Anda di halaman 1dari 25

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Kebutuhan Keselamatan dan Rasa Aman


Menurut Maslow dalam Mubarak dan Chayatin (2007) kebutuhan
merupakan suatu hal yang sangat penting, bermanfaat, atau diperlukan untuk
menjaga homeostasis dan kelangsungan hidup
2.1.1 Faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan
Menurut Mubarak dan Chayatin (2007) secara umum terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan manusia. Factor-faktor tersebut
meliputi:
1) Penyakit
Saat seseorang dalam kondisi sakit, ia tidak akan mampu memenuhi
kebutuhannya sendiri. Dengan demikian individu tersebut akan bergantung
pada orang lain dalam memenuhi kebutuhan dasarnya.
2) Hubungan yang berarti
Keluarga merupakan sistem pendukung bagi individu (klien). Selain itu,
keluarga juga dapat membantu klien menyadari kebutuhannya dan
mengembangkan cara yang sehat untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Dalam praktek di tatanan layanan kesehatan perawat dapat membantu

upaya pemenuhan kebutuhan dasar klien dengan membina hubungan yang


berarti.
3) Konsep diri
Konsep diri mempengaruhi kemampuan individu untuk memenuhi
kebutuhannya. Selain itu konsep diri juga mempengaruhi kesadaran
individu untuk mengetahui apakah kebutuhan dasarnya terpenuhi atau
tidak.
4) Tahap perkembangan
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan dalam hal struktur dan
fungsi tubuh yang lebih kompleks di dalam suatu pola yang teratur dan
dapat di prediksi sebagai hasil dari proses pematangan. Dalam hal ini
pemenuhan kebutuhan dasar akan dipengaruhi oleh perkembangan emosi,
intelektual dan tingkah laku individu sebagai hasil dari interksinya dengan
lingkungan.
5) Struktur keluarga
Struktur

keluarga

dapat

mempengaruhi

cara

klien

memuaskan

kebutuhannya. Sebagai contoh seorang ibu akan mendahulukan kebutuhan


bayinya dibandingkan kebutuhan sendiri.
2.1.2 Definisi
Keselamatan (safety) adalah kondisi ketika individu, kelompok, atau masyarakat
terhindar dari segala bentuk ancaman atau bahaya. Sedangkan keamanan adalah

kondisi aman dan tenteram, bebas dari ancaman atau penyakit (Mubarak dan
Chayatin, 2007).
Keselamatan adalah suatu keadaan seseorang atau lebih yang terhindar dari
ancaman bahaya atau kecelakaan. Kecelakaan merupakan kejadian yang tidak
dapat diduga dan tidak diharapkan yang dapat menimbulkan kerugian, sedangkan
keamanan adalah keadaan aman dan tenteram (Tarwoto & Wartonah, 2010).
2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan keselamatan dan
keamanan:
1) Usia
Ini erat kaitannya dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki
individu. Anak-anak biasanya belum mengetahui tingkat kebahayaan dari
suatu lingkungan yang dapat menyebabkan cidera pada mereka.
Sedangkan lansia umumnya akan mengalami penurunan sejumlah fungsi
organ yang dapat menghambat kemampuan mereka untuk melindungi diri,
salah satunya adalah kemampuan persepsi sensori.
2) Perubahan persepsi sensorik
Persepsi sensorik yang akurat terhadap stimulus lingkungan merupakan
hal vital bagi keselamatan individu. Individu yang mengalami gangguan
persepsi sensorik (pendengaran, penglihatan, penciuman, sentuhan)
berisiko tinggi mengalami cidera.

