Anda di halaman 1dari 26

BAB II

DASAR TEORI
2.1 Pengertian Coal Bed Methane
Coal Bed Methane atau dikenal dengan istilah BCM merupakan
salah satu sumber energi alternatif yang relatif masih baru di
Indonesia, yang saat ini sedang hangat-hangatnya dibicarakan.
Sumber energi ini dapat diperbaharui penggunaannya. Gas metane
yang diambil dari lapisan batubara ini dapat digunakan sebagai energi
untuk berbagai kebutuhan manusia sehari-hari. Walaupun asal
usulnya dari energi fosil yang tidak terbarukan, tetapi gas ini masih
terus akan terproduksi bila lapisan batubara tersebut masih ada.
CBM adalah gas metana (gas alam) yang dihasilkan selama
proses pembatubaraan dan terperangkap dalam batubara. CBM
dikenal juga sebagai sweet gas, karena sedikitnya kandungan sulfur
(dalam bentuk hidrogen sulfida). Gas metana ini terperangkap dalam
batubara itu sendiri dan juga air yang ada didalam ruang pori-porinya.
Porositas matriks umumnya mengacu pada ukuran cleat (retakan
sepanjang batubara), dan bukan porositas batubara tersebut.
Porositas ini umumnya sangat rendah jika dibandingkan cekungan
tradisional (kurang dari 3%). Sumur-sumur CBM pada fase awal akan
memproduksi air untuk beberapa bulan dan kemudian sejalan dengan
penurunan produksi air, produksi gas metana akan meningkat karena
suatu proses dewatering dapat menurunkan tekanan pada batubara
dan akan melepas gas metana tersebut.

Gambar 2.1 Proses Dewatering 1

Gas metana ini terbentuk di dalam batubara melalui dua proses yaitu
THERMOGENIC gas dan BIOGENIC gas sekunder. Dalam hal ini
BCM yang paling dicari untuk eksplorasi adalah yang terbentuk
secara thermogenic.
Thermogenic gas terbentuk secara alami melalui proses
pembatubaraan (coalification process) yang merubah humic organic
material menjadi batubara. Gas tersebut termasuk metana, CO 2, dan
bisa

juga

etana

sekunder terbentuk

dan
pada

propane.
masa

Sedangkan biogenic
geologi

saat

ini

gas

melalui

mikroorganisme anaerobic yang terbawa dalam system air bawah


tanah

yang

aktif

setelah

proses

Baik thermogenic maupun biogenicmetana

pembatubaraan
secara

fisik

selesai.
diadsorpsi

sebagai lapisan monomolecular pada lapisan permukaan dari pori-pori


di dalam matrix batubara. Metana tertahan di dalam oleh tekanan
hidrostatik air dalam batubara. Rekahan alami di dalam batubara
selain berisi air juga memiliki permeabilitas atau kemampuan untuk

mengalirnya fluida. Dalam sumur CBM, air biasanya terproduksi di


awal yang menghasilkan penurunan tekanan reservoir.
Proses ini dinamakan dewatering phase dalam suatu sumur
CBM. Sejalan dengan penurunan tekanan, gas metana secara difusi
keluar dari matrix batubara melalui rekahan batubara yang saling
terhubung. Batubara ini merupakan reservoir yang sangat unik karena
terdapat source rock, reservoir dan juga trap didalamnya.
Beberapa ini karakteristik batubara yang cocok untuk BCM adalah
sebagai berikut:
1) Kandungan gas yang tinggi: 15 m3 30 m3 per ton
2) Permeabilitas yang bagus: 30 mD 50 mD
3)

Dangkal: Coal seams < 1.000 m (3.300 ft). Tekanan pada

kedalaman yang lebih dalam, pada umumnya terlalu tinggi untuk


mengalirkan gas bahkan ketika coal seamsnya sudah selesai
dewatering. Hal ini terjadi karena tekanan tinggi menyebabkan
berkurangnya permeabilitas batubara
untuk Jenis batubara: Umumnya proyek BCM memproduksi gas
dari Bituminous coals, akan tetapi bisa juga gas yang dihasilkan dari
jenis batubara Anthractie.
2.2 Analisa Reservoir
2.2.1
Batubara sebagai Reservoir.
CBM diproduksi dengan

cara

terlebih

dahulu

merekayasa batubara (sebagai reservoir) agar didapatkan


cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya. Proses rekayasa
diawali dengan memproduksi air (dewatering) agar terjadi
perubahan kesetimbangan mekanika. Setelah tekanan
turun, gas batubara akan keluar dari matriks batubaranya.
Gas metana kemudian akan mengalir melalui rekahan
batubara (cleat) dan akhirnya keluar menuju lobang sumur.
Puncak produksi CBM bervariasi antara 2 sampai 7 tahun.

