Anda di halaman 1dari 4

PENGARUH PERGAULAN TERHADAP PRESTASI AKADEMIK

MAHASISWA
Firman Anugraha Islamy
POLITEKNIK NGERI MALANG
fanugraha26@gmail.com
Abstrak
Komunikasi antara anak dengan orang tua yang mengakibatkan
orang tua akan ketinggalan informasi tentang keadaan anak tersebut,
disebabkan karena kesibukan orang tua. Kenakalan remaja bukan saja
berasal dari faktor internal tetapi juga fakta internal, prestasi belajar siswa
dipengaruhi faktor bakat melainkan juga faktor lingkungan yang membimbing
dan membentuk perkembangan anak.
Kata kunci : Kenakalan remaja, prestasi, membimbing.
Pendahuluan
Generasi muda sebagai penerus cita - cita perjuangan bangsa dan merupakan sumber
insan bagi pembangunan. Jadi perlu ditingkatkan pembinaan dan pengembangannya karena
generasi muda merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, keluarga,masyarakat,
dan pemerintah serta ditujukan untuk meningkatkan kualitas generasi muda.
Dalam rangka pembinaan generasi muda, banyak cara yang telah dilakukan dari
kalangan pemuka masyarakat, para guru dan pihak aparat kepolisian. Keberhasilan dari
pembinaan tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan. Hal-tersebut terbukti dari perilaku
remaja yang besifat negatif seperti perkelahian, pencurian, cabut sekolah, merokok dan
mengkonsumsi narkoba. Hal ini dapat mengaburkan masa depan bangsa. Untuk
menanggulangi masalah remaja diperlukan berbagai pemikiran dari berbagai sudut pandang
dari masyarakat maupun pemerintah.
Kenakalan dilakukan merupakan pelampiasan ketegangan, kerisauan di dalam hatinya
sehingga remaja merasa tidak bahagia karena dipenuhi anak tersebut malas sekolah dan
tidak konsentrasi dalam belajar sehingga prestasi menjadi menurun.
Dari pemikiran diatas dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan pengawasan orang tua
sangatlah penting terhadap pencegahan kenakalan remaja selain itu keluarga dan peranan
masyarakat juga sangat dibutuhkan.

Pembahasan
Secara umum diketahui bahwa dalam perkembangan anak perlu dipenuhi berbagai
kebutuhan, yaitu kebutuhan primer, pangan, sandang, dan perumahan serta kasih sayang,
perhatian, penghargaan terhadap dirinya dan peluang mengaktualisasikan dirinya.
Pemenuhan kebutuhan dalam perkembangan ini banyak tergantung dari lingkungannya
berinteraksi dengan dirinya. Sebagaimana organisme ditentukan secara alamiah oleh sifatsifat keturunan dan ciri-ciri yang unik yang dibawa sejak lahir, keturunan dan ciri-ciri
yang unik yang dibawa sejak lahir, perkembangan organisme itu juga ditentukan oleh caracara lingkungan berinteraksi dengan individu, yaitu melalui pendekatan yang sifatnya
memberikan perhatian, kasih sayang dan peluang mengaktualisasikan diri.
Prestasi belajar, kita ketahui semua, bukan saja dipengaruhi oleh kemampuan
intelektual yang bersifat kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor non kognitif
seperti emosi, motivasi, kepribadian serta juga berbagai pengaruh lingkungan.
Pengembangan potensi anak mencapai aktualitasi optimal bukan saja dipengaruhi
faktor bakat, melainkan juga faktor lingkungan yang membimbing dan membentuk
perkembangan anak. Perkembangan seluruh kepribadiannya selain dilatar belakangi kedua
faktor tersebut diatas juga terkait dengan kemampuan intelektual, motivasi, pengetahuan,
dan konsep dirinya.
Memang keberhasilan belajarnya sangat ditentukan antara lain oleh kemampuan
kognitif, tetapi ternyata bahwa faktor nonkognitif (yaitu antara lain motivasi, emosi)
tidak kalah penting, bahkan mempengaruhi tingkat kineija serta lingkungan, maupun
perkembangan dirinya sendiri.
Meskipun sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa anak yang memiliki intelegensi
(yang diukur dengan Intelegence Quotient atau IQ) akan lebih mudah mencernakan
materi yang diajarkannya, dan dengan demikian biasanya juga lebih tinggi prestasi
belajarnya, namun intelegensi emosional yang akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang,
atau yang biasa disebut EQ (Emotional Intelligence), juga mempengaruhi prestasi belajar
seseorang.
Secara umum dapat dikatakan bahwa EQ itu adalah suatu ukuran yang menunjuk
pada kualitas memahami perasaannya sendiri dan kemampuan ikut mengalami
pengahayatan perasaan orang lain (empati). Kemampuan membaca situasi sekitar melalui
kesadaran diri, sehingga ia mampu mengendalikan dirinya disertai kematangan (maturity)
menentukan pilihannya adalah gambaran dari beberapa keterampilan emosional yang
dikandung oleh pengertian inteligensi emosional ini.

