Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap
lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal, tingkat
kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh, dan penurunan respon terhadap
stimulus eksternal. Hampir sepertiga dari waktu individu digunakan untuk tidur. Hal tersebut
didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat memulihkan atau mengistirahatkan fisik setelah
seharian beraktivitas, mengurangi stres dan kecemasan, serta dapat meningkatkan
kemampuan dan konsenterasi saat hendak melakukan aktivitas sehari-hari.
Tidur merupakan kebutuhan dasar dari setiap kehidupan, bahkan dibutuhkan oleh
hampir setiap orang yang hidup di dunia. Tidur merupakan suatu mekanisme untuk
memperbaiki tubuh dan fungsinya untuk mempertahankan energi dan kesehatan. Tidur juga
merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani dan kelelahan mental.
Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan akan kembali mendapatkan tenaga
serta semangat untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi.
Beberapa gangguan tidur dapat mengancam jiwa baik secara langsung (misalnya
insomnia yang bersifat keturunan dan fatal dan apnea tidur obstruktif) atau secara tidak
langsung misalnya kecelakaan akibat gangguan tidur. Di Amerika Serikat, biaya kecelakaan
yang berhubungan dengan gangguan tidur pertahun sekitar seratus juta dolar. Insomnia
merupakan gangguan tidur yang paling sering ditemukan. Setiap tahun diperkirakan sekitar
20%-50% orang dewasa melaporkan adanya gangguan tidur dan sekitar 17% mengalami
gangguan tidur yang serius. Prevalensi gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar
67%. Walaupun demikian, hanya satu dari delapan kasus yang menyatakan bahwa gangguan
tidurnya telah didiagnosis oleh dokter.2
Lima gangguan mental yang sering ditemukan pada usia lanjut adalah depresi,
insomnia, anxietas, dan delirium.1 Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling
sering ditemukan pada lansia. Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan masyarakat
baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang paling
sering ditemukan pada usia lanjut. Menurut Established Populations for Epidemiologic
Gangguan Tidur Pada Lansia

Studies of the Elderly (EPESE) mendapatkan dari 9000 responden, sekitar 29% berusia di atas
65 tahun dengan keluhan gangguan tidur.
Terdapat perbedaan pola tidur pada usia lanjut dibandingkan dengan usia muda.
Kebutuhan tidur akan berkurang dengan semakin berlanjutnya usia seseorang. Pada usia 12
tahun kebutuhan untuk tidur adalah sembilan jam, berkurang menjadi delapan jam pada usia
20 tahun, tujuh jam pada usia 40 tahun, enam setengah jam pada usia 60 tahun, dan enam jam
pada usia 80 tahun. Sebagian besar kelompok usia lanjut mempunya risiko mengalami
gangguan pola tidur sebagai akibat pensiun, perubahan lingkungan sosial, penggunaan
oabatobatan yang meningkat, penyakit-penyakit dan perubahan irama sirkadian. Lansia
dengan depresi, stroke, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, artritis, atau hipertensi
sering melaporkan bahwa kualitas tidurnya buruk dan durasi tidurnya kurang bila
dibandingkan dengan lansia yang sehat. Gangguan tidur dapat meningkatkan biaya penyakit
secara keseluruhan. Gangguan tidur juga dikenal sebagai penyebab morbiditas yang
signifikan.
Ada beberapa dampak serius gangguan tidur pada lansia misalnya mengantuk
berlebihan di siang hari, gangguan atensi dan memori, mood depresi, sering terjatuh,
penggunaan hipnotik yang tidak semestinya, dan penurunan kualitas hidup. Angka kematian,
angka sakit jantung dan kanker lebih tinggi pada seseorang yang lama tidurnya lebih dari 9
jam atau kurang dari 6 jam per hari bila dibandingkan dengan seseorang yang lama tidurnya
antara 7-8 jam per hari.

Gangguan Tidur Pada Lansia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Tidur Fisiologis
Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu
terhadap lingkungan menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang
minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh, dan
penurunan respon terhadap stimulus eksternal. Hampir sepertiga dari waktu individu
digunakan untuk tidur. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat
memulihkan atau mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas, mengurangi stres
dan kecemasan, serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsenterasi saat hendak
melakukan aktivitas sehari-hari.1,3,4
Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan yang sesuai dengan
beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang seiring dengan rotasi bola dunia
disebut sebagai irama sirkadian. Pusat kontrol irama sirkadian terletak pada bagian
ventral anterior hypothalamus. Tidur tidak dapat diartikan sebagai menifestasi proses
deaktivasi SSP. Jadi, seseorang yang tertidur, susunan saraf pusatnya sedang bekerja.
Dimana neuron-neuron di substansia retikularis ventral batang otak melakukan
sinkronisasi. Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak
pada substansia ventrikulo retikularis medulo oblogata yang disebut sebagai pusat tidur.
Bagian susunan saraf pusat yang menghilangkan sinkronisasi/desinkronisasi terdapat
pada bagian rostral medulo oblogata disebut sebagai pusat penggugah atau aurosal
state.3,4

2.2.

Peranan Neurotransmitter
Keadaan jaga atau bangun sangat dipengaruhi oleh sistim ARAS (Ascending
Reticulary Activity System). Bila aktifitas ARAS ini meningkat orang tersebut dalam
keadaan tidur. Aktifitas ARAS menurun, orang tersebut akan dalam keadaan tidur.
Aktifitas ARAS ini sangat dipengaruhi oleh aktifitas neurotransmiter seperti sistem
serotoninergik, noradrenergik, kholonergik, histaminergik.4
a. Sistem serotonergik