Sedangkan periode penurunan produksi decline) lebih


lambat dari gas alam konvensional.

Gambar 2.2 Sketsa Gas Berada

CBM saat ini sedang menjadi salah satu tumpuan


harapan sebagai sumberdaya energi non konvensional. Di
Idnonesia juga sudah mulai di eksplorasi dan diharapkan
akan berproduksi dalam beberapa tahun kedepan. Batubara
adalah batuan yang kaya karbon berasal dari bahan
tumbuhan (gambut) yang terakumulasi di rawa-rawa dan
kemudian terkubur bersamaan dengan terjadinya prosesproses

geologi

kedalaman

yang

terjadi.

penguburan,

pembatubaraan

dengan

Dengan

bahan

meningkatnya

tanaman

kompaksi

mengalami

pemampatan,

melepaskan zat fluida (air, karbon dioksida, hidrokarbon


ringan, termasuk metana) karena mulai berubah menjadi
batubara. Dengan pembatubaraan dengan pendekatan
yang sedang berlangsung, batubara menjadi semakin
diperkaya dengan karbon dan terus mengusir zat terbang.
Pembentukan metana dan hidrokarbon lain adalah hasil dari
pematangan termal pada bara, dan mulai di sekitar subbituminous A untuk tahap tinggi mengandung bitumen
peringkat C, dengan

jumlah

meningkat secara signifikan.

metan

yang

dihasilkan

Gambar 2.3 Proses terbentuknya Batubara

Batubara dangkal memiliki peringkat rendah dan


mungkin belum menghasilkan metana dalam jumlah besar.
Lebih dalam bara ini terkubur, maka akan mengalami tingkat
pematangan

yang

lebih

Sehingga pembatubaraan tinggi

akan

besar.
menghasilkan

kuantitas lebih banyak metan daripada batubara dangkal.


Beberapa metana dalam batubara mungkin telah dihasilkan
oleh aktifitas bakteri metanogen. Gas biogenik dapat
diproduksi di setiap saat sepanjang proses pembatubaraan
dengan pendekatan jika hadir kondisi yang tepat.
2.2.2

Permeabilitas
Permeabilitas merupakan parameter yang sangat
penting untuk terpendamnya gas dalam batubara; akses
dari gas tersebut melalui rekahan alami dengan satu atau
beberapa

rekahan

hidrolik

yang

harus

memenuhi

permeabilitas untuk laju alir yang komersil. Permeabilitas


juga sangat parameter yang sangat sulit untuk di teliti. Oleh
karena itu, frekuensi dari rekahan alam yang interkoneksi,
tingkat dari retakan celah yang terbuka, arah dari ujung dan
permukaan
penyusutan

cleat,
pada

saturasi
desorpsi

air,

keruntuhan,

dan

mempengaruhi semua permeabilitas.

tekanan

matriks
in-situ

Injection Falloff Test


Dalam menentukan

tekanan

formasi

dan

parameter lain (Permeabilitas dan skin effect, cadangan


sumur) air di injeksikan dan falloff test menggunakan
system

SWiPS packer. Paker dapat juga digunakan

untuk mengangkat slug test jika data tidak begitu


kompeten dan tidak bisa menahan injeksi bertekanan
tinggi. Slug test bisa dikontrol keluar jika formasi yang
sudah di test sangat rendah permeabilitasnya ketika laju
alir sangat kecil.
Alat Yang dibutuhkan
a. Laju alir air konstan

dengan

menggunakan

positive

displacement pump (pompa rig)


b. System packer ditunjukan pada gambar di bawah, dengan
modul aliran untuk mengukur laju alir injeksi dan WHP. Aliran
modul juga di digunakan untuk mengatur packer.
c. Memory gauge untuk turun ke lubang sumur (didalam packer)
untuk mengukur tekanan reservoir dan temperature selama
injeksi dan pressure recovery(pressure falloff. Berikut 2
pengukuran tekanannya yaitu:
Troll yaitu pengukuran tekanan dengan hingga 700m

water head (sama 1000psi)


dataCan pengukuran tekanan dari 3000 psi tekanan
terbatas

10

Gambar 2.4 Pemasangan Packer

Metode Testing
1. Pada saat operasi drilling/coring akan menutup target yang
berpotensi (lapisan/ seams batubara atau ukuran batubara)
sistem packer di di pasang pada surface untuk mengalirkan ke
dalam sumur. Modified Landing Ring(MLR) di pasang dengan
hati-hati di dalam inti core. Lock Thight Adhesive digunakan
sebagai landing ring dari PQ
2. Pemilihan zona test adalah keputusan bersama antara site
geologist, drilling engineer dan well site geologist engineer.
Kriteria berikut yang akan di pertimbangkan :
Ada baiknya berkompeten (permeabilitas rendahdan
tidak ada retakan) formasi untuk mengatur packer lebih

tinggi dari seam coal atau zona target


Zona tes ketebalannya 2,5 m agar cukup untuk
pemasangan packer pada bagian bawah luar yang
panjang dari core bit dan juga bisa digunakan pada rat
hole down bawah dari lubang yang mungkin diisi oleh

kerikil.
Pemilihan ukuran packer yaitu digunakan untuk tiap core
pipe assembly (i.e PQ packer untuk PQ drilling pipe dan
HQ packer untuk HQ drilling dan pipa coring)

