Anda di halaman 1dari 20

A.

Pengertian Kabel Udara


Kabel adalah kawar penghantar listrik berisolasi tunggal. Dapat juga dua atau lebih
kawat berisolasi bersama-sama merupakan kesatuan. Kabel kawat (penghantar arus listrik)
berbungkus karet, plastic yang juga digunakan sebagai bahan penyekat. Kabel dalam bahasa
Inggris disebut cable merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal
dari satu tempat ke tempat lain. Kabel seiring dengan perkembangannya dari waktu ke waktu
terdiri dari berbagai jenis dan ukuran yang membedakan satu dengan lainnya. Berdasarkan
jenisnya kabel dapat dibedakan menjadi dua buah yaitu kabel udara dan kabel tanah.
Kabel udara merupakan kabel yang terpasang diatas tiang yang berpenghantar
aluminium dan tembaga. Pada saluran Udara, terutama hantaran udara telanjang biasanya
banyak menggunakan kawat penghantar yang terdiri atas: kawat tembaga telanjang (BCC,
singkatan dari Bare Cooper Cable), kabel tembaga keras dengan isolasi termoplastik
(NFYM), kabel pilin tembaga isolasi PVC (NFY), kabel pilin tembaga berisolasi XLPE
(NF2X), Aluminium telanjang (AAC, singkatan dari All Aluminium Cable), Campuran yang
berbasis aluminium (Al-Mg-Si), Aluminium berinti baja (ACSR, singkatan dari Aluminium
Cable Steel Reinforced) dan Kawat baja yang berisi lapisan tembaga (Cooper Weld).
Suatu ikhtisar akan disampaikan dibawah ini mengenai berbagai jenis logam atau
campurannya yang dipakai untuk kawat saluran listrik, yaitu:

Tembaga elektrolitik, yang harus memenuhi beberapa syarat normalisasi, baik mengenai

daya hantar listrik maupun mengenai sifat-sifat mekanikal.


Brons, yang memiliki kekuatan mekanikal yang lebih besar, namun memiliki daya hantar

listrik yang rendah. Sering dipakai untuk kawat pentanahan.


Aluminium, yang memiliki kelebihan karena materialnya ringan sekali. Kekurangannya
adalah daya hantar listrik agak rendah dan kawatnya sedikit kaku. Harganya sangat
kompetitif. Karenanya merupakan saingan berat bagi tembaga, dan dapat dikatakan
bahwa secara praktis kini mulai lebih banyak digunakan untuk instalasi-instalasi listrik

arus kuat yang baru dari pada menggunakan tembaga.


Aluminium berinti baja, yang biasanya dikenal sebagai ACSR (Aluminium Cable Steel
Reinforced), suatu kabel penghantar aluminium yang dilengkapi dengan unit kawat baja
pada inti kabelnya. Kawat baja itu diperlukan guna meningkatkan kekuatan tarik kabel.

ACSR ini banyak digunakan untuk kawat saluran hantar udara.


Aldrey, jenis kawat campuran antara aluminium dengan silicium (konsentrasinya sekitar
0,4 % 0,7 %), Magnesium (konsentrasinya antara 0,3 % - 0,35 %) dan ferum

(konsentrasinya antara 0,2 % - 0,3 %). Kawat ini memiliki kekuatan mekanikal yang

sangat besar, namun daya hantar listriknya agak rendah.


Cooper-weld, suatu kawat baja yang disekelilingnya diberi lapisan tembaga.
Baja, bahan yang paling banyak digunakan sebagai kawat petir dan juga sebagai kawat
pentanahan.
Berdasarkan ikhtisar diatas, dapat dikatakan bahwa bahan yang terpenting untuk

saluran penghantar listrik adalah tembaga dan aluminium, sehingga kedua bahan tersebut
banyak digunakan sebagai kawat pengantar listrik, baik saluran hantar udara maupun kabel
tanah.
Tabel Nomenklatur Kode-kode kabel di Indonesia

Warna kabel diperuntukkan bagi penggunaan sistem tenaga. Untuk kabel informasi dan data
sampai saat ini belum ada standar pemberian warna kabel.
Warna untuk kabel tenaga sesuai standar PUIL meliputi :
Earth (pentanahan) : warna majemuk hijau-kuning, tidak boleh untuk tujuan lain
Kawat netral : warna biru,jika instaasi tanpa hantaran netral
Kawat Fase :
Fase 1 (fase R) : Merah
Fase 2 (fase S) : Kuning
Fase 3 (fase T) : Hitam
Atau
Earh (pentanahan) : hijau / kuning + garis kuning
Netral : Hitam
Fase 1 (fase R) : Merah
Fase 2 (fase S) : Kuning
Fase 3 (fase T) : Biru
5

