Anda di halaman 1dari 17

Penanganan Insomnia Pada Lansia

Jeffry Rulyanto M. S
102011414
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida
Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510, Tlp : 5666952
E-mail : jeahfoolee@gmail.com

Pendahuluan
Insomnia adalah salah satu bentuk dari gangguan tidur. Gangguan tidur seringkali
menjadi keluhan pasien baik oleh karena gangguan fisik maupun oleh karena
masalah emosional. Insomnia adalah kesulitan untuk mulai masuk tidur, atau
mempertahankan tetap tidur atau sulit tidur kembali apabila terbangun. Ianya
dianggap sebagai masalah yang bermakna dan kronis oleh 10% pasien rawat jalan.
Gangguan tidur berkaitan dengan angka kesakitan (fisik) , fungsi sehari-hari,
kecelakaan bahkan kematian oleh kecelakaan lalu lintas. Banyak dana yang
dihabiskan untuk gangguan yang berhubungan atau akibat dari gangguan tidur.
Secara umumnya diketahui kebutuhan tidur normal antara 6-9 jam sehari. Tetapi
dalam kenyataan ada orang dengan kebutuhan tidur yang singkat misalnya kurang
dari 6 jam sehari (short sleepers), sebaliknya ada orang dengan kebutuhan tidur
yang lebih lama yaitu lebih dari 9 jam (long sleepers). Kita bisa menilai kecukupan
masa tidur itu dari kebugaran pada waktu bangun pagi segar secara fisik. Bila benarbenar kurang tidur maka pada siang hari akan kelihatan mengantuk, lelah, gangguan
konsentrasi dan juga mudah tersinggung (moody).Tujuan pembuatan makalah ini
adalah untuk menjelaskan tentang sasaran-sasaran belajar melalui kasus yang telah
didiskusikan bersama ahli kelompok yang lain sewaktu PBL. Antara sasaran
pembelajaran yang dipelajari ialah anamnesa, pemeriksaan, diagnosis, etiologi,
epidemologi, patofisiologi, faktor resiko, manifestasi klinis, prognosis, komplikasi,
penatalaksanaan dan pencegahan daripada kasus yang didapat.

Pembahasan
Anamnesis
Insomnia bukan suatu penyakit, dan tidak ada tes yang dapat mendiagnosanya.
Tetapi ketika seseorang tidak dapat tidur dengan baik, sering kali ada terkait dengan
beberapa penyebab lain. Yang akan ditanyakan meliputi :

Alasan berobat

Riwayat gangguan sekarang

Riwayat gangguan dahulu

Riwayat perkembangan diri

lain

Latar belakang sosial, keluarga, pendidikan pekerjaan, perkahwinan, dan lain-

Riwayat kesehatan:

Masalah kesehatan yang baru atau sedang berlangsung

Apakah terdapat luka yang menyakitkan atau masalah kesehatan, seperti


arthritis

Pengambilan obat-obatan, alcohol dan konsumsi makanan

Apakah terdapat gejala atau riwayat depresi, kerisauan, atau psikosis

Apakah sedang mengatasi situasi yang sangat stres, seperti perceraian atau
kematian

Status pekerjaan dan aktivitas harian

Apakah pernah berpergian jauh

Masalah peribadi

Riawayat keluarga yang turt mengalammi insomnia

Sejarah Tidur
Detail tentang kebiasaan tidur akan memberikan pengertian yang lebih baik tentang
masalah tidur. Untuk itu,sebelum bertemu dokter pasien perlu memikirkan tentang
bagaimana untuk menjelaskan masalah-masalah termasuk:

Seberapa sering dan lama telah mengalami kesulitan tidur.

