Anda di halaman 1dari 37

Disusun oleh:

WIDYASTUTI

LATAMANG
(141 2015

0080)
SUNARTI AMIR

(141 2015 0087)

ANDI YEPITA DEVIYANTI

(1412015 0098)

WIDA MINARTI

(141 2015 0107)

KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


TAHUN AJARAN 2015/2016

Disusun oleh:

WIDYASTUTI

LATAMANG
(141 2015

0080)
SUNARTI AMIR

(141 2015 0087)

ANDI YEPITA DEVIYANTI

(1412015 0098)

WIDA MINARTI

(141 2015 0107)

KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


TAHUN AJARAN 2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan

memberikan

sumbangan

baik

materi

maupun

pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk

maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.


Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.
Makassar, 18 Juni 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ...............................................................................

iii

DAFTAR ISI .............................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................

A.
B.
C.

Latar Belakang ..........................................................................


Rumusan Masalah .....................................................................
Tujuan ........................................................................................
3

1
5
5

BAB III PEMBAHASAN ........................................................................


A.
B.
C.
D.
E.
F.

Pengertian Aliran Behaviorisme ................................................


Ciri Aliran Behaviorisme ...........................................................
Ahli Aliran Behaviorisme ..........................................................
Pendapat Pengikut Aliran Behaviorisme....................................
Pengertian Aliran Epirisme........................................................
Ahli Aliran Empirisme...............................................................

6
7
7
20
22
23

BAB III PENUTUP ..................................................................................

21

3.1
3.2

Kesimpulan ................................................................................
Saran ..........................................................................................

Daftar Pustaka

21
22

.........................................23

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Psikologi berasal dari perkataan Yunani psyche yang artinya jiwa, dan
logos yang artinya ilmu pengetahuan. Jadi secara etimologi (menurut arti kata)
psikologi artinya ilmu yang mempelajari tentag jiwa, baik mengenai macammacam gejalanya, prosesnya, maupun latar belakangnya. Dengan singkat disebut
Ilmu Jiwa.
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta. h. 1
Psikologi adalah ilmu yang masih muda. Ia terpisah menjadi ilmu yang
berdiri sejak 1879, yaitu pada waktu didiriknnya laboratorium psikologi yang
pertama oleh Wilhelm Wundt (1832 - 1920) di Leipzig, Jerman.

Meskipun demikian, sebagaimana dikatakan di atas, jauh sebelumnya,


yaitu sejak zaman Yunani Kuno, gejala-gejala kejiwaan sudah banyak menarik
perhatian para pemikir. Ahli-ahli filsafat di antaranya Sokrates, Plato, dan
Arristoteles banyak sekali mengemukakan pikiran-pikiran mengenai gejala-gejala
psikoogis. Kemudian, Descartes (1496-1650) datang dengan semboyannya
COGITO ERGO SUM (saya berpikir maka saya ada) dan sejak itu timbul aliran
yang mementingkan kesadaran dalam Psikologi.
Setelah itu, berbagai macam ilmu lainnya memberi pengaruhnya terhadap
pertumbuhan psikologi, antara lain biologi, Ilmu Alam, dan Ilmu Kimia. Hal ini
terjadi karena para ahli dari ilmu-ilmu itu juga memerhatikan gejala-gejala
psikologis.
Nyatalah di sini bahwa meskipun pada saat ini psikologi tidak lagi
mempunyai hubungan yang erat dengan Ilmu-Ilmu Alam dan biologi, tetapi
dahulu ilmu itu ikut memberikan sumbangan bagi lahirnya psikologi sebagai ilmu
yang berdiri sendiri
Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar Psikologi Umum (Edisi Pertama).
Editor: Eko A. Meinarno. Jakarta: Rajawali Pers. h. 23

Setelah psikologi berdiri sendiri, lambat laun para ahli psiologi


mengembangkan sistematika dan metode-metodenya sendiri yang saling berbeda
satu sama lain. Dengan demikian, timbul apa yang disebut aliran-aliran dalam
psikologi.

Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar Psikologi Umum (Edisi Pertama).


Editor: Eko A. Meinarno. Jakarta: Rajawali Pers. h. 26
Sejak psikologi berdiri sebagai ilmu pengetahuan (akhir abad ke-19),
muncullah berbagai macam aliran psikologi dengan metodenya sendiri, baik
dalam penyelidikan maupun dalam pembuktian hasil penyelidikannya, melahirkan
pandangan psikologis yang memiliki corak khusus.
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta. h. 37
Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar)
adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang
dilakukan organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan
harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian
dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau
konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori
harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses
yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati
secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Awal muasal timbulnya aliran ini bermula dari penolakan mereka
atasdominasi logika Cartesian di daratan Eropa saat itu. Di samping itu,
geloraRenaissance di daratan Eropa menginspirasi Dataran Britania Raya sampai
ada istilahsendiri yaitu Enlightment.

