Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
Anggota gerak atas merupakan bagian dari anggota gerak yang cukup banyak
difungsikan dalam menjalankan aktifitas sehari-hari, seperti membawa tas, menulis,
mengangkat barang dan lain-lain. Sehingga anggota gerak atas sangat rentan terjadi
cidera. Cidera ini biasanya banyak disebabkan oleh kesalahan gerak atau kesalahan
posisi, penggunaan yang berlebihan (overuse), postur yang buruk, faktor pekerjaan dan
trauma. Hal tersebut tentu akan menyebabkan pembebanan pada salah satu sisi tubuh
dan menimbulkan ketidakseimbangan secara anatomi, yang pada akhirnya akan
menimbulkan gangguan dari bagian tubuh yang mengalami kerja berlebih. Patologi
gerak dan fungsional seringkali mengganggu anggota gerak yang memiliki mobilitas
yang luas sehingga membutuhkan tingkat Stabilitas yang baik, stabilitas suatu anggota
gerak tidak terlepas hanya pada sebatas komponen stabilisasi aktif maupun pasif, namun
bentuk sendi serta struktur pembentuk persendian tersebut.1
Dari semua aktifitas yang dilakukan keterlibatan penggunaan sendi bahu sangat
tinggi. Sendi bahu merupakan sendi yang sangat kompleks. Adanya gangguan pada
sendi tersebut akan berakibat timbulnya nyeri dan menurunnya aktivitas fungsional dari
penderitanya.1
Nyeri bahu adalah keluhan umum dengan prevalensi dari 20% sampai 33% pada
populasi dewasa. Nyeri bahu juga menduduki peringkat ke tiga dari keluhan
muskuloskeletal setelah nyeri punggung dan lutut dengan tidak melihat faktor usia.
Pada tahun 2007 perserikatan buruh sedunia mengatakan bahwa cedera bahu setiap
harinya terjadi pada pekerjanya.1
Penyebab terbesar pada nyeri bahu adalah sindroma impingement subacromialis
sekitar 44-60% keluhan yang menyebabkan nyeri bahu. Sindroma impingement
subacromialis (SIS) adalah penekanan dari tendon otot supraspinatus di antara acromion
dan tuberositas humerus Penyebab impingement bahu meliputi kelemahan otot-otot
rotator cuff, muscle imbalance, disfungsi glenohumeral, degenerasi dan inflamasi dari
tendon atau bursa. Penekanan ini memungkinkan terjadinya lesi degenerative pada
tendon. Sedangkan konsep Sindroma Impingement Subacromialis diperkenalkan
pertama kali oleh Neer yang menyatakan bahwa kompresi mekanikal dari rotator cuff,

subacromial dan tendon biceps bersilangan di bagian depan permukaan bawah acromion
dan ligamen coracoacromialis terutama pada saat gerak elevasi.2
Nyeri merupakan gejala yang paling umum ditemukan pada impingement bahu.
Tipe nyeri pada impingement terjadi di malam hari dan nyeri pada waktu siang hari
berhubungan dengan penggunaan berlebihan pada bahu. Karakteristik nyeri pada
sindrome impingement subacromialis adalah nyeri yang hebat pada antero-posterior dan
lateral bahu, sepanjang deltoid dan area biceps. Kelemahan dan kaku sendi bahu
merupakan gejala nomor dua setelah nyeri.3
Nyeri, kelemahan dan kekakuan sendi bahu dapat mengganggu aktivitas seharihari. Diperlukan penanganan yang tepat untuk mengatasi gejala-gejala ini. Oleh karena
itu referat ini dibuat untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang penyebab,
gejala, dan penanganan pada sindrom impingiment bahu.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi dan Fisiologi


