Anda di halaman 1dari 122

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI DENGAN

KEPATUHAN DIET PADA PASIEN DIABETES MELLITUS


TIPE II DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM
RSUD DR. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan

Oleh:
Eni Pujiastuti
ST14021

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2016

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN MOTIVASI DENGAN


KEPATUHAN DIET PADA PASIEN DIABETES MELLITUS
TIPE II DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM
RSUD DR. SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN

SKRIPSI
Untuk Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Keperawatan

Oleh:
Eni Pujiastuti
ST14021

PROGRAM STUDI S-1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2016
i

ii

iii

KATA PENGANTAR
Segala puji hanya bagi Allah SWT yang telah menciptakan langit dan bumi
beserta semua pengetahuan di dalamnya, atas rahmat dan karunia-Nya peneliti
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Hubungan Pengetahuan Dan Motivasi
Dengan Kepatuhan Diet Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II Di Poliklinik
Penyakit Dalam RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Dalam penyusunan
skripsi ini, peneliti banyak mendapat bimbingan dan dukungan dari berbagai
pihak, untuk itu peneliti mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada:
1. Ns. Wahyu Rima Agustin, M.Kep., selaku Ketua STIKes Kusuma Husada
Surakarta, yang telah memberikan kesempatan untuk studi di STIKes
Kusuma Husada Surakarta.
2. Ns. Atiek Murharyati, M.Kep., selaku Ketua Program Studi Keperawatan
STIKes Kusuma Husada Surakarta, yang telah memberikan ijin dan
kesempatan untuk mengikuti perkuliahan di STIKes Kusuma Husada
Surakarta..
3. Ns. S. Dwi Sulisetyawati, M.Kep., selaku Pembimbing Utama yang telah
memberikan masukan dan arahan serta bimbingan selama penyusunan skripsi
ini.
4. Ns. Aria Nurahman Hendra K, M.Kep., selaku Pembimbing Pendamping
yang telah memberikan masukan dan arahan serta bimbingan selama
penyusunan skripsi ini.
5. Ns. Galih Priambodo, M.Kep., selaku penguji yang telah memberikan
masukan dan arahan serta bimbingan selama penyusunan skripsi ini.
6. dr. Djoko Sugeng P, M.Kes., selaku direktur RSUD dr. Soehadi Prijonegoro
Sragen yang memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan
penelitian di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
7. Direktur RSUD Sukoharjo beserta Kabid Diklat yang memberikan
kesempatan kepada peneliti untuk melakukan uji instrumen penenlitian di
RSUD Sukoharjo.
iv

8. Dhiding Supariti, S.Kep.,Ns, selaku Kasie keperawatan RSUD dr. Soehadi


Prijonegoro Sragen yang telah mendukung dan bekerja sama selama proses
penelitian dilakukan.
9. Kepala Bidang Diklat RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen (dr. Aminan,
Sp.JP) beserta staf-stafnya yang senantiasa memberikan dukungan dan
kemudahan dalam proses administratif dan teknik dalam pengumpulan data
penelitian.
10. Staf non akademik Program Studi Keperawatan STIKes Kusuma Husada
Surakarta yang telah membantu menyediakan fasilitas yang dibutuhkan
peneliti.
11. Orang tua, suami dan anak-anakku tersayang yang tiada henti dan jemu
mendoakan dan memberikan dukungan.
12. Rekan-rekan Program Studi Ilmu keperawatan angkatan 2014 yang saling
mendukung.
13. Pasien DM Tipe II di poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini.

Harapan peneliti semoga skripsi ini membawa manfaat bagi kita sebagai
profesi dalam peningkatan mutu pendidikan dan pelayanan keperawatan.

Surakarta, Januari 2016

Peneliti

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..

LEMBAR PENGESAHAN.......

ii

SURAT PERNYATAAN...............................................................................

iii

KATA PENGANTAR....................................................................................

iv

DAFTAR ISI...................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL...........................................................................................

ix

DAFTAR GAMBAR......................................................................................

DAFTAR DIAGRAM....................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................

xii

ABSTRAK......................................................................................................

xiii

ABSTRACT....................................................................................................

xiv

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................

1.1.Latar Belakang.............................................................................

1.2.Rumusan Masalah........................................................................

1.3.Tujuan Penelitian.........................................................................

1.4.Manfaat Penelitian.......................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Tinjauan Teori..............................................................................

2.1.1. Diabetes Melitus...............................................................

2.1.2. Kepatuhan.........................................................................

27

2.1.3. Pengetahuan.....................................................................

35

vi

2.1.4. Motivasi............................................................................

47

2.2.Keaslian Penelitian.......................................................................

55

2.3.Kerangka Teori............................................................................

56

2.4.Kerangka Konsep ........................................................................

57

2.5.Hipotesis.......................................................................................

57

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

58

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian.....................................................

58

3.2. Populasi dan Sampel......................................................................

58

3.3. Tempat dan Waktu Penelitian........................................................

60

3.4. Variabel, Definisi operasional dan Skala Pengukuran...................

61

3.5. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data.................................

62

3.6. Teknik Pengolahan dan Analisis Data...........................................

69

3.7. Etika Penelitian............................................................................

71

BAB IV HASIL PENELITIAN

75

4.1. Analisa Univariat.........................................................................

75

4.2. Analisa Bivariat...........................................................................

80

BAB V PEMBAHASAN

83

5.1. Karakteristik Demografi Responden............................................

83

5.2. Pengetahuan tentang Diet DM Tipe II.........................................

86

5.3. Motivasi Pasien DM Tipe II........................................................

90

5.4. Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II.............................................

91

5.5. Hubungan antara Pengetahuan dengan Kepatuhan Diet Pasien

95

DM Tipe II...................................................................................
vii

5.6. Hubungan antara Motivasi dengan Kepatuhan Diet Pasien DM

97

Tipe II...........................................................................................
BAB VI PENUTUP

101

6.1. Simpulan......................................................................................

101

6.2. Saran.............................................................................................

102

DAFTAR PUSTAKA

103

LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL
Nomor Tabel

Judul Tabel

Halaman

2.1.

Kebutuhan Kalori Orang Dengan DM

22

2.2.

Metode Pengukuran Kepatuhan

34

3.1.

Definisi Operasional Variabel Penelitian

61

4.1.

Distribusi Pasien DM Tipe II Berdasarkan Umur

75

4.2.

Distribusi Pasien DM Tipe II Berdasarkan Jenis

76

Kelamin
4.3.

Distribusi Pasien DM Tipe II Berdasarkan

76

Pendidikan
4.4.

Distribusi Pasien DM Tipe II Berdasarkan Lama

77

Sakit
4.5.

Dengan

80

Hubungan Antara Motivasi Dengan Kepatuhan

81

Hubungan

Antara

Pengetahuan

Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II


4.6.

Diet Pasien DM Tipe II

ix

DAFTAR GAMBAR
Nomor Gambar

Judul Gambar

Halaman

2.1

Kerangka Teori Penelitian

56

2.2

Kerangka Konsep Penelitian

57

DAFTAR DIAGRAM
Nomor Diagram
4.1

Judul Diagram
Distribusi

Responden

Menurut

Halaman
Pengetahuan

79

Distribusi Responden Menurut Motivasi Pasien

79

Pasien DM Tipe II
4.2

DM Tipe II
4.3.

Distribusi Responden Menurut Kepatuhan Pasien


DM Tipe II

xi

79

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Lampiran

Keterangan

TIME SCHEDULE

Surat Permohonan Ijin Studi Pendahuluan Penelitian

Surat

Jawaban

Permohonan

Ijin

Studi

Pendahuluan

Penelitian
4

Kuesioner Penelitian

F.01 Usulan Topik Penelitian

F.02 Pengajuan Judul Skripsi

Surat Permohonan Ijin Uji Validitas Reliabilitas

Surat Jawaban Permohonan Uji Validitas Reliabilitas

Surat Keterangan Telah Melakukan Uji Validitas Reliabilitas

10

Surat Permohonan Ijin Penelitian

11

Surat Jawaban Permohonan Ijin Penelitian

12

Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian

13

Data Penelitian

14

SPSS Penelitian

15

Lembar Konsultasi

xii

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA SURAKARTA
2016

Eni Pujiastuti
Hubungan Pengetahuan Dan Motivasi Dengan Kepatuhan Diet Pada Pasien
Diabetes Mellitus Tipe II Di Poliklinik Penyakit Dalam
RSUD Dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
ABSTRAK

Kepatuhan pasien terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan merupakan salah
satu kendala pada pasien diabetes. Penderita diabetes banyak yang merasa tersiksa
sehubungan dengan jenis dan jumlah makanan yang dianjurkan. Pada tahun 2014
di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen ditemukan
kasus DM Tipe II sebanyak 7250 orang. Angka kejadian rawat inap berulang
untuk kasus DM berjumlah 3560 pasien. Indikasi rawat inap karena kadar gula
yang tinggi.Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan
motivasi pasien DM Tipe II dengan kepatuhan menjalankan diet di Poliklinik
Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif correlation dengan rancangan cross
sectional. Populasi dan sampel adalah penderita DM Tipe II sebanyak 240 dengan
teknik pengambilan sampel purposive sampling.
Hasil penelitian didapatkan pengetahuan sebagian besar tinggi 151 responden
(63%). Motivasi dalam menjalankan program diet sebagian besar rendah sebanyak
182 responden (76%). Kepatuhan menjalankan program diet sebagian besar patuh
sebanyak 128 responden (53%). Ada hubungan antara pengetahuan dengan
kepatuhan menjalankan program diet di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr.
Soehadi Prijonegoro Sragen (pvalue = 0,000). Tidak ada hubungan antara
motivasi pasien DM Tipe II dengan kepatuhan menjalankan program diet di
Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen (pvalue =
0,083).
Kata Kunci: pengetahuan, motivasi, kepatuhan, diet DM Tipe II
Daftar Pustaka : 62 (2000-2014)

xiii

BACHELOR OF NURSING PROGRAM


SCHOOL OF HEALTH SCIENCES OF KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2016

Eni Pujiastuti

The Relationship between Type 2 Diabetes Mellitus Patients levels of


Knowledge and Motivation and Their Obedience to Diet Control at Internal
Medicine Polyclinic of dr. Soehadi Prijonegoro Regional Public Hospital of
Sragen

ABSTRACT
Patients obedience to diet control and meal plan belong to constraints of
diabetic patients. Most of them are tormented by the recommended type and
amount of food. In 2014, 7,250 cases of type 2 diabetes were found with repeated
inpatient treatment of 3,560 patients due to high blood glucose. The aim of the
research is to find out the relationship between type 2 Diabetes Mellitus (DM)
patients levels of knowledge and motivation and their obedience to diet control at
internal medicine polyclinic of dr. Soehadi Prijonegoro Regional Public Hospital
of Sragen.
The present study is a descriptive and correlational study with cross sectional
design. Population and samples include 240 patients with type 2 DM taken with
purposive sampling technique.
The research findings depict that 1) high level of knowledge with total
number of 151 respondents (63%) is found, 2) low level of motivation with total
number of 182 respondents (76%) appears, 3) most patients (128 respondents
(53%)) have obedience to diet control, 4) relationship between type 2 DM
patients levels of knowledge and their obedience to diet control exists (with pvalue of 0.000) but that between patients motivation and their obedience to diet
control does not (with p-value of 0.083).
Keywords
: knowledge, motivation, obedience, type 2 DM diet
Bibliography : 62 (2000-2014)

xiv

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Diabetes Mellitus (DM) adalah suatu kondisi dimana kadar gula di
dalam darah lebih tinggi dari biasa atau normal. Tingginya kadar gula darah
pada penderita DM karena gula tidak dapat memasuki sel-sel di dalam tubuh
akibat tidak terdapat atau kekurangan atau resisten terhadap insulin. Penyakit
ini bisa berkomplikasi dengan penyakit lain, seperti jantung koroner, stroke,
ulkus, ginjal, gangguan mata (katarak dan retinopati), disfungsi ereksi, dan
sebagainya (Anonim, 2006).
Menurut WHO, DM atau kencing manis telah menjadi masalah
kesehatan dunia. Jumlah penderita DM mengalami peningkatan yang cukup
signifikan karena perubahan gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat.
Prevalensi dan insiden penyakit ini meningkat secara drastis di negara-negara
industri maju dan sedang berkembang termasuk Indonesia. Tahun 2009
terdapat sekitar 230 juta jiwa kasus DM di dunia dan diperkirakan akan terus
meningkat setiap tahunnya. Jumlah penderita DM tipe II menurut data WHO
tahun 2000 terdapat sekitar 8,4 juta jiwa penderita. Jumlah ini meningkat tiga
kali lipat pada tahun 2010, mencapai 21,3 juta jiwa.
Indonesia menempati urutan ke-4 dunia setelah India, China, dan
Amerika Serikat (AS) (Depkes, 2001). Menurut data Badan Kesehatan Dunia
(WHO), jumlah diabetisi (penyandang Diabetes Mellitus) di Indonesia pada

tahun 2005 mencapai 25,2 juta orang.


Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, penyakit DM termasuk
dalam sepuluh jenis penyakit tertinggi di Rumah Sakit se-Jawa Tengah. Pada
tahun 2013, terdapat 152.301 kasus baru dan di Kabupaten Sragen sendiri
terdapat 7.252 kasus DM baru (Dinkes Jawa Tengah, 2013).
Peningkatan prevalensi kasus DM berjalan seiring dengan peningkatan
faktor resiko dari DM sendiri (Sornoza, 2011). Faktor resiko yang
berpengaruh pada peningkatan prevalensi kasus DM antara lain obesitas
(kegemukan), kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi serat tinggi lemak,
merokok, dan hiperkolesterol (Guyton & Hall, 2006).
Mengontrol glukosa darah secara intensif dapat mengurangi mortalitas
DM dengan mengurangi komplikasi yang muncul

(You & Kim, 2009).

Menurut Price & Wilson (2008), 75% penderita DM akhirnya meninggal


karena penyakit vaskular yang diakibatkan karena komplikasi yang paling
utama seperti serangan jantung, gagal ginjal, stroke, dan gangren seta dapat
menyebabkan

kematian neonatal intrauterin pada ibu-ibu yang menderita

DM.
Salah satu penatalaksanaan untuk mencegah terjadinya komplikasi bagi
pasien DM adalah terapi diet atau pengelolaan pola makan (Price & Wilson,
2008). Tujuan utama dari terapi diet pada penderita DM adalah
mempertahankan kadar gula darah agar mendekati normal. Pasien dengan DM
yang menjalani terapi diet secara rutin dan kadar gula darahnya terkendali,
dapat mengurangi resiko komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang

(Almatseir, 2005). Harapannya dengan mengurangi resiko komplikasi dari


DM, maka pasien DM dapat memiliki harapan hidup yang lebih baik
dibandingkan dengan pasien DM yang tidak terkendali kadar gula darahnya.
Masalah yang terjadi adalah sebagian besar pasien DM tidak mengikuti
diet yang dianjurkan. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan
terhadap terapi obat lebih baik daripada terhadap perubahan gaya hidup
seperti diet dan olahraga (Glasgow, 1993, cit. Delamater, 2006). Penelitian
yang dilakukan oleh Bangun (2009) menemukan hasil bahwa tingkat
kepatuhan pasien DM terhadap terapi diet adalah 35%. Ketidakpatuhan
disebabkan karena pasien DM merasa jenuh dan membutuhkan waktu yang
cukup lama (Lopulalan, 2008).
Kepatuhan penderita dalam mentaati diet DM sangat berperan penting
untuk menstabilkan kadar glukosa pada penderita diabetes mellitus, sedangkan
kepatuhan itu sendiri merupakan suatu hal yang penting untuk dapat
mengembangkan rutinitas (kebiasaan) yang dapat membantu penderita dalam
mengikuti jadwal diet penderita. Menurut Almatsier (2005), pasien dengan
DM yang patuh dalam menjalani terapi diet secara rutin dan kadar gula
darahnya terkendali, dapat mengurangi resiko komplikasi jangka pendek
maupun jangka panjang.
Pada pasien yang tidak patuh dalam menjalankan terapi diet
menyebabkan kadar gula darah yang tidak terkendali. Menurut Lopulalan
(2008), kepatuhan dapat sangat sulit dan membutuhkan dukungan,
pengetahuan, dan motivasi agar menjadi biasa dengan perubahan yang

dilakukan dengan cara mengatur untuk meluangkan waktu dan kesempatan


yang dibutuhkan untuk menyesuaikan diri.
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu. Penginderaan terjadi
melalui panca

indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh


melalui mata dan telinga (Notoadmodjo, 2007). Pengetahuan pasien DM
mengenai terapi diet dapat diperoleh melalui konsultasi maupun edukasi di
pelayanan kesehatan (Delamater, 2006). Perawat berperan besar dalam upaya
meningkatkan pengetahuan penderita DM. Perawat memiliki peran sebagai
edukator yang bertugas untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan dan
kemampuan klien dalam mengatasi kesehatannya, memberikan pendidikan
kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kader kesehatan,
dan lain sebagainya, dan meningkatkan perubahan perilaku yang sehat
(Bastable, 2002). Pengetahuan tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya
motivasi dari dalam individu karena motivasi merupakan gambaran keinginan
dan kemampuan seseorang dalam meningkatkan pengetahuan (Jorgensen,
1994).
Motivasi adalah suatu dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang
melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi berasal
dari kata motif yang berarti "dorongan" atau rangsangan atau "daya
penggerak" yang ada dalam diri seseorang. Motivasi merupakan dampak dari
interaksi seseorang dengan situasi yang dihadapinya (Siagian, 2004).