Beberapa tokoh yang cukup dikenal antara lain John Locke,David Hume,
dan George Berkeley, Francis Bacon.Bagi John Locke, berpikir deduksi relatif
lebih rendah kedudukannya apabiladibandingkan dengan pengalaman indera
dalam pengembangan pengetahuan. Lebihlanjut ia berpendapat bahwa semua
fenomena dari pikiran kita yang disebut ide berasaldari pengamatan atau refleksi.
Inilah tesis dasar dari empirisme. Dengan tesis inilah,Locke mempergunakannya
sebagai titik tolak dalam ia menjelaskan perkembanganpikiran manusia.Selain
John Locke, Bacon juga berkesimpulan bahwa penalaran hanya berupaputusanputusan yang terdiri dari kata-kata yang menyatakan pengertian tertentu.Sehingga
bilamana pengertian itu kurang jelas maka hanyalah dihasilkan suatuabstraksi yang
tidak mungkin bagi kita untuk membangun pengetahuan di atasnya.Bacon beranggapan
bahwa untuk mendapatkan kebenaran maka akal budi bertitik pangkal pada
pengamatan inderawi yang khusus lalu berkembang kepada kesimpulanumum. Pemikiran
Bacon yang demikian ini, kemudian melahirkan metode berpikirinduksi. Dalam
pemikiran David Hume (1711-1776),
Ahmad Tafsir,Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales Sampai Capra
(Bandung: Remaja Rosdakarya,2003) hal. 173
Sejak awal pertumbuhan hingga pertengahan abad ke-19, psikologi lebih
banyak dikembangkan oleh para pemikir dan ahli-ahli filsafat, yang kurang
meladasi pengamatannya pada faktor konkret. Mereka lebih mempercayai
pemikiran filsafat, dan pertimbanagan-pertimbangan abstrak serta spekulatif.
Perkembanagan ilmu pengetahuan alam dan empiris pada abad ke 17
sampai ke-19

sangat mempengaruhi juga perkembangan psikologi. Maka di


7

rasakan perlunya data konkrit sebagai hasil pengamatan systematis dan


percobaan/eksperimen, dalam rangka membuktikan kebenaran teori tertentu.
Tugas psikologi empiris yaitu mengamati, menuliskan, mengklafikasikan
dan mengadakan systematisasi, menjelaskan dan verstehen.
Ahmad, abu. (2009). Psikologi umum (edisi revisi). Jakarta: Renika Cipta
h. 57
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalahnya yaitu :
1. Apa pengertian aliran behaviorisme?
2. Jelaskan ciri aliran behaviorisme?
3. Jelaskan tokoh aliran behaviorisme?
4. Apa pengertian aliran empirisme?
5. Jelaskan tokoh aliran empirisme?
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui pengertian aliran behaviorisme
2. Mengetahui ciri aliran behaviorisme
3. Mengetahui tokoh aliran behaviorisme
4. Mengetahui pengertian aliran empirisme
5. Mengetahui tokoh aliran empirisme

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Aliran Behaviorisme


Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar)
adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua yang
dilakukan organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan dapat dan
harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa perilaku demikian
dapat digambarkan secara ilmiah tanpa melihat peristiwa fisiologis internal atau
konstrak hipotetis seperti pikiran. Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori
harus memiliki dasar yang bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses
yang dapat diamati secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati
secara pribadi (seperti pikiran dan perasaan).
Yang mendapat sebutan mazhab kedua dalam bidang ilmu tentang
tingkah laku adalah karya para ahli yang berhubungan rapat dengan teori
Behaviorisme. Para pendahulu aliran ini adalah Isaac Newton, yang berhasil
mengembangnkan metode ilmiah dibidang ilmu-ilmu fisik, Charles Darwin, yang
mnyetakan bahwa manusia merupakan hasil proses evolusi secara kebetulan dari
binatang yang rendah.
Seorang behavioris tidak menaruh minatnya pada soal-soal akhlak, kecuali
bahwa ia seorang ilmuan. Tak peduli manusia macam apa ia. Manusia adalah

korban yang fleksibel, dapat dibentuk dan pasif dari lingkungan, yang
menentukan tingkah lakunya.
Rahman, Saleh Abdul. (2004). Psikologi: Suatu Pengantar Dalam
Perspektif Islam. h. 35-36
B. Ciri-Ciri Utama Aliran Behaviorisme:

1. Aliran ini mempelajari perbuatan manusia bukan dari kesadarannya


melainkan hanya mengamati perbuatan dan tingkah laku yang
berdasarkan kenyataan. Pengalaman batin dikesampingkan. Dan hanya
perubahan dan gerak-gerik pada badan sajalah yang dipelajari. Maka
sering dikatakan bahwa Behaviorisme adalah ilmu jiwa tanpa jiwa.
2.

Segala macam perbuatan dikembalikan pada refleks. Behaviorisme


mencari unsur-unsur paling sederhana yakni perbuatan-perabuatan
bukan kesadaran, yang dinamakan refleks. Refleks adalah reaksi yanga
tidak disadari terhadap suatu perangsang. Manusia dianggap suatu
kompleks refleks atau suatu mesin reaksi.

3. Behaviorisme berpendapat bahwa pada waktu dilahirkan semua orang


adalah sama. Menurut Behaviorisme pendidikan adalah maha kuasa.
Manusia hanya makhluk yang berkembang karena kebiasaankebiasaan, dan pendidikan dapat mempengaruhi refleks sekehendak
hatinya.
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta. h. 51

10

C. Tokoh Aliran Behaviorisme:


1. Ivan Petrovich Pavlov (1849 - 1936)
Aliran psikologi di Rusia dipelopori oleh Ivan Petrovich Pavlov,
dan dikenal sebagai aliran behaviorisme di Rusia. Behaviorisme
merupakan aliran dalam psikologi yang timbul sebagai perkmbangan
dari psikologi pada umumnya. Para ahli psikologi dalam rumpun
behaviorime ingin meneliti psikologi secara objektif. Mereka
berpendapat bahwa kesadaran merupakan hal yang dubious,
sesuatuyang tidak dapat diobservasi secara langsung, secara nyata.
Walgito Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum. h. 73
Penemuan Pavlov yang sangat menentukan dalam sejarah
psikologi adalah hasil penyelidikannya tentang refleks berkondisi
(conditional reflex). Dengan penemuannya ini Pavlov meletakkan
dasar dasar behaviorisme, sekaligus meletakkan dasardasar bagi
penelitian-penelitian mengenai proses belajar dan pengembangan
teori-teori

tentang

belajar.