Gangguan Tidur Pada Lansia

Hasil serotonergik sangat dipengaruhi oleh hasil metabolisma asam amino


trypthopan. Dengan bertambahnya jumlah tryptopan, maka jumlah serotonin yang
terbentuk juga meningkat akan menyebabkan keadaan mengantuk/tidur. Bila
serotonin dari tryptopan terhambat pembentukannya, maka terjadi keadaan tidak
bisa tidur/jaga. Menurut beberapa peneliti lokasi yang terbanyak sistem
serotogenik ini terletak pada nukleus raphe dorsalis di batang otak, yang mana
terdapat hubungan aktifitas serotonis dinukleus raphe dorsalis dengan tidur REM.
b. Sistem adrenergik
Neuron-neuron yang terbanyak mengandung norepineprin terletak di badan sel
nukleus cereleus di batang otak. Kerusakan sel neuron pada lokus cereleus sangat
mempengaruhi penurunan atau hilangnya REM tidur. Obat-obatan yang
mempengaruhi peningkatan aktifitas neuron noradrenergik akan menyebabkan
penurunan yang jelas pada tidur REM dan peningkatan keadaan jaga.
c. Sistem kholinergik
Menurut Sitaram, pemberian prostigimin intra vena dapat mempengaruhi episode
tidur REM. Stimulasi jalur kholihergik ini, mengakibatkan aktifitas gambaran
EEG seperti dalam keadaan jaga. Gangguan aktifitas kholinergik sentral yang
berhubungan dengan perubahan tidur ini terlihat pada orang depresi, sehingga
terjadi pemendekan latensi tidur REM. Pada obat antikolinergik yang
menghambat pengeluaran kholinergik dari lokus sereleus maka tampak gangguan
pada fase awal dan penurunan REM.
d. Sistem histaminergik
e. Sistem hormon
Pengaruh hormon terhadap siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti
ACTH, GH, TSH, dan LH. Hormon hormon ini masing-masing disekresi secara
teratur oleh kelenjar pituitary anterior melalui hipotalamus pathway. Sistem ini
secara teratur mempengaruhi pengeluaran neurotransmiter norepinefrin, dopamin,
serotonin yang bertugas menagtur mekanisme tidur dan bangun. Selain itu,
hormon melanosit juga di katakan mempengaruhi kualitas tidur. Peningkatan
hormon ini paling banyak meningkat pada keadaan gelap, dimana jumlah hormon
yang banyak menyebabkan kualitas tidur seseorang akan menjadi baik dan tidur
akan menjadi lebih nyenyak.
2.3.

Tahapan Tidur
Rata-rata dewasa sehat membutuhkan waktu tujuh setengah jam untuk tidur
setiap malam. Walaupun demikian, ada beberapa orang yang membutuhkan tidur lebih
atau kurang. Tidur normal dipengaruhi oleh beberapa faktor misalnya usia. Seseorang
Gangguan Tidur Pada Lansia

yang berusia muda cenderung tidur lebih banyak bila dibandingkan dengan lansia. Waktu
tidur lansia berkurang berkaitan dengan faktor usia.
Fisiologi tidur dapat dilihat melalui gambaran ekektrofisiologik sel-sel otak
selama tidur. Polisomnografi merupakan alat yang dapat mendeteksi aktivitas otak
selama tidur. Pemeriksaan polisomnografi sering dilakukan saat tidur malam hari. Alat
tersebut dapat mencatat aktivitas EEG, elektrookulografi, dan elektromiografi.
Elektromiografi perifer berguna untuk menilai gerakan abnormal saat tidur. Stadium tidur
- diukur dengan polisomnografi - terdiri dari tidur rapid eye movement (REM) dan tidur
non-rapid eye movement (NREM). Kedua stadium ini bergantian dalam satu siklus yang
berlangsung antara 70 120 menit. Secara umum ada 4-6 siklus NREM-REM yang
terjadi setiap malam. Periode tidur REM I berlangsung antara 5-10 menit. Makin larut
malam, periode REM makin panjang. Tidur NREM terdiri dari empat stadium yaitu
stadium 1,2,3,4.4,5,6
Pada saat kita tidur, ada beberapa gelombang yang di hasilkan oleh otak.
Gelombang-gelombang ini dapat di ukur dengan EEG. Gelombang ini adalah:
Gelombang Beta: terjadi saat melakukan aktivitas mental yang terjaga penuh.
Diperlukan ketika otak berpikir, problem solving, kegiatan sehari hari. Frekuensi

gelombang ini berkisar dari 12 19 Hz.


Gelombang Alfa: timbul dalam kondisi relaksasi, mengantuk, hipnosis dan sugesti.
Pada gelombang ini dapat dilakukan pemrograman alam bawah sadar. Frekuensi

gelombang ini berkisar dari(8 12 Hz.


Gelombang Teta: timbul saat tidur ringan, sangat mengantuk, melakukan meditasi

dan ritual ritual agama. Frekuensi gelombang ini berkisar dari 4 8 Hz.
Gelombang Delta: gelombang otak dengan amplitudo yang besar dan frekuensi
rendah. Timbul saat seseorang dalam kondisi tidur lelap tanpa mimpi. Fase istirahat
tubuh (self repair, sintesis sel sel baru, selfcure). Frekuensi gelombang ini berkisar
dari 0.5 4 Hz.

Stadium Tidur Normal 3,4


Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium, lalu
diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan REM terjadi
secara bergantian antara 4 -7 siklus semalam. Bayi baru lahir total tidur 16 - 20
jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10 jam/hari pada umur
diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang dewasa.
Gangguan Tidur Pada Lansia

Tidur tipe NREM dibagi dalam beberapa stadium yaitu:


1. Stadium 0 adalah periode dalam keadaan masih bangun tetapi mata menutup.
Fase ini ditandai dengan gelombang voltase rendah, cepat, 8-12 siklus per detik.
Tonus otot meningkat. Aktivitas alfa menurun dengan meningkatnya rasa kantuk.
Pada fase mengantuk terdapat gelombang alfa campuran.
2. Stadium 1 disebut onset tidur. Tidur dimulai dengan stadium NREM. Stadium 1
NREM adalah perpindahan dari bangun ke tidur. Ia menduduki sekitar 5% dari
total waktu tidur. Pada fase ini terjadi penurunan aktivitas gelombang alfa
(gelombang alfa menurun kurang dari 50%), amplitudo rendah, sinyal campuran,
predominan beta dan teta, tegangan rendah, frekuensi 4-7 siklus per detik.
Aktivitas bola mata melambat, tonus otot menurun, berlangsung sekitar 3-5 menit.
Pada stadium ini seseorang mudah dibangunkan dan bila terbangun merasa seperti
setengah tidur. 1
3. Stadium 2 ditandai dengan gelombang EEG spesifik yaitu didominasi oleh
aktivitas teta, voltase rendah-sedang, kumparan tidur dan kompleks K. Kumparan
tidur adalah gelombang ritmik pendek dengan frekuensi 12-14 siklus per detik.
Kompleks K yaitu gelombang tajam, negatif, voltase tinggi, diikuti oleh
gelombang lebih lambat, frekuensi 2-3 siklus per menit, aktivitas positif, dengan
durasi 500 mdetik. Tonus otot rendah, nadi dan tekanan darah cenderung
menurun. Stadium 1 dan 2 dikenal sebagai tidur dangkal. Stadium ini menduduki
sekitar 50% total tidur.
4. Stadium 3 ditandai dengan 20%-50% aktivitas delta, frekuensi 1-2 siklus per
detik, amplitudo tinggi, dan disebut juga tidur delta. Tonus otot meningkat tetapi
tidak ada gerakan bola mata.
5. Stadium 4 terjadi jika gelombang delta lebih dari 50%. Stadium 3 dan 4 sulit
dibedakan. Stadium 4 lebih lambat dari stadium 3. Rekaman EEG berupa delta.
Stadium 3 dan 4 disebut juga tidur gelombang lambat atau tidur dalam. Stadium
ini menghabiskan sekitar 10%-20% waktu tidur total. Tidur ini terjadi antara
sepertiga awal malam dengan setengah malam. Durasi tidur ini meningkat bila
seseorang mengalami deprivasi tidur.
Tidur REM ditandai dengan rekaman EEG yang hampir sama dengan tidur
stadium 1. Pada stadium ini terdapat letupan periodik gerakan bola mata cepat.
Refleks tendon melemah atau hilang. Tekanan darah dan nafas meningkat. Pada pria
terjadi ereksi penis. Pada tidur REM terdapat mimpi-mimpi. Fase ini menggunakan
sekitar 20%-25% waktu tidur. Latensi REM sekitar 70-100 menit pada subyek normal
Gangguan Tidur Pada Lansia

