatakan telah matang emosinya apabila
telah dapat berpikir secara objektif. Kematangan emosi merupakan
ekspresi emosi yang bersifat kontruktif dan interaktif. Individu yang
telah mencapai kematangan emosi ditandai oleh adanya kemampuan
didalam mengontrol emosi, mampu berpikir realistik, memahami diri
sendiri dan mampu menampakkan emosi disaat dan tempat yang
tepat.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 16

Chaplin (1989) mendefinisikan kematangan emosi sebagai


suatu

keadaan

atau

kondisi

mencapai

tingkat

kedewasaan

perkembangan emosional. Ditambahkan Chaplin (dalam Ratnawati,


2005), kematangan emosi adalah suatu keadaan atau kondisi untuk
mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional seperti
anak-anak, kematangan emosional seringkali berhubungan dengan
kontrol emosi. Seseorang yang telah matang emosinya memiliki
kekayaan dan keanekaragaman ekspresi emosi, ketepatan emosi dan
kontrol emosi. Hal ini berarti respon-respon emosional seseorang
disesuaikan

dengan

situasi

stimulus,

namun

ekspresi

memperhatikan kesopanan sosial (Stanford, 1965).


Sukadji (dalam Ratnawati, 2005), mengatakan

tetap
bahwa

kematangan emosi sebagai suatu kemampuan untuk mengarahkan


emosi dasar yang kuat ke penyaluran yang mencapai tujuan, dan
tujuan ini memuaskan diri sendiri dan dapat diterima di lingkungan.
Sejalan dengan bertambah kematangan emosi seseorang maka
akan berkuranglah emosi negatif. Bentuk-bentuk emosi positif
seperti rasa sayang, suka, dan cinta akan berkembang jadi lebih baik.
Perkembangan bentuk emosi yang positif tersebut memungkinkan
individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan
menerima dan membagikan kasih sayang untuk diri sendiri maupun
orang lain.
Menurut Hurlock (1990), individu yang dikatakan matang
emosinya yaitu:
a. Dapat melakukan kontrol diri yang bisa diterima secara sosial.
Individu yang emosinya matang mampu mengontrol ekspresi
emosi yang tidak dapat diterima secara sosial atau membebaskan
diri dari energi fisik dan mental yang tertahan dengan cara yang
dapat diterima secara sosial
b. Pemahaman diri. Individu yang matang, belajar memahami
seberapa banyak kontrol yang dibutuhkannya untuk memuaskan
kebutuhannya dan sesuai dengan harapan masyarakat

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 17

c. Menggunakan kemampuan kritis mental. Individu yang matang


berusaha menilai situasi secara kritis sebelum meresponnya,
kemudian memutuskan bagaimana cara bereaksi terhadap situasi
tersebut.
d. Kematangan emosi (Wolman dalam Puspitasari, 2002) dapat
didefinisikan sebagai kondisi yang ditandai oleh perkembangan
emosi dan pemunculan perilaku yang tepat sesuai dengan usia
dewasa dari pada bertingkahlaku seperti anak-anak. Semakin
bertambah usia individu diharapkan dapat melihat segala
sesuatunya secara obyektif, mampu membedakan perasaan dan
kenyataan, serta bertindak atas dasar fakta dari pada perasaan.
Menurut

Kartono

(1988)

kematangan

emosi

sebagai

kedewasaan dari segi emosional dalam artian individu tidak lagi


terombang ambing oleh motif kekanak- kanakan. Chaplin (2001)
menambahkan emosional maturity adalah suatu keadaan atau kondisi
mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosi dan karena
itu pribadi yang bersangkutan tidak lagi menampilkan pola
emosional yang tidak pantas.
Menurut pandangan Skinner (1977) esensi kematangan emosi
melibatkan kontrol emosi yang berarti bahwa seseorang mampu
memelihara perasaannya, dapat meredam emosinya, meredam balas
dendam dalam kegelisahannya, tidak dapat mengubah moodnya,
tidak mudah berubah pendirian. Kematangan emosi juga dapat
dikatakan sebagai proses belajar untuk mengembangkan cinta secara
sempurna dan luas dimana hal itu menjadikan reaksi pilihan individu
sehingga secara otomatis dapat mengubah emosi-emosi yang ada
dalam diri manusia (Hwarmstrong, 2005).
Menurut Ann Landers, maturity atau kematangan emosional
adalah :