Bahkan

American

Psychological

Association (APA) mengakui bahwa adalah orang yang terbesar


prannya dalam psikologi modern.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 110
Dalam percobaannya, Pavlov beberapa kali menunjukkan sekerat
daging (UCS/Rangsangan Tak Terkondisi) dan melihat si anjing
meneteskan air liau (UCR/Respon Tak Terkondisi). Pada kali

11

berikutnya ia memasangkan lampu sebagai stimulus netral pada saat


pemunculan daging. Setelah beberapa kali melihat kehadiran daging
dan nyalanya lamu yang bersamaan (netral dan UCS) akan
menghasilkan terbitnya liur yang bersamaan. Kemudian Pavlov tidak
lagi memunculkan daging tapi hanya menyalakan lampu. Hasilnya
ajaib, si anjing tetap terbit air liurnya walau tanpa tampilan daging.
Terbitnya liur yang telah terkondisi inilah yang disebut sebagai respon
terkondisi (conditioned response/CR) (disarikan dari Feldman, 2003).
Apakah dalam kehidupan sehari-hari manusia, proses tersebut terjadi?
Coba ingat kotak-kotak suara pemilu yang sering muncul di koran,
bagaimana?
Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar Psikologi Umum (Edisi Pertama).
Editor: Eko A. Meinarno. Jakarta: Rajawali Pers. h. 57-58

Eksperimen Pavlov lebih lanjut biasanya dikemukakan didalam


psikologi belajar dan dalam psikologi eksperimen.
2. William Mc Dougall (1871 - 1938)
Mc Dougall adalah seorang yang produk yang produktif dan
kreatif, tetapi latar belakang kehidupannya yang campur-aduk

12

membuat ia menjadi seorang yang penuh kontradiksi. Hal ini dapat


dilihat dalam bukunya Body and Mind (1911) di mana ia membela
mekanisme karena minatnya yang besar kepada para psikologi.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 113
Sebagai ahli jiwa, Mac Dougall mempelajari masalah insting
sedalam-dalamnya. Insting dipandang sebagai pendorong penting
dalam segala kegiatan. Ia memandang ilmu jiwa sebagai ilmu yang
mempelajari gerak perbuatan dan tingkah laku hewan dan manusia.
Namun demikian, ia kadang-kadang m enyerang sifat-sifat mekanistis
dan behaviorisme.
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta. h. 53
Mc.Dougall dianggap terkemuka karena karya-karyanya yaitu :
1)
2)
3)
4)

Psikologi Harmonik
Teori Instink
Sentimen
Teori Jiwa Kelompok (group mind)

Dalam

buku

Social

Psychology

(1909)

Mc.

Dougall

mengemumukan bahwa tingkahlaku dapat dikembalikan kepada


instink-instink

yang

mendasarinya,

khususnya

dalam

emosi.

Dikatakannya bahwa emosi takut dasarnya adalah instink melarikan


diri, emosi heran dasarnya adalah instink ingin tahu dan emosi kasi

13

sayang dasarnya adalah instink orang tua (parental). Dimana


instink meliputi, aspek persepsi, aspek emosional dan aspek motoris.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 113-115
3. Edward Lee Thorndike (1874 - 1949)
Dia adalah pengikut behaviourisme yang tidak radikal. pendaptpendapatnya ditulis dalam Animal Inteligence dan Educational
Psychology
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta. h. 53
Menurut Thorndike adosiasi antara sence of impression dan impuls
to action, disebutnya sebagai koneksi atau connection,yaitu usaha
untuk menggabungkan antarakejadian sensoris dengan perilaku.
Menurut Thorndike dasar dari belajar adalah trial and error atau
secara asli disebut learning by selecting and connecting. Thorndike
mengajukan pengertian tersebut dari eksperimennya dengan puzzle
box.

Atas

dasar

pengamatannya

terhadap

bermacam-macam

percobaan,Thorndike sampai pada kesimpulan bahwa hewan itu


menunjukkan adanya penyesuaian diri sedemikian rupa sebelum
hewan itu dapat melepaskan diri dari box. Selanjutnya dikemukakan
bahwa perilaku dari semua hewan coba itu praktis sama,yaituapabila
hewan coba - dalam hal ini kucing yang digunakannya dihadapkan
pada masalah, ia dalam keadaan dicomfort dan dalam memecahkan
masalahnya dengan trial and error atau coba salah.

14

Kucing yang dilaparkan dimasukkan dalam box dan makanan


ditaruhkan di luar box. Karena Kucing dalam keadaan lapar maka
kucing akan berusaha mendapatkan makana tersebuat. Ia mencakarcakar , melompat-lompat hingga pada suatu waktu perilakunya
mengenai tali yang dapat membuka pintu box. Dengan pintu trbuka,
kucing keluar untuk mendapatkan makanan. Eksperimen tersebut
diulangi berulang-ulang,dan ternyata makin sering dicobakucing
makin cepat keluar dari box.
Dalam eksperimen Thorndike mengajukkan adanya tiga macam hokum
yang sering dikenal dengan hukum primer dalam hal belajar,yaitu hukum
kesepian ( the law of readiness ), hukum latihan ( the law of exercise ) dan
hukum efek ( the llaw of effect). Mengenai hukum latihan oleh Thorndike
dikemukakan adanya dua aspek,yaitu (1) the law of use, dan (2) the law of
disuse

Walgito Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum. h. 80-82


4. John Broades Watson (1878 - 1958)
Dia adalah pengikut aliran behaviorisme yang radikal. Sejak tahun
1912 Watson ingin meninggalkan ilmu jiwa impiris dan hendak