Gambar 2.1 Anatomi Bahu

Bahu terdiri dari 2 tulang (humerus dan scapula), 2 sendi (glenohumeral dan
acromioclavicular) dan 2 articulatio (scapulothoracic dan acromiohumeral), yang
tersambung oleh beberapa ligamen dan lapisan-lapisan otot. Jaringan-jraingan
lunak adalah alat penstabil utama pada glenohumeral. Penstabil statis terdiri dari
anatomi artikular, labrum glenoidal, kapsul sendi, ligamen-ligamen glenohumeral,
dan tekanan negatif yang melekat di sendi. Penstabil dinamis terdiri dari otot-otot
cuff rotator (supraspinatus, infraspinatus, teres minoris dan subscapularis), caput
longum dari tendon biceps, gerakan scapulathoracic dan otot-otot yang
mengelilingi bahu lainnya ( seperti pectoralis major, latissimus dorsi, dan serratus
anterior). Rotator cuff terdiri dari 4 otot yang mengontrol 3 gerakan dasar :
abduction, endorotasi, dan eksorotasi. Otot supraspinatus berperan dalam abduksi,
otot infraspinatus dan teres minor mengontrol eksorotasi. Otot-otot cuff rotator
memberikan stabilisasi dinamis pada caput humeral di fossa glenoid dan bersama

dengan deltoid, menyebabkan elevasi tangan. Rotator cuff berperan dalam 45%
kekuatan abduksi, dan 90% pada kekuatan eksorotasi.4
Otot subscapularis di depan, supraspinatus di atas, dan infraspinatus serta
teres minor di belakang, dinamakan otot rotator yang mempunyai fungsi penting
dalam menstabilkan caput humerus dengan menariknya kuat-kuat ke dalam
glenoid saat deltoid mengangkat lengan ke depan atau kesamping.5
Diatas cuff terdapat suatu lengkungnan kanopi fibro-oseosa-arkus
coracoacromial yang terbentuk oleh prosesus acromion di bagian postosuperior,
prosesus

coracoid

di

bagian

anterior,

digabungkan

oleh

ligamentum

coracoacromial. Bursa subacromial memisahkan tendon dari arkus dan


memungkinkannya untuk meluncur. Dari keempat tendon cuff itu, supraspinatus
adalah yang paling terbuka. Bagian ini melewati bagian atas bahu di bawah tepi
anterior acromion dan sendi acromioclavicular yang bersebelahan, dengan bagian
intra-artikular tendon bisep melekat erat pada permukaan dalamnya.5
2.2

Definisi
Sindrom Impingement disebut juga painful arc syndrome, supraspinatus
syndrome, swimmers shoulder, dan throwers shoulder, adalah suatu sindrom
klinis yang terjadi ketika tendon otot rotator cuff mengalami iritasi dan meradang
ketika melalui ruang subacromial. Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit,
kelamahan dan hilangnya gerakan pada bahu.6

2.3

Etiologi (4)
Impingement Primer :

Peningkatan muatan subacromial


Morfologi Akromion
Arthrosis acromioclavicular (osteofit inferior)
Hipertrofi ligamentum coracoacromial
Impingement pada coracoid
Penebalan bursa subacromial dan fibrosis
Penonjolan tuberositas major humerus
Trauma (makrotrauma langsung, atau mikrotrauma berulang)
Aktivitas diatas kepala (atletik dan non-atletik)

Impingement sekunder :

2.4

Beban berlebihan dari Rotator cuff / Ketidakseimbangan jaringan lunak


Ketidakstabilan/kelemahan Glenohumeral
Kelemahan Tendon caput longus biceps
Lesi Glenoid labral
Ketidakseimbangan otot
Diskinesia scapula
Kapsula posterior yang sempit
Paralisis trapezius

Patofisiologi
Sindrom Impingement menyiratkan terjadinya kompresi ekstrinsik dari
rotator cuff di ruang saluran keluar supraspinatus. Bigliani et al menemukan dan
menjelaskan bahwa variasi ukuran acromion dan bentuknya dapat berkontribusi
pada terjadinya impingement. Berdasarkan studi pada kadaver, terdapat 3 bentuk
berbeda dari morfologi acromion. Tipe 1 : datar, tipe 2 : melengkung, dan tipe 3:
mengait kedepan. 7
Tempat

