Anda di halaman 1dari 3

Katarak

Lensa tidak memiliki suplai darah atau inervasi


setelah perkembangan pada masa fetus, dan lensa
bergantung seluruhnya terhadap humor aqueous
untuk memenuhi kebutuhan metabolismenya dan
untuk menghilangkan sisa pembuangannya
Lensa terletak disebelah posterior iris dan sebelah
anterior korpus vitreus
Lensa dipertahankan pada posisinya oleh zonulla
zeinn
Lensa tersusun atas kapsula, epithelium lentis,
korteks, dan nucleus
Tepat dibelakang kapsul lensa anterior terdapat
satu lapis sel epitel yang disebut epithelium lensa.
Sel-sel ini secara metabolit aktif
dan dapat
melakukan semua aktivitas sel normal, termasuk
biosintesis DNA, RNA, protein, dan lipid, dan juga
meghasilkan ATP untuk memenuhi kebutuhan
energi lensa
Katarak komplikata
Dikenal dua bentuk yaitu bentuk yang disebabkan
kelainan pada polus posterior terjadi akibat
penyakit koroiditis, retinitis pigmentosa, ablasi
retina, kontusio retina dan myopia tinggi yang
mengakibatkan kelainan badan kaca
Katarak akibat kelainan polus anterior bola mata
biasanya akibat kelainan kornea berat, iridosiklitis,
kelainan neoplasma dan glaucoma
Penyebabnya
1.

Penyakit lokal mata

Glaukoma
Glaukoma adalah sekelompok gangguan yang
melibatkan beberapa perubahan atau gejala
patologis yang ditandai dengan peningkatan
tekanan intraocular (TIO) dengan segala akibatnya.
Selain itu glaukoma memberikan gambaran klinik
berupa penggaungan papil saraf optik dengan
defek lapang pandang mata.
. Jika peningkatan TIO lebih besar daripada
toleransi jaringan, kerusakan terjadi pada sel
ganglion retina, merusak diskus optikus sehingga
menyebabkan atrofi saraf optik dan hilangnya
pandangan perifer
Uveitis
proses radang, uveitis anterior ditandai dengan
adanya dilatasi pembuluh darah yang akan
menimbulkan gejala hyperemia silier
Peningkatkan permeabilitas ini akan menyebabkan
eksudasi ke dalam akuos humor, sehingga terjadi
peningkatan konsentrasi protein dalam akuos
humor. Pada pemeriksaan slit lamp hal ini tampak
sebagai akuos flare atau sel, yaitu partikel-partikel
kecil dengan gerak brown (efek tyndal).
Pada proses yang lebih akut, dapat dijumpai
penumpukan sel-sel radang di dalam bilik mata
depan yang disebut hipopion, ataupun migrasi
eritrosit ke dalam bilik mata depan yang dikenal
dengan hifema