15

membentuk ilmu jiwa baru, yaitu ilmu jiwa yang berdasarkan pada
ilmu pengetahuan alam dengan bukti-bukti nyata.
Pandangan Watson tentang psikologi adalah perbuatan dipandang
sebagai reaksi organisme hidup yakni reaksi terhadap perangsangan
daari luar. Reaksi-reaksi itu terdiri atas gerakan-gerakan yang tertentu
dan perubahan-perubahan dalam tubuh. Kesemuanya itu dapat
dinyatan sebagai objektif. Hanya perbuatanlah yang dapat diselidiki
secara positif.
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Cipta. h. 53
Pandangan Watson dapat diikuti dalam artikelnya yang berjudul
Psychology as the behaviorist views it dalam Phsycologycal review
tahun 1913. Dalam artikel tersebut Watson mengemukakan antara lain
tentang defenisi psikologi, kritiknya terhadap strukturalisme dan
fungsionalsme yang dipandang sebgai psikologi lama tentang
kesadaran.
Walgito Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum. h. 82
Karya ini dan karya-karya berikutnya mempunyai pengaruh yang
besar sekali terhadap psikologi tradisional yang saat itu mementingkan kesadaran
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 116

16

Dalam bidang pendidikan pengaruh Watson juga cukup penting.


Dia menekankan pentingnya pendidikan dalam perkembangan
perilaku. Ia percaya bahwa dengan memeberikan proses konsioning
tertentu dalam proses pendidikan, ia bisa membuat seorang anak
mempunyai sifat-sifat tertentu. Ia menyatakan pendapatnya ini secara
ekstrim dengan menyatakan berikan kepada saya 10 orang anak,
maka akan saya jadikan 10 orang anak itu sesuai dengan kehendak
saya.
Pengaruh Watson yang lain adalah dalam psikoterapi, yaitu dengan
diadakannya teknik kondisioning untuk menyembuhkan kelainankelainan tingkah laku. Misalnya seorang penderita obseseif-kompulsif
(salah satu jenis fisikoneourose) yang tidak dapat menghentikan
kebiasaannya mencuci tangannya berpuluh-puluh kali dalam sehari,
diberikan psikoterapi dengan memberinya hukuman setiap kali ia
hendak mencuci tangannya.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 117-118
Eksperimen lainnya ialah dengan menggunakan bayi sebagai objek
coba yang diberikan minuman dari botol. Sebelum minuman botol
diberikan, lebih dahulu dibunyikan bel, dan hal tersebut dilakukan
berlang kali. Langkah Watson tersebut sampai dengan kesimpulan
bahwa pada bayi terbentuk respon berkondisi, yaitu dengan bunyi bel

17

sekalipun tidak diberikan minuman dari botol bayi tetap


menunjukkan gerakan mulut seperti mengenyut dot dari botol.
Eksperimen Watson yang lain dan yang paling terkenal ialah
eksperimennya dengan anak yang bernama Albert, yaitu anak berumur
11 bulan. Watson ingin memberikan gambaran sebagaimana reaksi
emosional terjadi terkondisi dengan stimulus yang netral. Watson dan
Rosali Rayner istrinya mengadakan eksperimen kepada Albert
dengan menggunakan tikus puth dan gong beserta pemukulnya. Pada
permulaan eksperimen, Albert tidak takut pada tikus putih tersebut.
Pada suatu waktu pada saat Albert akan memegang tikus dibunyikan
gong dengan keras. Dengan suara keras tersebut Albert merasa takut.
Keadaan

tersebut

diulangi

beberapa

kali.

Hingga

akhirnya

terbentuklah rasa takut pada tikus putih pada dari Albert. Atas dasar
eksperimen terebut, Watson berpendapat bahwa reaksi emosional
dapat dibentuk dengan konsioning. Rasa takut terebut dapat
dikembalikan lagi dengan keadaan semula dengan cara menghadirkan
tikus tersebut dengan setahap demi setahap pada situai yang
menyenangkan, misalnya pada waktu Albert makan, sehingga
terjadilah eksperimental enkstintion seperti halnya pada eksperimen
Pavlov.
Walgito Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum. h. 83-84

18

5. Edwin B. Holt (1873 - 1946)


Holt bisa melakukan itu, karena ia tidak terlalu agresif, lebih
tenang, dan lebih dewasa dalam berpikir dari pada Watson. ia
mengatakan bahwa makna dari ajaran Watson adalah bahwa tingkah
laku adalah satu-satu kunci untuk menerangkan jiwa. Tetapi agak
berbeda dengan Watson, Holt mengatakan bahwa tingkah laku
memiliki tujuan, bukan sekedar rangkain refleks belaka. Dengan
demikian, menurut Holt, manusia adalah dinamis, karena tujuan
tingkahlaku manusia berubah-ubah dari waktu ke waktu. Atas dasar
pemikiran ini kemudian timbullah konsep prikodinamik yang
memberikan sumbangan besar pada timbulnya psikoanalisa dari Freud
dan aliran psikodinamik dari Kurt Lewin.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 118
6. Edward Chase Tolman (1886 - 1959)

19

Ia melanjutkan ajaran Holt dan lebih dekat lagi dengan Mc Dougall


dengan

mengemumuka

konsep

psykology

porvosis

dalam

behaviorisme. ia mengatakan bahwa tingkah laku manusia secara


keseluruhan disebut tingkah laku molar. tingkah laku molar ini terdiri
dari tingkah laku-tingkah laku yang lebih kecil yang dsebut tingkah
laku molekular. perbuatan makan, misalnya adalah tingkahlaku molar.
tetapi gerakan-gerakan mengangkat sendok, mengambil makanan di
piring dan menyuapkan kedalam mulut adalah tingkah laku-tingkah
laku molekular. Tujuan dari tingkah laku terletak pada tingkah laku
molar. bukan pada tingkah laku molekular. dengan demikian Tolman
tidak menyetujui pendapat Watson yang menekankan pentingnya
tingkah laku molekular (refleks).
Behaviorisme dari Tolman disebut juga behaviorsme operasional,
karena Tolman mencoba memformulasikan tingkah laku kedalam
suatu rumus sebagai beriku:
Dimana

B = f ( S, A ).
B berarti behaviour (tingkh laku)
f berarti fungsi
S berarti situasi
A berarti Antecedent, yaitu hal-hal yang mendahului
suatu situasi.

