Anda di halaman 1dari 18

PEMASARAN INTERNASIONAL

LINGKUNGAN POLITIK DAN HUKUM

Disusun Oleh :
Dhuhan Alfisyahrin

135030207113034

Putri Pamungkas

135030207113024

Yuyun Nur Faridah

135030207113018

Zaky Donald

135030207113007

ILMU ADMINISTRASI BISNIS


FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

DAFTAR ISI

Cover.

ii

ii

Daftar Isi...

ii

iii

Kata Pengantar..............................................................

iv

BAB I
iv

Pendahuluan..

1.1 Latar Belakang..


1.2 Rumusan Masalah..

1.3 Tujuan Penulisan


BAB II
v

Pembahasan
2.2.1 Kekuatan politik di host country..

2.2.2 Tindakan pemerintah host country..


2.2.3 Iklim dan kekuatan home country.......

2.2.4 Penilaian risiko politik.....

vi

2.2.5 Startegi untuk mengurangi risiko politik.....

2.2.6 Kekuatan hukum internasional........

2.2.7 Meminimalkan masalah yang berkaitan dengan hukum internasional...

11

2.2.8Kecenderungan yang terjadi berdampak terhadap pemasaran internasional

12

BAB III
3.1 Penutup...............................

13

BAB IV
vii 4.1 Daftar Pustaka.

iii

14

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya
makalah Pemasaran Internasional dapat diselesaikan dengan tepat waktu.
Kami mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
proses pemuatan makalah Pemasaran Internasional ini. Kami menyadari dalam Makalah
Pemasaran Internasional ini jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Akhir kata kami
mengharapkan Makalah Pemasaran Internasional ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

iv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Secara umum lingkungan politik dan hukum sangat berbeda dengan lingkungan
geografi, demografi, ekonomi yang menggambarkan potensi dan profit permintaan
pasar, lingkungan

keuangan

yang

menggambarkan

pengaruhnya

terhadap

keunggulan bersaing di pasar internasional serta lingkungan budaya dan social yang
menggambarkan profit permintaan pasar, maka lingkungan politik dan hukum
menggambarkan

potensi

masalah

yang

mungkin

dihadapi

oleh

pemasar

internasional di host country. Keegan (2002: 6) mendefinisikan risiko politik sebagai


risiko dari sebuah peubahan dalam kebijakan pemerintah yang dapat berdampak
merugikan terhadap kemampuan sebuah perusahaan untuk beroperasi secara efektif
dan menguntungkan (the risk of a change in government policy that would
adversely impact a companys ability to operate effectively and profitably).

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian kekuatan politik di host country?
2. Apa saja Tindakan pemerintah host country?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Untuk memahami pengertian kekuatan politik di host country.
2. Untuk memahami tindakan pemerintah host country.

BAB II
PEMBAHASAN
2.2.1

Kekuatan Politik di Host Country

Kekuatan-kekuatan politik di host country terdiri dari iklim politik, pemerintah,


kedaulatan nasioanal, keamanan nasional, kemakmuran nasional, martabat nasional,
identitas budaya dan kelompok-kelompok penekan. Di antara kekuatan-kekuatan
tersebut, tarik-menarik antara pemerintah yang berkuasa dengan kelompok-kelompok
penekan (pressure groups) yang ada di dalam negara tersebutlah yang paling
berperan.keduanya dapat menentukan iklim politik dalam negeri tersebut dan
menggunakan isu-isu yang berkaitan dengan kedaulatan nasional (national sovereignty),
keamanan nasional (national security), kemakmuran national (national prosperity),
martabat nasional (national prestige) maupun identitas budaya bangsa tersebut.
2.2.2

Tindakan Pemerintah Host Country

Kekuatan-kekuatan politik yang telah di sebutkan akan mempengaruhi tindakantindakan pemerintah host country dalam bentuk antara lain:
1. Jaw Boning. Intervensi pemerintah dalam proses bisnis dengan cara tidak resmi
dan kadang-kadang tanpa suatu dasar hukum.
2. Buy Local Restriction. Tindakan pemerintah baik dalam bentuk peraturan
maupun kebijakan yang mendorong penggunaaan produk-produk baik berbentuk
barang ataupun jasa produksi perusahaan-perusahaan lokal. Biasanya alas an
yang mendorong tindakan pemerintah ini berkaitan dengan kemakmuran
nasional.
3. Hambatan-hambatan

nontariff.