Waktu tidur dan waktu bangun pada hari kerja dan hari libur

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk tertidur, seberapa sering terbangun
di malam hari, dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk tidur kembali

Apakah sering mendengkur keras atau bangun terengah-engah atau merasa


kehabisan napas

Adakah berasa segar ketika bangun dari tidur, dan adakah merasa lelah di
siang hari

Seberapa sering Anda tertidur atau mengalami masalah untuk tetap terjaga
selama melakukan tugas-tugas rutin, terutama mengemudi

Untuk mengetahui apa yang menyebabkan atau yang memperburuk insomnia,


dokter juga mungkin akan bertanya:

Apakah terjadi kekhawatiran jika tertidur, tidak bisa tidur, atau cukup tidur

Apa yang anda makan atau minum, adakah menkonsumsi obat sebelum tidur

Apa rutin kebiasaan sebelum tidur

Suasana persekitaran saat tidur. Tahap kebisingan, pencahayaan, dan suhu

Adakah terdapat gangguan, misalnya TV atau komputer

Pemeriksaan
1.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan bertujuan untuk menyingkirkan masalah-masalah medis


lainnya yang mungkin menyebabkan insomnia. Anda juga mungkin perlu melakukan
tes darah untuk memeriksa jika adanya masalah tiroid atau kondisi lain yang dapat
menyebabkan masalah tidur.1,3

2.

Status mental

Deskripsi umum tentang:

Penampilan

Deskripsikan apa yang nampak: sikap, cara berpakaian, dandanan, postur tubuh,
rambut, jenggot, kumis, kebersihan diri, tampak lebih tua atau muda atau sesuai
umurnya.

Kesadaran

Adakah terlihat terganggu, atau tidak tampak terganggu.

Perilaku dan aktivitas psikomotor

Dinilai selama sebelum,semasa dan sesudah wawancara.

Sikap terhadap pemeriksa

Menilai sikapnya adakah: kooperatif, indeferen, apatis, curiga,


bermusuhan, pasif, aktif, ambivalen, tegang, seduktif, dan lain-lain.

antisosial,

Kualitas bicara

Menilai cara berbicara dan adakah terdapat gangguan bicara.


6. Studi tidur
Studi mengenai tidur yang umum dilakukan adalah:

Polysomnogram: Pada tes ini, beberapa fungsi badan semasa tidur direkam,
termasuk aktivitas otak, pergerakan bola mata, tingkat oksigen dan karbon dioksida
darah, denyut dan ritma jantung, kadar pernafasan, perjalanan udara melalui mulut
dan hidung, dengkuran, pergerakan otot-otot tubuh.

Multiple sleep latency test (MSLT): Mengukur seberapa lama masa yang
diperlukan bagi seseorang itu tdur. Tes ini menggunakan kamera untuk merakam
pergerakan saat tdur.

Multiple wake test (MWT): Tes ini mengukur samada seseorang bisa bertahan
untuk tidak tidur pada masa yang normalnya mereka tidur.4

Diagnosis
Insomnia

Diagnosis pasti mencakup hal-hal:

a.
Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau
kualitas tidur yang buruk
b.

Gangguan terjadi minmal 3 kali dalam seminggu selama minimal satu bulan

c.
Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur(sleeplessness) dan peduli yang
berlebihan terhadap akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari
d.
Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan
penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan

Adanya gejala gangguan jiwa lain seperti depresi, anxietas, atau obsesi tidak
diabaikan. Semua ko-morbiditas harus dicantumkan karena membutuhkan terapi
tersendiri.

Kriteria lama tidur (kuantitas) tidak digunakan untuk menentukan adanya


gangguan , oleh karena luasnya variasi individual.

Tidur dan ritme sirkadian Disorder


Definisi :
Menggambarkan ritme sirkadian sekitar 24-jam siklus yang dihasilkan oleh suatu
organisme. Kebanyakan sistem fisiologis menunjukkan variasi sirkadian. Sistem
dengan variasi yang paling menonjol adalah siklus tidur-bangun, suhu, dan sistem
endokrin. Gangguan ritme sirkadian merupakan sekelompok gangguan tidur yang
melibatkan kelainan dalam waktu dari siklus tidur-bangun. Kelainan ini dapat
dikategorikan menjadi 2 kelompok utama: gangguan sementara (misalnya, jet lag;
mengubah jadwal tidur karena bekerja, tanggung jawab sosial, penyakit) dan
gangguan kronis. Kronis yang paling umum gangguan tidur ditunda-fase sindrom
(DSPS), lanjutan fase tidur-sindrom (ASPS), dan tidak teratur siklus tidur-bangun.6
Etiologi :
Fase tidur yang tertunda ritme sirkadian jenis gangguan tidur ditandai dengan
keterlambatan siklus tidur-bangun yang berhubungan dengan tuntutan masyarakat.
Hal ini sering disebabkan oleh stressor psikososial (peristiwa di lingkungan
seseorang yang menyebabkan stres atau ketidaknyamanan), terutama bagi remaja.
Yang tertunda siklus tidur-bangun mengarah pada kurang tidur kronis dan biasanya