11

Gambar 2.5 Pemilihan Packer

3. Terlebih dahulu melakukan beberapa well test : system packer


di tes pada permukaan di ikuti dengan prosedur tes permukaan
IPI. Untuk yakin tidak ada kebocoran danpin sheers dalam
tekanan 500 psi dengan sisa kenaikan packer dengan tidak
adanya penurunan tekanan pada packer dalam beberapa jam (2
atau 3 jam). Menggunakan modifikasi end cap (bagian 42)
dengan dial pressure gauge untuk memastikan sisa kenaikan
packer. Inspeksi visual tidak akan bisa mendeteksi kebocoran
bagian dalam pada system packer. Kedua dial pressure gauge
yang tersedia untuk tes permukaan menggunakan modifikasi
end cap (kuning) untuk kedua packer PQ dan HQ.

Gambar 2.6 Pengetesan Packer dengan modifikasi end cap

Gambar 2.7 Tekanan Konstan

12

Menggunakan

Telfon

tape

(dengan

syarat)

ketika

mengkoneksikan pressure gauges pada end cap. Ketika


tes berhasil ( tidak dana penurunan tekanan selama
surface test). Secara manual packer akan mengempis
dengan menarik coring assembly kemudian hati-hati
lepaskan pressure gauge untuk melepaskan tekanan. Nilai
perhitungan dari tekanan yaitu tidak begitu penting ( yaitu
diantara 400 psi~27 bar), cukup memastikan tekanan
tidak turun packer di pompakan. Pressure inside akan
menurunkan

packer

pada

waktu

memerikasa

kemungkinan kebocoran diantara packer dan core pipe


dan jika tidak tampak kebocoran pada pemeriksaan TAM
valve dalam system SWiSP.
Down Hole memory gauge akan dikalibrasikan dan di
program dengan cukup memory (sebih dari 16 jam) untuk
merekam dari durasi test. Pembacaan interval dari 5
hingga 10 second akan cukup untuk mengukur ukuran
dari temprerature dan tekanan. Pengukuran temperature
bisa

menggunakan

diagnose

(trouble

shooting)

maksudnya ; bisa digunakan juga seterusnya untuk


membawa analisa Statistic Formation Temperature Test
(SFTT jika di butuhkan. Memory gauge yaitu ditempatkan
pada bagian dalam packer hanya saja sebelum running
the

packer

system

ke

dalam

sumur

dan

harus

bertanggung jawab adalah site geologist dan wel test


engineer.
Menyebarkan

packer

kedalam

sumur

untuk

menggambarkan prosedur SWiPS. Perawatan harus


diambil ketika lifting dan handling packer assembly
dengan rig cairn (lihat gambar figure 6)

13

Gambar 2.8 Proses Pemasangan Packer

Atau packer yaitu berkumpul pada lantai rig dan


menggunakan C-claps sebagai alternative run down ke
dalama

sumur

dengan

menggunakan

prosedur

SWiPS.
4. Koneksi house water kedalam sumur ; pastikan bahwa disana
tidak ada udara yang terperangkap pada dril pipe. Pompa air
kedalam sumur dengan laju rendah saat memonitori WHP dan
laju alir. Kenaikan WHP pada tahap 100 psi sampai 400 psi dan
menahan dari 10-15 menit.muntuk memastikan packer dipompa
penuh. Kenaikan tekanan pada 500 psi dan mencatat
penurunan secara tiba-tiba dalam WHP ketika pin sheers.
Seharusnya tekanan selanjutnya mengalami kenaikan 700 -800
psi sebelum sheering pin; hal ini akan menjadi petunjuk dari
thight formation.
5. Pada saat packer dipompakan dan inflasi pin pada sheered out,
hentikan pompa, berikan formasi pada reach ststic (near static)