Tindakan-tindakan

pemerintah

yang

menghambat masuknya produk-produk impor baik dalam bentuk penetapan


kuota, persyaratan administrasi dan hambatan-hambatan nontariff lainnya. Motif
yang mendasari tindakan pemerintah ini biasanya adalah kemakmuran nasional.
4. Subsidi. Pemberian subsidi di lakukan untuk menjaga kelangsungan hidup
perusahaan-perusahaan asing di pasar dalam negeri ataupun untuk membantu
perusahaan-perusahaan lokal nasional untuk bersaing dalam hal harga di pasar
internasional. Motif yang mendasari tindakan pemerintah ini biasanya adalah

kemakmuran nasional dan bisa juga karena keamanan nasional, kedaulatan


nasional maupun martabat nasional.
5. Kondisi-kondisi Operasional (Operating Conditions). Pemerintah host
country mempunyai suatu pengaruh langsung atas operasi-operasi sebuah anak
perusahaan asing dengan memaksakan kondisi-kondisi tertentu kepada operasi
anak perusahaan tersebut seperti misalnya membatasi jam buka took,
pereiklanan dan distribusi.
6. Kandungan Lokal (Local Content). Banyak pemerintah host country
mengenakan peraturan mengenai kandungan lokal yang mengharuskan
perusahaan-perusahaan internasional menunjukkan bahwa nilai tambah produkproduk perusahaan-perusahaan internasional itu memenuhi ketentuan akan
adanya kandungan lokal ini. Tindakan pemerintah ini ditujukan untuk
mendorong kegiatan-kegiatan nilai tambah lokal (local value-added activities),
dan kekuatan politik utama yang mendasarinya adalah kemakmuran nasional.
7. Boikot. Tindakan pemerintah host country ini terkait erat dengan konflik politik
yang terjadi antara pemerintah host dan home country atau dengan negara2 lain.
Tindakan pemerintah host country ini akan mneyebabkan perusahaan tidak dapat
atau sangat sulit memasarkan produk-produknya di host country tersebut.
8. Pengambilalihan (takeover). Tindakan pemerintah host country ini adalah
tindakan yang paling merugikan di antara tindakan-tindakan yang telah
disebutkan sebelumnya. Pengambilalihan perusahaan asing oleh pemerintah host
country ini bias di sebut dengan ganti rugi.Pengambilalihan tanpa ganti rugi
sama sekali disebut confiscation. Pengambilalihan dengan atau tanpa ganti rugi
di sebut expropriation. Bentuk pengambilalihan lainnya yang lebih halus adalah
domestication, yang membatasi kegiatan-kegiatan ekonomi tertentu kepada
penduduk setempat, seperti misalnya denga cara menjual sebagian saham
perusahaan asing kepada pihak lokal, mempromosikan staf lokal ke jenjang
manajemen yang lebih tinggi atau pembelian bahan baku atau komponenkomponen suku cadang yang di produksi lokal.

2.2.3

Iklim dan Kekuatan Politik Home Country

Selain berlaku di host country, kekuatan-kekuatan politik juga berlaku di home country.
Demikian juga dengan tindakan-tindakan pemerintah home country berkaitan dengan
kekuatan-kekuatan politik yang bekerja di home country. Fokus perhatian kita tertuju
pada tindakan-tindakan pemerintah home country yang berdampak pada pemasaran
produk-produk kita di suatu host country seperti misalnya embargo, subsidi dan
penerbitan daftar negara-negara yang mendapat perlakuan istimewa.
2.2.4

Penilaian Risiko Politik

Berdasarkan pemahaman kita atas tindakan-tindakan pemerintah baik host country


maupun home country yang didorong atau dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik
yang bekerja di negara-negara tersebut dengan memperhatikan faktor-faktor atau
kekuatan-kekuatan hukum internasional, maka kita dapat menilai resiko politik yang
mungkin timbul di host country baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Penilaian
kualitatif dapat dilakukan dengan cara mengikuti perkembangan politik di Negara
tersebut melalui media massa baik elektronik maupun cetak.Sedangkan penilaian
kuantitatif dapat dilakukan dengan membeli laporan hasil monitoring yang dilakukan
secara berkala seperti The Political Risk Country Report dari Frost dan Sullivan, The
Business Environment Risk Index dari Hamer, The Political System Stability Index dari
Haendel, et.al. dan The International Country Risk Guide dari Political Risk Service of
E. Syracuse, New York. Untuk memperoleh gambaran mengenai indikator-indikator
yang di gunakan serta hasil monitoring yang dilakukan, mari kita tinjau sekilas The
International Country Risk Guide yang di terbitkan oleh Political Risk Service of
E.Syracuse setiap bulan dan mencakup peramalan (forecast) dan pemeringkatan (rating)
resiko keuangan dan ekonomi dari 130 Negara seperti yang dikutip oleh Jeannet dan
Hennessey (1998 : 127). Peringkat berkisar antara 100 (resiko minimum) dan 0 (resiko
maksimum).