Apabila proses radang berlangsung lama dan


berulang, maka sel-sel radang melekat pada
endotel kornea, disebut sebagai keratic precipitate.
Jika tidak mendapatkan terapi yang adekuat,
proses peradangan akan berjalan terus dan
menimbulkan komplikasi
Perubahan lensa sering terjadi sebagai akibat
sekunder dari uveitis kronis. Biasanya muncul
katarak subkapsular posterior, dan juga dapat
terjadi perubahan lensa anterior. Pembentukan
sinekia posterior sering berhubungan dengan
penebalan
kapsul
lensa
anterior
dan
perkembangan fibrovaskular yang melewatinya
dan melewati pupil
Miopia maligna
proses radang, uveitis anterior ditandai dengan
adanya dilatasi pembuluh darah yang akan
menimbulkan gejala hyperemia silier
Peningkatkan permeabilitas ini akan menyebabkan
eksudasi ke dalam akuos humor, sehingga terjadi
peningkatan konsentrasi protein dalam akuos
humor. Pada pemeriksaan slit lamp hal ini tampak
sebagai akuos flare atau sel, yaitu partikel-partikel
kecil dengan gerak brown (efek tyndal).
Pada proses yang lebih akut, dapat dijumpai
penumpukan sel-sel radang di dalam bilik mata
depan yang disebut hipopion, ataupun migrasi
eritrosit ke dalam bilik mata depan yang dikenal
dengan hifema
Apabila proses radang berlangsung lama dan
berulang, maka sel-sel radang melekat pada
endotel kornea, disebut sebagai keratic precipitate.
Jika tidak mendapatkan terapi yang adekuat,
proses peradangan akan berjalan terus dan
menimbulkan komplikasi
Perubahan lensa sering terjadi sebagai akibat
sekunder dari uveitis kronis. Biasanya muncul
katarak subkapsular posterior, dan juga dapat
terjadi perubahan lensa anterior. Pembentukan
sinekia posterior sering berhubungan dengan
penebalan
kapsul
lensa
anterior
dan
perkembangan fibrovaskular yang melewatinya
dan melewati pupil
Miopia maligna biasanya bila mopia lebih dari 6
dioptri disertai kelainan pada fundus okuli dan
pada panjangnya bola mata sampai terbentuk
stafiloma postikum yang terletak pada bagian
temporal papil disertai dengan atrofi korioretina
Atrofi retina berjalan kemudian setelah terjadinya
atrofi sklera dan kadang kadang terjadi ruptur
membran
Bruch
yang
dapat
menimbulkan
rangsangan untuk terjadinya neovaskularisasi
subretina
Katarak miopia dikarenakan terjadinya degenerasi
badan kaca, yang merupakan proses primer, yang
menyebabkan nutrisi lensa terganggu, juga karena
lensa pada miopia kehilangan transparasi sehingga
menyebabkan katarak

2.
DM

Penyakit sistemik

Diabetes mellitus dapat mempengaruhi kejernihan


lensa,
indeks
refraksinya,
dan
besaran
akomodasinya. Seiring dengan meningkatnya
kadar gula darah, demikian pula kandungan
glukosa di humor aqueous. Karena glukosa dari
aqueous masuk ke lensa secara difusi, oleh
karenanya glukosa yang terkandung dalam lensa
akan meningkat. Beberapa glukosa dikonversi oleh
enzim aldosa reduktase menjadi sorbitol, yang
tidak dimetabolisir tetapi menetap dalam lensa

radiasi inframerah dan panas yang terus menerus


ke mata pada waktu yang lama dapat
menyebabkan lapisan terluar kapsul lensa anterior
mengelupas dan menjadi lapisan tunggal

Kemudian, tekanan osmotic menyebabkan influks


air ke dalam lensa, yang menyebabkan edema
serabut-serabut lensa

Mekanis

Radiasi ultraviolet
paparan sinar matahari berhubungan dengan
peningkatan risiko katarak kortikal dan subkapsular
posterior

Trauma
Trauma pada umumnya menyebabkan katarak
monookuler. Trauma fisik baik tembus maupun
tidak tembus dapat merusak kapsul lensa
Trauma tak tembus (tumpul) dapat menimbulkan
a.

Cetakan pupil pada lensa akibat trauma tumpul


yang berbentuk vossious ring yaitu lingkaran yang
terbentuk oleh granula coklat kemerah-merahan
dari pigmen iris dengan garis tengah kurang lebih
1 mm

