Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Asam Mefenamat


2.1.1 Tinjauan Umum
Rumus bangun :

Rumus molekul : C15H15NO2


Nama kimia

: Asam N-2,3-xililantranilat [61-68-7]

Berat molekul

: 241,29

Pemerian

: Serbuk hablur, putih atau hampir putih; melebur pada suhu


lebih kurang 230o disertai peruraian.

Kelarutan

: Larut dalam larutan alkali hidroksida; agak sukar larut dalam


kloroform; sukar larut dalam etanol dan dalam metanol; praktis
tidak larut dalam air.
(Ditjen POM, 1995)

2.1.2 Farmakologi
Obat ini merupakan salah satu AINS yang mempunyai efek analgetikantipiretik. Efek analgetik zat ini dapat dimanfaatkan pada nyeri akut atau kronik
yang bersifat sedang, nyeri kepala dengan berbagai sebab, nyeri otot dan nyeri

Universitas Sumatera Utara

trauma. Waktu paruh dalam plasma 2 sampai 4 jam. Absorpsi berlangsung di usus;
terikat 99% pada protein plasma ( Clarkes, 2004 ).
2.1.3 Efek Samping, Indikasi dan Sediaan
Indikasi zat ini ialah berbagai penyakit reumatik. Asam mefenamat dapat
menyebabkan iritasi lambung, kolik usus, dan diare. Gejala yang mungkin
berdasarkan kepekaan ialah eksantema makulopapulosa dan leukopenia. Zat ini tidak
boleh digunakan jika ada tukak lambung atau tukak usus, diare, kehamilan maupun
asma. Asam mefenamat tersedia dalam bentuk kapsul 250 mg dan kaplet 500 mg
(Zubaidi dkk., 1981 ).
2.2 Uraian Tumbuhan
2.2.1 Sistematika Tumbuhan
Sistematika dari kentang adalah sebagai berikut :
Kingdom

Plantae

Subkingdom

Tracheobionta

Divisi

Magnoliophyta

Kelas

Magnoliopsida

Sub Kelas

Asteridae

Ordo

Solanales

Famili

Solanaceae

Genus

Solanum

Spesies

Solanum tuberosum L.

2.2.2 Kandungan Kimia

Universitas Sumatera Utara

Kandungan kimia dari kentang ( Solanum tuberosum L.) antara lain :


karbohidrat 19 g, pati 15 g, serat pangan 2,2 g, lemak 0,1 g, protein 2 g, air 75 g.
2.3 Pati dan Sifat Sifat Pati
Pati adalah sumber karbohidrat yang dihasilkan tumbuh tumbuhan untuk
persediaan makanan yang dijumpai didalam biji (beras), umbi (kentang, ubi jalar),
dan batang (sagu). Pati merupakan butir atau granul yang berwarna putih mengkilat,
tidak berbau dan tidak berasa. Butiran pati yang mempunyai bentuk dan ukuran yang
beraneka ragam, tetapi pada umumnya berbentuk bola atau elips. Pati kentang
mengandung kadar pati sekitar 79,60% , kadar air 19,22% material Nitrogen 0,69%
dan 0,33% ( Bailliere, Tindal and Cox, 1952 ).
Pati biasanya berbentuk massa angular tidak beraturan atau bubuk putih. Tidak
larut dalam air dingin maupun membentuk larutan koloid jika dipanaskan dengan air
sejumlah sekitar 15 kali bobotnya. Larutan ini akan membentuk semacam jeli
transparan jika didinginkan. Musilago pati berwarna biru gelap pada perlakuan
dengan iodin, warna akan hilang pada pemanasan hingga 93oC tetapi muncul kembali
setelah dingin. Jika pati dipanaskan dengan air pertama tama butirannya akan
mengembang dan kemudian membentuk gelatin ( Bailliere, Tindal and Cox, 1952 ).
Pada dasarnya pati merupakan polimer glukosa dengan ikatan ( 1,4 ) glukosa.
Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi yang tidak
larut dalam air disebut amilopektin dan fraksi yang dapat larut dalam air disebut
amilosa (Leach, 1965).
Butiran pati terdiri dari bagian amorf dan bagian kristal. Bagian kristal terjadi
apabila gugus OH pada unit glukosa daripada amilosa atau amilopektin satu dengan