tetapi pada penderita depresi, gangguan makan, skizofrenia, gangguan kepribadian


ambang, dan gangguan penggunaan alkohol durasinya lebih pendek.3
Sebagian tidur delta (NREM) terjadi pada separuh awal malam dan tidur REM
pada separuh malam menjelang pagi. Tidur REM dan NREM berbeda dalam hal
dimensi psikologik dan fisiologik. Tidur REM dikaitkan dengan mimpi-mimpi
sedangkan tidur NREM dengan pikiran abstrak. Fungsi otonom bervariasi pada tidur
REM tetapi lambat atau menetap pada tidur NREM. 3
Gambar 1: Tahapan tidur
2.4.

Epidemiologi
Hampir semua
orang

pernah
mengalami
gangguan tidur

selama

masa

kehidupannya. Diperkirakan tiap tahun 20%-40% orang dewasa mengalami kesukaran


tidur dan 17% diantaranya mengalami masalah serius. Prevalensi gangguan tidur setiap
tahun cendrung meningkat, hal ini juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai
penyebabnya.
Dalam buku psikiatri karangan Kaplan dan Sadock, 40-50% dari populasi usia
lanjut menderita gangguan tidur. Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan oleh
gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol. 3
Menurut Data internasional of sleep disorder, prevalensi penyebab-penyebab
gangguan tidur adalah asma (61-74%), gangguan pusat pernafasan (40-50%), kram kaki
malam hari (16%), psychophysiological (15%), sindroma kaki gelisah (5-15%),
ketergantungan alkohol (10%), sindroma terlambat tidur (5-10%).2
2.5. Klasifikasi Gangguan Tidur
Menurut Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders edisi ke empat
(DSM-IV) mengklasifikasikan gangguan tidur berdasarkan kriteria diagnostik klinik dan
perkiraan etiologi. Tiga kategori utama gangguan tidur dalam DSM-IV adalah : 3,4,5
2.5.1. Gangguan Tidur Primer
2.5.1.1. Dissomnia. Dissomnia adalah suatu keadaan dimana seseorang
mengalami kesukaran tidur, mengalami gangguan selama tidur, bangun
terlalu dini atau kombinasi diantaranya.
Insomnia Primer
Gangguan Tidur Pada Lansia

Ditandai dengan:
Keluhan sulit masuk tidur atau mempertahankan tidur atau tetap
tidak segar meskipun sudah tidur. Keadaan ini berlangsung paling

sedikit satu bulan


Menyebabkan penderitaan yang bermakna secara klinik atau

impairment sosial, okupasional, atau fungsi penting lainnya.


Gangguan tidur tidak terjadi secara eksklusif selama ada gangguan

mental lainnya.
Tidak disebabkan oleh pengaruh fisiologik langsung kondisi medik

umum atau zat.


Pedoman diagnostik insomnia menurut PPDGJ III:
Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur,

atau kualitas tidur yang buruk


Gangguan terjadi minimal 3 kali dalam seminggu selama minimal

satu bulan
Adanya preokupasi dengan ti dak bisa tidur dan peduli yang
berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang

hari
Ketidakpuasan

terhadap

kuantitas

dan

atau

kualitas

tidur

menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi


fungsi dalam sosial dan pekerjaan
Hipersomnia Primer
Hipersomnia (hypersomnia) primer merupakan rasa kantuk yang
berlebihan sepanjang hari yang berlangsung sampai sebulan atau lebih.
Rasa kantuk yang berlebihan (terkadang disebut mabuk tidur) dapat
berbentuk kesulitan untuk bangun setelah periode tidur yang panjang
(biasanya 8 sampai 12 jam tidur).
Pedoman diagnostik hipersomnia menurut PPDGJ III:
Rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari atau adanya serangan
tidur dan atau transisi yang memanjang dari saat mulai bangun tidur

sampai sadar sepenuhnya (sleep drunkness)


Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari satu bulan atau
berulang dengan kurun waktu yang lebih pendek, menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam
sosial dan pekerjaan

Gangguan Tidur Pada Lansia

Tidak ada gejala tambahan narkolepsi (cataplexy, sleep paralysis,

hipnagogic hallucination) atau bukti klinis untuk sleep apnoe


Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukkan gejala
rasa kantuk pada sisang hari

Narkolepsi
Ditandai oleh serangan mendadak tidur yang tidak dapat dihindari pada
siang hari, biasanya hanya berlangsung 10-20 menit atau selalu kurang
dari 1 jam, setelah itu pasien akan segar kembali dan terulang kembali 23 jam berikutnya. Gambaran tidurnya menunjukkan penurunan fase
REM 30-70%. Pada serangan tidur dimulai dengan fase REM. Berbagai
bentuk narkolepsi yaitu narkolepsi kataplesia, hypnagogic halusinasi,
dan sleep paralisis. narkolepsi kataplesia adalah kehilangan tonus otot
yang sementara baik sebagian atau seluruh otot tubuh. Hypnagogic
halusinasi auditorik/visual adalah halusinasi pada saat jatuh tidur
sehingga pasien dalam keadaan jaga, kemudian ke kerangka pikiran
normal. Sedangkan, sleep paralis adalah otot volunter mengalami paralis
pada saat masuk tidur sehingga pasien sadar ia tidak mampu
menggerakkan ototnya.3
Gangguan Tidur yang Berhubungan dengan Pernafasan
Terdapat tiga jenis sleep apnea yaitu central sleep apnea, upper airway
obstructive apnea dan bentuk campuran dari keduanya.
Apnea tidur adalah gangguan pernafasan yang terjadi saat tidur, yang
berlangsung selama lebih dari 10 detik. Dikatakan apnea tidur patologis
jika penderita mengalami episode apnea sekurang kurang lima kali
dalam satu jam atau 30 episode apnea selama semalam. Selama periodik
ini gerakan dada dan dinding perut sangat dominan.
Apnea sentral sering terjadi pada usia lanjut, yang ditandai dengan
intermiten penurunan kemampuan respirasi akibat penurunan saturasi
oksigen. Apnea sentral ditandai oleh terhentinya aliran udara dan usaha
pernafasan secara periodik selama tidur, sehingga pergerakan dada dan
dinding perut menghilang. Hal ini kemungkinan kerusakan pada batang
otak atau hiperkapnia.
Gangguan saluran nafas (upper airway obstructive) pada saat tidur
ditandai dengan peningkatan pernafasan selama apnea, peningkatan
Gangguan Tidur Pada Lansia