Galaktosemia
Galaktosemia
merupakan
ketidak
mampuan
mengubah galaktosa menjadi glukosa yang
diwariskan secara autosom resesif. Sebagai
konsekuensinya, galaktosa terakumulasi pada
jaringan tubuh
Pasien-pasien dengan galaktosemia klasik, 75%
akan timbul katarak, biasanya dalam beberapa
minggu pertama setelah kelahiran
Akumulasi galaktosa dan galaktiol dalam sel-sel
lensa menyebabkan peningkatan tekanan osmotic
intraselular dan influks cairan lensa
Jika penyakit ini tetap tidak diterapi, katarak
berkembang menjadi kekeruhan lensa total.
Defisiensi dua
galaktokinase,
galaktosemia

enzim
juga

lainnya,
dapat

epimerase dan
menyebabkan

Hipokalsemia
Hipokalsemia dapat idiopatik, atau dapat timbul
sebagai hasil dari perusakan yang tidak disengaja
glandula paratiroidea selama operasi tiroid
katarak hipokalsemia adalah kekeruhan iridescent
punctata di korteks anterior dan posterior yang
terletak diantara kapsul lensa dan biasanya
dipisahkan dari kapsul lensa oleh suatu daerah
lensa yang jernih. Kekeruhan ini mungkin tetap
stabil atau matur menjadi katarak kortikal total.
Pada pemeriksaan darah terlihat kadar kalsium
turun
3.

Vossious ring

Trauma

Radiasi
Radiasi pengion
Tanda klinis pertama katarak diinduksi radiasi
seringkali berupa kekeruhan punctata di dalam
kapsul posterior dan kekeruhan subkapsular
anterior yang halus menjalar kearah ekuator lensa
Radiasi inframerah (katarak glassblowers).

b.

Roset (bintang)

Katarak berbentuk roset; bentuk ini dapat terjadi


segera sesudah trauma tetapi dapat juga beberapa
minggu sesudahnya
c.

Katarak zonuler atau lamellar

Bentuk ini sering ditemukan pada orang muda


sesudah trauma. Penyebabnya karena adanya
perubahan permeabilitas kapsul lensa yang
mengakibatkan
degenerasi
lapisan
korteks
superfisial
Trauma penetrasi atau perforasi lensa sering
mengakibatkan kekeruhan korteks pada sisi yang
rupture, biasanya berkembang secara cepat
menjadi kekeruhan total
Pasca bedah
Katarak sekunder menunjukkan kekeruhan kapsul
posterior akibat katarak traumatic yang terserap
sebagian atau setelah terjadinya ekstraksi katarak
ekstrakapsular (EKEK). Hal ini terjadi akibat
terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang
tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat
sesudah dua hari EKEK
Katarak sekunder merupakan fibrin sesudah suatu
operasi EKEK atau sesudah trauma yang memecah
lensa.
Kimia
Obat- obatan
Penggunaan jangka panjang kortikosteroid dapat
menyebabkan katarak subkapsular posterior.
Insidensinya berhubungan dengan dosis dan durasi
pengobatan.
Pembentukan
katarak
telah
dilaporkan
setelah
pemberian
kortikosteroid
melalui
beberapa
jalur,
sistemik,
topical,
subkonjungtiva dan semprot hidung
Kelompok obat psikotropika, dapat menyebabkan
deposit pigmen di epithelium lensa anterior dalam

bentuk konfigurasi aksial. Deposit ini dipengaruhi


oleh dosis dan durasi pemberian obat. Deposit
lebih sering terlihat dengan penggunaan beberapa
jenis fenotiazin, terutama klorpromazin dan
thloridazin
Miotikum. Antikolinesterase seperti echothiophate
iodide
dan
demekarium
bromide
dapat
menyebabkan katarak. Insidensi katarak yang
telah dilaporkan sebesar 20% pada pasien-pasien
setelah 55 bulan penggunaan pilokarpin dan 60%
pada pasien-pasien setelah penggunaan posfolin
iodide

Trauma basa
Trauma basa pada permukaan okular sering
menyebabkan timbulnya katarak, selain merusak
kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa
mempenetrasi mata, menyebabkan peningkatan
pH aqueous dan menurunkan kadar glukosa dan
askorbat aqueos. Pembentukan katarak kortikal
dapat terjadi secara akut atau sebagai efek yang
tertunda dari trauma kimia. Karena asam
cenderung mempenetrasi mata tidak semudah
basa,
trauma
asam
jarang
menyebabkan
pembentukan katarak