Universitas Sumatera Utara

yang lainnya berikatan dengan ikatan hidrogen. Bagian kristal ini yang
mengakibatkan pati tidak larut dalam air (Colison, 1968).
2.4 Sediaan Tablet
2.4.1 Uraian Tablet
Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan
pengisi. Sebagian besar tablet dibuat dengan cara pengempaan dan merupakan bentuk
sediaan yang paling banyak digunakan. Tablet kempa dibuat dengan memberikan
tekanan tinggi pada serbuk atau granul menggunakan cetakan baja (Ditjen POM,
1995).
Tablet dicetak dari serbuk kering, kristal atau granulat, umumnya dengan
penambahan bahan pembantu, pada mesin yang sesuai, dengan menggunakan tekanan
tinggi. Tablet dapat memiliki bentuk silinder, kubus, batang, atau cakram, serta
bentuk seperti telur atau peluru. Garis tengah tablet pada umumnya 5-17 mm,
sedangkan bobot tablet 0,1-1 g (Voigt, 1995).
2.4.2 Metode Pembuatan Tablet
Tablet dibuat dengan 3 cara umum, yaitu granulasi basah, granulasi kering
(mesin rol atau mesin slag) dan kempa langsung. Tujuan granulasi basah dan kering
adalah untuk meningkatkan aliran campuran dan atau kemampuan kempa (Ditjen
POM, 1995).
Butiran granulat yang diperoleh, partikel-partikelnya mempunyai daya lekat.
Daya alirnya menjadi lebih baik sehingga pengisian ruang cetak dapat berlangsung
secara kontiniu dan homogen. Keseragaman bentuk granulat menyebabkan
keseragaman bentuk tablet (Voigt, 1995).

Universitas Sumatera Utara

a. Granulasi basah
Zat berkhasiat, pengisi dan penghancur dicampur homogen, lalu dibasahi
dengan larutan pengikat, bila perlu ditambahkan pewarna. Diayak menjadi granul dan
dikeringkan dalam lemari pengering pada suhu 40-50C. Setelah kering diayak lagi
untuk memperoleh granul dengan ukuran yang diperlukan dan ditambahkan bahan
pelicin dan dicetak dengan mesin tablet (Anief, 1994).
b. Granulasi kering
Metode ini digunakan pada keadaan dosis efektif terlalu tinggi untuk
pencetakan langsung, obatnya peka terhadap pemanasan, kelembaban, atau keduanya
(Lachman, dkk, 1994).
Setelah penimbangan dan pencampuran bahan, serbuk di slugged atau
dikompresi menjadi tablet yang lebar dan datar dengan garis tengah sekitar 1 inci.
Kempaan harus cukup keras agar ketika dipecahkan tidak menimbulkan serbuk yang
berceceran. Tablet kempaan ini dipecahkan dengan tangan atau alat dan diayak
dengan lubang yang diinginkan, pelicin ditambahkan dan tablet dikempa (Ansel,
1989).
c. Kompresi Langsung
Beberapa bahan obat seperti kalium klorida, kalium iodida, amonium klorida,
dan metenamin bersifat mudah mengalir, sifat kohesifnya juga memungkinkan untuk
langsung dikompresi tanpa memerlukan granulasi (Ansel, 1989).
2.4.3 Komposisi Tablet

Universitas Sumatera Utara

Tablet oral umumnya di samping zat aktif mengandung, pengisi, pengikat,


penghancur, dan pelincir. Tablet tertentu mungkin memerlukan pemacu aliran, zat
warna, zat perasa, dan pemanis (Lachman, dkk, 1994).
Komposisi umum dari tablet adalah zat berkhasiat, bahan pengisi, bahan
pengikat atau perekat, bahan pengembang dan bahan pelicin. Kadang-kadang dapat
ditambahkan bahan pewangi (flavoring agent), bahan pewarna (coloring agent) dan
bahan-bahan lainnya (Ansel, 1989).
a. Pengisi
Digunakan agar tablet memiliki ukuran dan massa yang dibutuhkan. Sifatnya
harus netral secara kimia dan fisiologis, selain itu juga dapat dicernakan dengan baik
(Voigt, 1995). Bahan-bahan pengisi yaitu : laktosa, sukrosa, manitol, sorbitol,
amilum, bolus alba, kalsium sulfat, natrium sulfat, natrium klorida, magnesium
karbonat (Soekemi, dkk, 1987).
b. Pengikat
Untuk memberikan kekompakan dan daya tahan tablet, juga untuk menjamin
penyatuan beberapa partikel serbuk dalam butir granulat (Voigt, 1995). Pengikat yang
umum digunakan yaitu: amilum, gelatin, glukosa, gom arab, natrium alginat, cmc,
polivinilpirolidon, dan veegum (Soekemi, dkk, 1987).
c. Penghancur
Untuk memudahkan pecahnya tablet ketika berkontak dengan cairan saluran
pencernaan dan mempermudah absorpsi (Lachman, dkk, 1994). Bahan yang
digunakan sebagai pengembang yaitu: amilum, gom, derivat selulosa, alginat, dan
clays (Soekemi, dkk, 1987).