B. Jenis Kabel Udara Tembaga


Berdasarkan jenis kabel udara berbahan penghantar tembaga terdapat beberapa jenisnya,
antara lain:
a. Kabel NFYM
Kabel jenis ini berpenghantar tembaga keras dengan isolasi termoplastik, nomenklatur
dari jenis kabel ini yaitu NFYM, dengan tegangan pengenal 0,6/1 (1,2) kV. Kabel ini
memiliki inti berjumlah satu dengan luas penampang pengenalnya 6 50 mm2. Kabel jenis
ini digunakan atau penggunaannya sebagai penghantar udara di luar bangunan.

b. Kabel NFY
Kabel jenis ini berpenghantar tembaga di pilin dengan isolasi PVC, nomenklatur dari
jenis kabel ini yaitu NFY, dengan tegangan pengenal 0,6/1 (1,2) kV. Kabel ini memiliki inti
berjumlah dua dengan luas penampang pengenalnya 6 25 mm2. Kabel jenis ini digunakan
atau penggunaannya sebagai penghantar udara di luar bangunan.
c. Kabel NF2X
Kabel jenis ini berpenghantar tembaga di pilin dengan isolasi XLPE, nomenklatur dari
jenis kabel ini yaitu NF2X, dengan tegangan pengenal 0,6/1 (1,2) kV. Kabel ini memiliki inti
berjumlah 2 6 inti dengan luas penampang pengenalnya 6 25 mm2. Kabel jenis ini
digunakan atau penggunaannya sebagai penghantar udara di luar bangunan.
d. Kabel NYM-T
Kabel jenis ini berpenghantar tembaga dengan berselubung termoplastik dengan tali
penggatung baja, nomenklatur dari jenis kabel ini yaitu NYM-T, dengan tegangan pengenal
0,3/0,5 (0,4) kV. Kabel ini memiliki inti berjumlah 2 5 inti dengan luas penampang
pengenalnya 1,5 35 mm2. Kabel jenis ini digunakan atau penggunaannya sebagai
penghantar udara di luar bangunan.
e. Kabel NYMZ
Kabel jenis ini berpenghantar tembaga dengan isolasi termoplastik dengan penguat kawat
penggantung, berselubung termoplastik, nomenklatur dari jenis kabel ini yaitu NYMZ,
dengan tegangan pengenal 0,3/0,5 (0,4) kV. Kabel ini memiliki inti berjumlah 2 5 inti
6

dengan luas penampang pengenalnya 1,5 16 mm2. Kabel jenis ini digunakan atau
penggunaannya sebagai penghantar udara di luar bangunan.
Pemasangan penghantar udara arus kuat di luar bangunan, harus dilaksanakan demikian
rupa sehingga penghantar udara tersebut, baik langsung maupun oleh sebab lain tidak
menyebabkan timbulnya pengaruh yang membahayakan, merusak atau mengganggu
penghantar listrik lain dalam keadaan bekerja normal. (PUIL 2000 7.16.1.1)
Apabila Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR) dipasang bersilangan ataupun sejajar
dengan saluran telekomunikasi, saluran telekomunikasi ini harus berada di bawah SUTR
dengan jarak seperti tersebut pada Tabel 7.16.5. (PUIL 2000 7.16.2.3)
Pemasangan sejajar Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) dan saluran
telekomunikasi tidak dibenarkan. Apabila keadaan tidak memungkinkan, jarak antara
penghantar SUTM diukur mendatar harus lebih besar dari 2,5 m. (PUIL 2000 7.16.2.4)
Apabila pada tiang pada jalur yang sama dipasang SUTM dan SUTR, maka pada setiap
3 tiang harus dipasang penghantar pembumian yang dihubungkan dengan penghantar netral.
(PUIL 2000 7.16.2.5)
C. Teknik Pemasangan Kabel Udara
Konstruksi jaringan atas tanah ini masih banyak dipakai di negara kita karena
mempunyai keuntungan dibanding konstruksi jaringan bawah tanah, diantaranya :
a)

Biaya pemasangan relatif murah;

b)

Pemeliharaan dan penanggulangan gangguan lebih mudah dan cepat;

c)