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 18

a. Mampu mengontrol amarah dan menyelesaikan masalah tanpa


kerusakan dan kehancuran.
b. Sabar, tekun dan bekerja keras jika melakukan sesuatu hal
sekecil apapun.
c. Tidak egois, memperhatikan
oranglain.
d. Bersedia

atau

mampu

apa-apa

menemui

yang

dibutuhkan

kekecewaan

dan

ketidaknyamanan tanpa merasa pahit.


e. Sederhana, mengakui kesalahan dam bersedia meminta maaf
tanpa paksaan.
4. Aspek-Aspek Kematangan Emosional
Dr. Fadil ( Wardani, 2011) mengatakan aspek aspek
kematangan emosi antara lain :
a. Realitas, berbuat sesuai dengan kondisi, mengetahui dan
menafsirkan permasalahan tidak hanya satu sisi.
b. Mengetahui mana yang harus di dahulukan,
menimbang dengan

baik

diantara

beberapa

hal

mampu
dalam

kehidupan. Mengetahui mana yang terpenting diantara yang


penting. Tidak mendahulukan permasalahan yang kecil dan
mengakhiri masalah yang besar.
c. Mengetahui tujuan jangka panjang, diwujudkan dengan
kemampuan mengendalikan keinginan atau kebutuhan demi
kepentingan yang lebih penting ada masa yang akan datang.
d. Menerima tanggung jawab dan menunaikan kewajiban dengan
teratur, optimis dalam melakukan tugas, dan mampu hidup
di bawah aturan tertentu.
e. Menerima kegagalan, bisa menyikapi kegagalan dan dewasa
dalam menghadapi segala kemungkinan yang tidak menentu
guna mencapai sebuah

kemakmuran,

segala potensi guna mencapai tujuan.


f. Hubungan
emosional.
Seseorang
mempertimbangkan diri sendiri

tapi

serta

mencurahkan
tidak

mulai

hanya

membiarkan

perhatiannya pada orang lain. Pencarian yang serius tentang


jati diri serta komunitas sosial.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 19

g. Bertahap

dalam

memberikan

reaksi.

Mampu

mengendalikan saat kondisi kejiwaan memuncak.


5. Ciri-Ciri Kematangan Emosional
Ciri-ciri Kematangan Emosi Menurut Smithson (Riwayati,
2006)menyatakan

bahwa

ada

enam karakteristik yang dapat

mengindikasikan kematangan emosi yaitu:


a. Kemandirian yaitu kemampuan untuk

menentukan

dan

memutuskan apa yang dikehendaki serta tanggung jawab atas


keputusannya.
b. Mampu menerima realitas yaitu kemampuan untuk menerima
kenyataan bahwa dirinya tidak selalu sama dengan orang
lain,

bahwa

ia

memiliki kesempatan,

kemampuan,

serta

tingkat intelegensi yang berbeda dengan orang lain. Dengan


menyadari hal tersebut ia dapat menentukan tingkah lakuyang
tepat.
c. Mampu beradaptasi yaitu kemampuan untuk menerima orang
lain atau situasi tertentu dengan cara yang berbeda-beda.
Dengan kata lain fleksibel dalam menghadapi orang lain atau
situasi tertentu.
d. Mampu merespon

secara

peka

terhadap

orang

lain,

kemampuan merespon ini harus melibatkan kesadaran bahwa


setiap individu adalah unik dan memiliki hak-haknya sendiri,
dengan

demikian

merespon
individu.
e. Memiliki
individu
menyadari

dengan

diharapkan seseorang
tepat

kapasitas

terhadap

untuk

akan

mampu

keunikan masing-masing

seimbang

secara

emosional,

dengan tingkat kematangan emosi yang tinggi


sebagai

makhluk

sosial

yang

memiliki

ketergantungan pada orang lain, namun ia tidak harus takut


bahwa ketergantungan itu akan menyebabkan ia diperalat
oleh orang lain.
f. Mampu mengontrol

permusuhan

dan

amarah,

dengan

mengenali batas sensitivitas dirinya, jadi dengan mengenali

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 20

apa

saja

yang

membuat dirinya marah, ia akan dapat

mengontrol amarahnya.
6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kematangan Emosi
Menurut
Hurlock
(1980)
hal-hal
yang
memengaruhi kematangan emosi adalah :
a. Gambaran tentang situasi yang