Motivasi merupakan faktor pendukung pasien Diabetes Mellitus Tipe II


dalam menjalani terapi diet (Indarwati, Rusmariana, & Hartanti, 2013). Pasien
dengan Diabetes Mellitus Tipe II sangat membutuhkan motivasi yang tinggi
dalam menjalankan terapinya, karena terapi yang dijalani menimbulkan rasa
bosan dan jenuh. Pengetahuan yang cukup akan faktor pencetus dan resiko
yang akan ditimbulkan dari penyakit DM Tipe II dapat meningkatkan motivasi
dalam menjalankan terapi diet (Notoatmodjo, 2007).
Pada tahun 2014 di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi
Prijonegoro Sragen ditemukan kasus DM Tipe II sebanyak 7250 orang. Angka
kejadian rawat inap berulang untuk kasus DM berjumlah 3560 pasien. Indikasi
rawat inap karena kadar gula yang tinggi. Studi pendahuluan yang dilakukan
pada tanggal 12 April 2015 melalui wawancara dengan tujuh pasien,
didapatkan hasil pasien memiliki pengetahuan tentang penyakit DM dan diet
DM yang berbeda satu sama lain. Dua orang pasien menyatakan bahwa diet
DM berarti tidak boleh mengkonsumsi makanan yang manis-manis sama
sekali dan satu pasien menyatakan bahwa diet DM berarti menghindari minum
minuman yang mengandung gula. Dua orang pasien menyatakan karena
merasa terus menerus merasa lapar maka kadang-kadang makan lebih dari 3
kali sehari dan dalam porsi yang banyak.
Pasien mengatakan bahwa motivasi untuk mematuhi program diet DM
karena tidak mau penyakitnya menjadi lebih parah, dan diamputasi kakinya.
Dukungan untuk mematuhi diet DM dilakukan oleh keluarga terdekat, dan
para petugas kesehatan (dokter dan perawat) yang memberikan pendidikan

kesehatan pada saat pasien periksa di poliklinik meski belum menggunakan


media pembelajaran seperti video, maupun leaflet. Program terapi diet dari RS
hanya dilakukan pada pasien rawat inap sedangkan untuk pasien rawar jalan
hanya berupa pendidikan kesehatan. Sembilan puluh persen pasien belum
mengunjungi poliklinik konsultasi gizi. Beberapa hal tersebut yang membuat
pasien kesulitan menerapkan terapi diet selama di rumah. Fenomena yang ada
di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen membuat peneliti tertarik untuk
meneliti hubungan pengetahuan dan motivasi dengan tingkat kepatuhan diet
pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr.
Soehadi Prijonegoro Sragen.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dapat di lihat bahwa
penyakit DM erat kaitannya dengan perilaku pasien baik dalam terapi dietnya
maupun tingkat kepatuhan serta motivasi diri pasien. Peneliti merumuskan
masalah pada penelitian ini, yaitu : Apakah ada hubungan pengetahuan dan
motivasi dengan tingkat kepatuhan diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II
di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan pengetahuan dan motivasi dengan kepatuhan
Diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Poliklinik Penyakit
Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen

1.3.2. Tujuan Khusus


1.

Mengidentifikasi karakteristik responden, meliputi umur, jenis


kelamin,

tingkat

pendidikan,

lama

menderita

DM

dan

mendapatkan informasi tentang diet DM Tipe II.


2.

Mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang terapi diet


pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II.

3.

Mengetahui tingkat motivasi pada pasien Diabetes Mellitus Tipe


II

4.

Mengetahui tingkat kepatuhan pasien Diabetes Mellitus Tipe II


dalam menjalankan terapi diet.

5.

Mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan tingkat


kepatuhan terapi diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II.

6.

Mengetahui hubungan antara motivasi dengan kepatuhan terapi


Diet pada pasien Diabetes Mellitus Tipe II.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Institusi Rumah Sakit
Dapat dijadikan masukan pada pihak rumah sakit dalam hal
memberikan program terapi diet dan sebagai bahan evaluasi dengan
melihat kepatuhan klien Diabetes Mellitus Tipe II dalam menjalankan
terapi diet.
1.4.2. Bagi Perawat
Diharapkan perawat dapat lebih memperhatikan pelaksanaan terapi
diet klien Diabetes Mellitus dan memberikan intervensi keperawatan

yang sesuai dengan keadaan pasien Diabetes Mellitus tersebut.


1.4.3. Bagi Pasien
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberi kontribusi yang
berarti terhadap meningkatnya pengetahuan, motivasi, dan kepatuhan
dalam menjalankan terapi diet pasien Diabetes Mellitus Tipe II.
1.4.4. Bagi Peneliti yang lain
Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai landasan bagi
penelitian lanjutan.
1.4.5. Bagi Peneliti
Merupakan media pembelajaran dalam menerapkan ilmu dan
pengetahuan

yang didapatkan

selama

menempuh

perkuliahan

akademik pada suatu tatanan praktek pelayanan keperawatan yang


nyata di rumah sakit dan merupakan pengalaman berharga dalam
melakukan penelitian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teori


2.1.1. Diabetes Mellitus
2.1.1.1.Definisi
Diabetes Mellitus (DM) adalah gangguan metabolisme
yang secara genetis dan klinis termasuk heterogen dengan
manifestasi berupa hilangnya toleransi karbohidrat (Price &
Wilson, 2008). Menurut Brunner & Suddart (2012), DM
merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Hiperglikemi kronik pada DM berhubungan dengan jangka
panjang, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh,
terutama mata, ginjal, syaraf, jantung, dan pembuluh darah.
2.1.1.1. Patofisiologi
Patologi DM dapat dikaitkan dengan satu dari tiga efek
utama kekurangan insulin (Guyton & Hall, 2006). Pada DM
tipe I terdapat ketidakmampuan untuk menghasilkan insulin
karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses
autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa
yang tidak terukur oleh hati. Glukosa yang berasal dari
makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap

10

berada

dalam

darah

dan

menimbulkan

hiperglikemia

postprandial (sesudah makan) (Brunner & Suddarth, 2012).


Menurut Sjamsuhidayat & Jong (2005), kelainan utama
DM adalah berkurangnya insulin di dalam sirkulasi darah.
Meningginya kadar gula darah terjadi karena bertambahnya
glukosa yang dikeluarkan oleh hati, sedangkan penggunaan
glukosa oleh jaringan perifer menurun. Anestesi dapat
berpengaruh pada metabolisme glukosa, yaitu mengakibatkan
hiperglikemia karena adanya pemecahan glikogen menjadi
glukosa (Sjamsuhidayat, 2005).
Menurut Brunner & Suddarth (2012), jika konsentrasi
glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap
kembali semua glukosa yang tersaring keluar; akibatnya,
glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Ketika
glukosa yang berlebihan diekskresikan ke dalam urin, ekskresi
ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang
berlebihan. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik.
Kehilangan cairan yang berlebihan menyebabkan pasien
akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan
peningkatan rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin juga
mengganggu

metabolisme

protein

dan

lemak

yang

menyebabkan penurunan berat badan. Jika terjadi defisiensi


insulin, protein yang berlebihan di dalam sirkulasi darah tidak

11

dapat disimpan dalam jaringan. Semua aspek metabolisme


lemak sangat meningkat bila tidak ada insulin. Normalnya ini
terjadi antara waktu makan sewaktu sekresi insulin minimum,
tetapi metabolisme lemak meningkat hebat pada DM sewaktu
sekresi insulin hampir nol (Guyton & Hall, 2006). Pasien dapat
mengalami peningkatan selera makan (polifagia) akibat
menurunnya simpanan kalori. Gejala lainnya mencakup
kelelahan dan kelemahan (Brunner & Suddarth, 2012).
Insulin mengendalikan glikogenesis (pemecahan glukosa
yang disimpan) dan glukoneogenesis (pembentukan glukosa
baru dari asam-asam amino serta substansi lain), namun pada
penderita defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa
hambatan dan lebih lanjut turut menimbulkan hiperglikemia
serta

terjadi

pemecahan

lemak

yang

mengakibatkan

peningkatan produksi badan keton yang merupakan produk


samping pemecahan lemak. Badan keton merupakan asam
yang mengganggu keseimbangan asam-basa tubuh apabila
jumlahnya berlebihan (Guyton & Hall, 2006).
Ketoasidosis

Diabetik

yang

diakibatkannya

dapat

menyebabkan tanda dan gejala seperti nyeri abdomen, mual,


muntah, hiperventilasi, nafas berbau aseton, dan bila tidak
ditangani akan menimbulkan perubahan kesadaran, koma
bahkan kematian. Pemberian insulin bersama dengan cairan

12

dan elektrolit sesuai kebutuhan akan memperbaiki dengan


cepat kelainan metabolik tersebut dan mengatasi gejala
hiperglikemia serta ketoasidosis. Diet dan latihan disertai
pemantauan kadar glukosa darah yang sering merupakan
komponen terapi yang penting (Brunner & Suddarth, 2012).
Pada Diabetes Tipe II terdapat dua masalah utama yang
berhubungan dengan insulin, yaitu resistensi insulin dan
gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat
dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat
terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel.
Resistensi insulin pada Diabetes Tipe II disertai dengan
penurunan reaksi intrasel ini. Insulin menjadi tidak efektif
untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan
(Brunner & Suddarth, 2012).
Peningkatan jumlah insulin yang disekresikan oleh sel
beta pankreas diperlukan untuk mengatasi resistensi insulin dan
mencegah terbentuknya glukosa dalam darah. Pada penderita
toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat sekresi
insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan dipertahankan
pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun
demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi
peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan

13

meningkat dan terjadi Diabetes Tipe II (Brunner & Suddarth,


2012).
2.1.1.3. Klasifikasi
Diabetes Mellitus biasanya dibagi dalam dua jenis berbeda
yaitu Diabetes Juvenilis yang biasanya dimulai mendadak pada
awal kehidupan dan Diabetes dengan awitan maturitas, yang
dimulai di usia lanjut dan terutama pada orang kegemukan
(Guyton & Hall, 2006).
Menurut ADA (2004) dalam Smeltzer & Bare (2008)
terdapat empat jenis utama DM, terdiri dari:
1. DM Tipe I
Terjadi sebanyak 5-10% dari semua DM. Sel beta pankreas
yang menghasilkan insulin dirusak oleh proses autoimun,
sehingga pasien memproduksi insulin dalam jumlah sedikit
atau tidak ada dan memerlukan terapi insulin untuk
mengontrol kadar gula darah pasien. DM tipe I dicirikan
dengan onset yang akut dan biasanya terjadi pada usia < 30
tahun.
2. DM Tipe II
DM tipe 2 mengenai 90-95% pasien dengan DM. Pada DM
tipe ini, individu mengalami penurunan sensitivitas terhadap
insulin (resistensi insulin) dan kegagalan fungsi sel beta
yang mengakibatkan penurunan produksi insulin. Insidensi

14

terjadi lebih umum pada usia >30 tahun, obesitas, herediter,


dan faktor lingkungan.
3. DM tipe lain
DM dapat berkembang dari gangguan dan pengobatan lain.
Kelainan

genetik

dalam

sel

beta

dapat

memacu

berkembangnya DM. Beberapa hormon seperti hormon


pertumbuhan, kortisol, glukagon dan epinephrine bersifat
antagonis atau melawan kerja insulin. Kelebihan jumlah
hormon-hormon tersebut dapat menyebabkan terjadinya
DM. Tipe ini terjadi sebanyak 1-2% dari semua DM (Black
& Hawks, 2005).
4. DM gestasional
DM yang timbul selama kehamilan akibat sekresi hormonhormon plasenta yang mempunyai efek metabolik terhadap
toleransi glukosa. Terjadi pada 2-5% wanita yang hamil,
tetapi hilang saat melahirkan. Resiko terjadi pada wanita
dengan anggota keluarga riwayat DM dan obesitas.
2.1.1.4. Faktor Resiko Diabetes Melitus
Faktor resiko DM tipe II meliputi:
1. Genetik
Anak dari penderita DM tipe II mempunyai peluang
menderita DM tipe II sebanyak 15% dan 30% resiko
berkembang

intoleransi

glukosa

(ketidakmampuan

15

metabolisme karbohidrat secara normal) (LeMone & Burke,


2008).
2. Usia
Proses menua yang berlangsung setelah usia 30 tahun
mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologi dan biokimia.
Perubahan dimulai dari tingkat sel, berlanjut pada tingkat
jaringan dan akhirnya pada tingkat organ yang dapat
mempengaruhi fungsi homeostatis.
3. Berat badan/obesitas (BB 20% berat ideal atau BMI 27
kg/m2)
Obesitas khususnya pada tubuh bagian atas, menyebabkan
berkurangnya jumlah sisi reseptor insulin yang dapat
bekerja di dalam sel pada otot skeletal dan jaringan lemak.
Prosesnya disebut sebagai resistensi insulin perifer.
Obesitas juga merusak kemampuan sel beta untuk melepas
pada saat terjadi peningkatan glukosa darah (Smeltzer &
Bare, 2008).
4. Aktifitas
Aktiviats fisik berdampak terhadap aksi insulin pada orang
yang beresiko DM. Suyono dalam Sugondo & Subekti
(2009) menjelaskan bahwa kurangnya aktivitas merupakan
salah satu faktor yang ikut berperan menyebabkan resistensi
insulin pada DM tipe II.

16

5. Hipertensi (Tekanan darah 140/90 mmHg)


6. Kadar HDL kolesterol 35 mg/dl (0,09 mmol/L) dan atau
kadar trigliserida 259 mg/dl (2,8 mmol/L).
7. Riwayat diabetes gestasional atau melahirkan bayi > 4 kg.
2.1.1.5. Komplikasi Diabetes Mellitus
Komplikasi DM terbagi dua berdasarkan lama terjadinya,
yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronis (Black & Hawks,
2005).
1. Komplikasi akut
Terdapat tiga komplikasi akut utama pada pasien DM
berhubungan dengan ketidakseimbangan singkat kadar
glukosa darah, yaitu berupa hiperglikemia, diabetik
ketoasidosis dan hiperglikemi hiperosmolar nonketosis
(LeMone & Burke, 2008).
2. Komplikasi kronis
Komplikasi jangka panjang mempengaruhi hampir seluruh
sistem

tubuh

dan

menjadi

penyebab

utama

ketidakmampuan pasien. Kategori umum komplikasi


jangka panjang terdiri dari penyakit mikrovaskuler dan
penyakit mikrovaskuler dan neuropati.
a. Komplikasi makrovaskuler
Komplikasi makrovaskuler diakibatkan dari perubahan
pembuluh darah yang sedang hingga besar. Dinding

17

pembuluh darah menebal, sklerosis dan menjadi oklusi


oleh plaque yang menempel di dinding pembuluh
darah.

Biasanya

terjadi

sumbatan

aliran

darah.

Perubahan aterosklerotic ini cenderung dan sering


terjadi pada pasien usia muda, dan DM tidak stabil.
Jenis komplikasi makrovaskuler yang sering terjadi
adalah

penyakit

arteri

koroner,

penyakit

cerebrovaskuler dan penyakit vaskuler perifer.


b. Komplikasi mikrovaskuler
Perubahan mikrovaskuler pada pasien DM melibatkan
kelainan struktur dalam membran dasar pembuluh
darah kecil dan kapiler. Membran dasar kapiler diliputi
oleh sel endotel kapiler. Kelainan ini menyebabkan
membran

dasar

kapiler

menebal,

seringkali

menyebabkan penurunan perfusi jaringan. Perubahan


membran dasar diyakini disebabkan oleh salah satu
atau beberapa proses berikut: adanya peningkatan
jumlah sorbitol (suatu zat yang dibuat sebagai langkah
sementara dalam perubahan glukosa menjadi fruktosa),
pembentukan glukoprotein abnormal atau masalah
pelepasan oksigendari hemoglobin (LeMone & Burke,
2008). Dua area yang dipengaruhi perubahan ini adalah
retina dan ginjal. Komplikasi mikrovaskuler di retina

18

disebut

retinopatidiabetik

sedangkan

Komplikasi

mikrovaskuler di ginjal disebut nefropati diabetik.


c. Neuropati
Neuropatidiabetik menjekaskan sekumpulan gejala
penyakit yang mempengaruhi semua jenis saraf,
meliputi saraf perifer, otonom dan spinal. Neuropati
merupakan perburukan yang progresif dari saraf yang
diakibatkan oleh kehilangan fungsi saraf.
2.1.1.6. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan
aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk
mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik.
Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar
glukosa

darah

normal

(euglikemia)

tanpa

terjadinya

hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien


(Brunner & Suddart, 2012).
Menurut Brunner & Suddarth (2012), ada lima komponen
dalam penatalaksanaan DM, antara lain :
1. Terapi Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan Diabetes (Brunner & Suddart, 2012). Diet
penderita DM ditujukan untuk mengatur jumlah kalori dan
karbohidrat yang dimakan setiap hari. Jumlah kalori yang

19

dianjurkan tergantung sekali pada kebutuhan untuk


mempertahankan, mengurangi, atau menambah berat
badan (Guyton & Hall, 2006). Bagi pasien yang
memerlukan insulin untuk membantu mengendalikan
kadar glukosa darah, upaya mempertahankan konsistensi
jumlah kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi pada jamjam makan yang berbeda merupakan hal penting.
Konsistensi interval waktu diantara jam makan dengan
mengkonsumsi camilan, akan membantu mencegah reaksi
hipoglikemia dan pengendalian keseluruhan kadar glukosa
darah.
Bagi pasien-pasien obesitas khususnya pasien Diabetes
Tipe II, penurunan berat badan merupakan kunci dalam
penanganan DM. Secara umum penurunan berat badan
bagi individu obesitas menjadi faktor utama untuk
mencegah timbulnya penyakit Diabetes (Brunner &
Suddart, 2012).
Kebutuhan insulin pada penderita Diabetes ditentukan
oleh standar penderita yang mengandung karbohidrat
dalam jumlah normal dan terkontrol baik serta perubahan
jumlah masukan karbohidrat mengubah kebutuhan akan
insulin.

Pada

orang

normal,

pankreas

memiliki

kemampuan untuk menyesuaikan jumlah insulin yang

20

dihasilkan terhadap masukan karbohidrat, tetapi pada


orang Diabetes total, pengaturan ini hilang sama sekali
(Guyton & Hall, 2006).
Tujuan diet penyakit DM adalah membantu pasien
memperbaiki kebiasaan makan dan olah raga untuk
mendapatkan kontrol metabolik yang lebih baik, dengan
cara :
a. Mempertahankan

kadar

glukosa

darah

supaya

mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan


makanan dengan insulin (endogenous dan exogenous)
dengan obat penurun glukosa oral dan aktivitas fisik.
b. Mencapai dan mempertahankan kadar lipida serum
normal.
c. Memberi cukup energi untuk mempertahankan atau
mencapai berat badan normal.
d. Menghindari atau menangani komplikasi akut pasien
yang menggunakan insulin seperti hipoglikemia,
komplikasi jangka pendek, dan komplikasi jangka lama
serta masalah yang berhubungan dengan latihan
jasmani.
e. Meningkatkan derajat kesehatan secara keseluruhan
melalui gizi yang optimal.
(Almatsier, 2005)

21

Diet

yang

penatalaksanaan

digunakan
Diabetes

sebagai

bagian

Mellitus

dari

dikontrol

berdasarkan kandungan energi, protein, lemak, dan


karbohidrat. Sebagai pedoman dipakai delapan jenis
diet DM. Penetapan diet ditentukan oleh keadaan
pasien, jenis DM, dan program pengobatan secara
keseluruhan.
Kebutuhan kalori yang sesuai untuk mencapai dan
mempertahankan berat badan ideal adalah dengan
komposisi energi 60% sampai 70% dari karbohidrat,
10-15% dari protein dan 20-25% dari lemak. Ada
beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang
dibutuhkan orang dengan diabetes. Diantaranya adalah
dengan

memperhitungkan

berdasarkan

kebutuhan

kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal,


ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa
faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktifikasi, kehamilan
atau laktasi, adanya komplikasi, dan berat badan.
Sedangkan cara yang lebih gampang lagi adalah dengan
pegangan kasar, yaitu untuk pasien kurus 2300-2500
kalori, normal 1700-2100 kalori dan gemuk 1300-1500
kalori (Hiswani, 2005).