Universitas Sumatera Utara

d. Pelicin
Ditambahkan untuk meningkatkan daya alir granul-granul pada corong
pengisi, mencegah melekatnya massa pada punch dan die, mengurangi pergesekan
antara butir-butir granul, dan mempermudah pengeluaran tablet dari die. Bahan
pelicin yaitu : metalik stearat, talk, asam stearat, senyawa lilin dengan titik lebur
tinggi, amilum maydis (Soekemi, dkk, 1987).
2.4.4 Uji Preformulasi
Sebelum dicetak menjadi tablet, massa granul perlu diperiksa apakah
memenuhi syarat untuk dapat dicetak. Preformulasi ini menggambarkan sifat massa
sewaktu pencetakan tablet, meliputi waktu alir, sudut diam dan indeks tap.
Pengujian waktu alir dilakukan dengan mengalirkan massa granul melalui
corong. Waktu yang diperlukan tidak lebih dari 10 detik, jika tidak maka akan
dijumpai kesulitan dalam hal keseragaman bobot tablet. Hal ini dapat diatasi dengan
penambahan bahan pelicin (Cartensen, 1977) .
Pengukuran sudut diam digunakan metode corong tegak, granul dibiarkan
mengalir bebas dari corong ke atas dasar. Serbuk akan membentuk kerucut, kemudian
sudut kemiringannya diukur. Semakin datar kerucut yang dihasilkan, semakin kecil
sudut diam, semakin baik aliran granul tersebut (Voigt, 1995).
Indeks tap adalah uji yang mengamati penurunan volume sejumlah serbuk
atau granul akibat adanya gaya hentakan. Indeks tap dilakukan dengan alat
volumenometer yang terdiri dari gelas ukur yang dapat bergerak secara teratur keatas
dan kebawah. Serbuk atau granul yang baik mempunyai indeks tap kurang dari 20%
(Cartensen, 1977).

Universitas Sumatera Utara

2.4.5 Evaluasi Tablet


a. Kekerasan tablet
Ketahanan tablet terhadap goncangan saat pengangkutan, pengemasan dan
peredaran bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan yang lebih tinggi
menghasilkan tablet yang bagus, tidak rapuh tetapi ini mengakibatkan berkurangnya
porositas dari tablet sehingga sukar dimasuki cairan yang mengakibatkan lamanya
waktu hancur. Kekerasan dinyatakan dalam kg tenaga yang dibutuhkan untuk
memecahkan tablet. Kekerasan untuk tablet secara umum yaitu 4-8 kg, tablet hisap
10-20 kg, tablet kunyah 3 kg (Soekemi, dkk, 1987). Kekerasan tablet dipengaruhi
oleh perbedaan massa granul yang mengisi die pada saat pencetakan tablet dan
tekanan kompressi. Selain itu, berbedanya nilai kekerasan juga dapat diakibatkan oleh
variasi jenis dan jumlah bahan tambahan yang digunakan pada formulasi. Bahan
pengikat adalah contoh bahan tambahan yang bisa menyebabkan meningkatnya
kekerasan tablet bila digunakan terlalu pekat (Lachman, dkk, 1994).
b. Friabilitas
Tablet mengalami capping atau hancur akibat adanya goncangan dan gesekan,
selain itu juga dapat menimbulkan variasi pada berat dan keseragaman isi tablet.
Pengujian dilakukan pada kecepatan 25 rpm, menjatuhkan tablet sejauh 6 inci pada
setiap putaran, dijalankan sebanyak 100 putaran. Kehilangan berat yang dibenarkan
yaitu lebih kecil dari 0,5 sampai 1% (Lachman, dkk, 1994). Kerenyahan tablet dapat
dipengaruhi oleh kandungan air dari granul dan produk akhir. Granul yang sangat
kering dan hanya mengandung sedikit sekali persentase kelembapan, sering sekali