Jadi, tingkah laku adalah fungsi dari situasi dan hal-hal yang
mendahului situai tersebut. adapun tugas psikology menurut Tolman
adalah memperlajarin hubungan B dengan S dan A. dengan cara ini
Tolman berpendapat bahwa psikology dapat mencapat objektivitas
yang maksimum.

20

Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan


Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 119
7. B. F. Skinner (1904 - 1991)
Ia seorang tokoh kondisioning operan seperti ahalnya Throndike.
Sedangkan Pavlov adalah tokoh dalam kondisioning klasik. bukunya
yang berjudul The Behavior of Organism yang diterbitkan dalam
tahun 1938 memberikan dasar dari sistemnya yang berjudul Science
and Human Behaviour yang terbit pada tahun 1953 merupakan buku
teksnya untuk behaviour phsychology.
Menurut Skinner ada dua prinsip umun yang berkaitan dengan
kondisioning operant,yaitu :
1. Setiap respons yang diikuti oleh reward ini bekerja sebagai
reinporcement stimuli akan cenderung di ulangi
2. Reward atau reinporcement stimuli akan meningkatkan kecepatan
(rate) terjadinya respons. Menurut Skinner,reinporcement ada dua
yaitu reinporcement positif dan reinporcement negative
Walgito Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum. h. 80-81
Skinner kurang sependapat dengan Tollman mengenai perumusan
tingkah laku sebagai B = f (S, A). skinner berpendapat bahwa tingkah
laku sepenuhnya ditentukan oleh stimulus saja, tidak ada perantara
lainnya.. Jadi rumus Skinner untuk tingkah laku adalah B = f (S).
Suatu tingkah atau respon (R) tertentu akan timbul sebagai reaksi
terhadap suatu stimul tertentu (S). Teori ini dikenal dengan nama Teori
S R dari Skinner (Operant Conditioning).

21

Dalam percobaannya tikus itu akan bergerak kesana kemari dan


sesekali secara kebetulan ia akan menginjak sebuah alat penekan yang
terdapat dalam kotak itu. kemudian Skinner memasukkan makanan
(Stimulus tak berkonsisi) setiap kali mtikus menginjak alat penekan,
tikus akan melihat makanan dan makan makana

itu (respon ta

berkondisi). Kemudian setelah beberapa kali percobaan ini diulang,


tikus akan tahu bahwa dengan menekan alat ia akan memperoleh
makanan. maka ia kan dengan sengaja menekan alat tiap kali ia
membutuhkan makanan. perbuatan menekan alat ini disebut tingkah
laku operant, karena tikus itu sengaja melakukannya untuk mengubah
situasi (dari tidak ada makanan kepada ada makanan) untuk kepuaan
dirinya sendiri. adapun makanan merupakan imbalan (reward) dari
perbuatan menekan alat itu. pada tingkat lebih lanjut, Skinner hanya
memberikan makanan kalau tikus menekan alat penekan pada saat
lampu dalam kotak menyala. jika lampu sedang tidak menyala, maka
walauoun alat ditekan makanan tidak aan keluar. Maka tikus hanya
akan menekan alat kalau lampu sedang menyala. tikus searang dapat
membedakan bila ia boleh menekan alat dan bila ia tidak peru
menekan alat. lampu sekarang menjadi stimulus diskriminasi.
Dalam kehidupan sehari-hari kita mendapat banyak sekali tngkah
laku operant. sebuah telepon, misalnya adalah sebuah stimulus
operant. orang tahu bahwa dengan mengangkat elepon ia bisa
berhubungan dengan tempat lain. jika ia idak membutuhkan

22

berhubungan dengan orang lain, maka ia tidak akan mnelpon, tetapi


jika ia perlu berhubungan dengan orang lain ia akan mengangkat
telepon dan terjadilah tingkah laku operant.

Jika bel telepon

berbunyi, maka ini merupakan tanda bahwa ada orang yang akan
berbicara, maka ia perlu mengangkat telepon. ben ini adalah stimulus
deskriminasi, karena ia membedakan bahwa kapan telpon itu harus
diangkat.
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang. h. 119-122

D. Pendapat Pengikut Aliran Behaviorisme


1. William James
James adalah perintis jalan filsafat pragmatisme. pandangannya
tentang filsafat dan psikologis ditulis dalam bukunya Principles of
Psychology.
a. Tiap berfikir mengandung maksud tertentu, yaitu menyempurnakan
hidup
b. Segala kenyataan bersifat pragmatis, yakni mengandung maksud
tertentu, dan kenyataan itu hanya berarti kalau ada faedahnya fari
manusia.
c. Nilai pengetahuan manusia harus diuji pada kehidupan yang praktis.
Benar tidaknya suatu pikiran itu dapat dilihat dari dapat tidaknya

23

pikiran itu dipraktekkan, dan terbukti atau tidaknya maksud yang


dikandung didalamnya.
d. Semboyan kaum behaviorisme: The truth is in the making. Benar ialah
apa yang dalam praktik ternyata tepat dan menguntungkan. Tidak
benar, ialah apa yang dalam praktiknya tidak memberi hasil.
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta:
Rineka Cipta. h. 52
Di dalam bukunya The Meaning of Truth, Arti Kebenaran, James
mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku
umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari
segala akal yang mengenal. sebab pengalaman kita berjalan terus dan
segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu
senantiasa berubah, karena didalam praktiknya apa yang kita anggap
benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. oleh karena itu,
tidak ada kebenaran yang mutlak, yang ada adalah kebenarankebenaran (artinya, dalam bentuk jamak) yaitu yang benar dalam
pengalaman-pengalaman yang khusus yang setiap kali dapat diubah
oleh pengalaman berikutnya.
James, William, Pragmatism and the Meanning of Truth (Introduction by.
A.J. Ayer, Harvard University Press, Massachussets, 1978)
E. Pengertian Aliran Empirisme