usaha otot dada dan dinding perut dengan tujuan memaksa udara masuk
melalui obstruksi. Gangguan ini semakin berat bila memasuki fase REM.
Selain itu gangguan ini ditandai dengan mendengkur. Mendengkur ini
berlangsung 3-6 kali bersuara kemudian menghilang dan berulang setiap
20-50 detik.
Serangan apnea pada saat pasien tidak mendengkur. Akibat hipoksia atau
hipercapnea, menyebabkan respirasi lebih aktif yang diaktifkan oleh
formasi retikularis dan pusat respirasi medula, dengan akibat pasien
terjaga dan respirasi kembali normal secara reflek. Baik pada sentral atau
obstruksi apnea, pasien sering terbangun berulang kali dimalam hari,
yang kadang-kadang sulit kembali untuk jatuh tidur.
Gangguan ini sering ditandai dengan nyeri kepala atau tidak enak
perasaan pada pagi hari. Pada anak-anak sering berhubungan dengan
gangguan kongenital saluran nafas, dysotonomi syndrome, adenotonsilar
hypertropi. Pada orang dewasa obstruksi saluran nafas septal defek,
hipotiroid, atau bradikardi, gangguan jantung, PPOK, hipertensi, stroke,
GBS, arnord chiari malformation. 3
Restless Leg Syndrome (Rls) dan Periodic Leg Movement (Plm)
Lansia dapat mengalami disfungsi neuromuskular yang berkaitan dengan
tidur. Restless Leg Syndrome disebut juga sindrom Ekbom. Sindrom ini
ditandai dengan adanya dorongan yang kuat untuk memindahmindahkan kaki dengan cepat ketika mau jatuh tidur. Gerakan-gerakan
kaki sering bersamaan dengan apnea tidur. Pasien sering mengeluh
adanya rasa sakit atau parestesia yang menjalar. Kadang-kadang ada
sensasi seperti semut atau cacing menjalar di tungkai. Gagal ginjal,
diabetes, anemia kronik, dan gangguan saraf perifer sering dihubungkan
dengan RLS. Restless leg syndrome dapat pula diinduksi oleh
neuroleptik, antidepresan, lithium, diuretik, dan narkotik. Agonis
dopamin dapat mengurangi RLS. Narkotik juga efektif tetapi harus hatihati karena dapat menimbulkan resistensi.
Periodic Leg Movement disebut juga mioklonus nokturnal yaitu gerakan
kaki berulang, stereotipi, dan durasinya pendek. Gerakan berupa fleksi
cepat dan periodik tungkai dan telapak kaki. Keadaan ini dapat
menyebabkan terbangun berulang kali sepanjang malam. Prevalensinya
meningkat dengan bertambahnya umur. Gangguan ini dihubungkan
Gangguan Tidur Pada Lansia

10

dengan sebab-sebab metabolik, vaskuler, anemia, defisiensi asam folat,


dan gangguan neurologik.2,6
Gangguan Tidur Irama Sirkadian
Sleep wake schedule disorders (gangguan jadwal tidur) yaitu gangguan
dimana penderita tidak dapat tidur dan bangun pada waktu yang
dikehendaki,walaupun jumlah tidurnya tetap. Gangguan ini sangat
berhubungan dengan irama tidur sirkadian normal.
Bagian-bagian yang berfungsi dalam pengaturan sirkadian antara lain
temperatur tubuh, plasma darah, urine, fungsi ginjal dan psikologi.
Dalam keadan normal fungsi irama sirkadian mengatur siklus biologi
irama tidur bangun, dimana sepertiga waktu untuk tidur dan dua pertiga
untuk bangun/aktivitas. Siklus irama sirkadian ini dapat mengalami
gangguan, apabila irama tersebut mengalami pergeseran. Perubahan
yang jelas secara organik yang mengalami gangguan irama sirkadian
adalah tumor pineal. Gangguan irama sirkadian dapat dikategorikan dua
bagian, yaitu yang bersifat sementara (acut work shift, Jet lag) dan
menetap (shift worker). Keduanya dapat mengganggu irama tidur
sirkadian sehingga terjadi perubahan pemendekan waktu onset tidur dan
perubahan pada fase REM. Berbagai macam gangguan irama sirkadian

adalah sebagai berikut: 3


Tipe fase tidur terlambat (delayed sleep phase type) yaitu ditandai oleh

waktu tidur dan terjaga lebih lambat yang diinginkan.


Tipe Jet lag ialah mengantuk dan terjaga pada waktu yang tidak tepat
menurut jam setempat, hal ini terjadi setelah berpergian melewati lebih

dari satu zone waktu.


Tipe pergeseran kerja (shift work type). Pergeseran kerja terjadi pada
orang yang secara teratur dan cepat mengubah jadwal kerja sehingga

akan mempengaruhi jadwal tidur.


Tipe fase terlalu cepat tidur (advanced sleep phase syndrome). Tipe ini
sangat jarang, lebih sering ditemukan pada pasien usia lanjut,dimana
onset tidur pada pukul 6-8 malam dan terbangun antara pukul 1-3 pagi.
Walaupun pasien ini merasa cukup ubtuk waktu tidurnya. Gambaran
tidur tampak normal tetapi penempatan jadwal irama tidur sirkadian
yang tdk sesuai.
Gangguan Tidur Pada Lansia

11

Tipe bangun-tidur beraturan


Tipe tidak tidur-bangun dalam 24 jam
Pedoman diagnostik jadwal tidur-jaga menurut PPDGJ III:
Pola tidur-jaga dari individu tidak seirama dengan pola tidur-jaga yang

normal dari masyarakat setempat


Insomnia pada waktu orang-orang tidur dan hipersomnia pada waktu
kebanyakan orang jaga, yang di alami hampir setiap hari dengan
sedikitnya satu bulan atau berulang dengan kurun waktu yang lebih
pendek
Ketidakpuasan

dalam

kuantitas,

kualitas,

dan

waktu

tidur

menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi


fungsi dalam sosial dan pekerjaan
2.5.1.2. Parasomnia
Parasomnia merupakan kelompok heterogen yang terdiri dari kejadiankejadian episode yang berlangsung pada malam hari pada saat tidur atau
pada waktu antara bangun dan tidur. Kasus ini sering berhubungan
dengan gangguan perubahan tingkah laku dan aksi motorik potensial,
sehingga sangat potensial menimbulkan angka kesakitan dan kematian,
Insidensi ini sering ditemukan pada usia anak berumur 3-5 tahun (15%)
dan mengalami perbaikan atau penurunan insidensi pada usia dewasa
(3%). 3
Ada 3 faktor utama presipitasi terjadinya parasomnia yaitu:
1 Peminum alcohol
2 Kurang tidur (sleep deprivation)
3 Stress psikososial
Gangguan Tidur Berjalan (Slepp Walking)/Somnabulisme
Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat komplek termasuk
adanya automatis dan semi purposeful aksi motorik, seperti membuka
pintu, menutup pintu, duduk ditempat tidur, menabrak kursi, berjalan
kaki, berbicara. Tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan
kembali tidur. Gambaran tipikal gangguan tingkah laku ini didapat
dengan gelombang tidur yang rendah, berlangsung 1/3 bagian pertama
malam selama tidur NREM pada stadium 3 dan 4. Selama serangan,
relatif tidak memberikan respon terhadap usaha orang lain untuk
berkomunikasi dengannya dan dapat dibangunkan susah payah. 4
Pedoman diagnostik gangguan tidur berjalan menurut PPDGJ III:
Gangguan Tidur Pada Lansia