terlambat tidur jam. Individu dengan tipe ini sering mengalami kesulitan mengubah
pola tidur mereka untuk suatu lebih awal dan lebih dapat diterima secara sosial
waktu. Sebenarnya mereka tidur, setelah dimulai, adalah normal. Ini adalah waktu
tidur dan bangun mereka itu terus-menerus tertunda.
Jet lag ritme sirkadian jenis gangguan tidur yang dicirikan oleh gangguan yang
timbul dari ketidaksesuaian antara seseorang sirkadian siklus dan siklus yang
dibutuhkan oleh zona waktu yang berbeda, Semakin banyak zona waktu yang
bepergian, semakin besar gangguan. Orang-orang yang sering bepergian dan lintas
banyak zona waktu ketika mereka melakukan perjalanan yang paling rentan
terhadap jenis ini.
Pergeseran jenis pekerjaan dari gangguan tidur ritme sirkadian dibedakan dengan
gangguan karena konflik antara seseorang siklus sirkadian endogen dan siklus
yang dibutuhkan oleh kerja shift. Individu yang bekerja shift malam sering
mengalami masalah ini, terutama orang-orang yang beralih ke jadwal tidur normal
pada hari libur. Orang-orang yang bekerja shift berputar pengalaman masalah ini
karena perubahan jadwal tidur-bangun mereka alami. Gangguan yang disebabkan
oleh kerja shift mengakibatkan jadwal sirkadian tidak konsisten dan
ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan secara konsisten.

Gejala :
Gejala umum ditemukan pada orang dengan gangguan ritme sirkadian terkait
dengan tidur-bangun siklus dapat mencakup sebagai berikut:

Kesulitan memulai tidur

Kesulitan mempertahankan tidur

Nonrestorative tidur

Kantuk di siang hari

Miskin konsentrasi

Gangguan kinerja, termasuk penurunan kemampuan kognitif

Miskin koordinasi psikomotorik

Headaches

Kelainan Gastrointestinal

Depresi
Merupakan keadaan sakit jiwa ringan, bukan hanya rasa sedih biasa yang setiap
orang mungkin sering merasakan. Bila seseorang menderita depresi, dia tidak bisa
sembuh sendiri. Penderita perlu diobati jika tidak akan bertambah berat.

Gejala-gejala

Merasa selalu sedih.

Kehilagan perhatian terhadap aktifitas sehari-hari.

Tidak bisa konsentrasi/membuat keputusan.

Berpikir untuk bunuh diri/mati.

Gangguan kebiasaan tidur (tidak bisa tidur, bangun lebih awal di pagi hari,
tidur berkali kali terbangun, terlalu banyak tidur).

Rasa cemas.

Tidak ingin bicara/bergaul dengan orang lain.

Nafsu makan dan berat badan menurun, merasa lelah.

Merasa kesepian, tidak berharga, rasa bersalah.

Gangguan Somatoform
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan
penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius
untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau
gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau
pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi
bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan,
dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura
yang disadari atau gangguan buatan.3 Penderita gangguan ini menyangkal dan
menolak untuk membahas kemungkinan kaitan antar keluhan fisiknya dengan
problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun
didapatkan gejala-gejala anxietas dan depresi.

Etiologi
Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami oleh penderita dengan gejalagejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari dan secara terus menerus (lebih
dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur atau selalu terbangun di tengah
malam dan tidak dapat kembali tidur. Seringkali penderita terbangun lebih cepat dari
yang diinginkannya dan tidak dapat kembali tidur. Ada tiga jenis gangguan insomnia,
yaitu: susah tidur (sleep onset insomnia), selalu terbangun di tengah malam (sleep
maintenance insomnia), dan selalu bangun jauh lebih cepat dari yang diinginkan
(early awakening insomnia). Cukup banyak orang yang mengalami satu dari ketiga
jenis gangguan tidur ini. Dalam penelitian dilaporkan bahwa di Amerika Serikat
sekitar 15 persen dari total populasi mengalami gangguan insomnia yang cukup
serius.3