14

tekanan (imbang) dari 30 menit. Level atau tekanan air pada


HQ/PQ rods bisa diukur dengan menggunakan electronic tape
(dipper) atau tekanan transducer hung dari permukaan, pastikan
kondisi imbang untuk dijangkau. Jika tekanan reservoir yaitu
hidrolik atau near hidrolik tekanan iimbang akan

dijangkau

dalam waktu singkat


6. Atur injeksi dari laju alir untuk menyesuaikan laju alir
menggunakan rig pump untuk ~101/min, saat menggunakan
bypassing valve. Sambungkan pipa air menju ke sumur dan
mulai injeksi fluida kedalama sumur, jika WHP mengalami
kenaikan

dengan cepat. Turunkan laju lair injeksi bawah ~5

1/min. jika WHP tidak signifikan kenaikan sedikitpun yang


pertama 10 menit, kenaikan laju injeksi. Dilanjutkan injeksi air
dengan minimalnya 4 jam dengan laju alir yang konstan. Selalu
lakukan monitoring laju alir dan WHP dari menghubungkan
aliran modul dengan laptop and. Seharusnya :
Isi (dengan air) celah pada annulus diantara
permukaan casing dan core pipe terlebih

dahulu kemudian mulai injeksikan.


Tidak ada air yang mengalir pada permukaan
dalam annulus si samping permkaan casing
dan

core

pipe.

Ini

akan

menjadi

tanda

kebocoran atau air bypassing packer , berarti

data uji yang tidak berharga.


Tekanan WHP selama injeksi

melebihi 400 psi.


Pada setiap pembacaan manual dari laju alir

idak akan

dan WHP dari waktu ke waktu( setiap 5-10


menit) dalam hal ada perekaman data yang
gagal.
7. Keamanan sumur sampai pressure recoveri/falloff time.saat
durasi dari tekanan falloff telah berlalu packer bisa didapatkan
kembali dari sumur.

15

8. Memulihkan packer(mengosongkan perlahan, dengan menarik


menggunakan wire line 3 dan menunggu 5 sampai 10 menit.
Packer harus mengempis dan akan lebih mudah untuk di tarik
dan memulihkan dengan melampauinya.
9. Pada saat packer mencapai permukaan. Sumur harus siap
untuk coring lebih lanjut atau pemboran tergantung dalam
program.
10. Buka packer akhir dan mengambil memory gauge. Pindahkan
data dari memory gauge dan simpan dengan format: .csv dan
.txt. jangan meninggalkan memory gauge di dalam packer pada
permukaan terkena sinar matahari langsung.
11. Memeriksa membrane karet dari packer

yang

mungkin

terbentuk tanda (pengaruh formasi) dengan melihat, jika ada


water bypassing pada packer . kemudian periksa dan pastikan
tidak ada kerusakan pada packer, tempatkan kembali shear pin
dan setiap seal yang rusak. Mebuat packer siap kembali untuk
kemudian dijalankan(test). Packer harus di tes untuk di pastikan
akan tetap meningkat sekali run down ke dalam sumur seperti
poin 3 diatas.

Diagnostic Fracture Injection Test (DFIT)


DFIT adalah salah satu bentuk injeksi kedalam
lubang sumur Cbm yang pertama ditemukan dan dipakai
pada convensional reservoir dan batu bara. DFIT alatnya
kecil, harganya terjangkau, dan waktu tes cepat untuk
reservoir gas konvensional dan CBM. Test terdiri dari

beberapa analisis, yaitu:


1. G-function Dericative Analysis yaitu mengidentifikasi kebocoran
dan penutupan
2. Calibrated Before Clousure Analysis menggunakan modifikasi
dari metode Mayerhofer untuk menentukan permeabilitas dan
ketahan permukaan rekah.
3. After Closure analysis yaitu untuk menentukan tekanan pori dan
permeabilitas.

16

Keunikan dari penggunaan tes ini pada batu bara yaitu


sebagai berikut :

Laju injeksi tidak terbatas dengan tekanan rekahan


Pembuatan dari rekahan selama ijeksi itu akan menjadi

pertimbangan.
Terutama tanggungan

pada

setelah

analisa

sampai

penutupan.
Setelah bisa dibakai apakah rekahan akan tercipta atau tidak
Setelah injeksi volume sedikit, dan terkurung
dalam waktu lama cukup mengamati aliran Pseudoradial,
akhir waktu, data setelah penutupan bisa dianalisa untuk
tekanan pori dan permeabilitas. DFIT sama halnya
dengan The Impulse Fracture Test yang di usulkan oleh
Abousleiman, yaitu metodenya dengan menggunakan
data akhir dan oleh sebab itu keduanya bisa di pakai atau
tidak. Jadi, jika fracture pressure adalah hal biasa jika
melebihi below fracture pressure sampai injection falloff
test(BFT-IFT), data falloff tetap bisa di analisa dengan
DFIT metode after-closure analysis.

2.2.3

Porosity.
Batubara memiliki porositas dual system. Macropores
yaitu sebuah celah dalam system cleat dan lebih banyak
rekahan esensial alami untuk transportasi dari air dan
metana melalui seam tapi relative tidak pentik untuk
penyimpanan metana. Celah penyimpanan dari cleat dan
frackture alami lainnya berisi air, metana bebas, dan metana
yang terlarut dalam air, tapi porositas primer dari makripores
menentukan

kapasitas

penyimpanan

air.