24

Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa pengetahuan


secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang menggunakan
indera. Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi mengenai empirisme,
di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan harus dicari dalam pengalaman,
pandangan bahwa semua ide merupakan abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan
apa yang dialami, pengalaman inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan
bukan akal
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/19600901198
7032-DIAN_USDIYANA/Tugas_Akhir.pdf

Empirisme adalah aliran yang menjadikan pengalaman sebagai sumber


pengetahuan. Aliran ini beranggapan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman
dengan cara observasi/penginderaan. Pengalaman merupakan faktor fundamental dalam
pengetahuan, ia merupakan sumber dari pengetahuan manusia.
Penganut empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek
yang merangsang alat-alat indrawi, yang kemudian dipahami di dalam otak, dan akibat
dari rangsangan tersebut terbentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek telah
merangsang alat-alat indrawi tersebut. Empirisme memegang peranan yang amat penting
bagi pengetahuan. Penganut aliran ini menganggap pengalaman sebagi satu-satunya
sumber dan dasar ilmu pengetahuan. Pengalaman indrawi sering dianggap sebagai
pengadilan yang tertinggi
Namun demikian, aliran ini banyak .memiliki kelemahan karena (1) indra
sifatnya terbatas, (2) indra sering menipu, (3) objek juga menipu, seperti
ilusi/fatamorgana, dan (4) indra dan sekaligus objeknya. Jadi, kelemahan empirisme ini
karena keterbatasan indra manusia sehingga muncullah aliran rasionalisme. Tokoh-tokoh

25

aliran ini antara lain Francis Bacon (1210-1292 M), Thomas Hobbes (1588-1679 M),
John Locke (1632-1704 M), David Hume (1711-1776 M), George Berkeley (16651753 M), Herbert Spencer (1820-1903 M), dan Roger Bacon (1214-1294 M).
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=98366&val=5094

F. Tokoh Aliran Empirisme


1. Francis Bacon (1210-1292 M)
Francis Bacon adalah perintis pertama Empirisme. Francis Bacon
bukanlah orang pertama yang menemukan arti kegunaan penarikan
kesimpulan secara induktif, dan juga bukan dia orang pertama yang
memahami keuntungan-keuntungan yang mungkin diraih oleh masyarakat
pengembangan ilmu pengetahuan.Tetapi, tak ada orang sebelum Bacon
yang pernah menerbitkan dan menyebarkan gagasan seluas itu
dansesemangat itu. Lebih dari itu, sebagian karena Bacon adalah seorang penulisyang
begitu

bagus,

dan

sebagian

karena

kemashurannya

selaku

politikusterkemuka, sikap Bacon terhadap ilmu pengetahuan betul-betul


punya makna penting yang besar.
Franz Magnis Suseno, Pustaka Filsafat 13 TOKOH ETIKA, Sejak Zaman Yunani
Sampai Abad ke-19, (Yogyakarta: Kanisius, 1997) hal. 123

Demikianlah kata-kata Bacon yang terkenal. Reputasi Francis Bacon sebagai


nenek moyang dari ilmu pengetahuan modern dikenal dan sangat
dihormati.Pertaliannya dengan pengetahuan dan kekuasaan dalam The New
Organon telah disalahartikan oleh banyak kritik pencerahan yang sangat

26

dihormati,termasuk

Adorno,

Horkheimer,

dan

Foucault.

Bacon

berpendapat bahwa diawal abad 17, pengetahuan tentang alam hampir


tidak ada karenakegunaannya kurang bernilai (undervalued) Argumennya
terkait erat dengan etika menyeluruhnya, yang mempertanyakan kekuasaan yang
mapan serta menguntungkan umat manusia.Mengatasi meremehkan
manusia, kapasitas mereka untuk mengembangkan dan melaksanakan
filsafat alam pada pijakan yang baru dandengan metode baru adalah
komponen penting untuk hubungan. kekuasaandan pengetahuan Bacon.
Pengetahuan dan kekuasaan tidak merupakan suatu kesatuan dan sama bagi
Bacon, tetapi mereka berhubungan; dalam arti bahwa kekuatan manusia
diperlukan untuk meningkatkan penyimpanan pengetahuanmanusia, dan
tidak dalam arti bahwa pengetahuan alam mengarah langsungke kuasa
untuk mendominasi sifat atau manusia .Peranan Francis Bacon di dalam
perkembangan ilmu dan filsafat ilmuumumnya digolongkan ke dalam
empat kelompok :1
Sebagai ahli filsafat ilmu; di sini ia menganjurkan suatu metode
baruuntuk meneliti alam.2.
Usahanya untuk mengklasifikasikan ilmu dan pengetahuan manusia
secara umum.3. Kesadaran yang ditimbulkannya bahwa penerapan praktis
dari ilmuyang baru akan memperbaiki kualitas kehidupan dan kontrol
manusiaatas alam.
Robert C. Solomon, Kathleen M. Higgins,
Sejarah Filsafat hal. 330.