Gangguan tidur insomnia merupakan gangguan yang belum serius jika anda alami
kurang dari sepuluh hari. Untuk mengatasi gangguan ini kita dapat menggunakan
teknik-teknik relaksasi dan pemrograman bawah sadar. Yang penting kita harus
dapat menjaga keseimbangan frekuensi gelombang otak agar sesering mungkin
berada dalam kondisi relaks dan meditatif sehingga ketika kita harus tidur kita tidak
mengalami kesulitan untuk menurunkan gelombang otak ke frekuensi delta.
Antara penyebab seseorang itu insomnia adalah seperti berikut:

Pemakaian obat-obatan terlarang bisa menyebabkan seseorang mengalami


insomnia

Pengobatan medis yang salah juga dapat mengakibatkan insomnia

Perubahan jam kerja yang makin ketat

Kondisi lingkungan yang miskin

Depresi

Stres

Tubuh sedang sakit

Diet yang terlalu memaksa

Jet lag

Kebisingan yang memekakkan telinga

Ranjang tidur yang terlalu empuk

Problem psikologi

Epidemiologi
Insomnia adalah sangat umum dan terjadi pada 30% sampai 50% dari populasi
umum. Sekitar 10% dari populasi menderita kronis (jangka panjang) insomnia.
Insomnia mempengaruhi orang-orang dari segala usia termasuk anak-anak,
meskipun lebih sering terjadi pada orang dewasa dan frekuensi meningkat dengan
usia. Secara umum, perempuan lebih sering terkena daripada pria.
Penting untuk membuat perbedaan antara insomnia dan terminologi lain yang
serupa; pendeknya durasi tidur dan kurang tidur

Short durasi tidur mungkin saja normal dalam beberapa individu yang
mungkin memerlukan sedikit waktu untuk tidur siang hari tanpa merasa gangguan,
gejala utama dalam definisi insomnia.

Pada insomnia, cukup waktu dan kesempatan untuk tidur tersedia,


sedangkan pada kurang tidur, kurang tidur adalah karena kurangnya kesempatan
atau waktu untuk tidur karena sukarela atau sengaja menghindari tidur.3,8

Patofisiologi
Insomnia adalah keadaan dimana Anda mulai mengeluh dengan sulitnya tidur di
malam hari, atau Anda sering terbangun di tengah malam. Banyak disebutkan
bahwa stress sering dikaitkan dengan insomnia. Stres menyebabkan insomnia.
Setiap permasalahan kehidupan yang manimpa pada diri seseorang (stresor
psikososial) dapat mengakibatkan gangguan fungsi/faal organ tubuh, reaksi yang
dialami oleh tubuh ini dikatakan stres Hal itu terjadi karena sistem saraf Anda
sedang dipersiapkan untuk selalu berpikir bahkan saat Anda sedang tidur. Saat
stress terjadi tubuh akan berespon terhadap stress tersebut. Hipotalamus-PituitariAksis (HPA) adalah sekelompok sumbu yang berperan dalam memberi respon
terhadap stress, yang mana melibatkan otak hipofisis dan kelenjar adrenal.
Pertama, hipotalamus (bagian sentral otak) akan melepaskan senyawa yang disebut
corticotrophin releasing factor (CRF). CRF kemudian perjalanan ke kelenjar hipofisis,
di mana akan memicu pelepasan hormon, adrenocorticotrophic (ACTH). ACTH
dilepaskan ke dalam aliran darah dan menyebabkan korteks kelenjar adrenal untuk
melepaskan hormon stres, terutama kortisol, yang merupakan hormon
kortikosteroid. Kortisol meningkatkan ketersediaan pasokan bahan bakar tubuh
(karbohidrat, lemak, dan glukosa), yang diperlukan untuk merespon stres. Namun,
jika kadar kortisol tetap tinggi dalam jangka waktu terlalu lama, maka otot akan
rusak, terjadinya penurunan respons terhadap peradangan, dan penurunan sistem
imun (pertahanan) . Kortikosteroid juga dapat menyebabkan retensi cairan dan
tekanan darah tinggi. Oleh karena itu, penting bahwa respon terhadap kortikosteroid

secara hati-hati dikendalikan (dimodulasi). Kontrol ini biasanya dilakukan dengan