12

Gejala yang utama adalah satu atau lebih episode bangun dari
tempat tidur, biasanya pada sepertiga awal tidur malam, dan terus

berjalan-jalan
Selama satu episode, individu menunjukkan wajah bengong, relatif
tak memberi respon terhadap upaya orang lain untuk mempengaruhi
keadaan atau untuk berkomunikasi dengan penderita, dan hanya

dapat di sadarkan dari tidurnya dengan susah payah


Pada waktu sdar/bangun, individu tidak ingat apa yang terjadi
Dalam kurun waktu beberapa menit setelah bangun dari episode
tersebut, tidak ada gangguan aktivitas, walaupun di mulai dengan

sedikit bingung dan disorientasi dalam waktu singkat


Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik

Gangguan Teror Tidur (Night Teror)


Ditandai dengan pasien mendadak berteriak, suara tangisan dan berdiri
ditempat tidur yang tampak seperti ketakutan dan bergerak-gerak.
Serangan ini terjadi sepertiga malam yang berlangsung selama tidur
NREM pada stadium 3 dan 4. Kadang-kadang penderita tetap terjaga
dalam keadaan terdisorientasi, atau sering diikuti tidur berjalan. 4
Pedoman diagnostik teror tidur menurut PPDGJ III:
Gejala utama adalah satu atau lebih episode bangun dari tidur, mulai
dari berteriak karena panik, di sertai ansietas yang hebat, seluruh
tubuh bergetar, dan hiperaktivitas otonomik seperti jantung

berdebar-debar, napas cepat, pupil melebar, dan berkeringat


Episode ini dapat berulang, setiap episode lamanya berkisar 1-10

menit, dan biasanya terjad pada sepertiga awal tidur malam


Secara relatif tidak bereaksi terhadap berbagai upaya orang lain
untuk mempengaruhi teror tidurnya, dan kemudian beberapa menit
setelah bangun biasanya terjadi disorientasi dan gerakan-gerakan

berulang
Ingatan terhadap kejadian, kalaupun ada, sangat minimal
Tidak ada bukti adanya gangguan mental organik

Gangguan Mimpi Buruk (Nightmare Disorder)


Merupakan proses terjaga dari tidur secara berulang karena mimpi yang
menakutkan (mimpi buruk). Mimpi buruk biasanya melibatkan cerita
panjang seperti mimpi di mana terdapat ancaman akan adanya bahaya
Gangguan Tidur Pada Lansia

13

fisik yang sudah dekat dengan individu, seperti dikejar, diserang, atau
dilukai. Orang yang mengalami biasanya dapat mengingat mimpi buruk
ini dengan jelas pada saat bangun tidur.

Mimpi buruk sering

dihubungkan dengan pengalaman traumatis dan umumnya lebih sering


terjadi ketika individu berada dalam kondisi stress. 4
Pedoman diagnostik jadwal tidur-jaga menurut PPDGJ III:
Terbangun dari tidur malam atau tidur siang berkaitan dengan mimpi
yang menakutkan yang dapat di ingat kembali dengan rinci dan
jelas, biasanya perihal ancaman kelangsungan hidup, keamanan,
atau harga diri, terbangunnya dapat terjadi kapan saja selama

periode tidur, tetapi yang khas adalah paruh kedua masa tidur
Setelah terbangun dari mimpi yang menakutkan, individu segera

sadar penuh dan mampu mengenali lingkungannya


Pengalaman mimpi itu, akibat dari tidur yang terganggu,

menyebabkan penderitaan yang cukup berat bagi individu.


2.5.2. Gangguan Tidur yang Berhubungan dengan Gangguan Mental / Psikiatrik
Lain
Pada depresi berat dapat dijumpai latensi REM yang pendek, menurunnya
tidur stadium 4 dan kehilangan waktu tidur total. Onset tidur relatif normal, tapi
sering terbangun lebih awal di pagi hari dan sulit tidur kembali. Pada anxietas
terjadi perpanjangan latensi tidur, tidur gelisah disertai mimpi yang menakutkan
dan serangan panik muncul selama tidur itu sendiri. Pada psikosis dapat dijumpai
insomnia atau mengantuk yang berlebihan. Pasien mungkin menunjukkan
perpanjangan latensi tidur, pengurangan tidur delta, latensi REM yang pendek.
Kondisi demensia dan delirium ditandai oleh peningkatan durasi dan frekuensi
terjaga malam hari, peningkatan tidur stadium 1, berkurangnya gelombang lambat
(stadium 3 dan 4) dan tidur REM, mengantuk berlebihan di luar masa tidur dan
sering serangan tidur sejenak.3

2.5.3. Gangguan Tidur yang Berhubungan dengan Kondisi Medis Umum


Tiap jenis gangguan tidur dapat disebabkan oleh kondisi medik umum
seperti gangguan gastrointestinal, asma, bronkitis, nyeri kepala, nyeri karena
artritis, neoplasma, infeksi, kelainan degeneratif, kelainan endokrin (diabetes
melitus, hipertiroid), kelainan jantung (gagal jantung), arteriosklerosis dan
kelainan neurologis. Kelainan medik umum ini sering didapat pada usia tua.
Gangguan Tidur Pada Lansia