10

3) Keadaan emosi
Emosi yang tidak stabil akan mengubah kemampuan seseorang dalam
mempersepsikan bahaya lingkungan. Rasa marah, kecemasan, situasi yang
penuh tekanan dapat menurunkan tingkat konsentrasi, mengganggu
penilaian, dan menurunkan kewaspadaan terhadap stimulus eksternal.
4) Gangguan kesadaran
Segala bentuk gangguan kesadaran (misal: pengaruh narkotik, obat
penenang, alkohol, disorientasi, tidak sadar, kurang tidur, halusinasi) dapat
membahayakan keselamatan dan keamanan seseorang.
5) Mobilitas dan status kesehatan
Klien dengan gangguan ekstremitas (misal: paralisis, lemah otot, gangguan
keseimbangan tubuh, inkoordinasi) berisiko tingi mengalami cidera.
Sedangkan klien yang lemah karena penyakit atau prosedur pembedahan
tidak selalu waspada dengan kondisi mereka.
6) Kemampuan berkomunikasi
Klien dengan gangguan bicara atau afasia, individu dengan hambatan
bahasa, dan mereka yang tidak dapat membaca atau buta huruf beresiko
mengalami cidera.
7) Pengetahuan tentang keamanan
Informasi tentang keamanan sangat penting guna menurunkan tingkat
kebahayaan lingkungan. Dalam hal ini perawat bertanggung jawab
memberikan informasi yang akurat kepada klien yang berada di rumah
sakit.
8) Gaya hidup
Gaya hidup yang menyebabkan individu berisiko tinggi antara lain
lingkungan kerja yang tidak aman, lingkungan pperumahan di daerah
rawan (misal: sungai, lereng pegunungan, jalan raya) tingkat sosial
ekonomi yang rendah, akses yang mudah untuk mendapatkan obat-obatan.
9) Lingkungan

11

Kondisi lingkungan yang tidak aman dapat mengancam kesehatan dan


keamanan individu. Stimulus lingkungan seperti bunyi yang sangat keras
dapat menyebabkan gangguan pada fungsi pendengaran. Bahan-bahan
berbahaya seperti racun, zat kimia, emisi, logam berat (merkuri), racun
bakteri (tetanus, difteri, botulisme) dapat mengakibatkan kerusakan pada
jaringan saraf. Lebih lanjut, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan
pada fungsi normal tubuh, baik yang sifatnya sementara atau menetap.
2.1.4 Kebijakan rumah sakit terkait keselamatan klien
Kebijakan rumah sakit terkait keselamatan klien meliputi:
1) Kecelakaan yang disebabkan oleh klien (client inherent accident). Contoh
kecelakaan ini antara lain cidera, terbakar, memakan atau menyuktikkan
zat asing, menciderai diri sendiri. Peran perawat dalam kasus ini antara
lain mencatat dan mendokumentasikan kecelakaan yang terjadi secara
akurat dan komplet serta berkoordinasi dengan tim kesehatan lain untuk
membuat

perlindungan

hokum

bagi

profesi

dan

institusi

yang

bersangkutan dari tuntutan klien.


2) Kecelakaan terkait prosedur (procedure related accident). Jenis kecelakaan
ini biasanya terjadi pada saat terapi sebagai akibat kesalahan prosedur.
Contohnya adalah kesalahan dalam pemberian cairan, penggunaan
peralatan eksternal, atau ketika melakukan tindakan perawatan (misal:
penggantian balutan). Peran perawat dalam hal ini antara lain memberikan
obat dengan prinsip 5 benar, mencegah kesalahan dalam pemberian cairan
intra vena (kelebihan atau kekurangan), serta mencegah paparan kuman
pathogen pada saat mengganti balutan.

12

3) Kecelakaan terkait peralatan (equipment related accident). Kecelakaan ini


biasanya disebabkan oleh tidak berfungsinya atau rusaknya alat-alat
elektronik (misal: tersengat arus listrik saat menggunakan peralatan
elektronik). Peran perawat dalam hal ini adalah

memeriksa peralatan

sebelum dan sesudah digunakan, tidak melakukan pemantauan atau terapi


dengan peralatan elektronik jika tidak ada instruksi, serta mengkaji adanya
kemungkinan bahaya tersengat listrik.

2.2 Konsep Perilaku Kekerasan


2.2.1 Definisi
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan dimana individu melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik diri sendiri, orang lain,
maupun lingkungan. Hal tersebut digunakan untuk mengungkapkan perasaan
marah yang tidak konstruktif (Stuart & Sundeen, 1995, dalam Fitria, 2009).
Menurut Stuart & Sundeen tahun 1998 perilaku kekerasan adalah setiap
aktivitas yang tidak dicegah dapat mengarah kepada kematian. Perilaku kekerasan
adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat
membahayakn secara fisik, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain, disertai
dengan amuk dan gaduh gelisah yang tidak terkontrol (Kusumawati & Hartono
2010, dalam Direja, 2011).
Tindakan kekerasan merupakan suatu keadaan dimana individu melakukan
atau menyerang orang lain atau lingkungan (Carpenito, 2000). Sedangkan
menurut Smith & Craft (2010) perilaku kekerasan adalah individu menunjukkan