lain

terjadinya

impingement

pada

ruang

saluran

keluar

supraspinatus mencakup ligamentum coracoacromial (dimana penebalan bisa


terjadi) dan dibawah permukaan sendi acromioclavicular (dimana osteofit bisa
terbentuk).5
Cedera teringan adalah jenis gesekan, yang dapat menyebabkan reaksi
radang lokal atau tendinitis. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri, tetapi bila
disertai impengiment yang lebih lama dan terutama pada orang tua dapat terjadi
robekan kecil dan ini dapat diikuti dengan pembentukan parut, metaplasia
fibrokartilaginosa atau pengapuran tendon. Penyembuhan disertai dengan reaksi
vaskular dan kongesti lokal yang menyebabkan rasa nyeri yang ikut menyebabkan
impengiment lebih lanjut pada ruang terbatas di bawah arcus coracoacromial
setiap kali lengan diangkat.8
Kadang-kadang, kemungkinan bila penyembuhan lebih lambat atau terjadi
setelah strain mendadak, robekan mikroskopik akan meluas, menjadi robekan cuff
parsial atau keseluruhan; kemudian fungsi bahu benar-benar terancam dan abduksi
aktif tidak dapat dilakukan. Tendon kaput longus bisep, yang terletak bersebelahan
dengan supraspinatus, juga dapat terlibat dan sering robek.8

a. Akibat aus, robek, dan perbaikan.8


Proses patologik yang diuraikan di atas dapat diringkas menjadi aus,
robek dan perbaikan. Pada penderita muda perbaikan terjadi dengan
cepat. Akibatnya, penyembuhan relatif cepat tetapi karena proses
perbaikan sendiri menyebabkan nyeri hebat. Pasien yang lebih tua lebih
banyak mengalami keausan tetapi perbaikannya tidak begitu cepat.
Penyembuhan akan lebih lambat tetapi tidak begitu menyakitkan. Karena
itu tendinitis akut yang menyerang pasien lebih muda sangat nyeri tetapi
dengan cepat membaik. Tendinitis yang kronis pada kelompok menengah
cukup nyeri tetapi membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk sembuh
dan dapat disertai komplikasi dengan robekan sebagian. Robekan
menyeluruh yang biasanya terjadi pada orangtua biasanya tak terasa sakit
sehabis cedera, tetapi tak pernah sembuh sempurna. Perubahan
degeneratif sering kali terjadi dan robekan kecil pada cuff ditemukan
pada autopsi pada hampir tiap orang yang berusia di atas 60 tahun.

b. Akibat artropati sekunder.8


Robekan yang besar pada cuff akhirnya mengakibatkan gangguan
berat pada mekanika bahu. Kaput humerus berpindah ke atas, terhalang
oleh prosesus acromion, dan abduksi pasif sangat terbatas. Pergerakan
abnormal merupakan predisposisi untuk osteoarthritis pada sendi
acromioclavicular dan akhirnya mempengaruhi sendi glenohumerus.
Kadang-kadang hal ini dapat berkembang menjadi artropati yang
destruktif dengan cepat.
2.5

Gambaran Klinik.(8)
Seperti disebutkan di atas, gambaran klinik tergantung pada tingkat
kerusakan, umur pasien dan hebat atau lambatnya respon penyembuhan.
a. Tendinitis Subakut

Pasien, biasanya di bawah 40 tahun, mengalami nyeri bahu setelah


aktivitas yang berat misalnya lomba berenang atau menghias rumah di
akhir pekan. Bahu tampak normal tetapi sangat nyeri di sepanjang tepi
anterior acromion. Nyeri tekan paling mudah ditunjukkan dengan meraba
tempat ini dengan bahu dalam keadaan ekstensi, sehingga menempatkan
tendon supraspinatus dalam posisi terbuka di bagian anterior prosesus
acromion.
Pada abduksi aktif, ritme skapulohumerus terganggu dan nyeri
semakin hebat bila lengan melewati arkus antara 60 dan 120 derajat arkus
nyeri. Bila gerakan diulangi dengan lengan dalam rotasi luar penuh,
gerakan jauh lebih mudah dan relatif tak sakit; hal ini patognomonik
untuk tendinitis supraspinatus. Impingement yang nyeri juga dapat
diperlihatkan dengan mempertahankan lengan pada fleksi 90o dan
kemudian secara paksa merotasi bahu ke dalam. Biasanya keadaan itu
dapat pulih dan membaik bila aktivitas penyebabnya dihindari.

b. Tendinitis Kronis
Pasien biasanya berumur antara 40 dan 50 tahun, dapat
memberikan riwayat serangan berulang tendinitis subakut. Rasa nyeri
berkurang bila beristirahat atau diberi terapi obat antiradang, tetapi
kambuh bila dilakukan aktivitas yang lebih berat. Secara khas rasa nyeri
makin memburuk pada malam hari. Pasien tidak dapat berbaring pada
sisi yang terkena dan merasa lebih enak duduk di luar tempat tidur. Rasa
nyeri dan sedikit kekakuan pada bahu dapat membatasi aktivitas yang
sederhana sekalipun misalnya menyisir rambut atau berpakaian.
Pemeriksaan menunjukkan tanda-tanda yang mirip dengan gejala
tendinits subakut yaitu lengkung pergerakan yang nyeri, gerakan
skapulohumerus yang terganggu, nyeri tekan pada insersio cuff dan tanda
impingement positif. Selain itu mungkin terdapat tanda tendinitis bisep:
nyeri tekan di sepanjang alur bisipital dan krepitus pada pergerakan
tendon bisep.

