Anda di halaman 1dari 5

Teknik pembibitan kakao secara

generatif
Teguh Yuono
3,058 klik

Tanaman kakao dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif. Namun secara
umum, pembibitan kakao secara generatif lebih sering dilakukan para petani. Mungkin
karena dirasa lebih praktis.
Perbanyakan generatif adalah teknik memperbanyak tanaman dengan menggunakan
biji. Sedangkan perbanyakan vegetatif biasanya menggunakan setek, okulasi, cangkok
atau kultur jaringan. Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan perbanyakan
generatif dibanding vegetatif.
Teknik generatif lebih praktis karena benih bisa disimpan dalam waktu lama, pengiriman
benih lebih fleksibel dan tanaman berdiri kokoh karena memiliki akar tunjang. Hanya
saja, dengan teknik ini sifat-sifat tanaman belum tentu seragam dan bisa saja berlainan
dengan tanaman induknya.

Ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan dalam pembibitan kakao menggunakan
teknik perbanyakan generatif. Tahapan-tahapan tersebut antara lain penyiapan benih
tanaman, penyiapan tempat pembibitan kakao, penyemaian, penyiapan media tanam,
pemindahan kecambah dan pemeliharaan bibit.

Penyiapan bahan tanam


Hal pertama yang dilakukan dalam pembibitan kakao adalah penyiapan bahan tanam.
Bahan tanam berupa biji dapat diperoleh dari kebun produksi atau dengan pembelian
ke sumber benih terpercaya.
Untuk penyediaan bahan tanam dari kebun produksi, tanaman induk yang akan
digunakan sebagai sumber benih harus memenuhi persyaratan antara lain kondisi
tanaman sehat dan kuat, memiliki produktivitas tinggi, serta berumur antara 12 18
tahun.
Dari tanaman induk tersebut diambil buah yang sudah masak sempurna. Buah yang
sudah masak ditandai dengan perubahan warna menjadi kuning untuk buah yang
kulitnya hijau atau menjadi jingga untuk buah yang kulitnya merah.
Buah-buah tersebut kemudian dipecah dan diambil bijinya. Biji yang digunakan sebagai
benih terletak pada bagian poros atau tengah-tengah buah. Dalam satu buah umumnya
hanya digunakan 20-25 biji saja.
Biji-biji tersebut kemudian dibersihkan dari lendir (pulp) yang menempel. Caranya,
campurkan serbuk gergaji atau abu gosok pada biji yang berlendir. Kemudian remasremas dengan tangan. Setelah itu biji dicuci menggunakan air mengalir untuk kemudian
diangin-anginkan hingga kering selama 1 hari. Setelah kering biji siap untuk
dikecambahkan.
Bila kita tidak memiliki sumber tanaman untuk pembibitan kakao, benih bisa didapatkan
dengan membeli. Kami menganjurkan untuk membeli benih di Pusat Penelitian Kopi
dan Kakao, di Jember. Bisa dipesan secara online. Satu butir benih kakao di sana dijual
seharga 500 750 rupiah tergantung jenis klonnya.

Penyiapan tempat pembibitan kakao

Setelah bahan tanam atau benih siap, langkah selanjutnya dalam tahapan pembibitan
kakao adalah penyiapan bedengan dan naungan. Bedengan dan naungan sebaiknya
dibuat di tempat yang memenuhi syarat tempat pembibitan yang baik yakni dekat
dengan sumber air, tempatnya datar dan rata, dekat dari jangkauan, dan aman dari
berbagai gangguan.

Bedengan persemaian dibuat dengan ukuran lebar 1,2 meter dan panjang maksimal 10
meter dengan arah membujur utara-selatan. Tanah untuk bedengan tersebut kemudian
dibersihkan dari gulma dan sisa-sisa perakaran. Tanah dicangkul sedalam 30 cm untuk
kemudian digemburkan, dihaluskan, dan diratakan.
Pada lapisan tanah yang sudah rata itu kemudian ditambahkan pasir setebal 5 cm.
Penggunaan pasir dimaksudkan agar akar kecambah kakao lebih mudah dicabut saat
pemindahan ke polibag. Agar pasir tidak longsor, tepi bedengan harus diberi dinding
penahan berupa papan kayu, bambu, atau batu bata.
Bedengan dilengkapi dengan naungan untuk menghidarkan semaian dari teriknya sinar
matahari atau tetesan air hujan secara langsung. Naungan dibuat dari daun kelapa,
daun tebu, atau dari anyaman daun alang-alang. Naungan dibuat dengan tinggi tiang
sebelah timur 1,5 meter dan di sebelah barat 1,2 meter.