Porositas

macropores memiliki dampak langsung pada operation cost

17

untuk menangani dan mengatur dari air formasi yang


terproduksi.

2.2.4

Analisa Cadangan
Gas In Place
Gas in place merupakan perhitungan perkiraan
cadangan awal baik kandungan secara keseluruhan
maupun kandungan gas metananya saja. Biasanya
perhitingan Gas In Place dilakukan oleh seorang
reservoir engineering yang sudah ahli dibidangnya
khususnya

dalam

memperkirakan

cadangan

awal

dengan data-data yang baikdata geologi maupun datadata sumur yang di peroleh. Kegiatan ini dilakukan
setelah dilaksanaknnya pemboran eksplorasi. Rumor
gas in place(GIP) pada cbm yaitu:
GIP= 1359,7 x A x h x x Gc
Dimana
A= Luas (acre)
h= Ketebalan (ft)
= Densitas Rata-rata (gr/cm3)
Gc= gas content rata-rata (SCF/ton)

Decline Curve

18

Gambar 2.9 Decline Curve

Estimasi cadangan reservoir dan peramalan produksi


yang akan datang adalah bagian penting daripada proses
evaluasi pada industri minyak dan gas bumi, tapi pekerjaan
tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan dan
membutuhkan suatu ketelitian. Kedua masalah tersebut
kemungkinan dapat diselesaikan dengan metode-metode
perhitungan yang ada (misalnya: Material Balance, decline
curve dan Simulasi Reservoir). Metode material balance dan
simulasi

resevoir

kemungkinan

tidak

dapat

dilakukan

dikarenakan beberapa data yang dibutuhkan tidak tersedia,


perhitungan dibatasi oleh waktu yang ada atau adanya
kebutuhan

yang

mendesak

terhadap

informasi

yang

diinginkan. Untuk itu dibutuhkan suatu metode yang dapat


digunakan dengan cepat tanpa mengabaikan keakuratan
atau kualitas dari output yang dihasilkan, dimana metode
tersebut adalah Decline Curve.
Decline Curve (analisa kurva penurunan produksi)
adalah salah satu metode untuk melakukan peramalan
produksi yang akan datang dimana konsep dasarnya adalah
trend atau pola produksi dimasa lampu diperkirakan akan
terjadi juga dimasa yang akan datang. Decline curve adalah
metode yang paling umum digunakan dalam peramalan
produksi karena mempunyai beberapa kelebihan-kelebihan
disamping beberapa kelemahannya. Kemudahan untuk
mendapatkan data yang dibutuhkan, kemudahan untuk
memplot data, hasilnya berbasiskan waktu dan kemudahan
untuk

melakukan

analisa

adalah

kelebihan-kelebihan

19

dari decline curve. Adapun kelemahannya adalah dibutuhkan


paling sedikitnya enam bulan data sejarah produksi (lebih
baik minimal 2 tahun), dan tidak dapat digunakan untuk
perubahan metode produksi.
2.2.5

Well Spacing and Drainage Area


Gangguan dari satu sumur yang berdekatan telah
menjadi pengaruh positif untuk produksi metana jika
dewatering dari seam dapat dimudahkan dengan gangguan
tersebut. Permeabilitas, hydraulic fracturing length, dan wel
spacing yaitu terutama yang paling penting di ketahui untuk
bidang

pengembangan

karena

efek

gangguan

atau

interferensi yang diinginkan. Perhatian penting dari tiga


parameter bidang pengembangan yaitu efek pada tingkat
dan kuantitas air yang dihapus dari coalseam terusmenerus.

Ini

juga

berarti

mengembangkan field-wide

bahwa

proyek

CBM

bukan berarti mengisolasi

sumur. Lima spot pilot project yaitu syarat minimal untuk


mengevaluasi kinerja sumur di lapangan.

2.2.6

Enhanced Recovery
Kemajuan teknik dapat membuat proses CBM menjadi
kenyataan yang komersil, dan itu sudah menjadi teknik
inovasi tambahan dan dapat meneruskan proses. Enhanced
recovery mungkin bisa memberikan pemecahan untuk
kedepan itu akan membuat marginal batubara sifat ekonomi
yang menarik dan mungkin membuat target yang layak
dalam batubara. ECBM (Enhanced Coal Bed Methane
Recovery) adalah teknik untuk meningkatkan keterambilan

20

CBM. Pada teknik ini, gas injeksi yang umum digunakan


adalah N dan CO2. Disini, hasil yang diperoleh sangat
berbeda tergantung dari gas injeksi mana yang digunakan.
Gambar di bawah ini menunjukkan produksi CBM dengan
menggunakan gas injeksi N dan CO2.