dapat

dapat

menimbulkan

reaksi-reaksi emosional.
b. Membicarakan berbagai masalah pribadi dengan orang lain.
c. Lingkungan sosial yang dapat menimbulkan perasaan
aman dan keterbukaan dalam hubungan sosial .
d. Belajar menggunakan katarsis emosi untuk menyalurkan emosi.
e. Kebiasaan dalam memahami dan menguasai emossi dan nafsu.
Menurut Schneider (1964) tercapainya kematangan emosi
didukung oleh
kesehatan
Young

kesehatan

emosi

(1950)

fisik

yang

berhubungan

dan penyesuaian emosi.Sedangkan

factor-faktor

yang

dengan
menurut

mempengaruhi kematangan

emosi yang lain adalah sebagai berikut :


a. Faktor lingkungan yaitu adanya factor lingkungan individu,
misalnya lingkungan yang tidak aman akan mempengaruhi
emosinya.
b. Faktor pengalaman yaitu bagaimana pengalaman hidup individu
yang telah memberikan masukan nilai-nilai dalam kehidupan.
c. Faktor individu yaitu factor-faktor yang terdapat dalam diri
individu itu sendiri, contohnya bagaimana kepribadiannya.
C. Cara Mengembangkan Kemampuan Kontrol Diri
Masalah lain dari control diri membutuhkan perubahan perilaku
yang secara langsung berlawanan. Responnya membutuhkan peningkatan
seperti belajar, menjadi assertif, dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Banyak orang menagatakan walaupun terdapat beberapa kekuatan magic
tanpa hal tesebut disebut will power bertanggung jawag mengatasi
masalah serupa. Orang mungkin percaya hal ini, di beberapa bagian,
karena yang lain selalu menjelaskan pada mereka seperti, jika kamu
memiliki kekuatan lebih kamu akan dapat membuang kebiasaan
buruk.Atau jika kamu memiliki kekuatan lebih kamu akan memperbaiki
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 21

dirimu sendiri dan memperoleh beberapa kabiasaan yang lebih baik.


Banyak dari mereka yang telah mendengar seperti nasehat beberapa kali.
Sayang sekali, itu biasanya tidak terlalu membantu saran/nasehat karena
orang yang menawarkan hal itu hampir selalu lalai untuk menjelaskan
pada mereka bagaimana kita akan mendapatkan lebih dari hal ini yang
disebut will power. Itu lebih bermanfaat untuk melihat bagaimana akar
masalah dari control diri. Berbeda antara konsekuensi dekat dari perilaku
dan itu adalah konsekuensi yang terlambat ( Brigham, 1982 ). Dari poin
poin awal tersebut kita proses untuk menjadi model dari kontrol diri.
Akhirnya, kita menggambarkan bagaimana kesuksesan lebih dari proses
program kontrol diri melalui 6 langkah dasar.
Tidak seperti kebanyakan dari kasus sebelumnya dari makalah ini,
calon untuk program pengendalian-diri menyadari bahwa dia mempunyai
suatu masalah dan mungkin telah berusaha untuk memecahkan
masalahnya sendiri. Ketidakberhasilan dalam usaha yang dilakukan
individu, akan di asumsikan dengan datang ke terapis untuk mendapatkan
bantuan. Peran dari terapis adalah untuk membantu mengembangkan dan
perkuat pengontrolan perilaku.
Terapis tidak berusaha untuk menyelesaikan masalah secara
langsung, tetapi, lebih menindak lagi sebagai konsultan, menyediakan
klien dengan prosedur yang harus dia lakukan untuk menyelesaikan
masalah. Di masing masing treatment, terapis seharusnya tidak hanya
memberikan nasehat, terapis juga harus menjelaskan pada klien alasanalasan untuk nasihat itu dan harus berlangsung terus dengan klien jika
informend mengizinkan. Ini adalah diinginkan (1) karena hubungan antara
klien dengan terapis secara alami (2) karena mungkin klien menyelesaikan
prosedur dengan lebih teliti jika dia mengerti dan menerima alasan mereka
secara rasional, dan (3) karena pendekatan ini harus menolong klien untuk
mempelajari dan untuk menyelesaikan masalah perilaku lain yang
mungkin dia hadapi.
Meskipun terapis dapat membantu klien menerapkan prosedur ini,
sedang menerapkan ke diri sendiri tanpa bantuan dari terapis. Berikut akan

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 22

dideskripsikan bagaimana cara melakukan pengembangan kontrol diri


melalui

langkah

berikut.