Tanda yang mengganggu adalah krepitasi kasar atau bunyi


gemertak yang teraba di atas cuff rotator bila bahu diputar secara pasif;
ini dapat menandakan suatu robekan sebagian atau fibrosis yang berat
pada cuff.
Meskipun

biasanya

supraspinatus

merupakan

bagian

yang

mengalami gangguan terberat, kadang-kadang tendon subskapularis atau


posterior terlibat lebih berat. Kalau ada keraguan mengenai tempat lesi
tersebut, dapat dipecahkan dengan menginjeksi berbagai tendon di situ
dengan lignokain dan perhatikan apakah nyeri hilang.
c. Kerusakan cuff
Stadium penyakit yang paling lanjut adalah fibrosis progresif dan
kerusakan cuff.
1. Robekan sebagian dapat terjadi dalam substansi atau pada permukaan
dalam pada cuff dan tidak mudah dideteksi, bahkan dengan
pemeriksaan langsung pada cuff. Robekan ini dapat tersamar juga
karena serabut cuff yang tersisa memungkinkan abduksi aktif dengan
arkus yang nyeri, membuatnya sulit diketahui apakah tendinitis kronis
disertai komplikasi robekan sebagian. Pasien biasanya berumur diatas
45 tahun dan mempunyai riwayat nyeri bahu yang sukar sembuh
dengan kekakuan dan kelemahan yang semakin meningkat, Kadangkadang teraba bunyi klik yang teraba bila melalukan rotasi mengaduk
tempayan

pada

bahu.

Diagnosis

dapat

dipastikan

dengan

ultrasonografi, MRI, atau artroskopi bahu.


2. Robek menyeluruh dapat terjadi setelah tendinitis kronis berlangsung
lama, tetapi kadang-kadang robekan ini terjadi tiba-tiba setelah terkilir
atau cedera sentakan pada bahu. Terjadi nyeri mendadak dan pasien
tak dapat mengabduksi lengan. Abduksi pasif, pada stadium dini juga
dapat terbatas atau sulit dilakukan karena nyeri. Tanda-tanda ini biasa
ditemukan pada robekan sebagian dan keseluruhan jadi untuk
membedakannya, nyeri dapat dihilangkan dengan menginjeksi

anestetik lokal. Kalau abduksi aktif sekarang dapat dilakukan, robekan


pasti hanya sebagian.
Setelah lewat beberapa minggu sejak cidera, kedua jenis itu dengan
mudah dapat dibedakan. Pada robekan menyeluruh, pada saat itu rasa
nyeri telah mereda dan gambaran kliniknya jelas, abduksi aktif tidak
mungkin dilakukan dan usaha untuk melakukannya menghasilkan
angkatan bahu yang khas, tetapi abduksi pasif masih lengkap dan sekali
lengan

telah

diangkat

mempertahankannya

di

dengan

atas

sudut

menggunakan

siku,

pasien

deltoidnya

dapat

(paradoks

abduksi). Bila pasien mencoba menurunkannya ke samping, lengan itu


tiba-tiba terjatuh.
Bersama berjalannya waktu mungkin terjadi penyembuhan abduksi
aktif, meskipun tenaganya lebih lemah daripada normal. Biasanya
supraspinatus dan infraspinatus mengecil, dan pada pengujian biseps
mungkin ada robekan lama pada tendon kaput longus. Sering ditemukan
nyeri tekan pada sendi acromioclavicular.
Bila robekan sebagian atau lengkap sudah berlangsung lama, dapat
terjadi osteoarthritis sekunder pada bahu dan kemudian gerakan sangat
terbatas.