Sesuai untuk kabel kapasitas kecil


Dalam pemasangan atau instalasi Kabel Udara dapat dilaksanakan dengan beberapa

macam cara, yang disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi tempat pemasangan, keadaan rute
dan lain sebagainya.
Terdapat perkakas yang dipergunakan pada waktu pemasangan Kabel Udara. Adapun
perkakas kerja tersebut adalah :
a) Rol Kabel Udara
Dipasang pada tiap-tiap tiang sepanjang jarak yang direncanakan unutk penarikan kabel
udara. Pemasangan rol pada setiap tiang sedapat mungkin 20 cm sampai dengan 30 cm lebih
tinggi dari penjepit kabel.
b) Tali Penarik Kabel Udara

Tali penarik Kabel Udara diameter inchi terbuat dari baja. Sebaiknya panjang tali
penarik melebihi jarak dari satu gawang dan tidak ada sambungannya. Tetapi apabila terpaksa
disambung, sambungan tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga dapat dengan mudah
masuk dalam rol kabel.
Ukuran

Jenis
Nomor 1

82

22

58

12

Nomor 2
Nomor 3

124
178

37
49

81
123

9
11

19,5
25

Tabel: Jenis dan Ukuran Counter Twist Device

c) Alat Anti Pulir


Ada kemungkinan bahwa pada waktu penarikan terjadi puliran yang tidak beraturan,
yang dapat merusak kabel.
Untuk mencegah kejadian itu maka dipasang alat anti pulir yang dapat menyerap
puliran yang berasal dari tali penariknya sendiri. Konstruksi dari alat anti pulir terdiri dari
counter weight dan counter twist.
d) Katrol
Katrol diperlukan untuk penarikan kabel bila membutuhkan daya tarik yang kuat /
tinggi. Biasanya alat ini disebut Tackel, dimana disamping alat tersebut dapat juga
menggunakan tirfor.
e) Alat Penarik Kabel
Alat penarik Kabel Udara disebut Track Tang, yang dipakai di atas tiang untuk
menegangkan Kabel Udara.
f) Dongkrak Kabel
Dongkrak kabel digunakan sebagai penyangga haspel kabel pada ketinggian tertentu
dan melepas kabel dari haspel pada waktu penarikan. Tinggi haspel di atas dongkrak adalah
10 cm dari permukaan tanah.
Dalam pemasangan Kabel Udara disamping tumpukan dan kabel udara diperlukan
material untuk menambatkan kabel pada tumpuan antara lain :
a. Kabel Udara

Kabel Udara adalah kabel yang konstruksinya dibuat khusus untuk dipasang diatas
tanah. Spesifikasi Kabel Udara yang digunakan mengacu kepada STEL-K-001
b. Tiang / Tumpuan
Tiang dipergunakan sebagai tempat bertumpu atau tempat menambatkan kabel atas
tanah sehingga aman dari kemungkinan gangguan mekanik. Kabel udara dipasang,
digantungkan atau ditambatkan pada setiap tiang. Pada umumnya terdapat beberapa jenis atau
macam tiang.
Macam-macam tumpuan yang digunakan :
Tiang besi
Tiang besi yang digunakan harus sesuai dengan STEL-L-003, 018,019 dan 020. tiang
jenis ini banyak digunakan di Indonesia.
Tiang kayu
Tiang kayu ada dua macam yaitu taing kayu bentuk balok dengan penampang segi
empat dan bentuk silindris (berpenampang bulat) serta terbuat dari jenis kayu kelas I (Jati,
Rasamala, kayu Besi) yang sudah diawetkan. Jenis tiang ini sudah jarang digunakan.
Tiang beton
Tiang beton yang dipergunakan adalah tiang beton pra tekan berpenampang bulat yang
terdiri dari beberapa ukuran. Tiang jenis ini sangat cocok dipergunakan untuk daerah rawan
korosi. Spesifikasi tiang beton mengacu pada STEL-L-022, STEL-L-023 & STEL-L-024.
c. Sekang Ulir / Spanwartel
Umumnya spanwartel yang digunakan mempunyai ukuran inchi atau 3/8 inchi.
d. Baut 5/8
Panjang 120 mm dengan kepala persegi ukuran 20 x 20 x 13 mm.
e. Isolasi PVC atau Kawat Ikat 0,8 mm
Dililitkan pada kabel udara dikedua sisi sebagai penahan pemisah/Split Stopper.
f. Besi Sekang / Pole Strep
Ukuran pole strap :
- Diameter = 75 mm
- Tebal