mekanisme umpan balik yang meningkatkan kadar kortisol makan kembali ke
hipotalamus dan hipofisis mematikan produksi ACTH. Selain itu, sangat tinggi tingkat
kortisol dapat menyebabkan depresi dan psikosis, yang menghilang ketika kembali
ke tingkat normal.
Karena adanya hubungan ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan stress akan
mendahului peningkatan insomnia. Bila Anda stress sistem yang dapat membuat
Anda seharusnya tertidur akan menjauh dari Anda. penyebab insomnia terkait erat
dengan lelah, konsentrasi terganggu, memori terganggu, sakit kepala, mudah marah
dan mengantuk di siang hari.3
Irama tidur - jaga yang merupakan pola tingkah laku agaknya berhubungan dengan
interaksi di dalam sistim aktivasi reticular. Perangsangan daerah formasio retikularis
akan menyebabkan kondisi jaga/waspada pada hewan di laboratorium. Sedangkan
perusakan pada daerah itu menyebabkan hewan mengalami kondisi koma menetap.
Kita mengetahui bahwa sistim aktivas retikular bekerjanya diatur oleh kontrol dan
nukleus raphe dan locus coeruleus. Di mana sel-sel dan nucleus raphe mensekresi
serotonin dan locus coeruleus mensekresi epinephrine. Jika nukleus raphe dirusak
atau sekresinya dihambat, dapat menimbulkan kondisi tidak tidur/berkurangnya jam
tidur pada hewan percobaan yang mirip dengan kejadian insomnia. Sedangkan bila
locus coeruleus yang dirusak, akan terjadi penurunan atau hilangnya tidur REM,
sedangkan tidur non REM tak berubah. Sistim limbik, yang kita kenal sebagai pusat
emosi, agaknya juga berhubungan dengan kewaspadaan/jaga. Mungkin hal inilah
yang menyebabkan mengapa kondisi ansietas dan gangguan emosi lainnnya dapat
mengganggu tidur, dan menyebabkan insomnia.3,8
Meskipun efek insomnia dialami sebagian besar dalam tempo yang singkat,
beberapa orang baru menyadari setelah insomnia yang mereka derita parah. Oleh
sebab itu diperlukan informasi tentang insomnia secara detail. Berikut tipe insomnia:

1. Transient insomnia
Durasi insomnia ini hanya satu atau beberapa hari. Biasanya disebabkan oleh stres
baru, situasi dramatis yang mengguncang hidup si penderita
Jika Anda mengalami insomnia sekilas, hanya beberapa hari, dipastikan Anda
mengalami jenis insomnia ini.
Kafein, rokok, dan obat-obatan tertentu dapat mengurangi insomnia jenis ini. Tapi
usahakan untuk menghindarinya karena menimbulkan kecanduan.

2. Short term insomnia

Jenis insomnia ini agak lama durasinya diibandingkan jenis yang pertama. Antara 1
hingga 3 minggu.
Untuk kaum perempuan, insomnia ini sering dialami ketika ada perubahan hormonal
di dalam tubuh mereka. Selama menstruasi, hormon progesteron mengalami
penurunan sehingga efek insomnia jenis ini akan timbul.
Insomnia ini juga dialami oleh mereka yang berada di pekerjaan yang
menekan.Terlalu terang ruang tidur Anda juga bisa menyebabkan short term
insomnia. Hal ini dikarenakan hormon melatonin yang dihasilkan oleh otak bagian
tengah mengalami gangguan

3. Chronic insomnia
Jika Anda mengalami kesulitan tidur setiap hari dalam satu bulan atau lebih, bisa
dipastikan Anda mengalami jenis insomnia kronis. Seluruh kegiatan dan pekerjaan
Anda akan serta merta terganggu. Kesehatan si penderita juga akan turun drastis

4. Primary chronic insomnia


Insomnia ini terjadi ketika gejala yang ditunjukkan tidak sesuai dengan kondisi fisik
dan mental penderita

5. Secondary chronic insomnia


Kondisi ini dialami oleh mereka yang mengalami depresi dan kelaianan gangguan
emosional dan fisik. Dari data penelitian, 10% dari orang dewasa berpotensi
mengalami insomnia jenis ini.1,8

Tatalaksana
1. Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya:

Untuk mencari penyebab dasarnya danpengobatan yang adekuat

Sangat efektif untuk pasien gangguan tidur kronik

Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan


obat hipnotik,alkohol, gangguan mental

Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek

2. Konseling dan Psikotherapi


Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti
(depressi, obsessi, kompulsi), gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita
dapat membantu mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh
penderita tanpa penggunaan obat hipnotik.