2.6

Pemeriksaan klinis (4)


A. Inspeksi
Untuk inspeksi pada pemeriksaan fisik, pemeriksa harus :
Melihat seluruh otot yang melapisi bahu, dan scapula
Memeriksa apakah terdapat asimetris / atrofi pada massa otot, dan
asimetri pada tulang
B. Palpasi
Palpasi dilakukan pada seluruh bahu (apakah terdapat nyeri tekan, deformitas
dan atrofi) dari sendi acromioclavicular, clavicula, sendi glenohumeral,

scapula, articulatio scapulothoracic, kapsula bahu anterior/posterior, fossa


supraspinosus dan infraspinosus, serta humerus terutama bagian proksimal.
C. Pemeriksaan khusus
1. Tanda Impingement.
Ada 2 tes untuk tanda impingement.
Pemeriksaan Neer
-

Posisi: pasien duduk atau berdiri dan pemeriksa dalam posisi berdiri.
Fiksasi: skapula ipsilateral untuk mencegah protraksi.
Pemeriksaan: elevasi secara pasif ke depan dari lengan.
Perhatian khusus: nyeri pada bahu.
Penyebab: penjepitan tuberkulum mayor, degenerasi supraspinatus dan
bursa subakromial terhadap akromion.

Pemeriksaan Hawkins-Kennedy
- Posisi: duduk atau berdiri, dengan lengan pada posisi 90 0 elevasi ke
depan pada sumbu skapula.
- Fiksasi: stabilisasi skapula untuk meminimalisasi rotasi ke depan saat
melakukan manuver endorotasi.
- Pemeriksaan: endorotasi pasif pada bahu sampai nyeri timbul.
- Perhatian khusus: nyeri pada endorotasi paksa.
- Penyebab: tuberkulum mayor memaksa tendon supraspinatus terhadap
ligamen korakoakromial.
2. Tes Impingement
Pemeriksa menginjeksi 10 mL lidokain 1% ke ruang subacromial, kemudian
mengulangi uji untuk tanda impingement. Rasa nyeri yang hilang atau
berkurang menandakan impingement tes yang positif.

3. Drop arm test


Pemeriksa meletakkan tangan pasien ke posisi elevasi maksimum pada
scapular plane. Pasien diminta untuk menurunkannya perlahan-lahan ke
samping (tes dapat diulangi setelah injeksi lidokain subacromial). Tangan
yang terjatuh secara tiba-tiba menandakan robeknya rotator cuff.

10

4. Pemeriksaan Empty can


- Posisi: duduk atau berdiri, bahu abduksi 900, adduksi horizontal 300 dan
endorotasi penuh.
- Fiksasi: pemeriksa meletakkan tangan pada bagian atas lengan atas.
- Pemeriksaan: pasien mempertahankan posisi ini sambil diberikan tahanan
ke bawah.
- Perhatian khusus: kelemahan otot, jangan lupakan nyeri.
- Penyebab: pemeriksaan kekuatan otot supraspinatus. Subskapularis,
infraspinatus dan teres minor tidak bergerak pada posisi ini.

2.7

Radiologi
Sinar-X biasanya normal pada stadium dini sindroma cuff, tetapi bila ada
tendinitis kronis mungkin terdapat erosi, sclerosis atau pembentukan kista di
tempat insersio cuff pada tuberositas mayor. Penipisan prosesus acromion, dengan
kaput humerus yang bergeser ke atas menunjukkan robekan cuff yang telah
berlangsung lama.Osteoarthritis pada sendi acromioclavicular biada terjadi pada
pasien tua. Kadang-kadang terjadi pengapuran pada supraspinatus, tetapi ini
biasanya merupakan pengalih perhatian dan bukan penyebab nyeri
Artrografi dapat mengungkapkan robekan cuff, medium opak meluas dari
sendi ke dalam ruag subacromial. Ultrasonografi adalah suatu teknik yang dapat
menunjukkan robekan cuff yang besar.

2.8

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis impingement harus memiliki 3 kriteria : (9)
1. Riwayat dari latihan yang terkait dengan nyeri bahu
2. Hasil tes impingement Neers atau Hawkins positif
3. Mengalami 1 dari gejala : lengkungan menyakitkan (Painful arc), nyeri
tekan pada tuberositas major atau sulcus bicpitalis, nyeri pada kontraksi
aktif dari salah satu otot rotator cuff.

