Anda di halaman 1dari 3

9.

Jelaskan bagaimana derajat perdarahan hingga dapat menyebabkan syok


hipovolemik!
Syok hipovolemik disebut juga sebagai preload syok yang ditandai dengan
menurunnya volume intravaskular, baik karena perdarahan maupun hilangnya cairan
tubuh.

Penurunan

volume

intravaskular

ini

menyebabkan

penurunan

volume

interventrikuler kiri pada akhir diastol yang akhirnya menyebabkan berkurangnya


kontraktilitas jantung dan menurunnya curah jantung.
Syok hipovolemik disebabkan oleh :
-

Kehilangan darah, misalnya perdarahan.


Kehilangan plasma, misalnya luka bakar.
Dehidrasi, cairan yang masuk kurang ( misalnya puasa lama ), cairan yang keluar banyak
( misalnya diare, muntah muntah, fistula, obstruksi usus dengan penumpukan cairan di
lumen usus ).
Syok Hipovolemik akibat Perdarahan ( Hemoragik )
Klasifikasi syok hemoragik
a. Pre syok ( compensated )
Terjadi apabila perdarahan kurang dari 15 % ( 750 ml ) volume darah. Tidak
Ada komplikasi, pasien mengeluh pusing, takikardi ringan dengan tekanan darah sistolik
90 100 mmHg.
b. Syok ringan ( compensated )
Terjadi apabila perdarahan 15 30 % ( 750 1500 ) volume darah. Timbul
penurunan perfusi jaringan dan organ non vital. Tidak terjadi perubahan kesadaran,
volume urin yang keluar normal atau sedikit berkurang, dan mungkin ( tidak selalu )
terjadi asidosis metabolik. Pasien juga akan terlihat takipnea, takikardi (nadi >
100x/menit), penurunan tekanan nadi, gelisah, berkeringat dingin, haus, anxietas ringan
dan tekanan darah sistolik 80 90 mmHg. Penurunan tekanan nadi adalah akibat
peningkatan kadar katekolamin, yang menyebabkan peningkatan resistensi pembuluh
darah perifer dan selanjutnya meningkatkan tekanan darah diastolik.
c. Syok sedang
Kehilangan darah 30-40%. Pasien biasanya mengalami takipnea dan takikardi,
penurunan tekanan darah sistolik, dan perubahan status mental yang signifikan, seperti
kebingungan atau agitasi. Sudah terjadi penurunan perfusi pada organ yang tahan

terhadap iskemia waktu singkat ( hati, usus, dan ginjal ). Sudah timbul oligouria ( urin
kurang dari 0,5 ml/kgBB/jam ) dan asisdosis metabolik, tetapi kesadaran masih baik, dan
tekanan darah sistolik antara 70 80 mmHg
Pada pasien tanpa cedera yang lain atau kehilangan cairan, 30-40% adalah
jumlah kehilangan darah yang paling kecil yang menyebabkan penurunan tekanan darah
sistolik.
Sebagian besar pasien ini membutuhkan transfusi darah, tetapi keputusan untuk
pemberian darah seharusnya berdasarkan pada respon awal terhadap cairan.
d. Syok berat
Perdarahan masif > 40 % dari volume darah dapat menyebabkan henti jantung.
Jumlah perdarahan ini akan mengancam kehidupan secara cepat. Perfusi didalam
jaringan otak dan jantung sudah tidak adekuat. Mekanisme kompensasi vasokontriksi
pada organ dan jantung. Sudah terjadi anuria dan penurunan kesadaran ( delirium,
stupor, koma ), kulit dingin dan pucat dan sudah ada gejala hipoksia jantung ( EKG
abnormal, curah jantung turun ).
Pada stadium akhir tekanan darah cepat menurun ( sistolik 0 40 mmHg ) dan
pasien menjadi koma, tekanan nadi menyempit (atau tekanan diastolik tidak terukur) lalu
disusul nadi menjadi tidak teraba, megap megap dan akhirnya terjadi mati klinis ( nadi
tidak teraba, apneu ). Henti jantung karena syok hemoragik adalah disosiasi
elektromaknetik ( kompleks gelombang EKG masih ada, tetapi tidak teraba denyut
nadi ), fibrilasi ventrikel dapat terjadi pada pasien dengan penyakit jantung.
Ada empat daerah perdarahan yang mengancam jiwa meliputi: dada, perut, paha, dan bagian
luar tubuh.
o Dada. Sebaiknya di auskultasi untuk mendengar bunyi pernapasan yang melemah,
karena perdarahan yang mengancam hidup dapat berasal dari miokard, pembuluh darah,
atau laserasi paru.
o Abdomen. Seharusnya diperiksa untuk menemukan jika ada nyeri atau distensi, yang
menunjukkan cedera intraabdominal.
o Paha. Kedua paha harus diperiksa jika terjadi deformitas atau pembesaran (tanda-tanda
fraktur femur dan perdarahan dalam paha).
o Seluruh tubuh pasien seharusnya diperiksa untuk melihat jika ada perdarahan luar.

Pada pasien tanpa trauma, sebagian besar perdarahan berasal dari abdomen. Abdomen
harus diperiksa untuk mengetahui adanya nyeri, distensi, atau bruit. Mencari bukti
adanya aneurisma aorta, ulkus peptikum, atau kongesti hepar. Juga periksa tanda-tanda
memar atau perdarahan.
Pada pasien hamil, dilakukan pemeriksaan dengan speculum steril. Meskipun, pada
perdarahan trimester ketiga, pemeriksaan harus dilakukan sebagai double set-up di
ruang operasi. Periksa abdomen, uterus,atau adneksa.

Anda mungkin juga menyukai