13

bahwa dia bisa secara fisik, emosi dan atau seksual berbahaya bagi diri sendiri dan
orang lain.
Keberhasilan

individu

dalam

berespon

terhadap

kemarahan

dapat

menimbulkan respon asertif yang merupakan kemarahan yang diungkapkan tanpa


menyakiti orang lain dan akan memberikan kelegaan pada individu serta tidak
akan menimbulkan masalah. Kegagalan yang menmbulkan frustasi dapat
menimbulkan respon pasif dan melarikan diri atau respon yang maladaptif yaitu
agresi-kekerasan (Purba, 2008).
2.2.2 Etiologi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku kekerasan yang dijelaskan
menurut Towsend (1996) dalam Direja (2011)
1) Faktor Psikologis
a) Terdapat asumsi bahwa seseorang untuk mencapai suatu tujuan
mengalami hambatan akan timbul dorongan agresif yang memotivasi
perilaku kekerasan.
b) Berdasarkan pengguanaan mekanisme koping individu dan masa kecil
yang tidak menyenangkan.
c) Rasa frustasi.
d) Adanya kekerasan dalam rumah tangga, keluarga, atau lingkungan.
e) Teori psikoanalitik, teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya
ego dan membuat konsep diri yang rendah. Agresi dan kekerasan
dapat memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan
citra diri serta memberi arti dalam kehidupannya. Teori lainnya
berasumsi bahwa perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan

14

pengungkapan secara terbuka terhadap rasa keetidakberdayaannya dan


rendahnya harga diri pelaku tindak kekerasan.
f) Teori pembelajaran, perilaku kekerasan merupakan perilaku yang
dipelajari, individu yang memiliki pengaruh biologik terhadap
perilaku kekerasan cenderung untuk dipengaruhi oleh contoh peran
eksternal dibandingkan anak-anak tanpa faktor predisposisi biologik.
2) Faktor Sosial Budaya
Seseorang akan berespon terhadap peningkatan emosionalnya secara agresif
sesuai dengan respon yang dipelajarinya. Sesuai dengan teori menurut Bandura
bahwa agresif tidak berbeda dengan respons-respons yang lain. Faktor ini dapat
dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan
penguatan maka semakin besar kemungkinan terjadi. Budaya juga dapat
mempengaruhi

perilaku

kekerasan.

Adanya

norma

dapat

membantu

mendefinisikan ekspresi marah yang dapat diterima dan tidak dapat diterima.
Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku
kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat merupakan faktor
predisposisi terjadinya perilaku kekerasan.
3) Faktor Biologis
Berdasarkan hasil penelitian pada hewan, adanya pemberian stimulus
elektris ringan pada hipotalamus (sistem limbik) ternayata menimbulkan perilaku
agresif, dimana jika terjadi kerusakan pada sistem limbik (untuk emosi dan
perilaku), lobus frontal (untuk pemikiran rasional), dan lobus temporal (untuk
intepretasi indra penciuman dan memori) akan menimbulkan mata terbuka lebar,
pupil berdilatasi, dan hendak menyerang objek disekitarnya.

15

Selain itu berdasarkan teori biologik, ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan, yaitu sebagai berikut :
a) Pengaruh neurofisiologik, beragam komponen sistem neurologis
mempunyai implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls
agresif. Sistem limbik sangat terlibat dalam menstimulasi timbulnya
perilaku bermusuhan dan respons agresif.
b) Pengaruh biokimia, menurut Goldstein dalam Towsend (1996)
menyatakan

bahwa

berbagai

neurotransmitter

(epineprin,

norepineprin, dopamine, asetilkoline, dan serotonin) sangat berperan


dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Peningkatan
hormone androgen dan norepinefrin serta penurunan serotonin dan
GABA (6 dan 7) pada cairan serebrospinal merupakan faktor
predisposisi penting yang menyebabkan timbulnya perilaku agresif
pada seseorang.
c) Pengaruh genetik, menurut peenelitian perilaku agresif sangat erat
kaitannya dengan genetik termasuk genetik tipe kariotipe XXY, yang
umumnya