2.9

Penatalaksanaan

11

A. Terapi Konservatif
Sindroma kelainan yang tanpa komplikasi atau tendinitis sering sembuh
sendiri dan gejalanya mereda bial aktivitas yang merugikan dihindari. Pasien
harus diperintahkan untuk melakukan aktivitas bahu dan cara-cara menghindari
posisi impingement. Fisioterapi termasuk ultrasonic dan olahraga aktif dalam
posisi bebas dapat membantu pasien dalam fase nyeri. Tablet anti radang non
steroid jangka pendek kadang-kadang memberikan keringanan. Kalau semua
metode ini gagal, sebelum ketidakmampuan menjadi nyata, pasien harus diberi
satu atau dua injeksi metilprednisolon ke dalam ruang subacromial. Pada
umumnya terapi ini akan meringankan rasa nyeri dan cara ini perlu dilanjutkan
dengan modifikasi secukupnya pada aktivitas bahu sekurang-kurangnya selama
6 bulan. Penyembuhannya akan berjalan lambat, dan aktivitas penuh yang
dilakukan tergesa-gesa sering akan menimbulkan serangan tendinitis lebih
jauh.
B. Terapi Pembedahan
Kalau nyeri dan tanda-tanda impingement lain tidak mereda setelah
terapi konservatif selama 6 bulan, atau kalau gejala berulang terus menerus
setiap kali setelah diberi terapi, sebaiknya dilakukan operasi. Tentu saja ini
lebih baik daripada terapi dengan obat anti radang dan kortikosteroid lokal
berulang-ulang dan jangka lama. Indikasi lebih mendesak kalau ada tanda
robekan cuff rotator sebagian.
Sasarannya adalah mengurangi tekanan cuff rotator dengan memotong
ligamentum coracoacromial, pengorekan bagian anterior prosesus acromion
dan

kalau

perlu

mereduksi

setiap

massa

yang

merintangi

sendi

acromioclavicular. Melalui insisi anterior otot deltoid dibelah dan bagian yang
berasal dari tepi anterior acromion didiseksi sehingga bebas, sehingga
ligamentum coracoacromial, acromion, dan sendi acromioclavicular terbuka.
Ligamen coracoacromial dieksisi dan bagian anteroinferior acromion dibuang
dengan osteotomy pengorek. Kemudian cuff diperiksa, apabila terdapat suatu
cacat

maka

diperbaiki.

Ekskresensi

pada

permukaan

bawah

sendi

acromioclavicular ini dikikis. Kalau sendi mengalami hipertrofi, 1 sentimeter

12

sebelah luar clavicula dibuang; langkah terakhir ini akan membuka lebih
banyak cuff yang memungkinkan rekonstruksi pada cacat yang lebih besar.
Suatu langkah penting adalah penempelan kembali deltoid secara hati-hati pada
acromion, kalau perlu dengan menjahit luka lewat lubang yang di bor pada
acromion; bila perlekatan tidak berhasil dilakukan, dapat terjadi nyeri sesudah
operasi dan kelemahan. Setelah operasi gerakan bahu segera dimulai setelah
nyeri mereda. Dekompresi artroskopik sedang dikembangkan sebagai
alternative untuk operasi terbuka.
Gambar 2.2 Teknik pembedahan pada robekan rotator cuff

Robekan cuff yang besar adalah sulit direkonstruksi dan mungkin


membutuhkan mobilisasi proksimal otot-otot rotator. Perbaikan pasca operasi
dilindungi dengan membebat lengan dalam abduksi selama 4-6 minggu. Hasil
operasi hanya cukup saja.
MRI merupakan cara efektif untuk memperlihatkan struktur di sekitar
sendi bahu. Robekan pada supraspinatus dapat diperlihatkan. Hal ini juga
13

berguna untuk menyingkirkan kelainan lain misalnya ketidakstabilan


glenohumerus
Dekompresi Sub-Acromial
Bagian utama dari prosedur ini disebut acromioplasti dimana ukuran
acromion diubah dan prominen dibuang untuk meingkatkan ukuran ruangan
dibawahnya. Prosedur ini dilakukan dengan artroskopi (menggunakan
teleskop) yang berarti bahu tidak benar-benar dibuka. Dengan demikian, dalam
12 jam operasi tangan dapat mempunyai ROM sepenuhnya dan dapat selesai
dalam satu hari operasi. Walaupun demikian, ditemukan bahwa kebanyakan
bahu tidak menunjukkan perbaikkan bermakna selama 2 atau 3 bulan, dan
barulah meningkat perlahan dalam 6 9 bulan. Hal ini mungkin disebabkan
oleh tendon yang masih harus sembuh setelah gesekan mereda dan, seperti
tendon manapun yang memerlukan beberapa bulan dan melibatkan istirahat
yang cukup.10

Gambar 2.3 Dekompresi Sub-acromial

14

15

BAB III
RINGKASAN
1.