(1)

menetapkan

masalah,

(2)membuat

kesanggupan untuk merubah, (3) pengambilan data pada masalah, (4)


desain dan menerapkan rencana pengurusan, (5) memastikan dukungan
untuk program, dan (6) program untuk sukses jangka panjang.
1. Tetapkan masalah
Banyak masalah dari pengendalian-diri dapat mudah ditetapkan pada
kondisi kuantitatif. Secara relatif ini mudah, sebagai tujuan yang spesifik
untuk pada wilayah kendali dari berat dan latihan. Perbedaannya, tujuan
peningkatan diri lain jadi lebih sulit ke ukur. Ini akan meliputi hal-hal
seperti mempunyai satu sikap positif lagi ke arah sekolah, menjadi
tidak gelisah, atau meningkatkan hubungan. Mager (1972) mengacu
pada abstraki yang samar-samar sebagai tidak jelas. Satu tidak jelas
adalah satu titik awal dapat diterima untuk suatu identifikas masalah
pengendalian-diri. Akan tetapi, kamu harus unfuzzify abstraksi dengan
mengidentifikasi kinerja yang tujuan telah dicapai. Mager menguraikan
secara singkat sejumlah tahapan berguna untuk proses dari
unfuzzification. Ini termasuk:
a. Tuliskan tujuan.
b. Buat daftar dari apa yang harus kamu lakukan atau katakan,,dengan
jelas menandai bahwa kamu telah mencapai tujuan. apa yang akan
kamu ambil sebagai bukti tujuan kamu yang telah dicapai?
c. Memberikan angka dari orang-orang dengan tujuan yang sama,
bagaimana cara kamu akan putuskan jika mencapai tujuan dan
menjumpai siapa yang punya tujuan dan siapa yang tidak punya
tujuan?
d. Jika tujuanmu adalah satu hasil dari apa yang kamu lakukan seperti
mencapai jumlah uang tertentu, atau mempunyai satu ruangan bersih
kemudian buat daftar dari perilaku spesifik itu akan menolong kamu
untuk mencapai hasil itu.
2. Buat Suatu Persetujuan Untuk Kesanggupan Merubah
Dengan adanya kesanggupan untuk melakukan perubahan yang
mengacu pada aturan suatu perilaku orang itu sendiri. Perri dan Richards

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 23

(1977)

mendemonstrasikan

bahwa

kedua-duanya

adalah

suatu

kesanggupan yang mengikat untuk berubah dan satu ilmu pengetahuan


tentang teknik perubahan adalah penting untuk pemenuhan keberhasilan
dari modifikasi diri diproyeksikan oleh mahasiswa psikologi tingkat akhir.
Di permasalahan seperti makan, merokok, belajar, atau kencan, berhasil
mengelola diri pada suatu kesanggupan yang mengikat lebih kuat untuk
berubah dan lebih banyak menggunakan teknik mengubah perilaku
daripada ketidakberhasilan dalam mengelola diri (Perri & Richards. 1977).
Kemungkinan besar kesuksesan dalam mengubah perilaku,
diperlukan keyakinan akan mempertahakan komitmen yang kuat. Pertama,
buat kesanggupan yang mengikatmu untuk berubah secara umum (Shelton
& Levy, 1981). Meningkatkan beberapa orang yang dapat mengingatkan
untuk

meningkatkan

program

peningkatan

menghasilkan

suatu

keberhasilan (Passman. 1977). Yang kedua, menyusun ulang lingkungan


sekitar untuk menyediakan pemberitahuan tentang peringatan komitment
dan tujuan yang telah dibuat sebelumnya (Graziano. 1975). Ketiga,
tanamkan waktu yang dapat dipertimbangkan dan tenaga

ke dalam

rencana yang memberikan keuntungan ( Cooper & Axsom. 1982: Kelley.


1983). Persiapkan daftar dari pernyataan yang berhubungan dengan
investasi dalam proyek sehingga pernyataan itu dapat digunakan untuk
membantu memperkuat dan memelihara komitmen. Ke-empat, banyak
godaan yang akan dihadapi dalam menjalankan proyrk ini, berbagai
rencana sebelumnya dapat membantu untuk mengabaikan komitmen yang
telah dibuat sebelumnya ( Kelly. 1983: Patterson & Shiffman, 1984),.
3. Mengambil data dan menganalisis penyebabnya
Langkah berikutnya adalah lebih pada data kejadian dari problemkapan, dimana, dan bagaimana seringnya terjadi, ini sangat penting
terutama ketika tujuannya adalah untuk mengurangi perilaku berlebihan.
Ada sejumlah alasan untuk menyimpan jejak dari perilaku yang
bermasalah. Setidaknya paling sedikit yaitu menyediakan satu titik acuan
untuk mengevaluasi kemajuan. Bagi kebanyakan pengendalian-diri di
proyeksikan, 3 dari 5 kartu inci dan satu pensil mungkin dapat melayani

