Anda di halaman 1dari 5

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan
mentalnya, keinginan diperhatikan, dihargai dan diakui, dibutuhkan dan
dikasih sayangi orang lain. Keselamatan dan rasa aman merupakan kebutuhan
dasar manusia menurut hirarki Maslow. Kebutuhan dasar merupakan unsurunsur yang dibutuhkan manusia dalam mempertahankan keseimbangan
fisiologis maupun psikologis yang tentunya bertujuan untuk mempertahankan
kehidupan dan kesehatan.
Manakala manusia mulai menyadari bahwa ia menyukai hal-hal tersebut,
maka timbullah keinginan untuk mendapatkannya. Apabila kebutuhan tersebut
tidak terpenuhi ia akan merasa tidak tenang dalam hidupnya dan akan merasa
cemas, sehingga itu bisa menjadi ancaman bagi dirinya sendiri. Kecemasan
bila kadarnya kecil tidak merupakan suatu gangguan, tetapi bila telah
mencapai kadar dalam tingkat tinggi, dalam arti terus menerus dan dialami
secara berulang maka akan mengganggu perasaaan hingga menyebabkan
terganggunya kesehatan mental. Emosi tersebut merupakan suatu ancaman
dalam keseimbangan psikologi manusia dan bisa menimbulkan gangguan
jiwa.
Gangguan jiwa merupakan gangguan pikiran, perasaan atau tingkah laku
sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-hari.
Gangguan jiwa disebabkan karena gangguan fungsi komunikasi sel-sel saraf
di otak, dapat berupa kekurangan maupun kelebihan neurotransmitter atau

subtansi tertentu. Gangguan jiwa meskipun tidak menyebabkan kematian


secara langsung tetapi menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi
individu serta beban berat bagi keluarga (Febrida, 2007).
Dalam detik.com kasus gangguan kesehatan jiwa di Indonesia terus
menunjukkan peningkatan, jumlah masyarakat yang mengalami gangguan
kesehatan jiwa seperti stress, depresi, cemas, sampai perilaku kekerasan
mencapai angka 20-30%. Dampak perkembangan jaman dan pembangunan
dewasa ini juga menjadi faktor permasalahan kesehatan yang ada.
Gangguan jiwa bisa ditunjukkann melalui perilaku destruktif. Perilaku
destruktif adalah satu agresi fisik dari seseorang terhadap lainnya. Bila agresi
itu ditujukan terhadap diri sendiri, hal itu disebut sebagai tindakan mutilasi
diri atau perilaku bunuh diri (Kaplan & Sadock, 1998).
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, prevalensi gangguan mental
emosional seperti gangguan kecemasan dan depresi sebesar 11,6% dari
populasi orang dewasa. Berarti dengan jumlah populasi orang dewasa di
Indonesia lebih kurang 150.000.000 ada 1.740.000 orang saat ini mengalami
gangguan mental emosional.
Menurut penelitian Ruti dkk pada tahun 2010 jumlah kunjungan poli jiwa
di Rumah Sakit Jiwa Daerah Jawa Tengah rata-rata 20 orang perhari. Pada
bulan februari tahun 2009 klien yang dirawat di psikiatri 90% terdiagnosis
skizofrenia (80 orang dari 90 orang). Berdasarkan alasan masuk rumah sakit
klien dengan perilaku kekerasan 62 kasus (68%), isolasi sosial 24 kasus
(26%), dan halusinasi 14 kasus (16%).
Menurut Kaplan & Sadock (1998),

faktor

yang

meningkatkan

kemungkinan adanya perilaku kekerasan (amuk) yaitu, agitasi psikosis,


riwayat adanya tindakan-tindakan kekerasan di masa lalu adanya stress masa
kini, intoksikasi obat dan alkohol, gejala abtinensi dari alkohol dan hipnotik

sedatif, dan gangguan organik memberikan indikasi akan terjadinya tindak


kekerasan saat ini.
Umumnya klien dengan perilaku kekerasan dibawa dengan paksa ke
Rumah Sakit Jiwa. Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai
bentakan oleh sejumlah anggota keluarga bahkan polisi. Perlakuan seperti ini
bisa menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi klien, perasaan ini bisa
diungkapkan secara adaptif atau mal adaptif. (detik.com)
Dalam hal ini perawat mempunyai peran yang amat sangat penting dalam
upaya mencegah akan timbulnya perilaku kekerasan, dalam hal ini perawat
harus mampu melaksanakan strategi tindakan pada klien perilaku kekerasan
yang meliputi strategi prevensi atau pencegahan, yang kedua antisipasi yaitu
melakukan perubahan lingkungan dan pengobatan, dan strategi terakhir adalah
strategi pembatasan gerak yang bertujuan mengurangi gerakan fisik serta
melindungi klien dan orang lain dari cedera.
Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis akan mengangkat kasus tersebut
ke dalam karya tulis ilmiah ini, untuk mengetahui tentang bagaimana hal
tersebut bisa timbul, cara pencegahan, dan cara perawatannya serta menambah
pengetahuan bagi penulis.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah tersebut di atas, dapat
dirumuskan pertanyaan masalah sebagai berikut : Bagaimana pemenuhan
kebutuhan keselamatan dan rasa aman pada klien dengan perilaku kekerasan
di Ruang Amarta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mampu membantu memenuhi kebutuhan keselamatan dan rasa aman pada
klien dengan perilaku kekerasan di Ruang Amarta Rumah Sakit Jiwa
Daerah Surakarta.
1.3.2 Tujuan khusus

1) Mampu melakukan pengkajian pemenuhan kebutuhan keselamatan dan


rasa aman pada klien dengan perilaku kekerasan di Ruang Amarta
Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
2) Mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan perilaku
kekerasan di Ruang Amarta Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.
3) Mampu merencanakan tindakan keperawatan yang tepat pada
pemenuhan kebutuhan keselamatan dan rasa aman pada klien dengan
perilaku kekerasan di Ruang Amarta Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta.
4) Mampu melaksanakan tindakan keperawatan yang tepat pada klien
dengan pemenuhan kebutuhan keselamatan dan rasa aman pada
perilaku kekerasan di Ruang Amarta Rumah Sakit Jiwa Daerah
Surakarta.
5) Mampu mengevaluasi tindakan pemenuhan kebutuhan keselamatan
dan rasa aman pada klien dengan perilaku kekerasan di Ruang Amarta
Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta.

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
1) Bagi Profesi Keperawatan
Dapat

digunakan

sebagai

masukan

bagi

perawat

untuk

meningkatkan pengetahuan dan sebagai landasan dalam memberikan


asuhan keperawatan tentang pemenuhan kebutuhan keselamatan dan rasa
aman pada klien dengan perilaku kekerasan, sehingga dapat melaksanakan
peran dan tanggung jawab profesinya.

1.4.2 Manfaat Praktis


1) Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunakan untuk menambah informasi bagi institusi
pendidikan keperawatan, khususnya Akper Dr. Soedono Madiun untuk
dikembangkan

dalam

pengajaran

tentang

pemenuhan

kebutuhan

keselamatan dan rasa aman pada klien perilaku kekerasan.

2) Bagi Institusi Rumah Sakit


Sebagai bahan kajian untuk perbaikan dengan peningkatan mutu
pelayanan di Rumah Sakit terutama pada pemenuhan kebutuhan
keselamatan dan rasa aman pada klien dengan perilaku kekerasan.