22

Tabel 2.1. Kebutuhan Kalori Orang Dengan DM


Dewasa
Gemuk
Normal
Kurus

Kalori/Kg Berat Badan


Kerja Santai Kerja Sedang Kerja Berat
25
30
35
30
35
40
35
40
40-50

2. Latihan fisik
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan DM karena
efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan
mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Latihan akan
menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan
pengambilan

glukosa

oleh

otot

dan

memperbaiki

pemakaian insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga


diperbaiki dengan berolah raga (Brunner & Suddart,
2012). Pada individu nondiabetik pelepasan insulin
menurun selama latihan dan dengan demikian tidak terjadi
hipoglikemia, tetapi bagi pasien-pasien yang mendapat
injeksi insulin tidak dapat melakukan latihan dan
pemakaian glukosa yang meningkat sewaktu latihan dapat
menimbulkan hipoglikemia. Pasien perlu melakukan
pengaturan waktu yang tepat dalam melakukan latihan
fisik agar dapat melakukan pengaturan kadar glukosa yang
lebih baik (Guyton & Hall, 2006).
Meskipun demikian, penderita DM dengan kadar glukosa
darah lebih dari 250mg/dl (14 mmol/L) dan menunjukkan

23

adanya keton dalam urin tidak boleh melakukan latihan


sebelum pemeriksaan keton urin memperlihatkan hasil
negatif dan kadar glukosa darah telah mendekati normal.
Latihan dengan kadar gukosa darah yang tinggi akan
meningkatkan sekresi glukagon, growth hormone, dan
katekolamin. Peningkatan hormon ini membuat hati
melepas lebih banyak glukosa sehingga terjadi kenaikan
kadar glukosa darah (Smeltzer & Bare, 2008).
3. Pemantauan
Penderita Diabetes dapat melakukan pemantauan kadar
gukosa darah secara mandiri dengan cara mengatur
terapinya untuk mengendalikan kadar glukosa darah
secara optimal. Cara ini memungkinkan deteksi dan
pencegahan hipoglikemia dan hiperglikemia, dan berperan
dalam menentukan kadar glukosa darah normal yang
kemungkinan akan mengurangi komplikasi Diabetes
jangka panjang (Brunner & Sudarth, 2012).
Metode yang digunakan dalam pemantauan kadar gukosa
darah secara mandiri harus sesuai dengan tingkat
keterampilan pasien. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pemantauan mandiri glukosa darah mencakup ketajaman
penglihatan, koordinasi motorik yang baik, kemampuan
intelektual, kebiasaan dalam menggunakan teknologi,

24

kemauan, dan biaya. Perawat berperan penting dalam


mengajarkan tentang pemantauan mandiri glukosa darah.
Perawat mengevaluasi teknik yang digunakan oleh pasien
yang sudah berpengalaman dalam pemantauan mandiri.
Kepada pasien harus diberitahukan agar tidak membeli
produk pemantauan mandiri dari toko atau katalog yang
tidak menyertakan petunjuk pemakaian. Setiap 6 sampai
12 bulan sekali, pasien harus membandingkan pengukuran
alat yang dimilikinya dengan hasil pemeriksaan kadar
glukosa darah yang dilakukan oleh laboratorium pada saat
yang bersamaan (Brunner & Suddarth, 2012).
4. Terapi obat
Pada DM Tipe I, tubuh kehilangan kemampuan untuk
memproduksi

insulin.

Dengan

demikian,

insulin

eksogenus harus diberikan dalam jumlah tak terbatas. Pada


DM Tipe II, insulin mungkin diperlukan sebagai terapi
jangka panjang untuk mengendalikan kadar glukosa darah
jika diet dan obat hipoglikemia oral tidak berhasil
mengontrolnya. Di samping itu, sebagian pasien DM Tipe
II yang biasanya mengendalikan kadar glukosa darah
dengan diet atau dengan diet dan obat oral kadang
membutuhkan insulin secara temporer selama mengalami

25

sakit, infeksi, kehamilan, pembedahan, atau beberapa


kejadian stres lainnya (Brunner & Suddart, 2012).
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik
oral dapat menjadi 3 golongan, yaitu:
a. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi
obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan
glinida (meglitinida dan turunan fenilalanin).
b. Sensitiser insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan
sensitifitas sel terhadap insulin), meliputi obat-obat
hipoglikemik golongan biguanida dan tiazolidindion,
yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan
insulin secara lebih efektif.
c. Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain inhibitor
-glukosidase yang bekerja menghambat absorpsi
glukosa dan umum digunakan untuk mengendalikan
hiperglikemia post-prandial (post-meal hyperglycemia).
Disebut juga starch-blocker (Depkes RI, 2005) .
Pasien-pasien dengan gejala DM yang ringan dapat
mempertahankan kadar glukosa darah normal hanya
dengan menjalankan diet saja. Tetapi, pasien-pasien
diabetik dengan sisa sel-sel pulau Langerhans yang masih
berfungsi merupakan calon yang tepat untuk penggunan
agen hipoglikemik oral seperti sulfonilurea. Obat-obat ini

26

merangsang fungsi sel beta dan meningkatkan sekresi


insulin. Selain itu, obat ini juga memperbaiki kerja perifer
dari

insulin,

penatalaksanaan

dengan

demikian

pasien-pasien

DM

berguna
Tipe

dalam
II

yang

mengalami gangguan responnya terhadap insulin. Pasien


DM Tipe I telah kehilangan fungsi sel-sel pulau
Langerhansnya dan agen hipoglikemik oral tidak efektif
untuk mereka (Price & Wilson, 2008).
5. Pendidikan
Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang
memerlukan perilaku penanganan mandiri yang khusus
seumur hidup. Karena diet, aktivitas fisik, dan stres fisik
serta

emosional

dapat

mempengaruhi

pengendalian

Diabetes, maka pasien harus belajar untuk mengatur


keseimbangan berbagai faktor. Pasien bukan hanya harus
belajar keterampilan untuk merawat diri sendiri setiap hari
guna menghindari penurunan atau kenaikan kadar glukosa
darah yang mendadak, tetapi juga harus memiliki perilaku
preventif dalam gaya hidup untuk menghindari komplikasi
diabetik jangka panjang. Penghargaan pasien tentang
pentingnya pengetahuan dan keterampilan yang harus
dimiliki oleh penderita Diabetes dapat membantu perawat

27

dalam melakukan pendidikan dan penyuluhan (Brunner &


Suddart, 2012).
2.1.2. Kepatuhan
2.1.2.1.Definisi
Kepatuhan didefinisikan sebagai keterlibatan pasien yang
bersifat aktif, sukarela dan kolaboratif dalam menerima perilaku
untuk mencapai hasil yang terapeutik (Thorm, 2006). Kepatuhan
dimaknai sebagai perilaku seseorang dalam meminum obat,
mengikuti anjuran diet dan atau melakukan perubahan gaya
hidup yang sesuai dengan rekomendasi dari tenaga kesehatan
profesional (WHO, 2003).
Kepatuhan merupakan suatu perilaku dalam bentuk respon
atau reaksi terhadap stimulus atau rangsangan dari luar
organisme. Respon sangat bergantung pada karakteristik atau
faktor-faktor lain. Green (1980, dalam Notoatmodjo, 2007)
menjabarkan bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh tiga
faktor yaitu faktor predisposisi, faktor pemungkin dan faktor
penguat.
Kepatuhan adalah kerelaan individu untuk melakukan
sesuatu yang diharapkan atau diminta oleh pemegang otoritas
atau kekuasaan yang ditandai dengan tunduk dengan kerelaan,
mengalah, membuat suatu keinginan konformitas dengan
harapan atau kemauan orang lain sehingga dapat menyesuaikan

28

diri. Jika dilihat dari aspek kesehatan dimaksudkan individu rela


melakukan pengobatan dengan dukungan dari keluarga atau
kerabat yang ditentukan oleh otoritas atau kebijakan petugas
kesehatan seperti dokter, ahli gizi maupun ahli medis serta
kerelaan dari individu tersebut dalam menjalani pengobatan
yang dilakukan. Kesadaran diri, pemahaman, kepribadian
menjadi komponen terpenting dalam pembentukan kepatuhan
terhadap sistem pengobatan tertentu (Saifunurmazah, 2013).
Ketidakpatuhan adalah individu tidak melaksanakan
sebuah program pengobatan yang disarankan dari pihak luar,
yakni otoritas individu yang kuat yang menyebabkan individu
enggan untuk melaksanakan kepatuhan yang disarankan. Sosial
preasure atau tekanan sosial baik dari petugas kesehatan atau
keluarga tidak memberikan efek pada perubahan individu dalam
melaksanakan pengobatan atau terapi. Ketidakpatuhan dapat
mendatangkan beberapa konsekuensi yang harus ditanggung
individu. Beberapa konsekuensi yang harus ditanggung individu
mungkin tidak dirasakan secara langsung, namun dampak serius
akibat sikap tidak patuh mampu memberikan efek dikemudian
waktu (Saifunurmazah, 2013).

29

2.1.2.2. Faktor yang Mempengaruhi


Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ada lima faktor
yang berhubungan dengan kepatuhan terhadap penatalaksanaan
DM
1.

Faktor Demografi
Status minorits, status sosial ekonomi dan tingkat
pendidikan yang rendah seringkali dihubungkan dengan
rendahnya kepatuhan terhadap penatalaksanaan terapi DM
dan besarnya angka morbiditas pada DM (Delamater,
2006).

2.

Faktor Psikologis
The health belief model adalah sebuah model psikologi
yang digunakan untuk memahami dan memprediksi
perilaku sehat melalui aspek sikap dan keyakinan individu.
Model ini sangat membantu untuk mengidentifikasi
hambatan-hambatan yang mempengaruhi seorang pasien
dalam mencapai tujuannya dan mendemonstrasikan praktisi
kesehatan dalam meningkatkan perilaku sehat pasien
(Shapiro, 2008).
Konsep HBM terdiri dari:
a. Perceived susceptibility, persepsi seseorang mengenai
status kesehatannya/penyakit yang sedang diderita.

30

b. Perceived
keseriusan

severity,

persepsi

penyakit

yang

seseorang
sedang

mengenai

diderita

dan

konsekuensi yang akan didapat akibat penyakit/kondisi


tersebut.
c. Perceived

benefit,

keyakinan

seseorang

mengenai

keefektifan tindakan yang disarankan untuk mengurangi


resiko atau keseriusan dampak.
d. Perceived barier pendapat seseorang mengenai dampak
psikologis dari tindakan yang disarankan.
e. Cues to action, strategi untuk mengaktivasi niat atau
kesiapan untuk bertindak
f. Self efficacy, rasa percaya diri dalam melakukan suatu
tindakan.
Keyakinan terhadap terhadap konsep sehat yang sesuai
seperti tingkat keparahan DM yang diderita, potensial
komplikasi dan efektifitas pengobatan mampu memprediksi
kepatuhan dengan baik (Delamater, 2006). Pasien akan
patuh jika penatalaksanaan terapi terkesan masuk akal,
efektif, biaya yang dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang
didapatkan,

merasa

mempunyai

kemampuan

untuk

mengikuti program dan ketika lingkungan mendukung


perilaku yang sesuai dengan program penatalaksanaan DM.

31

3.

Faktor Sosial
Penjelasan mengenai keefektifan dukungan sosial adalah
direct effects, indirect effects dan buffering effects. Direct
effects disebabkan kontak interpersonal yang terjadi dapat
meningkatkan tingkah laku dan pola hidup sehat akibat
akumulasi efek positif dari pengalaman interpersonal yang
baik. Indirect effects terjadi karena pemberian dukungan
tersebut di saat krisis sehingga menurunkan stres seseorang
atau mampu menjadikan masalah tersebut menjadi lebih
kecil, lebih terkontrol dan menyelesaikan masalah kecil
sebelum menjadi masalah yang besar. Buffering effects
dapat menghilangkan efek negatif dari stres dengan
mempengaruhi pemahaman, kualitas, dan kuantitas dari
sumber stres tersebut.

4.

Faktor Sistem Pelayanan Kesehatan


Notoatmodjo

(2007)

mengemukakan

bahwa

sistem

pelayanan kesehatan mencakup pelayanan kedokteran dan


pelayanan kesehatan masyarakat yang diberikan oleh tenaga
kesehatan profesional termasuk di antaranya perawat.
Hubungan yang baik dan saling percaya antara pasien DM
dengan tenaga kesehatan profesional sangat penting untuk
mempertahankan sikap positif terhadap terapi sehingga
mampu meningkatkan kepatuhan terhadap rekomendasi

32

terapi, yang pada akhirnya meningkatkan kontrol glikemik


(Delamater, 2006). Pasien yang membuat rencana terapi
dengan bantuan saran dan dukungan dari tenaga kesehatan,
cenderung lebih patuh terhadap rekomendasi terapi daripada
pasien yang diminta untuk mengikuti terapi tanpa kontribusi
atau masukan apapun dari pihak pasien (Shapiro, 2007).
2.1.2.3. Kepatuhan Diet pada Pasien DM
Sebagai sebuah kelompok, pasien DM mempunyai
kecenderungan untuk mengalami ketidakpatuhan terhadap
pengobatan (Delamater, 2006). Secara general, hasil riset
menunjukkan

bahwa

penatalaksanaan

DM

bersifat

multidimensional, dan kepatuhan terhadap salah satu komponen


penatalaksanaan atau terapi tidak selalu terkait dengan
kepatuhan pada komponen terapi lainnya (Kravitz, 1993 cit.
Delamater, 2006).
Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan terhadap
terapi obat lebih baik daripada terhadap perubahan gaya hidup
seperti diet dan olahraga (Glasgow, 1993, cit. Delamater, 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh Bangun (2009) menemukan hasil
bahwa tingkat kepatuhan pasien DM terhadap terapi diet adalah
35%.
Hasil yang lebih baik ditemukan dari penelitian Senuk,
Supit & Onibala (2015), dimana tingkat kepatuhan pasien DM

33

terhadap terapi diet adalah 53,6%. Triana, Karim dan Jumaini


dalam penelitiannya juga menemukan bahwa kepatuhan pasien
DM terhadap terapi diet hanya 57,6%.
Rendahnya tingkat kepatuhan pasien DM terhadap terapi
diet sehubungan dengan jenis dan jumlah makanan yang
dianjurkan (Smeltzer & Bare, 2008). Pengetahuan pasien dan
keyakinan tentang penyakit, motivasi untuk mengelolanya,
kepercayaan (self efficacy) tentang kemampuan untuk terlibat
dalam perilaku manajemen penyakit, dan harapan mengenai
hasil pengobatan serta konsekuensinya dari ketidakpatuhan
berinteraksi untuk mempengaruhi kepatuhan dengan cara yang
belum sepenuhnya dipahami (Sabate, 2001).
2.1.2.4. Pengukuran Kepatuhan
Metode yang tersedia untuk mengukur kepatuhan terbagi
menjadi dua, yaitu metode langsung dan tidak langsung. Setiap
metode mempunyai kelebihan dan kekurangan, dan tidak ada
metode yang dianggap gold standart. Metode langsung (direct
methode) termasuk di antaranya terapi observasi langsung,
pengukuran kadar obat atau hasil metabolismenya dalam
darah, atau pengukuran tanda biologi pada urin. Pendekatan
langsung, meskipun akurat dalam mengkaji kepatuhan, namun
tidak

ekonomis,

menyulitkan

peneliti,

dan

berpotensi

menyebabkan distorsi pada pasien. Metode tidak langsung

34

(indirect methode) untuk mengkaji kepatuhan antara lain


menggunakan kuesioner, dan laporan pasien (patient self
report), penghitungan tablet obat, tingkat penggunaan resep
dokter, pengkajian, respon klinis pasien, penggunaan monitor
obat elektronik, penggunaan tanda psikologis dan catatan
harian pasien (Osterberg, 2002).
Tabel 2.2. Metode Pengukuran Kepatuhan
Tes
Kelebihan
Metode Langsung
Terapi
Observasi Paling akurat
langsung
Pengukuran
kadar Objektif
obat
atau
hasil
metabolisme dalam
darah

Pengukuran
tanda Objektif
biologis dalam darah
Metode Tidak Langsung
Kuesioner, patient Sederhana,
self report
ekonomis, metode
paling berguna pada
area klinik
Catatan
harian Membantu
pasien
mengatasi
recall
yang buruk
Bila pasien anak- Sederhana, objektif
anak menggunakan
kuesioner pada orang
tua atau guru
Pengukuran
tanda Mudah
untuk
fisiologis
dilaksanakan

Pengkajian

respon Sederhana,

Kekurangan
Tidak praktis untuk
penggunaan rutin
Variasi metabolisme
&
white
coat
adherence
dapat
memberikan kesan
salah,
kurang
ekonomis
Membutuhkan
pengujian kuantitatif
yang mahal
Rentan
terhadap
kesalahan, hasilnya
mudah didistrosi oleh
pasien
Mudah dipengaruhi
oleh pasien
Rentan
terhadap
distorsi data

Pertanda
mungkin
tidak
ditemukan
karena sebab lain
(contoh:
meningkatnya
metabolisme,
absorbsi yang huruk
dan
kurangnya
respon)
mudah Faktor lain selain

35

Tes
klinis pasien

Kelebihan
dilakukan

Kekurangan
kepatuhan
dapat
mempengaruhi
respon klinis

Sumber: Osterberg (2002)

Metode pengukuran kepetuhan yang dipergunakan dalam


penelitian ini menggunakan metode patient self report. Pasien
DM Tipe II diminta mengisi kuesioner yang dikembangkan oleh
peneliti terdiri dari 20 item pernyataan. Kepatuhan yang diteliti
adalah kepatuhan dalam menajlankan terapi diet yang meliputi jenis,
jumlah dan jadwal (ADA, 2007).