Sindrom Impingement disebut juga painful arc syndrome, supraspinatus


syndrome, swimmers shoulder, dan throwers shoulder, adalah suatu sindrom
klinis yang terjadi ketika tendon otot rotator cuff mengalami iritasi dan meradang
ketika melalui ruang subacromial dan mengakibatkan rasa sakit, kelemahan dan

2.

hilangnya gerakan pada bahu.


Variasi ukuran acromion dan bentuknya dapat berkontribusi pada terjadinya
impingement. Berdasarkan studi pada kadaver, terdapat 3 bentuk berbeda dari
morfologi acromion, dimana Tipe 1 : datar, tipe 2 : melengkung, dan tipe 3:

3.

mengait kedepan.
Gambaran klinis pada sindrom impingement tergantung pada tingkat kerusakan,
umur pasien dan hebat atau lambatnya respon penyembuhan. Gambaran klinis ini
dibagi menjadi 3 yaitu Tendinitis subakut, Tendinitis kronis, dan robekan Rotator

4.

Cuff.
Untuk menegakkan diagnosis Sindrom Impingement, harus memenuhi kriteria :
riwayat dari latihan yang terkait dengan nyeri bahu, hasil tes impingement Neers
atau Hawkins positif, Mengalami 1 dari gejala : lengkungan menyakitkan
(Painful arc), nyeri tekan pada tuberositas major atau sulcus bicpitalis, nyeri pada
kontraksi aktif dari salah satu otot rotator cuff.

5.

Penatalaksanaan Sindrom Impingement terdiri dari konservatif dan pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA

16

1. Hyvonen, Pekka. 2003. On the Patoghenesis of Shoulder Impingement


Syndrome. (thesis). Oulu. Oulu University.
2. Setyawati, D., Adiputra, N.,Irfan, M. 2013. Kombinasi Ultrasound dan Traksi
Bahu ke Arah Kaudal Terbukti Sama Efektifnya dengan Kombinasi Ultrasound
dan Latihan Codman Pendulum Dalam Menurunkan Nyeri dan Meningkatkan
Kemampuan Aktivitas Fungsional Sendi Bahu pada Penderita Sindroma
Impingement Subacromialis. Sport and Fitness Journal. 1 (2) : p70-80
3. Ramli, Harumiti. 2005. Hubungan Gerakan Berulang Lengan Atas dengan
Sindroma Nyeri Bahu Pada Pekerja Elektronik PT X Kabupaten Bogor.
(Thesis). Jakarta. Universitas Indonesia
4. Chang, W.K. 2004. Shoulder impingement syndrome. Physical Medicine and
Rehabilitation Clinics of North America 15 : 493-510.
5. Dugas et al. 2002. Anatomy and dimensions of rotator cuff insertions. Journal of
shoulder and elbow surgery. 11(5) : 498-503
6. http://en.wikipedia.org/wiki/Impingement_syndrome (diakses pada 15 juni
2014, pukul 20.00)
7. Bigliani LU, Morrison DS, April EW. 1986. The morphology of the acromion
and its relationship to rotator cuff tears. Orthop Trans;10:216. In : Chang, W.K.
2004. Shoulder impingement syndrome. Physical Medicine and Rehabilitation
Clinics of North America 15 : 493-510.
8. Apley G, Solomon L. 1995. Buku Ajar Ortopedi dan Fraktur sistem Apley. Edisi
ketujuh. Jakarta : Widya Medika.
9. S.Bansal et al. 2007. Shoulder Impingement Syndrome Among Competitive
Swimmers in India Prevalence, Evaluation and Risk Factors. Journal of
Exercise, Science and Fitness, 5(2) : 102- 108
10. Holt, K. 2013. Impingement Syndrome and Tears of the Rotator Cuff. Perth
Orthopaedic and Sports Medicine Centre.

17