Gambar 2.10 ECBM dengan N dan CO2

Bila N yang digunakan, hasilnya segera muncul sehingga


volume produksi juga meningkat. Akan tetapi, karena N dapat
mencapai sumur produksi dengan cepat, maka volume
produksi secara keseluruhan justru menjadi berkurang.
Ketika N diinjeksikan ke dalam rekahan (cleat), maka
kadar N di dalamnya akan meningkat. Dan karena konsentrasi
N di dalam matriks adalah rendah, maka N akan mengalir
masuk ke matriks tersebut. Sebagian N yang masuk ke dalam
matriks akan menempel pada pori-pori. Oleh karena jumlah
adsorpsi N lebih sedikit bila dibandingkan dengan gas metana,
maka matriks akan berada dalam kondisi jenuh (saturated)
dengan sedikit N saja.
2.3 Kontruksi Sumur
2.3.1 Pemboran
Pemboran

sumur

coalbed

methane

yaitu

memperhatikan data pada reservoir yang terkumpul dari


lubang core. Meminimalisasi kerusakan karena underbalance

21

yang berlebihan. Kerusakan pada underbalance adalah


ketika tekanan sumur (Ph) lebih besar dari tekanan formasi
(Tf)
Tes permeabilitas akan menetapkan celah pada
sumur sebagai pertimabangan bahwa akan menggunakan
directional

drilling.

Pada

kedalaman

lebih

dari

ft

permeabilitas batubara rendah penyelesaiannya dengan


pemboran horizontal. Bagi beberapa orang memilih teknik
pemboran sumur horizontal yang tidak biasa pada reservoir
karena lebih terjamin. Pemboran multilatheral pada lapisan
yang menggunakan dua lubang bor

akan lebih menjamin

keberhasilanya.

Drill Bits.
Pemilihan dari bit/ mata bor yang akan di gunakan
untuk membor batubara yaitu menentukan terlebih dahulu
teknik pemborannya.
Beberapa bit dalam pemboran Coalbed Methane yaitu :

No
1.
2.
3.

Jenis Bit
Air-Hammer Bits
Tri-Cone Rotary Bits
Rotary Bit (yang di

Teknik Pemboran
Air Drilling
Fluid Drilling
Batubara yang lebih lembek

sirkulasikan air)

daripada Limestone dan


Sandstone

Fluida Pemboran
Pemilihan fluida pemboran untuk sumur CBM akan
dibuat setelah melihat keadaan geologi dari batubara.
Sedikit menggunakan surfactant, lost-circulating solids,
dan

polymers

yang

akan

megurangi

kerusakan

permeabilitas. Jika udara dan asap/kabut yang digunakan


sebagai lumpur pemboran, tidak ada addictive yang
ditambahkan. Foams akan membutuhkan
surfactant

penambahan

untuk memberikan lebih banyak busa ketika

22

sedang di campurkan

dengan air. Lumpur pemboran

mungkin mempertahankan tekanan.


Metode Air Drilling dan menggunakan air murni
kedua bahan tersebut cukup ekonomis danndan ramah
lingkungan. Air Drilling menaikkan dan menurunkan biaya,
karena tidak ada lumpur yang digunakan; beberapa sumur
telah di bor sampai Total Depth (TD) dalam 1 atau 2 hari.
Masalahnya Lost Circulation akan lebih besar berkurang
dengan Air Drilling dan lebih sedikit Cutting-nya untuk di
buang. Sangat banyak basin batubara sekarang yang di
bor dengan Metode Air Drilling.
Bagian yang horizontal mungkin akan di bor
dengan air dan tri-cone bits, tapi pada bagian vertical dari
lubang dikurangi dengan menginjeksikan udara. Hal ini
untuk

mempertahankan

tekanan

underbalance

pada

formasi. Seorang operator harus siap menyelesaikan dan


mempertahankan pada kenaikan volume dari gas metana
yang bebas pada saat pemboran dari beberapa cabang
horizontal dalam bagian batubara. Beberapa pola bisa
mendekati 25.000 ft dari lubang openhole

horizontal

batubara.
2.3.2 Penyemenan
Penyemenan sumur CBM

sama halnya dengan

penyemenan sumur-sumur biasa kecuali pada sumur CBM ini


memerlukan pengawasan invasi fluida yang menjadikan sulit
yaitu cleat system/system rekahan. Mungkin pada saat
lubang telah di bor underbalance menggunakan udara atau
lightweight fluid system, operasi penyemenan harus bisa
mengurangi overbalance untuk mencegah migrasi gas bebas
ke dalam semen setelah penempatan yang baik. Merujuk
pada penerapan kinerja yang baik untuk mengoptimumkan

23

laju alir, mempengaruhi keadaan lubang dan pemusatan dari


casing akan membantu pemisahan jarak batubara dan
membantu mengarahkan menuju stimulating treatment.
a. Foam Cement
Foam Cement (semen Busa) yaitu memberikan
efek lentur, kokoh dan tahan lama pada zona yang
pemisahan untuk sumur cbm. Pada kelas ringan dari
foam cement bertempat, tanpa tekanan dalam struktur
rekahan

yang

unik

dari

batubara.