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 24

dengan baik untuk mencocokkan perhitungan kejadian dari masalah


mereka pada saat terjadi di sepanjang hari.
Ada sejumlah teknik untuk meningkatkan kekuatan pencatatan.
Sebagai contoh jika perilaku bermasalah itu adalah merokok, adapun
rokok yang dihabiskan akan dicatat, sehingga perilaku itu akan
menguatkan rekaman ini.
Dalam beberapa kasus, merekam dan menggambar perilaku mungkin
dibutuhkan untuk meningkatkan keberhasilan. Keberhasilan demonstrasi
efek ini dibuat oleh Maletsky (1974). Tiga dari lima kasus yang dia
dipelajari telah selesai dengan sukses, keyakinan Maletsky ini tidak untuk
memperkenalkan perlakuan apapun selain dari hitungan dan gambaran dari
perilaku atau kebiasaan yang tidak dikehendaki. Yang pertama kasus
kebiasaan menggaruk yang menghasilkan luka tidak enak dipandang pada
lengan tangan dan kaki wanita tua yang berumur 52 tahun. Wanita ini telah
menderita masalah ini selama 30 tahun. Yang kedua kasus pada anak lakilaki berusia 9 tahunyang tidak naik kelas, (dia sering tidak mengetahui
jawaban atas pertanyaannya dari guru.) Kasus ketiga perilaku anak
perempuan berusia 11 tahun yang mengalami hiperaktif pada di
lingkungan sekolah. Dalam tiga kasus tersebut, Perilaku tersebut
berkurang lebih dari 6 minggu sebagai hasil dari perhitungan dan
gambaran sehari-hari. Dalam beberapa kasus, hal ini mungkin menjadi
anggapan setiap pemikiran, keinginan, atau himbauan untuk mengingatkan
sebuah perilaku sebelum perilaku itu terjadi. Sebagai contoh: MFall (1970)
melaporkan sebuah studi dimana rekaman pada saat harus merokok telah
cukup mengalami penurunan tidak hanya mengambil rokok,tetapi juga
mengambil satu batang rokok.
Bila frekuensi rekaman bermasalah selama observasi inisial ini,
segera mengambil tindakan dengan melihat kepada konsekwensi langsung
yang boleh memelihara masalah. Dari latihan ini sering datang saran pada
strategi keberhasilann program.
Dengan demikian, selama persiapan observasi, ini penting untuk
meneliti konsekuensi langsung, itu mungkin akan memelihara perilaku

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 25

tidak diinginkan untuk dihilangkan sebagai konsekuensi langsung dari


perilaku kamu yang diharapkan untuk mengembangkannya. Informasi ini
dapat sangat berguna pada langkah berikutnya dari programmu.
4. Merancang sebuah program
Keseluruhan hidupnya, dibeberapa situasi tertentu,beberapa perilaku
yang memiliki beberapa konsekuensi. Masing-masing 3 variabel
mencangkup sebuah area yang bagus digunakan untuk memilih cara-cara
atau teknik pengontrolan diri.
a. Mengatur situasi
Setelah mendefenisikan kontrol stimulus, dapat disimpulkan
bahwa beberapa respon terjadi dalam beberapa stimuli dan tidak yang
lainnya. Maka dari itu, hal itu mungkin untuk menulis diatas stimuli
yang mengontrol respon respon ketika merencanakan programprogram pengendali diri sebagai indikasi, hal tersebut sangat
membantu untuk memikirkan kelas-kelas umum dari stimuli yang
mengendalikan perilaku, seperti intruksi-intruksi (perintah-perintah),
modelling (pemberiaan contoh) dalam kehidupan sehari-hari
b. Perintah-perintah
Dalam mengidentifikasi yang di kerjakan adalah bagaimana
seseorang dapat menulis diatas perintah-perintah untuk mengganti
jenis perilaku Meichenbaum(1977) memberi alasan bahwa sering kali
setiap program perubahan diri (modifikasi diri) harus mencakup
beberapa perintah-perintah diri. Perintah-perintah diri telah digunakan
dalam sifat pengaturan diri untuk menambah pengalaman dan
pembelajaran