dimiliki

oleh

penghuni

penjara

tindak

kriminal

(narapidana).
d) Gangguan otak, sindrom otak organik berhubungan dengan berbaggai
gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbik dan modus
temporal), trauma otak, penyakit ensefalitis,epilepsi (epilepsi lobus
temporal) terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak
kekerasan.
2.2.3 Tanda dan Gejala
Menurut Fitria, 2009 tanda dan gejala perilaku kekerasan dalah sebagai berikut:

16

1) Fisik
a) Muka merah dan tegang.
b) Mata melotot atau pandangan tajam.
c) Tangan mengepal.
d) Rahang mengatup.
e) Postur tubuh kaku.
2) Verbal
a) Mengancam.
b) Mengumpat dengan kata-kata kotor.
c) Berbicara dengan nada keras, kasar dan ketus.
3) Perilaku menyerang orang lain
a) Melukai diri sendiri atau orang lain.
b) Merusak lingkungan.
c) Amuk/agresif.
4) Emosi
a) Tidak adekuat.
b) Tidak aman dan nyaman.
c) Rasa terganggu
d) Jengkel.
e) Tidak berdaya.
f) Mengamuk dan ingin berkelahi.
g) Menyalahkan dan menuntut.
5) Intelektual
a) Mendominasi.
b) Cerewet.
c) Kasar.
d) Berdebat.
e) Meremehkan.
f) Kadang mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme.
6) Spiritual
a) Rasa diri berkuasa.
b) Merasa diri benar.
c) Keragu-raguan.
d) Tidak bermoral.
e) Kreativitas terhambat.
7) Sosial
a) Menarik diri.
b) Pengasingan.
c) Penolakan.
d) Kekerasan.
e) Ejekan dan sindiran.
8) Perhatian
a) Bolos.
b) Melarikan diri.
c) Melakukan penyimapangan sosial.

17

2.2.4 Rentang Respon


Respons adaptif
Asertif

frustasi

Responmaladaptif
pasif

agresif

kekerasan

Gambar 2.1 : Rentang Respons Perilaku Kekerasan


1) Asertif : individu dapat mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang
lain dan memberi ketenangan.
2) Frustasi
: individual gagal mencapai tujuan kepuasan dan tidak
dapat menemukan alternatif.
3) Pasif : individu tidak dapat mengungkapkan perasaannya.
4) Agresif : perilaku yang menyertai marah, terdapat dorongan untuk
menuntut tapi masih terkontrol.
5) Kekerasan: perasaan marah dan bermusuhan yang kuat serta hilangnya
kontrol.
2.2.5 Mekanisme Koping
Perawat perlu mengidentifikasikan mekanisme koping klien, sehingga dapat
membantu klien untuk mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif
dalam mengekspresikan kemarahannya. Menurut Riyadi & Purwanto, 2009
mekanisme koping yang umum digunakan adalah mekanisme pertahanan ego
seperti displacement (dapat mengunkapkan kemarahan pada objek yang salah,
misalnya pada saat marah pada dosen, mahasiswa mengungkapkan kemarahan
dengan memukul tembok), sublimasi proyeksi yaitu kemarahan secara verbal
mengalihkan kesalahan diri sendiri pada orang lain yang dianggap berkaitan,
misalnya pada saat mendapat nilai buruk seorang mahasiswa menyalahkan

18

dosennya atau tenaga administrasi yang tidak becus memberikan nilai.


