Anda di halaman 1dari 6

Faktor yang mempengaruhi retensi pasak :

1. Panjang pasak
Ketentuan panjang pasak :
A=B
(B) Panjang pasak = (A) Panjang mahkota klinis
B=D
(B) Panjang pasak = 2/3 (D) Panjang akar
C

menyisakan gutta perca sepanjang 4 mm (3-5 mm) dari apical

Rumus panjang kerja pasak


PkP = (2/3 x PA) + PM

PA = PkE PM

PkP= panjang kerja pasak


PA = Panjang Akar
PM = Panjang Mahkota
PkE = Panjang kerja endo

2. Diameter pasak
Lebar pasak

paling tidak 1/3 diameter akar

> 1/3

dinding saluran akar menjadi tipis

< 1/3

pasak dapat patah terhadap tekanan pengunyahan

3. Keruncingan pasak
Keuntungan pasak berisi sejajar : Akan lebih retentif daripada pasak meruncing
memberikan tekanan yang lebih besar daripada
pasak berisi sejajar.
Kekurangan pasak berisi sejajar : berpotensi memecah akar.
4. Konfigurasi permukaan pasak
Konfigurasi permukaan pasak dikategorikan :

a. Bentuk geometrinya

sejajar dan meruncing

b. Konfigurasi permukaannya :
1. Rata (smooth)

bersifat pasif

2. Bergerigi (serrated)

lebih retentif dari pasak rata

3. Bergalur (threaded)

bersifat aktif dan paling retentif

Macam-macam pasak :
1. Pasak tuang (custom dowel core)
Adalah inti pasak logam yang dibuat secara individual sesuai dengan hasil preparasi
dari masing-masing gigi.
Indikasi :
Sisa akar gigi 1/3 arah servikal
Diameter saluran akar besar > 1/3 diameter akar
Mahkota gigi pasca perawatan saluran akar yang sudah rusak dan tidak dapat di
restorasi dengan mahkota jaket atau inlei
Sebagai abutment GTC dan GTS
Koreksi gigi malposisi (sudah dirawat perawatan saluran akar)
Kontra indikasi :
Close bite
Kesehatan umum tidak baik
Gigi berakar pendek (lebih pendek dari panjang mahkota dan tipis)
Pasien dengan bad habit
Keuntungan :
Dapat memperbaiki/koreksi posisi gigi yang kstrim (pada gigi yang sudah
dilakukan PSA)
Kerugian :
Pemasangan pasak tidak bias dalam 1 kali kunjungan

2. Pasak prefabricated (buatan pabrik)

Adalah pasak siap pakai yang di poduksi di pabrik, umumnya terdiri dari berbagai
ukuran dan bentuk, dapat terbuat dari bahan logam dan non logam. Bahan logam
antaralain platinum-gold-palladium (Pt-Au-Pd) , stainless steel, titanium, brass,
danchromium-containing alloy. Sedangkan, bahan non logam antara lain carbon
fiber,ceramic, glass fiber, dan woven fiber.
Keuntungan :
1. Pasak siap pakai yang terbuat dari bahan logam memiliki keunggulan dalam
kekuatan

karena

dapat

dihindari

kesalahan

pengecoran

logam

yang

mengakibatkankelemahan pasak
2. Pasak yang terbuat dari ceramic, glass fiber dan woven fiber mempunyai
keunggulan estetik dibandingkan pasak yang terbuat dari logam.
Kekurangan :
1. Pasak yang terbuat dari bahan logam terdapat resiko terjadinya korosi, diskolorasi
akar, kebocoran mikro, dan fraktur akar terutama pada pasak yang berbentuk
paralel.
2. Pasak yang terbuat dari carbon fiber berwarna hitam dapat merusak estetik
mahktota tiruan.

Syarat penggunaan pasak :


1. Gigi sudah dilakukan PSA dengan pengisian yang hermetis
2. Dentin saluran akar masih cukup tebal
3. Tidak ada peradangan periapikal
4. Jaringan periodontal sehat, tidak ada resorpsi horizontal maupun vertical
5. Gigi tidak goyah
6. Jaringan akar masihg kuat, padat, keras, dinding saluran akar cukup tebal
7. Posisi gigi memungkinkan peletakan inti dan mahkota tiruan.
8. Pada saat oklusi, posisi gigi antagonis harus menyediakan tempat bagi inti/core dan
ketebalan mahkota cukup

Tahapan Preparasi Pasak :