2.1.3. Pengetahuan
2.1.3.1. Pengertian
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau
hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang
dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan sebagainya). Dengan
sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi intensitas perhatian
dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan
seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan
indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2005).
Pengetahuan

itu

sendiri

dipengaruhi

oleh

faktor

pendidikan formal. Pengetahuan sangat erat hubungannya


dengan pendidikan, dimana diharapkan bahwa dengan
pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin luas
pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan

36

berarti

seseorang

yang

berpendidikan

rendah

mutlak

berpengetahuan rendah pula. Pengetahuan seseorang tentang


suatu objek mengandung dua aspek, yaitu aspek positif dan
negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan sikap
seseorang semakin banyak aspek positif dan objek yang
diketahui, maka akan menimbulkan sikap makin positif
terhadap objek tertentu (Dewi & Wawan, 2010).
2.1.3.2. Proses Perilaku TAHU
Menurut Rogers (1974) yang dikutip oleh Notoatmodjo
(2003), perilaku adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia
baik yang dapat diamati langsung dari maupun tidak dapat
diamati oleh pihak luar (Dewi & Wawan, 2010, p.15).
Sedangkan sebelum mengadopsi perilaku baru didalam diri
orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni :
1. Awareness (kesadaran), yakni orang tersebut menyadari
dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus
(objek).
2. Interest (merasa tertarik) dimana individu mulai menaruh
perhatian dan tertarik pada stimulus.
3. Evaluation

(menimbang-nimbang)

individu

akan

mempertimbangkan baik buruknya tindakan terhadap


stimulus tersebut bagi dirinya, hal ini berarti sikap
responden sudah baik lagi.

37

4. Trial, dimana individu mulai mencoba perilaku baru.


5. Adoption, subjek telah berperilaku baru sesuai dengan
pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
Pada penelitian selanjutnya Rogers (1974) yang dikutip oleh
Notoadmojo (2009), menyimpulkan bahwa pengadopsian
perilaku yang melalui proses seperti diatas dan didasari oleh
pengetahuan, kesadaran yang positif, maka perilaku tersebut
akan berlangsung langgeng (long lasting). Namun sebaliknya
jika perilaku tersebut tidak didasari oleh pengetahuan dan
kesadaran, maka perilaku tersebut bersifat sementara atau
tidak akan berlangsung lama. Perilaku manusia dapat dilihat
dari tiga aspek, yaitu aspek fisik, psikis dan sosial yang
secara terinci merupakan refleksi dari berbagai gejolak
kejiwaan seperti pengetahuan, motivasi, persepsi, sikap dan
sebagainya yang ditentukan dan dipengaruhi oleh faktor
pengalaman, keyakinan, sarana fisik, dan sosial budaya.
2.1.3.3. Tingkat Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006) pengetahuan seseorang dapat
diketahui dan diinterprestasikan dengan skala yang bersifat
kualitatif, yaitu :
Baik : Hasil presentase 76%-100%.
Cukup : Hasil presentase 56% - 75%.
Kurang : Hasil presentase < 56%.

38

Pengetahun yang cukup didalam domain kognitif mempunyai


6 tingkatan, yaitu (Notoatmodjo, 2007) :
1. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
pelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan
tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang
spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan
yang telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan
tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk
mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,
menyatakan dan sebagainya.
2. Memahami (Comprehention)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus
dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

39

3. Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real
(sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai
aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode,
prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4. Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di
dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu
sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan
(membuat

bagan),

membedakan,

memisahkan,

mengelompokkan, dan sebagainya.


5. Sintesis (Synthesis)
Sintesis

menunjuk kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam


suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain
sintesis

adalah

suatu

kemampuan

untuk

menyusun

formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.


6. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

40

Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kreteria yang


ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang
telah ada.
2.1.3.4. Cara Memperoleh Pengetahuan
Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan sepanjang sejarah dapat
dikelompokan menjadi dua menurut Notoatmodjo (2007),
yakni :
1. Cara Memperoleh Kebenaran Non ilmiah
a. Cara Coba Salah (Trial and Error)
Cara memperoleh kebenaran non ilmiah, yang pernah
digunakan

oleh

manusia

dalam

memperoleh

pengetahuan adalah melalui cara coba coba atau dengan


kata yang lebih dikenal trial and error. Metode ini
telah digunakan oleh orang dalam waktu yang cukup
lama untuk memecahkan berbagai masalah. Bahkan
sampai sekarang pun metode ini masih sering
digunakan, terutama oleh mereka yang belum atau tidak
mengetahui suatu cara tertentu dalam memecahkan
suatu masalah yang dihadapi. Metode ini telah banyak
jasanya,

terutama

dalam

meletakan

dasar-dasar

mennemukan teori-teori dalam berbagai cabang iilmu


pengetahuan.

41

b. Secara Kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan terjadi karena
tidak disengaja oleh orang yang bersangkutan. Salah
satu contoh adalah penemuan enzim urease oleh
Summers pada tahun 1926.
c. Cara Kekuasaan atau Otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali
kebiasaankebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan
oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang
dilakukan tersebut baik atau tidak kebiasaan seperti ini
tidak hanya terjadi pada masyarakat tradisional saja,
melainkan juga terjadi pada masyarakat modern. Para
pemegang otoritas, baik pemimpin pemerintah, tokoh
agama, maupun ahli ilmu pengetahuan pada prinsipnya
mempunyai mekanisme yang sama di dalam penemuan
pengetahuan.
d. Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi
pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa
pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau
pengalaman

itu

merupakan

suatu

cara

untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu


pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya

42

memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan


cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh
dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada
masa yang lalu.
e. Cara Akal Sehat
Akal sehat atau common sense kadang-kadang dapat
menemukan teori atau kebenaran. Sebelum ilmu
pendidikan ini berkembang, para orang tua zaman
dahulu agar anaknya mau menuruti nasihat orang
tuanya,atau agar anak disiplin menggunakan cara
hukuman fisik bila anaknya berbuat salah, misalnya
dijewer

telinganya

atau

dicubit.

Ternyata

cara

menghukum anak ini sampai sekarang berkembang


menjadi teori atau kebenaran, bahwa hukuman adalah
merupakan metode (meskipun bukan yang paling baik)
bagi pendidikan anak. Pemberian hadiah dan hukuman
(reward and punishment) merupakan cara yang masih
dianut oleh banyak orang untuk mendisiplinkan anak
dalam konteks pendidikan.
f. Kebenaran Melalui Wahyu
Ajaran dan dogma agama adalah suatu kebenaran yang
diwahyukan dari Tuhan melalui para Nabi. Kebenaran
ini harus diterima dan diyakini oleh pengikut-pengikut

43

agama yang bersangkutan, terlepas dari apakah


kebenaran tersebut rasional atau tidak.
g. Kebenaran secara Intuitif
Kebenaran secara intuitif diperoleh manusia cepat
sekali melalui proses diluar kesadaran dan tanpa
melalui proses penalaran atau berpikir. Kebenaran yang
diperoleh melalui intuitif sukar dipercaya karena
kebenaran ini tidak menggunakan cara-cara yang
rasional dan yang sisitematis. Kebenaran ini diperoleh
seseorang hanya berdasarkan intuisi atau suara hati atau
bisikan hati saja.
h. Melalui Jalan Pikiran
Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat
manusia, cara berfikir manusia pun ikut berkembang.
Dari

sini

manusia

telah

mampu

menggunakan

penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya.


Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran
pengetahuan

manusia

telah

menggunakan

jalan

pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi.


i. Induksi
Induksi adalah proses penarikan kesimpulan yang
dimulai

dari

pernyataan-pernyataan

khusus

ke

pertanyaan yang bersifat umum. Proses berpikir induksi

44

berasal dari hasil pengamatan indra atau hal-hal yang


nyata, maka dapat dikatakan bahwa induksi beranjak
dari hal-hal yang konkret kepada hal-hal yang abstrak.
j. Deduksi
Deduksi

adalah

pembuatan

pernyataan-pernyataan

umum

kesimpulan
yang

ke

dari
khusus.

Aristoteles (384-322SM) mengembangkan cara berpikir


deduksi ini ke dalam suatu cara yang disebut
silogisme.

Silogisme

merupakan

suatu

bentuk

deduksi berlaku bahwa sesuatu yang dianggap benar


secara

umumpada

kelas

tertentu,

berlaku

juga

kebenarannya pada semua peristiwa yang terjadi pada


setiap yang termasuk dalam kelas itu
2. Cara Ilmiah dalam Memperoleh Pengetahuan
Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan
pada dewasa ini lebih sistimatis, logis dan ilmiah. Cara ini
disebut metode penelitian ilmiah, atau lebih popular
disebut metodologi penelitian (research methodology). Cara
ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (15611626).

Ia

mengatakan

bahwa

dalam

memperoleh

kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi


langsung, dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap

45

semua fakta sehubungan dengan objek yang diamati.


Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok yakni :
a. Segala sesuatu yang positif, yakni gejala tertentu yang
muncul pada saat dilakukan pengamatan
b. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang
tidak muncul pada saat dilakukan pengamatan
c. Gejala-gejala yang muncul secara bervariasi, yaitu
gejala-gejala yang berubah-ubah pada kondisi-kondisi
tertentu.
2.1.3.5. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
1. Faktor Internal
a. Pendidikan
Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi
misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB
Mantra yang dikutip Notoatmodjo (2003), pendidikan
dapat

mempengaruhi

seseorang

termasuk

juga

perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam


memotivasi untuk sikap berperan serta dalam
pembangunan (Nursalam, 2008) pada umumnya
makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah
menerima informasi.

46

b. Pekerjaan
Menurut Thomas yang dikutip oleh Nursalam (2008),
pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan
terutama

untuk

menunjang

kehidupannya

dan

kehidupan keluarga.
c. Umur
Menurut Elisabeth BH yang dikutip Nursalam (2008),
usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat
dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut
Hurlock (1998) semakin

cukup umur, tingkat

kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih


matang dalam dalam berfikir dan bekerja.
2. Faktor Eksternal
a. Faktor lingkungan
Menurut Ann.Mariner yang dikutip dari Nursalam
(2008) lingkungan merupakan suatu kondisi yang ada
disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat
mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau
kelompok.
b. Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat
mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.

47

2.1.4. Motivasi
2.1.4.1. Pengertian
Motivasi adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri
seseorang yang mendorong untuk melakukan suatu aktifitas
tertentu guna tercapainya suatu tujuan. Seluruh aktivitas
mental yang dirasakan / dialami yang memberikan kondisi
sehingga terjadinya perilaku tersebut disebut motif. Dalam
psikologi,

motif

adalah

rangsangan,

dorongan,

atau

pembangkit tenaga bagi terjadinya suatu tingkah laku. Karena


dilatar belakangi adanya motif, tingkah laku tersebut disebut
tingkah laku bermotivasi (Dirga Gunarsa, 1996).
Tingkah laku bermotivasi itu sendiri dapat dirumuskan
sebagai tingkah laku yang dilatarbelakangi oleh adanya
kebutuhan dan diarahkan pada pencapaian suatu tujuan, agar
suatu kebutuhan terpenuhi dan suatu kehendak terpuaskan
(Dirga Gunarsa, 1996). Dalam perumusan tersebut beberapa
unsur pada tingkah laku tersebut akan membentuk lingkaran
motivasi (motivational cycle).
Motivasi merupakan kondisi fisiologis dan psikologis
yang terdapat dalam diri manusia yang mendorongnya untuk
melakukan aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan dan
tujuan merupakan kebutuhan kita. Psikologi, seperti setiap
ilmu pengetahuan yang melebihi taraf diskripsi belaka, iapun

48

tidak hanya memandang dan melukiskan objeknya, tetapi juga


ingin mengerti, yaitu mengetahui sebab musababnya. Dalam
hal ini motivasi merupakan sebab musabab dari tingkah laku
manusia.
Abraham Maslow (Hierarki Kebutuhan) menjelaskan
bahwa manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan yang
paling penting baginya pada suatu waktu tertentu. Adakalanya
tidak seimbang kebutuhan menyebabkan timbulnya dorongan
motivasi. Adapun kebutuhan manusia terbagi menjadi 5
tingkat, yaitu : yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa
aman, kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan
aktualisasi diri. Berikut ini beberapa ciri motivasi dalam
perilaku :
1. Penggerakan
tanggapan

menggejala
yang

dalam

bervariasi.

bentuk

Motivasi

tanggapantidak

hanya

merangsang suatu perilaku tertentu saja, tetapi merangsang


berbagai kecenderungan berperilaku yang memungkinkan
tanggapan yang berbeda.
2. Kekuatan dan afiensi perilaku mempunyai hubungan yang
bervariasi dengan kekuatan determinan. Rangsang yang
lemah mungkin menimbulkan reaksi hebat atau sebaliknya.
3. Motivasi mengarahkan perilaku pada tujuan tertentu.

49

4. Penguatan positif menyebabkan suatu perilaku tertentu


cenderung untuk diulangi kembali.
5. Kekuatan perilaku akan melemah bila akibat dari perbuatan
itu bersifat tidak enak.
2.1.4.2. Teori Motivasi
Untuk memahami masalah kebutuhan secara lebih utuh, di sini
akan diketengahkan teori-teori mengenai kebutuhan dalam
psikologi modern, diantaranya :
1. Hierarki kebutuhan Maslow
Secara singkat, Maslow berpendapat bahwa kebutuhan
manusia sebagai pendorong (motivator) membentuk suatu
hierarki atau jenjang peringkat (Ivancevich, 2005). Menurut
Abraham Maslow, ada 5 tingkatan need / kebutuhan manusia,
yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman,
kebutuhan sosial, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan
aktualisasi diri. Jenjang motivasi bersifat mengikat, maksudnya
kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah harus relatif
terpuaskan sebelum orang menyadari atau dimotivasi oleh
kebutuhan yang jenjangnya lebih tinggi (Marquis & Huston,
2006). Kelima tingkat kebutuhan itu, menurut Maslow (cit.
Robbins & Judge, 2008), ialah berikut ini:

50

a. Kebutuhan-kebutuhan

yang

bersifat

fisiologis

(Physiological Needs)
Kebutuhan

yang bersifat

fisiologis

ini

merupakan

kebutuhan yang paling dasar, paling kuat dan paling jelas


diantara segala kebutuhan manusia. Kebutuhan ini
menyangkut kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya
secara fisik, yaitu kebutuhan makanan, minuman, tempat
berteduh, seks, tidur dan oksigen. Menurut Maslow,
selama hidupnya, praktis manusia selalu mendambakan
sesuatu. Manusia adalah binatang yang berhasrat dan
jarang mencapai taraf kepuasan yang sempurna, kecuali
untuk suatu saat yang terbatas. Begitu suatu hasrat berhasil
dipuaskan, segera muncul hasrat lain sebagai gantinya.
b. Kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs)
Kebutuhan

ini

keamanan

hukum

meliputi

kebutuhan

kebebasan dari

perlindungan,

rasa

takut

dan

kecemasan. Kebutuhan fisiologis dan keamanan pada


dasarnya adalah kebutuhan mempertahankan kehidupan.
Kebutuhan fisiologis adalah

pertahanan hidup jangka

pendek, sedang keamanan adalah pertahanan hidup jangka


panjang. Menurut Maslow, kebutuhan rasa aman sudah
dirasakan individu sejak kecil ketika ia mengeksplorasi
lingkungannya. Seperti anak-anak, orang dewasapun

51

membutuhkan rasa aman, hanya saja kebutuhan tersebut


lebih kompleks.
c. Kebutuhan cinta dan memiliki dimiliki (Belongingness
and Love Needs)
Kebutuhan ini muncul ketika kebutuhan sebelumnya telah
terpenuhi. Kebutuhan ini terus penting sepanjang hidup,
sebab setiap orang sangat peka dengan kesendirian,
pengasingan, ditolak lingkungan dan kehilangan sahabat
atau kehilangan cinta. Maslow mengatakan bahwa kita
semua membutuhkan rasa diingini dan diterima oleh orang
lain. Ada yang memuaskan kebutuhan ini melalui
berteman, berkeluarga atau berorganisasi.
d. Kebutuhan harga diri (Self Esteem Needs)
Kepuasan kebutuhan harga diri menimbulkan perasaan
dan sikap percaya diri, diri berharga, diri mampu dan
perasaan berguna dan penting didunia. Sebaliknya, frustasi
karena kebutuhan harga

diri tak terpuaskan akan

menimbulkan perasaan dan sikap inferior, lemah, pasif,


tidak mampu mengatasi tuntutan hidup dan rendah diri
dalam bergaul.
e. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization Needs)
Kebutuhan

ini

akan

timbul

pada

seseorang

bila

kebutuhankebutuhan lainnya telah terpenuhi. Aktualisasi

52

diri adalah keinginan untuk memperoleh kepuasan dengan


dirinya sendiri, untuk menjadi apa saja yang dia dapat
lakukan dan untuk menjadi kreatif dan bebas mencapai
puncak prestasi potensinya. Menurut Maslow, salah satu
prasyarat

untuk

mencapai

aktualisasi

diri

adalah

terpuaskannya berbagai kebutuhan yang lebih rendah,


yaitu kebutuhan-kebutuhan fisiologis, rasa aman, memiliki
dan cinta serta penghargaan.
2. Teori harapan Vroom.
Vroom mengembangkan sebuah teori motivasi berdasarkan
jenis-jenis pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu
tujuan, alih-alih berdasarkan kebutuhan internal. Motivasi
menurut

Pace

dan

Faules,

dijelaskan

dengan

mengkombinasikan tiga asumsi pokok dari teori harapan


Vroom ini. Orang akan termotivasi bila ia percaya bahwa (1)
perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu, (2) hasil
tersebut mempunyai nilai positif baginya, dan (3) hasil tersebut
dapat dicapai dengan usaha yang dilakukan seseorang. Jadi,
seseorang akan memilih, ketika ia melihat alternativealternatif, tingkat kinerja yang memiliki kekuatan motivasional
tertinggi yang berkaitan dengannya (Vecchio, 1995).
Para ahli psikologi mengklasifikasikan motif yang ada dalam
diri manusia ke dalam beberapa golongan, yaitu :

53

a. Motif primer dan sekunder


Ciri pokok yang membedakan suatu motif tergolong dalam
motif primer berdasarkan pada keadaan fisiologis manusia,
sedangkan motif sekunder tidak berhubungan dengan
keadaan fisiologis manusia. Motif primer juga tidak
bergantung pada pengalaman seseorang, sedangkan motif
sekunder sangat bergantung pada pengalaman seseorang.
b. Motif entrinsik dan motif ekstrinsik
Motif intrinsik merupakan motif yang berfungsi tanpa harus
dirangsang dari luar, karena dalam diri individu memang
telah ada dorongan itu. Sedangkan motif ekstrinsik ialah
motif-motif yang berfungsi karena ada rangsang dari luar.
c. Motif tunggal dan motif bergabung
Berdasarkan banyaknya motif yang bekerja di belakang
tingkah laku manusia, motif dapat dibagi menjadi motif
tunggal dan motif bergabung.
d. Motif mendekat dan motif menjauh
Suatu motif disebut motif mendekat bila reaksi terhadap
stimulus

yang

datang

bersifat

mendekati

stimulus.