14

Keluhan tidur yang dapat timbul berupa kesulitan untuk tertidur, sering terbangun
malam hari dan keluhan lainnya.5,6
Penyakit Kardiovaskuler
Pasien angina dapat menderita insomnia akibat serangan angina di malam hari.
Begitu pula pasien pasca infark jantung dan pasca bedah jantung sering mengeluh
insomnia. Beberapa pasien pasca infark jantung yang diobati dengan
benzodiazepin dapat mengalami apnea tidur berulang dengan durasi pendek.
Selain itu, pasien gagal jantung kronik dapat pula mengalami apnea pernafasan
yang sangat berat saat berbaring.
Tekanan darah secara normal menurun ketika tidur dan meningkat ketika bangun.
Kejadian-kejadian kardiovaskuler atau jantung mengikuti pola sirkadian yaitu
gangguannya sering terjadi antara pukul 6-11 pagi. Aritmia juga berkaitan dengan
tidur-bangun. Takikardia ventrikel sering terjadi antara pukul 4 dan 9 pagi.
Pasien stroke akut dapat mengalami gangguan tidur baik insomnia atau
hipersomnia. Sering terbangun setelah onset tidur dikaitkan dengan buruknya
keluaran stroke. Pasien stroke sering terbangun di malam hari. Nyeri kepala yang
sering terjadi saat tidur - biasanya tidur REM, dapat menginterupsi tidur.
Penyakit Paru
Pasien penyakit paru obstruktif kronik sering terbangun dan mengalami
penurunan efisiensi tidur, juga lebih berisiko untuk apnea tidur. Selain itu,
penyakit asma dan hipoventilasi juga dapat menyebabkan sindrom apnea tidur
obstruktif. Insomnia juga sering pada penderita asma; sekitar 60%-70% lansia
terbangun tengah malam karena serangan asmanya. Obat seperti xanthine, beta
adrenergik, dan steroid sistemik yang digunakan untuk asma atau penyakit paru
obstruktif kronik dapat pula menyebabkan insomnia. Bila pasien mengeluh
gangguan tidur pertimbangkan kemungkinan apnea tidur. Dengkuran dapat
menunjukkan adanya apnea tidur.

Gangguan Neurodegeneratif

Gangguan Tidur Pada Lansia

15

Sekitar 30% pasien Alzheimer mengalami gangguan tidur seperti kurang tidur,
sering terbangun, bingung atau berjalan saat tidur, dan mengantuk di siang hari.
Insomnia yang terjadi dikaitkan dengan perubahan pola tidur siang-malam yang
biasanya terjadi pada awal penyakit. Agitasi nokturnal juga bisa menyebabkan
insomnia. Agitasi nokturnal dan insomnia sering menjadi alasan penderita dibawa
ke rumah sakit. Penderita Alzheimer yang gangguan tidurnya lebih berat dapat
mengalami penurunan kognitif lebih cepat. Mereka lebih sensitif terhadap efek
samping obat yang diresepkan untuk tidur. 5
Gangguan tidur dapat pula terjadi pada penyakit Parkinson. Gangguan tidur pada
pasien ini dikaitkan dengan nokturia, nyeri, kekakuan, sulit membalikkan tubuh
di

tempat

tidur,

dan

dapat

pula

akibat

terapi

levodopa

dan

bromocriptine.Gangguan degeneratif lain seperti Huntington atau penyakit lain


yang menimbulkan mioklonus dan khorea dapat menimbulkan insomnia

Penyakit Endokrin
Hipertiroidisme sering menimbulkan insomnia. Walaupun demikian, insomnia
kadang-kadang dapat pula ditemukan pada penderita hipotiroidisme. Gangguan
tidur kronik dapat mengganggu regulasi glukosa. Sebaliknya, diabetes melitus
dapat pula menimbulkan insomnia. Hipoglikemia nokturnal dan nokturia atau
penurunan glukosa dapat meningkatkan rasa kantuk. Kurang tidur merupakan
sinyal untuk meningkatkan makan. Kualitas tidur lansia penderita diabetes lebih
buruk daripada yang tidak menderita diabetes.

Penyakit Saluran Pencernaan


Ulkus peptikum, hernia hiatus, refleks gastroesofagus, atau kolitis dapat
menimbulkan insomnia. Hal ini dikaitkan dengan adanya nyeri nokturnal. Pasien
gagal hepar juga dapat mengalami insomnia. Insomnia memburuk bila penyakit
heparnya progresif. Ensefalopati hepatik ringan juga dapat menimbulkan
insomnia. Pembatasan protein bermanfaat secara klinik.
Gangguan Tidur Pada Lansia

16

Benzodiazepin seperti lorazepam dan oxazepam yang metabolismenya tidak


memerlukan sistem mikrosomal hepar dapat digunakan pada lansia gagal hepar.
Tidur dapat pula terganggu karena diuresis nokturnal; gangguan jalan nafas dan
refluks gastroesofagus dapat menyebabkan bronkospasme akut sehingga
mengganggu tidur.5

2.6.

Fisiologis Tidur pada Lansia


Gelombang otak berubah sesuai dengan pertambahan usia. Pada usia lanjut tidur
NREM stadium 1 dan 2 cenderung meningkat, aktivitas gelombang alfa menurun,
sementara pada stadium 3 dan 4 aktivitas gelombang delta menurun atau hilang.
Sehingga kondisi terjaga yang dapat timbul 2-4 kali selama tidur normal pada dewasa
muda, pada orang tua akan meningkat. Orang tua lebih mudah terjaga oleh stimulasi
internal atau eksternal dan lebih menyolok pada pria dibandingkan wanita. Narkolepsi
atau jatuh tertidur sebentar pada siang hari juga meningkat frekuensinya pada usia tua.
Kontinuitas tidur berkurang sehingga menurunkan efisiensi tidur sebanyak 20%
dibandingkan dewasa muda. Walau sebenarnya rata-rata waktu tidur total pada usia
lanjut hampir sama dengan dewasa muda, tapi orang tua lebih banyak menghabiskan
waktu di tempat tidur, selain karena efisiensi tidur yang berkurang, juga karena merasa
lebih letih dan merasa harus lebih banyak tidur. 5
Pada usia lanjut juga terjadi perubahan siklus sirkadian. Dewasa muda umumnya
mengantuk pada jam 10-11 malam lalu tertidur selama 8-9 jam, terbangun sekitar jam 68 pagi. Pada usia lanjut jam biologik menjadi lebih pendek, fase tidur lebih maju,
sehingga orangtua memulai tidur lebih awal dan bangun lebih awal pula. Selain itu
orangtua sering terbangun pada malam hari sehingga bangun pagi terasa tak segar, siang
hari mengalami kelelahan dan lebih sering tertidur sejenak. Waktu tidur malam tampak
lebih kurang sehingga mereka merasa mengantuk sepanjang hari. Gejala ini sering
disalah-artikan sebagai kecemasan atau depresif. Walaupun demikian perlu dibedakan
dengan gangguan tidur spesifik karena gangguan medis atau psikiatrik tertentu.
Perubahan keadaan hormonal yang berjalan sesuai siklus sirkadian seperti pola
tidur juga berubah sesuai usia. Sekresi melatonin berkurang. Hormon ini berperan juga
dalam mengontrol irama sirkadian. Sekresinya terutama pada malam hari, berhubugan
dengan rasa mengantuk. 2

Gangguan Tidur Pada Lansia

17

2.7.