perilaku

ramberger,1980)mengurangi

(cohen,dejames),
ketakutan-ketakutan

vocera
(arrick,voss

dan
&

rimm,1981), mengurangi istilah gigit jari (harris & mcreynolds,1977)


dan menambah jenis dari perilaku lain (dust,hirti schroeder,1983).
c. Modeling (peniruan)
Perilaku yang ditiru adalah peristiwa kelas stimulus lain yang
digunakan dalam program-program pengontrolan diri. Sebagai contoh,
apakah seseorang ingin untuk menambah kemampuan-kemampuan
dalam memperkenalkan diri kepada orang lain yang menarik dalam
lingkungan sosial? temukan seorang yang terbaik diantaranya, amatilah
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 26

perilaku orang tersebut, dan berusaha untuk mengikutinya. Sebuah


prosedur yang dinamakan partisipant modeling (leitenberg,1976)
adalah sebuah metode khusus yang efektif untuk mengurangi
ketakutan. Dengan prosedur ini, ketakutan seseorang yang diobservasi
(diamati) sebagai model yang menarik dengan ketakutan stimulus
pancingan dan kemudian peniruan-peniruan model.
d. Lingkungan Sekitar
Mayoritas orang memiliki sebuah bagian dari perilaku yang
mereka sukai untuk dikurangi. Beberapa perilaku itu dalam bagian dari
situasi.sebuah pilihan perilaku yang dipilih dari beberapa dalam situasi
lain.sebuah strategi yang sangat bermanfaat adalah untuk menyusun
kembali lingkungan untuk menghadirkan isyarat untuk perilaku pilihan
yang diinginkan.
e. Orang lain
Sebagai mana telah dikatakan diatas, modeling adalah salah satu
cara segera menambah kekuatan untukmu untuk mengikuti beberapa
perilaku lain halnya strategi atau cara adalah untuk perubahan mudah
orang-orang

disekitar.

Sebagai

contoh,

seseorang

telah

mengidentifikasikan bahwa orang yang dengan perilaku adiktif lebih


disukai untuk diperlihatkan sebuah perubahan apabila mereka keluar
bersama yang lain mengikut sertakan didalam perilaku.
f. Waktu dalam sehari
Ketika seseorang telah mempelajari seluruh hal yang dikerjakan
dalam beberapa waktu, tekadang timbul permasalahan yaitu membuat
menjadi nyata. Terkadang mungkin untuk mencapai keberhasilan
pengendalian diri dengan mengganti waktu beraktifitas. Sebagai
contoh, mayoritas pelajar lonceng atau bel dipagi hari, kemudian
mereka menghabiskan waktu luang mereka selama pagi hari untuk
minum kopi bersama teman dan bersosialisasi dan meninggalkan
pelajaran mereka hingga sore hari ketika bel berakhir. Pengendalian
diri yang berhasil dipelajari untuk pelajar yang menjadi sempurna.
g. Mengatur perilaku

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 27

Apabila perhatian dari perilaku adalah relatif mudah-seperti


bersumpah menyukai untuk fokus dan atas antencen-dens dan
konsequences. Apabila perilaku adalah kompleks kamu membutuhkan
untuk menghabiskan beberapa waktu memfokuskan atas perilaku diri
saja. Apabila keberhasilan untuk memperoleh beberapa kemampuan
kompleks

(beranekaragam),

hal

ini

sangat

membantu

untuk

mempertimbangkan tugas analisis, kriteria utama, dan rangkaian.


Kriteria utama adalah performasi menuntut untuk mempraktekan
sebuah kemampuan seperti itu apabila kriteria ditemukan, perilaku
telah dipelajari. Mempertimbangkan ,sebagai contoh,tugas belajar
untuk bermain golf.Simek dan obrien(1981) tugas menganalisis
bermain golfdalam 22 bagian.Mereka tersusun didalam kemajuan
perilaku untuk maksud perintah dan mengidentifikasikan kriteria
utama untuk masing-masing bagian.
h. Pembentukan
Pembentukan adalah langkah atau strategi penting untuk
menambah proyeksi diri dalam sasaran terakhir menyangkut perilaku
luas yang berubah dari poin awal. Cara yang penting menjaga dalam
pikran yang mencakupnya permulaan kecil,bertemu kriteria utama
sebelum berpindah keatas satu tahap,dan menjaga kemajuan langkah
kecil.
i. Mengatur Consequences
Sterategi pertama untuk memanipulasi peristiwa adalah untuk
beberapa penguat yang mungkin tidak memperhatikan kekuatan dari
perilaku yang tidak diinginkan untuk diteliti dalam sebuah situasi yang
diteliti.
5. Dukungan pasti untuk program ini
Kemunduran merupakan program mengontrol diri yang umum
(Marlatt & Parks 1982) dengan adanya kemunduran kita berarti kembali
pada kebiasaan yang tidak diinginkan dalam waktu yang hampir sama.
Yang kamu lakukan sebelum kamu memulai programmu. Disini kita tidak
membahas mengenai kesalahan yang biasa dilakukan.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 28