Sedangkan motif menjauh bila respon terhadap situmulus


yang datang sifatnya menghindari stimulus atau menjauhi
stimulus yang datang.

54

e. Motif sadar dan motif tak sadar


Klasifikasi motif ini didasarkan pada taraf kesadaran
manusia terhadap motif yang sedang melatar belakangi
tingkah laku.
f. Motif biogenetik, sosiogenetis dan teogeneis.
Motif biogenetis merupakan motif-motif yang berasal dari
kebutuhan organisme orang demi kelanjutan kehidupannya
secara biologis. Motif sosiogenetis adalah motif-motif yang
dipelajari orang yang berasal dari lingkungan kebudayaan
tempat orang itu berada dan berkembang. Sedangkan motif
teogenetis merupakan motif-motif yang berasal dari
interaksi antara manusia dan Tuhan.
2.1.4.3. Alat Ukur Motivasi
Pengukuran

motivasi

pasien

DM,

salah

satunya

dikembangkan oleh William, Freedman dan Dicci (1998, cit.


Butler,

2002)

menggunakan

Treatment

Self-Regulation

Questionnaire (TSRQ). TSRQ mengukur motivasi otonomi


(motivasi intrinsik) dan motivasi kontrol (motivasi ekstrinsik).
TSRQ pada mulanya digunakan untuk mengkaji perilaku sehat
secara umum seperti alasan perubahan diet dan latihan fisik serta
alasan berhenti merokok (William, et. Al cit. Butler, 2002).
Sesuai perkembangannya maka dikembangkan

TSRQ khusus

untuk DM. TSRQ terdiri dari 19 item pernyataan untuk mengukur

55

motivasi otonomi dan motivasi kontrol yang meliputi medikasi,


pemeriksaan gula darah, diet, dan latihan teratur. Instrumen ini
terdiri dari tujuh poin skala likert yaitu 1 untuk tidak benar
sampai 7 untuk sangat benar. Nilai total

yang tinggi

merefleksikan motivasi yang baik (Butler, 2002).

2.2. Keaslian Penelitian


No
1.

2.

3.

Nama
Abdurrahim
Senuk, Wenny
Supit, Franly
Onibala (2013)

Judul
Hubungan
Pengetahuan dan
Dukungan
Keluarga dengan
Kepatuhan
Menjalani Diet
Diabetes Melitus di
Poliklinik RSUD
Kota Tidore
Kepulauan Provinsi
Maluku Utara
Reni Febriana, Hubungan
Sigit
Kepatuhan Diit
Widyatmoko,
dengan Kadar Gula
Nining Lestari Darah Sewaktu
(2013)
pada Pasien
Diabetes Melitus
Tipe 2 di Rawat
Inap RSUD
Sukoharjo
Dewi
Hubungan
Indarwati,
Motivasi Dengan
Riskiana, Aida Kepatuhan Diet
Rusmariana,
Diabetes Melitus
Rita
Dwi Pada Pasien
Hartanti
Diabetes
Melitus Di Desa
(2013)
Tangkil Wilayah
Kerja
Puskesmas
Kedungwuni
II
Kabupaten
Pekalongan

Metode
Desain deskriptif
analitik dengan
rancangan cros
sectional. Teknik
pengambilan
sampling dengan
purposive sampling.
Analisa data dengan
uji chi square.

Hasil
Terdapat hubungan
pengetahuan
dan
dukungan keluarga
dengan
kepatuhan
menjalani
diet
diabetes melitus

Desain observasional
analitik dengan
rancangan cros
sectional. Teknik
pengambilan
sampling dengan
purposive sampling.
Analisa data dengan
uji chi square.
Desain deskripsi
korelasi dengan
rancangan cross
sectional. Teknik
pengambilan
sampling dengan
total sampling.
Analisa data dengan
uji chi square.

Terdapat hubungan
kepatuhan diit
dengan kadar gula
darah sewaktu pada
pasien Diabetes
Melitus Tipe 2 di
Rawat Inap RSUD
Sukoharjo
Ada hubungan yang
signifikan antara
motivasi dengan
kepatuhan diet DM
dengan p value
0,002.

56

2.3. Kerangka Teori

Faktor Resiko DM
1. Genetik
2. Usia
3. Berat badan
4. Aktifitas
5. Hipertensi
6. HDL, TG, Kolesterol
7.Riwayat DM gestasional
Komplikasi DM
1. Akut
2. Kronik

DM Tipe I
DM Tipe II

Diabetes Melitus
DM Tipe Lain

DM Gestasional
Penatalaksanaan

Pemantauan

Latihan Fisik

Terapi Diet

Pendidikan
Kesehatan

Kepatuhan
Pembatasan Makanan

Terapi Obat

Pengetahuan
Motivasi

Faktor Yang
Mempengaruhi
1. Demografi
2. Psikologis
3. Sosial
4. Pelayanan Kesehatan
5. Penyakit & Pengobatan

Faktor Yang
Mempengaruhi
1. Intrinsik
2. Ekstrinsik

: Variabel yang diteliti


: Variabel Yang tidak diteliti

Gambar 2.1. Kerangka Teori


Sumber: LeMone & Burke (2008); Black & Hawks (2005);
Notoatmodjo (2007); Marquis & Huston (2006)

Faktor Yang
Mempengaruhi
1. Internal
2. Eksternal

57

2.4. Kerangka Konsep

Variabel Independent

Variabel Dependent

Pengetahuan
Kepatuhan Terapi Diet
Motivasi

Gambar 2.2. Kerangka Konsep Penelitian

2.5. Hipotesis
Hipotesis penelitian yaitu jawaban sementara atau kesimpulan yang diambil
untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam penelitian (Arikunto,
2009).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Ha1: Ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan terapi
diet pada pasien DM Tipe II
Ha2: Ada hubungan antara motivasi dengan kepatuhan terapi diet
pada pasien DM Tipe II
Ho1: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan
terapi diet pada pasien DM Tipe II
Ho2: Tidak ada hubungan antara motivasi dengan kepatuhan terapi
diet pada pasien DM Tipe II

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian


Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan
penelitian deskripsi korelasi serta menggunakan rancangan cross sectional
untuk melihat hubungan antara pengetahuan dan motivasi dengan kepatuhan
diet pasien DM Tipe II di Poliklinik dr. Soehadi Prijonegoro Sragen.
Penelitian deskripsi korelasi adalah penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui adanya hubungan antara dua atau lebih variabel (Arikunto, 2009).
Metode cross sectional dilakukan dengan cara mengukur variabel dependen
dan variabel independen hanya satu kali tanpa dilakukan tindak lanjut serta
penelitian dilakukan pada satu waktu (Saryono, 2008).
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian (Arikunto,
2009). Rata-rata perbulan jumlah pasien DM Tipe II yang berkunjung
di Poliklinik Penyakit Dalam adalah 605 pasien (Data Rekam Medis
Pasien, 2014).

58

59

3.2.2. Sampel
3.2.2.1. Jumlah Sampel
Sampel adalah sebagian populasi yang mewakili
populasi.

Jumlah

minimal

sampel

dihitung

dengan

menggunakan rumus Notoatmodjo (2009):


n=

N
1 + N (d2)

Keterangan :
N

= Besar populasi

= Besar sampel

= Tingkat kepercayaan yang diinginkan (0,05)

n=

N
1 + N (d2)

605
1 + 605 (0,052)

240 orang
Bedasarkan perhitungan diatas minimal dibutuhkan

240 pasien DM Tipe II sebagai sampel penelitian.


Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 240 pasien DM
tipe II
3.2.2.2. Teknik Sampling
Teknik

sampling

adalah

merupakan

teknik

pemgambilan sampel (Sugiyono, 2010). Teknik pengambilan

60

sampel dalam penelitian ini menggunakan non probability


sampling, dengan metode purposive sampling yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,
2010).
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Pasien dewasa yang telah berusia diatas 18 tahun.
2. Lama menderita DM lebih dari tiga bulan.
3. Pasien dalam keadaan sadar dan kooperatif.
4. Hospitalisasi lebih dari 1 kali.
5. Bisa baca dan tulis.
Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
1. Tidak bersedia menjadi responden penelitian.
3.3. Tempat dan Waktu Penelitian
3.3.1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr.
Soehadi Prijonegoro Sragen.
3.3.2. Waktu penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015.

61

3.4. Variabel, Definisi Operasional, dan Skala Pengukuran


3.4.1. Variabel penelitian
Dalam penelitian ini, variabel yang diteliti adalah:
1.

Variabel independen (bebas) dari penelitian ini adalah pengetahuan


dan motivasi.

2.

Variabel dependen (terikat) dalam penelitian ini adalah kepatuhan


diet DM.

3.4.2. Definisi operasional


Definisi operasional dalam penelitian ini merupakan variabel
dependen dan independen:
Tabel 3.1.
Definisi Operasional Variabel Penelitian
No

Variabel
Penelitian
Independen
1.
Pengetahuan

2.

Motivasi

Definisi
Operasional

Alat Ukur

Cara Ukur

Segala sesuatu
yang diketahui
pasien DM tentang
terapi diet DM
yang dinilai dari
jumlah, jenis dan
jadwal diet serta
tujuan terapi diet

Kuesioner

Suatu dorongan
dari dalam diri
individu maupun
dari luar individu
untuk melakukan
manajemen diet
DM

Kuesioner

Menggunakan
kuesioner
dengan
sejumlah 19
item
pernyataan
dengan pilihan
jawaban
ya=1
dan
tidak=0.
Menggunakan
kuesioner
dengan
sejumlah 11
item
pernyataan
dengan pilihan
jawaban
sangat
setuju=4,
setuju=3, tidak
setuju=2 dan
sangat
tidak

Hasil Ukur

Skala

Tinggi:
Skor Ordinal
15-19
Sedang : Skor
11-14
Rendah: Skor 210

Baik: skor 35
Kurang Baik: <
35

Nominal

62

No

Variabel
Penelitian

Definisi
Operasional

Alat Ukur

Cara Ukur

Hasil Ukur

Skala

setuju=1.
Dependen
3.
Kepatuhan
Diet DM

Perilaku
yang Kuesioner
dilakukan
oleh
pasien DM untuk
mengatur
jenis
makanan, jumlah
dan waktu makan
dengan
tujuan
mengatur
kadar
gula darah

Menggunakan
kuesioner
dengan
sejumlah 20
item
pernyataan
dengan pilihan
jawaban
dan
ya=1
tidak=0.

Akan
Nominal
didapatkan nilai
minimum
20
dan
nilai
maksimum 80,
dikelompokkan
berdasarkan cut
of point (Mean
atau median)
0: Tidak patuh <
13
1: Patuh 13

3.5. Alat Penelitian dan Cara Pengumpulan Data


3.5.1. Alat penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan
oleh peneliti dalam mengumpulkan data

agar pekerjaannya lebih

mudah dan hasilnya lebih baik (cermat, lengkap dan sistematis)


sehingga lebih mudah diolah (Saryono, 2008).
Alat pengumpul data atau instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kuesioner dalam bentuk pernyataan-pernyataan
yang berkaitan dengan data karakteristik demografi pasien DM,
tingkat pengetahuan, motivasi dan kepatuhan diet DM (lampiran 2).
3.5.1.1. Instrumen A
Kuesioner

ini

berisi

pertanyaan-pertanyaan

terkait

karakteristik demografi responden yang dibuat sendiri oleh


peneliti yang terdiri dari 5 pertanyaan dari nomor 1 sampai

63

dengan 5 yang meliputi: umur, jenis kelamin, tingkat


pendidikan, dan lama menderita DM. Data yang diambil
merupakan data primer, dimana responden menjawab
pertanyaan yang ada di kuesioner A dengan mengisi atau
memberi tanda check pada isian yang tersedia.
3.5.1.2. Instrumen B (Kuesioner Pengetahuan)
Kuesioner ini dibuat sendiri oleh peneliti yang terdiri dari 19
item pernyataan tentang pengetahuan mengenai diet DM tipe
II. Instrumen ini mempunyai dua pilihan jawaban yaitu: ya
dan tidak. Nilai 1 untuk jawab benar, dan nilai 0 untuk
jawaban salah.
3.5.1.3.Instrumen C (Kuesioner Motivasi)
Kuesioner ini untuk mengukur motivasi pasien berdasarkan
motivasi intrinsik (otonomi) dan

motivasi ekstrinsik

(kontrol), yang merupakan modifikasi dari kuesioner


motivasi Treatment Self-Regulation Questionnaire (TSRQ)
yang dikembangkan oleh Butler (2002) terdiri dari 11 item
pernyataan.

Modifikasi yang dilakukan adalah hanya

menggunakan item pernyataan yang terkait dengan motivasi


diet DM, dan pengubahan tujuh poin skala likert menjadi
empat skala likert, pengubahan bahasa Inggris menjadi
Indonesia serta pengubahan tata bahasa yang sekiranya
mempermudah responden untuk memahami item pernyataan.

64

Instrumen ini mempunyai 4 (empat) pilihan jawaban, yaitu:


sangat tidak setuju dengan skor 1, tidak setuju dengan
skor 2, setuju dengan skor 3 dan sangat setuju dengan
skor 4. Variabel motivasi ini diukur melalui perolehan skor
dari setiap item pernyataan yang semuanya merupakan
pernyataan positif (favorable).
3.5.1.4. Instrumen D (Kuesioner Kepatuhan Terapi Diet)
Kuesioner ini dibuat sendiri oleh peneliti yang terdiri dari 20
item pernyataan. Pilihan jawaban untuk setiap item
pernyataan adalah ya dan tidak. Penilaian untuk setiap
item pernyataan nilai 1 untuk jawaban ya dan nilai 0 untuk
jawaban tidak bagi pernyataan positif dan sebaliknya bagi
pernyataan negatif.
Uji coba intrumen penelitian

pada 30 responden di RSUD

Sukoharjo (Sugiyono, 2010) pada Bulan November 2015. RSUD


Sukoharjo dipilih sebagai tempat uji validitas dan reliabilitas karena
mempunyai karakteristik pasien dalam hal tingkat pengetahuan dan
kepatuhan, karakteristik penyakit pasien, jumlah kunjungan pasien
DM di Instalasi Rawat Jalan sejumlah 6890, sehingga hampir sama
dengan RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen serta merupakan rumah
sakit umum milik Pemerintah Daerah Kabupaten dengan Kelas B non
Pendidikan.

65

3.5.1.1. Uji Validitas


Uji validitas dilakukan untuk mengetahui ketepatan alat
ukur (kuesioner) mengukur variabel-variabel yang diteliti.
Pengukuran validitas kuesioner dilakukan melalui uji korelasi
dengan cara membandingkan antara skor setiap pernyataan
dengan skor totalnya (Hastono, 2007). Teknik korelasi
menggunakan Pearson product moment (r). Masing-masing
nilai signifikan dari item pertanyaan dibandingkan nilai r
tabel pada tingkat kemaknaan 5%, jika lebih besar maka item
pertanyaan tersebut valid (Notoatmodjo, 2005).
Rumus:
r=

 

 

Keterangan:
rxy = korelasi antara x dan y
x = skor nilai x
y = skor nilai total
N = jumlah sampel

66

Berdasarkan hasil uji validitas diketahui bahwa dari 20 item


pernyataan

kuesioner

pengetahuan,

terdapat

19

item

pernyataan yang valid dan 1 item pernyataan tidak valid yaitu


no 12. Kuesioner motivasi mendapatkan hasil bahwa dari 12
item pernyataan, terdapat 11 item pernyataan yang valid dan 1
item pernyataan tidak valid yaitu no 9. Kuesioner kepatuhan
setelah dilakukan uji validitas diketahui bahwa dari 21 item
pernyataan, terdapat 10 item pernyataan yang valid dan 1 item
pernyataan tidak valid yaitu no 8. Item-item pernyataan yang
tidak valid selanjutnya dibuang dan tidak diikutkan dalam
penelitian.
3.5.1.2. Uji Reliabilitas
Pernyataan yang sudah valid kemudian diukur reliabilitasnya.
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauhmana hasil
perngukuran tetap konsisten bila dilakukan lebih dari satu kali
terhadap pernyataan yang sama dengan alat ukur yang sama.
Metode cronbach alpha test merupakan salah satu metode
yang cukup handal dan terpercaya untuk mengukur konsistensi
internal reliabilitas. Burn dan Grove (1997 dalam Hamid,
2008) menyatakan bahwa untuk instrumen yang baru
dikembangkan, tingkat koefisien reliabilitas 0,70 masih dapat
diterima akan tetapi untuk intrumen yang telah dikembangkan

67

dengan baik tingkat koefisien reliabilitas yang dapat diterima


lebih dari 0,80.
Rumus:

R11 = ) (

Keterangan:
R11

= reliabilitas instrument

K = banyaknya butir pertanyaan


= jumlah varian butir
= varian total

Reliabilitas

kuesioner

pernyataan

telah

diukur

dengan

menggunakan alpha cronbach. Hasil uji intrumen menunjukkan bahwa


kuesioner pengetahuan mempunyai nilai alpha cronbach 0,900,
kuesioner motivasi mempunyai nilai alpha cronbach 0,845 dan
kuesioner kepatuhan mempunyai nilai alpha cronbach 0,905 sehingga
kuesioner dinyatakan reliabel dan dapat digunakan dalam penelitian
untuk mengukur variabel yang diteliti.
3.5.2. Cara pengumpulan data
Penelitian yang dilakukan melalui prosedur pengumpulan data
yang terdiri atas prosedur administratif dan prosedur teknis.
Secara rinci penjelasan dari prosedur pengumpulan data
penelitian ini dijelaskan sebagai berikut:

68

1. Ijin penelitian diajukan kepada Direktur RSUD Sragen


dengan disertai surat rekomendasi dari pendidikan StiKes
Kusuma Husada Surakarta, yang kemudian ijin penelitian
oleh Direktur didiposisi kepada Kepala Bidang Mutu dan
Pendidikan untuk dilakukan telaah.
2. Ijin

penelitian

diberikan

setelah

Direktur

mendapat

rekomendasi dari Kepala Bidang Mutu dan Pendidikan.


3. Peneliti berkoordinasi dengan perawat yang bertugas di
Polikinik Penyakit Dalam untuk menentukan daftar pasien
yang dapat dijadikan sebagai responden penelitian.
4. Peneliti menjelaskan tujuan penelitian, manfaat penelitian
dan proses penelitian.
5. Peneliti menyerahkan kuesioner dan responden dipersilahkan
untuk memahami penelitian yang dilaksanakan dengan
membaca petunjuk penelitian.
6. Peneliti mempersilahkan responden untuk menandatangani
lembar persetujuan atas keikutsertaannya sebagai subjek
penelitian.
7. Responden diberikan waktu untuk mengisi kuesioner dan
diperkenankan untuk mengklarifikasi pernyataan yang kurang
jelas.
8. Waktu pengisian kuesioner adalah 20 30 menit.