Perubahan Tidur pada Lansia


Tidur manusia bervariasi sepanjang kehidupannya. Pada anak-anak dan remaja
awal, jumlah tidur gelombang lambat relatif stabil. Kontinuitas dan dalamnya tidur
berkurang setelah dewasa. Pengurangan tersebut ditandai dengan peningkatan frekuensi
bangun, tidur stadium 1, serta penurunan stadium 3 dan 4. Oleh karena itu, usia harus
dipertimbangkan dalam mendiagnosis gangguan tidur.
Siklus sirkadian tidur-bangun dapat mempengaruhi fungsi neuroendokrin
misalnya sekresi kortisol, melatonin, dan hormon pertumbuhan. Pada dewasa normal,
temperatur tubuh juga mengikuti ritme sirkadian; puncaknya pada sore hari dan paling
rendah pada malam hari. Gangguan siklus temperatur dikaitkan dengan insomnia.
Pola tidur-bangun berubah sesuai dengan bertambahnya umur. Pada masa
neonatus sekitar 50% waktu tidur total adalah tidur REM. Lama tidur sekitar 18 jam.
Pada usia satu tahun lama tidur sekitar 13 jam dan 30 % adalah tidur REM. Waktu tidur
menurun dengan tajam setelah itu. Dewasa muda membutuhkan waktu tidur 7-8 jam
dengan NREM 75% dan REM 25%. Kebutuhan ini menetap sampai batas lansia. 4,5,6
Lansia menghabiskan waktunya lebih banyak di tempat tidur, mudah jatuh tidur,
tetapi juga mudah terbangun dari tidurnya. Perubahan yang sangat menonjol yaitu terjadi
pengurangan pada gelombang lambat, terutama stadium 4, gelombang alfa menurun, dan
meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya fragmentasi tidur
karena seringnya terbangun. Gangguan juga terjadi pada dalamnya tidur sehingga lansia
sangat sensitif terhadap stimulus lingkungan.
Selama tidur malam, seorang dewasa muda normal akan terbangun sekitar 2-4
kali. Tidak begitu halnya dengan lansia, ia lebih sering terbangun. Walaupun demikian,
rata-rata waktu tidur total lansia hampir sama dengan dewasa muda. 4
Ritmik sirkadian tidur-bangun lansia juga sering terganggu. Jam biologik lansia
lebih pendek dan fase tidurnya lebih maju. Seringnya terbangun pada malam hari
Gangguan Tidur Pada Lansia

18

menyebabkan keletihan, mengantuk, dan mudah jatuh tidur pada siang hari. Dengan
perkataan lain, bertambahnya umur juga dikaitkan dengan kecenderungan untuk tidur
dan bangun lebih awal. Toleransi terhadap fase atau jadual tidur-bangun menurun,
misalnya sangat rentan dengan perpindahan jam kerja.
Adanya gangguan ritmik sirkadian tidur juga berpengaruh terhadap kadar hormon
yaitu terjadi penurunan sekresi hormon pertumbuhan, prolaktin, tiroid, dan kortisol pada
lansia. Hormon-hormon ini dikeluarkan selama tidur dalam. Sekresi melatonin juga
berkurang. Melatonin berfungsi mengontrol sirkadian tidur. Sekresinya terutama pada
malam hari. Apabila terpajan dengan cahaya terang, sekresi melatonin akan berkurang. 5
Mengantuk di siang hari sering terjadi pada lansia. Keadaan ini dapat
mempengaruhi jadual tidur-bangunnya di malam hari. Walaupun demikian, beberapa
individu memang mempunyai durasi tidur lebih pendek atau kebutuhan tidurnya lebih
sedikit. Individu ini tidak mempunyai keluhan susah masuk tidur dan tidak ada tandatanda khas insomnia seperti sering terbangun, letih, susah konsentrasi, dan iritabilitas.
Fungsi siang harinya tidak terganggu meskipun ia tidur kurang dari tujuh jam4.

2.8.

Penatalaksanaan
2.8.1. Sleep Hygiene
Memberikan lingkungan dan kondisi yang kondusif untuk tidur merupakan syarat
mutlak untuk gangguan tidur. Jadual tidur-bangun dan latihan fisik sehari-hari
yang teratur perlu dipertahankan. Kamar tidur dijauhkan dari suasana tidak
nyaman. Penderita diminta menghindari latihan fisik berat sebelum tidur. Tempat
tidur jangan dijadikan tempat untuk menumpahkan kemarahan. Perubahan
kebiasaan, sikap, dan lingkungan ini efektif untuk memperbaiki tidur. Edukasi
tentang higene tidur merupakan intervensi efektif yang tidak memerlukan biaya.
2.8.2. Terapi Pengontrolan Stimulus
Terapi ini bertujuan untuk memutus siklus masalah yang sering dikaitkan dengan
kesulitan memulai atau jatuh tidur. Terapi ini membantu mengurangi faktor
primer dan reaktif yang sering ditemukan pada insomnia. Ada beberapa instruksi
yang harus diikuti oleh penderita insomnia:
Ke tempat tidur hanya ketika telah mengantuk.
Menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur.
Jangan menonton TV, membaca, makan, dan menelpon di tempat tidur.
Jangan berbaring-baring di tempat tidur karena bisa bertambah frustrasi
jika tidak bisa tidur.
Gangguan Tidur Pada Lansia

19

Jika tidak bisa tidur (setelah beberapa menit) harus bangun, pergi ke ruang
lain, kerjakan sesuatu yang tidak membuat terjaga, masuk kamar tidur

setelah kantuk datang kembali.


Bangun pada saat yang sama setiap hari tanpa menghiraukan waktu tidur.
Menghindari tidur di siang hari.
Jangan menggunakan stimulansia (kopi, rokok, dll) dalam 4-6 jam
sebelum tidur.

Hasil terapi ini jarang terlihat pada beberapa bulan pertama. Bila kebiasaan ini
terus dipraktikkan, gangguan tidur akan berkurang baik frekuensinya maupun
beratnya.
2.8.3. Sleep Restriction Therapy
Membatasi waktu di tempat tidur dapat membantu mengkonsolidasikan tidur .
Terapi ini bermanfaat untuk pasien yang berbaring di tempat tidur tanpa bisa
tertidur. Misalnya, bila pasien mengatakan bahwa ia hanya tertidur lima jam dari
delapan jam waktu yang dihabiskannya di tempat tidur, waktu di tempat tidurnya
harus dikurangi. Tidur di siang hari harus dihindari. Lansia dibolehkan tidur
sejenak di siang hari yaitu sekitar 30 menit. Bila efisiensi tidur pasien mencapai
85% (rata-rata setelah lima hari), waktu di tempat tidurnya boleh ditambah 15
menit. Terapi pembatasan tidur, secara berangsur-angsur, dapat mengurangi
frekuensi dan durasi terbangun di malam hari.
2.8.4. Konseling dan Psikoterapi
Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti
(depressi, obsessi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita
dapat membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh
penderita tanpa penggunaan obat hipnotik.
2.8.5. Pendekatan Farmakologi
Pengobatan medikamentosa perlu mempertimbangkan banyak faktor, antara lain
bahwa pasien mungkin pernah mendapatkan resep obat bervariasi, kemungkinan
dapat terjadi interaksi obat yang membahayakan dan pengobatan itu sendiri dapat
menyebabkan gangguan tidur. Perlu dipertimbangkan bahwa pasien lanjut usia
memiliki laju metabolisme dan ekskresi yang kurang efektif, sering mengalami
efek farmakologis yang berkepanjangan (seperti mual, sedasi, gangguan kognitif,
gangguan perilaku, psikomotor, dll). Karena itu dianjurkan penggunaan
medikamentosa dosis rendah, waktu kerja singkat dan secara reguler diamati efek
Gangguan Tidur Pada Lansia