Suatu

cara

dalam

mencegah

sebuah

kemunduran

adalah

mempraktekkan semua hal yang disarankan pada setiap bagian dalam


membuat komitmen/proses. Sebuah cara efektif yang berbeda adalah
behavior contract. Sebuah behavior contract akan nampak pada pernyataan
tertulis dari kebiasaan individu yang seperti apa akan menghasilkan hadiah
apa, dan siapa yang akan menyukai hadiah tersebut. Ini biasanya
memerlukan dua orang atau lebih walaupun self-contracts juga telah
digunakan. Sebuah contract biasanya meliputi pernyataan yang jelas
seperti :
a. Perilaku yang ditargetkan
b. Metode pengumpulan data
c. Penguat yang digunakan, jadwal pengiriman mereka, dan siapa yang
akan mengirimkannya (mediator)
Problem yang akan terjadi dan resolusinya
Bonus dan tau ketentuan hukuman
Jadwal tinjauan kedepan
Persetujuan dari semua orang yang terlibat dan tanggal persetujuan
Layanan contract yang paling tidak memiliki 4 fungsi penting :
a. Pastikan semua bagian yang terkait setuju pada tujuan dan cara

d.
e.
f.
g.

yangmereka tidak kehilangan jejak selama proses perawatan.


b. Karena tujuan nya dalah perilaku yang spesifik, kontraknya juga
dipastikan melalui program semua bagian akn setuju pada bagimana
mereka mengakhiri tujuan penelitian
c. Kontrak memberikan klien dengan harga yang nyata dari program
yang diberikan sesuai dengan waktu usaha dan uang.
d. Persetujuan pada kontrak membantu untuk meyakinkan bahwa
semakin
Seperti yang telah dibahas di bagian sebelumnya, prosedur
mengubah kebiasaan harus diperbaiki pada cara-cara tertentu ketika data
mengindikasikan

bahwa

mereka

tidak

menciptakan

hasil

yang

memuaskan. Dengan demikian, kontrak harus diawali dengan negosiasi.


Pada waktu kapanpu, misalnya seorang peserta menemukan bahwa dia
tidak dapat menemukan ketetapan komitmen dalam kontrak. Dia harusnya
memberi peserta yang lain pada pertemuan berikutnya dengan terapi.
Kesulitan tersebut dapat didiskusikan dan jika hal itu kelihatan sangat
Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 29

rumit, kontrak baru dibuat kembali sebelumnya di negosiasi, draft, dan


tanda tangan.
Kadang sebuah terapis dan klien mungkin membuat program dan
mempersiapkan

sebuah

kontrak

yang

prosedurnya

menghasikan

kesuksesan dan kepuasan. Bagaimanapun kontrak awal harus diperbaiki


sebelum beehasil untuk dicapai. Jika masalah terjadi pada kontrak
berikutnya mempengaruhi program, sejumlah faktor yang relevan mingkin
didiskusikan pada pertemuan ulangan. DeRisi dan Butz (1975)
menyarankan bahwa klien dan terapis dapat diperiksa dengan mengikuti
panduan penyelesaian masalah ketika kemajuan tidak memuaskan.
6. Langkah Terakhir
Satu strategi untuk mengakhirinya adalah dengan membuat data
spesifik dalam pengecekan terakhir dan untuk strategi yang spesifik untuk
mengikutinya jika pengecekan terakhir tidak favorabel. Sebagai contoh,
jika program kontrol diri diet seseorang telah mengalami penurunan, maka
dapat menaikkan berat badan orang itu sekali dalam seminggu. Jika berat
badan orang tersebut bertambah dalam beberapa tingkatan yang spesifik,
kemudian segera kembali pada program selam satu minggu. Strategi lain
adalah untuk membentuk sistem diri. Temukan seorang teman dengan
permasalahan yang relatif sama dan hubungan yang mendukung untuk
mencapai tujuan. Sekali dalam sebulan, bersama mengecek kemajuan
antara satu dengan yang lain. Jika