Universitas Sumatera Utara

menghasilkan tablet yang renyah daripada granul yang kadar kelembapannya 2


sampai 4% (Lachman, dkk, 1994).
c. Waktu hancur
Waktu hancur yaitu waktu yang dibutuhkan tablet pecah menjadi partikelpartikel kecil atau granul sebelum larut dan diabsorpsi. Menyatakan waktu yang
diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan dan lewatnya
seluruh partikel melalui saringan mesh-10 (Lachman, dkk, 1994). Hancurnya tablet
tidak berarti sempurna larutnya bahan obat dalam tablet. Tablet memenuhi syarat jika
waktu hancur tablet tidak lebih dari 15 menit (Soekemi, dkk, 1987). Kebanyakan
bahan pelicin bersifat hidrofob, bahan pelicin yang berlebihan akan memperlambat
waktu hancur. Tablet dengan rongga-rongga yang besar akan mudah dimasuki air
sehingga hancur lebih cepat daripada tablet yang keras dengan rongga-rongga yang
kecil (Soekemi, dkk, 1987).
d. Kadar zat berkhasiat
Untuk mengevaluasi kemanjuran suatu tablet, jumlah obat dalam tablet harus
dipantau pada setiap tablet atau batch, begitu juga kemampuan tablet untuk
melepaskan zat atau obat yang dibutuhkan harus diketahui (Lachman, dkk, 1994).
Persyaratan kadar berbeda-beda, dan tertera pada masing-masing monografi masingmasing bahan obat.
e. Keseragaman sediaan
Dapat ditentukan dengan salah satu dari dua metode :
-

Keseragaman bobot dilakukan terhadap tablet yang 50% bahan aktifnya lebih
besar atau sama dengan 50 mg.

Universitas Sumatera Utara

Keseragaman kandungan dilakukan terhadap tablet yang 50% bahan aktifnya


kurang dari 50 mg (Ditjen POM,1995).

f. Disolusi
Yaitu larutnya obat dalam cairan pencernaan yang berhubungan langsung
dengan efikasi (kemanjuran) dari tablet dan perbedaan bioavailabilitas dari
berbagai formula (Lachman, dkk, 1994). Disolusi adalah suatu proses larutnya zat
aktif dari suatu sediaan dalam medium. Hal ini berlaku untuk obat-obat yang
diberikan secara oral dalam bentuk padat seperti tablet, kapsul, atau suspensi. Agar
suatu obat dapat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam cairan pada
tempat absorbsi. Suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau
kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat tersebut larut dalam
cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus (Ansel, 1989). Cara
pengujian disolusi tablet dan kapsul, juga persyaratan yang harus dipenuhi
dinyatakan dalam masing-masing monografi obat. Yang diukur adalah jumlah zat
berkhasiat yang larut dalam satu satuan waktu dengan alat dissolution tester
(Soekemi, dkk, 1987).
2.5 Spektrofotometri Ultraviolet
Spektrofotometri ultraviolet digunakan untuk analisa kualitatif ataupun
kuantitatif suatu senyawa. Absorpsi cahaya ultraviolet maupun cahaya tampak
mengakibatkan traansisi elektron, yaitu perubahan elektron-elektron dari orbital dasar
berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi. Penyerapan
radiasi ultraviolet atau sinar tampak tergantung pada mudahnya transisi elektron.
Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk transisi elektron, akan

Universitas Sumatera Utara

menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul-molekul yang


memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap panjang gelombang lebih panjang
(Fessenden dan Fessenden, 1992).
Sinar ultraviolet dan sinar tampak memberikan energi yang cukup untuk
terjadinya transisi elektronik. Dengan demikian spektra ultraviolet dan spektra
tampak dapat dikatakan sebagai spectra elektronik. Keadaan energi yang paling
rendah disebut keadaan dasar (ground state). Transisi-transisi elektronik akan
meningkatkan energi molekular dari keadaan dasar ke satu atau lebih dari tingkat
energi tereksitasi (Ganjar dan Rohman, 2007).

Universitas Sumatera Utara