1. Pemilihan desain pasak
Sistem pasak yang digunakan harus sesuai dengan saluran akar maupun restorasinya.
Dokter gigi harus mempunyai keterampilan untuk menentukan indikasi dan
penggunakan pasak pada gigi yang dirawat
2. Preparasi pasak
Kamar pulpa maupun saluran akar memberi retensi pada restorasinya. Pasak yang
disemen pada saluran akar akan memneri retensi pada restorasi (inti) namun tidak
memperkuat akar gigi, bahkan sering kali memeperlemah akar gigi bila bentuk pasak
tidak sesuai dengan bentuk saluran akarnya (lebih besar). Karena itu buatlah preparasi
pasak yang minimal sesuai dengan kebutuhan retensi inti. Preparasi pasak dimulai
dari pengambilan gutta percha dari saluran akar sesuai dengan panjang yang
diperlukan dilanjutkan dengan memperbesar dan membentuk saluran akar untuk
ditempati pasak. Pengambilan gutta percha harus hati-hati. Pengambilan yang terlalu
banyak akan mengakibatkan tendensi fraktur akar. Perforasi akar juga bias terjadi
apabila preparasi saluran akar menyimpang dari saluran akarnya. Radiograf tidak
dapat menentukan secara pasti mengenai lengkung dan diameter saluran akar.
Radiograf mungkin tidak bisa menunjukkan konkavitas dan lengkung labio-lingual.
Sebagai patokan umum, diameter pasak tidak boleh lebih dari sepertiga diameter akar.
Preparasi pasak yang menyempit ke arah apikal mencegah terjadinya step di daerah
apeks; tidak adanya step merupakan predisposisi terjadinya wedging (peregangan)
dan fraktur akar.
3. Pengambilan gutta percha
Pengambilan gutta percha sebaiknya dilakukan pada saat obturasi karena dokter gigi
masih ingat betul bentuk, diameter, panjang dan lengkung saluran akar. Pengambilan
gutta percha juga bisa dilakukan pada kunjungan berikutnya. Pengambilan gutta
percha lebih baik menggunakan alat yang panas sedikit demi sedikit sampai
panjangyang ditentukan. Gutta percha diambil sampai tersisa sedikitnya 4 mm dari
apeks. Semua alat bisa digunakan asal bisa dipanaskan. Gunakan instrumen yang
rotatif seperti pisau reamer. Namun penggunaannya harus hati-hati karena
kecenderungannya untuk menyimpang dan menimbulakan perforasi atau paling
sedikit mengakibatkan kerusakan yang berat pada saluran akar. Alternatif lain yaitu
menggunakan pelarut seperti kloroform, xylene atau eucaliptol adalah kotor dan sulit
mengambil gutta percha sampai panjang yang dikehendaki.

4. Penyelesaian ruang pasak


Setelah gutta percha diambil, dilakukan pembentukan saluran akar sesuai dengan tipe
pasak yang akan digunakan. Dapat menggunakan instrumen putar dalam
pembentukannya. Yang penting adalah bahwa pasak yang disemenkan, apapun desain
dan bentuk preparasinya, tidak mungkin rapat dengan saluran akar. Pasak tidak akan
rapat benarbenar dan semen juga tidak dapat mengisi seluruh interfase. Saliva dan
bakteri juga dapat mencapai daerah apeks bila sudah berkontak dengan pasak.

Tahapan kerja pasak:


Kunjungan Pertama :
1

Preparasi saluran akar


a. Gutta perca diambil menggunakan gates gilden drill, dilanjutkan dengan
peeso reamer no.1 (kuning) sesuai ukuran fiber Dentsply yang akan
digunakan yaitu dengan menggunakan
b. Pembuatan kontra bevel di sekeliling preparasi dowel menggunakan bur
berbentuk chamfer untuk ketepatan dowel untuk mencegah patahnya gigi
dengan mengarahkan kekuatan ke lateral
d. Panjang preparasi pasak menyisakan guttap perca
e. Bentuk preparasi saluran akar disesuaikan dengan morfologi akar gigi
f. Dibuat key way dengan cara menggunakan bur fisur ujung datar dilakukan
pembuatan bentuk boks selebar 0,8-1 mm dan sepanjang 3 mm pada
bagian dalam dinding saluran akar
g. Diameter 1/3 diameter akar gigi

Preparasi mahkota (Dekaputasi)


a

Pembentukan proksimal (6) dengan bur fisur ujung meruncing

Permukaan labial dikurangi 1,25 mm dengan bur fisur ujung datar,


pembuatan pundak 90 pada gingivo labial (masuk ke sulcus 1 mm)

Pengurangan lingual 1 mm mengikuti anatomi gigi. Pada serviko lingual


dibuat bentuk chamfer dengan bur fisur ujung membulat

d
3

Bila dinding singulum sangat pendek maka bagian lingual dibuat pundak

Pencetakan
a

Dilakukan pencetakan dengan tindakan double impression yang terdiri dari


putty dan injection

Hasil cetakan dikirim ke lab

Kunjungan kedua
Dilakukan anamnesis untuk dapat melanjutkan perawatan pada pasien, apabila
tidak ada keluhan, perawatan dapat dilanjutkan
Insersi :
1

Setelah pasak inti tuang selesai tujuan, dilakukan insersi pada saluran akar

Dilakukan pengambilan radiograf untuk mengetahui apakah hasil pasak


tuang tersebut terinsersi dengan baik dan tidak terdapat celah disaluran akar

Saluran akar di irigasi dengan salin, kemudian dikeringkan dengan papper


point stril. Isolasi dan keringkan area kerja kemudian lakukan sementasi
pasak inti tuang dengan SIK tipe I (lutting).
Mahkota diisi penuh dengan adukan semen dan sebagian diulaskan merata
pada sekeliling preparasi post untuk mencegah terkurungnya gelembung
udara pada sudut pundak. Setelah mahkota masuk dengan seksama pada
tempatnya, operator harus mepertahankan kedudukannya sampai semen
mengeras. Kemudian sisa-sisa semen dibersihkan (Richard, 1990).

Kunjungan ketiga
Control