kemajuannya telah bertahan,

diselenggarakan dalam kesetujuan sebelumnya. Dalam studi tentang


perokok, Karol and Richards,1978 ) menemukan bahwa perokok yang
berhenti dengan dirinya sendiri dan telepon yang memberikan dukungan
untuk menunjukkan tiap-tiap penurunan yang lebih besar dalam merokok
selama delapan bulan berturut-turut daripada perokok yang mencoba untuk
berhenti merokok. Strategi ketiga adalah untuk melatih langkah-langkah
kontrol diri di luar makalah ini untuk menambah perilaku. seseorang lebih
senang untuk melanjutkan dengan menggunakan tehnik kontrol diri jika
seseorang mempraktekkannya dalam lebih dari satu proyek kontrol diri
( Barone,1982 ). Selain ini seseorang tersebut dapat kembali pada

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 30

kebiasaan yang tidak terkontrol, jika memiliki kemampuan dalam tehnik


kontrol diri yang membawa peningkatan dalam tempat pertama.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 31

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kontrol diri dapat diartikan sebagai konsep dimana ada atau tidak
adanya seseorang memiliki kemampuan untuk mengontrol tingkah
lakunya yang tidak hanya ditentukan cara dan teknik yang digunakan
melainkan berdasarkan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan.
Kemampuan kontrol diri seseorang banyak dapat dilihat dari
kemampuan

untuk

mengontrol

perilaku,

kemampuan

menunda

kepuasan dengan segera, kemampuan mengantisipasi peristiwa dan lain


sebagainya.
Kematangan Emosional merupakan ekspresi emosi yang bersifat
kontruktif dan interaktif. Individu yang telah mencapai kematangan
emosi ditandai oleh adanya kemampuan didalam mengontrol emosi,
mampu berpikir realistik, memahami diri sendiri dan mampu
menampakkan emosi disaat dan tempat yang tepat.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 32

DAFTAR PUSTAKA
___________. 2013. Pengertian Emosi Menurut Para Ahli. [Online]. Tersedia di:
http://www.pengertianahli.com/2013/11/pengertian-emosi-menurutpara-ahli.html. Diakses pada tanggal 15 Mei 2016.
___________. 2014. Judul Psikologi Aspek Kontrol Diri. [online]. Tersedia di:
http://skripsi-konsultasi.blogspot.co.id/2014/09/judul-psikologi-aspekkontrol-diri.html. Diakses pada tanggal 15 Mei 2016.
Fachruroji, Achmad. 2012. Pengertian Kematangan Emosional. [online]. Tersedia
di:

http://achmad-fachruroji.blogspot.co.id/2012/04/k-ematangan-

emosi-merupakan-aspek-yang.html. Diakses pada tanggal 15 Mei


2016.
MasBied, Network. 2014. Pengertian Kematangan Menurut Para Ahli. [Online].
Tersedia

di:

http://www.duniapelajar.com/2014/07/28/pengertiankematanganmenurut-para-ahli/. . Diakses pada tanggal 15 Mei 2016


Masrulfatun, Difa Naimah. 2015. Skripsi Pengaruh Kematangan Emosi Terhadap
Kepuasan Pernikahanpada Pasangan Usia Dewasa Tengah. [Online].
Tersedia di: http://etheses.uin-malang.ac.id/773/6/10410186%20Bab
%202.pdf. Diakses pada tanggal 15 Mei 2016.
Putantri,

Risca.

2012.

KONTROL

DIRI.

[online].

Tersedia

di:

http://riscaputantri.blogspot.co.id/2012/10/kontrol-diri.html. Diakses
pada tanggal 15 Mei 2016.
Sari, Meyta. 2013. Kontribusi Kontrol Diri Terhadap kedisiplinan Siswa dan
Implikasinya Bagi Bimbingan Konseling. [skripsi online]. Tersedia di:
http://www.yai.ac.id/karyailmiah-upi-42-kematangan-emosi-danfaktorfaktor-yang-mempengaruhinya.html. Diakses pada tanggal 15
Mei 2016.

Kontrol Diri dan Kematangan Emosional 33