3. Sleep hygiene terdiri dari:


a. Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan
b. Hindari tidur pada siang hari/sambilan
c. Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
d. Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
e. Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
f. Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut
kosong
g. Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
h. Hindari rasa cemas atau frustasi
i. Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak1,2

4. Pendekatan farmakologi
Dalam mengobati gejala gangguan tidur, selain dilakukan pengobatan secara
kausal, juga dapat diberikan obat golongan sedatif hipnotik. Pada dasarnya semua
obat yang mempunyai kemampuan hipnotik merupakan penekanan aktifitas dari
reticular activating system (ARAS) diotak. Hal tersebut didapatkan pada berbagai
obat yang menekan susunan saraf pusat, mulai dari obat anti anxietas dan beberapa
obat anti depres. Obat hipnotik selain penekanan aktivitas susunan saraf pusat yang
dipaksakan dari proses fisiologis, juga mempunyai efek kelemahan yang dirasakan
efeknya pada hari berikutnya (long acting) sehingga mengganggu aktifitas seharihari. Begitu pula bila pemakain obat jangka panjang dapat menimbulkan over dosis
dan ketergantungan obat.
Sebelum mempergunakan obat hipnotik, harus terlebih dahulu ditentukan jenis
gangguan tidur misalnya, apakah gangguan pada fase latensi panjang (NREM)
gangguan pendek, bangun terlalu dini, cemas sepanjang hari, kurang tidur pada
malam hari, adanya perubahan jadwal kerja/kegiatan atau akibat gangguan penyakit

primernya. Walaupun obat hipnotik tidak ditunjukkan dalam penggunaan gangguan


tidur kronik, tapi dapat dipergunakan hanya untuk sementara, sambil dicari
penyebab yang mendasari. Dengan pemakaian obat yang rasional, obat hipnotik
hanya untuk mengkoreksi dari problema gangguan tidur sedini mungkin tanpa
menilai kondisi primernya dan harus berhati-hati pada pemakaian obat hipnotik
untuk jangka panjang karena akan menyebabkan terselubungnya kondisi yang
mendasarinya serta akan berlanjut tanpa penyelesaian yang memuaskan.
Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah mengidentifikasi dari
problem gangguan tidur sedini mungkin tanpa menilai kondisi primernya danharus
berhati-hati pada pemakain obat hipnotik untuk jangka panjang karena akan
menyebabkan terselubungnya kondisi yang mendasarinya serta akan berlanjut
tanpa penyelesaian yang memuaskan. Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat
hipnotik adalah mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya atau obat hipnotik
adalah sebagai pengobatan tambahan. Pemilihan obat hipnotik sebaiknya diberikan
jenis obat yang bereaksi cepat (short action) dgnmembatasi penggunaannya
sependek mungkin yang dapat mengembalikan pola tidur yang normal.
Lamanya pengobatan harus dibatasi 1-3 hari untuk transient insomnia, dan tidak
lebih dari 2 minggu untuk short term insomnia. Untuk long term insomnia dapat
dilakukan evaluasi kembali untuk mencari latar belakang penyebab gangguan tidur
yang sebenarnya. Bila penggunaan jangka panjang sebaiknya obat tersebut
dihentikan secara berlahan-lahan untuk menghindarkan withdraw terapi.
Antara obat yang di gunakan utk pesakit insomnia adalah :
1.

Benzodiazepines:

Merupakan obat golongan hinotik-sedatif. Efektif digunakan untuk mengobati


masalah tidur seperti berjalan dalam tidur dan malam teror. Namun, obat ini dapat
menyebabkan Anda merasa mengantuk pada siang hari dan juga dapat
menyebabkan ketergantungan, yang berarti anda dapat selalu perlu obat tidur
2.

Non-Benzodiazepine

Yang termasuk golongan ini adalah seperti zolpidem, zaleplon, zopiclone dan
ecszopiclone. Obat-obat masih baru dalam golongan hipnotik-sedatif. Mekanisma
kerjanya hampir sama dengan golongan benzodiazepein yaitu bekerja pada resepto
GABA
3.