= 5 mm

- Lebar

= 40 mm

Cara penambatan kabel udara pada tiang ada beberapa macam disesuaikan dengan
kebutuhan atau kondisi lapangan. Pembahasan selanjutnya hanya akan diuraikan instalasi
kabel udara dengan menggunakan tumpuan tiang kabel.
9

Cara Gantung

Cara ini diterapkan pada :


a) Rute lurus kabel udara
b) Didaerah yang jarang terjadi angin kencang
c) Tiang antara pada rute lurus kabel udara dengan jarak antar tiang (gawang) antara 40
-

meter sampai dengan 50 meter


Cara Pemasangan
Besi sekang/pole strap type J dapat dipasang sebelum atau sesudah tiang besi

didirikan. Pemasangan kabel udara pada tiang dilakukan dengan cara menjepit bearer kabel
pada penjepit polestrap.

Cara tambat

Cara ini dipergunakan terutama pada :


a) Rute kabel udara yang berbelok/menikung;
b) Rute lurus yang jarak antar tiangnya melebihi jarak normal atau lebih panjang dari 50
meter (> 50 m / rentang jauh);
c) Didaerah yang sering terjadi angin kencang;
d) Rute lurus dengan kabel udara yang berkapasitas besar (> 80 pair). Dalam hal ini
kabel udara ditambat pada setiap 5 (lima) tiang atau lebih menurut pertimbangan
teknis dipandang aman.
Dalam pelaksanaan penambatan harus diusahakan tidak memotong kawat penggantung
(bearer). Penambatan dilakukan dengan menggunakan alat bantu khusus.
-

Cara Pemasangan :

Pasang track tang pada tiang tambat dan jepitan kawat penggantung kabel udara dengan
menggunakan track tang tersebut. Beri tanda kupasam pada penggantung kabel. Selanjutnya
pasang besi sekang dan sekang ulir pada tiang tambat. Kemudian potong kawat penggantung
dan tambatkan pada besi sekang dengan perantaraan sekang ulir dan ikat degan 3 (tiga) buah
buldog grip.

Cara tambat akhir / awal

Cara ini dipergunakan pada :

a) Tiang Kotak Pembagi (TKP);


b) Tiang yang terdapat Kotak Sambung, yang tempat penyambungan kabel udara.
Cara Pemasangan :
Pada tiang tambat dipasang temebrang tarik / sokong (tergantung pada kondisi rute).

Setelah kabel udara ditarik cukup tegang dan kedua sisi kiri dan kanan ditahan dengan track
tang, maka kawat penggantng dipotong serta dikupas, kemudian diikatkan pad besi sekang
melalui sekang ulir dan tembel lalu diikat dengan 3 (tiga) buah buldog grip.
10

Cara Penarikan Kabel Udara


Dalam penarikan kabel udara harus diperhatikan posisi kepala dan ekor kabel, dimana
kepala kabel harus berada disisi arah sentral.
-

Pemasangan penjepit kabel udara;


Semua penjepit kabel udara harus dikerjakan/terpasang lebih dulu pada setiap tiang

yang akan digunakan sebagai tumpuan rute kabel udara dengan cara seperti telah diuraikan
pada cara penambatan kabel udara. Besi sekang atau penjepit kabel dipasang pada jarak 10
cm dari ujung tiang.
-

Pemasangan rol kabel udara;


Pada setiap tiang harus dipasang rol kabel guna memperlancar jalanya penarikan kabel

udara, disamping untuk menghindari terjadinya gesekan kabel dengan benda keras lainya.
-

Haspel Kabel
Haspel harus ditempatkan pada dongkrak dan diangkat pelan-pelan setinggi lebih

kurang 10 cm dari permukaan tanah, baru kemudian plat besi atau kawat papan penutup
haspel dibuka.
-

Pengupasan Penggantung Kabel (Bearer)

Bearer dikupas untuk mengikat dengan tali penarik.


a) Pisahkan Bearer dari kabel udara sepanjang kurang lebih 30 cm; kemudian potong

kabelnya kurang lebih 30 cm;


b) Pasangkan End Cap pada ujung kabel udara yang telah dibuka/bekas potongan tadi.
Pemasangan alat anti pulir;
a) Masukan bearer kabel pada alat anti pulir; dengan menggunakan timbel;
b) Bearer ditekuk melalui timbel dan dililit kemudian diikat dengan buldog grip;
c) Pasang tali penarik pada alat anti pulir pada ujung satunya dengan cara yang sama.
Pemasangan talil penarik;