69

9. Kuesioner yang telah selesai diisi diserahkan kembali kepada


peneliti dan peneliti melakukan pengecekan terhadap
kelengkapan dan kejelasan isian kuesioner.
10. Peneliti mengumpulkan kuesioner-kuesioner yang telah diisi
oleh responden dalam satu dokumen.
3.6. Teknik Pengolahan dan Analisa Data
3.6.1. Pengolahan data
Proses analisis data terhadap variabel penelitian didahului oleh
pengolahan data yang terdiri dari proses editing, coding, processing
dan cleaning (Hastono, 2007).
1.

Editing adalah kegiatan untuk mengecek kelengkapan,


kejelasan, relevan dan konsistensi data yang diberikan
responden. Editing dilakukan peneliti dengan cara langsung
mengecek kuesioner pada saat dikumpulkan responden, jika
ada responden yang tidak lengkap dan jelas dalam mengisi,
peneliti meminta responden untuk melengkapi dan juga
meminta kejelasan langsung kepada responden.

2.

Coding berarti merubah data yang berbentuk huruf menjadi


data yang berbentuk angka atau bilangan. Hal ini dilakukan
dengan cara membuat koding pada lembar kuesioner untuk
memudahkan pada waktu memasukkan data. Kode untuk lakilaki dibuat 1 dan perempuan dibuat 2. Kode untuk tingkat
pendidikan SD/Tidak Sekolah = 1, SMP/SMU = 2 dan PT = 3.

70

Kode untuk status nikah responden 0 = tidak menikah dan 1 =


menikah.
3.

Processing yaitu proses data dengan cara menganalisis data


yang dimulai dengan cara memasukkan data dalam lembar
rekap yang selanjutnya data yang telah terkumpul dimasukkan
dalam program analisis data menggunakan komputer.

4.

Cleaning yaitu mengecek kembali kemungkinan kesalahan


dalam memasukkan data. Setelah dipastikan data dimasukkan
dengan benar, maka dapat dilanjutkan ke tahap analisis data
menggunakan program analisis data terkomputerisasi.

3.6.2. Analisa data


Analisa data dalam penelitian menjadi dua bagian yaitu analisis
univariat, analisis bivariat:
1. Analisis univariat
Analisis univariat bertujuan untuk mendeskripsikan atau
menjelaskan

karakteristik

variabel-variabel

yang

diteliti.

Variabel penelitian dideskripsikan berdasarkan jenis datanya.


Pada analisa univariat ini sekaligus untuk melihat jumlah
responden berdasarkan karakteristik demografi individu yaitu
dari umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama sakit.
2. Analisis bivariat
Analisis

bivariat

dilaksanakan

untuk

mendapatkan

nilai

kemaknaan hubungan (korelasi) antara variabel independen

71

dengan variabel dependen Uji statistik yang digunakan


tergantung jenis data yang dianalisis. Berdasarkan variabel
dalam penelitian ini untuk menguji hubungan pengetahuan dan
motivasi dengan kepatuhan maka uji statistik bivariat yang akan
dilakukan adalah dengan Rumus Chi Square. Chi-Square
disebut juga dengan Kai Kuadrat. Chi Square adalah salah satu
jenis uji komparatif non parametris yang dilakukan pada dua
variabel, di mana skala data kedua variabel adalah nominal
(Apabila dari 2 variabel, ada 1 variabel dengan skala nominal
maka dilakukan uji chi square dengan merujuk bahwa harus
digunakan uji pada derajat yang terendah).
Rumus:

X2 =

df = (k-1) (b-1)
Keterangan:
O = nilai observasi
E = nilai ekspektasi (harapan)
k = jumlah kolom
b = jumlah baris
df = derajad kebebasan
3.7. Etika Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan mempertimbangkan etika penelitian
dengan memberikan perlindungan terhadap responden yang menjadi subjek

72

dalam penelitian ini. Hal ini dilakukan untuk mencegah timbulnya masalah
etik yang dapat terjadi selama proses penelitian berlangsung dengan
menerapkan prinsip etika riset penelitian yaitu beneficence, prinsip
menghargai martabat manusia dan prinsip mendapatkan keadilan (Hamid,
2007).
3.7.1. Aplikasi prinsip etik penelitian
Polit dan Beck (2006) mengaplikasikan prinsip etik penelitian
dalam self determination, privacy and dignity, anomynity and
confidentiality, fair treatment serta protection from discomfort and
harm. Secara rinci aplikasi prinsip etik dalam peneitian ini adalah:
1.

Self determination (pengambilan keputusan secara mandiri)


Self determination berarti memberi kebebasan pada responden
menentukan keikutsertaan berpartisipasi dalam penelitian
setelah diberi informasi yang adekuat tentang penelitian. Hal
yang dilakukan peneliti untuk menerapkan self determination
dalam penelitian ini adalah peneliti menyampaikan berkas
kuesioner yang selanjutnya mempersilahkan responden untuk
membaca penjelasan penelitian dan lembar persetujuan.
Responden diberikan kesempatan untuk bertanya sebelum
memberikan persetujuan menjadi responden. Responden yang
bersedia

menjadi

menjadi

subjek

penelitian,

peneliti

mempersilahkan responden untuk menandatangani lembar


persetujuan (Hamid, 2007).

73

2.

Anomynity and confidentiality (tidak bernama dan kerahasiaan)


Responden tidak perlu menuliskan nama pada kuesioner yang
diisi. Kuesioner dalam penelitian ini menggunakan kode
responden

yang diisi oleh peneliti sehingga informasi yang

didapatkan dalam penelitian hanya digunakan untuk keperluan


penelitian dan analisis data serta tidak dapat diketahui secara luas
untuk kepentingan publikasi (Hamid, 2007).
3.

Privacy and dignity (privasi dan martabat)


Pasien yang menjadi responden penelitian dalam pengisian
kuesioner mengisi kuesioner pada nurse station selama menunggu
periksa dokter. Berkas kuesioner yang telah diisi oleh responden
disimpan

dan

diolah

oleh

peneliti.

Selanjutnya

berkas

dihancurkan setelah 5 tahun dari proses pelaporan penelitian


selesai dilakukan dan disetujui oleh pembimbing dan penguji
(Hamid, 2007).

74

4.

Fair treatment (keadilan perlakuan)


Penerapan prinsip fair treatment dalam penelitian ini dilakukan
dengan pemilihan responden yang tidak diskriminatif, tidak
menghukum jika responden tidak berkeinginan perpartisipasi
dalam penelitian, dan mengikutsertakan semua data responden
yang memenuhi kriteria inklusi dari pengolahan data hingga
penyajian data (Hamid, 2007).

5.

Protection from discomfort and harm (perlindungan dari


ketidaknyamanan dan bahaya)

Penelitian dilakukan di nurse station yang tertutup untuk


meningkatkan kenyamanan dan mencegah gangguan selama
proses pengisian kuesioner. Peneliti juga menjamin informasi
yang diberikan responden tidak menimbulkan dampak pada
responden maupun penilaian kinerja responden (Hamid, 2007).

3.7.2. Informed Concent


Informed concent atau persetujuan menjadi responden dibuktikan
dengan penanda tanganan surat persetujuan seperti tercantum pada
lampiran 2 oleh responden menjadi subjek penelitian secara
sukarela dan tanpa paksaan dengan didahului dengan penjelasan
oleh peneliti secara lengkap dan adekuat dengan bahasa yang
mudah dipahami oleh responden tentang tujuan, prosedur
penelitian, manfaat, dan jaminan kerahasiaan informasi yang
diberikan responden (Polit & Beck, 2006).

BAB IV
HASIL PENELITIAN

4.1. Analisa Univariat


4.1.1. Karakteristik Demografi Responden
Analisis dilakukan sesuai dengan data yang didapatkan dari pasien DM
Tipe II meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama sakit DM
Tipe II. Uraian analisis univariat yang dilakukan terhadap karakteristik
demografi pasien DM Tipe II adalah sebagai berikut:
4.1.1.1. Umur
Distribusi frekuensi umur responden didapatkan hasil secara rinci
tergambar pada tabel 4.1:
Tabel 4.1. Distribusi Pasien DM Tipe II Berdasarkan Umur di RSUD dr.
Soehadi Prijonegoro Sragen Bulan Desember tahun 2015, n: 240
Variabel
Umur
40-50 Tahun
51-60 Tahun
> 60 Tahun
Total

Prosentase

64
78
98
240

26,7
32,5
40,8
100

Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa dari 240 responden yang


berumur >60 Tahun yaitu 98 pasien (40,8%), berumur 51-60 tahun yaitu
78 pasien (32,5%) dan sisanya 64 pasien (26,7%) berumur 40-50 tahun.

75

76

4.1.1.2. Jenis Kelamin


Distribusi frekuensi jenis kelamin responden didapatkan hasil secara rinci
tergambar pada tabel 4.2:
Tabel 4.2. Distribusi Responden berdasarkan Jenis Kelamin Pasien DM
Tipe II di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen Bulan Desember tahun
2015 (n = 240)
Variabel
Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan
Total

Prosentase

105
135
240

43,8
56,3
100

Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa dari 240 responden yang


berjenis kelamin perempuan yaitu 135 pasien (56,3%) dan sisanya 105
pasien (43,8%) berjenis kelamin laki-laki.
4.1.1.3. Pendidikan
Distribusi frekuensi pendidikan responden didapatkan hasil secara rinci
tergambar pada tabel 4.3:
Tabel 4.3. Distribusi Responden berdasarkan Pendidikan Pasien DM Tipe
II di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen Bulan Desember tahun 2015
(n = 240)
Variabel
Pendidikan
SD/Tidak Sekolah
SMP/SMU
PT
Total

Prosentase

81
111
48
240

33,8
46,3
20
100

Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa dari 240 responden yang


berpendidikan SMP/SMU yaitu 111 pasien (46,3%), berpendidikan
SD/Tidak Sekolah yaitu 81 pasien (33,8%) dan sisanya 48 pasien (20%)
berpendidikan PT.

77

4.1.1.4. Lama Sakit DM


Distribusi frekuensi umur responden didapatkan hasil secara rinci
tergambar pada tabel 4.1:
Tabel 4.4. Distribusi Pasien DM Tipe II Berdasarkan Lama Sakit di RSUD
dr. Soehadi Prijonegoro Sragen Bulan Desember tahun 2015, n: 240
Variabel
Lama Sakit
< 1 Tahun
1-3 Tahun
> 3 Tahun
Total

Prosentase

9
12
208
240

3,8
9,6
86,6
100

Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa dari 240 responden yang


menderita sakit DM > 3 tahun yaitu 208 pasien (86,6%), 1-3 tahun yaitu
12 pasien 9,6%) dan sisanya 9 pasien (3,8%) menderita DM kurang dari
1 tahun.

78

4.1.2. Pengetahuan
Hasil analisis menggambarkan distribusi pengetahuan pasien DM Tipe II
tentang diet DM Tipe IIyang berkunjung di Poliklinik Penyakit Dalam
RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen adalah sebagai berikut:
Diagram 4.1. Distribusi Responden Menurut Pengetahuan Pasien DM Tipe
II di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Desember 2015, n = 240
Pengetahuan
Rendah
13%

Pengetahuan
Tinggi
63%

Pengetahuan
Sedang
24%

Diagram 4.1 memperlihatkan proporsi responden berdasarkan


pengetahuan tentang diet DM Tipe II, dari 240 responden, 151
responden (63%) memiliki pengetahuan yang tinggi, 58 responden
(24%) memiliki pengetahuan sedang dan 31 responden (13%)
responden memiliki pengetahuan yang rendah.

79

4.1.3. Motivasi
Diagram 4.2. Distribusi Responden Menurut Motivasi Pasien DM Tipe II
di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Desember 2015, n = 240

Motivasi
Tinggi
24%
Motivasi
Rendah
76%

Diagram 4.2 memperlihatkan proporsi responden berdasarkan motivasi


pasien DM Tipe II melaksanakan diet DM Tipe II, dari 240 responden
mayoritas responden yang berjumlah 182 orang (76%) mempunyai
motivasi rendah dan 58 responden (24%) mempunyai motivasi tinggi.
4.1.4. Kepatuhan
Diagram 4.3. Distribusi Responden Menurut Kepatuhan Pasien DM Tipe
II di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Desember 2015, n = 240

Patuh
53%

Tidak Patuh
47%

80

Diagram 4.3 memperlihatkan proporsi responden berdasarkan kepatuhan


pasien DM Tipe II melaksanakan diet DM Tipe II, dari 240 responden
terdapat 128 responden (53%) yang patuh dan 112 responden (47%) tidak
patuh menjalani diet DM Tipe II.
4.2. Analisa Bivariat
4.2.1. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II
Tabel 4.5. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Kepatuhan Diet Pasien DM
Tipe II di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Desember 2015, n=240
Variabel

Pengetahuan
Rendah
Pengetahuan
Sedang
Pengetahuan
Tinggi
Total

Kepatuhan Diet Pasien DM


Tidak Patuh
Patuh
N
%
N
%
26
83,9
5
16,1

Jml

OR (95% CI)

P
value

N
31

1,601

0,000

33

56,9

25

43,1

58

53

35,1

98

64,9

151

112

175,6

128

124,1

240

Uji bivariat dengan menggunakan uji chi square digunakan untuk melihat
hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan responden dalam menjalani
diet DM Tipe II. Dari tabel 4.3 menunjukkan hubungan antara pengetahuan
dengan kepatuhan diet pasien DM Tipe II yang berkunjung di Poliklinik
Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Dari 31 pasien DM
Tipe II yang mempunyai pengetahuan rendah, ada sebanyak 5 (16,1%) yang
mematuhi diet DM Tipe II. Dari 58 pasien DM Tipe II yang mempunyai
pengetahuan sedang, ada sebanyak 33 (56,9%) yang mematuhi diet DM Tipe
II Sedangkan dari pasien DM Tipe II yang memiliki pengetahuan tinggi, ada
sebanyak 98 (64,9%) yang mematuhi diet DM Tipe II. Analisa lebih lanjut

81

menyimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan


kepatuhan diet pasien DM (p value = 0,000 < 0,05). Berdasarkan hasil
analisis tersebut diperoleh nilai OR = 1,601, artinya pasien yang memiliki
pengetahuan yang tinggi berpeluang 1,601 kali untuk mematuhi diet DM
dibandingkan dengan pasien DM Tipe II yang mempunyai pengetahuan yang
rendah dan sedang.
4.2.2. Hubungan Antara Motivasi Dengan Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II
Tabel 4.6. Hubungan Antara Motivasi Dengan Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II
di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Desember 2015, n=240
Variabel

Motivasi
Rendah
Motivasi
Tinggi
Total

Kepatuhan Diet Pasien DM


Tidak Patuh
Patuh
N
%
N
%
90
49,5
92
50,5

Jml

OR (95% CI)

P
value

N
182

1,601

0,083

22

37,9

36

62,1

58

112

87,4

128

112,6

240

Uji bivariat dengan menggunakan uji chi square digunakan untuk melihat
hubungan antara pengetahuan dengan kepatuhan responden dalam menjalani
diet DM Tipe II. Dari tabel 4.4 menunjukkan hubungan antara motivasi
dengan kepatuhan diet pasien DM Tipe II yang berkunjung di Poliklinik
Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen. Dari 182 pasien DM
Tipe II yang mempunyai motivasi rendah, ada sebanyak 92 (50,5%) yang
mematuhi diet DM Tipe II. Sedangkan dari 58 pasien DM Tipe II yang
memiliki motivasi tinggi, ada sebanyak 36 (62,1%) yang mematuhi diet DM
Tipe II. Analisa lebih lanjut menyimpulkan bahwa tidak ada hubungan
bermakna antara motivasi dengan kepatuhan diet pasien DM Tipe II (p value

82

= 0,083 > 0,05). Berdasarkan hasil analisa tersebut diperoleh nilai OR =


1,601, artinya pasien yang memiliki motivasi yang tinggi berpeluang 1,601
kali untuk mematuhi diet DM Tipe II dibandingkan dengan pasien DM Tipe
II yang mempunyai motivasi rendah.

BAB V
PEMBAHASAN

5.1. Karakteristik Demografi Responden


5.1.1. Umur
Berdasarkan hasil analisis terhadap responden penelitian dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar pasien DM Tipe II yang berkunjung di
Poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen berumur
lebih dari 60 tahun.
Umur mempengaruhi resiko dan kejadian DM. Umur erat kaitannya
dengan kenaikan kadar glukosa darah, sehingga semakin meningkat umur
maka prevalensi DM dan gangguan toleransi glukosa semakin tinggi.
Proses menua yang berlangsung setelah usia 30 tahun mengakibatkan
perubahan anatomis, fisiologis dan biokimia. Menurut WHO, setelah usia
30 tahun, maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 mg/dL/tahun pada saat
puasa dan akan naik 5,6-13 mg/dL pada 2 jam setelah makan (Sudoyo,
2006).
Pada penelitian yang lain mengatakan bahwa frekuensi terbanyak
penderita diabetes di usia 51 sampai 60 tahun (Sornoza et al., 2011).
Prevalensi DM akan meningkat dengan bertambahnya usia, hal ini
dikarenakan semakin lanjut usia maka pengeluaran insulin oleh pankreas
juga akan semakin berkurang. Prevalensi pada usia 65 tahun ke atas akan
semakin menurun, kemungkinan yang dapat terjadi ialah telah penderita

83

84

DM mengalami komplikasi berat sehingga tidak sanggup datang ketempat


pemeriksaan atau penderita DM tersebut sudah meninggal (Mihardja,
2009).
5.1.2. Lama Sakit
Hasil analisis terhadap lama sakit DM dapat disimpulkan bahwa
sebagian besar lama sakit responden adalah lebih dari 3 tahun.
Lama mengalami DM Tipe II seringkali kurang menggambarkan
proses penyakit sebenarnya. Hal ini dikarenakan banyak sekali pasien DM
Tipe II yang baru terdiagnosa pada saat telah mengalami komplikasi,
padahal proses perjalanan penyakit telah berlangsung bertahun-tahun
sebelumnya namun belum terdiagnosa (Ariani, 2011).
Durasi menderita penyakit mempunyai hubungan yang negatif
dengan kepatuhan, di mana semakin lama seseorang menderita diabetes,
semakin berkurang kepatuhannya dalam menjalankan terapi yang telah
direkomendasikan (WHO, 1999). Pasien dengan riwayat menderita DM
yang lebih lama dilaporkan lebih sering mengkonsumsi makanan yang
tidak sesuai, dengan proporsi lemak jenuh yang besar serta tidak menjalani
diet dengan benar.
Delamater (2006) berpendapat bahwa ketidakpatuhan seringkali
muncul pada saat kondisi kesehatan kronik, ketika penyebab timbulnya
bervariasi, atau apabila gejala tidak nampak, program pengobatan komplek
dan rumit, dan ketika pengobatan membutuhkan perubahan gaya hidup.
Kebermaknaan durasi menderita penyakit ini disebabkan timbulnya

85

perasaan jenuh, bosan, dan depresi pada sebagian besar pasien DM yang
menjalani terapi jangka panjang (Ciechhanowski, 2000).
5.1.3. Jenis Kelamin
Mayoritas

responden

berjenis

kelamin

perempuan

(56,3%).