27

2. Thomas Hobbes (1588-1679)


Hobbes beranggapan bahwa pengalaman merupakan permulaan segala
pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan,
yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama dengan berlainan.
Pengamatan inderawi terjadi karena gerak benda-benda di luar kita
menyebabkan adanya suatu gerak di dalam indera kita, gerak ini
diteruskan ke otak dan dari otak ke jantung. Didalam jantung timbullah
reaksi, suatu gerak dalam jurusan yang sebaliknya. Pengamatan yang
sebenarnya terjadi pada awal gerak reaksi tadi. Tentang dunia dan
manusia, ia dapat dikatakan sebagai penganut materialistis. Karena itu
ajaran hobbes merupakan sistem materialistis yang pertama dalam sejarah
modern. Materialistis yang dianut hobbes dapat di jelaskan sebagai
berikiut: segala sesuatu yang ada bersifat bendawi

yang dimaksud

bendawi adalah segala sesuatu tidak bergantung pada gagasan kita.


Teori pengenalan hobbes: sebagai penganut empirisme, pengenalan
diperoleh dari pengalaman. Pengalaman adalah awal dari segala dari
pengetahuan, juga awal pengetahuan tentang asas-asas yang diperoleh dan
diteguhkan oleh pengalaman. Segala ilmu pengetahuan diturunkan dari
pengalaman dengan demikian, hanya pengalamanlah yang memberi
jaminan kepastian. Hobbes memandang bahwa pengenalan dengan akal
hayalan mempunyai fungsi mekanis semata-mata. Pendapat atau

28

pertimbangan adalah penggabungan antara dua nama, sedangkan silogisme


adalah suatu soal hitung, dimana orang bekerja dengan tiga nama
Yang dimaksud dengan pengalaman ialah keseluruhan atau totalitas
pengamatan yang disimpan dalam ingatan atau digabungkan dengan suatu
pengharapan akan masa depan sesuai dengan apa yang telah diamati pada
masa lalu.
Untuk mempertegas pandangannya, hobbes tampak sekali sebagai
penganut nominalisme, dimana ia menyatakan bahwa tidak ada sesuatu
yang universal, kecuali nama belaka. Konsekuensi pendapat ini ialah
bahwa ide dapat digambarkan melalui kata-kata. Dengan kata lain, tanpa
kata-kata ide tidak dapat gambarkan.
Praja, Juhaya S (2008) aliran-aliran filsafat & etika edisi pertama h. 108-109
3. Jonh locke (1632-1704)
Ia menerima yang diusung oleh Descartes. Tetapi ia tidak setuju
dengan intuisi dan metode deduktif dan menggantikannya dengan
generalisasi berdasarkan pengalaman atau induksi. Ia banyak mengkritisi
pemikiran pemikiran kaum rasionalis seperti Descartes dengan Clear and
distinc idea, Adequate idea oleh Spinoza, Truth of reason oleh Leibniz.
Karena menurutnya sesuatu yang innate (bawaan) tidak ada dengan
berbagai argumen yang ia munculkan.

29

Tafsir, Ahmad., 2005. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai
Capra. Bandung; PT Remaja Rosdakarya Offset.
Bagi locke, mula-mula rasio manusia harus dianggap sebagai
lembaran kertas putih (as a white paper) dan seluruh isinya berasal dari
pegalaman. Bagi locke, pengalaman ada dua: pengalaman lahiriah
(sensation) dan pengalaman batiniah (reflection). Kedua sumber
pengalaman ini menghasilkan ide-ide tunggal (simple ideas). Ruh manusia
bersifat sama sekali pasif dalam menerima ide-ide tersebut. Namun ruh
juga mempunyai aktivitas juga dengan menggunakan ide- ide tunggal
sebagai batu bangunan. Ruh manusiawi dapat membentuk ide majemuk
(complex ideas) misalnya idea substansi. Locke kemudian menyatakan
bahwa dunia luar memang ada substansi, tetapi tidak hanya mengenal
cirri-cirinya saja.
Praja, Juhaya S. (2008) aliran-aliran filsafat & etika edisi pertama h.110
4. George barkeley (1665-1753)
Sebagai penganut empirisme, barkeley mencanangkan teori yang
dinamakan immaterialisme atas dasar prinsip-prinsip empirisme, jika locke
masih menerima substansi-substansi di luar kita, maka barkeley
berpendapat bahwa sama sekali tidak ada substansi-substansi material,
yang ada hanyalah pengalaman dari ruh saja. Esse estpercipe (being is
being perceived) yang artinya dalam dunia material sama saja dengan ideide yang saya alami. Demikian pula menurut pemikiran barkeley, ide-ide

30

membuat saya melihat suatu dunia material. Ia juga mengakui adanya


Allah, sebab Allah lah yang merupakan asal-usul ide-ide yang saya lihat.
Praja, Juhaya S (2008) aliran-aliran filsafat & etika edisi pertama h. 111
5. David hume (1711-1776)
Empirisme berpuncak pada david hume, sebab ini menggunakan
prinsi-prinsip empiristis dengan cara yang paling radikal. Terutama
pengertian substansi dan kausalitas (hubungan sebab-akibat) menjadi
objek kritiknya ia tidak menerima substansi, sebab yang dialami ialah
kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu terdapat bersama-sama
(putih, licin, erat dan sebagainya). Tetapi, atas dasar pengalaman tidak
dapat disimpulkan bahwa di belakangan ciri-ciri itu masih ada suatu
substansi tetap (misalnya sehelai kertas yang mempunyai cirri-ciri tadi).
Sebagai seorang empiristik, hume Nampak lebih konsekuen dari pda
barkeley.
Praja, Juhaya S (2008) aliran-aliran filsafat & etika edisi pertama h.112
Hume mengajukan tiga argumen untuk menganalisis sesuatu,
pertama, ada ide tentang sebab akibat (kausalitas). Kedua, karena kita
percaya kausalitas dan penerapannya secara universal, kita dapat
memperkirakan masa lalu dan masa depan kejadian. Ketiga, dunia luar diri
memang ada, yaitu dunia bebas dari pengalaman kita. Dari tiga dasar
kepercayaan Hume tersebut, ia sebenarnya mengambil kausalitas sebagai
pusat utama seluruh pemikirannya. Ia menolak prinsip kausalitas universal
31