Tali penarik dipasang pada rol kabel udara yang telah dipasang.
Penguluran Kabel Udara
Apabila persiapan telah selesai, maka pekerjaan kabel penarikan bisa dimulai dengan
cara sebagai berikut :

a) Kabel digelar sepanjang rute baru, dinaikkan di atas rol kabel;


b) Tali penarik dilewatkan rol kabel, kemudian ditarik tiang per tiang;
c) Bila penarikan berat, dapat digunakan tackel;
d) Penarikan diberi aba-aba oleh ketua regu;
e) Dalam penarikan kabel harus diperhatikan :
Putaran dan kedudukan rol kabel harus selalu sudah benar, hal ini bertujuan agar
penarikan tidak terlalu berat;
11

Pada tikungan / belokan perlu diawasi secara khusus;


Alat anti pulir jangan sampai menggantung.
f) Setelah selesai penarikan, lepas peralatan anti pulir, kemudian buat tambatan awal,
seperti pada acara tambat akhir dengan sistem buldog grip maupun sistem lilit

kemudian pasang tambatan bearer ke sekang pemasang pada tiang.


Menegang / Mengencangkan kabel
Pekerjaan ini dilakukan dengan cara dengan membuat tambatan lebih dulu dan
sekaligus mengencangkannya, adapun langkah pelaksanannya adalah sebagai berikut :
a) Keluarkan kabel dari rol, dan letakan pada penjepit kebal;
b) Pasang track tang pada tiang dimana cara tambat yang akan dibuat;
c) Jepitkan bearer pada alat track tang, kmeudian kencangkan kabel udara dengan cara
menarik tangkai track tang;
d) Setelah kencang beri tanda untuk pengupasan bearer, dan turunkan kembali kabel
udara tersebut. Buat tambatan pada bearer dengan diikat buldog grip atau sistem
lilit. Gunakan timbel pada kedua sisinya
e) Jepit lagi bearer pada track tang dan kencangkan lagi kabel udara dengan menarik
tangkai penarik track tang, kemudian tambatkan bearernya;
f) Atur lentur kabel dengan mengencangkan atau mengendorkan span wartel;
g) Untuk rute lurus jepit bearer pada penjepit kabel yang sudah terpasang ditiang;
h) Pasang tambatan bearer pada sisi yang lain ditiang dengan cara tambat tadi;
i) Tegangkan kabel pad rute selanjutnya dengan cara yang sama
Membuat tambatan Akhir
a) Pasang track tang pada tiang tambat akhir;
b) Jepit bearer pada track tang, kemudian kencangkan kabel udara dengan menarik
tangkai penarik track tang;
c) Beri tanda untuk kupasan bearer dan turunkan kabl udaranya;
d) Buat tambatan bearer pada track tang, kencangkan kabel udara dan pasang tambatan
bearer pada tiang. Lepas track tang dari bearer dan tiang;
e) Untuk menegangkan dalam mengatur lentur kabel, kencangkan atau kendorkan
spanwartel
Pemuliran
a) Seperti diketahui karena ringannya kabel udara, kadang-kadang bergoyang bila
dihempas angin. Menurut pengalaman untuk mengurangi goyangan pada kabel udara,
rentangan kabel udara tersebut perlu diberikan sejumlah puliran pada waktu selesai
mengatur lentur;
b) Puliran diberikan kepada kabel udara, terutama ditempat-tempat yang banyak angin;
c) Bila puliran terlampau banyak, juga akan menimbulkan kekuatan yang dapat merusak
kabel;Oleh seb
d) ab itu perlu diperhatikan supaya jumlah puliran jangan sampai melampaui jumlah
yang ditentukan.
Jumlah Puliran :
12