Keseimbangan antara inteligensi intelektual dan intelegensi emosional diperlukan


untuk antara lain berkonsentrasi terhadap materi pelajaran yang dihadapinya, mengatasi stres
atau kecemasan dalam persoalan tertentu. Hal ini berkenaan dengan bijaknya seseorang
terhadap perasaanya sendiri . Semuanya ini juga terkait dengan motivasi internal yaitu :
kecendrungan seseorang memiliki dorongan untuk maju (need for achievement = NA).
Motivasi ini bersumber dari keyakinan kemapuannya untuk memperoleh sukses dalam upaya
mencapai sasaran yang dicanangkannya. Hal ini berdampak pada upaya mewujudkan prestasi
belajar, mengaktaulisasikan potensinya seoptimal mungkin.
Setiap anak dilahirkan dengan bakat yang merupakan potensi kemampuan (inherent
component of ability) yang berbeda-berbeda dan yang terwujud karena interaksi yang
dinamis antara keunikan individu dan pengaruh lingkungan. Berbagai kemampuan yang
teraktulisasikan beranjak dari berfungsinya otak kita.
Otak dewasa manusia tak lebih dari 1,4 kg, namun otak tersebut adalah pusat
berfikir, perilaku serta emosi manusia yang mencerminkan seluruh dirinya (selfhood),
kebudayaan, ke; wan otak merupakan pusat kesadaran orang. Ibarat saisnya, sedangkan
badan manusia adalah kudanya.
Kecerdasan orang juga banyak ditentukan oleh struktur otak. Cerebrum otak besar
dibagi dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut
corpus callosum. Belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan. Respon, tugas, dan
fungsi belahan otak kiri dan kanan berbeda dalam menghayati berbagai pengalaman belajar,
sebagaimana seorang mengalami realitas secara berbeda-beda dan unik. Belahan otak kiri
terutama berfungsi untuk merespon terhadap hal yang sifatnya linier, logis, teratur,
sedangkan yang kanan untuk mengembangkan imaginasi dan kreativitas. Berfungsinya
belahan otak kanan inilah yang perlu digalakkan dalam pengembangan kreativitas. Sayang
sekali sekolah-sekolah kita pada umumnya kurang memperhatikan berfungsinya belahan
otak kanan.
Bagaimana kenakalan remaja berakibat negatif bagi masyarakat juga bagi remaja itu
sendiri. Sebagaimana manusia remaja mempunyai berbagai kebutuhan yang menuntut
untuk dipenuhi dan merupakan sumber timbulnya problema dirinya terutama dalam
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, termasuk lingkungan sekolah yang sering
terkontradiktif oleh problemnya. Hal ini sering membawa problema dalam proses belajar
mengajar banyak menyita waktu bagi remaja maupun bagi guru.
Bagi remaja tentu dapat menimbulkan kerugian karena selain pemborosan waktu
juga tenaga dan konsentrasi sedangkan bagi guru tidak hanya membuang waktu dan tenaga

tetapi dapat mengganggu kegiatan proses belajar dan mengajar. Yang menjadi persolan
adalah, apakah kenakalan remaja itu juga berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa?.
Tentang hal ini banyak yang berpendapat bahwa tentu hal ini juga berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa. Dan ada juga yang berpendapat bahwa merupakan kemampuan dalam
menyerap pelajaran.
Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, dapat disimpulkan bahwa bimbingan dan pengawasan orang
tua sangatlah penting terhadap pencegahan kenakalan remaja selain itu keluarga dan
peranan masyarakat juga sangat dibutuhkan.
Daftar Rujukan
Marckx, Wafa.2015.Pengaruh Pergaulan Terhadap Prestasi
Siswa.http://itmamulwafa.blogspot.co.id/2012/05/contoh-karya-ilmiah.html. Diakses
pada tanggal 17 Januari 2016.
Maryadi, Andi.2015.Dampak Pergaulan Terhadap Prestasi Siswa.http://andimaryadi.blogspot.co.id/2015/05/dampak-pergaulan-terhadap-prestasi-siswa.html.
Diakses pada tanggal 18 Januari 2016.
Rahim, Abdul.2015.Pengaruh Pergaulan Terhadap Prestasi
Siswa.http://rahimnoah.blogspot.co.id/2013/10/pengaruh-pergaulan-terhadapprestasi.html