Penyemaian benih
Setelah benih dan bedengan persemaian siap, tahapan pembibitan selanjutnya adalah
melakukan penyemaian benih. Benih-benih kakao yang akan disemai terlebih dahulu
direndam dalam larutan formalin 2,5% selama 10 menit agar jamur tidak tumbuh.
Benih kemudian diletakkan di lapisan pasir dengan posisi bagian yang rata menghadap
ke bawah. Benih ditekan ke dalam lapisan pasir sehingga kira-kira sepertiga bagian
benih terbenam dalam media pasir. Benih disemai secara berjajar dengan jarak 2,5 x 5
cm.
Setelah benih selesai disemai, bedengan kemudian disiram dengan air untuk kemudian
ditutup dengan daun alang-alang kering yang sudah dicelupkan ke dalam larutan
fungisida. Semaian benih disiram setiap bagi dan sore dan setelah 4-5 hari di
persemaian, benih kakao akan mulai berkecambah dan harus segera dipindahkan ke
pembibitan polibag.

Penyiapan media tanam


Setelah benih kakao berkecambah, benih harus segera dipindahkan ke polibag. Polibag
yang digunakan adalah polibag yang berukuran 20 cm x 30 cm dengan tebal 0,08 mm.
Polibag ini kemudian diisi dengan media tanam berupa campuran tanah top soil, pupuk
kandang, dan pasir yang telah diayak dengan perbandingan 2:1:1. Pengisian media
tanam dilakukan hingga 1-2 cm dari tepi batas atas polibag.
Polibag-polibag yang sudah terisi media tanam kemudian disusun di bawah naungan
yang sudah disiapkan. Naungan pembibitan polibag serupa dengan naungan

persemaian. Polibag disusun dengan pola segitiga sama sisi dengan jarak 60 x 60 x 60
cm. Polibag yang sudah tersusun rapi kemudian disiram air hingga jenuh.

Pemindahan kecambah
Setelah 4-5 hari di persemaian, benih-benih kakao sudah mulai berkecambah. Benihbenih ini harus segera dipindahkan ke polibag yang sudah disiapkan. Dalam kegiatan
ini, seleksi terhadap kecambah perlu dilakukan untuk mendapatkan bibit yang
berkualitas. Kecambah-kecambah yang akarnya bengkok, pertumbuhannya lambat, dan
kecambah yang sudah tumbuh lebih dari 14 hari harus dipisahkan.
Pemindahan kecambah dilakukan dengan hati-hati agar akar tunggang tidak putus.
Pengambilan kecambah dilakukan menggunakan bantuan solet bambu. Kecambah
yang telah diambil kemudian ditanam dalam media tanam di polibag yang sudah
dilubangi sedalam jari telunjuk. Akar tunggang kecambah sebisa mungkin diusahakan
agar dapat berdiri lurus dalam lubang tersebut. Selanjutnya lubang ditutup dengan
media untuk kemudian dibiarkan hingga dapat beradaptasi dengan lingkungannya yang
baru.

Pemeliharaan bibit
Bibit kakao dalam polibag harus dipelihara dengan baik agar tumbuh kuat dan sehat.
Kegiatan pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama
penyakit.
Penyiraman mutlak perlu dilakukan agar bibit tidak mengalami kekeringan. Saat musim
kemarau, penyiraman dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari, sedangkan saat
musim hujan penyiraman disesuaikan dengan keadaan media tanam dalam polibag.
Pemupukan pada bibit kakao dilakukan setiap 14 hari sekali sampai bibit berumur 3
bulan. Pemupukan dilakukan dengan pupuk urea yang telah dilarutkan dalam air.
Larutan pupuk urea dibuat dengan konsentrasi 1%, ini berarti dalam 1 liter larutan
terkandung pupuk urea sebanyak 10 gram.Setiap bibit disiram larutan pupuk hingga 100
ml. Setelah penyiraman pupuk, bibit perlu disiram kembali menggunakan air bersih agar
larutan pupuk urea yang menempel pada bagian tanaman luruh.
Pengendalian hama penyakit pada pembibitan kakao dilakukan tergantung pada kondisi
serangan. Jika hama dan penyakit seperti kutu putih, aphis, kumbang kecil, atau
cendawan pembusuk menyerang bibit, pengendalian dapat dilakukan dengan aplikasi
insektisida sesuai dosis.

Setelah 3 bulan, bibit kakao telah memiliki minimal 18-24 helai daun, diameter batang
sekitar 8 mm, dan tinggi 50 60 cm. Bibit ini pun sudah siap untuk ditanam di lapangan
atau bisa pula diokulasi dan disambung untuk memperbaiki kualitas bibit kakao yang
dihasilkan.

Referensi
1.

Elna Karmawati, dkk. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Perkebunan

2.

Hatta Sunanto. 1994. Cokelat, Pengolahan Hasil dan Aspek Ekonominya.


Kanisius.

3.

Rijadi Subiantoro. 2009. Teknik Pembibitan Tanaman Kakao. Politeknik Negeri


Lampung.

Anda mungkin juga menyukai