a) Apabila penampang kabel (termasuk kawat penggantung) sampai dengan 30 mm,


jarak puliran yang satu dengan yang lainnya 10 m
b) Apabila penampang kabel lebih dari 30 mm, untuk menghitung panjang dan jumlah
puliran dipakai rumus.
Cara membuat puliran:
a) Lepaskan kabel udara dari penjepit kabel ditiang;
b) Putar kabel pada B mislnya 5 puliran, sesuai dengan arah panah, maka jumlah puliran
yang sama akan terjadi pada gawang A-B dan gawang B-C;
c) Jepit kembali kabel udara pada penjepit ditiang;
d) Lakukan juga di D dan E begitu seterusnya.
Lentur Kabel
a) Kabel Udara yang tarik karena adanya gaya berat kabel, tentunya tidak dapat
merupakan suatu garis lurus (hasil dari penarikan kabel tersebut), akan tetapi kabel
udara akan merupakan garis lengkung (mempunyai lentur).
b) Defnisi :Lentur (d) adalah selisih ketinggian antara garis lurus tiang antara yang satu
dengan yang lain (berikutnya) dengan ketinggian kabel udara sebenarnya yang
terendah
c) Faktor-faktor yang menentukan lentur (d) dan tegangan (T) adalah :
Batas putus gaya tegangan (breaking tension) dari kawat penggantung;
Berat dari kabel udara (kg/m) termasuk kawat penggantung;
Gaya tegangan tambahan seperti beban tekanan angin dan batas panjang gawang
(critical span)
d) Perhitungan lentur
Rumusan untuk menghitung lntur (d) dan tegangan (T) bagi kabel udara dimaksudkan
untuk lentur yang optimum dalam kondisi penggantung kabel (bearer) yang masih

aman
Perhitungan beban tekanan angin
Beban tekanan angin dapat dihitung dengan rumus.

Penyeberangan di atas jalan raya


Rute kabel udara yang menyeberang jalan raya harus mengikuti ketentuan-ketentuan
sebagai berikut :
-

Sudut Penyeberangan
a) Penyeberangan harus diusahakan sejauh mungkin membentuk sudut 90 0 dengan as
jalan
b) Apabila tidak memungkinkan, diusahakan dengan sudut mnimal 45 0 sehingga

lintasan kabel relatif pendek.


Tinggi rute diatas jalan raya

13

Tinggi rute kabel udara dari permukaan jalan raya (as jalan) minimal 6 (enam) meter
serta memperhatikan ketentuan perda setempat.
Cara Pemasangan
a) Kabel udara yang menyeberang diatas jalan raya tidak boleh ada sambungan;
b) Pemasangan pada tiang dengan cara ditambat;
c) Tiang tempat penambatan kabel udara yang menyeberang jalan raya sedapat mungkin
dilengkapi dengan temberang.
Penyeberangan di atas sungai
a) Sudut penyeberangan sama dengan ketentuan penyeberangan diatas jalan raya (900)
b) Tinggi rute diatas sungai minimal 6 (enam) meter dari permukaan sungai pada saat
pasang
c) Cara pemasangan sama dengan ketentuan penyeberangan di atas jalan raya
d) Dalam melaksanakan pekerjaan harus ada kordinasi dnegan instansi terkait
Penyeberangan diaas jalan kereta api
a) Sudut penyeberangan sama dengan ketentuan penyeberangan diatas jalan raya /
sungai (900)
b) Tinggi rute di atas sungai minimal 7,5 meter
c) Cara pemasangan sama dengan ketentuan penyeberangan di atas jalan raya / sungai.
d) Dalam melaksanakan pekerjaan harus ada koordinasi dengan pihak PT. KERETA
API INDONESIA (PT. K.A.I.)
Tabel Perselisihan Rute KU dengan aluran Listrik/PLN
Ukuran dalam meter (m)
TEGANGAN

hp

ht

MAKS
-

MIN
2,5

MIN
2,5

MIN
0,6

L= Panjang gawang

450-900

L/4

3,6

3,6

1,2

saluran listrik

650 V11 kV

450-900

L/4

3,6

3,9

2,1

I=

11 kV66 kV

450-900

L/4

3,6

4,6

3,0

gawang saluran listrik

66 kV132

450-900

L/4

3,6

6,0

3,6

hp=Jarak antara tiang

LISTRIK
Sampai650

kV
132 kV220
kV

SUDUT

KETERANGAN

Bagian jarak dari panjang

listrik dengan saluran


telepon
ht=Jarak antara tiang
telepon dengan
saluran listrik
S= Jarakvertikal antara saluran
listrik
dengan saluran telepon

14

Tabel Rute KU sejajar dengan aluran Listrik/PLN


Ukuran dalam meter (m)
TEGANGAN

Hp

Ht

MIN

MIN

MIN

LISTRIK
Sampai 650 V

1,2

2,5

0,6

650 V 11 kV

3,6

3,6

1,2

11 kV 66 kV

3,6

3,9

2,1

66 kV 132 kV

3,6

4,6

3,0

132 kV 220 kV
3,6
Keterangan : Kabel Saluran Induk 1,20 m

6,0

3,6

Tabel Saluran melintas jaringan arus kuat tegangan rendah (ukuran dalam cm)
Posisi