dan menolak prinsip induksi dengan memperlihatkan bahwa tidak ada


yang dipertahankan, baik itu relations of ideas dan matter of fact.
Jadi, Hume menolak pengetahuan apriori, lalu ia juga menolak sebabakibat, menolak pula induksi yang berdasarkan pengalaman. Segala
macam cara memperoleh pengetahuan, semuanya ditolak. Inilah skeptis
tingkat tinggi. Sehingga Solomon menyebut Hume sebagai ultimate
skeptic. Dikarenakan sifat skeptisnya yang berlebihan Hume juga tidak
mengakui adanya Tuhan. ebenaran yang bersifat apriori seperti ditemukan
dalam matematika, logika dan geometri memang ada, namun menurut
Hume, itu tidak menambah pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan
kita hanya bisa bertambah lewat pengamatan empiris atau secara a
posteriori. Kebenaran yang bersifat apriori seperti ditemukan dalam
matematika, logika dan geometri memang ada, namun menurut Hume, itu
tidak menambah pengetahuan kita tentang dunia. Pengetahuan kita hanya
bisa bertambah lewat pengamatan empiris atau secara a posteriori.
Sholihin, Muhammad., 2007. Perkembangan Pemikiran Filsafat Klasik hingga
Modern. Bandung; CV. Pustaka Setia.
6. Herbert Spencer (1820-1903 M)
Herbert Spencer berpusat pada teori evolusi. Sembilan tahun
sebelum terbitnya karya Darwin yang terkenal. The Origin of Species
(1859 M), Spencer sudah meneribitkan bukunya tentang teori evolusi.

32

Empirismenya terlihat jelas dalam filsafat tentang the great unkwable


(fenomena-fenomena atau gejala-gejala). Memang besar dibelakang
gejala- gejala itu ada suatu dasar absolute, tetapi yang absolut itu tidak
dapat kita kenal. Secara prinsip pengenalan kita hanya menyangkut relasirelasi antara gejala-gejala. Yang dibelakang gejala-gejala ada sesuatu yang
oleh spenser disebut yang tidak diketahui.
https://odevitaselly.wordpress.com/2013/03/28/aliran-aliran-filsafat-empirisme/

33

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Merujuk pada uraian singkat mengenai analogi di atas, dapat ditarik
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Behaviorisme atau Aliran Perilaku (juga disebut Perspektif Belajar)
adalah filosofi dalam psikologi yang berdasar pada proposisi bahwa semua
yang dilakukan organisme termasuk tindakan, pikiran, atau perasaan
dapat dan harus dianggap sebagai perilaku. Aliran ini berpendapat bahwa
perilaku

demikian

dapat

digambarkan

secara ilmiah tanpa

melihat

peristiwa fisiologis internal atau konstrak hipotetis seperti pikiran.


Behaviorisme beranggapan bahwa semua teori harus memiliki dasar yang
bisa diamati tapi tidak ada perbedaan antara proses yang dapat diamati
secara publik (seperti tindakan) dengan proses yang diamati secara pribadi
(seperti pikiran dan perasaan).
Empirisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa
pengetahuan secara keseluruhan atau parsial didasarkan kepada pengalaman yang
menggunakan indera. Selanjutnya secara terminologis terdapat beberapa definisi
mengenai empirisme, di antaranya: doktrin bahwa sumber seluruh pengetahuan
harus dicari dalam pengalaman, pandangan bahwa semua ide merupakan
abstraksi yang dibentuk dengan menggabungkan apa yang dialami, pengalaman
inderawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan, dan bukan akal

34

B. Saran
Demikianlah pembahasan mengenai Aliran Behaviorisme dan Aliran
Emperisme ini. Makalah ini tidak lebih hanyalah suatu kumpulan
pemikiran dan teori dari berbagai sumber. Kami menyadari malakah ini
masih jauh dari sempurna, maka saran dan kritik dari para pembaca sangat
kami harapkan. Semoga bermanfaat untuk para pembaca.

35

Daftar Pustaka
Ahmadi, Abu. (2009). Psikologi Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka
Sarwono, Sarlito W. (2009). Pengantar Psikologi Umum (Edisi Pertama).
Editor: Eko A. Meinarno. Jakarta: Rajawali Pers.
Ahmad Tafsir,Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales Sampai Capra
(Bandung: Remaja Rosdakarya,2003)
Rahman, Saleh Abdul. (2004). Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif
Islam.
Walgito Bimo. (2010). Pengantar Psikologi Umum
Sarwono, Sarlito Wirawan. (1991). Berkenalan dengan Aliran-Aliran dan
Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang
James, William, Pragmatism and the Meanning of Truth (Introduction by. A.J.
Ayer, Harvard University Press, Massachussets, 1978)
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/1960090119870
32-DIAN_USDIYANA/Tugas_Akhir.pdf

http://download.portalgaruda.org/article.php?article=98366&val=5094

Franz Magnis Suseno, Pustaka Filsafat 13 TOKOH ETIKA, Sejak Zaman


Yunani Sampai Abad ke-19, (Yogyakarta: Kanisius, 1997)

36

Robert C. Solomon, Kathleen M. Higgins,Sejarah Filsafat

Praja, Juhaya S (2008) aliran-aliran filsafat & etika edisi pertama

Tafsir, Ahmad., 2005. Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai
Capra. Bandung; PT Remaja Rosdakarya Offset

Sholihin, Muhammad., 2007. Perkembangan Pemikiran Filsafat Klasik


hingga Modern. Bandung; CV. Pustaka Setia

https://odevitaselly.wordpress.com/2013/03/28/aliran-aliran-filsafatempirisme/

37