Anda di halaman 1dari 2

Usaha kesehatan pribadi (personal higiene) adalah daya upaya dari seseorang

untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri meliputi:


a. Memelihara kebersihan diri (mandi 2x/hari, cuci tangan sebelum dan sesudah
b.
c.
d.
e.
f.

makan), pakaian, rumah dan lingkungannya (BAB pada tempatnya).


Memakan makanan yang sehat dan bebas dari bibit penyakit.
Cara hidup yang teratur.
Meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jasmani.
Menghindari terjadinya kontak dengan sumber penyakit.
Melengkapi rumah dengan fasilitas-fasilitas yang menjamin hidup sehat

seperti sumber air yang baik, kakus yang sehat.


g. Pemeriksaan kesehatan
Kecacingan sangat terkait erat dengan kondisi lingkungan dan budaya perilaku
sehat masyarakat, khususnya anak-anak, karena pada usia tersebut intensitas
interaksi dengan lingkungan (tanah) semakin besar, sehingga meningkatkan pula
risiko terinfeksi. Di Indonesia penyakit ini dapat berkembang dengan baik karena
didukung dengan kelambaban yang cukup tinggi sehingga perkembangan cacing
dapat berjalan dengan maksimal.
Provinsi sulawesi tenggara sendiri prevalensi penyakit cacingan pada
tahun 2007 sebesar 36,53 %, tahun 2008 sebesar 35,03 %, tahun 2009
sebesar 35,66 % dan tahun 2010 meningkat menjadi 37,12 % dengan
demikian sulawesi tenggara merupakan provinsi dengan prevalensi penyakit
cacingan yang masih cukup tinggi (Dinkes Sultra, 2010).
Penyakit parasitik yang termasuk ke dalam neglected diseases
tersebut merupakan penyakit tersembunyi atau silent diseases dan kurang
terpantau oleh petugas kesehatan. Penyakit kecacingan yang diakibatkan
oleh infeksi Soil Transmitted Helminth merupakan salah satu penyakit yang
masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Infeksi kecacingan ini dapat
mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi, kecerdasan dan
produktivitas penderita sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan

kerugian, karena adanya kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan


darah yang pada akhirnya dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.
Prevalensi infeksi kecacingan di Indonesia masih relatif tinggi pada tahun
2008, yaitu sebesar 32,6 %, terutama pada golongan penduduk yang kurang
mampu dari sisi ekonomi. Kelompok ekonomi lemah ini mempunyai risiko
tinggi terjangkit penyakit kecacingan karena kurang adanya kemampuan
dalam menjaga higiene dan sanitasi lingkungan tempat tinggalnya (Didik
Sumanto, 2010).
Infeksi kecacingan merupakan masalah global di seluruh dunia.
Prevalensinya terutama di negara berkembang relatif masih tinggi, juga di
Indonesia. Infeksi ini terbanyak mengenai anak-anak usia sekolah dasar.
Angka kematian akibat kecacingan kecil, mungkin hal ini yang menyebabkan
masyarakat dan pemerintah kurang menaruh perhatian terhadap penyakit ini.
Infeksi STH menyebabkan fungsi kognitif dan kualitas hidup penderitanya
menurun. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui gejala dan faktor risiko
infeksi kecacingan sehingga dapat dilakukan tindakan yang komprehensif
untuk mencegah dan mengobati infeksi cacing tersebut.