Jenis saluran arus kuat tegangan rendah


Kawat
Kawat isolasi
Kabel

Drop Wire

telanjang

tegangan rendah

power

Sejajar
Menyilang

H 80
L 60

L 100
L 60

L 50
L 30

Keterangan

Tabel Saluran melintas jaringan arus kuat tegangan tinggi(Ukuran dalam cm)
Jenis saluran arus kuat tegangan tinggi
Kawat telanjang
Kawat
Kabel power
Posisi

isolasi

Drop Wire

Sejajar
Menyilang

Keterangan

tegangan
H 140

rendah
L 100

L 60

H 140
L 120

L 60

L 40

V 120

D. Keselamatan Kerja
Untuk menciptkan situasi kerja yang aman, petugas teknik jaringan harus benar-benar
memahami:
a)

Langkah-langkah atau aturan-aturan keselamatan kerja yang baik dan benar

b)

Menghindarkan hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakaan atau membahayakan

c)

Bekerja tidak terburu-buru ,teliti dan hati-hati

15

Adapun sebab kecelakaan itu sendiri ,dapat dikelompokkan kedalam beberapa


kelompok utama yaitu :
a) Peralatan yang tidak atau kurang aman (misalnya yang tidak berisolasi, sabuk
pengaman yang kuncinya hilang dsb
b) Kondisi lingkungan yang tidak aman (misalnya penerangan yang tidak cukup,
ventilasi kurang ,pakaian kerja yang tidak aman ,dll )
c) Manusianya sendiri yang tidak aman (ceroboh) misalnya sikap yang tidak wajar,
pengetahuan dan keterampilan kurang dll.
Setelah kita ketahui tentang sebab-sebab kecelakaan ,maka perlu diketahui cara-cara
menghindarinya, yaitu :
Sikap petugas
a) Petugas agar bersikap wajar , berkesadaran penuh , tidak gugup , dan mengerti
maksud perintah dalam mengoperasikan peralatan.
b) Petunjuk operasi setiap peralatan harus dipahami dan dimengerti sungguh-sunguh
oleh setiap petugas.
c) Mematuhi prosedur kerja yang telah ditentukan
Perkakas atau alat kerja
a) Pergunakan alat kerja yang tepat untuk setiap pekerjaan
b) Pastikan bahwa perkakas yang akan digunakan dalam kondisi baik dan tidak ada
kekurangan kelengkapannya
c) Pergunakan alat pelindung diri bagi pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya antara lain
: Sarung tangan, sepatu pengaman, sabuk pengaman, topi pengaman atau helm
kacamata pengaman (testprator) dll.
Lingkungan
a) Setiap lingkungan kerja harus diberi penerangan yang cukup terdiri dari 2 macam,
-

yaitu :
Penerangan khusus jika diperlukan penerangan tambahan bagi bidang

pekerjaan

tertentu dan boleh bersifat sementara


- Penerangan umum yang berlaku untuk seluruh ruangan
b) Peliharalah tingkat kebisingan lingkungan kerja misalnya ruang diesel, ruang
penggergajian, dll, para pekerja harus menggunakan pelindung telinga
c) Jika bekerja di tepi jalan raya, maka harus dipasang rambu-rambu yang jelas baik
siang maupun malam hari
Prosedur Keselamatan kerja
- Bekerja diatas tiang
a) Naik tiang dengan menggunakan tangga
b) Tangga bagian bawah dan atas diikatkan pada tiang
c) Setelah diatas tiang harus mengikatkan sabuk pengaman pada tiang
d) Perkakas harus dilengkapi dengan bahan isolasi
e) Sebelum naik tiang cek dahulu apakah tiang cukup kuat untuk dinaiki.
- Bekerja di tempat instalasi listrik
16