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian DM pada


perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki (Wu, 2007).
Tingginya kejadian DM pada perempuan dipengaruhi oleh beberapa
faktor resiko, seperti obesitas, kurang aktivitas/latihan fisik, usia dan
riwayat DM saat hamil (Radi, 2007). Sekitar 20 hingga 50% wanita yang
terkena diabetes gestasional, kemudian akan berkembang menjadi
Diabetes Tipe II (Sutanto, 2010).
5.1.4. Pendidikan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden
mempunyai tingkat pendidikan SMP/SMU (46,3%). Tingkat pendidikan
merupakan

indikator

bahwa

seseorang

telah

menempuh

jenjang

pendidikan formal di bidang tertentu, namun bukan indikator bahwa


seseorang telah menguasai beberapa bidang ilmu.
Seseorang dengan pendidikan yang baik, lebih matang terhadap
proses perubahan pada dirinya, sehingga lebih mudah menerima pengaruh
luar yang positif, objektif dan terbuka terhadap berbagai informasi
termasuk informasi tentang kesehatan (Notoatmodjo, 2003). Azwar (2005)
mengemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka

86

ia akan cenderung berperilaku positif karena pendidikan yang diperoleh


dapat meletakkan dasar-dasar pengertian dalam diri seseorang.
Tingkat pendidikan memiliki pengaruh terhadap kejadian penyakit
DM. Orang yang tingkat pendidikannya tinggi biasanya akan memiliki
banyak pengetahuan tentang kesehatan. Dengan adanya pengetahuan
tersebut orang akan memiliki kesadaran dalam menjaga kesehatannya
(Irawan, 2010).
5.2. Pengetahuan tentang Diet DM Tipe II
Berdasarkan

hasil

penelitian

yang

telah

dilakukan

dengan

menggunakan kuesioner pengetahuan didapatkan data bahwa sebagian besar


pengetahuan responden akan penyakit dan diet DM adalah tinggi yakni
sebanyak 151 orang (62,9%). Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh
Phitri & Widiyaningsih (2013) di RSUD AM Parekesit Kalimantan Timur
menemukan hasil bahwa pengetahuan responden tentang DM sebagian
besar kurang sebanyak 24 responden (44,4%). Hasil yang sama juga
didapatkan dari penelitian yang dilakukan oleh Purwanto (2011), di mana
lebih dari separuh responden di ruang penyakit dalam RSUD dr. H Moh
Anwar Sumenep mempunyai pengetahuan yang kurang tentang diet diabetes
mellitus yaitu sebanyak 33 responden (55,0%).
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan
tentang DM menyebabkan pasien cenderung untuk tidak mematuhi
pengobatan, diet dan insulin (Kong, Yein & Jenn, 2012). Delapan puluh
persen responden menyatakan bahwa diet Diabetes Mellitus adalah diet

87

yang diperuntukkan bagi penderita Diabetes Mellitus. Tujuan utama terapi


DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah
dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta
neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar
glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadinya hipoglikemia dan
gangguan serius pada pola aktivitas pasien (Brunner & Suddart, 2012).
Tujuh puluh persen responden dalam penelitian ini mengetahui bahwa
tujuan diet Diabetes Mellitus yaitu agar kadar gula darah terkontrol.
Perencanaan diet bagi penderita DM Tipe II harus disertai aturan
penggunaan gula murni dan pembatasan lemak jenuh (Perkeni, 2011).
Responden menyatakan bahwa diet yang dianjurkan untuk penderita DM
Tipe II adalah yang rendah gula (90%) dan rendah lemah (80%).
American

Dietetic

Association

(2007)

menyebutkan

bahwa

manajemen diet bagi penderita DM Tipe II berfokus pada regulasi jumlah


makanan yaitu energi dan karbohidrat. Sembilan puluh persen responden
mengetahui bahwa makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi,
kentang, ketela sangat mempengaruhi kadar gula darah, metode pembagian
diet Diabetes berdasarkan kebutuhan kalori penderita Diabetes, jenis diet
berbeda antara orang yang gemuk dan kurus juga yang kerja ringan dan
kerja berat.
Pengaturan jadwal makan bagi penderita DM Tipe II sangat penting,
karena keterlambatan atau keseringan makan akan mempengaruhi kadar
glukosa darah (ADA, 2007). Delapan puluh persen responden mengetahui

88

bahwa penderita Diabetes harus makan secara teratur. Pengetahuan tingkat


awal yang harus diperkenalkan pada pasien DM adalah perjalanan penyakit
DM, pengendalian dan pemantauan DM, penyulit DM, terapi farmakologi
dan non farmakologis, interaksi antara asupan makanan dengan aktifitas
fisik serta olahraga, cara pemantauan glukosa darah mandiri, mengatasi
hipoglikemia, pentingnya olahraga, perawatan kaki dan menggunakan
fasiliitas kesehatan yang ada (PERKENI, 2011).
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung,
telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan
sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi intensitas
perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan
seseorang diperoleh melalui indera pendengaran (telinga), dan indera
penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2005).
Pengetahuan itu sendiri dipengaruhi oleh faktor pendidikan formal.
Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, dimana
diharapkan bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan
semakin luas pula pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan, bukan
berarti seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah
pula. Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek,
yaitu aspek positif dan negatif. Kedua aspek ini yang akan menentukan
sikap seseorang semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui,

89

maka akan menimbulkan sikap makin positif terhadap objek tertentu (Dewi
& Wawan, 2010).
Perkembangan komunikasi dan teknologi pada dekade ini membuat
responden mendapatkan informasi tentang diet DM Tipe II selain dari
petugas kesehatan juga dari media masa dan elektronik. Seluruh
responden memanfaatkan televisi / radio sebagai sarana untuk memperoleh
informasi. Informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk
suatu keperluan (Arikunto, 2006). Salah satu alat untuk menyampaikan
informasi kepada masyarakat adalah media massa. Media massa itu sendiri
merupakan suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah
khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melewati media cetak atau
elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara
serentak dan sesaat. Masyarakat di Indonesia selama ini cenderung
menggunakan televisi dan radio sebagai sarana untuk mendapatkan
informasi. Informasi yang disampaikan terutama informasi mengenai
diabetes mellitus melalui media televisi dan radio dapat mempengaruhi
pelaksanaan diet diabetes mellitus pada pasien diabetes mellitus.
Diet diabetes mellitus merupakan cara yang dilakukan oleh penderita
diabetes untuk merasa nyaman, mencegah komplikasi yang lebih berat,
serta memperbaiki kebiasaan makan untuk mendapatkan kontrol
metabolisme yang lebih baik dengan cara menurunkan kadar gula darah
mendekati normal dengan menyeimbangkan asupan makanan, insulin/obat
penurun glukosa oral dan aktivitas fisik, menurunkan glukosa dalam urine

90

menjadi negatif dan mengurangi polidipsi (sering kencing), memberikan


cukup energi untuk mempertahankan atau mencapai berat badan normal
serta menegakkan pilar utama dalam terapi diabetes mellitus sehingga
diabetisi dapat melakukan aktivitas secara normal (Kariadi, 2009).
Pengaturan pola dan jenis makanan merupakan salah satu cara yang
selama ini dilakukan oleh penderita diabetes mellitus untuk menjaga
kondisi kadar gula dalam tubuh penderita diabetes mellitus.
5.3. Motivasi Pasien DM Tipe II
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden (73%)
memiliki motivasi yang rendah dalam mematuhi diet DM. Motivasi dalam
penelitian ini diukur dari 11 pernyataan mengenai dorongan dari dalam diri
responden untuk menjalankan diet DM.
Penelitian yang dilakukan oleh Gustina, Suratun dan Heryati (2014)
menemukan hasil bahwa motivasi pasien DM untuk mematuhi diet DM
62,9% termasuk kategori baik. Penelitian yang dilakukan oleh Ariani (2011)
yang menyatakan bahwa motivasi sebagian besar pasien kurang dalam
perawatan diri, sehingga disarankan pada dokter dan perawat untuk
meningkatkan motivasi pasien, dalam konteks penyakit DM dengan
meningkatkan otonomi pasien secara intrinsik.
Motivasi diri adalah dorongan, baik dari dalam maupun dari luar diri
manusia untuk menggerakkan dan mendorong sikap, serta perubahan
perilakunya (Rachmad, 2005). Motivasi dalam konteks perubahan pola
makan bagi penderita DM Tipe II didasarkan pada keinginan penderita

91

untuk sembuh dan mengurangi kecacatan akibat penderita DM Tipe II


sehingga termotivasi untuk mengikuti program diet yang dianjurkan
(Hendro, 2010).
Motivasi pasien DM Tipe II yang kurang dalam mematuhi diet DM
menurut peneliti ada beberapa sebabnya. Perawat dan tenaga kesehatan
kurang berperan dalam memotivasi pasien untuk mematuhi diet DM Tipe II.
Selama studi pendahuluan dan selama penelitian berlangsung, perawat
kurang meluangkan waktu untuk memberikan motivasi bagi pasien. Tenaga
kesehatan harus memberikan pendidikan kesehatan yang jelas untuk
meningkatkan kesadaran diri pasien serta meningkatkan motivasi intrinsik
pasien agar pasien memiliki keyakinan akan kemampuannya dalam
melakukan perawatan diri sehingga pasien benar-benar melakukan
perawatan diri tersebut atas kesadaran sendiri atau tanpa paksaan orang lain.
5.4. Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II
Hasil penelitian yang didapatkan di RSUD dr. Soehadi Prijonegoro
Sragen memperlihatkan hasil dari 240 responden, sejumlah 53% mempunyai
kepatuhan dan sekitar 47% tidak patuh. Tingkat kepatuhan terhadap terapi
obat lebih baik daripada terhadap perubahan gaya hidup seperti diet dan
olahraga (Delamater, 2006). Penelitian yang dilakukan oleh Bangun (2009)
menemukan hasil bahwa tingkat kepatuhan pasien DM terhadap terapi diet
adalah 35%.
Hasil yang lebih baik ditemukan dari penelitian Senuk, dkk (2015),
dimana tingkat kepatuhan pasien DM terhadap terapi diet adalah 53,6%.

92

Triana, dkk (2012) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa kepatuhan


pasien DM terhadap terapi diet hanya 57,6%.
Penelitian Setyani (2007) menggambarkan tingkat ketaatan diet bagi
pasien diabetes mellitus. Hasil penelitiannya menunjukkan hanya 43% pasien
yang patuh menjalankan diet diabetes mellitus. Sebanyak 57% pasien tidak
patuh menjalankan diet yang dianjurkan. Penelitian Juleka (2005) pada
penderita diabetes mellitus rawat inap di RSU Gunung Jati Cirebon
menemukan bahwa pengidap yang memiliki asupan energi melebihi
kebutuhan mempunyai risiko 31 kali lebih besar untuk mengalami kadar
glukosa darah tidak terkendali dibandingkan dengan pengidap yang asupan
energinya sesuai kebutuhan.
Kepatuhan dimaknai sebagai perilaku seseorang dalam meminum obat,
mengikuti anjuran diet dan atau melakukan perubahan gaya hidup yang sesuai
dengan rekomendasi dari tenaga kesehatan profesional (WHO, 2003).
Responden dalam penelitian ini 60% telah mengikuti anjuran dokter dalam
perencanaan diet DM dan hanya 50% yang melakukan kunjungan ulang
secara rutin kepada ahli gizi serta segan pergi ke ahli gizi karena merasa tidak
dapat mematuhi diet DM yang dianjurkan.
Terapi gizi merupakan komponen utama keberhasilan penatalaksanaan
DM. Kepatuhan pasien terhadap prinsip gizi dan perencanaan makan
merupakan salah satu kendala pada pasien DM. Pasien DM banyak yang
merasa tersiksa sehubungan dengan jenis dan jumlah makanan yang
dianjurkan (Smeltzer & Bare dalam Maulana, 2009). Hal ini dibuktikan

93

dengan pernyataan 50% responden yang menyatakan kegemarannya minum


susu manis dan juga coklat.
Diet

dan

pengendalian

berat

badan

merupakan

dasar

dari

penatalaksanaan Diabetes (Brunner & Suddart, 2012). Hanya 30% responden


dalam penelitian ini yang menjaga berat badan dalam batas normal.
Ketidakpatuhan adalah individu tidak melaksanakan sebuah program
pengobatan yang disarankan dari pihak luar, yakni otoritas individu yang kuat
yang menyebabkan individu enggan untuk melaksanakan kepatuhan yang
disarankan (WHO, 2003). Sosial preasure atau tekanan sosial baik dari
petugas kesehatan atau keluarga tidak memberikan efek pada perubahan
individu dalam melaksanakan pengobatan atau terapi. Hanya sekitar 60%
responden dalam penelitian ini yang melakukan perubahan kebiasaan untuk
mematuhi diet DM.
Ketidakpatuhan dapat mendatangkan beberapa konsekuensi yang harus
ditanggung individu. Beberapa konsekuensi yang harus ditanggung individu
mungkin tidak dirasakan secara langsung, namun dampak serius akibat sikap
tidak patuh mampu memberikan efek dikemudian waktu (Saifunurmazah,
2013). Tujuh puluh responden dalam penelitian ini mematuhi diet DM karena
percaya diet DM mencegah terjadinya komplikasi yang diakibatkan penyakit
DM dan 60% responden menghindari makanan manis untuk menghindari
terjadinya komplikasi.
Rendahnya tingkat kepatuhan pasien DM terhadap terapi diet
sehubungan dengan jenis dan jumlah makanan yang dianjurkan (Smeltzer &

94

Bare, 2008). Pengetahuan pasien dan keyakinan tentang penyakit, motivasi


untuk mengelolanya, kepercayaan (self efficacy) tentang kemampuan untuk
terlibat dalam perilaku manajemen penyakit, dan harapan mengenai hasil
pengobatan serta konsekuensinya dari ketidakpatuhan berinteraksi untuk
mempengaruhi kepatuhan dengan cara yang belum sepenuhnya dipahami
(Sabate, 2001).
Keberhasilan dapat dicapai seseorang dengan melewati 3 (tiga) tahapan
kepatuhan, yaitu pertama adalah percaya pada akurasi dari diagnosa,
kesesuaian terapi, kemampuan untuk melaksanakan terapi dan validasi serta
kecenderungan terapi untuk mencapai keberhasilan. Ketika pasien DM Tipe
II memiliki dasar kepercayaan, maka pasien DM Tipe II akan beradaptasi
terhadap kondisi sakitnya serta terapi yang harus dijalani akibat menderita
penyakit tersebut. Tahap kedua adalah pengetahuan. Seseorang perlu
mengetahui apa yang harus dilakukan agar dapat mengerjakan tindakan
tersebut dengan tepat dan benar. Instruksi yang jelas dan model mental yang
dikembangkan dengan baik membantu individu dalam melakukan tindakan
dengan efektif. Pengetahuan yang baik tentang kapan dan bagaimana
melaksanakan suatu terapi akan membantu pasien DM Tipe II untuk
mengembangkan petunjuk-petunjuk kritis dan mengingatkan untuk selalu
patuh terhadap rekomendasi terapi. Tahap yang terakhir adalah tindakan.
Pasien DM Tipe II akan patuh melaksanakan rekomendasi terapi jika percaya
pada tujuan dan efektifitas dari terapi, tahu bagaimana melaksanakan dengan
sesuai dan mampu melaksanakan terapi yang dianjurkan karena setiap kali

95

dilaksanakan (atau tidak) adalah penegasan ulang dari kepercayaan,


pengetahuan dan kemampuan bertindak (Klein, 2006).
Peneliti berpendapat kurangnya kepatuhan menjalankan diet pada
pasien DM Tipe II di RSUD dr. Soehadi Prijoenegoro Sragen dapat
dihubungkan dengan rata-rata lama menderita DM yaitu 10 tahun. Pasien
dengan riwayat menderita DM Tipe II lebih lama lebih sering mengkonsumsi
makanan yang tidak sesuai, dengan proporsi lemak jenuh yang besar serta
tidak menjalani diet dengan benar. Hal ini disebabkan oleh timbulnya
perasaan jenuh, bosan dan depresi pada sebagian besar pasien DM Tipe II
yang menjalani terapi jangka panjang. Sebagaimana penelitian yang
dilakukan oleh Ciechanowski (2000) ditemukan bahwa gejala depresi timbul
akibat kejenuhan dalam mematuhi aturan diet dan pengobatan.
5.5. Hubungan antara Pengetahuan dengan Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II
RSUD dr. Soehadi Prijonegoro Sragen
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan bermakna antara
pengetahuan dengan kepatuhan diet pasien DM Tipe II (p value = 0,000 <
0,05). Berdasarkan hasil analisis tersebut diperoleh nilai OR = 1,601, artinya
pasien yang memiliki pengetahuan yang tinggi berpeluang 1,601 kali untuk
mematuhi diet DM Tipe II dibandingkan dengan pasien DM Tipe II yang
mempunyai pengetahuan yang rendah dan sedang.
Pada penderita yang mempunyai pengetahuan yang lebih luas
memungkinkan pasien itu dapat mengontrol dirinya dalam mengatasi
masalah yang di hadapi, mempunyai rasa percaya diri yang tinggi,

96

berpengalaman, dan mempunyai perkiraan yang tepat bagaimana mengatasi


kejadian serta mudah mengerti tentang apa yang dianjurkan oleh petugas
kesehatan, akan dapat mengurangi kecemasan sehingga dapat membantu
individu tersebut dalam membuat keputusan. Hasil penelitian ini didukung
dengan teori dimana pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang
sangat penting untuk terbentuknya suatu tindakan, perilaku yang didasari
pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari pengetahuan
(Notoatmodjo, S. 2003).
Hasil penelitian ini didukung oleh teori pengetahuan tentang kesehatan
dapat membantu individu-individu tersebut untuk beradaptasi dengan
penyakitnya, mencegah komplikasi dan mematuhi program terapi dan belajar
untuk memecahkan masalah ketika menghadapi situasi baru. Hal ini juga
akan mencegah rehospitalisasi pasien, individu dengan kondisi kronik sering
harus kembali dirawat di rumah sakit, karena tidak mengetahui cara merawat
diri sendiri. (Brunner & Suddarth, 2002).
Notoatmodjo (2003) berpendapat bahwa pengetahuan merupakan
domain dari perilaku yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan
seseorang. Begitu juga pengetahuan yang dimiliki oleh pasien DM Tipe II
mengenai manfaat terapi serta komplikasi yang mungkin terjadi diharapkan
dapat membentuk perilaku yang positif, salah satunya kepatuhan dalam
melaksanakan 4 (empat) pilar penatalaksanaan DM di rumah.
Perilaku baru terutama pada orang dewasa dimulai pada domain kognitif
dalam arti subjek tahu terlebih dahulu terhadap stimulus yang berupa materi