Mekanisme koping represif merupakan individu merasa seolah-olah tidak marah
atau tidak kesal,ia tidak mencoba menyampaikannya kepada orang terdekat,
sehingga rasa marahnya tidak terungkap. Mekanisme koping lainnya adalah
denial, dan reaksi formasi (Riyadi & Purwanto, 2009).
Menurut Fitria, 2009 perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi
berduka berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh orang yang
dianggap sangat berpengaruh dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak teratasi,
maka dapat menyebabkan seorang rendah diri (harga diri rendah), sehingga sulit
untuk bergaul dengan orang lain. Bila ketidakmampuan bergaul ini tidak diatasi
akan memunculkan halusinasi berupa suara-suara atau bayangan yang meminta
klien untuk melakukan tindak kekerasan. Hal tersebut dapat berdampak pada
keselamatan dirinya dan orang lain (resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan
lingkungan).
Selain diakibatkan oleh berduka yang berkepanjangan, dukungan keluarga
yang kurang baik dalam menghadapi kondisi klien dapat memengaruhi
perkembangan klien (koping keluarga tidak efektif). Hal ini tentunya
menyebabkan klien sering keluar masuk Rumah Sakit atau menimbulkan
kekambuhan karena dukungan keluarga tidak maksimal (regimen terapeutik
inefektif) (Fitria, 2009).
2.2.6 Pohon Masalah
Resiko tinggi mencederai, orang lain, dan Lingkungan

Perilaku Kekerasan

19

Gangguan persepsi
sensori : halusinasi
Gambar 2.2 :Pohon Masalah Perilaku Kekerasan
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan
2.3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
proses sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam,
2001:17).
1) Data Yang Perlu Dikaji
Subjektif:
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Klien mengancam.
Klien mengumpat dengan kata-kata kotor.
Klien mengatakan dendam dan jengkel.
Klien mengatakan ingin berkelahi.
Klien menyalahkan dan menuntut.
Klien meremehkan.

Objektif :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Mata melotot atau pandangan tajam.


Tangan mengepal.
Rahang mengatup.
Wajah memerah dan tegang.
Postur tubuh kaku.
Suara keras.

2) Perilaku Yang Berhubungan dengan Perilaku Kekerasan

20

a) Menyerang atau menghindar


Pada keadaan ini respon fisiologis timbul karena kegiatan sistem saraf
otonom bereaksi terhadap sekresi epineprin yang menyebabkan
tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar,
mual,

sekresi

HCL

meningkat,

peristaltik

gaster

menurun,

pengeluaran urin dan saliva meningkat, konstipasi, kewaspadaan


meningkat disertai ketegangan otot seperti rahang terkatup, tangan
mengepal, tubuh menjadi kakau disertai reflek yang cepat.
b) Menyatakan secara asertif
Perilaku yang sering ditampilkan individu dalam mengekspresikan
kemarahannya yaitu dengan perilaku pasif, agresif, dan asertif.
Perilaku asertif adalah yang terbaik, individu dapat mengekspresikan
marahnya tanpa menyakiti orang lain secara fisik maupun psikologis
dan perilaku asertif tersebut individu dapat mengembangkan diri.
c) Memberontak
Perilaku yang muncul biasanya disertai kekerasan akibat konflik
perilaku untuk menarik perhatian orang lain.
d) Perilaku Kekerasan
Tindakan kekerasan atau amuk yang ditujukan pada diri sendiri, orang
lain, maupun lingkungan.
3) Faktor Penyebab
Faktor predisposisi
a) Adanya riwayat gangguan jiwa sebelumnya.
b) Pengobatan sebelumnya yang tidak atau kurang berhasil.
c) Adanya riwayat aniaya fisik, aniaya seksual, kekerasaan dalam rumah
tangga, tindakan kriminal atau lainnya.
d) Adanya pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.
Menurut Shives (1998) dalam Fitria, 2009, hal-hal yang dapat menimbulkan
perilaku kekerasan atau penganiayan antara lain :

21

a) Kesulitan kondisi sosial ekonomi


b) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu.
c) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat

anaknya

dan

ketidakmampuannya dan menempatkan diri sebagai orang yang


dewasa.
d) Pelaku

mungkin

mempunyai

riwayat

antisosial

seperti

penyalahgunaan obat dan alkohol serta tidak mengontrol emosi saat


menghadapi frustasi.
e) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan
keluarga.
Menurut Direja, 2011 secara umum seseorang akan marah jika dirinya
merasa terancam, baik berupa injuri secara fisik, psikis, atau ancaman
konsep diri. Beberapa faktor pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai
berikut :
a) Klien

: kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan,

kehidupan yang penuh dengan agresif, dan masa lalu yang tidak
menyenangkan.
b) Interaksi : penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti,
konflik, merasa terancam baik internal dari permasalahan diri klien
sendiri maupun eksternal dari lingkungan.
c) Lingkungan
: panas, adat, bising.
4) Pemeriksaan fisik
a) Mengukur TTV
b) Adakah keluhan fisik yang dirasakan klien, bila ada kaji lebih lanjut
tentang sistem dan fungsi organ sesuai dengan keluhan yang
dirasakan klien.
5) Psikososial
Konsep diri :

22

a) Citra tubuh, bagaimana persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian


tubuh yang paling disukai dan yang paling tidak disukai.
b) Identitas diri, bagaimana persepsi tentang status dan posisi klien
sebelum dirawat, kepuasan klien terhadap status/ posisi tersebut,
keputusan klien sebagai laki-laki atau perempuan.
c) Peran, bagaimana harapan klien terhadap tubuhnya, posisi, status,
peran/tugas

yang

diembannya

dalam

keluarga,

kelompok,

masyarakat dan bagaimana kemampuan klien dalam melaksanakan


tugas/peran tersebut.
d) Ideal diri, bagaimana harapan klien terhadap tubuhnya, posisi, status,
tugas/peran dan harapan klien terhadap lingkungan.
e) Harga diri, bagaimana persepsi klien terhadap dirinya dalam
berhubungan dengan orang lain sesuai dengan kondisi tersebut di
atas (a, b, c, d) dan bagaimana penilaian/penghargaan orang lain
terhadap diri dan lingkungan klien.
Hubungan sosial
a)
b)
c)
d)

Menarik diri
Penolakan
Kekerasan
Ejekan dan sindiran

Spiritual
a) Merasa berkuasa
b) Merasa diri benar
c) Tidak bermoral
6) Status Mental
a) penampilan
b) pembicaraan
c) aktivitas motorik
d) afek dan emosi
e) interaksi selama wawancara
f) persepsi-sensori

23

g) proses pikir
h) tingkat kesadaran
i) memori (daya ingat)
j) tingkat konsentrasi dan berhitung
k) kemampuan penilaian
l) daya tilik diri
7) Kebutuhan Perencanaan Pulang
a) kemampuan klien memenuhi kebutuhan
b) kegiatan hidup sehari-hari (perawatan diri, nutrisi, dan tidur)
c) kemampuan klien lain-lain
d) klien memiliki sistem pendukung
e) klien menikmati saat bekerja/kegiatan produktif/hobi
8) Meknisme Koping
a) Displacement
b) Sublimasi proyeksi
c) Represif
d) Denial
2.3.2 Diagnosa Keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul menurut Fitria, 2009 adalah
sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)

Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.


Harga Diri Rendah
Perubahan persepsi sensori : halusinasi.
Isolasi sosial.
Koping keluarga inefektif.

2.3.3 Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa Keperawatan : Resiko Perilaku Kekerasan
Tujuan umum : klien tidak melakukan tindakan kekerasan.
Tujuan khusus:
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya.

24

Kriteria Hasil: Setelah 2 kali pertemuan klien dapat menunjukkan tandatanda percaya kepada perawat
a) Wajah cerah, tersenyum
b) Mau berkenalan
c) Ada kontak mata
d) Bersedia menceritakan perasaan
Intervensi :
Bina hubungan saling percaya dengan :
a) Beri salam setiap interaksi
b) Perkenalkan nama, nama lengkap perawat dan tujuan perawat
berinteraksi
c) Tanyakan dan panggil nama kesukaan klien
d) Tunjukkan sikap empati, jujur dan menepati janji setiap kali interaksi
e) Tanyakan perasaan klien dan masalah yang dihadapi
f) Buat kontrak interaksi yang jelas
g) Dengarkan dengan penuh perhatian ungkapan perasaan klien
2) Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan yang
dilakukannya
Kriteria Hasil : Setelah 2 kali pertemuan, klien menceritakan penyebab
perilaku kekerasan yang

dilakukannya

a) Menceritakan penyebab perasaan jengkel atau kesal baik dari diri


sendiri maupun dari lingkungannya
Intervensi :
Bantu klien mengungkapkan perasaan marahnya