Indikator

indikator

yang

digunakan

termasuk

harapan

harapan

(expectation) dibandingkan dengan kenyataaan,kegagalan kegagalan perencanaan


ekonomi,

kepemimpinan

politik,

risiko

konflik

eksternal,

korupsi

di

pemerintahan,tradisi tradisi hukum dan ketertiban (law and order traditions) , terorisme
politik dan kualitas birokrasi.Contoh laporan tersebut dapat dilihat pada table 4.1(hanya
sebagian kecil dari keseluruhan 130 negara).
Tabel 4.1
5

Tabel 4.2

2.2.5 STRATEGI UNTUK MENGURANGI RISIKO POLITIK


Jeannet dan Hennessey (1998: 127-33) mengemukakan 6 (enam) pilihan startegi
untuk mengurangi politik yang mungkin dihadapi terutama bila risiko politik di host
country tersebut sangat tinggi. Pilihan - pilihan strategi tersebut adalah :
1. Status yang tidak ternilai (Invaluable Status). Pilihan strategi ini dapat
digunakan oleh perusahaan perusahaan asing yang memiliki sesuatu yang
istimewa atau tidak ternilai seperti misalnya penguasaan teknologi maju/tinggi
yang sedang diperlukan oleh pemerintah host country, produk yang unik
(sebagai produk dari teknologi maju/tinggi yang dikuasainnya) ataupun operasi
perusahaan besar yang menggunakan banyak sekali tenaga kerja setempat
(berkaitan dengan lapangan kerja).

2. Integrasi Vertikal. Jeannet dan Hennessey (1998:132) mengatakan bahwa


pilihan strategi ini dapat digunakan bila perusahaan asing mempunyai jaringan
pabrik pabrik khusus (specialized plants) di berbagai negara dan masing
masing pabrik pabrik tersebut saling terkait dan tergantung satu dengan yang
lainnya, maka risiko politiknya akan lebih baik dibandingkan dengan perusahaan
perusahaan yang terintegrasi dan bebas penuh di setiap negara. Dengan saling
berkaitan dalam proses produksi antara anak anak perusahaan yang terletak
dinegara-negara yang berbeda-beda, maka seandainya pemerintah host country
tempat salah satu anak perusahaannya berada sedangkan anak perusahaan
tersebut tergabung dalam jaringan proses produksi mengambil tindakan yang
dapat merugikan anak perusahaan tersebut dan bahkan melakukan pengambil
alihan (tindakan pemerintah host country yang paling merugikan). Manfaat yang
akan diperoleh pemerintah host country tersebut dari tindakan/keputusan
politik/hukumnya menjadi terbatas.
3. Mencari mitra local. Walaupun pemerintah host country tidak mengharukan
sebuah perusahaan asing bermitra dengan pengusaha atau perusahaan local bila
ingin beroperasi di negara tersebut, namun perusahaan asing tersebut bisa saja
7

mendirikan perusahaan patungan dengan pengusaha atau perusahaan lokal


sebagai uapaya untuk mengamakan operasional perusahaan dan kemungkinan
tindakan pemerintah host country yang mungkin merugikan. Pilihan strategi ini,
dan pilihan pilihan strategi selanjutnya, dapat digunakan oleh perusahaan
perusahaan asing yang tidak mempunyai sesuatu yang istimewa dalam
menghadapi kemungkinan kemungkinan tindakan pemerintah host country
yang dapat merugikannya.
4. Meminjam uang dari lembaga keuangan lokal (local borrowing). Mendanai
operasi lokal dari pinjaman lembaga keuangan lokal (bukan daru anak
perusahaan atau cabang bank atau lembaga keuangan asing yang beroperasi di
host country tersebut) dalam jumlah yang besar dapat mengamankan perusahaan
asing tersebut dari kemungkinan keputusan keputusan yang berani
menghadapi dampak yang mungkin timbul terhadap stabilitas lembaga keuangan
nasionalnya. Pilihan strategi ini tidak dapat diterapkan bila pemerintah host
country menetapkan kebijakan atau peraturan yang melarang perusahaan
perusahaan asing untuk melakukan pinjaman seperti ini.
5. Meminimalkan investasi tetap. Pilihan strategi ini dapat dilakukan dengan cara
pengadaan aset aset tersebut. Menurut penulis, pilihan strategi ini dapat juga
dilakukan melalui pemberian hak lisensi (licensing) atau waralaba (franchising)
kepada pengusaha atau perusahaan lokal.
6. Membeli polis asuransi risiko politik. Pilihan keenam adalah perusahaan
perusahaan internasional (dalam arti luas) membeli polis asuransi untuk
melindungin dari risiko politik mereka disuatu host country.