Mengurangi

kecenderungan dari semen melebihi gradien fracture


(Patahan/rekahan) dari batubara. Jika gradient telah
melebihi,

formasi

batubara

mungkin

mengalami

kerusakan dan menyembabkan semen menjadi lost ke


formasi daripada penyemenan casing menuju ke tempat
seperti yang telah didesain.
b. Lightweight Additives
Walaupun banyak tipe semen yang digunakan, tipe
yang paling sederhana adalah Kelas A (Tipe 1) semen
Portland umumnya. Semen ini di campur pada densitas
mulai dari 15,6 lb/gal dengan mencampurkan rapi:
densitas bisa menjadi turun dengan menambahkan
additive. Bentonite, pozzolans, gas microsphere, partikel
dari batubara atau aspal, dan material berserat semua
bisa di pakai untuk meringankan densitas dan membantu
mencegah lost circulation. Karena batubara terdapat
banyak Natural Fracture, atau rekahan, pada semen lebih
baik menggunakan material granular (butiran kecil)

24

Gambar 2.11 Proses Dewatering 2

Gas metan tersimpan dalam batubara sebagai


komponen gas yang teradsorpsi pada atau di dalam
matriks

batubara

dan

gas

bebas

dalam

struktur

micropore ataucleat lapisan batubara. Gas ini berada di


tempat tempat yg menjebaknya terutama karena adanya
tekanan reservoir. Apabila kita dapat mengurangi tekanan
reservoir

ini,

terperangkap

maka memungkinkan
akan

dapat keluar

gas

yang

darimicropore pada

batubara ini.
Untuk mengeluarkan gas metan ini tentusaja harus
mengurangi tekanan dengan mengalirkan seluruh fluida
yang ada terutama air. Ya, air akan sangat banyak
terdapat

dalam

sela-sela

lapisan

(cleat)

juga micropore (porositas mikro) pada batubara ini.


Pada proses penambangan batubara, sering juga
dijumapi air ini. Seringkali air membanjiri pada lubanglubang pertambangan batubara. Dan tentusaja diikuti
oleh keluarnya gas-gas metan. Itulah sebabnya seringkali
terdengar adanya ledakan tambang yang merupakan
akibat

terbakarnya

gas

metan

yang

terakumulasi

dilubang tambang.
Untuk mengurangi resiko ledakan terowongan
tambang serta memanfaatkan gas metan yang keluar
inilah maka ide CBM muncul sebagai solusi untuk dua hal
yang saling berhubungan.

25

Berbeda dengan proses produksi minyak dan gas


konvensional dimana tekanan gas cukup besar sehingga
gas akan keluar dahulu yang kemudian akan diikuti oleh
air. Dibawah ini perbandingan komposisi air dan gas
pada proses pengurasan air hingga proses memproduksi
gas.

Gambar 2.12 Tahap produksi CBM

Tentusaja pada saat awal sumur ini dipompa


hanya air yang diproduksi. Setelah tekanan pori-porinya
berkurang maka akan keluarlah gasnya. Proses awal
inilah

yang

memerlukan

kesabaran,

karena

dapat

memakan waktu hingga 3 tahun, bahkan mungkin 5


tahun masih akan memproduksi air.
Walaupun memakan waktu cukup lama, saat
ketika memproduksi air ini akan tetap terproduksi gas
metana walau dalam jumlah yang sangat kecil. Juga gas
ini tentusaja memiliki tekanan yang sangat rendah.
Bahkan

sering

diperlukan

kompressor

mempompakan gas ke penampungan..

untuk

26

Gambar 2.13 Perbedaan CBM dengan gas konvensional

Gas konvensional memiliki tekanan cukup tinggi


sehingga produksi awalnya sangat besar dengan sedikit
atau bahkan tanpa air yang ikut terproduksi. Dengan
tekanan yang seringkali sangat tinggi ini menjadikan gas
ini dapat ditransfer melalui pipa tanpa perlu pompa. Gas
konvensional berisi metana C1H4 dan komponenkomponen gas hidrokarbon lainnya, bahkan dapat juga
mengandung gas butana atau bahkan pentana yang
sering kali menghasilkan kondensat.
Gas CBM seringkali berada pada lapisan batubara
yang dangkal, sehingga memiliki tekanan yang sangat
rendah. Pada masa produksi awal justru hampir 100%
air. Dengan tekanan rendah ini maka apabila akan
mengalirkan

gas

ini

memerlukan

kompressor untuk

mendorong ke penampungan gas. Isinya diatas 95%


hanya metana. Gas lainnya sangat sedikit. Sehingga
sering disebut drygas atau gas kering.
2.4 Struktur Pembiayaan dan Pengembangan CBM
Karena karakteristiknya yang jauh berbeda dengan
gas konvensional ini maka metode pengembangan dan
pembiayaannya

juga

berbeda.