25

a) Motivasi klien untuk menceritakan penyebab rasa kesal atau


jengkelnya
b) Dengarkan tanpa menyela atau memberi penilaian setiap ungkapan
perasaan klien
3) Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
Kriteria Hasil : setelah 2 kali pertemuan klien menceritakan tanda-tanda
saat terjadi perilaku kekerasan
a) Tanda fisik : mata merah, tangan mengepal, ekspresi tegang, dll
b) Tanda emosional : perasaan marah, jengkel, bicara kasar
c) Tanda sosial : bermusuhan yang dialami saat terjadi perilaku
kekerasan
Intervensi :
Bantu klien mengungkapkan tanda-tanda perilaku kekerasan yang dialami
a) Motivasi klien menceriatakan kondisi fisik (tanda-tanda fisik) saat
perilaku kekerasan terjadi
b) Motivasi klien menceriatakan kondisi fisik (tanda-tanda emosional)
saat perilaku kekerasan terjadi
c) Motivasi klien menceriatakan kondisi fisik (tanda-tanda sosial) saat
perilaku kekerasan terjadi
4) Klien dapat mengidentifikasi jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
Kriteria Hasil : Setelah 2 kali pertemuan, klien menjelaskan :
a) Jenis-jenis ekspresi kemarahan yang selama ini telah dilakukannhya
b)Perasaan saat melakukan perilaku kekerasan

26

c) Efektifitas cara yang dipakai dalam menyelesaikan masalah


Intervensi :
Diskusikan dengan klien perilaku kekerasan yang dilakukannya selama
ini:
a) Motivasi klien menceritakan jenis-jenis tindak kekerasan yang selama
ini pernah

dilakukannya

b) Motivasi klien menceritakan perasaan klien setelah perilaku kekerasan


tersebut terjadi
c) Diskusikan apakah tindak kekerasan yang dilakukannya masalah yang
dialami teratasi
5) Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Kriteria Hasil : Setelah 2 kali pertemuan klien menjelaskan akibat tindak
kekerasan yang dilakukannya :
a) Diri sendiri : luka, dijauhi teman, dll
b) Orang lain atau keluarga : luka, tersinggung, ketakutan , dll
c) Lingkungan : barang atau benda rusak, dll

Intervensi :
Diskusikan dengan klien akibat negatif atau kerugian cara yang dilakukan
pada :
a) Diri sendiri
b) Orang lain atau keluarga
c) Lingkungan

27

d) Libatkan klien dalam TAK stimulasi persepsi mengontrol perilaku


kekerasan sessi 1
6) Klien dapat menjelaskan cara yang konstruktif dalam mengungkapkan
kemarahan.
Kriteria Hasil : Setelah 2 kali pertemuan klien :
a) Menjelaskan cara-cara sehat mengungkapkan marah
Intervensi :
Diskusikan dengan klien :
a) Apakah klien mau mempelajari cara baru mengungkapkan marah yang
sehat
(1) Jelaskan berbagai alternatif pilihan untuk mengungkapkan marah
selain Cara fisik : nafas dalam, pukul bantal atau kasur, olahraga
(2) Verbal : mengungkapkan bahwa dirinya sedang kesal dengan
orang lain
(3) Sosial : latihan asertif dengan orang lain
(4) Spiritual : sembayang atau doa, dzikir, meditasi, sesuai keyakinan
agama masing-masing
b) perilaku kekerasan yang diketahui klien
c) Jelasakan cara-cara sehat untuk mengungkapkan marah :
d) Libatkan klien dalam TAK stimulasi persepsi mengontrol perilaku
kekerasan sesi 2,3 dan 4
7) Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria Hasil : Setelah 2 kali pertemuan klien memperagakan cara
mengontrol perilaku kekerasan :