Salah satu tindakan ekstrem dalam menghadapi risiko politik adalah hengkang dari host
country seperti yang dilakukan Google di Cina, yang dijabarkan dalam Pemasaran
Internasional.

2.2.6 Kekuatan Hukum Internasional


Menurut Jeannet dan Hennessey (1998:134) dalam berbagai hal, kerangka kerja hokum
(legal framework) dari suatu bangsa mereflesikan filosofi atau ideology politik tertentu.
Selanjutnya mereka mengemukakan 4 (empat) system hokum yang ada didunia yaitu
1. Sistem hukum yang lahir di Inggris dan dianut oleh negara negara bekas
jajahan Inggris yang tergabung dalam persemakmuran (commonwealth)-disebut
common low.
2. Sistem hukum yang lahir di daratan eropa yang dianut selain oleh negara- negara
Eropa dan juga Indonesia disebut code atau civil law.
3. Sistem hukum yang dianut negara negara sosialis - disebut sistem hukum
sosialis.
4. Sistem hukum islam yang didasarkan kepada kitab suci Al-Quran yang dianut
oleh negara negara islam.
Ciri ciri common law adalah sebagai berikut :
Hukum tidak ditulis untuk mencakup semua situasi yang dapat diduga dan kasus- kasus
diputuskan berdasarkan tradisi, pratik umum dan penafsiran undang undang.
Sedangkan code law bercirikan mencakup semua aplikasi hukum yang dapat diduga
serta dikembangkan untuk aplikasi komersial, sipil dan kriminal.
Keengan dan Green (2004:161) mendefinisikan hukum internasional sebagai aturan
aturan dan prinsip prinsip dimana pemerintahan berbagai negara mempertimbangkan
mengikat diri mereka sendiri(the rules and principles that nation states consider
binding upon themselves). Selanjutnya mereka mengatakan bahwa hukum internasional
menyinggung mengenai kepemilikan (property), perdagangan (trade), imigrasi dan area
area lain yang secara tradisional terletak pada hak hukum masing masing bangsa.
Keegan dan Green (2004: 162) juga mengadakan bahwa sumber sumber lain dari
hukum internasional modern adalah perjanjian/pakta (treaty), kebiasaan internasional,
keputusan keputusan atas kasus hukum di berbagai negara serta makalah makalah
ilmiah.

Tidak dipungkiri, lingkungan hukum internasional bersifat dinamis dan kompleks. Oleh
karena itu, cara terbaik untuk mengikutinya adalah dengan menggunakan jasa penasihat
hukum yang ahli mengenai hukum internasional ataupun hukum disuatu negara asing
tertentu. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh seorang pemasar internasional yang
cerdik agar terhindar dari konflik konflik yang mungkin timbul dari aspek hukum ini
antara lain mengenai pendirian perusahaan, yurisdiksi (hak hukum atau batas
kekuasaan), paten dan merek dagang, rahasia rahasia dagang, pemberian lisensi
(licensing), antritrust atau antimonopoli, penyogokan, kepailitan, pembuatan perjanjian
tertulis atau kontrak, tanggung jawab produk atau perlindungan konsumen dan
periklanan serta alat alat promosi lainnya.
Keegan dan Green (2005: 164) mengartikan yurisdiksi dalam konteks pemasaran global
sebagai sebuah wewenang yang dimiliki oleh pengadilan untuk mengatur jenis jenis
kontroversi khusus yang timbul diluar batas sebuah negara atau menggunakan
kekuasaan terhadap individu atau lembaga dari negara negara berbeda.