97

objek

diluarnya

menimbulkan

respon

batin

dalam

bentuk

sikap

(Notoatmodjo, 2005). Akhirnya rangsangan yakni objek yang telah diketahui


dan disadari sepenuhnya tersebut akan menimbulkan respon lebih jauh lagi
yaitu berupa tindakan terhadap stimulus atau objek. Pengetahuan merupakan
langkah awal dari seseorang untuk menentukan sikap dan perilakunya. Jadi
tingkat pengetahuan akan sangat berpengaruh terhadap penerimaan suatu
program. Demikian pula pendapat Notoatmodjo (2007), yang mengatakan
bahwa pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting
untuk terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan adalah hasil pengindraan
manusia, atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang
dimilikinya. Pengetahuan seseorang terhadap terhadap objek mempunyai
mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda (Notoatmodjo, 2010).
5.6. Hubungan antara Motivasi dengan Kepatuhan Diet Pasien DM Tipe II
Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa motivasi pasien DM Tipe
II masih rendah. Hasil analisa bivariat dengan menggunakan chi square
didapatkan untuk variabel independen motivasi dengan variabel dependen
kepatuhan pasien DM Tipe II tentang diet DM Tipe II diperoleh p value =
0,083, yang lebih besar daripada nilai alpha (0,05). Hasil ini menunjukkan
tidak terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi dengan kepatuhan.
Hasil penelitian ini agak berbeda dengan hasil penelitian terdahulu
yang mendapatkan hasil motivasi berhubungan secara signifikan dengan
kepatuhan diet DM pada pasien DM di Desa Tangkil, Kedung Wuni,
Pekalongan (Indarwati, dkk, 2012). Penelitian yang dilakukan di RSUD

98

Kota Semarang juga mendapatkan hasil bahwa ada hubungan antara


motivasi dengan kepatuhan diet DM pada penderita DM (Phitri &
Widiyaningsih, 2013).
Motivasi adalah suatu proses dalam diri manusia yang menyebabkan
organisme tersebut bergerak menuju tujuan yang dimiliki, atau bergerak
menjauh dari situasi yang tidak menyenangkan (Wade dan Travis 2008).
Sikap perilaku dalam kesehatan individu juga dipengaruhi oleh motivasi diri
individu untuk berperilaku yang sehat dan menjaga kesehatan. Tanpa
motivasi dalam pengaturan diet pasien DM akan mengalami ketidakpatuhan
dalam mengatur pola makan sehari-hari. Kepatuhan pasien DM dalam
melaksanakan diet merupakan salah satu hal terpenting dalam pengendalian
DM. Pasien DM harus bisa mengatur pola makannya sesuai dengan prinsip
diet DM yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan, karena dengan mengatur
pola makan pasien bisa mempertahankan gula darah mereka agar tetap
terkontrol.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki
motivasi tinggi akan menunjukkan hasil yang positif dalam pengelolaan DM
seperti peningkatan partisipasi dalam program latihan fisik dan melaporkan
gejala depresi yang rendah (Wu, 2007). Motivasi merupakan prediktor
terhadap kepatuhan dalam regimen dan kontrol glikemik (Butler, 2002).
Menurut teori sosial kognitif, motivasi manusia didasarkan pada
pengetahuan yang dimiliki oleh individu. Individu akan termotivasi untuk
melakukan suatu tindakan jika sesuatu dengan tujuan, rencana dan hasil yang

99

diharapkan (Bandura, 2006). Butler (2002) menyatakan bahwa lingkungan


sosial, keluarga dan tenaga kesehatan berpengaruh dalam meningkatkan
motivasi dan perubahan perilaku pasien. Seseorang yang mendapat dukungan
dari keluarga, dan sekitarnya serta dukungan dari tenaga kesehatan yang
sifatnya tidak menekan, mengontrol dengan ketat atau otoriter akan
meningkatkan motivasi, eficacy diri pasien dan perilaku perawatan diri yang
adaptif.
Peneliti berpendapat terkait ketidakbermaknaan motivasi terhadap
kepatuhan pasien dalam menjalankan diet DM Tipe II adalah tidak
adekuatnya implementasi peran dan fungsi perawat sebagai caregiver di
poliklinik Penyakit Dalam RSUD dr. Soehadi Prijoenegoro Sragen. Selama
studi pendahuluan dan selama proses pengumpulan data penelitian, perawat
cenderung hanya berfokus memanggil pasien untuk diperiksa oleh dokter dan
melakukan pekerjaan administrasi lainnya. Hal tersebut menyebabkan
perawat cenderung mengabaikan kebutuhan pasien akan informasi mengenai
perawatan diri pasien DM Tipe II selama di rumah sehingga berdampak pada
pasien yang cenderung tidak memperdulikan dan tidak mematuhi
rekomendasi terapi DM yang dianjurkan.
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil bahwa meskipun motivasi
tidak berhubungan secara signifikan dengan kepatuhan diet pasien DM Tipe
II, tetapi responden yang mempunyai motivasi tinggi berpeluang 1, 6 kali
untuk mematuhi diet DM, dibandingkan dengan responden yang mempunyai
motivasi rendah.

100

Penelitian Gustina, Suratun & Heryati (2014) di Puskesmas Kecamatan


Jatinegara, Jakarta Timur menyatakan bahwa motivasi berhubungan dengan
kepatuhan menjalankan diet DM. Responden motivasi baik memiliki peluang
untuk mematuhi diet DM sebesar 329,667 kali dibandingkan dengan
responden motivasi kurang (OR = 329,667).
Simpulan yang dapat diambil adalah kepatuhan adalah suatu bentuk
perilaku kesehatan. Perilaku yang terbentuk di dalam diri seseorang
dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu stimulus yang merupakan faktor
yang berasal dari luar diri seseorang (faktor eksternal) dan respon yang
merupakan faktor dari dalam diri orang yang bersangkutan (faktor internal).
Faktor eksternal adalah faktor lingkungan fisik seperti iklim, cuaca, maupun
non fisik dalam bentuk sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya.
Sedangkan faktor internal adalah perhatian, pengamatan, persepsi, motivasi,
fantasi, sugesti, depresi dan sebagainya yang merespon stimulus dari luar.

BAB VI
PENUTUP

6.1. SIMPULAN
1. Sebagian besar pasien DM Tipe II di Poliklinik Penyakit Dalam RSUD
dr. Soehadi Prijonegoro Sragen berumur adalah lebih dari 60 tahun,
dengan lama sakit DM Tipe II adalah lebih dari 3 tahun. Mayoritas jenis
kelamin perempuan, berpendidikan SMP/SMU, telah menikah dan telah
mendapatkan informasi tentang diet DM Tipe II.
2. Mayoritas responden mempunyai pengetahuan tentang Diet DM Tipe II
kategori tinggi (63%).
3. Mayoritas responden mempunyai motivasi melaksanakan diet DM Tipe II
kategori rendah (76%).
4. Mayoritas responden mematuhi diet DM Tipe II (53%).
5. Ada hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kepatuhan diet DM
Tipe II (p value = 0,000 < 0,005).
6. Tidak ada hubungan bermakna antara motivasi dengan kepatuhan diet DM
Tipe II (p value = 0,083 > 0,005).

101

102

6.2. SARAN
Saran yang dapat peneliti berikan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi rumah sakit
Hendaknya RS menyediakan media pendidikan kesehatan bagi penderita
DM seperti leaflet, lembar balik yang dapat dimanfaatkan untuk
penyuluhan kesehatan.
2. Bagi Perawat
Meningkatkan kemampuan dan kepedulian perawat untuk memberikan
edukasi yang dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan
motivasi pasien DM Tipe II dalam menjalankan diet DM Tipe II.
3. Bagi Pasien
Meningkatkan pengetahuan dan motivasi diet DM Tipe II dengan
berdiskusi dengan petugas kesehatan yang kompeten serta mencari
literatur melalui media masa dan elektronik.
4. Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian lebih lanjut pada populasi umum dengan sampel yang lebih
besar diperlukan untuk mengetahui faktor lain kepatuhan diet pasien DM
Tipe II.

103

DAFTAR PUSTAKA

ADA

(American Diabetes Asssociation). (2005). Clinical practice


recommendation : Standar of medical care. Diabetes Care. 30(1), s4-s41.
Diakses tanggal 25 Mei 2015, dari http://www.care.diabetesjournals.org.

Anonim. (2006). Informasi dan Panduan Lengkap Diabetes. Diakses tanggal 30


Juni 2015, dari www.rumahdiabetes.co.id.
Arikunto, S. (2009). Manajemen penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Almatseir, S. (2005). Pemilihan Diet. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Azwar, S. (2005). Sikap manusia: teori dan pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Bangun, A.V. (2009). Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kepatuhan
pasien tipe 2 dalam konteks asuhan keperawatan di poliklinik endokrin rshs
bandung. Tesis. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Jakarta.
Bastable, S.B. (2002). Perawat sebagai pendidik: prinsip-prinsip pengajaran dan
pembelajaran. Jakarta: EGC.
Black, J.M. & Hawks, J.H. (2009). Medical surgical nursing : Clinical
management for positive outcome. 8th Edition. St. Louis Missouri: Elsevier
Saunders.
Brunnert & Suddarths. (2012). Texbook of medical surgical nursing. Lippincot:
Williams & Wilkins.
Butler, H.A. (2002). Motivation: The role in diabetesself-management in older
adults. Diakses tanggal 23 Mei 2015, dari http://proquest.umi.com/pqdweb.
Dirgagunarsa, S. (1996). Pengantar Psikologi. Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
Delamater, A.M. (2006). Improving patient adherence. Diakses tanggal 25 Mei
2015, dari http://www.clinical. diabetesjournals.org/cgi/content/full/242/71.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2001). Profil Kesehatan Indonesia
2000. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Dewi & Wawan. 2010. Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Manusia. Jakarta : Nuha Merdika.
Esterberg, K.G. (2002). Qualitative Methods in Social Research. McGraw-Hill

104

Febriana, R., Widyamoko, S., & Lestari, N. (2013). Hubungan kepatuhan diit
dengan kadar gula darah sewaktu pada pasien diabetes melitus tipe 2 di
rawat inap rsud sukoharjo. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Surakarta, Surakarta.
Gustina, Suratun & Heryati. (2014). Faktor-faktor yang berhubungan dengan
kepatuhan diet diabetes mellitus pada pasien dm (factors associated with
compliance diet of diabetes mellitus). JKep. Vol. 2 (3), 97-107
Guyton, A.C., & Hall, J.E. (2006). 11 Edition. Textbook of Medical Physiology.
Elsevier Inc.
Hamid, A.Y.S. (Ed.). (2008). Riset keperawatan: Konsep, etika & instrumentasi.
(Vol 2). Jakarta: EGC.
Hastono, S.P. (2007). Basic data analysis for health research training: Analisis
data kesehatan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Haweni, Tri. (2008). Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak
Bekerja tentang Stimulasi pada Pengasuhan Anak Balita. diakses pada tanggal
14-06-2015, dari http://library.usu.ac.id/index.php?option=com_journal.
Hendro, M. (2010). Pengaruh psikososial terhadap pola makan penderita diabetes
mellitus di rumah sakit umum daerah kabupaten deli serdang tahun 2009. Tesis
FKM Universitas Sumatera Utara. Medan.

Indarwati, D., Rusmariana, R.A., & Hartanti, R.D. (2012). Hubungan motivasi
dengan kepatuhan diet diabetes melitus pada pasien diabetes melitus di desa
tangkil wilayah kerja puskesmas kedungwuni II kabupaten pekalongan.
Skripsi. Prodi S1 Keperawatan Stikes Pekajangan, Pekalongan.
Jorgensen, M. W. & Louise J. P. (2007). Analisis Wacana Teori dan Metode.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kammerer, J., Garry, G., Hartigan, M, Carter, B., Erlich, L. (2007). Adherence in
patients on dialysis: Strategy for succes. Nephrology Nursing Journal. 34
(5), 479-485.
Klein, et. al. (2006). Medication adherence: many condition, a common problem.
Diakses
pada
tanggal
27
Desember
2015,
dari
http://www.proquest.umi.com/pqdweb.
Le Mone, P. & Burke, K.M. (2008). Medical surgical nursing: critical nursing in
client care. 6th Edition. New Jersey: Prentice Hall Health.

105

Lopulalan, C. R. (2008). Sekilas Tentang Diabetes Mellitus, Diakses tanggal 20


April 2015, dari www.klinikdrrocky.co.id.
Marquis, B.L., Huston, J.J. (2006). Leardershep role and management function in
nursing : Theory and application. (5th edition). California : Lippincott
Williams & Wilkins.
Mihardja, L. 2009. Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah
pada Penderita Diabetes Mellitus dalam Majalah Kedokteran Indonesia.
Jakarta.
Notoatmodjo. (2010). Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka.
Notoatmodjo. S. (2012). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta:
Rineka.
Notoatmodjo, S. (2003). Ilmu perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka.
Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2009). Metodologi penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan: Pedoman Skripsi, Tesis, dan Instrumen Penelitian
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Perkeni. (2006). Konsesnsus pengelolaan dan pencegahan diabetes mellitus tipe 2
di Indonesia. Jakarta.
Perkeni. (2011). Konsesnsus pengelolaan dan pencegahan diabetes mellitus tipe 2
di Indonesia tahun 2011. Diakses pada tanggal 12 Desember 2015, dari
http://www.perkeni.net.
Phitri, H.E. & Widiyaningsih. (2013). Hubungan antara pengetahuan dan sikap
penderita diabetes mellitus dengan kepatuhan diet diabetes mellitus di rsud
am. parikesit kalimantan timur. Jurnal Keperawatan Medikal Bedah .1 (1),
58-74.
Polit, D.F., & Beck, C.T. (2006). Essentials of nursing research: Methods,
appraisal, and utilization. (6th ed). Philadelphia: Lippincot Williams &
Walkins.
Potter, P.A. & Perry, A.G. (2005). Fundamental of nursing: concepts, procces
and practice. 6th Edition. Philadelphia: by Mosby Year Booc Inc.

106

Price, SA & Lorraine (2005). Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit,


vol. 2. Jakarta: EGC.
Purwanto, N.H. (2011). Hubungan pengetahuan tentang diet diabetes mellitus
dengan kepatuhan pelaksanaan diet pada penderita diabetes mellitus. Jurnal
Keperawatan. 1(1).
Radi, B. (2007). Diabetes mellitus sebagai faktor resiko penyakit jantung. Diakses
pada tanggal 8 Januari 2016, dari http://www.pjnhk.go.id.
Rahmat.
(2005)
Motivasi.
Diakses
pada
1
november
2015,
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=motivasi%20rendah%20diet%
Robbins, S.P., & Judge,T.A. (2008). Perilaku organisasi (12th ed.) (Vol 2).
(Diana Angelica, Ria Cahyani & Abdul Rosyid, penerjemah). Jakarta:
Salemba Empat.
Rubin, R.R. (2000). Psychotherapy and conselling in diabetes mellitus psycology
in diabetes care. Chickester: John Wiley & Sons. Ltd.
Saryono. (2008). Metodologi penelitian kesehatan: penuntun praktis bagi pemula.
Mitra Cendikia: Jogjakarta.
Smeltzer, S.C., Bare, B.G., Hinkle, J.L., Cheever, K.H. (2008). Texbook of
medical surgical nursing. 12th Edition. Philadelphia: Lipincott Williams &
Wilkins.
Senuk, A., Supit, W., & Onibala, F. (2013). Hubungan pengetahuan dan dukungan
keluarga dengan kepatuhan menjalani diet diabetes melitus di poliklinik
rsud kota tidore kepulauan provinsi maluku utara. ejournal keperawatan (eKp). 1, 1-7.
Setyani. (2007). Hubungan antara pengetahuan dan sikap tentang diabetes
mellitus dengan kepatuhan dalam melaksanakan diet pada pasien diabetes
mellitus di brsd rsu raa soewondo kabupaten pati. Skripsi : Tidak
dipublikasikan.
Sjamsuhidayat, R.; Jong, W.D. (2005). Buku Ajar Ilmu Bedah edisi 2. Jakarta :
EGC.
Sornoza O., Ariana K., Mendoza S., Humberto D., 2012. Diabetes Mellitus ysus
Complicaciones en los Pacientes Atendidos en la Unidad Mdica
Universitaria de Portoviejo Mayo Septiembre 2011. Diakses pada 27
Desember 2015. http://repositorio.utm.edu.ec/handle/123456789/405

107

Siagian, S. P., (2004). Teori motivasi dan aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta
Sudoyo, S. (2006). Buku ajar ilmu penyakit dalam. (Edisi 3). Jakarta: Departemen
Penyakit Dalam FK UI.
Sugiyono. (2010). Statistika untuk penelitian. Bandung: CV Alfabeta.
Suyono, S. (2006). Buku ajar ilmu penyakit dalam. (Edisi 3). Jakarta: Departemen
Penyakit Dalam FK UI.
Triana, R., Karim, D., Jumaini. (2012). Hubungan tingkat pengetahuan pasien
diabetes mellitus tentang penyakit dan diet dengan kepatuhan dalam
menjalankan diet diabetes mellitus. Skripsi. Program Studi Ilmu
Keperawatan Universitas Riau, Riau.
Thorm. (2006). Overview of patient adherence to medication. Diakses tanggal 20
Mei 2015, dari http://www.clinical.DMjournals.org/cgi/content/full/24/2/71
Vecchio, R.P. (1995). Its not easy beeing green: Jealousy and envy in the
workplace. Research in personnel and human resourches management. 13,
201-24.
WHO. (2003). Adherence long term therapy: Evidence for action. Diakses tanggal
20
Mei
2015,
dari
http://www.emro.who.int/ncd/publicity/adherencereportindiabetespatient/.
Wu, S.F.V. (2007). Effectiveness of self management for person with type 2
diabetes following the implementation of a self-efficacy enhancing
intervention program in taiwan. Queensland University of Technology.
Diakses
tanggal
20
Desember
2015,
dari
http://eprints.qut.edu.au/16385/1/Shu-Fang_Wu_Thesis.pdf.