28

a) Cara fisik : nafas dalam, pukul bantal atau kasur, olahraga


b) Verbal : mengungkapkan bahwa dirinya sedang kesal dengan orang
lain
c) Sosial : latihan asertif dengan orang lain
d) Spiritual : sembayang atau doa, dzikir, meditasi, sesuai keyakinan
agama masing-masing
Intervensi :
a) Diskusikan cara yang mungkin dipilih dan anjurkan klien memilih
cara yang mungkin untuk mengungkapkan kemarahan
(1) Latih klien memperagakan cara yang dipilih :
(2) Peragakan cara melaksanakan cara yang dipilih
(3) Jelaskan manfaat cara tersebut
b) Anjurkan klien menirukan pergaan yang sudah dilakukan
c) Beri penguatan pada klien , perbaiki cara yang masih belum sempurna
d) Anjurkan klien menggunakan cara yang sudah dilatih saat marah atau
jengkel
8) Klien mendapat dukungan keluarga untuk mengontrol perilaku kekerasan
Kriteria Hasil : Setelah dilakuakan 2 kali pertemuan keluarga :
a) Menjelaskan cara merawat klien dengaan perilaku kekerasan.
b) Mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien.
Intervensi :
a) Diskusikan pentingnya peran serta keluarga sebagai pendukung klien
untuk mengatasi perilaku kekerasan.

29

b) Diskusikan potensi keluarga untuk membantu klien mengatasi


perilaku kekerasan.
c) Jelaskan pengertian, penyebab, akibat dan cara merawat klien perilaku
kekerasan yang dapat dilakukan oleh keluarga.
d) Peragakan cara merawat klien perilaku kekerasan.
e) Beri kesempatan keluarga untuk memperagakan ulang.
f) Beri pujian kepada keluarga setelah peragaan.
g) Tanyakan perasaan keluarga setelah mencoba cara yang dilatihkan
9) Klien menggunakan obat sesuai program yang telah ditetapkan.
Kriteria Hasil :
a) Setelah 2 kali pertemuan klien menjelaskan :
(1) Manfaat minum obat
(2) Kerugian tidak minum obat.
(3) Nama obat.
(4) Bentuk dan warna obat.
(5) Dosis yang diberikan kepadanya.
(6) Waktu pemakaian
(7) Cara pemakaian
(8) Efek yang dirasakan.
b) Setelah 2 kali pertemuan klien menggunakan obat sesuai program.
Intervensi :
a) Jelaskan manfaat menggunakan obat secara teratur dan kerugian jika
tidak menggunakan obat.
b) Jelaskan kepada klien :

30

(1) Jenis obat (nama, warna, dan bentuk obat).


(2) Dosis yang tepat untuk klien.
(3) Waktu pemakaian
(4) Cara pemakaian
(5) Efek yang dirasakan klien.
c) Anjurkan klien :
(1) Minta dan menggunakan obat tepat waktu.
(2) Lapor ke perawat/dokter jika mengalami efek yang tidak biasa.
(3) Beeri pujian terhadap kedisiplinan klien menggunakan obat.
d) Libatkan klien dalam TAK stimulasi persepsi mengontrol perilaku
kekerasan sesi 5.

2.3.4 Tindakan Keperawatan


Tindakan keperawatan pada perilaku kekerasan dapat menggunakan
pendekatan rentang rencana keperawatan mulai dari strategi pencegahan sampai
dengan strategi pengontrolan. Pada strategi pencegahan dapat dilakukan dengan
pendidikan kesehatan, kesadaran diri, komunikasi verbal dan non verbal,
perubahan lingkungan, intervensi perilaku dan pengguanaan psikofarmaka. Jika
strategi-strategi ini telah dilakukan namun klien menjadi bertambah agresif, maka
teknik manajemen krisis seperti teknik isolasi dan pengikatan dapat dilakukan.

31

Namun demikian pencegahan adalah upaya yang terbaik dalam pengelolaan klien
dengan perilaku kekerasan (Riyadi & Purwanto, 2009).
Untuk dapat melakukan strategi di atas perawat perlu memahami perasaan
sendiri dan reaksinya terhadap perilaku kekerasan. Seringkali tanpa disadari
perawat memperhatikan respons yang tidak terapeutik yang dapat memperburuk
hubungan terapeutik perawat dengan klien yang sulit mengekspresikan rasa marah
secara tepat (Riyadi & Purwanto, 2009).
2.3.5 Evaluasi
1) Klien mampu menyebutkan :
a) Penyebab perilaku kekerasan.
b) Tanda dan gejala perilaku kekerasan.
c) Perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
d) Akibat dari perilaku kekerasan yang dilakukan.
2) Klien mampu menggunakan cara mengontrol perilaku kekerasan secara
teratur sesuai jadwal :
a) Secara Fisik.
b) Secara sosial/verbal.
c) Secara spiritual.
d) Dengan terapi psikofarmaka (penggunaan obat)