a) Gunakan perlengkapan kerja yang berisolasi , sepatu , sarung tangan karet dsb.
b) Jika memungkinkan matikan dahulu saklar utama kemudian baru mulai bekerja.
c) Jangan membawa benda-benda dari logam didalam kantung , sehingga mudah jatuh.
d) Perhatikan tanda-tanda peringatan yang ada
- Bekerja di tempat yang panas
a) Jangan memakai pakaian yangketat
b) Pakailah topi lebar pelindung matahari
c) Cukup minum
d) Jika tidak mengikuti aturan diatas, kemungkinan yang terjadi : Kehabisan tenaga,
pusing, mual, muka pucat bahkan bisa pingsan.
Pertolongan pertama pada korban yang terkena aliran listrik
- Di atas lantai atau tanah
Penolong harus diperlengkapi dengan bahan-bahan berisolasi, misalnya: sarumg tangan
dari karet/plastik atau dibalut dengan kain yang kering. Kaki beralaskan bahan dari karet,
karpet atau kayu, keset yang kering. Bisa menggunakan tongkat yang kering. Langkah
pertolongan:
a) Putuskan/jauhkan kawat/kabel dari si korban dengan kapak ata tali dsb
b) Tarik si korban dengan memegang bajunya untuk membebaskan si korban dari
kawat/kabel hidup, atau bila kawat/kabel sumber listrik diketahui, segeralah
mematikan saklar utama atau mencabutnya dari stop kontak.
Jika strum kuat dan korban pingsan
Strum kuat akan mengakibatkan nafas dan denyut jantung berhenti, untuk itu kia harus
sesegera mungkin memberikan pertolongan. waktu setelah kena strum sampai kira-kira 4
menit kemudian adalh angat medekati kematian seseorang, maka pertolongan darura yang
harus diberikan nafas buatan yang bisa dilakukan dari mulut ke mulut atau dari mulut ke
hidung.
Cara memberikan nafas buatan:
a) terlentangkan korban dan bersihkan mulutnya
b) angkat dan luruskan leher atau tengkuknya (menengadahkan kepala) agar didapat
jalan nafas udara segar
c) hembuskan nafas bersih ke mulut atau hidung si korban Usahakan selanjutnya adalah
segera membawa korban ke rumah sakit terdekat sementara usaha darurat terus
dilakukan sampai korban bernafas.
Cara memberi nafas buatan:
Dari mulut ke hidung
a) posisi kepala korban tengadah
b) ambil nafas dalam-dalam kemudian hembuskan ke lubang hidung korban
c) pada saat tersebut mulut korban harus ditutup dengan tangan kita agar udara benarbenar masuk
17

d) ulangi hal tersebut sampai dia mulai bernafas


e) Jika belum juga ada tanda-tanda bisa bernafas, usahakan memberi nafas buatan agak
cepat
Dari mulut ke mulut.
a)
b)
c)
d)
e)
f)
a)

posisi badan tengadah


pijit hidung si korban
buka mulutnya, kemudian hembuskan udaradari mulut kita ke mulut korban
Meneliti apakah korban bisa bernafas atau belum
perhatikan dada mulai bernafas atau belum setelah kita memberi hembusan
bila masih tersendat lakukan lagi nafas buatan 4 kali agak cepat dan dalam
Periksa denyut jantung bila dengan nafas buatan tidak ada tanda-tanda bernafas, pada
lekuk leher dan pada nadi pergelangan tangan.

Periksa juga biji-biji mata melebar atau tidak mengedip bila disinari langsung
-

Di atas tiang
a) penolong segera naik tiang dengan sabuk pengaman dan membawa tali penolong
b) putuskan kawat hidup dari korban
c) beri segera nafas buatan 4-6 kali dengan hembusan kuat
d) persiapkan penurunan korban dengan tali

Tali diikatkan pada sabuk pengaman korban dan dadanya agar korban tetap tegak.

18

DAFTAR PUSTAKA
m-edukasi. (2008). Definisikabel.
http://m-edukasi.net/online/2008/teknikkabling2/definisikabel.html. Pukul 18.26 WITA. 04
Maret 2013.
dunia-listrik.(2010).karakteristik-beberapa-jenis-bahan.
http://dunia-listrik.blogspot.com/2010/08/karakteristik-beberapa-jenis-bahan.html.Pukul
18.33 WITA. 04 Maret 2013.
id.shvoong.pengertian-kabel.http://id.shvoong.com/exact-sciences/physics/2116465pengertian-kabel/#ixzz2MfSG2PXO. Pukul 18.40 WITA. 04 Maret 2013.
Mobilephoneaccess.(2011).instalasi-kabel-atastanah.http://mobilephoneaccess.blogspot.com/2011/12/instalasi-kabel-atas-tanah.html. Pukul
18.40 WITA. 04 Maret 2013
Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000 (PUIL 2000)

19