10

2.2.7 Meminimalkan Masalah yang Berkaitan dengan Hukum Internasional


Bradley (1991:185-6) menyarankan beberapa hal untuk mengurangi masalahmasalah yang bisa saja timbul dari aspek hokum internasional (internasional
legal problems) yaitu:
1. Menyadari /memahami hukum komersional di masing-masing
negara ( awareness of commercial law within countries ). Kegiatankegiatan komersial dapat dipengaruhi oleh lingkungan-limgkungan
hukum yang berbeda-beda untuk distribusi, penetapan harga, promosi,
pengembangan dan peluncuran produk serta tanggung jawab produk
(perlindungan konsumen).
2. Unsur-unsur sebuah kontrak internasional yang baik. Sebuah
kontrak atau perjanjian tertulis internasional hendaklah (a) Menggunakan
istilah-istilah kontrak yang tidak terkait dengan sebuah budaya, (b)
Menggunakan unit-unit ukuran yang jelas ( misalnya ounce inggris
berbeda dengan Amerika Serikat), (c) Hindari format kontrak dengan
standar domestic, dan (d) Terdapat provinsi atau klausul mengenai caracara penanganan sebuah perselisihan, jika terjadi.
3. Provinsi untuk arbitrase. Keegan dan Green (2005: 177)
mendefinisikan arbitrase sebagai sebuah proses negosiasi kedua belah
pihak., dengan mengacu pada persetujuan sebelumnya, masing-masing
sepakat untuk menggunakannya.
4. Pengetahuan tentang konvensi-konvensi internasional. Terdapat
sebuah upaya yang disepakati bersama secara global untuk melakukan
standarisasi dan koordinasi peraturan-peraturan yang berkaitan dengan
kepabeanan, lebal, karantina, unit-unit ukuran, dan perpajakan. Perlu
juga dicatat konvensi-konvensi internasional yang melindungi hak-hak
produk industry di pasar-pasar asing.

11

2.2.8

Kecenderungan yang Terjadi yang Berdampak Terhadap

Pemasaran Internasional
Jeannet dan Hennessey (1998: 140-3) mengemukakan 3 kecenderungan yang
terjadi di dunia dalam aspek politik dan hukum :
1. Perdagangan bebas. Perdagangan bebas dapat dikatakan merupakan
dita-cita dari hampir seluruh Negara-negara di dunia seperti tercermin
dalam GATT maupun WTO. Pada saat ini hanya tinggal sedikit sekali
Negara-negara yang menganut perdagangan bebas, seperti Korea Utara.
2. Deregulasi. Kecenderungan ini terjadi berkaitan dengan kecenderungan
pertama yaitu perdagangan bebas dan adanya berbagai kesepakatankesepakatan ataupun tekanan-tekanan dari lembaga-lembaga
internasional seperti misalnya WTO, IMF, World Bank dan sebagainya.
Dengan deregulasi ini berarti campur tangan pemerintah terhadap proses
perdagangan semakin berkurang dan diserahkan pada mekanisme pasar
bebas.
3. Privatisasi perusahaan-perusahaan milik pemerintah.
Kecenderungan ini sama seperti pada deregulasi, dipicu oleh
kesepakatan-kesepakatan maupun tekanan-tekanan dari lembagalembaga internasional seperti WTO, IMF, World Bank, dan lembagalembaga yang terkait. Dengan adanya privatisasi, maka persaingan dalam
perdagangan suatu Negara menjadi lebih sehat.
Kecenderungan-kecenderungan tersebut masih dan sedang terjadi hampir di
seluruh dunia dan berdampak positif terhadap pemasaran internasional
karena meniadakan atau minimal mengurangi hambatan-hambatan dalam
perdagangan internasional secara berarti. Namun di sisi lain, terdapat
kekuatan-kekuatan yang tidak setuju atau minimal mencoba melindungi
kepentingan-kepentingan mereka dari dampak negative globalisasi.

12

BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Kekuatan kekuatan politik di host country terdiri dari iklim politik, pemerintah
kedaulatan nasional, keamanan nasional, kemakmuran nasional, martabat nasional,
identias budaya dan kelompok kelompok peneka.
Tindakan Pemerintah Host Country
Kekuatan-kekuatan politik yang telah di sebutkan akan mempengaruhi tindakantindakan pemerintah host country dalam bentuk antara lain:
Jaw Boning.
Buy Local Restriction.
Hambatan-hambatan nontariff..
Subsidi..
Kondisi-kondisi Operasional (Operating Conditions). Kandungan Lokal (Local
Content)..
Boikot.
Pengambilalihan (takeover).

13

BAB IV
4.1 DAFTAR PUSTAKA
Bradley, F. (1991), International Marketing Strategy, UK : Prentice Hall International.
Feierabend, I.K. dan Feierabend, R.L. (1965) Cross national Data Bank of Political
Instability Events (Code) Index, San Diego : Public Affairs Institute.
Jeannet, J.P. dan Hennessey, H. D. , 1998, Global Marketing Strategies, Boston :
Houghton Mifflin Company.
Keegan, W.J dan Green, M.C (2005) Global Marketing, USA : Pearson Prentice Hall.

14