Jumlah

sumur

yang

diperlukan akan meningkat terus dan dapat berjumlah


ratusan bahkan ribuan sumur untuk memperoleh gas yang
cukup

signifikan

diproduksikan. Hal

ini

struktur pembiayaannya seperti dibawah ini.

mempengaruhi

27

Gambar 2.14 Pembiayaan CBM (by GCA)

Selain

struktur

pengembangan

yang

pembiayaan
berbeda.

CBM

dan

metode

juga

memiliki

perbedaan dalam ketidak pastiannya. Tentusaja setiap


kegiatan eksplorasi selalu ada ketidak pastian. Namun
ketidak

pastian

dalam

pencarian

(eksplorasi)

dan

pengembangan (eksploitasi) CBM ini tidak sama dengan


gas konvensional.

28

Gambar 2.15 Ketidakpastian CBM dan gas konvensional .

Ketidakpastian

volume

CBM

yang

dapat

diproduksikan sangat besar diawal. Hal ini disebabkan CBM


belom lama dikembangkan dibanding gas konvensional.
Belom banyaknya perkembangan teknologi dan teori
tentang CBM ini menjadikan ketidakpastian yang sangat
lebar. Namun selaras dengan pengalaman, maka semakin
berpengalaman dan semakin lama diproduksikan CBM-pun
akan semakin lebih mudah ditebak (predictable).

2.5 Dampak Lingkungan Akibat Penambangan CBM.


Setiap kegiatan pemanfaatan bumi, bahkan hanya
untuk rumah tinggal selalu memiliki dampak. Untuk
memanfaatkan CBM pun juga tidak lepas dari dampak itu.
Yang

paling

sering

menjadi

tantangan

pemeliharaan

lingkungan antara lain banyaknya air yg terproduksi, serta


bagaimana dengan metana ini.
Batubara terbentuk didaerah rawa yang berupa air
tawar. Demikian juga air yang terperangkap ini juga berupa
air tawar yang tentusaja akan bercampur dengan garamgaraman.

Dengan

demikian

diperkirakan

air

yang

terproduksi berupa air yang memiliki salinitas rendah


dibanding air laut.
Beberapa metode digunakan untuk membuang air
sumur; yang paling umum adalah untuk mengembalikan
dengan menginjeksikan air ke dalam formasi batuan bawah
permukaan. Pendekatan lain adalah untuk membangun

29

kolam penampungan, atau infiltrasi, kolam. Di daerah


dingin, air ini tentusaja akan beku di musim dingin dan
garam akan dipisahkan, sehingga air kemudian dapat
dibuang.

Sebagian

besar

air

tawar

diekstrak

dapat

digunakan untuk irigasi tanaman atau lahan pertanian. Para


ilmuwan terus melakukan penelitian pada metode yang
ramah

lingkungan

baik

untuk

membuang

atau

menggunakan kembali air diekstraksi.


Sumur CBM juga dapat memberi kontribusi positip
dengan

mengurangi

proses

alamiah

yang

dikenal

sebagai migrasi metana, yang terjadi saat kebocoran


metana ke daerah penduduk dan mencemari sumber air.
Meskipun migrasi metana dapat terjadi secara alami atau
dapat

berasal

dari

operasi

pertambangan

batubara,

beberapa ahli percaya bahwa ekstraksi metana dari lapisan


batubara bersama dengan sumur pengembangan tambahan
justru menguatkan proses migrasi.
Meskipun ada potensi dampak lingkungan yang
negatif

yang

berkaitan

dengan

CBM,

ekstraksi

dan

pemanfaatan tidak menyebabkan gas metan yang akan


secara alamiah terbebaskan selama pertambangan batu
bara ke atmosfer. Sebagai gas rumah kaca, metana diyakini
yang paling kuat dari semua agen pemanasan. Dengan
memanfaatkan dalam proses pembakaran (combustible
engine) sehingga gas ini menjadi CO2 dan H20 dinilai lebih
ramah

ketimbang

melepas

gas

metan

di

atmosfer.

Membatasi jumlah metana yang keluar sebagai gas metana


tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, namun juga
meningkatkan aspek keselamatan penambangan.