20

samping obat sehingga tidak menimbulkan efek kumulatif yang berbahaya.


Tujuan pengobatan adalah meningkatkan efektivitas tidur malam hari dengan
tetap berfungsi baik di siang hari.
Terapi menggunakan obat dapat diberikan setelah menentukan diagnosis pasien
usia lanjut. Beberapa contoh terapi obat pada pada lansia misalnya, insomnia
jangka pendek (short term) dapat diberikan Triazolam 0,125 0,25 mg atau jenis
benzodiazepin lainnya yang bekerja cepat dan hilang cepat dari tubuh. Sedangkan
untuk insomnia jangka panjang (long term) diberikan neuroleptika dengan dosis
kecil seperti klorpromazin, levomepromazin dan tioridazin. Pada pasien usia
lanjut dengan insomnia dan depresi, diberikan antidepresan jenis tetrasiklik,
serotonin selective receptor inhibitor (SSRI), dan mono amino oxisidase inhibitor
(MAOI), misalnya Maprotiline 10 25 mg, Fluxetine 20 mg pada pagi hari atau
Moclobemide dua kali 150 mg. 5,6
Benzodiazepin paling sering digunakan dan tetap merupakan pilihan utama untuk
mengatasi insomnia baik primer maupun sekunder. Kloralhidrat dapat pula
bermanfaat dan cenderung tidak disalahgunakan. Antihistamin, prekursor protein
seperti l-triptofan yang saat ini tersedia dalam bentuk suplemen juga dapat
digunakan.
Penggunaan jangka panjang obat hipnotik tidak dianjurkan. Obat hipnotik
hendaklah digunakan dalam waktu terbatas atau untuk mengatasi insomnia jangka
pendek.
Dosis harus kecil dan durasi pemberian harus singkat. Benzodiazepin dapat
direkomendasikan untuk dua atau tiga hari dan dapat diulang tidak lebih dari tiga
kali. Penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan masalah tidur atau dapat
menutupi penyakit yang mendasari. Penggunaan benzodiazepin harus hati-hati
pada pasien penyakit paru obstruktif kronik, obesitas, gangguan jantung dengan
hipoventilasi2,11
Benzodiazepin dapat mengganggu ventilasi pada apnea tidur. Efek samping
berupa penurunan kognitif dan terjatuh akibat gangguan koordinasi motorik
sering ditemukan. Oleh karena itu, penggunaan benzodiazepin pada lansia harus
hati-hati dan dosisnya serendah mungkin.
Benzodiazepin dengan waktu paruh pendek (triazolam dan zolpidem) merupakan
obat pilihan untuk membantu orang-orang yang sulit masuk tidur. Sebaliknya,
obat yang waktu paruhnya panjang (estazolam, temazepam, dan lorazepam)
Gangguan Tidur Pada Lansia

21

berguna untuk penderita yang mengalami interupsi tidur. Benzodiazepin yang


kerjanya lebih panjang dapat memperbaiki anksietas di siang hari dan insomnia di
malam hari.
Sebagian obat golongan benzodiazepin dimetabolisme di hepar. Oleh karena itu,
pemberian obat-obat yang menghambat oksidasi sitokrom (seperti simetidin,
estrogen, INH, eritromisin, dan fluoxetine) dapat menyebabkan sedasi berlebihan
di siang hari.
Triazolam tidak menyebabkan gangguan respirasi pada pasien COPD ringansedang yang mengalami insomnia. Neuroleptik dapat digunakan untuk insomnia
sekunder terhadap delirium pada lansia. Dosis rendah-sedang benzodiazepin
seperti lorazepam digunakan untuk memperkuat efek neuroleptik terhadap tidur.
Antidepresan yang bersifat sedatif seperti trazodone dapat diberikan bersamaan
dengan benzodiazepin pada awal malam. Antidepresan kadang-kadang dapat
memperburuk gangguan gerakan terkait tidur (RLS) 2.
Mirtazapine merupakan antidepresan baru golongan noradrenergic and specific
serotonin antidepressant (NaSSA). Ia dapat memperpendek onset tidur, stadium 1
berkurang, dan meningkatkan dalamnya tidur. Latensi REM, total waktu tidur,
kontinuitas tidur, serta efisiensi tidur meningkat pada pemberian mirtazapine.
Obat ini efektif untuk penderita depresi dengan insomnia tidur 12.

DAFTAR PUSTAKA

Gangguan Tidur Pada Lansia

22

1. Departemen Kesehatan RI. Pelayanan Gangguan Jiwa Usia Lanjut (Psikogeriatrik) di


Puskesmas. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik Depkes RI, 2000.
2. Anwar, Z. Penanganan Gangguan tidur pada Lansia. Universitas Muhamadiyah
Malang. 2010.
3. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Gangguan Tidur. Buku ajar psikiatri. Jakarta; EGC.
2010.
4. Japardi, I. Gangguan Tidur. Diunduh dari http://library.usu.ac.id/download/fk/bedahiskandar%20japardi12.pdf pada 27 Oktober 2014.
5. Amir, N. Gangguan Tidur pada Lanjut Usia Diagnosis dan Penatalaksanaan. Dalam
Cermin Dunia Kedokteran No.157. 2007. Di unduh dari
file:///C:/Users/User/Downloads/Gangguan%20Tidur%20pd%20Lansia%20%20CDK%20Kalbe.pdf pada 27 Oktober 2014.
6. Prayitno, A. Gangguan pola tidur pada kelompok usia lanjut dan penatalaksanaannya.
Di unduh dari http://research-report.umm.ac.id/index.php/researchreport/article/viewFile/341/453_umm_research_report_fulltext.pdf pada 27 Oktober
2014.
7. Damping, C.E. Psikiatri Geriatri. Dalam Buku Ajar Psikiatri Edisi 2. FKUI. Jakarta:
2013.

Gangguan Tidur Pada Lansia

23

Anda mungkin juga menyukai