Alkohol

Alkohol juga sering digunakan sebagai terapi pilihan individu untuk menginduksi
tidur. Namun, penggunaan alkohol akan menyebabkan insomnia. Pada penggunaan
jangka panjang akan disertai dengan pengurangan tidur REM

4.

Antidepressants:

Beberapa antidepresan turut mengandungi efek sedatif yang kuat sebagi contoh
amitriptiline, doxepin, mirtazapin dan tradazon. Namun karena mempunyai jalur kerja
yang lebar, efek sampingnya meningkat. Insomnia adalah gejala umum dari depresi.
Dengan demikian, beberapa obat antidepresan, seperti trazodone (Desyrel), sangat
efektif dalam mengobati kesulitan tidur dan kecemasan yang disebabkan oleh
depresi.
5.

Melatonin

Hormon dan suplemen melatonin efektif pada beberapa tipe insomnia. Melatonin
telah digunakn dalam pil pembantu tidur, zopiclone. Manfaat dari melatonin adalah
mampu mengobati insomnia tanpa mengubah corak tidur seseorang dan.
6.

Antihistamin

Antihistamn difenhidramin digunakan meluas. Mereka umumnya bekerja baik, tetapi


dapat menyebabkan pusing keesokan harinya. Mereka cukup aman untuk dijual
tanpa resep. Namun, jika anda sedang mengambil obat lain yang juga mengandung
antihistamin, kelebihan dosis bisa terjadi.

7.

Herbal

Bahan-bahan seperti valerian (untuk relaksasi otot), melatonin untuk gangguan


irama sirkadian seperti jet lag. Chamomile, dan kava kava (untuk mengurangi
kecemasan) banyak dipakai untuk terapi insomnia.4

Pencegahan

Lakukan kesibukan sepanjang hari atau olahraga ringan siang dan sore hari

Jangan minum kopi atau teh kental, terutama pada sore hari dan malam hari.

Usahakan makan malam harus kenyang agar badan cukup rileks untuk
beristirahat

Minumlah segelas susu hangat atau susu campur madu sebelum tidur

Mandi dengan air hangat sebelum tidur dan jangan tidur siang

Jika Anda tetap tidak dapat tidur, cobalah meminum antihistamin seperti
promethazine atau dimenhydrinate setengah jam sebelum tidur. Obat-obatan ini
kurang menyebabkan ketagihan dibandingkan obat lain yang lebih keras

Bangun dan baca buku dan dengarkan musik yang bersifat menenangkan.7

Komplikasi
Gangguan fungsi mental
Insomnia dapat mempengaruhi konsentrasi dan memori, dan dapat mempengaruhi
kemampuan seseorang untuk melakukan tugas-tugas sehari-hari.Beberapa ahli
melaporkan bahwa kurang tidur dalam mengganggu kemampuan otak untuk
memproses informasi. Dua sampai tiga jam tidur setiap malam selama satu minggu
terganggu secara signifikan kinerja dan suasana hati. Beberapa studi telah
melaporkan masalah dalam menghafal meskipun orang lain tidak menemukan
perbedaan dalam skor tes antara orang-orang dengan tidur sementara kerugian dan
orang-orang dengan penuh tidur.5
Kecelakaan
Insomnia membahayakan keselamatan publik dengan ikut untuk lalu lintas dan
kecelakaan industri. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kelelahan
memainkan peran utama dalam kecelakaan mobil dan mesin. Sebanyak 100.000
kecelakaan mobil, akuntansi untuk 1.500 kematian, yang disebabkan oleh kantuk.
Perkiraan pada kelelahan sebagai penyebab kecelakaan mobil berkisar antara 1%
menjadi 56%, tergantung pada studi.
Mortalitas Rates
Orang-orang dengan insomnia tidak memiliki tingkat kematian tinggi, yang didukung
bukti-bukti sebelumnya. Orang-orang yang mengambil pil tidur memang memiliki
tingkat ketahanan hidup yang lebih rendah. Insomnia hampir tidak pernah
mematikan kecuali dalam kasus yang jarang terjadi, seperti kelainan genetik yang
disebut insomnia familial fatal. Penyakit otak degeneratif ini adalah progresif dan
mengembangkan individu intractable insomnia, yang akhirnya menjadi fatal.
Stres dan depresi
Perubahan sederhana dalam pola tidur terjaga dapat memiliki efek yang signifikan
pada mood seseorang. Persistent insomnia bahkan memprediksi pembangunan
masa depan gangguan emosional dalam beberapa kasus. Insomnia meningkatkan
aktivitas hormon dan jalur di otak yang menyebabkan stres, dan perubahan dalam
pola tidur telah terbukti secara signifikan mempengaruhi mood. Insomnia
berkelanjutan mungkin tanda kegelisahan dan depresi 9
Penyakit jantung
Satu studi melaporkan bahwa orang dengan insomnia kronis memiliki tanda-tanda
jantung dan aktivitas sistem saraf yang mungkin menempatkan mereka pada risiko
penyakit jantung.

Sakit kepala
Sakit kepala yang terjadi pada malam atau pagi-pagi mungkin berhubungan dengan
gangguan tidur.

Prognosis
Insomnia tidak diobati berpotensi konsekuensi serius, termasuk meningkatnya risiko
kecelakaan kendaraan bermotor, gangguan kinerja sekolah atau pekerjaan, dan
tingginya tingkat ketidakhadiran kerja. Untungnya, insomnia dapat dirawat dengan
sangat efektif pada kebanyakan pasien. Perawatan menggunakan kombinasi
pendekatan biasanya paling efektif. Pasien yang telah insomnia sekali adalah pada
peningkatan risiko berulang insomnia
Untuk insomnia jangka pendek, prognosis sangat baik. Untuk pertama insomnia
kronis yang mendasari faktor penyebab perlu diidentifikasi. Pasien juga perlu
didukung dengan
hypnotik dan terapi perilaku. Insomnia yang resisten, sulit untuk ditangani, dapat
secara bertahap diatasi dengan ketekunan dan kesabaran. Bentuk terapi perilaku
poros dari manajemen insomnia seperti ini akan membantu untuk mengubah atau
memperkuat pola tidur3.

Kesimpulan
Pasien mengalami gejala tidak bisa tidur di malam hari sejak 2 bulan yang lalu Hasil
dari sasaran belajar telah di kaji berdasarkan pemeriksaan yang di jalankan kepada
pasien, pasien mengalami insomnia dan disertai stress akibat post-power syndrome
serta cemas yang berlebihan. Insomnia adalah suatu gangguan tidur yang dialami
oleh penderita dengan gejala-gejala selalu merasa letih dan lelah sepanjang hari
dan secara terus menerus (lebih dari sepuluh hari) mengalami kesulitan untuk tidur
atau selalu terbangun di tengah malam dan tidak dapat kembali tidur 8. Penyebab
insomnia yang utama adalah adanya permasalahan emosional, kognitif, dan
fisiologis.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Priguna Sidharta. Gangguan tidur. Neurologi klinis dalam praktek

2.

umum.Indonesia : Dian rakyat.2009: 178-198


Iskandar Japardi. Gangguan tidur.Fakultas Kedokteran USU.Indonesia :

3.

USU digital library.2002: 1-10


Fauci, Braunwald., Kasper., Hauser., Longo., Jameson., Loscalzo. 2008.
Harrison's Principles of Internal Medicine 17th Edition.Vol II. United States

4.

of America: McGraws Hill. pp: 2711-2723


Goodman and Gilmans. The Pharmacological basis of therapeutics. 11th

5.
6.

ed, 2005: 361-398


Rusdi Maslim. Diagnosis gangguan jiwa.PPDGJ-III.2001:79-96
Asbury McKhan. Diseases of the nervous system

7.
8.
9.

neurobiology.Hospital Medicine Journal. October 1990: 96-104


Hughes JR. EEG in clinical practice. 3rd ed, 2004: 55-104
Insomnia.2009.Di unduh dari : http://www.emedicinehealth.com/insomnia
Soejono CH, Probosuseno, Sari NK. Depresi pada pasien usia lanjut.

clinical

Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi V. Jakarta: Interna Publishing;


10.

2009.h.845-7.
Wilson, Jennifer F. Insomnia. 3dr edition. United States: Annals of Internal
Medicine; 2008.p.148-69.